cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Konseling pastoral berbasis kesetaraan gender dalam menangani kekerasan dalam rumah tangga Runtuwene, Daniel
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1225

Abstract

This study explores gender equality-based pastoral counseling as a transformative approach to addressing domestic violence in Indonesian churches. Using literature analysis with a practical theological approach, this research examines the challenges, implementation, and optimization strategies of pastoral counseling that integrates gender equality perspectives. Findings indicate that domestic violence remains a serious problem in Indonesian Christian communities, exacerbated by patriarchal theological interpretations and limited church service capacity. Gender equality-based pastoral counseling offers holistic solutions through the integration of feminist theology, liberation hermeneutics, and trauma-informed care methodologies, providing spiritual, psychological, and social support for victims. Healing ministries that integrate gender equality perspectives can revitalize the church's understanding of equal gender relations according to the imago Dei concept. Effective implementation requires a theological curriculum of theological development training for pastoral counselors and strategic partnerships with civil society organizations to create safe and transformative churches for all of God's people.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi konseling pastoral berbasis kesetaraan gender sebagai pendekatan transformatif dalam menangani kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di gereja-gereja Indonesia. Menggunakan metode analisis literatur dengan pendekatan teologis praktis, penelitian ini mengkaji tantangan, implementasi, dan strategi optimalisasi konseling pastoral yang mengintegrasikan perspektif kesetaraan gender. Temuan menunjukkan bahwa KDRT masih menjadi masalah serius dalam komunitas Kristen Indonesia, diperparah oleh interpretasi teologis yang bias patriarkal dan keterbatasan kapasitas pelayanan gereja. Konseling pastoral berbasis kesetaraan gender menawarkan solusi holistik melalui integrasi teologi feminis, hermeneutika pembebasan, dan metodologi trauma-informed care yang memberikan dukungan spiritual, psikologis, dan sosial bagi korban. Pelayanan pemulihan yang mengintegrasikan perspektif kesetaraan gender dapat merevitalisasi pemahaman gereja tentang relasi gender yang setara sesuai konsep imago Dei. Implementasi efektif memerlukan pengembangan kurikulum teologi, pelatihan konselor pastoral, dan kemitraan strategis dengan organisasi masyarakat sipil untuk menciptakan gereja yang aman dan transformatif bagi seluruh umat Allah.
Menelisik praktik perhambaan di kampung Raja Prailiu, Sumba Timur: Sebuah kajian poskolonial dalam upaya memutus rantai perhambaan di era modern Setyawan, Yusak Budi; Lena, Iston Umbu Kura
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1287

Abstract

In this modern era, the practice of slavery in various forms can be found in multiple places in the world, including in Raja Prailiu Village, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. This practice has been carried out by the Maramba (nobles) against the Ata (servants). This causes injustice and discrimination for the Ata people, who even experience violence, both physical and psychological. This research aims to study why this practice continues to be maintained and perpetuated, as well as propose efforts to break the chain of this kind of slavery so as not to cause further social problems, especially for the Ata. This research uses qualitative methods with a postcolonial approach. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation. This research concerns efforts to eliminate various forms of slavery practices in society, especially in Raja Prailiu Village. This research found that this practice continues to occur because, as subalterns, the Ata’s voices are not heard, their experiences are silenced, and there is no "space" for them to speak out. This research concludes that the voices of the Ata as subalterns need to be heard in public spaces.   Abstrak Di era modern seperti sekarang ini, praktik perhambaan dalam berbagai bentuk (tradisional maupun modern) dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia, termasuk di Kampung Raja Prailiu, Sumba Timur - Nusa Tenggara Timur. Praktik ini dilakukan oleh para Maramba (kaum bangsawan) terhadap kaum Ata (hamba). Hal ini menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi bagi kaum Ata yang bahkan mengalami kekerasan, baik fisik maupun psikis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian mengapa praktik tersebut terus dipertahankan dan dilestarikan, serta mengusulkan upaya untuk memutus rantai perhambaan semacam ini agar tidak menimbulkan persoalan sosial lanjutan, terutama bagi kaum Ata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan poskolonial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Urgensi dari penelitian ini adalah untuk menghapus segala bentuk praktik perhambaan di masyarakat, khususnya di Kampung Raja Prailiu. Dengan menggunakan teori subaltern dari Gayatri Spivak ditemukan bawah praktik tersebut terus terjadi karena kaum Ata sebagai subaltern suara mereka tidak terdengar, pengalaman mereka dibungkam dan tidak ada “ruang” bagi mereka untuk bersuara. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suara-suara kaum Ata sebagai subaltern perlu diperdengarkan di ruang-ruang publik.
From Moab to Selalang: Reading Ruth's conversion in the mirror of Iban women's narratives Pekuwali, John Riwu
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1319

Abstract

This study interprets the narrative of Ruth's conversion in the Old Testament as a hermeneutical model for understanding the faith experience of Dayak Iban women in Selalang, Malaysia, particularly through the story of Ibu Lega. Conversion is not viewed merely as a formal change of religion, but as a complex relational, cultural, and spiritual process. Using a narrative and intertextual hermeneutic approach, this research explores how conversion emerges from experiences of loss, vulnerability, and relational love. Ibu Lega, who chose to remain in the Longhouse after her husband's death to care for her in-laws, created a space for the growth of Christian faith through her steadfastness. In this context, conversion does not reject culture but transforms it into a new form of embodied spirituality lived in daily practices. Like Ruth, Ibu Lega’s path to faith did not pass through institutional religion, but through embodied acts of love and sacrifice. This narrative challenges dogmatic colonial mission models and proposes an alternative theology of conversion that is contextual, relational, and intercultural. As a communal spiritual space, the Longhouse becomes a locus for liberating faith transformation that honors local cultural wisdom.
Pengembangan model bimbingan karier berbasis nilai-nilai kepemimpinan Kristen bagi mahasiswa perguruan tinggi Sihombing, Grace Lamudur Arta; Manullang, Tetti; Manullang, Endang Juliati; Sitinjak, Tresia Rineystika
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1174

Abstract

This study aims to implement Christian leadership values through a career guidance guidebook for university students. This guidebook is designed to help students integrate biblical principles such as integrity, service, humility, commitment, and justice into their career preparation. The research method uses a Research and Development (R&D) approach, adapting the Courseware Development Process (CDP) model and Gall & Borg to produce a valid and effective guidebook. The results show that this guidebook is practical in enhancing students' understanding of career as a life calling and shaping their character in accordance with leadership values, in addition to guiding students towards a deeper spiritual experience. This approach not only helps students prepare themselves technically but also fosters strong character and a work ethic grounded in biblical principles. This research contributes to preparing students to become competent and service-oriented leaders, addressing the needs of Christian higher education in response to the challenges of the modern workplace.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinan Kristen melalui buku pedoman bimbingan karier bagi mahasiswa. Pedoman ini dirancang untuk membantu mahasiswa mengintegrasikan prinsip-prinsip alkitabiah seperti integritas, pelayanan, kerendahan hati, komitmen, dan keadilan ke dalam persiapan karier mahasiswa. Metode penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D), mengadaptasi model Courseware Development Process (CDP) dan Gall & Borg untuk menghasilkan pedoman yang valid dan efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku pedoman ini efektif dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai karier sebagai panggilan hidup dan membentuk karakter mereka sesuai dengan nilai-nilai kepemimpinan, selain mengarahkan mahasiswa pada pemahaman spiritual yang lebih dalam. Pendekatan ini tidak hanya membantu mahasiswa mempersiapkan diri secara teknis tetapi juga membangun karakter yang kuat dan etika kerja yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Penelitian ini berkontribusi mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin yang kompeten dan berorientasi pada pelayanan, menjawab kebutuhan pendidikan tinggi Kristen dalam menghadapi tantangan dunia kerja modern.
Edukasi sebagai evangelisasi: Reformulasi teologis pendidikan kristiani dalam lanskap misi poskolonial Tambunan, Sarina
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1360

Abstract

This study explores the theological reformulation of Christian education as an evangelization strategy in the context of post-colonial mission. Through a critical analysis of traditional missiological paradigms, the study identifies the epistemological transformations necessary to contextualize Christian education in the contemporary global landscape. Using a critical hermeneutical approach and theological-practical analysis, the study produces a new conceptual framework that positions education as an emancipatory and dialogical modus operandi of evangelization. The findings suggest that post-colonial Christian education requires the deconstruction of hegemonic paradigms and the reconstruction of pedagogical praxis centered on holistic transformation. The theoretical and practical implications of this reformulation contribute to the development of a more inclusive and contextual contemporary missiology.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi reformulasi teologis pendidikan Kristiani sebagai strategi evangelisasi dalam konteks misi post-kolonial. Melalui analisis kritis terhadap paradigma misiologi tradisional, studi ini mengidentifikasi transformasi epistemologis yang diperlukan untuk mengkontekstualisasikan pendidikan Kristiani dalam lanskap global kontemporer. Menggunakan pendekatan hermeneutika kritis dan analisis teologis-praktis, penelitian ini menghasilkan kerangka konseptual baru yang memposisikan edukasi sebagai modus operandi evangelisasi yang emansipatif dan dialogis. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan Kristiani post-kolonial memerlukan dekonstruksi paradigma hegemonik dan rekonstruksi praksis pedagogis yang berpusat pada transformasi holistik. Implikasi teoretis dan praktis dari reformulasi ini berkontribusi pada pengembangan misiologi kontemporer yang lebih inklusif dan kontekstual.
Keluarga sebagai ecclesia domestica: Fondasi teologis-biblis pengembangan kecerdasan emosional anak dalam pengasuhan kristiani Gidion; Poroe, Herman
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1014

Abstract

The crisis of emotional regulation in the contemporary generation demands a reconceptualization of the Christian parenting paradigm. This research examines the concept of ecclesia domestica as a theological foundation for the development of children's emotional intelligence. Through a practical and constructive theological approach, this study synthesizes patristic thought on the family as a "little church" with contemporary emotional intelligence theory. Analysis focuses on four dimensions: the sacramentality of domestic space, koinonia as a matrix for emotional formation, family liturgy in affective regulation, and the missio Dei in transformative parenting. Findings indicate that the ecclesia domestica conception provides a robust theological framework for integrating spirituality and emotional development. Practical implications include reorienting parenting from an instructive to a formative-relational model, where the family functions as a hermeneutical community, facilitating children's encounter with God's love through secure attachment experiences. This research contributes to the development of holistic and contextual family theology for the digital era.   Abstrak Krisis regulasi emosional pada generasi kontemporer menuntut rekonseptualisasi paradigma pengasuhan Kristiani. Penelitian ini mengeksplorasi konsep ecclesia domestica sebagai fondasi teologis untuk pengembangan kecerdasan emosional anak. Melalui pendekatan teologi praktis-konstruktif, studi ini mensintesiskan pemikiran patristik tentang keluarga sebagai "gereja kecil" dengan teori kontemporer emotional intelligence. Analisis difokuskan pada empat dimensi: sakramentalitas ruang domestik, koinoniasebagai matriks pembentukan emosi, liturgi keluarga dalam regulasi afektif, dan missio Dei dalam pengasuhan transformatif. Temuan menunjukkan bahwa konsepsi ecclesia domestica menyediakan kerangka teologis yang robust untuk mengintegrasikan spiritualitas dan perkembangan emosional. Implikasi praktis mencakup reorientasi pengasuhan dari model instruktif menuju formatif-relasional, di mana keluarga berfungsi sebagai komunitas hermeneutis yang memfasilitasi perjumpaan anak dengan kasih Allah melalui pengalaman kelekatan yang aman. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi keluarga yang holistik dan kontekstual untuk era digital.
Teologi indigenous dan rekonsiliasi bangsa: Dekonstruksi dan rekonstruksi nilai-nilai kearifan lokal sebagai paradigma pemulihan sosial di Indonesia Kause, Munatar
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1015

Abstract

This study examines the construction of indigenous theology as a foundation for national reconciliation by deconstructing and reconstructing local wisdom values in Indonesia. Drawing on Stephen Bevans's contextual theology methodology and Robert Schreiter's framework for constructing local theology, this research examines how indigenous religious values can serve as bridges for social healing in post-conflict Indonesian society. Through qualitative analysis of indigenous traditions, such as Pela Gandong and Aluk Mappurondo, as well as various other local wisdoms, this study reveals that indigenous theology offers alternative paradigms for reconciliation that are more culturally rooted and sustainable than Western-imposed models. The findings demonstrate that integrating indigenous cosmological understanding with Christian theological reflection creates transformative potential for national resilience. This research contributes to the development of Indonesian contextual theology, which respects cultural plurality while maintaining theological integrity, and offers practical implications for peacebuilding and social reconstruction in Indonesia's multi-religious society. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi teologi indigenous sebagai fondasi rekonsiliasi bangsa melalui dekonstruksi dan rekonstruksi nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia. Menggunakan metodologi teologi kontekstual Stephen Bevans dan kerangka konstruksi teologi lokal Robert Schreiter, penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai religius indigenous dapat berfungsi sebagai jembatan pemulihan sosial dalam masyarakat Indonesia pascakonflik. Melalui analisis kualitatif tradisi indigenous seperti Pela Gandong, Aluk Mappurondo, dan kearifan lokal lainnya, studi ini mengungkapkan bahwa teologi indigenous menawarkan paradigma alternatif rekonsiliasi yang lebih berakar budaya dan berkelanjutan dibanding model-model yang dipaksakan dari Barat. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pemahaman kosmologis indigenous dengan refleksi teologis Kristen menciptakan potensi transformatif bagi resiliensi bangsa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual Indonesia yang menghargai pluralitas budaya sambil mempertahankan integritas teologis, menawarkan implikasi praktis bagi pembangunan perdamaian dan rekonstruksi sosial dalam masyarakat Indonesia yang multi-religius.
Pendidikan Kristiani dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan: Interseksionalitas pemikiran Dietrich Bonhoeffer tentang relasi sosial-ekonomi Sumarno, Yuel
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1034

Abstract

This study examines the role of Christian education in realizing sustainable development, particularly in the socio-economic dimension re-lated to SDG 1 (No Poverty), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), and SDG 10 (Reduced Inequalities). Using an intersectional approach, this research examines the role of Christian education in shaping character, promoting economic self-reliance, and fostering social cohesion. Dietrich Bonhoeffer’s concepts of Stellvertretung (vicarious responsibility) and being-for-others serve as the theological framework to underscore the pu-blic dimension of Christian faith. The findings suggest that Christian edu-cation can serve as a transformative agent, integrating faith, practical skills, work ethics, and social solidarity. Vocational education, the empowerment of vulnerable groups, and the formation of ethical leadership establish Christian education as a strategic means of addressing inequality, struc-tural poverty, and marginalization. Accordingly, the proposed new para-digm is that sustainable development should not rely solely on economic growth but must also integrate spirituality and social justice.   Abstrak Penelitian ini menelaah peran pendidikan Kristiani dalam me-wujudkan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada dimensi sosial-ekonomi yang berhubungan dengan SDGs 1 (No Poverty), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDGs 10 (Reduced Inequalities). Dengan me-nggunakan pendekatan interseksional, penelitian ini mengkaji kontribusi pendidikan Kristen dalam membentuk karakter, memperkuat kemandi-rian ekonomi, dan membangun kohesi sosial. Pemikiran Dietrich Bonhoef-fer tentang Stellvertretung (tanggung jawab perwakilan) dan being-for-others (hidup bagi orang lain) dijadikan kerangka teologis untuk menegas-kan dimensi publik iman Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristiani dapat menjadi agen transformatif yang mengintegra-sikan iman, keterampilan praktis, etika kerja, dan solidaritas sosial. Pendi-dikan vokasional, pemberdayaan kelompok rentan, dan pembentukan ke-pemimpinan etis menjadikan pendidikan Kristiani sarana strategis untuk mengatasi ketimpangan, kemiskinan struktural, dan marginalisasi. De-ngan demikian, paradigma baru yang ditawarkan adalah pembangunan berkelanjutan tidak semata bertumpu pada pembangunan ekonomi, tetapi juga pada integrasi spiritualitas dan keadilan sosial.
Teologi kerukunan dalam praktik homiletika: Konstruksi model khotbah profetik-dialogis untuk masyarakat multikultural Sarmauli; Risvan, Latupeirissa; Lilyantie; Lianto; Surya, Agus
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1063

Abstract

This study examines the development of a prophetic-dialogical preaching model as a means of fostering interfaith harmony in multicultural societies. Through qualitative research employing hermeneutical and phenomenological approaches, this article analyzes the theological foundations of harmony and their implementation in homiletical practices. The findings reveal that prophetic-dialogical preaching integrates three essential dimensions: theological depth rooted in biblical narratives, prophetic courage in addressing social justice, and dialogical openness toward religious plurality. This model transforms traditional homiletics from monological proclamation into participatory communication that acknowledges the presence of the religious other. The study contributes to contemporary homiletical discourse by offering a contextual framework that balances evangelical identity with inclusive social engagement, particularly relevant for Indonesian multicultural contexts. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi model khotbah profetik-dialogis sebagai instrumen pembangunan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat multikultural. Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutis dan fenomenologis, artikel ini menganalisis fondasi teologis kerukunan dan implementasinya dalam praktik homiletika. Temuan menunjukkan bahwa khotbah profetik-dialogis mengintegrasikan tiga dimensi esensial: kedalaman teologis yang berakar pada narasi biblika, keberanian profetik dalam menyuarakan keadilan sosial, dan keterbukaan dialogis terhadap pluralitas agama. Model ini mentransformasi homiletika tradisional dari proklamasi monologis menjadi komunikasi partisipatif yang mengakui kehadiran liyan religius. Studi ini berkontribusi pada diskursus homiletika kontemporer dengan menawarkan kerangka kontekstual yang menyeimbangkan identitas evangelikal dengan keterlibatan sosial inklusif, khususnya relevan untuk konteks multikultural Indonesia.
Konstruksi khotbah transformatif sebagai instrumen pembentukan resiliensi spiritual: Sebuah pendekatan homiletik kontekstual dalam menghadapi tantangan eksistensial di era posmodernisme Ginting, Alex Stefanus
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1078

Abstract

This study examines the construction of transformative sermons that strategically fostered the congregation's spiritual resilience in countering the epistemological and existential challenges of postmodernism. Through a qualitative approach using phenomenological inquiry and thematic analysis, this study identifies elements of sermons that are effective in transforming threats into spiritual resilience. The findings suggest that sermons that combine biblical narratives with explicit addressing of doubt and uncertainty can empower congregations to confront the fragmentation of meaning in postmodern culture. The primary contribution of this study is the development of an integrative homiletic framework that maintains theological authority while being responsive to the spiritual needs of contemporary congregations.   Abstrak Studi ini mengeksplorasi konstruksi khotbah transformatif yang secara strategis membangun resiliensi spiritual jemaat dalam melawan perlawanan epistemologis dan eksistensial posmodernisme. Melalui pendekatan kualitatif menggunakan inkuiri fenomenologis dan analisis tematik, studi ini mengidentifikasi unsur-unsur khotbah yang efektif dalam mengubah ancaman menjadi ketahanan spiritual. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa khotbah yang menggabungkan narasi Alkitab dengan penanganan keraguan dan ketidakpastian secara eksplisit dapat memberdayakan jemaat untuk menghadapi fragmentasi makna dalam budaya posmodern. Kontribusi utama studi ini adalah pengembangan kerangka homiletika integratif yang mempertahankan otoritas teologis sekaligus responsif terhadap kebutuhan spiritual jemaat kontemporer.