cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Pemetaan Geomorfologi Detail untuk Analisis Karakteristik Erosi Tebing Sungai pada Sebagian Penggal Sungai Oyo, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY Muhammad Isbahuddin; Muhammad Anggri Setiawan; Margaretha Widyastuti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.1017-1023

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun informasi geomorfologi dalam peta geomorfologi detail dan mengidentifikasi karakteristik erosi tebing sungai di area penelitian. Analisis karakteristik erosi tebing sungai penting dilakukan untuk mengetahui kondisi dan proses erosi tebing sungai serta upaya pengendalian yang tepat terhadap erosi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei pemetaan geomorfologi. Pemetaan geomorfologi menggunakan interpretasi citra foto udara (perekaman menggunakan drone) dan survei langsung (terestris). Penyajian data dan analisis dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Pembuatan peta geomorfologi meliputi identifikasi morfologi, bentuklahan, dan proses geomorfologi. Pengamatan mekanisme erosi tebing sungai dilakukan dengan membagi segmen pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi citra foto udara dan survei langsung, efektif untuk pembuatan peta geomorfologi detail. Mekanisme erosi tebing sungai yang sedang berlangsung adalah mekanisme erosi tebing sungai tipe D (failure of composite bank), dan gabungan tipe B (rotational failure) dan tipe D (failure of composite bank). Tipe mekanisme erosi tebing yang terjadi didominasi oleh tipe D yang ditandai dengan tebing menggantung (material tebing dominan tererosi pada bagian bawah).
The Potential of Commercial Biomass-Based Activated Carbon to Remove Heavy Metals in Wastewater – A Review Vina Rofikoh; Badrus Zaman; Budi Prasetyo Samadikun
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.132-141

Abstract

Commercial activated carbon is a type of adsorbent commonly used in adsorption processes. However, the use of commercial carbon in wastewater treatment is still limited, due to the scarce availability of precursors and their high cost. Biomass as an activated carbon precursor has been reported to have high efficiency in removing various heavy metals in wastewater. This study aims to review the potential of biomass-based activated carbon to adsorb heavy metals in terms of biomass constituent components, heavy metal removal, and future prospects.  The method in this study is a systematic literature review, or SLR, to collect data from online databases such as Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect. The results show that biomass-based activated carbon is effective in the removal of heavy metals in various types of wastewater. The removal effectiveness for different types of biomass ranged from 84–99% for Pb2+ ions, 55–92% for Cd2+ ions, 84–99% for Pb2+ ions, 96% for As2+ ions, 80–100% for Cr2+ ions, 25–97% for Fe2+ ions, 50–99% for Ni2+ ions, and 62–98% for Cu2+ ions, and 98% for Ti ions. These results show that heavy metals have different affinities to activated carbon from biomass, from all heavy metals, Fe2+ and Cd2+ ions have the lowest affinity, so the activated carbon used to remove Fe2+ and Cd2+ metals needs to be produced with higher porosity and surface area. The removal of heavy metals using activated carbon from biomass is limited by adsorbent dosage, contact time, solution pH, temperature, initial adsorbate concentration, particle size, and stirring speed. In future research, it is expected that activated carbon from biomass has a high adsorption capacity, is economical cost, is environmentally friendly and can be used on a larger scale.
Spasio-Temporal Kualitas Air dan Indeks Pencemaran pada Kawasan Mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak Ayu Desi Anggraeni Swastya Putri; Tri Retnaningsih Soeprobowati; Jumari Jumari; Jafron Wasiq Hidayat; Fuad Muhammad
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.279-288

Abstract

Perairan Bedono merupakan kawasan pesisir yang terdapat banyak hutan mangrove. Hutan mangrove memiliki banyak fungsi yaitu contohnya sebagai tempat pemijahan (spawning ground), asuhan (nursery ground), mencari makan (feeding ground) dan merupakan tempat habitat dari biota air, akan tetapi ekosistem mangrove di Desa Bedono mengalami degradasi yang disebabkan oleh banjir rob, abrasi, dan aktivitas antropogenik yang terjadi di daratan seperti alih fungsi lahan, pertanian dan kegiatan rumah tangga yang menghasilkan limbah domestik, hal ini dapat merusak keanekaragaman hayati di sekitar perairan sehingga perlu dilakukan kegiatan biomonitoring untuk mengetahui kualitas perairan di kawasan perairan mangrove Bedono. Biomonitoring dilakukan dengan pemantauan kondisi kualitas dan perubahan suatu lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas perairan dan Indeks Pencemaran (IP) pada kawasan ekosistem mangrove di desa Bedono. Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga Desember 2022 di lima lokasi dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian hasil perhitungan status mutu perairan dengan menggunakan Indeks Pencemaran bahwa pada bulan Juli hingga Desember menunjukkan kategori dari memenuhi baku mutu hingga tercemar sedang yaitu berkisar 0,569 – 5,345.
Struktur Vegetasi Mangrove di Pantai Utara Mojo Pemalang Jawa Tengah Muhammad Reza Pahlevi; Erny Poedjirahajoe; Ni Putu Diana Mahayani; Aqmal Nur Jihad; Ryan Adi Satria
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.431-438

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu tipe ekosistem dengan karakteristik yang khas pada daerah tropis. Data dan informasi tentang vegetasi di lokasi ini sangat penting untuk diketahui sebagai dasar pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis dan struktur hutan mangrove serta karakteristik habitat di Desa Mojo, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Permasalahan utama hutan mangrove yang ada di daerah Mojo Pemalang adalah rusaknya ekosistem mangrove dan kurangnya kepedulian masyarakat tentang konservasi kawasan mangrove. Pengambilan data dilakukan dengan pembuatan petak ukur bersarang (nested sampling). Analisis data yang digunakan dengan mencari nilai kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif dan juga Indeks Nilai Penting (INP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 jenis mangrove yang ditemukan di 18 PU. Spesies terbanyak adalah Rhizophora mucronata. Kerapatan tertinggi ada pada Avicennia alba di tingkat pertumbuhan semai. Frekuensi tertinggi ada pada Avicennia alba di tingkat pertumbuhan pohon. Dominansi tertinggi ada pada Rhizophora mucronata di tingkat pertumbuhan pohon. Jenis yang memiliki nilai INP tertinggi adalah Rhizophora mucronata pada tingkat pertumbuhan pancang. Pada tingkat pertumbuhan semai INP tertinggi ada pada jenis Avicennia alba. Pada tingkat pertumbuhan pohon INP tertinggi ada pada jenis Rhizophora mucronata.
Kualitas dan Status Nutrien Perairan Curug di Kawasan Resort Tapos, Bogor Ardian Khairiah; Dinda Rama Haribowo; Ahmad Zulfikar Wicaksono; Alfan Farhan Rijaluddin; Firdaus Ramadhan; Arrum Sekar Diningrum; Ratih Mayangsari; Taqiyuddin Zanki Haidar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.580-588

Abstract

Curug di kawasan Resort Tapos Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ini merupakan air terjun alami yang alirannya mendukung fungsi utama dalam ekosistem yaitu sebagai habitat dan sumber air untuk biota di sekitar perairan dan masyarakat sekitar kawasan, sehingga perlu diketahui kualitas airnya. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis kualitas perairan berdasarkan kondisi kimia fisik perairan (WQI), bakteri coliform (TC dan EC) dan fitoplankton (Komposisi dan struktur komunitas). Status nutrien juga diamati dalam penelitian ini menggunakan perhitungan indeks fitoplankton (X dan In). Berdasarkan kondisi kimia fisik, kedua perairan pada kawasan Resort Tapos sesuai untuk pertumbuhan fitoplankton dan tidak menunjukkan adanya cemaran. Berdasarkan nilai WQI, kedua perairan terkategori sangat baik, namun ditemukan adanya cemaran bakteri Coliform dan E.Coli. Kelimpahan fitoplankton total kedua perairan (212-812 ind/l) yang terdiri dari 5 filum, 7 kelas dan 21 jenis. Komunitas fitoplankton kedua perairan (H’: 1.16-2.61; J’: 0.38-0.72; D: 0.13-0.55). Ditemukan adanya dominansi di LBC karena arus air. Status nutrien kedua perairan (X: β-meso/oligosaprobic; In: Oligotrofik), hal ini menunjukkan cemaran ringan dan rendah kadar nutrien. Berdasarkan uji korelasi Pearson, parameter DO berkorelasi sangat tinggi dengan indeks kualitas perairan dengan arah positif.
Faktor Keberlanjutan Pengembangan Komoditi Bawang Merah di Kabupaten Polewali Mandar Ihsan Arham; Dirhana Purnama
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.720-730

Abstract

Produktifitas komoditi bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar mengalami fluktuasi yang sangat intens. Berbagai upaya pemerintah dalam meningkatkan potensi komoditi bawang merah pun telah dilakukan, termasuk dengan upaya perluasan lahan panen bawang merah, bahkan menjadi wilayah dengan luas lahan bawang merah terluas di Provinsi Sulawesi Barat. Namun, terdapat ketidak selarasan antara pertambahan luas panen dengan tingkat produktifitas komoditi bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel penentu keberlanjutan, menganalisis pengaruh antar variabel, dan menganalisis variabel kunci yang menentukan keberlanjutan pengembangan komoditi bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar. Metode yang digunakan adalah analisis struktural Matrix of Cross Impact Multiplication Applied to a Classification (MICMAC). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 22 variabel dari lima dimensi pembangunan berkelanjutan yang terdiri dari 6 Variabel dari dimensi Ekologi, 3 variabel dari dimensi Ekonomi, 5 variabel dari dimensi Sosial, 6 Variabel dari dimensi Inovasi Teknologi, dan 2 variabel dari dimensi Kelembagaan. Variabel-variabel yang diidentifikasi tersebut dianggap sebagai variabel penting atau variabel penentu bagi keberlanjutan pengembangan komoditi bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian ini menemukan bahwa variabel yang paling berpengaruh dan menjadi penggerak utama (Influence Variables/Key drivers) terdiri dari pengetahuan petani, Cuaca dan Iklim, Kesesuaian Lahan, dan Kualitas Bibit.
Kesedian Membayar Wisatawan untuk Pelestarian Pantai di Desa Hukurila Kota Ambon Eygner Gerald Talakua; Angela Ruban; Renoldy Lamberthy Papilaya
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.878-886

Abstract

Salah satu desa dengan ragam wisata terbanyak di Kota Ambon adalah Desa Hukurila, diantaranya terdapat lima objek wisata terkait dengan potensi sumber daya perikanan, pesisir dan laut. Terdapat ancaman keberlanjutan wisata pantai di Desa Hukurila yakni abrasi, jika terus terjadi hingga tahun 2026 maka tidak lagi sesuai sebagai kawasan wisata pantai. Pengelola wisata perlu mengeluarkan Rp 179.530.968/tahun untuk pembuatan breakwater sebagai salah satu bentuk pelestarian pantai, disisi lain tarif wisata yang berlaku belum memperhitungkan biaya pelestarian lingkungan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kesediaan membayar wisatawan, meramalkan kunjungan wisatawan hingga tahun 2026, dan menentukan tarif wisata demi pelestarian wisata pantai di Desa Hukurila. Survei dilakukan terhadap 65 responden wisatawan pada bulan Juli tahun 2022, data yang diperoleh dianalisis dengan metode penilaian kontingensi, metode peramalan, dan pendekatan penentuan tarif wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kesediaan membayar wisatawan di wisata pantai Desa Hukurila Kota adalah Rp 233.871/bulan. Hingga tahun 2026 kunjungan wisatawan akan mencapai 7.548 orang didominasi oleh wisatawan lokal. Untuk menghindari abrasi pelestarian pantai dapat dilakukan jika tarif wisata dinaikan hingga Rp 58.468/kunjungan atau 25,0% dari nilai kesediaan membayar wisatawan.
Pengaruh Asap Rokok pada Peningkatan Konsentrasi PM2.5 dan PM10 di Ruang Tamu Akibat Merokok di Dalam dan di Luar Rumah Neneng Nuryati; Kasni Sumeru; Andriyanto Setyawan; Yudi Prana Hikmat; Husain Akbar Sumeru; Mohamad Firdaus bin Sukri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.85-92

Abstract

Udara bersih adalah kebutuhan dasar untuk menjamin kesehatan bagi penghuni rumah. Asap rokok adalah salah satu polutan yang sering berada di rumah. Efek negatif dari asap rokok pada kesehatan telah dilaporkan oleh beberapa ahli. Namun, hingga saat ini, masih banyak dijumpai perokok yang merokok di tempat sembarang di sekitar rumah, seperti di teras, di dalam ruang tamu dan di kamar mandi. Perilaku ini akan berdampak buruk bagi kualitas udara di dalam rumah. Partikulat berdiameter kurang dari 2.5 µm (PM2.5) dan kurang dari 10 µm (PM10) adalah salah satu polutan utama yang dihasilkan oleh asap rokok. Berdasarkan beberapa penelitian, melaporkan bahwa selain akan mengendap di paru-paru, PM2.5 dan PM10 dapat menyebabkan beberapa penyakit, antara lain asma, ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), kanker paru-paru dan meningkatkan tingkat mortalitas. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran PM2.5 dan PM10 di dalam ruang tamu akibat perokok yang merokok di kamar mandi, di dalam ruang tamu dan di teras. Pengukuran konsentrasi PM2.5 dan PM10 dilakukan di rumah dengan luas sekitar 45 m2. Pengambilan data dilakukan sebelum merokok, 15 menit setelah rokok dinyalakan, 30 dan 60 menit setelah rokok dimatikan.  Berdasarkan pengukuran didapat bahwa konsetrasi PM2.5 dan PM10 di ruang tamu akan meningkat di atas baku mutu untuk semua lokasi merokok di area rumah. Meskipun perokok merokok di teras dengan pintu ruang tamu tertutup, konsentrasi PM2.5 dan PM10 di ruang tamu tetap meningkat, dari yang sebelumya 27 dan 68 µg/m3 menjadi 63 dan 127 µg/m3. Dari penelitian ini didapat kesimpulan bahwa meskipun merokok di luar rumah, dengan pintu tertutup, tetap dapat meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan PM10 di ruang tamu jauh di atas di atas baku mutu. Tentu saja hal ini akan berdampak buruk bagi seluruh penghuni rumah.
Analisis Tingkat Erosi Hutan Jati di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Cemoro Modang, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah Hafiz Sofyan Rahman; Nirmala Ayu Aryanti; F. Maftukhakh Hilmya Nada; Rahardyan Nugroho Adi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.240-247

Abstract

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Cemoro Modang merupakan kawasan hutan produksi dengan komposisi tutupan lahan yang didominasi oleh tanaman jati. Kawasan hutan produksi ini dibedakan menjadi beberapa petak berdasarkan kelas umur tanaman jati. Perbedaan kelas umur pada setiap petak tanaman jati akan mempengaruhi tutupan tajuk maupun tumbuhan bawah yang ada di sekitarnya. Kondisi tersebut akan berdampak pada tingkat erosi yang berbeda antar Kelas Umur (KU). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan tingkat erosi di KHDTK Cemoro Modang berdasarkan kelas umurnya. Penelitian ini dilaksanakan di KHDTK Cemoro Modang dengan luas 1.311,6 ha dan secara administratif terletak di Kecamatan Jiken dan Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dengan faktor penentu yaitu erosivitas, erodibilitas, panjang dan kemiringan lereng, serta pengelolaan tanaman dan konservasi tanah. Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu data curah hujan untuk menentukan faktor erosivitas dan peta DEM (Digital Elevation Model) untuk menentukan faktor panjang dan kemiringan lereng.  Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu data vegetasi dan pengelolaan lahan untuk menentukan faktor pengelolaan tanaman dan konservasi tanah, serta pengambilan sampel tanah pada setiap kelas umur untuk menentukan faktor erodibilitas. Pengumpulan data dilakukan dengan mendatangi 21 (dua puluh satu) titik sampel berdasarkan KU (Kelas Umur) tegakkan jati dan kelas hutan lainnya (kawasan perlindungan dan area terbuka), dikarenakan tutupan lahan pada lokasi penelitian 90 % merupakan tanaman jati. Hasil penelitian menunjukkan tingkat erosi secara keseluruhan pada KHDTK Cemoro Modang sebesar 6,54 ton/ha/tahun dan termasuk kategori erosi sangat ringan. Kawasan yang memiliki tingkat erosi yang tinggi dan termasuk dalam kelas berat (III) dengan luas 52,43 ha dan sangat berat (IV) dengan luas 9,71 ha merupakan KU II, KU III, KU IV, HTKh (Hutan dengan Tujuan Khusus), MT (Masak Tebak), dan TBK (Tanaman Bertumbuhan Kurang).
Valorisation of Rice Husk and Bubble Wrap Plastic Waste through Co-Torrefaction to Optimise Biochar Production Aloysius Gonzaga Holy Prajitna; Mochammad Chaerul
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.383-392

Abstract

Rice husk is one of the highest generated agricultural waste estimated to be 11.1-13.8 million tons in Indonesia in 2021. This quantity makes rice husk a potential biomass for conversion into energy to minimize the negative impacts of current processing methods, such as open-burning and mulching. Torrefaction was conducted at 300°C for 30 minutes in this study to enhance the characteristics of biomass fuel by producing biochar with improved combustion properties. The biochar produced from torrefaction of rice husk has a calorific value of 15.04 MJ/kg with a volatile matter content of 42.94% and fixed carbon content of 17.94%. Despite this improvement compared to raw rice husk, this biochar tends to have a relatively high mass loss, with a mass yield of only 54%. Therefore, the addition of LDPE plastic feedstock in the form of bubble wrap was carried out up to 50% of the feedstock mass, resulting in further optimization at the RH50 variation, which increased the calorific value to 19.98 MJ/kg and mass yield to 72%. These changes were statistically tested and found to be significant, indicating that torrefaction is a promising technology for rice husk processing, and bubble wrap in this study can significantly contribute to enhancing the characteristics of rice husk as a renewable fuel source.

Filter by Year

2011 2025