cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,065 Documents
KERENTANAN SOSIAL-EKOLOGI MASYARAKAT PERIKANAN SKALA KECIL DI SELAT BUTON, SULAWESI TENGGARA Jakub, Raymond; Adrianto, Luky; Susanto, Handoko Adi; Campbell, Stuart J
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.2.2024.53-64

Abstract

Masyarakat perikanan skala kecil merupakan komunitas yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pada umumnya, kerentanan ini disebabkan oleh tingginya tingkat paparan dan sensitivitas kelompok ini terhadap dampak langsung perubahan iklim, serta lemahnya kemampuan untuk beradaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat kerentanan di dua kawasan di Selat Buton yaitu komunitas Pasi Kolaga dan Kapontori, melalui atribut sosial-ekologi, (2) serta mengindikasikan strategi adaptasi yang perlu dilakukan sebagai respons kolektif terhadap komponen-komponen di dalam analisis kerentanan. Sebanyak 19 variabel iklim, sosial dan ekologi digunakan di dalam penelitian ini. Setiap variabel dikelompokkan ke dalam lima komponen yang menjelaskan nilai kerentanan perubahan iklim yaitu komponen Paparan, Sensitivitas Sosial, Sensitivitas Ekologi, Kapasitas Adaptif Sosial dan Kapasitas Adaptif Ekologi. Kelima komponen ini dianalisis untuk menghasilkan nilai kerentanan untuk setiap komunitas. Nilai indeks kerentanan sosial-ekologi komunitas Pasi Kolaga adalah 0,520 dan komunitas Kapontori adalah 0,567, yang menunjukkan bahwa secara sosial-ekologi komunitas pesisir di Kapontori lebih rentan terhadap perubahan iklim. Variabel yang dihasilkan digunakan untuk menentukan indikasi rencana aksi adaptasi yang dapat dilakukan oleh kedua komunitas ini untuk mengurangi nilai kerentanan dan meningkatkan kapasitas adaptif. Pengelolaan perikanan skala kecil yang dikelola yang dengan mengedepankan peran masyarakat dalam kemitraan dengan pemerintah daerah, serta dan mencakup intervensi beragam dapat menjawab tantangan perubahan iklim secara terintegrasi. Small-scale fishing communities are highly vulnerable to the impacts of climate change. In general, their vulnerability is caused by the high level of exposure and sensitivity of this community to the impacts of climate change, as well as their low adaptive capacity. This study aims to (1) determine the vulnerability in two communities in the Buton Strait, namely the Pasi Kolaga and Kapontori, using socio-ecological attributes, (2) and indicate the adaptive strategies that are required as a collective response to each component in vulnerability analysis. A total of 19 climate, social and ecological variables were used in this study. Each variable is grouped into five components, namely Exposure, Social Sensitivity, Ecological Sensitivity, Social Adaptive Capacity, and Ecological Adaptive Capacity components. These five components were analyzed to generate a vulnerability index for each community. The socio-ecological vulnerability index of the Pasi Kolaga community (VS.E_PASI) is 0.520 and the Kapontori community (VS.E_KAPO)  is 0.567, which indicates that socio-ecologically the coastal community in Kapontori is more vulnerable to climate change. The variables resulting from this study are used to indicate adaptive action plans that can be carried out by these two communities to reduce their vulnerability and increase their adaptive capacity. Small-scale fisheries management that is designed by prioritizing the role of the community in the management, in a partnership with local governments, and including interventions in various aspects can help in addressing the challenges of climate change in an integrated manner.
DAERAH PENANGKAPAN DAN ASPEK BIOLOGI HIU DAN PARI YANG TERTANGKAP DI LAUT JAWA Samusamu, Andrias Steward
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.29.3.2023.%p

Abstract

Sumberdaya ikan hiu dan pari di Laut Jawa banyak tertangkap nelayan yang berasal dari Juwana sebagai ikan hasil tangkapan sampingan (HTS). Tingginya tekanan penangkapan ini berpotensi mengancam fungsi ekologinya di alam dan kelestariannya di masa yang akan datang. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui  sebaran lokasi tertangkapnya sumberdaya ikan hiu dan pari, sekaligus mengetahui beberapa aspek biologi sumberdaya ikan hiu dan pari yang tertangkap di laut Jawa dan di daratkan di Juwana, Jawa tengah. Data yang diolah, diperoleh dari kegiatan enumerasi perikanan yang mencatat informasi pendaratan kapal, dan pengukuran  data biologi beberapa spesies hiu dan pari yang didaratkan di Juwana selama periode September-November 2019. Hasil analisis menunjukkan bahwa cantrang adalah alat tangkap yang paling banyak menghasilkan HTS hiu dan pari.  Armada kapal yang banyak digunakan berukuran antara 26-58 GT dengan lama trip penangkapan mencapai 28-58 hari. Lokasi fishing ground penangkapan hiu banyak tersebar di perairan sebelah selatan Kalimantan, dan lokasi fishing ground penangkapan pari tersebar relatif merata di selatan Kalimantan sampai dengan sekitar Pulau Bawean. Terdapat 6 spesies hiu yang sering tertangkap di Laut Jawa dengan spesies dominan adalah sphyrna lewini yang mencapai 44% dari total tangkapan hiu. Terdapat 7 spesies pari yang sering tertangkap dengan spesies dominan adalah Neotrygon orientalis yang mencapai 36% dari total tangkapan pari. Modus panjang total hiu sphyrna lewini adalah 71-80 cm dan modus lebar tubuh pari Neotrygon orientalis adalah 21-25 cm. Sebagian besar hiu dan pari yang banyak tertangkap sebagai HTS di Laut Jawa masuk kategori belum dewasa.Kata kunci: Hiu dan pari; komposisi jenis; aspek biologi; Laut Jawa; Juwana
DINAMIKA PENANGKAPAN DAN STATUS STOK UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis de Haan) DI PERAIRAN BOMBANA DAN SEKITARNYA, SULAWESI TENGGARA Suman, Ali; Hasanah, Ap'idatul; Bintoro, Gatut; Taufik, Muhammad
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.2.2024.65-74

Abstract

Tingginya permintaan pasar terhadap udang dogol (Metapenaeus ensis de Haan) telah mengakibatkan tingginya intensitas penangkapan yang jika berlangsung secara terus-menerus akan mengancam kelestariannya. Penelitian tentang status stok merupakan salah satu dasar utama dalam merumuskan pengelolaan menuju pemanfaatannya secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status stok udang dogol di perairan Bombana dan sekitarnya, Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan Nopember 2021 dengan metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap yang digunakan untuk mengusahakan udang dogol adalah pukat dasar (mini trawl) dengan komposisi hasil tangkapannya didominasi udang dogol (M. ensis de Haan) sekitar 26 %. Pola pertumbuhan udang dogol di perairan Bombana dan sekitarnya bersifat allometrik negatif serta perbandingan kelamin jantan dan betina berada dalam keaadan tidak seimbang. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) adalah pada panjang karapas 29,8 mm dan ukuran rata-rata pertama kali matang kelamin (Lm) udang dogol adalah pada panjang karapas 31,7 mm. Laju pertumbuhan (K) udang dogol  sebagai 1,0 per tahun dan panjang total maksimum (Loo) sebagai 46,2 mm. Laju kematian total (Z) udang dogol sebagai 4,42, per tahun, laju kematian karena penangkapan (F) dan laju kematian alami (M) masing-masing 1.58 per tahun  dan 2, 84 per tahun. Tingkat pemanfaatan (E) udang dogol adalah 0,36 (72 %) per tahun, dengan demikian status stok udang dogol belum berada pada penangkapan berlebih (overfishing). Agar sumber daya udang masih tetap terjamin kelestariannya, maka masih bisa dilakukan penambahan upaya sekitar 28 % dari jumlah upaya saat ini.The high market demand for Endeavour shrimp (Metapenaeus ensis de Haan) has resulted in high fishing intensity, which, if it continues, will endanger the species' sustainability. Studies of stock status are important for formulating a management for sustainable utilization. The purpose of this study was to determine the stock status of endeavour shrimp in the Bombana and and its surrounding waters. The study was conducted from April to November 2021 using a survey method. The study results revealed that the endeavor shrmp growth pattern in Bombana watwas negative allometric and that the ratio of males and females was unbalanced. The length at first capture (Lc) was 24,9 mm (carapace length) and the length at first maturity (Lm) was at a total carapace length of 31,7 mm. The growth rate (K) as 1,0 per year and the  carapace length maximum (L∞) was 46.a mm. The estimate total mortality rate (Z) was 2.51 per year, the fishing mortality rate (F) and natural mortality rate (M) were 0.91 per year and 1.61 per year, respectively. The exploitation rate (E) was 0.36 (72 %) per year, therefore that the stock status isn’t overfishing. In order to ensure the sustainability of the endeavour shrimp, there are still opportunities for increasing effort about 28 % from the current situation.
ANALISIS KONDISI TERUMBU KARANG SEBAGAI HABITAT IKAN DI PULAU PRAMUKA – PULAU SERIBU, INDONESIA Pasaribu, Roberto Patar; -, R Moh Ismail
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.3.2024.%p

Abstract

Ekosistem terumbu karang adalah salah satu daya dukung sumberdaya yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan. Ekosistem terumbu karang memiliki fungsi ekologis diantaranya: nutrien bagi biota perairan laut, tempat pemijahan, tempat bermain dan asuhan bagi biota laut, sedangkan fungsi ekonomi sebagai habitat dari ikan karang, udang karang dan algae. Kerusakan terumbu karang umumnya diakibatkan oleh aktivitas manusia. Untuk mengetahui kerusakan terumbu karang, diperlukan pemantauan kondisi terumbu karang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi terumbu karang yang dihubungkan dengan habitat ikan di Pulau Pramuka, kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah kombinasi transek yaitu Metode Point Intercept Transect dan Belt Transect. Dari hasil pengukuran dan pengamatan diketahui kondisi tutupan terumbu karang di Pulau Pramuka tergolong dalam kategori baik, bentuk koloni yang ditemukan adalah Acropora branching, Coral folliose dan Coral massive. Keragaman terumbu karang mempunyai kriteria sedang dengan jenis terumbu karang didominasi oleh spesies Acropora formosa dan Acropora aspera. Indeks keanekaragaman terumbu karang dipengaruhi tingginya distribusi spesies, keragaman terumbu karang. Keterkaitan terumbu karang dengan habitat ikan adalah untuk ikan dengan ukuran yang beragam dicirikan dengan kemiripan coral encrusting dan dead coral with algae, sedangkan untuk ikan dengan ukuran kecil dicirikan dengan kemiripan acropora digitate, coral submassive dan karang lunak.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG PADA TERUMBU BUATAN DI KAWASAN PERTAMBANGAN LAUT, BANGKA BELITUNG Adibrata, Sudirman; Perangin-angin, Robet; Dedi, Dedi; Komarullah, Umam; Akbar, Arham Hafidh; Utomo, Dela; Wibawa, Yuzan Fudhaili Tri
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.2.2024.%p

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi ikan karang di terumbu buatan di perairan Penyusuk. Upaya rehabilitasi terumbu karang dengan menggunakan metode terumbu buatan dilakukan oleh PT. Artha Cipta Langgeng. Desain terumbu buatan berbentuk kubus berongga dengan luas bagian dasar 6,25 m2 yang diharapkan dapat menjadi habitat baru bagi organisme laut. Pengamatan ikan karang dilakukan dengan menggunakan metode stationary visual sensus. Hasil menunjukan bahwa ikan karang di lokasi terumbu buatan ditemukan sebanyak 23 spesies dari 10 famili. Kelimpahan ikan karang di semua stasiun pengamatan terumbu buatan berkisar 189,92 – 325,28 indivudu.m-2,termasuk kategori Sangat Melimpah. Indeks keanekaragaman jenis ikan berkisar 1,09 - 1,65, termasuk kategori Sedang yang berarti bahwa penyebaran setiap spesies ikan karang stabil dalam komunitas dan berada dalam kondisi normal. Nilai indeks keseragaman berkisar 0,47 - 0,67, termasuk dalam kategori Sedang (5 stasiun) hingga Tinggi (1 stasiun). Kondisi spesies ditemukan merata pada setiap stasiun karena tidak adanya spesies yang lebih dominan. Nilai indeks dominansi berkisar 0,29 - 0,43, termasuk kategori Rendah (1 stasiun) dan Sedang (5 stasiun). Tiga famili yang paling dominan yaitu famili Lutjaniade, Apogonidae, Leiognathanidae. Terumbu buatan di perairan Penyusuk didominasi oleh kelompok ikan target.The aim was to determine the abundance, diversity, uniformity, and dominance of reef fish in artificial reefs in Penyusuk waters. Coral reef rehabilitation efforts using the artificial reef method were carried out by PT. Artha Cipta Langgeng. The artificial reef design is in the form of a hollow cube with a volume of 6.25 m3 which is expected to become a new habitat for marine organisms. Reef fish observations were carried out using the stationary visual census method. The results showed that there were 23 species of reef fish in the artificial reef site from 10 families. The abundance of reef fish at all artificial reef observation stations ranged from 189.92 – 325.28 individual/m3, including the Very Abundant category. The condition of this fish abundance is strongly influenced by food factors, orientation towards the new environment, and finding a safe place to take shelter. The fish species diversity index ranged from 1.09 to 1.65, including the Moderate category, which means that the distribution of each reef fish species is stable in the community and is in normal conditions. The environmental pressure on the fish community is not too heavy and the environmental carrying capacity for the fish community is quite good. The uniformity index values range from 0.47 to 0.67, belonging to the Moderate (5 stations) to High (1 station) categories. The condition of the species was found evenly at each station because there were no more dominant species. Dominance index values range from 0.29 to 0.43, including the Low category (1 station) and Medium (5 stations). The three most dominant families are the Lutjaniade, Apogonidae, and Leiognathanidae families. The artificial reefs in the Susuk waters are dominated by target fish groups.
KEBERLANJUTAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN PURSE SEINE YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN BONTOBAHARI KABUPATEN BULUKUMBA Hatmar, Muhammad Aldhy; Nelwan, Alfa Filep Petrus
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.3.2024.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat keberlanjutan purse seine yang dioperasikan di rumpon plus lampu dan non-rumpon (hunting) di perairan Bontobahari, Kabupaten bulukumba. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat berupa rekomendasi dalam pengembangan purse seine dimasa mendatang, khususnya pengaturan penangkapan, meminimalkan spesies non target dan mengoptimalkan spesies target dalam rangka mewujudkan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Dilaksanakan pada bulan Juni dan November 2020 di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri data primer dan sekunder. Data primer meliputi data biologi hasil tangkapan, teknis alat tangkap dan sosial ekonomi usaha purse seine. Sedangkan data sekunder diambil dari hasil wawancara serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bulukumba. Keberlanjutan atau keramahan lingkungan teknologi penangkapan purse seine dianalisis menggunakan 14 kriteria sesuai metode Arimoto modifikasi Mallawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi penangkapan purse seine tanpa rumpon atau purse seine yang melakukan penangkapan melalui perburuan gerombolan ikan yang dioperasikan di perairan Laut Flores memiliki tingkat keberlanjutan sedang atau ramah lingkungan dengan nilai sebesar 75%. Sedangkan teknologi penangkapan purse seine rumpon atau purse seine yang melakukan penangkapan menggunakan alat bantu rumpon plus lampu yang dioperasikan di perairan Teluk Bone memiliki tingkat keramahan lingkungan rendah atau kurang ramah lingkungan dengan nilai sebesar 63.75%. Rendahnya tingkat keberlanjutan teknologi penangkapan disebabkan oleh dominannya ikan ukuran kecil dan rendahnya ikan ukuran layak tangkap, nilai investasi, tingkat pendapatan, dan BBM dan tertangkapnya biota laut yang dilindungi.Kata kunci: Keberlanjutan, purse seine, rumpon, non-rumpon.
KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN BUDIDAYA BENIH LOBSTER PASIR (Panulirus homarus Linnaeus, 1758) DI TELUK EKAS, KABUPATEN LOMBOK TIMUR, INDONESIA Kawirian, Rizky Regina; Affandi, Ridwan; Mashar, Ali; Effendi, Irzal
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.29.1.2023.%p

Abstract

Lobster pasir (Panulirus homarus Linnaeus, 1758) merupakan jenis spiny lobster yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Zooplankton menjadi mangsa penting dari spiny lobster dan diduga menentukan keberhasilan budidaya spiny lobster terutama pada fase puerulus dan juvenil awal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendata jenis, indeks keanekaragaman (H’), dan kelimpahan spesies zooplankton di Teluk Ekas pada fase bulan yang berbeda di kedalaman penempatan wadah pemeliharaan puerulus lobster. Sampel zooplankton diperoleh ketika fase bulan gelap dan terang pada bulan Juni-Juli 2021 dari tiga kedalaman penempatan puerulus (0,5 m, 1 m, 1,5 m). Karakteristik morfologi digunakan dalam identifikasi jenis zooplankton menggunakan beberapa buku identifikasi dan konfirmasi nama spesies di website World Register of Marine Species (https://www.marinespecies.org/). Total sebanyak 14 jenis zooplankton diperoleh yang terbagi ke dalam enam kelas yakni appendicularia (1), bivalvia (1), copepoda (3), malacostraca (2), oligotrichea (6), polychaeta (1). Copepoda  merupakan kelompok yang ditemukan paling melimpah dan berpotensi sebagai pakan alamiah dalam budidaya benih spiny lobster. Fase bulan gelap memiliki taksa yang lebih tinggi, dengan keanekaragaman dan kelimpahan zooplankton lebih tinggi di bulan terang pada tiap kedalaman laut pengambilan sampel.
INVENTARISASI, STATUS KONSERVASI DAN ANALISIS PERTUMBUHAN IKAN HIU DAN PARI YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI KLIDANG LOR, BATANG, JAWA TENGAH Iswanto, M. Fajar Fajar; Afiati, Norma; Saputra, Suradi Wijaya
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.2.2024.87-98

Abstract

Analisis konservasi dan pertumbuhan alometri pada ikan hiu dan ikan pari menjadi kunci dalam merancang langkah-langkah perlindungan yang tepat guna memastikan keberlanjutan spesies ini di lingkungan mereka. Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah individu, spesies, status konservasi dan pertumbuhan ikan hiu dan ikan pari hasil tangkapan. Koleksi data dilaksanakan setiap bulan dari bulan Agustus hingga Oktober 2023 di Pelabuhan Perikanan Pantai Klidang Lor, Batang menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil identifikasi dan status konservasi menurut IUCN menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis ikan hiu dan ikan pari yaitu Chiloscyllium plagiosum (n=59,  near threathened), Chiloscyllium punctatum (n=16,  near threathened), Stegostoma fasciatum (n=1,  endangered), Hemipristis elongata (n=3) (vulnerable), Rhynchobatus springeri (n=85) (critically endangered) dan Rhina ancylostoma (n=1,  critically endangered). Distribusi frekuensi panjang spesimen R. springeri dan C. plagiosum masing-masing berkisar antara 62-241 cm dan 14-85 cm. Pertumbuhan alometrik R. springeri dan C. plagiosum mengikuti persamaan Y= 0,0018X2,753 (r = 0,98). untuk R. springeri dan Y= 0,5309X1,265 (r= 0,87) untuk C. plagiosum. Pertumbuhan R. springeri dan C. plagiosum bersifat alometrik negatif. Perbandingan kelamin jantan dan betina yang didapatkan R. springeri (1:1,07) dan C. plagiosum (1:0,96). Sekitar 80% R. springeri jantan yang terdata masih muda dan berada pada tingkat kematangan klasper NC (Non-Calcification) dan NFC (Non-Full Calcification). Sekitar 67% C. plagiosum jantan yang terdata sudah matang gonad dan berada pada tingkat kematangan klasper FC (Full Calcification). Angka korelasi panjang total terhadap panjang klasper jantan pada R. springeri (r=0,859) dan C. plagiosum (r= 0,774) menunjukkan bahwa pada keduanya pertambahan panjang total seiring dengan bertambah panjangnya klasper.
TEKNOLOGI LORA SEBAGAI MODUL KOMUNIKASI NIRKABEL DI PELABUHAN PERIKANAN: UJI STABILITAS KONEKSI DI PELABUHAN PERIKANAN KARANGANTU Muryanto, Sri; Hermawan, Maman; Belyamin, Belyamin; Wibowo, Berbudi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 31, No 3 (2025): (September 2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.31.3.2025.%p

Abstract

Pemantauan kapal di pelabuhan perikanan merupakan aspek yang krusial dalam keselamatan kapal dan kelancaran operasional di pelabuhan perikanan. Pemantauan yang dilakukan secara manual sangat rentan terhadap kesalahan yang berakibat pada kurugian operasional pelabuhan. Pengembangan teknologi IoT dengan modul jaringan LoRa menawarkan solusi otomatisasi pemantauan dan operasional pelabuhan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji stabilitas koneksi perangkat komunikasi LoRa yang diaplikasikan dalam sebuah konsep IoT.  Hasil pengujian menunjukan bahwa LoRa memiliki stabiltas koneksi yang baik dilingkungan pelabuhan dengan throughput stabil pada 8,73 B/s dan latency 2,28 detik pada jarak hingga 1750m. Penelitian ini membuka peluang lebih lanjut untuk pengembangan dan penerapan sistem IoT di pelabuhan perikanan dengan menggunakan modul LoRa media komunikasi nirkabel.
MORPHOMETRY OF THE GILL AND ARBORESCENT STRUCTURES OF Clarias gariepinus (BURCHELL, 1822) AT DIFFERENT DEVELOPMENTAL STAGES Nuriliani, Ardaning; Karlina, Ina; Rohmah, Zuliyati; Sari, Dini Wahyu Kartika
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.31.2.2025.%p

Abstract

Catfish is one of Indonesia's superior fishery commodities. Catfish have an adaptation mechanism to an environment with minimal oxygen in their gill structure, namely arborescent to support their successful lives. This study examines Mutiara catfish's gill and arborescent morphometry at various developmental stages. The morphometric parameters consist of several parts, namely gill structure and arborescent structure. The gill structure includes the ratio of gill weight right and left to the weight and total length of the fish. Apart from that, the gills are divided into three main parts, namely the branchial arch, branchial filaments, and branchiospinalis. The part of the branchial arch observed includes the ratio of the length of the branchial arch to the total length of the fish. The branchial filament section includes the average number of branchial filaments per branchial arch, the average density of branchial filaments (filaments/cm), and the ratio of branchial filament length to branchial arch length. The branchiospinal section includes the average number of branchiospinalis per branchial arch and branchiospinal density. Arborescent structures include ratios of relative arborescent weight (%) right and left to total fish weight and the ratio of the number of arborescent branches to total arborescent weight. Catfish were sampled from the larval stage (1–14 days), juvenile (15–21 days), and post-juvenile to pre-adult (22–90 days). Statistical analysis of data using SPPS 22 software. Mutiara catfish in the post-adolescent to preadult stage have higher relative gill weight and relative arborescent weight than the juvenile and larval stages. The post-adolescent to preadult stage has a more developed gill and arborescent shape and size than the juvenile and larval stages.

Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue