cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 796 Documents
ANALISIS TREN MIKROBA DAN EVALUASI PENGENDALIAN KONTAMINASI BERDASARKAN DATA PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI FASILITAS PRODUKSI CEPHALOSPORIN TAHUN 2025 Prawicha, Ertika Agtha; Megantara, Sandra; Anggraeni, Audea Fitri
Farmaka Vol 24, No 2 (2026): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i2.70501

Abstract

Pemantauan Lingkungan adalah aspek krusial dalam pengendalian risiko kontaminasi mikroba di fasilitas produksi steril. Penelitian ini bertujuan menyusun database mikroba lingkungan, mengevaluasi sumber potensial kontaminasi, serta memberikan rekomendasi pengendalian risiko di fasilitas produksi Cephalosporin. Data diperoleh dari pemanta]uan lingkungan Kelas A dan B selama periode Januari– Desember 2025 yang meliputi active air sampling, passive air sampling, surface sampling, dan monitoring personil (finger test), dengan total 32.334 petri yang dianalisis. Hasil identifikasi didapatkan lima spesies mikroorganisme dengan total 11 isolat. Bacillus cereus merupakan spesies paling tinggi dengan presentase 55%, diikuti Acinetobacter lwoffii dengan presentase 18%, serta Sphingomonas paucimobilis, Aeromonas salmonicida, dan Staphylococcus cohnii ssp. urealyticus masing-masing dengan presentase 9%. Bakteri yang paling banyak ditemukan berasal dari lingkungan, terutama jenis yang dapat membentuk spora. Pembuatan database mikroba ini membantu dalam melakukan evaluasi tren mikroorganisme serta menjadi dasar dalam menentukan tindakan perbaikan dan pencegahan (CAPA) untuk meningkatkan pengendalian kontaminasi di area produksi steril.Kata kunci: Pemantauan lingkungan, mikroorganisme, sampling.
TELAAH TATA KELOLA PENYIMPANAN OBAT DI SALAH SATU APOTEK JEJARING DI KOTA BANDUNG, JAWA BARAT Aristokrat, Aria; Lestari, Keri
Farmaka Vol 24, No 1 (2026): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i1.68196

Abstract

Untuk memastikan bahwa obat bermutu, aman, dan memiliki khasiat salah satunya adalah dengan memastikan tempat penyimpanannya. Oleh karena itu, penyimpanan obat di fasilitas kesehatan seperti apotek menjadi faktor yang penting. Penelitian ini akan menelaah mengenai tata kelola penyimpanan obat di apotek XYZ di kota Bandung secara observasional dengan pengamatan penyimpanan obat berdasarkan regulasi yang ada. Penyimpanan obat yang sesuai dengan regulasi meliputi sesuai dengan stabilitas obat, pemisahan obat yang mendekati kedaluwarsa, prinsip FIFO serta FEFO, penyimpanan khusus untuk narkotika serta psikotropika, dan tempat penyimpanan obat yang layak (rapi, bersih, dan kokoh). Apotek XYZ sudah menyimpan obat sesuai dengan stabilitasnya, adanya pemsiahan obat yang mendekati kedaluwarsa, diterapkannya prinsip FIFO dan FEFO, tempat penyimpanan obat yang sudah layak, serta untuk narkotika dan psikotropika terdapat penyimpanan khusus. Namun, obat-obatan seperti LASA, high alert, prekursor farmasi, dan obat-obatan tertentu masih belum disimpan sesuai dengan regulasi di apotek XYZ. Penyimpanan obat LASA serta high alert disimpan bersamaan dengan obat-obatan lainnya. Oleh karena itu, diperlukannya penataan ulang penyimpanan obat-obatan tersebut untuk meminimalisasi terjadinya medication error.
LITERATURE REVIEW: PERAN APOTEKER DALAM PELAYANAN SWAMEDIKASI PENYAKIT KULIT AKIBAT JAMUR DI APOTEK Safitri, Ratnadani Amalia; Lestari, Keri
Farmaka Vol 24, No 2 (2026): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i2.70266

Abstract

Infeksi jamur kulit banyak terjadi, terutama di wilayah tropis, dan sering ditangani melalui swamedikasi di apotek. Dalam kondisi ini, apoteker berperan penting memastikan penggunaan obat yang tepat dan rasional. Artikel ini membahas peran apoteker dalam swamedikasi penyakit kulit akibat jamur, meliputi edukasi pasien, pemilihan terapi antijamur yang sesuai, pengenalan infeksi jamur kulit, serta tantangan dan peluang praktik di apotek. Hasil telaah menunjukkan bahwa keterlibatan aktif apoteker dapat meningkatkan kepatuhan terapi, mencegah komplikasi, dan memperbaiki kualitas hidup pasien.Kata kunci: Swamedikasi; infeksi jamur kulit; dermatofitosis; apoteker; apotek
ANALISIS PENGELOLAAN PERSEDIAAN OBAT MENGGUNAKAN METODE ABC-VEN DI RUMAH SAKIT X KOTA BANDUNG PADA TAHUN 2025 Nisrina, Salma; Wilar, Gofarana
Farmaka Vol 24, No 2 (2026): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i2.70664

Abstract

Pengelolaan obat yang efektif merupakan faktor penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan dan efisiensi anggaran di rumah sakit. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan obat menggunakan metode ABC, VEN, dan indikator Inventory Turnover Ratio (ITOR) di RS X Kota Bandung. Data penggunaan obat selama satu tahun dianalisis berdasarkan nilai investasi dan tingkat kepentingan klinis. Analisis ABC menunjukkan Kelompok A menyerap 69,88% anggaran meskipun hanya mencakup 11,66% item obat. Berdasarkan analisis VEN, kelompok Essential (E) mendominasi dengan 67,60% jumlah item dan 66,95% nilai investasi. Hasil ITOR menunjukkan nilai 4,15 kali per tahun, yang berada di bawah standar ideal rumah sakit (8–12 kali), mengindikasikan terjadinya penumpukan stok (overstock). Pengendalian persediaan di RS X belum optimal dan memerlukan integrasi metode ABC-VEN dengan pendekatan Economic Order Quantity (EOQ) serta Reorder Point (ROP) untuk meningkatkan efisiensi manajemen logistik farmasi.Kata kunci: analisis ABC, analisis VEN, ITOR, manajemen obat, pengendalian persediaan
POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI POLI JANTUNG KLINIK XYZ KOTA BANDUNG PERIODE JANUARI 2025 Mulpiawan, Nadiya Ramadanty; Dandan, Keri Lestari; Ramadhan, Iqbal Sujida
Farmaka Vol 24, No 1 (2026): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i1.69370

Abstract

Hipertensi adalah kondisi kronis yang banyak dijumpai dan menjadi salah satu faktor risiko paling penting dalam memicu berbagai komplikasi kardiovaskular.. Pemilihan terapi antihipertensi yang efektif berkontribusi signifikan terhadap pencegahan komplikasi jangka panjang akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kecenderungan penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang menjalani perawatan di Poli Jantung Klinik XYZ Kota Bandung pada Januari 2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain non-eksperimental dan pengumpulan data secara retrospektif melalui rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Dari total 551 pasien, kelompok usia terbanyak adalah >65 tahun (55,4%) dan pasien laki-laki sedikit lebih mendominasi (51,2%). Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa sebagian besar pasien menerima terapi kombinasi (79,9%), sedangkan terapi tunggal diberikan pada 20,1% pasien. Dalam regimen monoterapi, jenis obat yang paling dominan digunakan berasal dari golongan Beta Blocker (14,2%). Sementara itu, kombinasi paling umum yang diresepkan ialah ARB + Beta Blocker (15,1%), diikuti oleh Beta Blocker + Diuretik (11,4%) serta ARB + Beta Blocker + Diuretik (10,7%). Secara keseluruhan, pola penggunaan obat antihipertensi pada penelitian ini telah selaras dengan pedoman klinis dan mencerminkan upaya optimalisasi terapi dalam mencapai target tekanan darah pasien.
TINJAUAN REGULASI KOSMETIKA DI INDONESIA DAN PERBANDINGANNYA DENGAN REGULASI INTERNASIONAL (ASEAN, EU, & FDA) Priana, Diva Dhaifina Mazaya; Mita, Soraya Ratnawulan
Farmaka Vol 24, No 2 (2026): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i2.70413

Abstract

Pesatnya perkembangan industri kosmetik saat ini menuntut penguatan regulasi yang mampu menjamin keamanan dan mutu produk, terutama di tengah maraknya peredaran kosmetik ilegal. Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif kerangka regulasi kosmetika di Indonesia yang diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta membandingkannya dengan standar internasional guna memetakan arah peningkatan daya saing produk domestik dan meningkatkan keamanan konsumen. Metode yang digunakan adalah studi literatur deskriptif komparatif yang membandingkan enam aspek regulasi yaitu: dasar hukum, mekanisme registrasi, labeling, pengaturan bahan, serta pengawasan pra-pemasaran dan pasca-pemasaran. Objek perbandingan mencakup ASEAN Cosmetic Directive (ACD), Regulasi European Cosmetic (EC) No. 1223/2009, dan Federal Food, Drug, and Cosmetics Act (FD&C Act) yang diperkuat oleh Undang-Undang Modernisasi Regulasi Kosmetik (Modernization of Cosmetics Regulation Act (MoCRA)). Hasil perbandingan menunjukkan bahwa Indonesia telah mengadopsi sistem Notifikasi dan kewajiban Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) yang sejalan dengan ketentuan yang berlaku di ACD. Namun, regulasi Uni Eropa dinilai jauh lebih ketat, dalam mengaplikasikan prinsip kehati-hatian dengan mewajibkan Laporan Kemanan Produk Kosmetik (Cosmetic Product Safety Report (CPSR)) serta menetapkan daftar bahan terlarang yang lebih luas. Sementara itu, regulasi FDA Amerika Serikat cenderung menitikberatkan pengawasan pada fase pasca-pemasaran, meskipun MoCRA telah menetapkan kewajiban pendaftaran produk (product listing). Penelitian ini menunjukan bahwa Indonesia telah menerapkan sistem pengawasan kombinasi, yaitu lebih proaktif dari FDA tetapi tidak lebih ketat dari EU. Oleh karena itu, Indonesia masih dapat memperkuat aspek keamanan pra-pemasaran untuk meningkatkan daya saing global dan mempermudah jalur ekspor.

Filter by Year

2015 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 2 (2026): Farmaka (Juli) Vol 24, No 1 (2026): Farmaka (Maret) Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue