cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Status Konservasi Sarang Megapoda Arfak (Aepypodius arfakianus) di Cagar Alam Pegunungan Arfak: Salah satu dampak dari perubahan lansekap Freddy Pattiselanno; Ikram Karim; Lukas Yowel Sonbait
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.056 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.1.119-125

Abstract

Tingkat pemanfaatan Megapoda Arfak (Aepypodius arfakianus) oleh masyarakat melalui perburuan dan pengumpulan telur cukup tinggi. Hal ini berdampak terhadap status populasi burung ini di alam. Penelitian tentang status konservasi sarang Megapoda Arfak telah dilakukan untuk mengetahui kondisi sarang yang memungkinkan perkembangan populasi burung ini. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 22 sampi 27 Mei 2016 dan 14 sampai 19 Juni 2016 di Kampung Sigim, sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak.  Metode deskripsi dengan teknik survei dan pengamatan (observasi) langsung digunakan dalam pengumpulan data di lokasi penelitian.  Dari sembilan sarang yang ditemukan dan diamati, enam sarang jaraknya relatif dekat dari pemukiman atau berjarak kurang dari 1.0km sehingga mendapat tekanan perburuan dan pengumpulan telur yang lebih berat. Berdasarkan statusnya, dua sarang berstatus ditinggalkan dan empat sarang memiliki status terancam. Tiga sarang lainnya yang berjarak 2-3km dari pemukiman berstatus tidak terancam. Konsekuensi dari konversi luasan hutan untuk tujuan lainnya (pembangunan sarana dan pra-sarana public seperti pengembangan ruas jalan dan pembangunan pemukiman) serta pembukaan lahan perkebunan dan pertanian memberikan kemudahan akses ke lokasi persarangan Megapoda Arfak. Hal ini berdampak terhadap status konservasi sarang, karena perburuan burung dan pengumpulan telur yang tidak terkendali.
Pemodelan Kepercayaan Petani Padi Sawah Terhadap Perubahan Iklim (Kasus Desa Kaserangan Kabupaten Serang Provinsi Banten) Yudi L.A Salampessy; Nurwayulis Nurwayulis; Pipih Pipih
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.1.39-47

Abstract

Sampai saat ini perubahan iklim belum menjadi isu yang mudah untuk dapat dipahami oleh kebanyakan petani. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kepercayaan petani, variabel komunikasi yang berhubungan dengan kepercayaan petani, dan model kepercayaan petani atas perubahan iklim. Survey melibatkan 48 petani di daerah pertanaman padi yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar petani belum percaya bahwa perubahan iklim telah terjadi. Kepercayaan petani tersebut dipengaruhi oleh keragaman sumber informasi perubahan iklim mereka. Petani yang memiliki lebih banyak jenis sumber informasi perubahan iklim lebih percaya bahwa kondisi iklim telah berubah dari sebelumnya. Untuk itu keragaman sumber informasi perubahan iklim petani harus ditingkatkan. Studi ini menyarankan agar kapasitas penguasaan informasi perubahan iklim dari penyuluh pertanian dan petani ditingkatkan agar dapat menjadi sumber informasi perubahan iklim bagi petani lainnya, misalnya dengan memberikan diklat iklim. Selain itu informasi iklim disebarakan kepada petani melalui beragam media komunikasi, termasuk melalui siaran televisi dan radio lokal serta pertunjukkan media tradisional sehingga dapat menjadi alternatif sumber informasi perubahan iklim bagi petani.  
Peningkatan Kualitas Penghitungan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Pengelolaan Sampah dengan Metode IPCC 2006 (Studi Kasus: Kota Cilacap) Mochammad Chaerul; Arry Febrianto; Haryo Satriyo Tomo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.66 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.1.153-161

Abstract

Gas rumah kaca (GRK) berpotensi diemisikan dari berbagai tahapan dalam pengelolaan sampah, termasuk dari tahap penanganan sampah di sumber, pengangkutan dan penimbunan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA). Di banyak negara, metode IPCC 2006 dipilih untuk memprediksi emisi GRK dari berbagai macam sector, termasuk dalam pengelolaan sampah. Di dalam metode IPCC 2006 terdapat tingkatan basis data (Tier) yang didasarkan atas sumber data yang digunakan dalam menghitung emisi GRK. Tier 1 merupakan tingkatan terendah dimana berbagai macam data default telah disediakan untuk perhitungan emisi GRK. Penelitian ini bertujuan mengetahui emisi GRK yang dihasilkan dari pengelolaan sampah di Kota Cilacap sebagai representasi Kota kecil di Indonesia menggunakan metode IPCC 2006 tetapi dengan kualitas yang lebih baik daripada Tier 1. Peningkatan kualitas penghitungan dilakukan dengan menyediakan berbagai macam data spesifik untuk Kota Cilacap, diantaranya data timbulan dan komposisi sampah melalui sampling dan analisis laboratorium untuk mendapatkan proporsi organik karbon yang dapat terdegradasi (DOC), fraksi DOC yang terasimilasi (DOCf), laju degradasi (kd) dan fraksi metana (F). Dari perhitungan didapat bahwa prediksi total emisi GRK dari pengelolaan sampah di Kota Cilacap sebesar 4,58 x 105 ton CO2-eq. dimana tahap tahap pengangkutan dan penimbunan sampah menjadi yang dominan. Nilai total emisi dari penimbunan sampah berselisih sekitar 50% lebih besar dibandingkan bila menggunakan data default Tier 1. Hasil ini semakin memperkuat urgensi implementasi konsep 3R (Reduce Reuse dan Recycle) mulai di sumber yang memang telah diamanatkan oleh Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Physiological strategies of Eichhornia crassipes (Mart.) Solms to tolerate Cr6+ accumulation, compared to a sensitive species Pistia stratiotes L. Taufik Taufikurahman; Andira Rahmawati; Muhammad Arief Ardiansyah; Dea Prianka Ayu Ilhamsyah; Serafina Rosanti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.592 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.1.82-88

Abstract

Chromium in the form of hexavalent chromium (VI) has been used in some industry including leather tanning industry. The chemical has been known to be harmful to  living organisms. Therefore, it is important to treat wastewater from leather tanning industry before being discharged to the environment. The aim of this study is to examine ecophysiological strategies of  waterhyacinth (Eichhornia crassipes)  to tolerate Cr6+ accumulation in its tissue, compared to sensitive species water lettuce (Pistia stratiotes).  The plants  were cultivated in containers containing Hoagland medium and treated with some variation of Cr6+ concentrations of Cr6 i.e. 0, 40, 80 and 120 ppm for 14 days. Some parameters including CAT (catalase), Ascorbate peroxidase (APX), chlorophyll concentration and proline  in the plants were measured. The biomass yield of plant in Cr6+ stress was negative (-0.732 to -1.84 g/week) which indicated both E. crassipes and P. stratiotes  reduced their growth. The higher the concentration of Cr6+, the lower the chlorophyll contents in the leaves. The lowest of chlorophyll content was in 120 ppm (0.15 mg/g in P. stratiotes  and 0.12 mg/g in E. crassipes). The highest of CAT activity in E. crassipes was 109% in 40 ppm Cr6+, while in P. stratiotes  was 76% in 120 ppm. Proline content in both E. crassipes and P. stratiotes  were not different significantly. In general, E. crassipes plants have the ability to adapt to Cr6+ stress better compared to P. stratiotes which was severely damaged when grown in high Cr6+ concentration. Both plants can remediate waste fairly well  (level of elimination 62-68%) during the exposure period of 14 days to Cr6+ solution.
Pengolahan Air Limbah Domestik menggunakan Biosand Filter Rhenny Ratnawati; Sakbanul Lailatul Ulfah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.1.8-14

Abstract

Biosand filter merupakan alternatif teknologi pengolahan air limbah. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis efisiensi biosand filter menggunakan variasi komposisi dan ketinggian media dan 2) Membandingkan variasi komposisi dan ketinggian media yang paling efektif selama pengolahan menggunakan biosand filter. Penelitian ini menggunakan dua reaktor yang masing-masing berdimensi (30 x 30 x 100) cm dengan adanya variasi komposisi dan ketinggian media. Susunan media yang digunakan pada kedua reaktor terdiri dari media kerikil:pasir kasar:pasir halus:karbon aktif. Reaktor 1 mempunyai ketinggian masing-masing adalah (10:10:30:10) cm untuk media kerikil:pasir kasar:pasir halus:karbon aktif. Reaktor 2 media kerikil:pasir kasar:pasir halus:karbon aktif dengan masing-masing ketinggian adalah (10:10:15:25) cm. Filter dioperasikan secara batch dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Pengambilan sampel dilakukan selama 20 hari dimulai dari hari ke-0, 5, 10, 15, dan 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penurunan konsentrasi BOD dan TSS pada reaktor 1 dengan susunan media kerikil:pasir kasar:pasir halus:karbon aktif (10:10:30:10) cm berturut-turut adalah 62,92% dan 78,40%. Pada reaktor 2 dengan susunan media kerikil:pasir kasar:pasir halus:karbon aktif (10:10:15:25) cm mempunyai nilai efisiensi penurunan konsentrasi BOD dan TSS masing-masing adalah 67,01% dan 81,99%. Variasi susunan media yang lebih efektif dalam menurunkan konsentrasi BOD dan TSS pada air limbah domestik adalah reaktor 2 dengan media kerikil:pasir kasar:pasir halus:karbon aktif dengan ketinggian (10:10:15:25) cm.
Ragam Vegetasi Hutan Rawa Air Tawar di Taman Wisata Alam Jering Menduyung, Bangka Barat Aziz Aziz; Henri Henri; Wahyu Adi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.358 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.1.200-208

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Jering Menduyung merupakan salah satu hutan konservasi Bangka Belitung yang terletak di Kabupaten Bangka Barat. Pada kawasan ini mempunyai hutan mangrove primer yang mendominasi seluas 1209,7 Ha dari seluruh tutupan lahan. Selain itu, juga terdapat ekosistem hutan rawa 405,519 Ha dan hutan belukar rawa 478,709 Ha. Hutan rawa air tawar pada beberapa tahun terakhir keadaan vegetasi mengalami banyak gangguan seperti adanya aktivitas pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat keanekaragaman vegetasi hutan rawa air tawar di TWA Jering Menduyung. Metode analisis vegetasi menggunakan metode kombinasi antara metode jalur dan metode garis berpetak, sedangkan penempatan jalur menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hutan rawa air tawar memiliki 25 jenis tumbuhan yang termasuk kedalam 19 famili. Famili Rubiaceae merupakan jenis yang paling banyak, diantaranya yaitu jenis Ixora paludosa (Blume) Kurz, Psychotria sp., Oxyceros longiflorus (Lam.) T.Yamaz, Psychotria sp.. Melaleuca leucadendron L merupakan spesies yang mendominasi pada tingkat pertumbuhan pancang (115,64%), tiang (300%) dan pohon (300%). Sementara tingkat semai, spesies yang mendominasi adalah Cyperus sp. (58,62%). Indeks keanekaragaman Shannon-Weiner yang ditemukan tertinggi berkisar anatara 1,591-2,197 yang ditemukan pada tingkat semai dan pancang. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Weiner pada tingkat tiang dan pohon <1. Distribusi spesies berdasarkan indeks kemerataan Evennes untuk semua tingkat pertumbuhan (semai, pancang, tiang dan pohon) di hutan rawa air tawar menunjukkan distribusi spesies yang tidak sama (0-0,792). Stategi yang tepat dalam pengelolaan hutan rawa air tawar TWA Jerieng Menduyung ini melalui pendekatan partisipatif pada tingkat lanskap untuk perencanaan pengelolaan ekosistem hutan yang efektif dan berkelajutan.
Strategi Pengembangan Pengelolaan Rantai Pasok Dalam Pengelolaan Sampah Plastik Kikis Dinar Yuliesti; Suripin Suripin; Sudarno Sudarno
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.1.126-132

Abstract

Pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi salah satu masalah serius yang terjadi di kota besar. Pertambahan jumlah penduduk setiap tahunnya akan mempengaruhi volume, jenis dan karakteristik sampah yang dihasilkan setiap harinya. Dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan di Kecamatan Semarang Tengah pada Tahun 2017 menunjukkan bahwa sampah yang dihasilkan mencapai hampir 0,98 kg  per orang setiap harinya. Adapun sampah yang dihasilkan terdiri dari  77,5 % sampah organik, 13,5 % sampah plastik, 5,5 % sampah kardus dan kertas, 2,2 %  logam / kaleng dan sisanya adalah kaca dan lainnya. Dari komposisi tersebut, sampah plastik merupakan sampah non organik yang memiliki prosentase tertinggi.  Subjek dalam penelitian ini adalah pelaku dalam rantai pasok pengelolaan sampah plastik. Dari subjek penelitian juga didapatkan faktor internal dan eksternal yang akan digunakan untuk menganalisis  kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam meningkatkan dan menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah plastik di Kecamatan Semarang Tengah.  Suatu sistem penyediaan bahan baku, proses produksi hingga proses pemasaran sampai ke tangan konsumen, dibutuhkan dukungan teknologi baik berupa aplikasi sederhana yang memberikan informasi tentang ketersediaan jenis dan jumlah bahan baku yang terupdate, sehingga dapat mempersingkat waktu produksi. Selain itu juga perlu dukungan sistem informasi untuk membantu pemasaran produk daur ulang, sehingga jangkauan pengguna / konsumen akan lebih banyak dan lebih luas. Keberadaan teknologi informasi memegang peranan penting sebagai media untuk mempercepat terpenuhinya supply dan demand serta menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan usaha.STRATEGY FOR DEVELOPING SUPPLY CHAIN MANAGEMENT IN PLASTIC WASTE PROCESSING  ABSTRACT Household waste management is still one of the serious problems that occur in big cities. The increase of population each year will affect the volume, type and characteristics of waste produced every day. From the results of field research conducted in the District of Central Semarang in 2017 showed that the waste generated reached almost 0.98 kg per person every day. The waste generated consists of 77.5% organic waste, 13.5% plastic waste, 5.5% cardboard and paper waste, 2.2% metal / can and the rest is glass and others. From the results showed that plastic waste is non-organic waste which has the highest percentage. The subjects in this study were actors in the supply chain of plastic waste management.  The research subjects also obtained internal and external factors that will be used to analyze strengths, weaknesses, opportunities and threats in improving and maintaining the sustainability of plastic waste management in Central Semarang District. A system of supplying raw materials, the production process to the marketing process up to the hands of consumers, technology support is needed in the form of a simple application that provides information about the availability of types and quantities of updated raw materials, so as to shorten the production time. It also needs the support of information systems to help marketing recycled products, so that the coverage area of users / consumers will be more and wider. The existence of information technology plays an important role as a medium to accelerate the fulfillment of supply and demand and to ensure the sustainability of the business.
Peringatan Dini Tanah Longsor Berdasarkan Kelembaban Tanah Secara Jarak Jauh Menggunakan Sensor FC-28 dan Node MCU Agus Setyawan; Jatmiko Endro Suseno; Ratna Dewi Winesthi; Sela Ade Otaviana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.072 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.242-246

Abstract

Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia, terutama di daerah pegunungan, lembah dan perbukitan dengan kondisi lereng yang tidak stabil. Saat musim hujan tiba maka kadar air yang berlebihan mengakibatkan tanah longsor. Bencana tanah longsor dapat menyebabkan banyak kerugian antara lain: kematian, gangguan infrastruktur jalan dan rusaknya lahan pertanian. Hal tersebut dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu kemiringan lereng dan kelembaban. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalkan korban jiwa dengan merancang alat pendeteksi peringatan dini bencana tanah longsor menggunakan sensor Soil Moisture FC-28 dan NodeMcu longsor yang terhubung ke android melalui telegram, sms dan buzzer. Sensor soil moisture FC-28 dipakai untuk mendeteksi parameter kelembaban tanah. Pengujian potensi terjadinya tanah longsor didesain dalam 5 variasi kemiringan untuk mendapatkan nilai kembebaban yang bervariasi. Alat dirancang dengan 2 kondisi yaitu status siaga dan bahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kondisi siaga terjadi pada kelembaban antara 27% - 54% dengan kemiringan lereng antara 25o -35o dan kondisi bahaya terjadi saat kelembaban lebih dari 54%. Peringatan dini akan terkirim melalui pesan singkat ada aplikasi telegram messenger saat kondisi status siaga, sedangkan alarm akan berbunyi pada saat status bahaya. Alat ini akan sangat bermanfaat bagi warga yang tinggal didaerah rawan bencana longsor, karena dengan adanya tanda peringatan dini warga diharapkan masih mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri sehingga korban jiwa dapat diminimalkan.
Efektivitas Pengawasan Kelembagaan dan Masyarakat Terhadap Kebijakan Penataan Ruang (Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung) Indraya Kusyuniadi; Imam Buchori
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.193 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.209-217

Abstract

Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung (KCAGK) adalah kawasan yang mempunyai keunikan batuan dan fosil, sehingga mendapat julukan sebagai “Black Box” dari proses alam semesta. Berdasarkan kebijakan tata ruang (RTRW) menetapkan KCAGK sebagai kawasan strategis sebagai fungsi daya dukung lahan. Konsekuensinya adalah semua aktifitas yang dapat mengubah bentukan geologi dilarang. Akan tetapi kegiatan penambangan masih menjadi ancaman akan hilangnya keanekaragaman bebatuan yang dilindungi. Penelitian ini memfokuskan pada aspek pengawasan yang terindikasi masih lemah dalam penyelenggaraan pentaan ruang, melalui aspek kelembagaan dan masyarakat. Aspek kelembagaan terdiri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indinesia (LIPI) dan pemerintah daerah melalui Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD), sedangkan aspek mayarakat diwakili tokoh lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis studi statistik deskriptif. Proses penelitian diawali dengan menentukan jumlah populasi untuk lembaga LIPI dan BKPRD melalui purposive sampling diperoleh jumlah sampling sebesar 8 responden. Penentuan jumlah responden masyarakat yang diwakili tokoh masyarakat, menggunakan random sampling dengan teknik area probability diperoleh sampling sebesar 20 responden.Tahapan kedua adalah pengisian kuesioner melalui wawancara langsung ke responden. Tahapan ketiga adalah melakukan analisis efektivitas pengawasan kebijakan tata ruang melalui peran kelembagaan dan masyarakat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peran dari kelembagaan dan masyarakat belum efektiv dalam melakukan tahapan pengawasan Peraturan Daerah (Perda) RTRW di KCAGK. Indikator dari ketidak efektivan dilihat dari: 1) sosialisasi kebijakan, 2) perizinan penambangan, 3) penerapan insentif dan disinsentif, 4) pembiayaan dan 5) pemantauan dan kepedulian lingkungan. Perlu suatu perbaikan dalam meningkatkan peran kelembagaan dan masyarakat, diantaranya 1) Lembaga BKPRD perlu ditinjau ulang keberadaannya, 2) peran masyarakat perlu di berikan kewenagan lebih dalam pengawasan lingkungan di KCAGK.
Pemodelan Erosi dan Sedimentasi di DAS Bajulmati : Aplikasi Soil dan Water Assesment Tool (SWAT) Mohamad Wawan Sujarwo; indarto indarto; Marga Mandala
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.473 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.218-227

Abstract

DAS bajulmati merupakan DAS kecil (± 173.4 km2) yang berada di wilayah timur pulau Jawa. DAS bajulmati memiliki iklim yang spesifik yaitu relatif kering dengan musim kemarau yang panjang (8-9 bulan selama setahun). Meskipun kondisi iklim yang kurang mendukung, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani landang. Adanya perluasan lahan pertanian non irigasi/ladang mengakibatkan tutupan vegetasi semakin berkurang. Oleh karena itu, evaluasi DAS bajulmati diperlukan untuk mengetahui dampak perluasan lahan pertanian terhadap laju aliran dan sedimentasi dengan kondisi iklim yang cukup spesifik (kering). Salah satu model evaluasi pengelolaan DAS terhadap perubahan lahan adalah model SWAT (Soil and Water Assessment Tool). SWAT dapat menggambarkan proses hidrologi (erosi dan sedimentasi) unit lahan. data DEM resolusi (10x10 m) sebagai masukan utama untuk proses delinasi DAS. Data tanah, tutupan lahan, dan kontur digunakan untuk menentukan unit lahan/hydrolocal response unit (HRU) DAS. Data curah hujan dan iklim (suhu, kelembaban rata-rata, intensitas matahari, kecepatan angin) diperoleh dari stasiun yang tersebar di wilayah DAS. Semua data diintegrasikan ke dalam SWAT untuk menghitung proses hidrologi, erosi dan sedimentasi. Debit yang diamati digunakan untuk mengkalibrasi keluaran debit hasil SWAT di outlet DAS. Hasil kalibrasi debit menunjukkan nilai Nash-Sutcliffe Efficiency sebesar 0,53 dan validasi sebesar 0,5 serta koefisien determinasi sebesar 0,58 dan 0,78 (memuaskan) dan model dapat digunakan untuk ilustrasi proses hidrologi dalam DAS bajulmati. Analisis tingkat erosi SWAT menunjukkan bahwa 34,46; 39,19; dan 17,83 menunjukkan tingkat erosi sangat ringan sampai kategori sedang. Oleh karena itu, DAS Bajulmati masih dalam kategori aman karena rata-rata erosi berat dan sangat berat dibawah 10%. Nilai sedimentasi tertinggi pada HRU 512 dan SubDAS 23. Wilayah tersebut merupakan wilayah perkebunan dengan tingkat kemiringan diatas 40%.

Filter by Year

2011 2025