cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 2,035 Documents
Kepuasan Pasien terhadap Persalinan Operasi Seksio Sesaria dengan Protokol Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) di Rumah Sakit Tingkat Sekunder di Indonesia Eka Handayani Oktharina; Alya Zafira; Subandrate Subandrate; Raissa Nurwany; Medina Athia
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.26788

Abstract

ABSTRACT The increasing rate of cesarean section has been associated with a higher incidence of postoperative complications, prolonged recovery, and reduced patient comfort. Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) was introduced as an evidence-based perioperative care pathway to accelerate postoperative recovery while improving patient-centered outcomes. This descriptive observational study was conducted from September to November 2024 at a secondary-level hospital in Indonesia and included all patients who underwent cesarean section using the ERACS protocol during the study period. Primary data were collected through structured interviews using a standardized questionnaire, while secondary data were obtained from medical records. A total sampling technique was employed, resulting in 203 eligible participants. Data were analyzed using descriptive statistics. Most participants were aged 20–35 years, multiparous, at term gestation, and had a hospital stay of two days. Overall, patient satisfaction with ERACS was high across all evaluated domains. Very high satisfaction was reported for preoperative, intraoperative, and postoperative hospital services. Most patients also expressed high satisfaction with the adequacy of information provided, postoperative nausea and vomiting control, pain management, early mobilization, timely urinary catheter removal, and appropriate initiation of oral intake, with the highest level of satisfaction observed for early oral intake. These findings indicate that cesarean section performed using the ERACS protocol provides high patient satisfaction throughout the perioperative and postoperative periods, supporting ERACS as an effective, evidence-based, and patient-centered approach to enhancing postoperative recovery and improving the overall patient experience following cesarean delivery. Keywords: Cesarean Section, ERACS, Patient Satisfaction, Enhanced Recovery, Obstetric Surgery.  ABSTRAK Peningkatan angka persalinan dengan operasi seksio sesaria berkaitan dengan meningkatnya risiko komplikasi pascaoperasi, pemulihan yang lebih lama, serta berkurangnya kenyamanan pasien. Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) dikembangkan sebagai pendekatan pelayanan perioperatif berbasis bukti yang bertujuan mempercepat enhanced recovery sekaligus meningkatkan luaran yang berpusat pada pasien. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif yang dilaksanakan pada September hingga November 2024 di salah satu rumah sakit tingkat sekunder di Indonesia. Sampel penelitian meliputi seluruh pasien yang menjalani persalinan dengan operasi seksio sesaria menggunakan protokol ERACS selama periode penelitian. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner baku, sedangkan data sekunder diperoleh dari rekam medis. Teknik total sampling menghasilkan 203 responden yang memenuhi kriteria penelitian, dan data dianalisis secara deskriptif. Sebagian besar responden berusia 20–35 tahun, multipara, berada pada usia kehamilan aterm, serta menjalani lama rawat inap selama dua hari. Secara keseluruhan, tingkat kepuasan pasien terhadap penerapan ERACS tergolong tinggi pada seluruh aspek yang dievaluasi. Tingkat kepuasan yang sangat tinggi ditemukan pada pelayanan praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. Sebagian besar pasien juga menyatakan sangat puas terhadap kecukupan informasi yang diberikan, pengendalian mual dan muntah pascaoperasi, pengelolaan nyeri, pelaksanaan mobilisasi dini, waktu pelepasan kateter urin, serta ketepatan pemberian asupan oral, dengan tingkat kepuasan tertinggi terdapat pada waktu dimulainya pemberian asupan oral. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan protokol ERACS mampu memberikan tingkat kepuasan pasien yang tinggi pada seluruh komponen pelayanan perioperatif dan pascaoperatif, sehingga mendukung ERACS sebagai pendekatan pelayanan yang efektif, berbasis bukti, dan berpusat pada pasien dalam mempercepat pemulihan serta meningkatkan pengalaman pasien setelah persalinan dengan seksio sesaria.  Kata Kunci: Seksio Sesaria, ERACS, Kepuasan Pasien, Enhanced Recovery, Operasi Obstetri.
Pengetahuan Perawat tentang Skrining Disfagia Dalam Deteksi Dini Resiko Aspirasi: Kajian Literatur Maria Priliantari Ayu Kusumo Wardhani; Maria Astrid
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.25367

Abstract

ABSTRAK Disfagia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan gangguan neurologis, khususnya stroke, dan menjadi penyebab utama aspirasi serta pneumonia aspirasi yang berdampak pada peningkatan morbiditas, mortalitas, dan lama rawat inap. Deteksi dini disfagia melalui skrining direkomendasikan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Perawat memiliki peran penting dalam skrining disfagia, namun variasi tingkat pengetahuan perawat dapat memengaruhi efektivitas deteksi dini risiko aspirasi. Literature review ini bertujuan untuk mengkaji dan mensintesis bukti ilmiah mengenai pengetahuan perawat tentang skrining disfagia dalam deteksi dini risiko aspirasi. Literature review dilakukan terhadap jurnal nasional dan internasional bereputasi yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Penelusuran dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, CINAHL, Science Direct, ProQuest, dan Google Scholar. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi yang berfokus pada pengetahuan perawat, skrining disfagia, dan risiko aspirasi. Data dianalisis menggunakan kerangka PICOT dan disintesis secara naratif. Sebanyak 20 artikel dianalisis. Sebagian besar studi observasional menunjukkan bahwa pengetahuan perawat tentang skrining disfagia berada pada kategori rendah hingga sedang, terutama pada aspek identifikasi risiko aspirasi, prosedur skrining, dan pendokumentasian. Tingkat pengetahuan yang lebih baik berkaitan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman klinis, bekerja di unit neurologi atau perawatan intensif, serta pengalaman mengikuti pelatihan disfagia. Studi intervensi menunjukkan bahwa edukasi terstruktur, pelatihan berbasis video, program berbasis kompetensi, dan implementasi skrining disfagia berbasis perawat secara signifikan meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, dan praktik skrining perawat. Pengetahuan perawat tentang skrining disfagia masih belum optimal di berbagai setting pelayanan kesehatan. Penguatan pendidikan berkelanjutan, standardisasi protokol skrining disfagia, dan dukungan institusional diperlukan untuk meningkatkan deteksi dini risiko aspirasi dan keselamatan pasien. Kata Kunci: Pengetahuan Perawat, Skrining Disfagia, Risiko Aspirasi.   ABSTRACT Dysphagia is a frequent complication among patients with neurological disorders, particularly stroke, and is a major contributor to aspiration and aspiration pneumonia, which significantly increase morbidity, mortality, and length of hospital stay. Early detection of dysphagia through bedside screening is strongly recommended to improve patient safety. Nurses play a critical role in dysphagia screening; however, variations in nurses’ knowledge may hinder optimal early detection of aspiration risk. This literature review aims to synthesize evidence regarding nurses’ knowledge of dysphagia screening in the early detection of aspiration risk. A literature review was conducted using national and international peer-reviewed journals published between 2020 and 2025. Databases searched included PubMed, Scopus, CINAHL, ScienceDirect, ProQuest, and Google Scholar. Studies were selected based on predefined inclusion criteria focusing on nurses’ knowledge, dysphagia screening, and aspiration risk. Data were extracted and analyzed using a structured PICOT framework, and findings were synthesized narratively. A total of 20 studies were included. Most observational studies reported that nurses’ knowledge of dysphagia screening ranged from low to moderate, particularly in identifying aspiration risk, screening procedures, and documentation. Higher knowledge levels were associated with higher educational background, clinical experience, work in neurological or critical care units, and prior dysphagia training. Educational interventions, such as structured training programs, video-based education, competency-based programs, and implementation of nurse-led screening tools, consistently demonstrated significant improvements in nurses’ knowledge, self-efficacy, and screening practices. Nurses’ knowledge of dysphagia screening remains suboptimal in many clinical settings, despite its crucial role in early detection of aspiration risk. Structured and continuous education, standardization of dysphagia screening protocols, and institutional support are essential to enhance nurses’ knowledge, improve screening practices, and promote patient safety. Keyword: Nurses’ Knowledge, Dysphagia Screening, Aspiration Risk.
Gambaran Pengetahuan dan Praktik Pemenuhan Gizi Seimbang pada Remaja Perempuan Amara Putri Hermawanti; Mira Trisyani Koeryaman; Lilis Mamuroh
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.25414

Abstract

ABSTRACT Adolescents are a vulnerable age group prone to nutritional problems due to changes in dietary patterns, which often result in an imbalance between nutritional needs and daily intake. In addition to increasing the risk of obesity and anemia among adolescent girls, this imbalance also contributes to the risk of stunting in future generations. This study aims to determine the knowledge and practices regarding balanced nutrition among adolescent girls at SMKS Mutiara Bangsa Purwakarta. The research method used was quantitative descriptive with a total sampling technique involving 106 female students from grades 10 to 12. Data collection was conducted using a questionnaire consisting of 44 items to explore knowledge and practices regarding balanced nutrition. The data were analyzed univariately and presented in the form of frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that the majority of respondents had a level of knowledge regarding balanced nutrition in the “inadequate” category (32 respondents, 30.2%), followed by the “good” category (74 respondents, 69.8%). Regarding the practice of balanced nutrition, the majority of respondents were in the “inadequate” category (57 respondents, 46.2%), while 49 respondents (53.8%) were in the “good” category. Based on the research results, this indicates that adolescents’ level of nutritional knowledge has not been fully implemented in daily nutritional practices. Therefore, efforts to raise awareness and change nutritional behaviors starting in adolescence are needed to support optimal growth, improve health status, and prevent various nutritional problems in the future. Keywords: Adolescents, Nutritional Knowledge and Practices, Nutritional Status.  ABSTRAK Remaja adalah kelompok usia rentan mengalami masalah gizi akibat perubahan pola makan yang seringkali ditemukan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pemenuhan gizi harian. Selain menimbulkan potensi obesitas dan anemia pada remaja perempuan, juga sebagai salah satu kontrubutor risiko stunting pada generasi berikutnya di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan dan parktik pemenuhan gizi seimbang pada remaja perempuan di SMKS Mutiara Bangsa Purwakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling pada 106 siswi dari kelas 10 sampai 12. Pengumpulan data  dilakukan menggunakan kuesioner sebanyak 44 item pertanyaan untuk menggali pengetahuan dan praktik pemenuhan gizi seimbang. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan gizi seimbang dalam kategori kurang yaitu 32 (30,2%), diikuti kategori baik 74 (69,8%). Sedangkan pada praktik pemenuhan gizi seimbang, sebagian besar responden berada pada kategori kategori kurang 57 (46,2%), dan kategori baik 49 (53,8%). Berdasarkan hasil penelitian, ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang gizi belum sepenuhnya diimplementasikan dalam praktik pemenuhan gizi sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku gizi sejak usia remaja guna mendukung pertumbuhan optimal, meningkatkan status kesehatan, serta mencegah terjadinya berbagai masalah gizi di masa mendatang. Kata Kunci: Pengetahuan Gizi, Praktik Gizi, Remaja, Status Gizi, Kesehatan Remaja.
Gambaran Klinis, Karakteristik, dan Perawatan Hipomineralisasi Molar Kedua Sulung : Tinjauan Pustaka Jihan Syahrani; Enrita Dian Rahmadini; Sri Ratna Laksmiastuti
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.25242

Abstract

ABSTRACT Hypomineralized Second Primary Molar (HSPM) is a qualitative systemic enamel defect resulting from structural developmental disturbances during the formation of the second primary molar's enamel. This condition is characterized by demarcated enamel opacities affecting one or more teeth, with varies prevalence between countries ranging from 0% to 41%. HSPM is clinically significant as it serves as a strong predictor for Molar Incisor Hypomineralization (MIH) in permanent dentition, with affected children facing a five-fold higher risk. This literature review aims to provide a comprehensive overview of the clinical features, and diagnosis of HSPM to facilitate early clinical detection. Clinically feature of HSPM varies from cream to yellow-brown demarcated opacities, post-eruptive enamel breakdown (PEB), atypical caries, and acute hypersensitivity, which can significantly diminish the patient's quality of life. Diagnosis typically fol lows the European Academy of Paediatric Dentistry (EAPD) criteria of MIH or HSPM. Teeth affected by HSPM are five times more likely to develop dental caries compared to normal teeth therefore a comprehensive early diagnosis and early treatment is needed to prevent progressive tooth destruction and improve oral health outcomes in pediatric patients. Management strategies range from non-invasive preventive measures, such as fluoride application and Casein Phosphopeptide-Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP), to restorative treatments using resin composites or full-coverage crowns for severe cases. Keywords: Hypomineralized Second Primary Molar (HSPM), Enamel Defects, Pediatric Dentistry, Early Diagnosis.  ABSTRAK Molar Kedua Sulung Hipomineralisasi (Hypomineralized Second Primary Molar/HSPM) merupakan defek email sistemik secara kualitatif yang diakibatkan oleh gangguan perkembangan struktural selama proses pembentukan email gigi molar kedua sulung. Kondisi ini ditandai dengan adanya opasitas email yang berbatas jelas pada satu atau lebih gigi, dengan prevalensi yang bervariasi antar negara, berkisar antara 0% hingga 41%. HSPM memiliki signifikansi klinis yang penting karena berfungsi sebagai prediktor kuat bagi kondisi Molar Incisor Hypomineralization (HMI) pada gigi permanen, di mana anak-anak yang terdampak memiliki risiko 5 kali lipat lebih tinggi. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai karakteristik klinis dan diagnosis HSPM guna memfasilitasi deteksi klinis sedini mungkin. Karakteristik klinis HSPM bervariasi, mulai dari opasitas berbatas jelas berwarna krem hingga kuning-kecokelatan, kerusakan email pasca-erupsi (post-eruptive enamel breakdown/PEB), karies atipikal, serta hipersensitivitas akut yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Diagnosis umumnya ditegakkan berdasarkan kriteria HMI atau HSPM dari European Academy of Paediatric Dentistry (EAPD). Gigi yang mengalami HSPM memiliki kemungkinan lima kali lebih besar untuk berkembang menjadi karies gigi dibandingkan gigi normal; oleh karena itu, diperlukan diagnosis dan penanganan dini yang komprehensif untuk mencegah kerusakan gigi progresif serta meningkatkan derajat kesehatan mulut pada pasien pediatrik. Strategi penatalaksanaan mencakup tindakan preventif non-invasif, seperti aplikasi fluorida dan Casein Phosphopeptide-Amorphous Calcium Phosphate(CPP-ACP), hingga perawatan restoratif menggunakan komposit resin atau mahkota selubung (full-coverage crowns)pada kasus yang berat. Kata Kunci: Hipomineralisasi Molar Kedua Sulung (HSPM), Defek Email, Kedokteran Gigi Anak, Diagnosis Dini.
Perbedaan Pemberian Media Leaflet Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Sadari Herlinda Herlinda; Ade Elvina; Juanda Syafitasari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25646

Abstract

ABSTRACT Breast cancer is the number one cancer in women in the world. Breast cancer mortality rates are higher in developing countries than in developed countries. The incidence of cancer in Indonesia is 136.2/100,000 population, ranking 8th in Southeast Asia, while in Asia it is ranked 23rd. This study aims to determine the difference in knowledge of young women about breast cancer with BSE behavior. This study design is a quasi-experimental design using a pretest-posttest control group design. The population in this study was 280 people and the number of samples in this study was 37 people using a proportional random sampling technique. The data collection method in this study used a questionnaire. Data analysis used univariate and bivariate analysis with a T-test statistical test. The results showed that 39.4% of respondents had sufficient knowledge, 29.6% had insufficient knowledge, and 31.0% had insufficient knowledge. From the results of the T-test, it was found that there was a difference between knowledge and BSE behavior, mean = 11.5 knowledge before being given the leaflet media, and mean = 13.5 knowledge after being given the leaflet media. It is hoped that schools will collaborate with health workers to provide education on BSE for early detection of breast cancer. Keywords: Leaflet, Knowledge, Adolescent Girls, SADARI.  ABSTRAK Kanker payudara merupakan urutan pertama kanker pada perempuan di dunia. Angka kematian kanker payudara lebih tinggi pada negara berkembang dibandingkan negara maju. Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia sebanyak 136,2/100.000 penduduk berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara dengan perilaku SADARI. Desain penelitian ini yaitu quasi eksperimen dengan menggunakan rancangan pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah 280 orang dan jumlah sampel dalam penelitian ini 37 orang dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Metode pengambilan data dalam penelitian ini dengan menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik T-test. Hasil penelitian menunjukkan 39,4% responden pengetahuan cukup, 29,6% memiliki pengetahuan kurang, dan 31,0% memiliki pengetahuan kurang. Dari hasil uji T-test didapatkan ada perbedaan antara pengetahuan dengan perilaku SADARI mean = 11,5 pengetahuan sebelum diberikan media leflet, dan mean =13,5 pengetahuan sesudah diberikan media leflet. Diharapkan agar pihak sekolah bekerja sama dengan petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan mengenai SADARI untuk mendeteksi dini terjadinya kanker payudara.  Kata Kunci: Leaflet, Pengetahuan, Remaja Putri, SADARI.
Pengaruh Teknik Pernapasan Tiup-Tiup (Pursed Lips Breathing) terhadap Durasi Kala II Pada Ibu Bersalin Primigravida di Taman Ibu Bidan Annisa dan TPMB Bidan Diati Malang Safira Adelia Tohari; Anik Purwati; Rifzul Maulina
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25625

Abstract

ABSTRACT In first-time pregnant women (primigravidas), the second stage of labor is a crucial period that often lasts longer and poses a risk of problems such as fetal distress and maternal fatigue. The pursed-lip breathing technique is a non-pharmacological method that can be used to help regulate breathing and promote calm during labor. The purpose of this study was to determine how the pursed-lip breathing method affects the duration of the second stage of labor in primigravida women. This study used a posttest-only control group and a quasi-experimental design. Twenty individuals formed the study sample, divided into the intervention group and the control group. An independent t-test was used to analyze the data. According to the findings, the second stage of labor lasted an average of 60.90 minutes in the intervention group and 54.40 minutes in the control group. According to the statistical test findings, there was no significant difference between the two groups, with a p-value of 0.633 (0.05). This study concluded that the pursed-lip breathing method has implications for increasing maternal comfort and relaxation during labor, but has no significant effect on the duration of the second stage of labor.   Keywords: Childbirth, Second Stage, Primigravida, Pursed Lips Breathing.   ABSTRAK Pada wanita hamil pertama kali (primigravida), tahap kedua persalinan merupakan periode penting yang seringkali berlangsung lebih lama dan menimbulkan risiko masalah seperti gawat janin dan kelelahan ibu. Teknik pernapasan bibir mengerucut adalah metode non-farmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengatur pernapasan dan meningkatkan ketenangan selama persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode pernapasan bibir mengerucut memengaruhi durasi tahap kedua persalinan pada wanita primigravida. Penelitian ini menggunakan kelompok kontrol posttest-only dan desain kuasi-eksperimental. Dua puluh individu membentuk sampel penelitian, dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Uji t independen digunakan untuk menganalisis data. Menurut temuan, tahap kedua persalinan berlangsung rata-rata 60,90 menit pada kelompok intervensi dan 54,40 menit pada kelompok kontrol. Menurut temuan uji statistik, tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok, dengan nilai p 0,633 (0,05). Studi ini menyimpulkan bahwa metode pernapasan dengan bibir mengerucut memiliki implikasi untuk meningkatkan kenyamanan dan relaksasi ibu selama persalinan, tetapi tidak memiliki efek signifikan pada durasi tahap kedua persalinan.  Kata Kunci: Persalinan, Kala II, Primigravida, Pernapasan Tiup-Tiup. 
Hubungan Pengetahuan dengan Keikutsertaan Melakukan Inspeksi Visual Asam Asetat Wanita Usia Subur di Puskesmas Selemadeg Barat Ayu Somandariani; Asep Arifin Senjaya; Gusti Ayu Tirtawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.22574

Abstract

ABSTRACT Cervical cancer is the most common cancer in Indonesia due to late detection of the disease. The last IVA socialization was conducted before the COVID-19 Pandemic. The number of WUS was 5,123 people, while only 248 people performed VIA examinations. This study was conducted in March - April 2025. The purpose of the study was to determine the relationship between knowledge and participation in conducting acetic acid visual inspection in women of childbearing age. This research design is analytic observational using cross sectional research design. Data collection in this study by distributing questionnaires. The population was 5,123 women of childbearing age. Respondents were 38 women of childbearing age using the correlative analysis formula. Purposive sampling method. The research instrument used a questionnaire. Data analysis using univariate and bivariate. The results showed that most of the knowledge of women of childbearing age in conducting visual inspection of acetic acid was sufficient as many as 22 people (57.9%). Most of the knowledge of women of childbearing age following visual inspection of acetic acid as many as 20 people (52.6%). Chi-square test results obtained p value: 0.003 (0.05). The study concluded that there was a relationship between knowledge and participation in conducting visual inspection of acetic acid of women of childbearing age. Health services and health workers, especially midwives, should always strive to optimize IVA early detection services.  Keywords: Participation, Visual Acetic Acid, Women of Child-Bearing Age.  ABSTRAK Kanker serviks merupakan kanker terbanyak di Indonesia disebabkan terlambatnya deteksi dini penyakit. Sosialisasi mengenai IVA terakhir dilakukan sebelum Pandemi COVID-19. Jumlah WUS sebanyak 5.123 orang, sedangkan yang melakukan pemeriksaan IVA hanya 248 orang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2025. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan keikutsertaan melakukan inspeksi visual asam asetat pada wanita usia subur. Desain penelitian ini adalah observasional analitik menggunakan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data pada penelitian ini dengan membagikan kuesioner. Populasi sebanyak 5.123 wanita usia subur. Responden sebanyak 38 wanita usia subur dengan menggunakan rumus analisis korelatif. Metode pengambilan sampel dengan Purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pengetahuan Wanita usia subur dalam melakukan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat adalah cukup sebanyak 22 orang (57,9%). Sebagian besar pengetahuan Wanita usia subur mengikuti pemeriksaan inspeksi visual asam asetat sebanyak 20 orang (52,6%). Hasil uji Chi-square diperoleh nilai p: 0,003 ( 0,05). Simpulan penelitian ada hubungan antara Pengetahuan Dengan Keikutsertaan Melakukan Inspeksi Visual Asam Asetat Wanita Usia Subur. Layanan kesehatan dan tenaga kesehatan khususnya bidan agar senantiasa berupaya mengoptimalkan layanan deteksi dini IVA kepada Wanita usia subur melalaui upaya promosi dan preventif di masyarakat.  Kata Kunci: Keikutsertaan, Visual Asam Asetat, Wanita Usia Subur.
Fenomena Self-harm: Studi Prevalensi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Syarifah Aini; Patrick Chang; Diyaz Syauki Ikhsan; Bintang Arroyantri Prananjaya; Puji Rizki Suryani; Lathifah Nudhar
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.26806

Abstract

ABSTRACT Self-harm is the deliberate act of injuring oneself without suicidal intent and is commonly regarded as a maladaptive coping strategy for managing emotional distress. Medical students are particularly vulnerable because of the intense academic demands and psychological pressures associated with medical training. However, evidence regarding the prevalence of self-harm among Indonesian medical students remains limited. This study aimed to determine the prevalence of self-harm among undergraduate medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya. A descriptive cross-sectional study was conducted between May and June 2021 using an online survey with the Self-Harm Behavior Questionnaire (SHBQ). A total of 187 preclinical medical students from the 2017–2019 cohorts participated, with most respondents coming from the 2017 cohort (71.7%). The findings revealed that 26 students (13.9%) had engaged in self-harm, comprising 18 students (9.6%) from the 2017 cohort, 4 students (2.1%) from the 2018 cohort, and 4 students (2.1%) from the 2019 cohort. The highest prevalence was observed among senior students, suggesting that cumulative academic responsibilities and prolonged exposure to educational stress may increase the likelihood of maladaptive coping behaviors. Self-harm was frequently reported as a means of regulating overwhelming negative emotions, expressing anger, or self-punishment. The prevalence identified in this study exceeded that reported among medical students in the United States (9.4%), which may partly reflect the anonymous nature of the survey that encouraged more candid responses. These findings highlight the need for early identification, routine mental health screening, and comprehensive psychological support programs within medical education. Keywords: Self-Harm, Self-Harm Behavior Questionnaire (SHBQ), Medical Students, Sriwijaya University.  ABSTRAK Self-harm merupakan perilaku melukai diri sendiri secara sengaja tanpa adanya niat untuk mengakhiri hidup dan sering muncul sebagai respons terhadap tekanan emosional. Mahasiswa kedokteran termasuk kelompok yang rentan mengalami self-harm karena menghadapi tuntutan akademik yang tinggi, sehingga prevalensinya di Indonesia penting untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan menentukan prevalensi self-harm pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Penelitian menggunakan desain deskriptif cross-sectional yang dilakukan secara daring pada mahasiswa preklinik angkatan 2017–2019 selama Mei–Juni 2021 menggunakan instrumen Self-Harm Behavior Questionnaire (SHBQ). Sebanyak 187 mahasiswa berpartisipasi, dengan mayoritas berasal dari angkatan 2017 (71,7%). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi self-harm sebesar 13,9% (26 mahasiswa), terdiri atas 18 mahasiswa angkatan 2017 (9,6%), 4 mahasiswa angkatan 2018 (2,1%), dan 4 mahasiswa angkatan 2019 (2,1%). Proporsi terbesar ditemukan pada mahasiswa tahun akhir, yang bersesuaian dengan meningkatnya tuntutan akademik, tanggung jawab, serta akumulasi stres selama pendidikan kedokteran. Self-harm umumnya digunakan sebagai mekanisme koping maladaptif untuk meredakan emosi negatif, mengekspresikan kemarahan, atau menghukum diri sendiri. Prevalensi yang didapat pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan penelitian di Amerika Serikat (9,4%), kemungkinan dipengaruhi oleh penggunaan survey bersifat anonim sehingga responden lebih terbuka dalam melaporkan perilakunya. Temuan ini menunjukkan bahwa self-harm merupakan masalah kesehatan mental yang memerlukan perhatian serius, sehingga diperlukan upaya deteksi dini, skrining rutin, serta intervensi psikologis yang komprehensif di lingkungan pendidikan kedokteran. Kata Kunci: Self-Harm, Self-Harm Behavior Questionnaire (SHBQ), Mahasiswa Kedokteran, Universitas Sriwijaya.
Effectiveness of HIV/AIDS Education Using Leaflets and Tiktok Videos for Adolescents in Panimbang District, Pandeglang Regency E. Egriana Handayani; Siti Nur Ramdaniati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25535

Abstract

ABSTRACT HIV/AIDS among teenagers is a problem that is still quite high and has an impact on adolescent health. HIV/AIDS often occurs because sexual activity among teenagers is increasing due to knowledge about HIV/AIDS not being improved. Objective This research is to determine the effectiveness of counseling using leaflets and Tiktok video media for teenagers in Panimbang District, Pandeglang Regency in 2024. Method of this research is a quasi-experimental quantitative research with a two group pre-test and post-test design, data was collected using a pre-questionnaire.- test and post-test. The population of this study was 2425. The sample in this study was 378 respondents who were divided into 2 groups, 189 respondents as the leaflets outreach group and 189 respondents as the tiktok video outreach. Result: There was an increase in the average value of knowledge and attitudes between before and after HIV/AIDS education using leaflets and tiktok videos among teenagers in Panimbang District. Conclusion: HIV/AIDS education using TikTok video is more effective than leaflets. Keywords: Media, Leaflet, Knowledge, HIV/AIDS Education, Video Tiktok.
Aplikasi Tindakan Keperawatan Pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF) Dengan Masalah Keperawatan Hipervolemia Tati Karyawati; Ahmad Zakiudin; Muhammad Ragil Bahtiar
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.23770

Abstract

ABSTRACT Congestive Heart Failure (CHF) is a heart condition in which the heart fails to pump blood to adequately supply the body's cells with nutrients and oxygen. A common symptom and major problem in CHF is edema in the legs, with an incidence reaching 80% of CHF patients. Edema in CHF patients can lead to a major nursing problem, hypervolemia. Therefore, a nursing plan is needed to address fluid balance. The purpose of this study was to describe the application of nursing care to CHF patients. The research method used was a case study design and the number of respondents was two patients who met the criteria for clients experiencing hypervolemia in CHF. The results showed that the problem of hypervolemia was partially resolved for 3 days in both patients, indicated by a significant decrease in edema, significant improvement in blood pressure, and increased urine output. Conclusion: With hypervolemia management, fluid balance will improve. Keywords: Nursing Action Aplication, Congestive Heart Failure, Hypervolemia.  ABSTRAK Congestive Heart Failure/Gagal Jantung Kongestif adalah salah satu kondisi jantung dimana jantung mengalami kegagalan dalam memompa darah guna mencukupi sel-sel tubuh akan nutrient dan oksigen secara adekuat. Gejala yang sering muncul dan menjadi masalah utama dari penyakit CHF adalah edema pada kaki, dengan persentase kejadian mencapai 80% dari total pasien CHF). Edema yang timbul pada pasien CHF dapat menyebabkan masalah keperawatan utama yaitu hipervolemia. Oleh karena itu, perlu rencana keperawatan untuk mengatasi keseimbangaan cairan dapat meningkat. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan aplikasi keperawatan pada pasien CHF. Metode penelitian yang digunakan dengan desain studi kasus dan jumlah reponden dua pasien dengan kriteria klien yang mengalami hIpervolemia pada CHF. Hasil penelitian menunjukkan masalah hipervolemia selama 3 hari teratasi sebagian pada kedua pasien yang ditandai dengan edema cukup menurun, tekanan darah cukup membaik, haluaran urine meningkat. Simpulan : Dengan manajemen hipervolemia maka keseimbangan cairan akan membaik. Kata Kunci: Aplikasi Tindakan Keperawatan, Congestive Heart Failure, Hipervolemia.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026) Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026) Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026) Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026) Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue