cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Musik gereja bagi pelestarian alam: Ekomusikologi dan ekoteologi dalam dialog Tompo, Hengki B.; Kristanto, David
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1116

Abstract

The urgency of environmental issues has become a widespread discussion among academics and practitioners, both nationally and internationally. Academically, various perspectives have been offered. In music studies, ecomusicology is an extra-musical breakthrough that can answer the challenges of environmental issues. Ecomusicologists strive to compose musical works that express love for nature and foster a sense of friendship towards nature and non-human creatures. In Christian theology, theological reflection on ecology is called eco-theology and has undergone many developments in the last few decades. This article attempts to explain the potential of ecomusicology for church music by locating it in dialogue with eco-theology. This paper argues that eco-theology can enrich ecomusicology by reflecting on the relationship between God, humans, and nature. It also encourages church musicians to create eco-musicological compositions about nature and make them an integral part of their composition.   Abstrak Urgensi isu lingkungan sudah menjadi perbincangan ramai baik di kalangan akademisi maupun praktisi dalam skala nasional maupun internasional. Secara akademis, berbagai sudut pandang telah ditawarkan. Dalam konteks studi musik, ekomusikologi merupakan sebuah terobosan ekstra-musikal dalam rangka menjawab tantangan isu pencemaran lingkungan. Para ekomusikolog berupaya untuk menggubah karya-karya musikal yang menyuarakan kecintaan kepada alam dan menumbuhkan rasa persahabatan dalam hati manusia terhadap alam dan makhluk non-manusia di dalamnya. Dalam dunia teologi Kristen, refleksi teologis terhadap alam disebut sebagai ekoteologi dan telah mengalami banyak perkembangan beberapa dekade terakhir ini. Artikel ini berupaya untuk memaparkan potensi ekomusikologi bagi musik gereja dengan mempercakapkannya bersama ekoteologi. Tulisan ini berargumen bahwa ekoteologi da-pat memperkaya ekomusikologi dalam merefleksikan relasi Allah, manusia, dan alam serta mendorong para musikus gereja untuk menciptakan komposisi ekomusikologi yang tidak hanya bermusik tentang alam namun juga bermusik bersama alam.
Siri na pacce: From the ethnic culture to the theological social solidarity Wiryadinata, Halim
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1150

Abstract

This study shows how the ethnic culture of Bugis-Makassar, Siri Na Pacce, becomes the value of theological solidarity. The philosophical Siri Na Pacce, which upholds being part of the suffering’s others, becomes the foundation of theological solidarity. The migration of philosophical of Siri Na Pacce becomes religious values of social solidarity. The collision of religion and culture triggers this migration to form theological solidarity. The sociology of religion method expounds the philosophical value through analysis and evaluation of the local culture of Siri Na Pacce. This method accesses books, articles, academic writing, and related sources. The result of this research is that the migration of Siri Na Pacce values has rooted in Indonesian people in building a theological foundation of solidarity among the sufferings. In conclusion, the metamorphosis of Siri Na Pacce to Theological Social Solidarity shares values for religion and culture in Indonesia and extends its legacy to further generations.
Hermeneutika kontekstual: Sebuah dialektika sudut pandang penafsir dan teks dalam memahami kitab suci Pamantung, Salmon
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1226

Abstract

Many Christians say that to derive meaning from the biblical text, we must let the text “speak” to us. The underlying assumption is that an interpreter must derive the “original” meaning of the text; he must not insert his thoughts (prejudices and context) into the text. Development studies and hermeneutics have produced many methods and approaches to address questions related to interpretation. I argue that there is always a dialectic between the interpreter and the text being read in the hermeneutical process. Based on the thoughts of Hans-Georg Gadamer, I propose a contextual hermeneutic model, which emphasizes the role of the interpreter's point of view in finding the meaning of the text. Using the descriptive-analytical method on various literatures, it is found that hermeneutics is always an interaction between the context of the biblical text and the current context, so the social, political, and cultural “lenses” into the filter cannot be avoided and ignored. We must realize that the “lens” used is only one of many, and contextual hermeneutics starts from that awareness. Therefore, contextual hermeneutics means an attempt to understand the text that considers the interpreter's point of view.   Abstrak Banyak orang Kristen yang mengatakan bahwa untuk mendapat-kan makna dari teks Alkitab, kita harus membiarkan teks yang "berbicara" kepada kita. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa seorang penafsir harus memperoleh makna "asli" dari teks; ia tidak boleh memasukkan pi-kirannya (prasangka dan konteks) ke dalam teks. Studi pembangunan dan hermeneutika telah menghasilkan banyak metode dan pendekatan untuk mengatasi pertanyaan terkait interpretasi. Argumentasi saya, bahwa pada proses hermeneutika, di sana selalu ada dialektika antara penafsir dengan teks yang dibaca. Berdasarkan pemikiran Hans-Georg Gadamer, saya mengusulkan model hermeneutika kontekstual, yang menekankan peran sudut pandang penafsir dalam menemukan makna teks. Dengan menggu-nakan metode analisis-deskriptif pada berbagai literatur, didapati bahwa hermeneutika selalu merupakan interaksi antara konteks pada teks Alki-tab dengan konteks saat ini, sehingga "lensa" sosial, politik, dan budaya ke dalam filter tidak dapat dihindari dan diabaikan. Kita harus menyadari bahwa lensa yang digunakan hanyalah salah satu dari sekian banyak lensa, dan hermeneutika kontekstual dimulai dari kesadaran tersebut. Oleh karena itu, hermeneutika kontekstual berarti upaya untuk mema-hami teks yang memperhitungkan sudut pandang penafsir.
Kekristenan dan nasionalisme: Trayektori historis-biblis penyaliban Yesus dan kemerdekaan Indonesia Parihala, Yohanes
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1252

Abstract

This article aims to emphasize that being Christian and being Indonesian are a manifestation of the Christian faith. The methodological approach used to explain it is trajectory history. The historical traces of Indonesia's struggle for independence, especially its nationalism movement, can be compared in a historical analysis with the experience of the colonialization of the Jews, the ministry of Jesus, and His crucifixion. The crucifixion' Jesus, which had occurred at the time of the colonialization of Jews, is the center of Christian preaching. Both the Jewish community and the Indonesian people had the same experience of colonialism in different eras and different powers. Finally, I urge that if the crucifixion of Jesus is interpreted as a history of redemption and the revelation of God's will, Indonesian Christians as disciples of Jesus are called to take part in developing the Indonesian nation. Indonesian Christians are an integral part of the nation.
Teopoetik dalam trauma dan kintsugi jiwa: Menemukan keindahan ilahi dalam retakan kehidupan Edu, Ferdinand
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.994

Abstract

Theopoetic kintsugi offers a new perspective in pastoral counseling by highlighting the beauty that emerges from the cracks and wounds of life. This approach shifts the paradigm of healing from the eradication of suffering to the acceptance and transformation of wounds as part of the spiritual journey. Through the metaphor of kintsugi, the art of repairing broken pottery with gold, congregants are invited to embrace traumatic experiences as spaces for divine encounters. In the pastoral context, restored wounds are not merely symbols of weakness but tangible evidence of God's grace that heals and renews life. This study explores the integration of theopoetics in addressing trauma, emphasizing the importance of narrative, art, and community in the healing process. The church is called to be a safe space that provides comfort and accompanies congregants as they reconstruct their lives with renewed hope. This approach not only enriches pastoral counseling practices but also deepens theological understanding of suffering and salvation. Theopoetic kintsugi offers a spiritual model that asserts the presence of the Divine in every wound, paving the way for reconciliation, spiritual growth, and a meaningful testimony of life.   Abstrak Kintsugi teopoetik menawarkan perspektif baru dalam konseling pastoral dengan menyoroti keindahan yang muncul dari retakan dan luka kehidupan. Pendekatan ini menggeser paradigma kesembuhan dari penghapusan penderitaan menuju penerimaan dan transformasi luka sebagai bagian dari perjalanan spiritual. Melalui metafora kintsugi, seni memperbaiki keramik yang pecah dengan emas, jemaat diajak untuk merangkul pengalaman traumatik sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Dalam konteks pastoral, luka yang dipulihkan tidak hanya menjadi tanda kelemahan, tetapi juga bukti nyata dari kasih karunia Allah yang memulihkan dan memperbarui kehidupan. Penelitian ini mengeksplorasi integrasi teopoetik dalam trauma, menekankan pentingnya narasi, seni, dan komunitas dalam proses pemulihan. Gereja dipanggil untuk menjadi ruang aman yang memberikan penghiburan dan mendampingi jemaat dalam menata kembali kehidupan mereka dengan harapan baru. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya praktik konseling pastoral, tetapi juga memperdalam pemahaman teologis tentang penderitaan dan keselamatan. Kintsugi teopoetik menawarkan model spiritual yang menegaskan bahwa dalam setiap luka terdapat jejak kehadiran Ilahi, membuka jalan bagi rekonsiliasi, pertumbuhan rohani, dan kesaksian hidup yang penuh makna.
Meniti jalur keadilan ekologis: Kajian etika lingkungan hidup tentang merawat alam berdasarkan ritual pangelekon Purba, Fredi Ardo
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1077

Abstract

The ecological crisis is one of Indonesia's concrete problems, specifically illegal logging that has an impact on the Lake Toba area, starting from the loss of forest areas that cause natural disasters, such as landslides and flash floods. This provides a real picture of the consequences of activities and actions carried out by humans on the environment. Departing from this problem, the author sees that the study of environmental ethics in conjunction with the concept of Pangelekon in Toba Batak culture seeks to offer a perspective to overcome the increasingly alarming ecological crisis. This research was conducted using the literature study research method in data collection and analysis. The results show that the encounter between environmental ethics rooted in Pangelekon values creates a conceptual foundation that excites humans as stewards to care for nature as creation. Respect for nature in the Pangelekon concept encourages humans not to be reckless and hierarchical in viewing nature as a fellow creation. Thus, the encounter between environmental ethics and Pangelekon provides a comprehensive answer, as a concept of life lived to achieve harmony between humans and nature.   Abstrak  Krisis ekologis merupakan salah satu persoalan konkret di Indo-nesia, secara khusus penebangan hutan secara liar yang memberikan dam-pak bagi kawasan Danau Toba, mulai dari, hilangnya kawasan hutan yang menyebabkan bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir bandang. Hal tersebut memberikan gambaran nyata akan konsekuensi atas aktivitas dan perbuatan yang dilakukan manusia terhadap lingkungan. Berangkat dari persoalan ini, saya melihat bahwa kajian etika lingkungan hidup yang diperjumpakan dengan konsep pangelekon dalam budaya Batak Toba me-nawarkan perspektif untuk mengatasi krisis ekologi yang semakin mem-prihatinkan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pene-litian studi pustaka dalam pengumpulan dan analisis data. Hasil peneli-tian menunjukkan bahwa perjumpaan antara etika lingkungan hidup yang berakar pada nilai-nilai pangelekon menciptakan landasan konseptual yang menggairahkan manusia sebagai penatalayan untuk merawat alam seba-gai ciptaan. Penghargaan terhadap alam dalam konsep pangelekon men-dorong manusia untuk tidak sembrono dan hierarkis dalam memandang alam sebagai sesama ciptaan. Dengan demikian, perjumpaan antara etika lingkungan hidup dan pangelekon memberikan jawaban komprehensif, sebagai sebuah konsep kehidupan yang dijalani untuk mencapai kehar-monisan antara manusia dan alam.
Semua berharga di mata Tuhan: Konstruksi nilai spiritual pelayanan gerejawi bagi anak berkebutuhan khusus melalui pembacaan Matius 10:30-31 Natalia, Desi; Merilyn; Setinawati
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1128

Abstract

Children with special needs have characteristics that are not the same as most other children, thus demanding special treatment in carrying out the responsibilities of church ministers. This difference shows that every child is God's special creation, and the church's responsibility to serve them also varies. Some churches accept and are open to the privileges of these children, especially for the development of spirituality and religious religiosity. Still, some churches make them objects for the people around them. This study aims to offer the value of ecclesial service to children with special needs through a reading of Matthew 10:30-31. With a qualitative research approach and using the method of interpretive analysis of scriptural texts, I obtained a foundational value of ecclesial ministry, that is, "all are valuable in God's eye". Finally, based on the conclusions of this article, I recommend the cultivation of spiritual values in serving children with special needs through the internalization approach of "all are valuable in God's eye".   Abstrak Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang tidak sama dengan kebanyakan anak lainnya, sehingga menuntut perlakuan yang khusus termasuk dalam melaksanakan tanggung jawab pelayan gereja. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa setiap anak merpakan ciptaan Tuhan yang istimewa, dan tanggung jawab gereja untuk melakukan pelayanan terhadap mereka juga beragam. Ada gereja yang menerima dan terbuka terhadap hak istimewa anak-anak ini terutama untuk pengembangan spiritualitas dan religiositas keagamaan, tetapi ada juga gereja yang menjadikan mereka objek bagi orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan sebuah nilai pelayanan gerejawi terhadap anak berkebutuhan khusus melalui pembacaan Matius 10:30-31. Dengan pendekatan riset kualitatif dan menggunakan metode analisis interpretatif teks kitab suci, dihasilkan sebuah fondasi nilai pelayanan gerejawi “semua berharga di mata Tuhan”. Akhirnya, berbasis pada simpulan artikel ini, saya merekomendasikan penanaman nilai spiritual dalam melayani anak berkebutuhan khusus melalui pendekatan internalisasi "semua berharaga di mata Tuhan".
Konstruksi teologis-pedagogis moderasi beragama: Upaya pendidikan tinggi teologi mendorong moderasi di era digital Undas, Happy Seviana; Sasirais, Idrus; Sudianto
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1154

Abstract

This research raises the issue of the challenges of implementing religious moderation in theological higher education in the digital era, with the locus of the Theological College of the Kalimantan Evangelical Church (STT GKE) in Banjarmasin. The research aims to explore how STT GKE implements and promotes religious moderation through curriculum and student activities, taking into account the challenges and opportunities of the digital era. The method used was a qualitative approach with a case study, using in-depth interviews and document analysis. The results showed that STT GKE has integrated the values of religious moderation into the curriculum, student activities, and interfaith collaboration, although it still faces challenges in implementation in the digital era. Finally, this study concludes that theological higher education, such as STT GKE, can play an important role in shaping a generation of religious leaders who are ready to promote moderation in an increasingly digitally connected world. We recommend increased investment in digital capacity building and closer collaboration between theological higher education institutions and interfaith communities to strengthen networks of tolerance and mutual understanding in the digital age.   Abstrak Penelitian ini mengangkat masalah tantangan implementasi moderasi beragama di pendidikan tinggi teologi dalam era digital, dengan lokus Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE) di Banjarmasin. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi bagaimana STT GKE mengimplementasikan dan mempromosikan moderasi beragama melalui kurikulum dan kegiatan mahasiswa, dengan memperhatikan tantangan dan peluang era digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, menggunakan wawancara mendalam dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa STT GKE telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam kurikulum, kegiatan mahasiswa, dan kolaborasi lintas agama, meskipun masih menghadapi tantangan dalam implementasi di era digital. Akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan tinggi teologi, seperti STT GKE, dapat memainkan peran penting dalam membentuk generasi pemimpin agama yang siap mempromosikan moderasi dalam dunia yang semakin terkoneksi secara digital. Kami merekomendasikan peningkatan investasi dalam pengembangan kapasitas digital dan kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan tinggi teologi dengan komunitas lintas agama untuk memperkuat jaringan toleransi dan pemahaman bersama di era digital.
Etika dan dilema spiritualitas di era artificial inteligent: Karya Roh Kudus bagi pendidikan kristiani dalam menghadapi tantangan teknologi modern Boiliu, Noh Ibrahim
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1158

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) technology provides great potential for improving efficiency in areas such as healthcare, finance, and education. However, these advancements also pose ethical and spiritual challenges, especially in the context of the Christian faith. The Holy Spirit, One of the Trinity Persons, is the source of moral guidance and transformation, while AI operates based on logic and algorithms without spiritual elements. This research aims to bridge the gap in understanding by exploring the integration of spiritual values in AI development. As such, this paper emphasizes the importance of respecting spiritual values while advancing efficiency and productivity, guaranteeing that AI can contribute to human well-being in a just and harmonious manner according to the guidance of the Holy Spirit.   Abstrak Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) memberikan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dalam berbagai bidang, seperti kesehatan, keuangan, dan pendidikan. Namun, kemajuan ini juga menimbulkan tantangan etis dan spiritual, terutama dalam konteks iman Kristen. Roh Kudus, salah satu Pribadi dalam Tritunggal Ilahi, merupakan sumber bimbingan dan transformasi moral, sementara AI beroperasi berdasarkan logika dan algoritma tanpa unsur spiritual. Penelitian ini bertujuan menjembatani kesenjangan pemahaman dengan mengeksplorasi integrasi nilai-nilai spiritual dalam pengembangan AI. Dengan demikian, artikel ini menekankan pentingnya menghormati nilai-nilai spiritualitas sambil memajukan efisiensi dan produktivitas, menjamin bahwa AI dapat berkontribusi pada kesejahteraan manusia secara adil dan harmonis sesuai dengan bimbingan Roh Kudus.
Sengsara Yesus: Analisis melalui lensa Injil dan Thucydidean tentang konflik dan pengorbanan Warella, Sipora Blandina
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.572

Abstract

The Passion of Jesus reveals how power uses sacrifice to maintain stability. The suffering of Jesus is not only a theological aspect but also a consequence of the calculation of power that oppresses those who are considered a threat. Similar patterns occur in various incidents of political violence in Indonesia, such as the 1965 Tragedy and sectarian conflicts in Ambon and Poso, where certain groups are sacrificed for political interests. The church, which should be a prophetic voice, in some cases, is in league with the oppressive system. This study aims to analyze the passion of Jesus through the perspective of the Gospel and the thoughts of Thucydides to understand how sacrifice is politicized by power. This study employs critical discourse analysis and historical hermeneutics to examine the relationship between power, suffering, and political strategies in shaping the narrative of sacrifice. The study results indicate that Jesus' passion symbolizes the atonement of sin and critiques the oppressive power structure. The church is called to refuse to be a tool of power and is committed to fighting for justice for those who are oppressed.   Abstrak Sengsara Yesus mengungkap bagaimana kekuasaan menggunakan pengorbanan sebagai alat untuk mempertahankan stabilitas. Penderitaan Yesus bukan hanya aspek teologis, tetapi juga konsekuensi dari kalkulasi kekuasaan yang menindas mereka yang dianggap sebagai ancaman. Pola serupa terjadi dalam berbagai peristiwa kekerasan politik di Indonesia, seperti Tragedi 1965 dan konflik sektarian di Ambon dan Poso, di mana kelompok tertentu dikorbankan demi kepentingan politik. Gereja, yang seharusnya menjadi suara kenabian, dalam beberapa kasus justru bersekutu dengan sistem yang menindas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sengsara Yesus melalui perspektif Injil dan pemikiran Thucydides guna memahami bagaimana pengorbanan dipolitisasi oleh kekuasaan. Menggunakan metode analisis wacana kritis dan hermeneutika historis, penelitian ini mengkaji keterkaitan antara kekuasaan, penderitaan, dan strategi politik dalam membentuk narasi pengorbanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengsara Yesus tidak hanya berbicara tentang penebusan dosa, tetapi juga merupakan kritik terhadap struktur kekuasaan yang menindas. Gereja dipanggil untuk menolak menjadi alat kekuasaan dan berkomitmen memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas.