cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Teologi Luka: Protes, subversi, dan harapan dalam Mazmur 37 Siahaya, Karel Martinus
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1032

Abstract

This study analyzes Psalm 37 through the lens of liberation hermeneutics, the theology of suffering, and Midrash Tehillim. The findings reveal that the promise of land inheritance for the righteous is not merely an eschatological comfort but a subversive social critique against structures of injustice. The acrostic structure emphasizes God’s order amid social chaos, while Midrash Tehillim teaches that theological protest is a valid expression of faith. The suffering of the righteous is understood as part of God's solidarity, who shares in humanity’s pain. Thus, Psalm 37 calls the church to become an empathetic agent of change, embodying social justice and strengthening believers’ faith. This message is relevant to modern contexts marked by social and economic inequality. This research highlights that experiences of suffering are not just pain, but also a call to action, involving participation in God’s mission of peace and justice in a broken world.   Abstrak Penelitian ini menganalisis Mazmur 37 dengan pendekatan hermeneutika pembebasan, teologi luka, dan Midrash Tehillim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa janji pewarisan tanah bagi orang benar bukan hanya penghiburan eskatologis, melainkan kritik sosial subversif terhadap struktur ketidakadilan. Struktur akrostik menegaskan keteraturan Allah di tengah kekacauan sosial, sementara Midrash Tehillim mengajarkan bahwa protes teologis adalah bentuk iman yang sahih. Penderitaan orang benar dipahami sebagai bagian dari solidaritas Allah yang turut merasakan penderitaan umat. Dengan demikian, Mazmur 37 mengundang gereja untuk menjadi agen perubahan yang empatik, menghadirkan keadilan sosial dan meneguhkan iman umat. Pesan ini relevan bagi konteks modern yang sarat dengan ketimpangan sosial dan ekonomi. Penelitian ini menegaskan bahwa pengalaman luka bukan sekadar penderitaan, tetapi juga panggilan untuk bertindak menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah dunia yang penuh ketidakadilan.
Dari burnout ke burning bright: Self-care sebagai spirit kepemimpinan Kristen di era posdigital Heryanto
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1075

Abstract

This study reexamines the urgency of integrating self-care as a foundational framework in Christian leadership within the postdigital era, where the boundaries between physical and digital spaces have become increasingly blurred, and ministry expectations are intensifying. The pressures of multitasking, constant connectivity, and the erosion of contemplative space have contributed to burnout that is not merely psychological, but structural and theological. Employing a grounded constructivist approach, this research develops a renewed theological understanding of self-care, not merely as stress management, but as a spiritual discipline that acknowledges human vulnerability as a locus of divine activity. The study formulates five pillars of a healthy leadership model to address contemporary challenges in ministry. It argues that churches will continue to reproduce fragile, exploitative, and unsustainable leadership unless there is a paradigmatic shift in leadership and a reconfiguration of structural support systems. Thus, self-care must be reclaimed as a prophetic praxis that disrupts dysfunctional ministry systems and paves the way for a resilient leadership model, rooted in grace and capable of burning bright amid an era craving authentic spiritual presence.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kembali urgensi integrasi self-care sebagai kerangka fundamental dalam kepemimpinan Kristen di era posdigital, di mana batas antara ruang fisik dan digital semakin kabur, dan ekspektasi pelayanan mengalami intensifikasi. Tekanan multitugas, ekspektasi keterhubungan konstan, dan absennya ruang kontemplatif menyebabkan munculnya gejala burnout yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga struktural dan teologis. Dengan menggunakan pendekatan grounded constructivist, studi ini mengembangkan pemahaman baru tentang self-care sebagai tindakan teologis yang melampaui sekadar pengelolaan stres, melainkan sebagai disiplin spiritual yang mengakui kerapuhan manusia sebagai ruang kerja ilahi. Lima pilar model kepemimpinan sehat diformulasikan untuk menjawab tantangan kontemporer dalam pelayanan. Penelitian ini menegaskan bahwa tanpa reposisi paradigma pelayanan dan reformulasi sistem pendukung yang memadai, gereja akan terus memproduksi kepemimpinan yang rapuh, eksploitatif, dan rentan gagal. Oleh karena itu, self-care harus dilihat sebagai praksis kenabian yang membongkar struktur pelayanan disfungsional dan membuka jalan bagi model kepemimpinan yang tahan krisis, berakar pada kasih karunia, dan mampu menyala di tengah era yang haus kehadiran autentik.
Mental and spiritual resilience of families based on the philosophy and local wisdom of the Mapur community Kathryn, Susanna; Chandra, Donny Charles
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1076

Abstract

This research examines the Mapur community in Bangka, exploring how their philosophy, local wisdom, and cultural traditions enhance their mental and spiritual resilience in the face of social, economic, and environmental changes brought about by modernization and natural resource exploitation. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews with key figures, including traditional leader Abok Gedoi, Suli, and community member Apriyatno. Participatory observation and focus group discussions (FGD) provided a collective perspective on cultural and spiritual practices. Thematic analysis was applied to identify core themes related to resilience. The findings highlight that the Mapur people rely on harmony with nature, cooperation, gender equality, and culture-based education to build mental and spiritual resilience. Traditions such as Nujuh Jerami and the Bukaladang system are crucial in fostering social cohesion and community solidarity. The study focuses on a single community, which limits the generalizability of its findings to broader populations. The study suggests practical intervention strategies, including integrating cultural values into resilience-building programs to enhance the well-being of the Mapur community. This research addresses a gap in the literature regarding the resilience of the Mapur people. It offers insights into the interplay between cultural traditions and mental and spiritual well-being, contributing to broader discussions on community resilience in indigenous populations.
Kesia-siaan yang penuh makna: Kajian etis terhadap kata hebel dalam kitab Pengkhotbah Nesimnasi, Ruben
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1080

Abstract

The Book of Ecclesiastes presents a skeptical and somber reflection on human existence. The term vanity serves as a central theme for Qohelet in expressing the outcomes of his existential inquiry. But what exactly does vanity mean in this context? This article examines the concept of futility from an ethical perspective, aiming to clarify common misunderstandings of the term. Uncertainties beyond our control mark human life; thus, vanity becomes a key concept for understanding how humans might transcend the world's absurdity. Ultimately, Ecclesiastes invites its readers to contemplate what it means to live rightly as creations of God.   Abstrak manusia di dunia. Kesia-siaan menjadi kata kunci bagi Qõhelet dalam menyajikan hasil pergumulannya sebagai manusia. Lantas, apa yang dimaksud dari kesia-siaan? Artikel ini akan mendalami terminologi kesia-siaan dengan menggunakan lensa etis, untuk menghindari kekeliruan pemahaman tentang kesia-siaan. Manusia hidup di dalam ketidak-pastian yang berada di luar kontrol dirinya, sehingga kesia-siaan adalah kunci utama bagi manusia untuk melampaui ke-absurd-an duniawi. Kitab Pengkhotbah mendorong pembacanya untuk merenungkan kembali, bagaimana menjalani kehidupan yang sepantasnya sebagai ciptaan Allah.
Mengenakan mahkota berduri: Kepemimpinan kristiani dalam kerangka etika partisipatif Tobing, Jhon Piter
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1133

Abstract

Christian leadership can be understood as bearing a crown of thorns. The ecclesiastical office is not a throne or the pinnacle of church life, but an uncomfortable cross. An ecclesiastical leader must be willing and able to participate in Christ's divine work and sufferings. Just as Christ became incarnate to encompass all humanity within Himself, so too must ecclesiastical leaders embrace each member of every faith community. Christian leadership is not merely a model to emulate or a role to perform, but an ethical response demanded of those called and chosen. It is the lived realization of participation in the divine work revealed through the person of Christ.   Abstrak Kepemimpinan kristiani dapat diandaikan sebagai tindakan untuk mengenakan mahkota berduri. Jabatan gerejawi bukan sebuah takhta dan menjadi puncak dalam kehidupan bergereja. Justru, jabatan gerejawi adalah salib yang sangat tidak enak. Seorang pemimpin gerejawi harus mau dan mampu mengambil bagian ke dalam karya ilahi dan penderitaan Kristus. Sebagaimana Kristus berinkarnasi untuk merengkuh seluruh manusia ke dalam diri-Nya, begitu pula para pemimpin gerejawi harus merangkul setiap pribadi di dalam komunitas iman. Kepemimpinan kristiani bukan sebuah model yang harus dituju atau dilakukan, melainkan sebuah tanggapan etis yang selayaknya dilakukan oleh mereka yang telah dipanggil dan dipilih. Kepemimpinan kristiani adalah wujud nyata dari partisipasi ke dalam karya ilahi yang diwahyukan melalui pribadi Kristus.
Harmoni dalam keberagaman: Penguatan kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Kristen untuk pembelajaran multikultural yang transformatif Yuel
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1143

Abstract

This article examines the enhancement of pedagogical competencies among Christian Religious Education (CRE) teachers in Indonesia's transformative multicultural learning contexts. In Indonesia's pluralistic society, CRE teachers face the challenge of facilitating learning processes that convey Christian values and instill appreciation for diversity. Through a literature review and theological perspectives, this article presents a conceptual framework for developing CRE teachers' pedagogical competencies that are responsive to multicultural learning needs. The findings indicate that strengthening culturally responsive pedagogical competencies of CRE teachers requires the integration of theological understanding concerning plurality, development of dialogue-centered learning methods, and critical reflection on existing educational practices. This article concludes that robust and transformative pedagogical competencies can facilitate harmony in diversity through contextual, inclusive, and dialogical learning processes.   Abstrak Artikel ini mengkaji penguatan kompetensi pedagogik guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam konteks pembelajaran multikultural yang transformatif di Indonesia. Dalam masyarakat Indonesia yang plural, guru PAK menghadapi tantangan untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan nilai-nilai kekristenan tetapi juga menanamkan penghargaan terhadap keberagaman. Melalui kajian literatur dan perspektif teologis, artikel ini menawarkan kerangka konseptual untuk mengembangkan kompetensi pedagogik guru PAK yang responsif terhadap kebutuhan pembelajaran multikultural. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan kompetensi pedagogik guru PAK yang berwawasan multikultural memerlukan integrasi pemahaman teologis tentang pluralitas, pengembangan metode pembelajaran yang berpusat pada dialog, serta refleksi kritis terhadap praktik pendidikan yang ada. Artikel ini menyimpulkan bahwa kompetensi pedagogik yang kuat dan transformatif dapat memfasilitasi harmoni dalam keberagaman melalui proses pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan dialogis.
Merajut iman dan budaya: Peran pemuda gereja melestarikan tradisi temu pengantin Jawa dalam perspektif pendidikan agama Kristen kontekstual Prihadi, Stephanus; Telhalia
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1144

Abstract

This article examines the contextual Christian religious education model in preserving the Temu Pengantin tradition by church youth in Indonesia. Employing a theological-cultural analytical approach, this study explores the relevance and significance of Javanese traditional wedding ceremonies as a dialogical space between Christian values and local wisdom. The research finds that preserving the Temu Pengantin tradition within Javanese Christian communities contributes significantly to forming a contextual Christian identity rooted in local culture while remaining faithful to the essence of Christian faith. The article proposes a transformative hermeneutical approach that facilitates critical-constructive dialogue between Christian faith and local cultural traditions, and offers a multidimensional Christian religious education model that integrates cultural elements as materials for theological reflection. This study contributes to developing a culturally-informed and contextual Christian religious education paradigm in Indonesia that bridges the gap between Christian faith and its artistic expressions.   Abstrak Artikel ini mengkaji model pendidikan agama Kristen kontekstual dalam upaya pelestarian tradisi Temu Pengantin oleh pemuda gereja di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan analisis teologis-kultural, studi ini mengeksplorasi relevansi dan signifikansi tradisi pernikahan adat Jawa sebagai ruang dialog antara nilai-nilai kekristenan dan kearifan lokal. Penelitian ini menemukan bahwa pelestarian tradisi Temu Pengantin dalam komunitas Kristen Jawa memberikan kontribusi penting dalam pembentukan identitas Kristen kontekstual yang berakar pada budaya lokal sekaligus setia pada esensi iman Kristen. Artikel ini mengusulkan pendekatan hermeneutika transformatif yang memungkinkan dialog kritis-konstruktif antara iman Kristen dan tradisi budaya lokal, serta menawarkan model pendidikan agama Kristen multidimensional yang mengintegrasikan unsur-unsur budaya sebagai bahan refleksi teologis. Studi ini berkontribusi pada pengembangan paradigma pendidikan agama Kristen yang berbudaya dan kontekstual di Indonesia yang menjembatani kesenjangan antara iman Kristen dan ekspresi kulturalnya.
Kesetaraan relasi sosial dalam falsafah esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan: Sebuah konstruksi teologis berbasis budaya Minahasa Mawuntu, Marhaenie Luciana
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1178

Abstract

Awareness of maintaining and appreciating local philosophy about respect for equality in the diversity of society is being eroded in the Minahasa land. This article discusses the socio-cultural issue of esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan, which can be the basis for equal social relations. This study repositions the local wisdom defined and constructed by the ancestors as a social identity that appreciates diversity and equality in society. For this purpose, I use a qualitative research approach with descriptive methods and socio-cultural analysis. This research will start from cultural data transmitted orally and maintained by cultural actors and the Minahasa community in several villages. Furthermore, based on this approach, the author will offer esa cita waya, tou peleng masu’at. Cawana parukuan, cawana pakuruan, pute waya tou maesa (hereinafter abbreviated as ECWTPMCPCP) as the basis of social relations that give respect to equality in social diversity in the land of Minahasa today. As a result, the people in the land of Minahasa are educated to build relations that provide equal and constructive space for plurality in society.   Abstrak Kesadaran untuk memelihara dan menghargai falsafah lokal tentang penghargaan terhadap kesetaraan dalam keragaman masyarakat sedang tergerus di tanah Minahasa. Artikel ini bertujuan membahas persoalan sosio-kultural esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan, yang dapat menjadi dasar relasi sosial yang setara. Kajian ini memosisikan kembali kearifan lokal tersebut sebagaimana yang didefinisikan dan dikonstruksi para leluhur sebagai identitas sosial yang menghargai keragaman dan kesetaraan bermasyarakat. Untuk tujuan itu, saya menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode dekriptif dan analisis sosio-kultural. Penelitian ini akan bertolak dari data kultural yang ditransmisikan secara lisan dan masih terpelihara pada para pelaku budaya dan masyarakat Minahasa di beberapa kampung. Selanjutnya berdasar pendekatan demikian, penulis akan menawarkan esa cita waya, tou peleng masu’at. Cawana parukuan, cawana pakuruan, pute waya tou maesa (selanjutnya disngkat ECWTPMCPCP) sebagai dasar relasi sosial yang memberi penghargaan terhadap kesetaraan dalam kemajemukan sosial di tanah Minahasa kini. Hasilnya, masyarakat di tanah Minahasa teredukasi untuk membangun relasi yang memberi ruang setara dan konstruktif bagi pluralitas bermasyarakat.
Relasi persahabatan dalam kepemimpinan kristiani: Sebuah tawaran spiritualitas persahabatan dalam kepemimpinan kristiani melalui pembacaan Yohanes 15:15 Yudha, Andres Barata; Siahaan, Harls Evan R.; Sarlin, Serlina; Banne, Merien Sriyuni
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1213

Abstract

This article examines the paradigm of friendship relations in Christian leadership based on a reading of John 15:15. Conventional Christian leadership is often identified with the servant leadership model inherited from Robert Greenleaf. Still, this hierarchical approach may limit transformative potential within Christian communities. Through interpretative and theological analysis of the concept of friendship expressed by Jesus in John 15:15, this research aims to develop a spirituality of friendship as an alternative leadership model. This study employs a qualitative approach with textual analysis and hermeneutical methods to explore the theological meaning of friendship in leadership. The findings indicate that friendship-based leadership models offer more egalitarian, participatory, and transformative relationships than top-down or servant leadership models, which still contain hierarchical elements. The spirituality of friendship in Christian leadership offers equality, openness, and collaboration that can empower the entire church community to grow together in love and service.   Abstrak Artikel ini mengkaji paradigma relasi persahabatan dalam kepemimpinan kristiani berdasarkan pembacaan Yohanes 15:15. Kepemimpinan kristiani konvensional sering diidentikkan dengan model servant leadership yang diwariskan oleh Robert Greenleaf, namun pendekatan yang terlalu hierarkis ini dapat membatasi potensi transformatif dalam komunitas Kristiani. Melalui analisis interpretatif dan teologis terhadap konsep persahabatan yang diungkapkan Yesus dalam Yohanes 15:15, penelitian ini bertujuan mengembangkan spiritualitas persahabatan sebagai model kepemimpinan alternatif. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan hermeneutika untuk mengeksplorasi makna teologis persahabatan dalam kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kepemimpinan berbasis persahabatan menawarkan relasi yang lebih egaliter, partisipatif, dan transformatif dibandingkan dengan model kepemimpinan top-down atau servant leadership yang masih mengandung unsur hierarkis. Spiritualitas persahabatan dalam kepemimpinan kristiani menawarkan kesetaraan, keterbukaan, dan kolaborasi yang dapat memberdayakan seluruh komunitas gereja untuk bertumbuh bersama dalam kasih dan pelayanan.
Persekutuan dan relasi kuasa: Sebuah komparasi konsep tata gereja 1987 dan 2007, Gereja Masehi Injili di Halmahera Botara, Sirayandris
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1214

Abstract

The purpose of this study is to demonstrate the differences and similarities in the concepts of fellowship (koinonia) and power relations in the self-organization of the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH), as articulated in the GMIH Church Orders of 1987 and 2007, both of which explicitly identify themselves as churches adhering to presbyterial-synodal principles. Through qualitative research methods employing library research on the GMIH Church Order documents of 1987 and 2007, it was found that there are fundamental differences between the concepts of fellowship and power relations in these two documents. In the 1987 Church Order, an exclusive nuance of the fellowship concept was identified, as it was interpreted solely as inter-congregational relations within the GMIH Synod; power relations were more structurally hierarchical. In the 2007 Church Order, the interpretation of the fellowship concept (koinonia) is more inclusive and multicultural, as it considers post-conflict reconciliatory social relations in Halmahera and its surrounding islands; power relations emphasize non-hierarchical structures and prioritize equality of power between congregations and between Congregations and the Synod. Nevertheless, both GMIH Church Orders maintain a Christocentric character.   Abstrak Tujuan kajian ini untuk memperlihatkan perbedaan dan persamaan konsep persekutuan (koinonia) dan relasi-kuasa dalam pengorganisasian diri Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), sebagaimana tertuang dalam Tata Gereja GMIH 1987 dan 2007, serta mengaku diri secara eksplisit dalam kedua Tata Gereja sebagai Gereja yang berprinsip gereja presbiterial sinodal. Melalui metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan terhadap dokumen Tata Gereja GMIH 1987 dan 2007 ditemukan bahwa ada perbedaan prinsip antara konsep persekutuan dan relasi kuasa di antara keduanya. Dalam Tata Gereja 1987, ditemukan nuansa ekslusif dari konsep persekutuan karena hanya ditafsirkan sebagai relasi antarjemaat dalam Sinode GMIH; relasi kuasa lebih bersifat struktural-hierarkis. Dalam Tata Gereja 2007 pemaknaan konsep persekutuan (koinonia) lebih inklusif dan multikultural karena mempertimbangkan relasi sosial rekonsiliatif pascakonflik di Halamhera dan pulau-pulau sekitarnya; relasi kuasa lebih menekankan non-hierarkhis dan mengedepankan kesetaraan kuasa antarjemaat dan antara Jemaat dan Sinode. Sekalilipun demikian,  kedua Tata Gereja GMIH tersebut memiliki sifat kristosentris.