cover
Contact Name
Rahmad Fani Ramadhan
Contact Email
rahmad.fani@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalilmuternak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Ternak
ISSN : 14105659     EISSN : 26215144     DOI : -
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran encompasses a broad range of research topics in animal sciences: breeding and genetics, reproduction and physiology, nutrition, feed sciences, agrostology, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, health, livestock farming system, socio-economic, and policy. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran published by twice a year, June and December
Arjuna Subject : -
Articles 418 Documents
Karakteristik Hasil Penetasan Puyuh Pedaging Malon dan Jepang Terseleksi Generasi ke Lima Endang Sujana; T. Widjastuti; I. Setiawan; A. Anang
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 2 (2018): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.803 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i2.18287

Abstract

Penelitian dengan judul Karakteristik Hasil Penetasan Puyuh Pedaging Malon dan Jepang Terseleksi Generasi Ke Lima telah dilaksanakan di Test Farm KVS Majalaya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mengevaluasi hasil penetasan  puyuh Pedaging Malon dan Jepang Terseleksi Generasi Ke Lima.  Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif.  Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan terhadap ukuran pemusatan yaitu nilai rata-rata dan ukuran penyebaran yaitu nilai standard deviasi.  Telur puyuh yang digunakan percobaan sebanyak 600 butir atau 300 butir setiap galur.  Peubah yang diamati adalah fertilitas (%), daya tetas (%), kematian embrio (%) dan bobot tetas.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil penetasan telur puyuh pedaging Malon dan Jepang Terseleksi Generasi Ke Lima termasuk baik.  Hal ini dapat dilihat pada data hasil penelitian bahwa telur tetas yang berasal dari pembibitan puyuh Malon memiliki fertilitas yang tinggi (95,83%), daya tetas yang baik (80,76%), kematian embrio 19,24% dan bobot tetas yang tinggi 8,56 ±0,90g. Selanjutnya hasil penelitian bahwa telur tetas yang berasal dari pembibitan puyuh Jepang Terseleksi memiliki fertilitas yang tinggi (96,67%), daya tetas yang baik (82,73%), kematian embrio 17,27% dan bobot tetas yang tinggi 8,52 ±0,695 g.                           
Kecernaan Ransum Yang Mengandung Kulit Singkong (Manihot utilisama Pohl) Kering Pada Domba Ghea Kemala; Ratna Utami Dewi; Iman Hernaman; Ana Rochana Tarmidi; Budi Ayuningsih
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 2 (2019): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.347 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i2.25846

Abstract

Kulit singkong merupakan limbah pertanian yang masih memiliki potensi nutrien untuk ruminansia. Penelitian bertujuan untuk mengkaji penggunaan kulit singkong dalam ransum domba dan dampaknya terhadap kecernaan. Dua puluh ekor domba dengan bobot badan 23 ± 1,2 kg dialokasikan secara acak ke dalam 5 macam perlakuan ransum yang mengandung 0, 6, 12, 18, dan 24 %. Data terkumpul dilakukan analysis ragam (ANOVA). Hasil analsis menunjukan bahwa semua perlakuan menghasilkan kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar dan lemak kasar yang sama dengan kisaran nilai berturut-turut 63,31-66,80%, 70,84-74,23%, 59,73-63,13%, dan 25,68-37,42%. Kesimpulan, penggunaan singkong kering dalam ransum domba sebanyak 24% tidak mengganggu kecernaan.
Pengaruh Penggunaan Limbah Sayuran dalam Ransum Terhadap Performa Produksi Itik Petelur Emy Saelan; A. S. Nurdin
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 2 (2018): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v18i2.19501

Abstract

The waste vegetables ration the effect to the performance production have been done in cage experiment of Poultry Production Farm in Agriculture Studi Programs Khairun University, Ternate, Maluku Utara. An exsperiment using laying ducks padjadjaran age 46 weeks as 64 ducks. The research used to Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 replications of, R0 (100% control rations); R1 (5% waste vegetables + 95% control rations); R2 (10% waste vegetables + 90% control rations); and R3 (15% waste vegetables + 85% control rations); and to see the effect of trend pattern of each treatment was done by orthogonal polynomial test. The results (1). Egg production average is R0 (63,04%); R1 (65,37%); R2 (69,79%) and R3 (70,57%) was significantly different (P<0.05); (2). Rations of consumption is R0 (154.36 gram); R1 (153.66 gram); R2 (151.48); and R3 (150.60 gram) was significantly different (P<0.05) between treatment of R0, R2 and R3; (3) Feed conversion rations is R0 (3.46); R1 (3.35); R2 (3.08) and R3 (3.03) was significantly different (P<0.05) R0, R2 and R3, but not significantly different between treatment of R2 and R3 (P>0,05). The use of waste vegetables ration up to 15% in laying ducks rations real increased egg production, improve consumption and feed conversion rations.
Pengaruh Pemberian Silase Campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah Pada Berbagai Rasio terhadap Kecernaan Serat Kasar dan BETN Pada Domba Garut Jantan Annisa Savitri Wijaya; Tidi Dhalika; Siti Nurachma
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.586 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.16499

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio terbaik Indigofera sp. dan Rumput Gajah dalam bentuk silase yang menghasilkan kecernaan serat kasar dan BETN tertinggi pada Domba Garut jantan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan lima perlakuan. Ransum perlakuan terdiri atas silase campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah dengan berbagai rasio yaitu T1 (0% dan 100%), T2 (10% dan 90%), T3 (20% dan 80%), T4 (30% dan 70%), dan T5 (40% dan 60%) serta pada tiap perlakuan ditambahkan Konsentrat dalam jumlah yang sama. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Data hasil penelitian diolah menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian pemberian silase campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah memberikan pengaruh terhadap kecernaan serat kasar, namun tidak memberikan pengaruh terhadap kecernaan BETN pada Domba Garut jantan. Silase campuran Indigofera sp. 20% dan Rumput Gajah 80% menghasilkan nilai kecernaan serat kasar tertinggi.
Kurva Produksi Telur di Awal Masa Peneluran pada Puyuh yang diberi Ransum dengan Kandungan Protein Berbeda Adi Ratriyanto; Brian Fikri Hidayat; Nuzul Widyas; Sigit Prastowo
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.567 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.22171

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pola produksi dan aplikasi model regresi logistik produksi telur puyuh yang diberi ransum dengan level protein berbeda. Sebanyak 225 ekor puyuh didistribusikan dalam 3 perlakuan dan 5 ulangan; jumlah puyuh masing-masing ulangan 15 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah level protein kasar (PK) dalam ransum sebesar 16,5% (P1), 18% (P2) dan 19,5% (P3). Data produksi telur diambil sejak awal peneluran pada masa adaptasi dan selama dua periode produksi telur (2×28 hari) pada masa perlakuan. Data dianalisis menggunakan program R. Perlakuan P2 dan P3 menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi daripada P1 (P<0.05). Model logistik produksi telur puyuh menunjukkan bahwa puncak produksi tertinggi dicapai oleh P3 sedangkan rentang dan laju produksi terbesar dicapai P1. Data aktual produksi telur memiliki kesesuaian (fitness) yang tinggi (R2=0,92–0,97) dengan model logistik. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa semakin tinggi protein kasar menghasilkan produksi telur yang tinggi. Model regresi logistik dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh perlakuan biologis terhadap produksi telur puyuh serta memiliki kesesuaian yang tinggi dengan data aktual.
The Potentials Of Palm Oil Plantation Wastes As Animal Feed At Traditional Farming In Teras Terunjam Subdistrict Muko-Muko District Salam Aritonang; E. Roza; S. H. Tama
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 2 (2018): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.756 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i2.20757

Abstract

Research on the Potential of Palm Oil Plantation Waste as animal Feed at traditional farming in Teras Terunjam Sub District Mukomuko Regency aims to find out the potential of oil palm plantation wastes as animal feed as well as cattle maintenance pattern of beef cattle. The research method used is survey method by using questionnaire. The samples used were 61 farmer determined by Slovin formula. The observed variables are oil palm plantation waste potential as animal feed which consisted of the midrib and the leafs and technical aspects of livestock raisin. The data was analyzed descriptive based on score of Standard Guidelines Identification Technical Factor of Husbandry from Husbandry Directorate General (1990). The results showed that the potential waste of stem and midrib and the leafs from palm oil for the animal feed namely: 57.657.600 kg for each year and this also can feed 6.318,64 AU. As for the technical aspect in beef cattle farming in Teras Terunjam Subdsitrict, Muko-muko Regency namely: 54.31%, with categoris: 51.64% of breeding, 47.78% of feeding, 64.65% of maintenance, 89.25% of the housing, and 45.48% of healthy technical aspect.
Traditional methods of processing livestock feed to reduce antinutrient factor content: a brief review yanuartono - -; Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto; Hary Purnamaningsih; Slamet Raharjo
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 2 (2019): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.793 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i2.23974

Abstract

Anti-nutrients or anti-nutritional factors may be defined as those substances generated in natural feedstuffs by the normal metabolism of species and by different mechanisms. Anti-nutritonal factors are substances which either by themselves or through their metabolic products, interfere with feed utilization and affect the health and production of animal or which act to reduce nutrient intake, digestion, absorption and utilization and may produce other adverse effects Removal of undesirable components is essential to improve the nutritional quality of livestock feed and effectively utilize their full potential as ruminants feed ingredient. It is widely accepted traditionally methods that simple and inexpensive processing techniques are effective methods of achieving desirable changes in the composition of forage, legume and grain. Chopping, grinding, soaking, roasting, germination and chemical treatment could improve the quality of feed because of the reduce, removal or inactivation of some anti-nutritional factors. Traditional methods, both single and combination, have been proven capable of working by small-scale farmers in developing countries and can reduce the operational costs of processing feed ingredients to reduce ANF content and improve the quality of nutritional value.Keywords : anti nutritional factors, feedstuffs, traditionally methods, inexpensive
Viabilitas Oosit Pasca Vitrifikasi menggunakan Kombinasi Ethilen Glikol dan Dimetil Sulfoksida dengan Dua Level Konsentrasi yang Berbeda Tyagita Hartady; Rini Widyastuti; Mas Rizky Anggun Adipurna Syamsunarno
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.422 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.15329

Abstract

Vitrifikasi merupakan metode kriopreservasi untuk membekukan sel secara cepat, tanpa disertai terbentuknya kristal es. Vitrifikasi dilakukan dengan menggunakan krioprotektan yang memiliki toksitas. rendah sehingga oosit dapat mempertahankan viabilitasnya. Dimetil sulfoksida (DMSO) dan ethylene glycol (EG) merupakan krioprotektan intraseluler dengan toksisitas rendah sehingga kombinasi kedua krioprotektan tersebut diharapkan dapat meningkatkan viabilitas oosit pasca vitrifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi viabilitas oosit pasca vitrifikasi dengan menggunakan kombinasi dan DMSO dan EG pada konsentrasi yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Bioteknologi, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran periode September 2016-Desember 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua kelompok perlakuan,  yaitu media vitrifikasi dengan dua konsentrasi yang berbeda: 15% DMSO+15% EG dan media 17% DMSO+17%EG. Setelah seminggu penyimpanan, maka dilakukan proses warming untuk mengevaluasi viabiltias oosit pasca vitrifikasi. Hasil menunjukkan bahwa viabilitas oosit yang divitrifikasi dengan menggunakan 17% DMSO+17%EG nyata lebih tinggi apabila dibandingkan dengan 15% DMSO+15%EG. Kata kunci: vitrifikasi, Dimetil sulfoksida, Ethylen glikol, viabilitas oosit 
Modelling Growth Curves In Kampung Super Garut Chicken Fed With Pasak Bumi Meal (Euricoma longifolia Jack) Abdul Kholik; H. Indrijani; W. Tanwiriah
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.123 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.20257

Abstract

AbstractChicken growth will be showing a curve with certain mathematic model. The aim of this research was to predict growth curve model of kampung super garut chicken Fed With Pasak Bumi Meal (Euricoma longifolia Jack). This research used descriptive eksperimental method with 100, divided in five groups. Every groups fed with Pasak Bumi Meal in five categories is R0 (0%), R1 (0,025%), R2 (0,050%), R3 (0,075%) and R4 (0,100%). Chickens reared for 12 weeks, the collected data is body weight and body weight gain. Scatter plots data is used for estimated determination coefficient (R2), correlation coefficient (r), and standard error (SE). The results showed that; (1) addition of pasak bumi flour in ration at level 0,075% in ration resulted growth performance optimal; (2) The Gompertz model with the formula of  Y = 1965.2 exp (-3.7890e-0.1456t ) was the best model with coefficient determination (R2) of 99.94%, coefficient of correlation (r) of 99.97%, and standard error (SE) of 16.01%. (3) growth rate until 12 weeks ages still increase.
Respon Itik Cihateup dan Itik Rambon Jantan terhadap Imbangan Energi-Protein Ransum pada Sistem Pemeliharaan Minim Air (Response of Cihateup and Rambon Male Ducks on Energy-Protein Ratio in the Diet under Restricted Water Raising System) Siti Wahyuni HS; Abun -; Endang Sujana
Jurnal Ilmu Ternak Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.204 KB) | DOI: 10.24198/jit.v16i2.11569

Abstract

Tujuan penelitian eksperimental ini adalah mempelajari imbangan energi- protein dalam ransum yang dapat menghasilkan performa maksimal pada itik Cihateup dan  Itik Rambon  jantan yang dipelihara secara intensif pada kondisi minim air. Itik dipelihara sejak umur sehari sampaidengan mencapai titik infleksi.   Perlakuan berupa enam  ransum pada imbangan energi-proteinberbeda, terdiri atas R1 ( ME 3000 kkal/kg, protein 20 %); R2 (ME 300 kkal/kg, protein 16 %); R3 (ME 3000 kkal/kg, protein 13,5 %); R4 ( ME 2700 kkal/kg, protein 20 %); R5 (ME 2700 kkal/kg, protein 16 %); R6 (ME 2700 kkal/kg, protein 13,5 %). Setiap perlakuan diulang empat kali, masing- masing ulangan terdiri dari lima ekor anak itik.  Evaluasi performa dilakukan pada umur delapan minggu terhadap peubah-peubah: konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, persentase karkas, dan persentase lemak abdominal dengan mengambil sampel   masing-masing seekor dari tiap unit percobaan. Sisa itik dipelihara sampai mencapai titik infleksi untuk mengamati pertumbuhan selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dan konversi ransum terbaik, itik Cihateup memerlukan ransum dengan kandungan EM 2700 kkal/kg dan protein 20 %; sedangkan itik Rambon cukup dengan kandungan EM 2700 kkal/kg dan protein 13,5 %. Persentase karkas tertinggi dan persentase lemak abdo minal terendah baik pada itik Cihateup maupun itik Rambon dihasilkan oleh pemberian ransum dengan kandungan EM2700 kkal/kg dan protein 13,5 %. Fase starter itik Cihateup jantan berlangsung sampai dengan umur enam minggu, dan fase starter itik Rambon jantan sampai dengan umur lima minggu.  Dapat disimpulkan bahwa fase starter itik Rambon lebih singkat dibandingkan dengan itik Cihateup.Kata kunci : Itik Cihateup, Itik Rambon, minim air, performa

Page 4 of 42 | Total Record : 418