cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
Oikonomia theou dan oikonomia institusional: Participatio in mysterion sebagai paradigma manajemen pendidikan Kristiani Indonesia Pontus Sitorus
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1164

Abstract

This article develops a theological framework for understanding Christian education management through the concept of oikonomia in Pauline and patristic theology. By analyzing the intrinsic relationship between oikonomia theou (divine management) and mysterion (the revealed plan of salvation), this article argues that the management of Christian educational institutions must be understood as participatio, the ontological and practical participation in God's work of salvation. Through exegetical analysis of key texts from Ephesians and Colossians, and by appropriating the concept of participatio from the Thomistic tradition and contemporary sacramental theology, this article offers a theological reconstitution of managerial practices that transcend the technocratic-instrumental approach. The implications of this paradigm are elaborated in the specific context of Indonesian Christian education, considering the challenges of contextualization and the need for theological-practical integration.   Abstrak Artikel ini mengembangkan suatu kerangka teologis, untuk memahami manajemen pendidikan Kristiani melalui konsep oikonomia dalam teologi Paulus dan patristik. Dengan menganalisis hubungan intrinsik antara oikonomia theou (pengelolaan ilahi) dan mysterion (rencana keselamatan yang terungkap), artikel ini berargumen bahwa manajemen institusi pendidikan Kristiani harus dipahami sebagai participation, partisipasi ontologis dan praktis dalam karya penyelamatan Allah. Melalui analisis eksegesis terhadap teks-teks kunci Efesus dan Kolose, serta apropriasi konsep participatio dari tradisi Thomistik dan teologi sakramental kontemporer, artikel ini menawarkan rekonstitusi teologis atas praktik manajerial yang melampaui pendekatan teknokratis-instrumental. Implikasi paradigma ini dijabarkan dalam konteks spesifik pendidikan Kristiani Indonesia dengan mempertimbangkan tantangan kontekstualisasi dan kebutuhan akan integrasi teologis-praktis.
Teologi kerja sebagai perspektif analitis terhadap hubungan stress kerja, kesejahteraan sekolah, dan performa kerja guru Kristen pendidikan anak usia dini: Studi kasus di Tapanuli Utara May Rauli Simamora; Winarti Agustina; Marina Letara Nababan; Rosalina Apriliani Lumbantobing; Samuel Perdana Lumban Gaol
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/t0ttjz87

Abstract

Christian early childhood teachers hold a dual role, providing both academic and spiritual education in accordance with Christian teachings. This study examines the correlation between school well-being and work stress and their effects on the work performance of Christian PAUD/TK teachers in North Tapanuli, North Sumatra, using a quantitative correlational approach involving 106 teachers. The analysis reveals that school well-being, even with stress, is significantly correlated with teachers' work performance. These findings are then interpreted through the lens of a theology of work, which positions work as a divine calling. Improving work performance can be achieved by strengthening the dimensions of loving, having, being, and health within school well-being; managing stress through rest, prayer, reflection, and counseling support; and cultivating perseverance, resilience in the face of suffering, and relationships characterized by compassion and honesty in the workplace. Practical implications include policy recommendations to enhance school well-being, effective stress management strategies, and the strengthening of school principals' roles as servants of teacher welfare.   Abstrak Guru Kristen anak usia dini memiliki peran ganda dalam memberikan pendidikan akademik sekaligus pendidikan moral dan spiritual sesuai ajaran Kristen. Penelitian ini mengkaji korelasi antara kesejahteraan sekolah dan stres kerja terhadap performa kerja guru Kristen PAUD/TK di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 106 guru. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesejahteraan sekolah dan stres kerja berkorelasi signifikan dengan performa kerja guru. Temuan ini kemudian dikaji melalui perspektif teologi kerja yang menempatkan kerja sebagai panggilan ilahi. Peningkatan performa kerja dapat diwujudkan melalui penguatan dimensi loving, having, being, dan health dalam kesejahteraan sekolah; pengelolaan stres berbasis istirahat, doa, refleksi, dan bantuan konselor; serta pembentukan karakter ketekunan, ketahanan dalam penderitaan, dan relasi yang penuh kasih sayang dan kejujuran di tempat kerja. Implikasi praktis mencakup rekomendasi kebijakan peningkatan kesejahteraan sekolah, strategi manajemen stres, dan penguatan peran kepala sekolah sebagai pelayan bagi kesejahteraan guru.
Pendampingan pastoral dan kesehatan mental: Sebuah ikhtiar integratif dalam perspektif Alfred Adler Alvonce Poluan; Fibry Jati Nugroho
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1212

Abstract

Amid the global mental health crisis, conventional psychotherapy often fails to address the spiritual-existential dimensions of humanity. This study constructs an integrative Pastoral-Adlerian model that bridges Alfred Adler's individual psychology and pastoral theology to provide holistic mental health services. Through a critical literature review, the research synthesizes Adler's concepts—inferiority complex, teleology, and social interest—with Christian theological principles of grace, imago Dei, and vocation. Analysis reveals substantial compatibility: feelings of inferiority are reframed as spaces in which grace operates, while social interest manifests as the restoration of God's image. The model formulates four cyclical transformative stages: building empathic relationships, exploring life narratives, reorienting meaning and purpose, and community reintegration. This Pastoral-Adlerian integration signifies an ethical approach to comprehensively heal injured humanity, converting counseling environments into sanctuaries where faith and psychology collaborate to restore human dignity.   Abstrak Di tengah krisis kesehatan mental global, psikoterapi konvensional sering gagal menyentuh dimensi spiritual-eksistensial manusia. Penelitian ini mengonstruksi model integratif Pastoral-Adlerian yang menjembatani psikologi individual Alfred Adler dengan teologi pastoral untuk menghadirkan layanan kesehatan jiwa holistik. Melalui studi pustaka kritis, penelitian mensintesiskan konsep Adler—inferiority complex, teleologi, dan social interest—dengan prinsip teologi Kristen tentang anugerah, imago Dei, dan panggilan hidup. Hasil analisis menunjukkan kompatibilitas substantif: perasaan inferioritas dimaknai sebagai ruang bagi kasih karunia, sementara kepedulian sosial sebagai pemulihan gambar Allah. Model ini diformulasikan dalam empat tahapan siklik: membangun relasi empatik, eksplorasi narasi hidup, reorientasi makna tujuan, dan reintegrasi komunitas. Integrasi ini merupakan respons etis untuk merawat kemanusiaan yang terluka secara utuh.
Hikmat yang mendidik: Dimensi trinitaris hokmah dan pedagogi formasi karakter dalam kitab Amsal Marsi Bombongan Rantesalu; Jeni Isak Lele; Yitram Man Pay
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1289

Abstract

This article explores the theological dimension of Christian edu-cation through an analysis of the personification of Ḥokmah (Wisdom) in the Book of Proverbs, particularly Proverbs 1-9. Employing a hermeneutical-theological approach, this study investigates how the Israelite sapien-tial tradition understood Wisdom not merely as a divine attribute, but as a persona actively involved in creation and human formation. An intertex-tual reading of Proverbs 8:22-31 alongside Colossians 1:15-17, John 1:1-3, and 1 Corinthians 1:24 demonstrates that the Old Testament personifi-cation of Wisdom exhibits christological continuity in the New Testament, in which Christ is identified as the Wisdom of God. Furthermore, this article argues that a Trinitarian understanding of Wisdom—as the activity of the Father through the Son in the Spirit—provides an ontological and teleological foundation for children's character formation. The concepts of mûsār (discipline) and yir'at YHWH (fear of the LORD) in Proverbs are understood not merely as pedagogical techniques, but as participation in the Trinitarian relation in which divine Wisdom forms humanity toward ḥayyîm (life). The practical implications of this study include a reorienta-tion of Christian educational philosophy from a knowledge-transmission paradigm to a relational-formation paradigm rooted in communion with the Triune God.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi dimensi teologis pendidikan Kristiani melalui analisis terhadap personifikasi hokmah (Hikmat) dalam Kitab Amsal, khususnya Amsal 1-9. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutis-teologis, penelitian ini menyelidiki bagaimana tradisi sapiensial Israel memahami Hikmat bukan sekadar sebagai atribut ilahi, melainkan sebagai persona yang aktif dalam penciptaan dan formasi manusia. Pembacaan intertekstual terhadap Amsal 8:22-31 bersama dengan Kolose 1:15-17; Yohanes 1:1-3; dan 1 Korintus 1:24, menunjukkan bahwa personifikasi Hikmat dalam Perjanjian Lama memiliki kontinuitas kristologis dalam Perjanjian Baru, di mana Kristus diidentifikasi sebagai Hikmat Allah. Lebih jauh, artikel ini berargumen bahwa pemahaman Trinitaris tentang Hikmat—sebagai aktivitas Bapa melalui Anak dalam Roh—menyediakan fondasi ontologis dan teleologis bagi pendidikan karakter anak. Konsep mûsār (disiplin) dan yir'at YHWH (takut akan TUHAN) dalam Amsal tidak dipahami sebagai teknik pedagogis semata, melainkan sebagai partisipasi dalam relasi Trinitaris di mana Hikmat Ilahi membentuk manusia menuju ḥayyîm (kehidupan). Implikasi praktis dari kajian ini mencakup reorientasi filosofi pendidikan Kristiani dari paradigma transmisi pengetahuan ke paradigma formasi relasional yang berakar pada communion dengan Allah Tritunggal.
Habitus pneumatis dan kompetensi emosional: Membaca ulang Galatia 5:22-24 bagi pendidikan karakter Kristiani Herman Poroe
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/v11.i3.1330

Abstract

This article examines the concept of the fruit of the Spirit in Galatians 5:22-24 as pneumatic habitus that shapes students' emotional competence in Christian character education. Through a qualitative approach using conceptual-hermeneutical analysis, this study explores how nine manifestations of karpos tou pneumatos—love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control—can be understood as pneumatic dispositions that transform human affective structures. The analysis reveals that Christian character formation is not superficial behavioral modification but fundamental habitus restructuring through the Holy Spirit's work. This article offers a pedagogical model based on pneumatic habitus that integrates theological, psychological, and pedagogical dimensions in holistic and transformative emotional competence formation.   Abstrak Artikel ini mengkaji konsep buah Roh dalam Galatia 5:22-24 sebagai habitus pneumatis yang membentuk kompetensi emosional peserta didik dalam konteks pendidikan karakter Kristiani. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konseptual-hermeneutis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana sembilan manifestasi karpos tou pneumatos—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri—dapat dipahami sebagai disposisi-disposisi pneumatis yang mentransformasi struktur afektif manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa formasi karakter Kristiani bukanlah modifikasi perilaku superfisial, melainkan restrukturisasi habitus secara mendasar melalui karya Roh Kudus. Artikel ini menawarkan model pedagogis berbasis habitus pneumatis yang mengintegrasikan dimensi teologis, psikologis, dan pedagogis dalam pembentukan kompetensi emosional yang holistik dan transformatif.
Ekoteologi kontekstual: Sintesis tondi dalam Batak Toba dengan tubuh Allah menurut Sallie McFague berdasarkan pemikiran Stephen B. Bevans Jhon Ferdinand Sihombing
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1331

Abstract

The ecological crisis demands a theological response rooted in local cultural contexts. This study constructs a contextual ecotheology of Batak Toba by dialoguing the concept of tondi in Batak Toba tradition with Sallie McFague's metaphor of the Body of God, employing Stephen B. Bevans' synthesis model. Using a qualitative, literature-study approach, this research examines tondi as a life-giving element that unites humans with all creation within the framework of Debata Mulajadi Nabolon (DMN) and McFin, which understands the universe as God's body, where God is immanently present through the Spirit and Christ. The dialogue reveals four conclusions: first, the Batak Toba community possesses a high ecological consciousness through tondi; second, ecological awareness emphasizes hope for the sustainability of life; third, Batak Toba culture shows an imbalanced attention toward tondi, prioritizing human tondi over nature's; fourth, McFague emphasizes an imaginative relation while tondi emphasizes an ontological one. This study calls for a paradigm shift from anthropocentrism to cosmocentrism.   Abstrak Krisis ekologi menuntut respons teologis yang berakar pada konteks budaya lokal. Penelitian ini mengonstruksi ekoteologi kontekstual Batak Toba melalui dialog konsep tondi dalam tradisi Batak Toba dengan metafora tubuh Allah menurut Sallie McFague, menggunakan model sin-tesis Stephen B. Bevans. Dengan metode kualitatif melalui studi kepustakaan, penelitian ini mengkaji tondi sebagai unsur penghidup yang menyatukan manusia dengan seluruh ciptaan di bawah Debata Mulajadi Nabolon (DMN), serta pemahaman McFague bahwa alam semesta adalah tubuh Allah di mana Allah hadir secara imanen melalui Roh dan Kristus. Dialog ini menghasilkan empat kesimpulan: Pertama, masyarakat Batak Toba memiliki kesadaran ekologis yang tinggi melalui tondi; kedua, kesadaran ekologis menekankan pengharapan akan keberlanjutan kehidupan; ketiga, budaya Batak Toba menunjukkan perhatian yang tidak seimbang terhadap tondi, dengan memprioritaskan tondi manusia di atas tondi alam; keempat, McFague menekankan relasi imajinatif, sedangkan tondi menekankan sifat ontologis. Penelitian ini menyerukan pergeseran paradigma dari antroposentrisme menuju kosmosentrisme.
Teologi ratapan sebagai praktik pastoral-komunal: Studi kitab Ratapan untuk pendampingan korban bencana Ayub Pangga Lewu
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1359

Abstract

This article explores the theology of lament in the Book of Lamentations as a liturgical and pastoral resource for accompanying disaster victims in Indonesia. Through a literary-theological analysis of the structure and theology of the Book of Lamentations, this study demonstrates that the lament tradition provides a space for honest expression of suffering before God without reducing the complexity of traumatic experiences. By integrating perspectives from trauma theology and contextual pastoral studies, this article offers a theological-practical framework for building communities of accompaniment that enable disaster victims to experience holistic recovery. The research findings indicate that lament is not a sign of unbelief but rather an authentic form of faith that enables transformation from suffering toward hope.   Abstrak   Artikel ini mengeksplorasi teologi ratapan (lament) dalam Kitab Ratapan sebagai sumber daya liturgis dan pastoral untuk pendampingan korban bencana alam di Indonesia. Melalui analisis literer-teologis terhadap struktur dan teologi Kitab Ratapan, penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ratapan menyediakan ruang ekspresi penderitaan yang jujur di hadapan Allah tanpa mereduksi kompleksitas pengalaman traumatis. Dengan mengintegrasikan perspektif trauma theology dan studi pastoral kontekstual, artikel ini menawarkan kerangka teologis-praktis untuk membangun komunitas pendampingan yang memampukan korban bencana mengalami pemulihan holistik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ratapan bukan tanda ketidakpercayaan melainkan bentuk iman yang autentik, yang memungkinkan transformasi dari penderitaan menuju harapan.
Teori modal budaya Pierre Bourdieu sebagai penguatan budaya pada anak dalam pendidikan keluarga Kristen Simon Aponno
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1371

Abstract

Family education plays a vital role in shaping children's charac-ter and identity, including by strengthening a culture aligned with Christian values. Pierre Bourdieu's theory of cultural capital offers a relevant perspective on how cultural heritage is transmitted within Christian families, shaping children's identities and moral values. This research aims to analyze the role of cultural capital in Christian family education as a means of strengthening children's culture. The method used is a literature study. The results revealed that cultural capital, comprising habitus, symbolic capital, and social practices, shapes the mindsets, habits, and values that children adopt in daily life. In the context of Christian family education, cultural capital can be realized through the habituation to Christian values, the use of faith language in family communication, and children's involvement in Christian religious and cultural practices. This study recommends that future research examine education within Christian families more comprehensively, drawing on Pierre Bourdieu's theory of cultural capital.   Abstrak Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan identitas anak, termasuk dalam memperkuat budaya yang selaras dengan nilai-nilai Kristen. Teori modal budaya Pierre Bourdieu menawarkan perspektif yang relevan dalam memahami bagaimana warisan budaya ditransmisikan dalam keluarga Kristen guna membangun identitas dan nilai-nilai moral anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal budaya dalam pendidikan keluarga Kristen sebagai upaya penguatan budaya pada anak. Metode yang digunakan studi kepustakaan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa modal budaya yang meliputi habitus, kapital simbolik, dan praktik sosial berkontribusi dalam membentuk pola pikir, kebiasaan, serta nilai-nilai yang dianut oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan keluarga Kristen, modal budaya dapat diwujudkan melalui pembiasaan nilai-nilai Kekristenan, penggunaan bahasa iman dalam komunikasi keluarga, serta keterlibatan anak dalam praktik keagamaan dan budaya Kristen. Rekomendasi penelitian ini agar penelitian berikutnya mengkaji secara aktual dan luas tentang Pendidikan dalam keluarga Kristen berbasis teori modal budaya Pierre Bourdieu.
Dari trauma ke transendensi: Sebuah pendekatan teologis terhadap literasi kesehatan mental dalam kurikulum pendidikan Kristiani generasi digital  Jannes Eduard Sirait
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1382

Abstract

The digital generation faces an unprecedented mental health crisis, with anxiety and depression rates rising dramatically since the 2010s. This article constructs a theological approach to mental health literacy as an integral component of a Christian education curriculum that is responsive to the needs of the digital generation. Through a constructive theological method with interdisciplinary analysis between trauma theology, developmental psychology, and transformative pedagogy, this study proposes a “from trauma to transcendence” framework that integrates theological understandings of suffering, grace, and healing with evidence-based mental health literacy principles. The result is a curriculum model that not only improves mental health literacy but also shapes resilient spirituality and hope rooted in the Christian narrative of healing and transformation.   Abstrak Generasi digital menghadapi krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan tingkat kecemasan dan depresi yang meningkat drastis sejak dekade 2010-an. Artikel ini mengkonstruksi pendekatan teologis terhadap literasi kesehatan mental sebagai komponen integral kurikulum pendidikan Kristiani yang responsif terhadap kebutuhan generasi digital. Melalui metode teologi konstruktif dengan analisis interdisipliner antara teologi trauma, psikologi perkembangan, dan pedagogi transformatif. Penelitian ini mengusulkan kerangka "dari trauma ke transendensi" yang mengintegrasikan pemahaman teologis tentang penderitaan, anugerah, dan pemulihan dengan prinsip-prinsip literasi kesehatan mental berbasis bukti. Hasilnya adalah model kurikulum yang tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan mental, tetapi juga membentuk spiritualitas yang resilien serta harapan yang berakar dalam narasi Kristiani tentang penyembuhan dan transformasi.
Tarian Bonet sebagai locus theologicus: Inkulturasi kasih persaudaraan 1 Petrus 3:8 dalam tradisi Atoni Pah Meto Junior Natan Silalahi; Fenieli Harefa; Odaligo Zai
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1412

Abstract

This study examines the Bonet Dance of the Atoni Pah Meto community in East Nusa Tenggara as a locus theologicus through which the theological teaching of brotherly love in 1 Peter 3:8 is interpreted and embodied contextually. Employing qualitative ethnographic methods combined with a grammatical-historical exegetical approach, data were collected through participant observation and in-depth interviews with community informants in Timor Tengah Selatan. Thematic analysis following the framework of Braun and Clarke was applied to interpret the findings. The study demonstrates that the five ethical qualities in 1 Peter 3:8, namely unity of mind (homophrones), sympathy (sympatheis), brotherly love (philadelphoi), compassion (eusplanchnoi), and humility (tapeinophrones), resonate substantively in the symbolic vocabulary, formational logic, and communal ethos of the Bonet Dance. The study also critically examines the tensions inherent in the process of inculturating Christian values into a cultural tradition that predates Christianization. Drawing on Bevans' synthesis model of contextual theology, the research argues that Bonet constitutes an authentic locus of theological reflection within the Christian community of Atoni Pah Meto and offers a replicable model of inculturation for Indonesian contextual theology.   Abstrak  Penelitian ini mengkaji Tarian Bonet dalam masyarakat Atoni Pah Meto, Nusa Tenggara Timur, sebagai locus theologicus ajaran kasih persaudaraan dalam 1 Petrus 3:8, yang diinterpretasikan dan dihayati secara kontekstual. Menggunakan metode etnografi kualitatif yang dipadukan dengan eksegesis gramatikal-historis, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan informan dari komunitas di Timor Tengah Selatan. Analisis tematik mengacu pada kerangka Braun dan Clarke yang diterapkan untuk menginterpretasikan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima kualitas etis dalam 1 Petrus 3:8: kesatuan pikiran (homophrones), seperasaan (sympatheis), kasih persaudaraan (philadelphoi), penyayang (eusplanchnoi), dan rendah hati (tapeinophrones) memiliki resonansi substantif dalam kosakata simbolik, logika formasi, dan etos komunal Tarian Bonet. Penelitian ini juga menelaah secara kritis ketegangan yang inheren dalam proses inkulturasi nilai-nilai Kristen ke dalam tradisi budaya yang telah mendahului Kristenisasi. Mengacu pada model sintesis Bevans dalam teologi kontekstual, penelitian ini berargumen bahwa Bonet merupakan locus teologis yang autentik dalam kehidupan komunitas Kristen Atoni Pah Meto dan menawarkan model inkulturasi yang dapat direplikasi bagi teologi kontekstual Indonesia.