cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Dari kesenjangan menjadi jembatan: Transformasi kepemimpinan kristiani intergenerasional Purba, Paskah Parlaungan
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.860

Abstract

Intergenerational gaps often pose a significant challenge within the church and Christian leadership context. Differences in values, perspectives, communication styles, and ministry preferences can create barriers that hinder unity, mission effectiveness, and the spiritual continuity from one generation to the next. This article analyzes the nature and impact of intergenerational gaps in Christian leadership and proposes a transformative approach to convert these "gaps" into robust "bridges." Through theological reflection and an analysis of intergenerational social dynamics, this paper explores key principles for developing inclusive, collaborative leadership that integrates the strengths and perspectives of every generation. This transformation requires understanding, empathy, open communication, and a willingness to learn from one another. The ultimate goal is to foster Christian leadership that is relevant across all ages and effectively prepares the church for the future by leveraging the rich experience and innovation found across generations.   Abstrak Kesenjangan antargenerasi seringkali menjadi tantangan signifikan dalam konteks gereja dan kepemimpinan kristiani. Perbedaan nilai, cara pandang, gaya komunikasi, dan preferensi dalam pelayanan dapat menciptakan hambatan yang menghambat kesatuan, efektivitas misi, dan kelangsungan spiritual dari satu generasi ke generasi berikutnya. Artikel ini menganalisis sifat dan dampak kesenjangan antargenerasi dalam kepemimpinan kristiani serta mengusulkan pendekatan transformatif untuk mengubah "kesenjangan" ini menjadi "jembatan" yang kokoh. Melalui refleksi teologis dan analisis dinamika sosial antargenerasi, tulisan ini mengeksplorasi prinsip-prinsip kunci bagi pengembangan kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan mampu mengintegrasikan kekuatan serta perspektif dari setiap generasi. Transformasi ini membutuhkan pemahaman, empati, komunikasi terbuka, dan kesediaan untuk belajar dari satu sama lain. Tujuan akhirnya adalah menumbuhkan kepemimpinan kristiani yang tidak hanya relevan bagi semua usia tetapi juga secara efektif mempersiapkan gereja untuk masa depan dengan memanfaatkan kekayaan pengalaman dan inovasi lintas generasi.
Kurikulum pendidikan agama Kristen yang inklusif dan solider: Respons etika solidaritas Kristen terhadap fragmentasi sosial era woke culture Tjandra, Daniel Sudibyo
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.987

Abstract

Woke Culture and Cancel Culture present new ethical challenges in the digital society, including within Christian Religious Education in Indonesia. The resulting social fragmentation—driven by confrontational justice narratives—demands a more dialogical and solidaristic curriculum. This study employs a constructive-theological approach to formulate a responsive model of Christian Religious Education curriculum, grounded in Rebecca Todd Peters’ Christian ethic of solidarity. Her framework rejects individualistic morality and symbolic violence, emphasizing the cultivation of dialogical spaces (brave spaces), solidarity with the marginalized, and the integration of orthodoxy, orthopathy, and orthopraxy. The findings reveal that a solidaristic and contextual curriculum can form learners into agents of justice who are compassionate, critically engaged, and dialogically capable in pluralistic societies. Such a curriculum functions not merely as doctrinal instruction, but as a transformative space of faith formation, relevant both theologically and ethically.   Abstrak Woke Culture dan Cancel Culture menghadirkan tantangan etis baru dalam masyarakat digital, termasuk dalam pendidikan agama Kristen di Indonesia. Fragmentasi sosial yang diakibatkan oleh nilai-nilai keadilan yang konfrontatif menuntut kurikulum yang lebih dialogis dan solider. Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktif-teologis untuk merumuskan model kurikulum Pendidikan Agama Kristen yang responsif ter-hadap tantangan era woke, dengan menjadikan etika solidaritas Kristen dari Rebecca Todd Peters sebagai fondasi utama. Etika ini menolak mora-litas individualistik dan kekerasan simbolik, serta menekankan pembentukan ruang dialogis (brave space), keberpihakan pada yang tertindas, dan integrasi antara ortodoksi, ortopati, dan ortopraksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang solider dan kontekstual dapat mem-bentuk peserta didik menjadi agen keadilan yang penuh kasih, kritis terhadap ketidakadilan, dan mampu berdialog dalam masyarakat plural. Kurikulum ini menjadi sarana formasi iman yang relevan, tidak hanya secara doktrinal, tetapi juga secara sosial dan etis.
Dari meja perjamuan hingga altar komunitas: Konstruksi teologis Lukas 14:12-14 tentang keramahan menggereja di era posmodern Rampengan, Priscila Feibe
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1005

Abstract

This study examines the construction of the theology of hospitality based on the passage of Luke 14:12-14 in the context of church life in the postmodern era. Using a contextual hermeneutic approach and narrative analysis, this study examines how the concept of Jesus' hospitality can be transformed into an ecclesiological praxis relevant to the contemporary church. The findings of the study show that Christian hospitality not only functions as a social ethic but also as a fundamental dimension in the mission of the church that goes beyond the traditional boundaries of religious communities. The church faces a challenge to reconstruct its identity through inclusive and transformative hospitality practices in the context of postmodernity, which is marked by social fragmentation and an institutional crisis of trust.   Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi teologi keramahan berdasarkan perikop Lukas 14:12-14 dalam konteks kehidupan menggereja di era posmodern. Menggunakan pendekatan hermeneutik kontekstual dan analisis naratif, studi ini mengeksplorasi bagaimana konsep keramahan Yesus dapat ditransformasi menjadi praksis eklesiologis yang relevan bagi gereja kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keramahan Kristiani tidak hanya berfungsi sebagai etika sosial, tetapi juga sebagai dimensi fundamental dalam misi gereja yang melampaui batas-batas tradisional komunitas religius. Dalam konteks posmodernitas yang ditandai dengan fragmentasi sosial dan krisis kepercayaan institusional, gereja ditantang untuk merekonstruksi identitasnya melalui praktik keramahan yang inklusif dan transformatif.
The Christian religious education and the Javanese tradition of theory and teaching method: Experiences from the Bible and Ki Hajar Dewantara Rantung, Djoys Anneke
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1016

Abstract

This study examines the intersection between Christian religious education and Javanese educational traditions, focusing on the theories and teaching methods found in the Bible and the philosophy of Ki Hajar Dewantara. The research highlights how biblical figures such as Abraham, Moses, David, Solomon, Nehemiah, Jesus, and Paul embodied educational principles that align with Dewantara’s education philosophy. Both traditions emphasize holistic education, character formation, mentorship, and community-based learning. By drawing from both traditions, Christian religious education in Indonesia can integrate biblical teachings with local wisdom to create a more effective and contextually relevant learning system. This synthesis can strengthen character formation, intellectual growth, and spiritual development while fostering a deeper appreciation of cultural heritage. The study ultimately advocates for a dynamic, inclusive Christian education that respects biblical principles and indigenous educational philosophies.
Dalek esa sebagai “integrating force”: Sebuah konstruksi teologis interaksi sosial masyarakat multikultural berbasis kearifan lokal di Kabupaten Rote Ndao Pandie, Daud Alfons; Nugroho, Fibry Jati
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1018

Abstract

There has been substantial research within Indonesian community contexts attempting to understand violent conflicts in inter-ethnic, religious, and cultural interactions. Conversely, research exploring how people can live harmoniously in social interactions across ethnic, spiritual, and cultural boundaries remains limited. This study examines the local wisdom of "Dalek Esa," which has underpinned inter-ethnic and inter-religious interactions in the context of Rote Ndao Regency, East Nusa Tenggara Province. Employing qualitative research methods with phenomenological and ethnographic approaches, the study involved the author's full immersion in the context of the community's life. The research reveals that "Dalek Esa" has served as a foundation in the mechanism of ethnic and religious agreements. At the same time, differences in livelihoods have constructed the peaceful and harmonious life of the culturally and religiously diverse Rote Ndao community.   Abstrak Terdapat banyak penelitian dalam konteks komunitas masyarakat di Indonesia yang berupaya memahami tentang konflik kekerasan dalam interaksi antar etnis, agama dan budaya. Sementara, di sisi yang lain, penelitian tentang bagaimana orang-orang bisa hidup rukun dalam interaksi sosial antar etnis, agama dan budaya masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi kearifan lokal “Dalek Esa” yang telah mendasari interaksi antar etnis dan agama dalam konteks masyarakat Kabupaten Rote Ndao- Propinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan etnografi yang dilakukan berupa keterlibatan penuh penulis dalam konteks kehidupan masyarakat. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa “Dalek Esa” telah menjadi pondasi dalam mekanisme kesepakatan etnis, agama dan perbedaan mata pencaharian telah mengkonstruksi kehidupan masyarakat Rote Ndao yang berbeda budaya dan agama yang rukun dan damai.
Teologi hospitalitas dalam pendidikan seksualitas: Pendekatan Pedagogi Kristen untuk meningkatkan efikasi diri seksual remaja Bara Pa, Hemi Damnosel; Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1020

Abstract

Sexuality education in Christian institutions still faces significant challenges due to the normative approach that often causes stigma and fear among adolescents. Hospitality theology provides a more reflective and inclusive approach to sexuality education, grounded in Christian Pedagogy. This model emphasizes dialogue, contextual theological reflection, and charity-based mentoring to improve students' sexual self-efficacy. By creating a safe space for exploring sexual identity in the light of faith, this approach helps adolescents build a more mature moral and spiritual awareness. This study uses a conceptual analysis method to develop a model of hospitality-based sexuality education that can be implemented in Christian institutions. The results show that hospitality-based education is more effective in fostering reflective awareness, promoting healthy decision-making, and cultivating a more supportive community in understanding responsible sexuality.   Abstrak Pendidikan seksualitas dalam institusi Kristen masih menghadapi tantangan besar akibat pendekatan normatif yang sering kali menimbulkan stigma dan rasa takut di kalangan remaja. Teologi hospitalitas menawarkan pendekatan yang lebih reflektif dan inklusif dalam pendidikan seksualitas berbasis Pedagogi Kristen. Model ini menekankan dialog, refleksi teologis yang kontekstual, serta pendampingan berbasis karitas untuk meningkatkan efikasi diri seksual peserta didik. Dengan menciptakan ruang aman untuk eksplorasi identitas seksual dalam terang iman, pendekatan ini membantu remaja membangun kesadaran moral dan spiritual yang lebih matang. Penelitian ini menggunakan metode analisis konseptual untuk mengembangkan model pendidikan seksualitas berbasis hospitalitas yang dapat diimplementasikan dalam institusi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis hospitalitas lebih efektif dalam membangun kesadaran reflektif, meningkatkan pengambilan keputusan yang sehat, serta menciptakan komunitas yang lebih mendukung dalam pemahaman seksualitas yang bertanggung jawab.
Roh Kudus dan ketekunan belajar: Eksplorasi spiritualitas pembelajar melalui permodelan komunitas gereja perdana dalam narasi Kisah Para Rasul 2:42 Sitompul, Baginda
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1022

Abstract

This article examines the relationship between the work of the Holy Spirit and the development of spiritual learning within contemporary Christian education contexts. Drawing upon the model of the early church community depicted in Acts 2:42, this research investigates how perseverance in the apostles' teaching can be constructed as a Christian educational paradigm that stimulates students to develop learning perseverance. Through exegetical analysis of the Acts 2:42 text, a literature review on the Holy Spirit's role in learning, and a synthesis of Christian educational theology, this study proposes a pneumatological framework for understanding learning perseverance as a spiritual practice empowered by the Holy Spirit. The study argues that authentic learning experiences within Christian communities are not merely cognitive activities but transformative spiritual experiences that occur through the dynamic interaction between the Holy Spirit, the Word, and the learning community. Implications for contemporary Christian educational practice are also discussed, highlighting the importance of creating Spirit-centered learning environments where learning perseverance is understood and experienced as a response to the work of the Holy Spirit.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara karya Roh Kudus dan pengembangan spiritualitas pembelajaran dalam konteks pendidikan Kristiani kontemporer. Dengan mengambil model komunitas gereja perdana yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 2:42, penelitian ini menyelidiki bagaimana ketekunan dalam pengajaran para rasul dapat dikonstruksikan sebagai sebuah paradigma pendidikan Kristiani yang menstimulasi murid untuk mengembangkan ketekunan belajar. Melalui analisis eksegesis teks Kisah Para Rasul 2:42, tinjauan literatur tentang peran Roh Kudus dalam pembelajaran, dan sintesis teologi pendidikan Kristiani, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja pneumatologis untuk memahami ketekunan belajar sebagai praktik spiritual yang diberdayakan oleh Roh Kudus. Studi ini berargumen bahwa pengalaman pembelajaran autentik dalam komunitas Kristiani tidak hanya merupakan aktivitas kognitif tetapi juga pengalaman spiritual transformatif yang terjadi melalui interaksi dinamis antara Roh Kudus, Firman, dan komunitas pembelajar. Implikasi bagi praktik pendidikan Kristiani kontemporer juga dibahas, menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada Roh Kudus di mana ketekunan belajar dipahami dan dialami sebagai respons terhadap karya Roh Kudus.
Transisi kepemimpinan pastoral menuju emeritasi dan dinamika family enterprise dalam Gereja-gereja Pentakostal di Indonesia Mahendra, Yogi
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1023

Abstract

This research examines the transition of pastoral leadership towards emeritation in Indonesian Pentecostal churches that face the challenge of family-based leadership inheritance. The study aims to formulate an emeritation model based on the principle of Spirit-led pneumatocratic leadership. Using a constructive approach, the research developed an integrative model through analysis of theological literature, case studies, and church governance practices. Findings show that the practice of informal inheritance weakens accountability and the quality of spiritual ministry. The emeritation model offered includes six stages: theological affirmation, strategic planning, spiritual mentoring, the empowerment of contemporary competencies, honouring emeritus pastors, and periodic evaluation. The design of this model supports the regeneration of healthy and relevant leadership through a spiritual transformation process. Thus, Indonesian Pentecostal churches can strengthen leadership regeneration while maintaining a balance between spiritual authority and public accountability.   Abstrak Penelitian ini mengkaji transisi kepemimpinan pastoral menuju emeritasi dalam Gereja-gereja Pentakostal Indonesia yang menghadapi tantangan pewarisan kepemimpinan berbasis keluarga. Tujuan penelitian adalah merumuskan model emeritasi berdasarkan prinsip kepemimpinan pneumatokratis yang dipimpin Roh Kudus. Menggunakan pendekatan konstruktif melalui analisis literatur teologis, studi kasus, dan praktik pemerintahan gereja, penelitian ini menyusun model integratif. Temuan menunjukkan praktik pewarisan informal melemahkan akuntabilitas dan kualitas pelayanan rohani. Model emeritasi yang ditawarkan mencakup enam tahap: peneguhan teologis, perencanaan strategis, mentoring spiritualitas, pemberdayaan kompetensi kontemporer, penghormatan pendeta emeritus, serta evaluasi berkala. Model ini dirancang sebagai proses transformasi rohani yang mendukung regenerasi kepemimpinan yang sehat dan relevan. Dengan demikian, Gereja-gereja Pentakostal Indonesia dapat memperkuat regenerasi kepemimpinan sambil menjaga keseimbangan antara otoritas rohani dan akuntabilitas publik.
Pengajaran sebagai misi: Sebuah pembacaan naratif misi Paulus di Kisah Para Rasul Butarbutar, Adolf Bastian; Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1028

Abstract

The era of digital disruption has created substantial challenges for the integrity of Christian teaching, with the proliferation of divergent doctrines spread through social media platforms. This research analyzes teaching patterns in Paul's mission as represented in the Acts narrative to identify missiological models applicable to contemporary challenges. Using narrative analysis methodology, this study identifies three essential dimensions in Paul's teaching strategy: a progressive pattern of spatial movement from synagogues to public spaces to private settings; adaptive yet uncompromising contextualization of teaching for Jewish, Greek, and Roman audiences; and, the role of teaching as a catalyst for transformative community formation. The results show that Paul's missional success lay in integrating teaching with communal formation and cultural contextualization. This model offers a paradigm for contemporary churches facing digital disruption challenges, demonstrating the importance of comprehensive, contextual, and communal teaching for maintaining doctrinal integrity in the post-truth era..   Abstrak Era disrupsi digital telah menciptakan tantangan substansif bagi integritas pengajaran Kristen, dengan proliferasi doktrin menyimpang yang disebarkan melalui platform media sosial. Penelitian ini menganalisis pola pengajaran dalam misi Paulus sebagaimana direpresentasikan dalam narasi Kisah Para Rasul untuk mengidentifikasi model misiologis yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Dengan menggunakan metode analisis naratif, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi penting dalam strategi pengajaran Paulus: pola progresif pergerakan spasial dari sinagoga ke ruang publik ke lingkungan privat; kontekstualisasi pengajaran yang adaptatif namun tidak kompromi untuk audiens Yahudi, Yunani, dan Romawi; dan, peran pengajaran sebagai katalis pembentukan komunitas transformatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan misi Paulus terletak pada integrasi pengajaran dengan formasi komunal dan kontekstualisasi kultural. Model ini menawarkan paradigma untuk gereja kontemporer yang menghadapi tantangan disrupsi digital, menunjukkan pentingnya pengajaran yang komprehensif, kontekstual, dan komunal untuk mempertahankan integritas doktrinal di era post-truth.
Ruminatio philosophiae sebagai strategi formatif imersi spiritual dalam pendidikan agama Kristen Marbun, Merdiati
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1031

Abstract

The phenomenon of spiritual dryness in Christian Religious Education is often caused by an overly cognitive and informative approach, neglecting the formative dimension of students’ inner lives. This study explores ruminatio philosophiae as a formative strategy grounded in philosophical contemplation and Christian spirituality within the learning process of Christian Religious Education. This approach emphasizes deep reflection as a means of holistic faith formation by integrating reason, affection, and action. The study employs a library research method and reflective hermeneutical analysis of both classical and contemporary texts in theology and philosophy. The findings reveal that ruminatio philosophiae is relevant in addressing the crisis of spiritual formation in the context of the digital generation and functions as a pedagogical strategy that cultivates orthodoxy, orthopathē, and orthopraxis. This approach promotes an immersive, reflective, and transformational experience of faith that unites theological knowledge with lived reality. Therefore, ruminatio philosophiae is not merely an educational strategy, but a pedagogical spirituality that revitalizes the praxis of faith education contextually and holistically in Indonesia.   Abstrak Fenomena kekeringan spiritual dalam Pendidikan Agama Kristen sering kali disebabkan oleh pendekatan yang terlalu kognitif dan informatif, sehingga mengabaikan dimensi formasi batin peserta didik. Penelitian ini mengeksplorasi ruminatio philosophae sebagai strategi formatif berbasis kontemplasi filosofis dan spiritualitas Kristen dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Pendekatan ini menempatkan refleksi mendalam sebagai sarana pembentukan iman yang menyeluruh dengan mengintegrasikan akal, afeksi, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan analisis hermeneutik reflektif terhadap teks-teks klasik dan kontemporer, baik dari teologi maupun filsafat. Hasil kajian menunjukkan bahwa ruminatio philosophae tidak hanya relevan untuk menjawab krisis formasi spiritual dalam konteks generasi digital, tetapi juga mampu menjadi strategi pedagogis yang membentuk orthodoxy, orthopathē, dan orthopraxis. Pendekatan ini menekankan pengalaman iman yang imersif, reflektif, dan transformasional, yang menyatukan pengetahuan religius dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, ruminatio philosophae bukan hanya strategi pendidikan, melainkan spiritualitas pedagogis yang mampu menghidupkan kembali praksis pendidikan iman secara kontekstual dan holistik di Indonesia.