VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Vidya Wertta Journal published by the Religion and Culture Fakulty of the Indonesian Hindu University. Publish twice a year, on April and October. The focus and reach of issues raised in the Vidya Wertta Journal include religion, philosophy, religious and cultural law.
Articles
166 Documents
MAKNA JATAKA MALA PADA CANDI BOROBUDUR BAGI UMAT BUDDHA KABUPATEN GUNUNG KIDUL
Tri Suyatno
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.6674
Candi Borobudur, sebuah keajaiban arsitektur dan warisan budaya Indonesia, menandai salah satu puncak pencapaian peradaban masa lalu. Terletak di dataran tinggi Jawa Tengah, Candi Borobudur memiliki sejarah panjang yang melibatkan berbagai peristiwa dan transformasi budaya. Keunikan struktur dan keindahan ukiran reliefnya tidak hanya mencerminkan kekayaan seni dan keagungan arsitektur, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan spiritual dan perkembangan masyarakat pada masa lalu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui makna Jataka Mala terhadap kehiudpan umat Buddha di Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan metode Trianggulasi data. Hasil dari penelitian ini Jataka Mala, sebagai kumpulan kisah kehidupan Buddha, memiliki makna religius yang mendalam bagi umat Buddha, khususnya dalam perjalanan spiritual mereka. Kisah-kisah Jataka mengajarkan nilai-nilai seperti kebajikan, kesabaran, dan pengorbanan yang menjadi inspirasi dalam praktik Dharma sehari-hari. bahwa ajaran dalam Jataka mengembangkan welas asih, empati, serta saling menghormati antar sesama.
PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
NI Nyoman Aryanawati aryana
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.6678
Pendidikan agama mencoba memproyeksikan bangsa Indonesia tidak hanya cerdas secara nalariah tetapi juga berahklak secara rohaniah. Dalam konteks Hindu model pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran Agama Hindu yang berbasis masalah adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Model pembelajaran Problem Based Learning mengajak peserta didik untuk mampu memecahkan permasalahan yang melibatkan peserta didik secara langsung. Penelitian ini fokus pada beberapa rumusan masalah (1) bagaimana penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL), (2) bagaimana PBL mampu meningkatkan pretasi belajar siswa. Menjawab rumusan masalah di atas diperlukan data-data yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara dan studi pustaka. Dari data yang diperoleh didapat hasil yaitu 1) penerapan model pembelajaran Problem Based Learning menjadi titik awal pembelajaran. Masalah yang digunakan yakni bersifat konstektual dan otentik. Masalah mendorong lahirnya kemampuan siswa berpendapat secara multiperspektif. Masalah yang digunakan dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta kompetensi siswa. Model Problem Based Learning berorientasi pada pengembangan belajar mandiri. 2) penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dari rata-rata nilai 71 menjadi 80.
PENDIDIKAN SEBAGAI METODE PEMBEBASAN : Telaah atas Pemikiran Paulo Freire
Ni Wayan Sulastini
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.6680
Pendidikan hampir selalu menajdi isu anualitas di Indonesia menjalang tahun ajaran baru. Masalah kualitas guru, metode baru karena perkembangan teknologi, juga paradigma Pendidikan yang tidak selesai. Karena itu, Pendidikan dilihat dari sisi yang luas sebagai gerakan transformatif yang ditujukan untuk kebaikan bersama, kebalikan selama ini Pendidikan menjadi tirani. Tokoh yang intens dalam menyuarakan melalui kritik tentang praktek, paradigma Pendidikan yang masih terjajah adalah Paulo Freire. Pendidikan dalam konteks Freire adalah gerakan politik sebagai metode pembebasan dari keterjajahan. Melalui pengumpulan data beberapa dokumen dan peta kognitif teori kritis diperoleh terang pemikiran Freire tentang Pendidikan sebagai metode pembebasan. Pendidikan sebagai metode pembebasan berangkat dari gagasan eksistensialisme tentang dunia objektif dan keberadaan subjek, bahwa peserta didik adalah subjek yang memaknai bukan dimaknai dan Pendidikan harus berada dalam tataran praksis sebagai pendukung praktek-prektek perubahan.
TANGGUNGJAWAB SAKSI INSTRUMENTAIR TERHADAP KERAHASIAAN AKTA NOTARIS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 juncto UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG JABATAN NOTARIS
Ni Luh Mentari Loviana loviana;
I Wayan Adnyana adnyana;
Ni Ketut Ardani Ardani
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.6715
Notaris merupakan pejabat umum yang memiliki kewenangan membuat akta autentik, dan dalam menjalankan tugas dan jabatannya tersebut berdasarkan ketentuan UUJN juga berdasarkan Pasal 1320 dan 1868 KUHPerdata. Setiap peristiwa hukum, termasuk dalam pembuatan akta oleh Notaris, tentunya diperlukan kehadiran saksi-saksi. Saksi yang wajib hadir dalam pembuatan akta adalah saksi instrumentair berjumlah minimal 2 (dua) orang. Saksi inilah yang menyaksikan peresmian suatu akta oleh Notaris, yaitu apakah telah disusun dan dibacakan oleh Notaris dan kemudian ditandatangani oleh para penghadap, saksi dan Notaris. Tanpa kehadiran saksi instrumentair tersebut maka akta yang dibuat di hadapan Notaris hanya akan memiliki kekuatan pembuktian di bawah tangan. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Undang-undang (statute approach), buku-buku literatur, jurnal dan kamus sebagai bahan hukum. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kedudukan saksi instrumentair sebagai salah satu syarat formil dalam proses pembuatan akta autentik, ikut menyaksikan kehadiran penghadap dalam proses pembacaan dan penandatanganan minuta akta oleh Notaris serta memberikan kesaksian bahwa telah terpenuhi formalitas-formalitas yang diwajibkan oleh Undang-undang. Oleh karena itu, saksi instrumentair memiliki kewajiban untuk menjaga kerahasiaan akta Notaris. Dalam upaya untuk mendapatkan kedudukan hukum dan tanggung jawab saksi instrumentair terhadap kerahasiaan akta Notaris, maka dilakukan penelitian ini.
DAMPAK PANDEMI COVID 19 TERHADAP KERAJINAN PATUNG BATU PADAS DI DESA BATUBULAN, GIANYAR
I Wayan Arissusila;
Ni Luh Putu Trisdiyani
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.6835
Desa Batubulan merupakan kawasan pariwisata dengan menampilkan berbagai bentuk patung batu padas yang unik dan menarik misalnya patung dewa dewi, cerita Ramayana dan Mahabarata. Adanya kerajinan patung tersebut memiliki peluang pemasaran yang semakin luas dan dapat memotivasi para perajin untuk meningkatkan kreatifitasnya. Ketika pandemi Covid 19 tahun 2020 berdampak pada kerajinan patung. Penelitian ini berupaya mengkaji dampak pandemi Covid 19 terhadap kerajinan patung di Batubulan dan upaya yang dilakukan para pengrajin untuk menanggulangi dampak tersebut. Dampak pandemi covid 19 terhadap kerajinan patung batu padas di Desa Batubulan dapat dilihat dari pembeli yang semakin berkurang, persaingan harga tidak dapat dihindarkan, permintaan menurun, bahan batu padas mahal, ketelitian perajin jauh menurun karena mengejar harga, perajin beralih profesi pada pekerjaan lain. Usaha yang perlu dilakukan untuk menanggulangi dampak pandemi covid 19 terhadap kerajinan patung batu padas di Desa Batubulan adalah kreativitas perajin ditingkatkan, kualitas patung tetap terjaga, membaca selera pasar dan menguasai teknologi informatika.
MENCIPTAKAN EKOSISTEM MODERASI BERAGAMA DI TENGAH MASYARAKAT YANG MAJEMUK
Ni Kadek Ayu Kristini Putri
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.6854
Moderasi beragama telah menjadi wacana strategis dalam upaya membangun sikap dan cara berpikir inklusif dalam beragama. Gerakan moderasi beragama dianggap penting untuk membangun kesadaran pentingnya menjaga dan merawat relasi sosial yang harmonis antar sesama umat beragama, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu agama. Gerakan moderasi ini bisa dilakukan dengan cara menciptakan ekosistem moderasi. Artikel ini berupaya membahas pentingnya menciptakan ekosistem moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Penelitian ini menggunakan studi literatur, dengan melakukan review terhadap satu referensi dan referensi yang lain yang berkaitan dengan ekosistem moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem moderasi yang terdiri dari masyarakat, tokoh atau pemuka agama, lembaga politik, lembaga pendidikan, media, dan pemerintah sangat penting perannya dalam menciptakan moderasi beragama. Semua komponen ini harus memiliki komitmen untuk menciptakan iklim moderasi di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Jika salah satu dari komponen ekosistem moderasi itu tidak memiliki komitmen membangun moderasi beragama, maka gerakan moderasi beragama tidak akan tercapai sesuai yang diharapkan.
KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA WISATAWAN ASING DAN PEDAGANG DI KAWASAN WISATA SUNGAI MUDAL DESA JATIMULYO KECAMATAN GIRIMULYO KABUPATEN KULON PROGO
Sudarto
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.7007
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan terkait dengan pola komunikasi lintas budaya antara pedagang dan wisatawan asing di kawasan Wisata Sungai Mudal dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat komunikasi lintas budaya di kawasan Wisata Sungai Mudal. Penelitian ini mengaplikasikan metode kualitatif dengan para pedagang sebagai subjek penelitian. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa komunikasi lintas budaya dengan para wisatawan mancanegara menggunakan bahasa nonverbal seperti misalnya lambaian lambaian tangan, acungan jempol, berjabat tangan, kontak mata dan senyum ramah. Pedagang lokal juga memakai bahasa verbal dengan mengucapkan kalimat singkat dalam bahasa Inggris, meskipun tidak selalu mengikuti tata bahasa yang benar. Sikap ramah para pedagang, baik kepada wisatawan lokal maupun mancanegara, menjadi salah satu faktor yang mendukung terjalinnya komunikasi lintas budaya di Wisata Sungai Mudal. Keterbatasan penguasaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya menghambat komunikasi lintas budaya.
REPRESENTASI KEBUDAYAAN POST-TRADISI DAN NILAI ESTETIKA OBJEKTIF DALAM SERI KARYA LUKIS EKSPLORASI ARTEFAK BUDAYA VISUAL BALI DENGAN MENGGUNAKAN MIKROSKOP DIGITAL SEBAGAI ALAT BANTU PENCIPTAAN KARYA
Agus Mediana Adi Putra
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v7i2.7011
Penelitian ini adalah pemaparan tentang proses dan hasil penciptaan karya seni lukis hasil karya penulis (Agus Mediana Adiputra) yang berangkat dari gagasan menghadirkan wacana dan isu kondisi kebudayaan post tradisi yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Adapun metode penciptaan yang digunakan mengacu pada metode penciptaan seni oleh Gustami yang terdiri dari eksplorasi, perancngan dan perwujudan. Hasil karya lukisan yang dihasilkan dapat dibaca sebagai representasi kebudayaan post tradisi dalam kebudayaan Bali. Hal ini dapat dilihat dan dihadirkan melalui metode atau cara kerja melukis dalam karya-karya yang dibahas dalam artikel ini. Penghadiran berbagai elemen budaya visual Bali seperti banten atau sarana upacara yang dihadirkan secara terfragmentasi dan ter-zoom in melalui bantuan teknologi mikroskop merepresentasikan bagaimana penulis selaku subject atau seniman Bali hari ini berupaya meletakkan kesadaran pengunaan teknologi modern dalam memandang dan mereinterpretasi aneka rupa budaya visual sebagai produk pengetahuan tradisi. Karya-karya yang hadir juga dapat terbaca secara estetika, dalam penelitian ini penulis memakai teori estetika objektif untuk menjabarkan aspek-aspek visual yang memiliki nilai artistik dalam karya yang hadir.
MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN CATUR PURUSA ARTHA SMP NEGERI 01 BELITANG III
Gede Ngurah Puspa Sudharma
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Antisipasi terhadap perilaku amoral remaja dapat dilakukan dengan merefleksikan ajaran Agama Hindu. Salah satunya catur purusa artha yang merupakan salah satu materi pembelajaran kelas VIII yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan reflektif maka pendidik menerapkan model pembelajaran problem based learning yang menuntun siswa menjadi aktif, kritis, dan analitis. Teori Kognitif yang dikemukakan Piaget digunakan untuk membedah pembahasan dalam artikel ini. Model penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data berupa observasi, hasil wawancara, dan studi dokumen. Tujuan penyusunan artikel ini untuk mengetahui landasan, tahapan, serta implikasi pendekatan berbasis masalah dalam pembelajaran catur purusa artha di SMP Negeri 01 Belitang III.
UPACARA NGABEN: EKSPRESI, KONTESTASI DAN ADAPTASI BUDAYA
Ida Bagus Ngurah
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/700w4d31
Bali dengan masyarakat yang mayoritas beragama Hindu memiliki sedikitnya tiga cara dalam melakukan ritual perawatan terhadap orang meninggal, disebut dengan ngaben. Namun segala bentuk kemewahan modernisasi tidak telah melawankan kehidupan sosial masyarakat Bali dengan ritual tradisional dengan kehidupan komunal-ekspresif melibatkan banyak orang dengan kehidupan indivdual. Gejala-gejala yang membenturkan dualitas tersebut harus dapat dibaca secara holistik tidak hanya dikotomis, bahwa proses modernisasi tidak akan sepenuhnya menggantikan kehidupan tradisional, tetapi ada gejala pihak ketiga atau resistensi yang terjadi pada golongan tertentu. Menemukan jawaban atas gejala tersebut maka dikumpulkan data-data melalui studi Pustaka dan analisis triangle data. Hasil yang diperoleh dalam penelitian tersebut adalah Upacara ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara perawatan jenazah dengan jalan dibakar, ditanam. Masyarakat Hindu memaknai upacara ini sebagai pengembalian unsur-unsur pembentuk badan kasar manusia ke sumbernya. Nilai-nilai upacara ngaben tetap memiliki elemen komunalitas karena merupakan kesepakatan bersama masyarakat, orang suci dan kitab suci, namun karakteristiknya mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut tidak hanya dapat dipandang sebagai efek kiri modernisasi tetapi merupakan proses adaptasi terhadap kehidupan kultural mutakhir tanpa mengurangi filosofi yang telah melekat dan ditetapkan.