cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
ecosystem@universitasbosowa.ac.id
Phone
+62411-452901
Journal Mail Official
ecosystem@universitasbosowa.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Bosowa Lt. 5 Gedung B Jl. Urip Sumohardjo Km.4 Makassar Indonesia 90231
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Ecosystem
Published by Universitas Bosowa
ISSN : 14113597     EISSN : 25277286     DOI : https://doi.org/10.35965/eco.v21i1
Jurnal Ilmiah Ecosystem merupakan jurnal ilmiah yang dikelola secara peer review memiliki ISSN 1411-3597 (print) dan ISSN 2527-7286 (online) diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Bosowa Jurnal Ilmiah Ecosystem menerbitkan artikel yang pada bidang ekonomi, manajemen, hukum, sosial, education, sastra, pertanian, perikanan dan kelautan, pendidikan, teknik, psikologi, teknologi informasi dan ilmu umum lainnya. Bagi penulis yang memiliki artikel pada bidang ini dapat disesuaikan dengan panduan penulisan dan template kemudian disubmit secara online di website jurnal dengan melakukan registrasi terlebih dahulu.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 605 Documents
Evaluasi Sistem Saluran Sekunder Malenggang Pada Daerah Irigasi Desa Puty Kecamatan Bua Kabupaten Luwu Muh Idhfi Syafaat; Syaifullah Syaifullah; Andi Tenri; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9849

Abstract

Bagaimana dimensi saluran dan debit air yang ada pada Saluran Sekunder Malenggang Daerah Irigasi Desa Puty Kecamatan Bua Kabupaten Luwu Untuk mengetahui dimensi dan debit air di Saluran Sekunder Malenggang Daerah Irigasi Desa Puty Kecamatan Bua Kabupaten LuwuMetode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, yaitu tidak dimulai dari edukasi teori tetapi objektif melalui perhitungan ilmiah dimana peneliti terjun ke lapangan mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Berdasarkan hasil analisa luas penampang pada STA 0+000 hingga 1+000, diperoleh nilai luas bervariasi antara 0.641 m² hingga 0.706 m². Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi dimensi saluran sepanjang segmen yang dianalisis. Adapun debit total saluran sekunder Malenggang adalah 1.051 m3/detik. Normalisasi juga perlu dilakukan pada segmen yang mengalami penyempitan agar aliran tidak terhambat dan kapasitas saluran dapat dipertahankan. What are the dimensions of the channel and water discharge in the Malenggang Secondary Channel, Puty Village Irrigation Area, Bua District, Luwu Regency? To find out the dimensions and water discharge in the Malenggang Secondary Channel, Puty Village Irrigation Area, Bua District, Luwu Regency, the research method used is quantitative research, which does not start from theoretical education but is objective through scientific calculations where researchers go into the field to study, analyze, interpret and draw conclusions from the phenomena in the field. Based on the results of the cross-sectional area analysis at STA 0+000 to 1+000, the area values vary between 0.641 m² to 0.706 m². This difference indicates a variation in channel dimensions along the analyzed segment. The total discharge of the Malenggang secondary channel is 1,051 m3/second. Normalization also needs to be done on segments that experience narrowing so that the flow is not obstructed and the channel capacity can be maintained.
Kondisi Kerusakan Jalan Menggunakan Metode SDI Dan Bina Marga: Studi Kasus: Jalan Lumi - Lara Kecamatan Ponrang Fitra Bayu Dinata; Sudirman Sudirman; Indrajaya Indrajaya
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kerusakan jalan pada ruas Jalan Lumi–Lara, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu dengan menggunakan dua metode, yaitu Surface Distress Index (SDI) dan Metode Bina Marga. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan metode survei lapangan sepanjang 2 kilo meter yang dibagi menjadi 20 segmen. Data yang dikumpulkan meliputi jenis, luas, dan tingkat kerusakan jalan seperti lubang, retak kulit buaya, retak memanjang, alur roda, dan amblas.Hasil analisis menggunakan metode Bina Marga menunjukkan bahwa nilai rata-rata kondisi jalan sebesar 8,95 dengan nilai urutan prioritas >7, sehingga dikategorikan dalam program pemeliharaan rutin. Sedangkan hasil penilaian dengan metode SDI Didapatkan dari segmen 1 sampai 20 sebesar 14,25 yang berada pada kondisi baik <50. menunjukkan bahwa sebagian besar segmen jalan mengalami kerusakan pada tingkat ringan hingga sedang, terutama pada jenis kerusakan retak kulit buaya dan lubang. Berdasarkan hasil kedua metode, dapat disimpulkan bahwa kondisi umum ruas Jalan Lumi–Lara termasuk dalam kategori sedang, sehingga tindakan penanganan yang direkomendasikan adalah pemeliharaan rutin guna menjaga umur layanan dan kualitas perkerasan jalan This study aims to analyze the road damage conditions on the Lumi–Lara Road segment, Ponrang Sub-district, Luwu Regency using two methods, namely the Surface Distress Index (SDI) and the Bina Marga Method. This research was conducted quantitatively using a field survey method over a 2-kilometer stretch divided into 20 segments. The data collected includes the type, area, and severity of road damage such as potholes, alligator cracks, longitudinal cracks, wheel ruts, and depressions. The analysis results using the Bina Marga method show that the average road condition value is 8.95 with a priority sequence value >7, thus categorized under routine maintenance programs. Meanwhile, the assessment results using the SDI method obtained From segments 1 to 20, with a value of 14.25 which is in good condition (<50), it shows that most road segments experience damage at a light to moderate level, particularly in the form of crocodile cracking and potholes. Based on the results of both methods, it can be concluded that the general condition of the Lumi–Lara Road section falls into the moderate category, so the recommended action is routine maintenance to preserve the service life and pavement quality of the road.
Analisis Kehilangan Air Irigasi Saluran Sekunder Battang Desa Baramamase Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu Randi Randi; Syaifullah Syaifullah; Muarif Muarif; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9851

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas dan besarnya kehilangan air pada Saluran Sekunder Battang di Desa Baramamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu. Kehilangan air pada saluran irigasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efisiensi penyaluran air ke lahan pertanian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat current meter untuk menentukan kecepatan aliran, serta pengukuran dimensi saluran guna menghitung luas penampang basah. Debit air dihitung menggunakan rumus Q=A×VQ = A \times VQ=A×V, sedangkan kehilangan air dianalisis menggunakan metode inflow-outflow dengan menghitung selisih antara debit masuk dan debit keluar pada setiap segmen saluran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas total saluran sekunder Battang sepanjang 1 km adalah sebesar 50,016 m³. Berdasarkan hasil pengukuran, kehilangan air pada segmen STA 0–450 sebesar 37% dan pada segmen STA 500–1000 sebesar 6%, sehingga total kehilangan air mencapai 43%. Besarnya kehilangan air tersebut disebabkan oleh rembesan, kebocoran saluran, kondisi fisik saluran yang kurang terawat, serta pengambilan air secara tidak terkontrol oleh masyarakat sekitar. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efisiensi penyaluran air pada Saluran Sekunder Battang masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan perbaikan fisik saluran, pemeliharaan rutin, serta pengawasan distribusi air secara berkala guna mengurangi tingkat kehilangan air. This study aims to analyze the capacity and extent of water loss in the Battang Secondary Canal in Baramamase Village, Walenrang District, Luwu Regency. Water loss in irrigation canals is one of the factors affecting the efficiency of water distribution to agricultural land. The research method used is a quantitative method with direct field measurements using a current meter to determine flow velocity, and channel dimensions to calculate the wet cross-sectional area. Water discharge was calculated using the formula Q=A×VQ = A \times VQ=A×V, while water loss was analyzed using the inflow-outflow method by calculating the difference between the inlet and outlet discharge in each channel segment. The results showed that the total capacity of the 1 km Battang secondary channel was 50,016 m³. Based on the measurement results, water loss in the STA 0–450 segment was 37% and in the STA 500–1000 segment was 6%, so the total water loss reached 43%. The significant water loss is caused by seepage, leaks, poorly maintained physical conditions, and uncontrolled water extraction by the surrounding community. This study concludes that water distribution efficiency in the Battang Secondary Canal still needs to be improved. Therefore, it is recommended that the canal's physical repairs, routine maintenance, and regular monitoring of water distribution be carried out to reduce water loss.
Analisis Perencanaan Saluran Drainase Di Desa Walenrang Kecamatan Wlenrang Kabupaten Luwu: Studi Kasus: Perumahan Nilam Muh. Sigit Setiawan S.; Syaifullah Syaifullah; Syahrul Ramadhan
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9852

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan saluran drainase di Desa Walenrang, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, khususnya pada kawasan Perumahan Nilam. Pembangunan perumahan yang cepat meningkatkan kebutuhan akan sistem drainase yang efektif untuk mencegah genangan air dan menjaga keberlangsungan sumber daya alam. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui observasi dan survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit limpasan permukaan dan debit air limbah rumah tangga diperhitungkan untuk merencanakan kapasitas saluran drainase. Analisis curah hujan dari Stasiun Batusitanduk selama periode 2015-2024 menghasilkan rata-rata curah hujan maksimum harian yang digunakan untuk menghitung debit rencana. Dari analisis, didapatkan dimensi saluran tersier dan sekunder yang sesuai dengan kebutuhan, yaitu lebar 0.25 m dan tinggi total 0.3 m untuk saluran tersier, serta lebar 0.4 m dan tinggi total 0.5 m untuk saluran sekunder. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam perencanaan sistem drainase yang lebih baik di kawasan perumahan, serta menjadi referensi bagi studi lebih lanjut mengenai pengelolaan air di daerah perkotaan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu pihak-pihak terkait dalam merencanakan dan mengimplementasikan sistem drainase yang efektif untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Desa Walenrang. This study aims to analyze drainage channel planning in Walenrang Village, Walenrang District, Luwu Regency, specifically in the Nilam Housing area. Rapid housing development increases the need for an effective drainage system to prevent waterlogging and maintain the sustainability of natural resources. The research method used was a quantitative approach with primary data collection through field observations and surveys. The results indicate that surface runoff and domestic wastewater discharge are taken into account when planning drainage channel capacity. Rainfall analysis from Batusitanduk Station during the 2015-2024 period yielded the average daily maximum rainfall used to calculate the design discharge. The analysis resulted in the appropriate dimensions for tertiary and secondary channels: a width of 0.25 m and a total height of 0.3 m for the tertiary channel, and a width of 0.4 m and a total height of 0.5 m for the secondary channel. This research is expected to contribute to better drainage system planning in residential areas and serve as a reference for further studies on water management in urban areas. It is hoped that the results of this study will assist relevant parties in planning and implementing an effective drainage system to improve environmental quality in Walenrang Village.
Analisis Penanganan Erosi Pada Bantaran Sungai Makawa Kelurahan Bosso Kecamatan Walenrang Utara Kabupaten Luwu Analta Fatrah Hakim; Syaifullah Syaifullah; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9857

Abstract

Erosi pada bantaran Sungai Makawa di Kelurahan Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu menjadi permasalahan yang berpotensi mengancam lahan pertanian, pemukiman, serta infrastruktur di sekitar aliran sungai. Tingginya debit air saat musim hujan menyebabkan gerusan sepanjang ±100 meter pada tebing sungai sehingga diperlukan upaya penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penanganan erosi yang efektif berdasarkan kondisi eksisting bantaran sungai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui pengumpulan data primer berupa survei lapangan, pengambilan sampel tanah terganggu dan tidak terganggu menggunakan handboring, serta pengukuran geometrik tebing sungai. Selain itu, dilakukan pengujian laboratorium meliputi kadar air, berat jenis, dan permeabilitas tanah. Analisis stabilitas dinding penahan tanah digunakan untuk menentukan konstruksi yang paling sesuai dalam menanggulangi erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi turap beton merupakan alternatif struktur yang paling efektif digunakan pada lokasi penelitian. Segmen 1 dan 2 direncanakan memiliki kemiringan 50°, panjang 50 meter, tinggi dinding 2,5 meter, lebar 2,5 meter, dan tebal 50 cm. Sedangkan Segmen 3 dan 4 menggunakan kemiringan 49° dengan dimensi yang sama. Berdasarkan perhitungan stabilitas terhadap guling dan geser, seluruh segmen memenuhi kriteria keamanan dengan faktor keamanan >2 untuk stabilitas guling dan >1,5 untuk stabilitas geser. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi turap beton mampu menjaga kestabilan tebing dan efektif digunakan sebagai penanganan erosi pada bantaran Sungai Makawa. Erosion along the banks of the Makawa River in Bosso Village, Walenrang Utara District, Luwu Regency has become a critical issue that threatens agricultural land, residential areas, and nearby infrastructure. The high river discharge during the rainy season has caused scouring along approximately 100 meters of the riverbank, requiring an appropriate mitigation strategy. This study aims to analyze the most effective erosion-control measures based on the existing physical conditions of the riverbank. A quantitative research method was employed, utilizing primary data obtained from field surveys, soil sampling (disturbed and undisturbed) using a handboring tool, and geometric measurements of the riverbank. Laboratory tests, including water content, specific gravity, and soil permeability, were conducted to support the analysis. The stability of retaining structures was evaluated to determine the most suitable construction for erosion mitigation. The results indicate that concrete sheet pile structures are the most effective solution for erosion control at the study site. Segments 1 and 2 are designed with a 50° slope angle, a length of 50 meters, a wall height of 2.5 meters, a base width of 2,5 meters, and a thickness of 50 cm. Segments 3 and 4 use a 49° slope with the same dimensions. Stability analysis shows that the structure meets safety requirements, with safety factors greater than 2 for overturning and greater than 1.5 for sliding. These results demonstrate that concrete sheet pile construction is capable of maintaining riverbank stability and serves as an effective erosion mitigation measure along the Makawa River.
Pengaruh Penambahan Abu Kerang Erosa Sebagai Bahan Tambah Terhadap Sifat Kuat Tekan Mortar Silfia Nurul Putry; Sudirman Sudirman; Michail Amin
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9858

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan abu kerang erosa sebagai bahan tambah terhadap kuat tekan mortar. Variasi penambahan abu kerang erosa dilakukan sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10% dari berat semen sesuai standar SNI 03-6825-2002. Benda uji berbentuk kubus berukuran 5×5×5 cm diuji kuat tekannya pada umur 7 dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan abu kerang erosa berpengaruh terhadap penurunan kuat tekan mortar. Nilai kuat tekan tertinggi pada umur 7 hari diperoleh pada campuran 0% sebesar 252,02 kg/cm² dan menurun berturut-turut hingga 201,61 kg/cm² pada penambahan 10%. Pola serupa terjadi pada umur 28 hari, di mana kuat tekan tertinggi juga terdapat pada 0% sebesar 262,10 kg/cm² dan menurun hingga 204,76 kg/cm² pada 10%. Meskipun kuat tekan meningkat dari umur 7 hari ke 28 hari, peningkatan tersebut tidak mampu mengimbangi penurunan akibat penambahan abu kerang berlebih. Berdasarkan klasifikasi SNI 03-6882-2002, campuran 0%, 2,5%, 5%, dan 7,5% tergolong mortar tipe M, sedangkan 10% termasuk tipe S. Dengan demikian, abu kerang erosa masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi sebagian semen, namun penggunaannya perlu dibatasi agar tidak menurunkan kekuatan mortar secara signifikan. This study aims to determine the effect of using erosa shell ash as an additive on the compressive strength of mortar. Variations in the addition of erosa shell ash were carried out at 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, and 10% of the weight of cement according to the SNI 03-6825-2002 standard. Cube-shaped test specimens measuring 5×5×5 cm were tested for their compressive strength at the age of 7 and 28 days. The results showed that the addition of erosa shell ash had an effect on reducing the compressive strength of the mortar. The highest compressive strength value at the age of 7 days was obtained at a mixture of 0% at 252.02 kg/cm² and decreased successively to 201.61 kg/cm² at an addition of 10%. A similar pattern occurred at the age of 28 days, where the highest compressive strength was also found at 0% at 262.10 kg/cm² and decreased to 204.76 kg/cm² at 10%. Although the compressive strength increased from 7 days to 28 days, the increase was not able to compensate for the decrease due to the addition of excessive shell ash. Based on the SNI 03-6882-2002 classification, a mixture of 0%, 2.5%, 5%, and 7.5% is classified as type M mortar, while 10% is included in type S. Thus, erosa shell ash can still be used as a partial cement substitute, but its use needs to be limited so as not to reduce the mortar strength significantly.
Analisis Perbandingan Mutu Beton Pada Perumahan Subsidi Dan Non Subsidi : Studi Kasus: Perumahan Harmoni Songka Dan C Rymon Abraham; Muhammad Fikri; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9859

Abstract

Kota Palopo secara umum telah membuat kemajuan yang baik dan cepat dalam pembangunan rumah. Hal ini terlihat dari meningkatnya pembangunan di Palopo, termasuk pengembangan rumah. Kebutuhan pokok manusia dan faktor dalam kesehatan masyarakat adalah perumahan. Akibatnya, standar perumahan menjadi perhatian penting dalam kesehatan masyarakat dan penyediaan perumahan merupakan tujuan inti yang kompleks. Perbandingan kualitas beton pada rumah bersubsidi (Harmoni Songka) dan rumah non-subsidi (Baverlly Hills) menunjukkan bahwa untuk semua elemen struktural pada rumah bersubsidi, kekuatan tekan beton yang diukur langsung dari lapangan adalah 16,7 MPa atau K-200. Hal ini masih di bawah kualitas yang direncanakan, yaitu K-225 atau 18,6 MPa. Sebaliknya, beton yang digunakan pada rumah non-subsidi memiliki kekuatan tekan sebesar 22,3 MPa, atau K-250, untuk semua komponen struktural, memenuhi kualitas yang direncanakan sebesar 20,7 MPa, atau K-250. The city of Palopo has generally made good and rapid progress in housing development. This is evident from the increasing construction in Palopo, including housing development. Basic human needs and factors in public health include housing. As a result, housing standards are an important concern in public health, and housing provision is a complex core objective. A comparison of concrete quality in subsidized houses (Harmoni Songka) and non-subsidized houses (Baverlly Hills) shows that for all structural elements in subsidized houses, the compressive strength of concrete measured directly from the field is 16.7 MPa or K-200. This is still below the planned quality, which is K-225 or 18.6 MPa. In contrast, the concrete used in non-subsidized houses has a compressive strength of 22.3 MPa, or K-250, for all structural components, meeting the planned quality of 20.7 MPa, or K-250.
Analisis Indikator Kinerja Ruas Jalan Rantepao-Palopo Km 5 Samapai Dengan Km 10 Kota Palopo Fahmi Fahmi; Jusmidah Jusmidah; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9860

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemenuhan indikator kinerja serta menentukan strategi pemeliharaan yang tepat pada ruas Jalan Rantepao–Palopo Km 5 sampai dengan Km 10 Kota Palopo. Metode penelitian menggunakan survei lapangan terhadap lima indikator kinerja, yaitu perkerasan jalan, bahu jalan, drainase, perlengkapan jalan, dan pengendalian tanaman. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif untuk menghitung persentase pemenuhan indikator dan secara kualitatif melalui analisis SWOT guna mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam sistem pemeliharaan jalan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pemenuhan indikator dari 92% pada survei awal menjadi 96,36% pada survei akhir dengan capaian kinerja sebesar 4,36%. Kategori pengendalian tanaman mengalami peningkatan paling tinggi, sedangkan drainase masih memerlukan perhatian lanjutan. Berdasarkan analisis SWOT, kekuatan utama terdapat pada kondisi perkerasan dan perlengkapan jalan yang baik, sedangkan kelemahan utama berada pada sistem drainase. Strategi yang direkomendasikan adalah penerapan pemeliharaan rutin berbasis kinerja, peningkatan fungsi drainase, serta pengendalian vegetasi secara berkala untuk mempertahankan kualitas dan keberlanjutan jalan. This study aims to analyze the level of performance indicator fulfillment and determine appropriate maintenance strategies for the Rantepao-Palopo Road section from Km 5 to Km 10, Palopo City. The research method used a field survey of five performance indicators: pavement, shoulder, drainage, road equipment, and vegetation control. The data obtained were analyzed quantitatively to calculate the percentage of indicator fulfillment and qualitatively through a SWOT analysis to identify strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the road maintenance system. The results showed an increase in the average indicator fulfillment score from 92% in the initial survey to 96.36% in the final survey, representing a performance achievement of 4.36%. The vegetation control category experienced the highest improvement, while drainage still requires further attention. Based on the SWOT analysis, the primary strength lies in the good condition of the pavement and road equipment, while the primary weakness lies in the drainage system. Recommended strategies include implementing performance-based routine maintenance, improving drainage functions, and periodically controlling vegetation to maintain road quality and sustainability.
Analisis Penggunaan Batu Gunung Sebagai Bahan Agregat Kasar Terhadap Mutu Beton K-300 : Studi Kasus: Kecamatan Mengkendek Kabupaten Tana Toraja Uristianti Syamsir; Sudirman Sudirman; Irwan Arnol; Indrajaya Indrajaya
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9862

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan batu pecah berasal dari Gunung Kandora, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja sebagai substitusi agregat kasar pada campuran beton telah memenuhi mutu yang direncana yaitu K-300 (24,90 Mpa). Dimana batu pecah 1-2  umur 7 hari mencapai kuat tekan rata-rata sebesar 17,44 Mpa, batu pecah 2-3 sebesar 16,80 Mpa. Pada umur 14 hari batu pecah 1-2 mencapai kuat tekan sebesar 23,04 Mpa dan untuk batu pecah 2-3 sebesar 22,53 Mpa. Untuk umur 28 hari, batu pecah 1-2 mencapai kuat tekan sebesar 27,25 Mpa dan untuk batu pecah 2-3 sebesar 26,10 Mpa. Berdasarkan hasil tersebut, variasi batu pecah 1-2 dan 2-3 terbukti telah memenuhi mutu rencana yang direncanakan dan terbukti mampu meningkatkan kuat tekan beton. This study concludes that using crushed stone from Mount Kandora, Mengkendek District, Tana Toraja Regency as a substitute for coarse aggregate in concrete mixes has met the planned quality of K-300 (24.90 Mpa). For crushed stone 1-2, the 7-day compressive strength reached an average of 17.44 Mpa, while crushed stone 2-3 reached 16.80 Mpa. At 14 days, crushed stone 1-2 achieved a compressive strength of 23.04 Mpa, and crushed stone 2-3 reached 22.53 Mpa. At 28 days, crushed stone 1-2 reached 27.25 Mpa, and crushed stone 2-3 reached 26.10 Mpa. Based on these results, both variations of crushed stone 1-2 and 2-3 have proven to meet the planned quality and are capable of improving the concrete's compressive strength.
Studi Perancangan Elemen Struktur Gedung Fakultas Teknik Unanda Menggunakan Metode Takabeya Yang Diverifikasi Dengan Sap2000 Berdasarkan Sni 03-2847-2019 Muh. Al Ikram; Sudirman Sudirman; Irwan Arnol; Indrajaya Indrajaya
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perancangan elemen struktur (balok, kolom dan pelat lantai) Gedung Fakultas Teknik Unanda menggunakan Metode Takabeya berdasarkan SNI 03-2847-2019. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh gaya dalam maksimum pada balok berupa momen positif terbesar pada balok 4-5 sebesar 133,327 kN·m, momen negatif terbesar pada balok 5-6 sebesar 276,858 kN·m, serta gaya geser maksimum pada balok 4-5 sebesar 172,290 kN. Dimensi balok yang digunakan adalah 250 mm × 450 mm dengan kebutuhan tulangan lentur pada daerah tumpuan sebesar 12D19 dengan sengkang D12-100 mm, serta pada daerah lapangan sebesar 8D19 dengan sengkang D12-200 mm. Pada elemen kolom, diperoleh momen maksimum sebesar 484,991 kN·m pada kolom B-2, gaya geser maksimum sebesar 139,475 kN pada kolom 2-5, serta gaya normal maksimum sebesar 773,515 kN pada kolom B-2. Dimensi kolom yang digunakan 600 x 600, dengan kebutuhan tulangan utama 16D 20, dengan sengkang tumpuan 4D13 – 100, untuk sengkang lapangan 3D13-120. Untuk elemen pelat, digunakan ketebalan sebesar 120 mm dengan kebutuhan tulangan sebesar D12-150 mm. This study aims to determine the design of structural elements (beams, columns, and floor slabs) for the Unanda Faculty of Engineering building using the Takabeya Method in accordance with SNI 03-2847-2019. The analysis results indicate that the maximum internal forces in the beams include a peak positive moment of 133.327 kN·m (beam 4-5), a peak negative moment of 276.858 kN·m (beam 5-6), and a maximum shear force of 172.290 kN (beam 4-5). The beams utilize dimensions of 250 mm × 450 mm, with flexural reinforcement requirements of 12D19 bars and D12-100 mm stirrups at the supports, and 8D19 bars with D12-200 mm stirrups in the mid-span. For the column elements, the maximum moment obtained was 484.991 kN·m (column B-2), the maximum shear force was 139.475 kN (column 2-5), and the maximum axial force was 773.515 kN (column B-2). The columns utilize dimensions of 600 mm × 600 mm, with a main reinforcement requirement of 16D20 bars, and stirrups spaced at 4D13-100 mm at the supports and 3D13-120 mm in the mid-span. For the slab elements, a thickness of 120 mm was used, with a reinforcement requirement of D12-150 mm

Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026 Vol. 26 No. 1 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 1, Januari - April Tahun 2026 Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025 Vol. 25 No. 2 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 2, Mei - Agustus Tahun 2025 Vol. 25 No. 1 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 1, Januari - April Tahun 2025 Vol. 24 No. 3 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 3, September - Desember Tahun 2024 Vol. 24 No. 2 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 2, Mei - Agustus Tahun 2024 Vol. 24 No. 1 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 1, Januari - April Tahun 2024 Vol. 23 No. 3 (2023): Ecosystem Vol. 23 No 3, September - Desember Tahun 2023 Vol. 23 No. 2 (2023): Ecosystem Vol. 23 No 2, Mei - Agustus Tahun 2023 Vol. 23 No. 1 (2023): ECOSYSTEM Vol. 23 No 1, Januari - April Tahun 2023 Vol. 22 No. 3 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 3, September-Desember Tahun 2022 Vol. 22 No. 2 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 2, Mei - Agustus Tahun 2022 Vol. 22 No. 1 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 1, Januari - April Tahun 2022 Vol. 21 No. 3 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 3, September - Desember Tahun 2021 Vol. 21 No. 2 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 2, Mei - Agustus Tahun 2021 Vol. 21 No. 1 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 1, Januari - April Tahun 2021 Vol. 20 No. 3 (2020): ECOSYSTEM VOL.20 NO 3 TAHUN 2020 Vol. 20 No. 2 (2020): ECOSYSTEM VOL.20 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 20 No. 1 (2020): ECOSYSTEM VOL.20 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 19 No. 03 (2019): ECOSYSTEM VOL.19 NO 3 September - Desember 2019 Vol. 19 No. 2 (2019): ECOSYSTEM VOL.19 NO 2 Mei - Agustus 2019 Vol. 19 No. 1 (2019): ECOSYSTEM VOL 19 NO. 1 Januari - April 2019 Vol. 18 No. 1 (2018): Vol 18 No 1 (2018): Januari-April 2018 Vol. 18 No. 2 (2018): ECOSYSTEM VOL 18 NO. 2 Mei - Agustus 2018 Vol. 18 No. 3 (2018): ECOSYSTEM September - December 2018 Vol. 17 No. 3 (2017): Vol 17 No 3 (2017): September-Desember 2017 Vol. 17 No. 2 (2017): Vol 17 No 2 (2017): Mei-Agustus 2017 Vol. 17 No. 1 (2017): Vol 17 No 1 (2017): Januari-April 2017 Vol. 16 No. 3 (2016): Ecosystem Vol 16 No 3, Oktober-Desember 2016 Vol. 16 No. 2 (2016): Ecosystem Vol. 16 No 2, Mei - Agustus 2016 Vol. 16 No. 1 (2016): Ecosystem Vol 16 No 1, Januari-April 2016 More Issue