cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni
ISSN : 14113732     EISSN : 25489097     DOI : 10.24036
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni is an international journal dedicated for the publication of scientific articles in language education, literature, and arts education. It was firstly published on March 2000 with ISSN 1411-3732 in 2007 by Faculty of Language Literature and Arts Universitas Negeri Padang. This journal had ever been changed into Jurnal Bahasa dan Seni during 2004-2013. In 2014 this journal is renamed as Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni applies open journal system (OJS) and peer-reviewed online journal in 2017 with Online ISSN 2548-9097.
Arjuna Subject : -
Articles 238 Documents
CHARACTER EDUCATION VALUES IN PACITAN FOLKLORE Arief Setyawan; Sarwiji Suwandi; St. Y. Slamet
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.198 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v18i1.7925

Abstract

Folklore as one of the cultural output with robust  value of character education from of the community where the story was created and developed. The study aims to describe the value of character education in the compilation of folklore. The method used is qualitative descriptive method with data source of research in the form of folklore from Pacitan published by Grasindo 2004 which contains 10 story titles. The research data is collected by reading the story plot as well as the content of the meaning or message in each story and noting. Data analysis is done by content analysis technique, that is research analysis that want to reveal the idea of writer or creator both manifested and latent. The results show that Pacitan folklore as a literary work contains the value of character education which includes: (1) religious, (2) honest, (3) hard work, (4) creative, (5) curiosity, (6) Spirit of nationalism, (7) respecting achievement, (8) love of peace, (9) environmental care, (10) social care, and (11) responsibility. These values form the basis that folklore is used as a medium for introducing stories that ancestors believed to their descendants, as well as being a means of educating their character.Keyword: character education, folklore, Pacitan.MUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT DI PACITAN AbstrakCerita rakyat sebagai salah satu produk kebudayaan tentu sarat akan nilai pendidikan karakter dari masyarakat tempat cerita itu lahir dan berkembang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam kumpulan cerita rakyat tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data penelitian berupa Buku Cerita Rakyat dari Pacitan terbitan Grasindo 2004 yang memuat 10 judul cerita. Data penelitian dikumpulkan dengan membaca secara cermat terkait alur cerita maupun kandungan makna atau amanat dalam setiap cerita dan melakukan pencatatan. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis), yakni analisis penelitian yang mengungkap gagasan penulis atau pencipta baik yang termanifestasi maupun yang laten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cerita Rakyat dari Pacitan sebagai suatu karya sastra mengandung nilai pendidikan karakter yang meliputi: (1) religius, (2) jujur, (3) kerja keras, (4) kreatif, (5) rasa ingin tahu, (6) semangat kebangsaan, (7) menghargai prestasi, (8) cinta damai, (9) peduli lingkungan, (10) peduli sosial, dan (11) tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar bahwa cerita rakyat selain digunakan sebagai media memperkenalkan kisah-kisah yang diyakini nenek moyang kepada keturunannya, juga bisa sekaligus menjadi sarana mendidik karakter pada diri mereka.Kata kunci: pendidikan karakter, cerita rakyat, Pacitan.
EMPOWERING THE JUNIOR HIGH SCHOOL TEACHERS IN BUKITTINGGI TO OVERCOME THE PROBLEMS IN LEARNING CRAFTS Wisdiarman Wisdiarman; Ariusmedi Ariusmedi; Erwin Erwin; Suib Awrus
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1690.919 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v19i2.101776

Abstract

Crafting in junior high school consists of some learning materials such as handcrafting, processing, engineering, and cultivating. The learning material that must be given junior high school students in Bukittinggi is crafting because it is appropriate with the conditions of the area that is close to the centers of handicrafts. In fact, the problem found from the observation was that the teachers generally (82,73%) are not from the art and craft education. The teachers who are from art or craft education will be easier to teach crafts than those who are not. Those who are not from art education got problems in the implementation of craft learning materials. It was happened because they did not master or did not have enough experience about it. Moreover, the junior high school teachers also lacked of learning strategies that are in line with the demands of the 2013 curriculum. As a result, the implementation of craft learning, especially craft materials, did not run well. The solution offered to solve the above-mentioned problems was the application of science and technology with several approaches; 1) designing, 2) counseling by presenting training material, 3) training in crafting and designing learning strategies, and 4) mentoring. The results of this activity were; 1) Most of junior high school teachers (77.77%) have mastered the craft materials given, especially makrame and woven crafts, 2) Most of them (88.88%) have mastered learning strategies that are in line with scientific approaches in the 2013 Curriculum. Keywords: Increasing teachers’ ability, craft learning, craft learning materials, learning strategies in 2013 curriculum
The Study of The Substitutions Found in the Novel Absolute Power and their Translation Into Indonesian in Kekuasaan Absolut Harum Natasha
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.231 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v12i1.632

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian, yaitu 1) apa sajakah tipe-tipe substitusi dalam bahasa Inggris yang ditemukan pada novel berbahasa Inggris Absolute Power? 2) apa sajakah tipe-tipe substitusi dalam bahasa Indonesia yang ditemukan pada novel terjemahan Kekuasaan Absolut?, (3) apakah penyebab terjadinya substitusi pada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia? Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Objek penelitiannya adalah sebuah novel berbahasa Inggris yang berjudul Absolute Power dan novel terjemahannya yang berjudul Kekuasaan Absolut. Dari Analisis data ditemukan tipe-tipe substitusi dalam Bahasa Inggris; substitusi kelompok nominal, verbal dan klausal. Substitusi kelompok nominal menggunakan pengganti one(s), kelompok verba menggunakan pengganti do, dan substitusi kelompok klausa dengan so dan not. Ketika ketiga tipe tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, penulis menemukan ketiga tipe substitusi dalam bahasa Indonesia pada sebagian data yang diperoleh. Ketiga tipe tersebut juga dapat dikelompokkan menjadi substitusi kelompok nomina, kelompok verba, dan kelompok klausa. Substitusi kelompok nomina menggunakan pengganti dengan bantuan kata sandang yang dan diikuti kata sifat, substitusi kelompok verba dengan kata melakukan dan substitusi kelompok klausa dengan kata demikian, begitu dan tidak. Terjadi nya substitusi dalam terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, disebabkan oleh dua faktor: 1) hal ini dianggap penting untuk menciptakan kalimat yang lebih ekonomis dan efektif dan untuk menghindari pengulangan klausa, 2) untuk memperjelas elemen aslinya serta untuk mendefenisikan sebuah kata atau klausa. Kata Kunci: Nominal Substitution, Verbal Substitution, Klausal Substitution, Translation process.
Keberadaan Tari Kain dalam Masyarakat Aia Duku Painan Timur Sumatera Barat Indrayuda .
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.085 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v14i1.3946

Abstract

Artikel ini akan mengungkapkan mengenai keberadaan tari Kain dari desa atau kampung Aia Duku Pinan Timur Minangkabau. Tari Kain mulanya adalah sebagai media bagi Perguruan atau Sasaran Pencak Silat untuk mengukur sejauh mana kemampuan murid-muridnya dalam menguasai kepandaian dalam bersilat. Bagi murid dari Perguruan Pencak Silat (dalam bahasa Minangkabau disebut Sasaran Silat), tari Kain merupakan permainan wajib yang harus dipelajari. Ketika kolonial menguasai Minangkabau, tari Kain digunakan untuk mengelabui penjajah, sehingga penjajah tidak mengetahui bahwa kegiatan pertunjukan tari tersebut merupakan sebagai tameng untuk latihan bela diri pencak silat. Selain itu, keberadaan tari Kain bagi masyarakat Aia Duku juga digunakan untuk acara penobatan penghulu dan untuk acara pesta perkawinan. Tarian ini bermakna sebagai lambang keperkasaan bagi seorang laki-laki,dan sebagai syarat dalam penobatan gelar pendekar. Sampai saat ini tari Kain merupakan salah satu kesenian yang populer bagi masyarakat Aia Duku Painan Timur. Kata Kunci: Tari Kain, keberadaan tari Kain, dan masyarakat Aia Duku
THE EFFECT OF CLUSTERING TECHNIQUE AND MOTIVATION TOWARD STUDENTS’ SKILL IN WRITING A RECOUNT PARAGRAPH AT GRADE X OF SMAN 1 BATANG ANAI Marjenny Marjenny
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.068 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v16i1.7597

Abstract

DAMPAK TEKNIK CLUSTERING DAN MOTIVASI TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF RECOUNT SISWA KELAS X SMAN 1 BATANG ANAIAbstractThis study aims to determine whether clustering and motivation techniques have a significant impact on the skills of writing paragraph recount in class X SMAN 1 Batang Anai. This technique is compared with conventional techniques. This research is an experimental research using 2x2 factorial design. Class X1 consisting of 32 students is defined as the experimental class whereas class X2 which also consists of 32 students is designated as control class. Research data showed that (1) clustering technique had a positive impact on the ability of writing recount paragraphs compared with conventional techniques where the value of tcount 2.45 higher than ttable 1.70, (2) students with high motivation who were taught Using clustering technique has better writing ability compared to students with high motivation taught by using conventional technique, (3) students with low learning motivation who taught by clustering technique have better writing ability compared with low motivated student who taught with Using conventional techniques, and (4) there is no interaction between the two techniques and the students' motivation for the ability to write a student recount paragraph where the value of Fcount is 0.150 which is smaller than the value of Ftabel 4.02.Key Words: Clustering Technique, Motivation, Writing Recount Paragraph, Recount Text.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah teknik clustering dan motivasi  memberikan dampak yang signifikan terhadap keterampilan menulis paragraf recount di kelas X SMAN 1 Batang Anai. Teknik ini dibandingkan dengan teknik konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan rancangan penelitian faktorial 2x2. Kelas X1 yang terdiri dari 32 siswa ditetapkan sebagai kelas eksperimen sedangkan kelas X2 yang juga terdiri dari 32 siswa ditetapkansebagai kelas kontrol. Data penelitian diperoleh dari tes menulis dan angket motivasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) teknik clustering memberikan dampak positif terhadap kemampuan menulis paragraf recount dibandingkan dengan teknik konvensional dimana nilai thitung 2.45 lebih tinggi dari ttabel 1.70, (2) siswa dengan motivasi tinggi yang diajar menggunakan teknik clustering mempunyai kemampuan menulis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa dengan motivasi tinggi yang diajar dengan memakai teknik konvensional, (3) siswa dengan motivasi belajar rendah yang diajar dengan teknik clustering mempunyai kemampuan menulis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa dengan motivasi rendah yang diajar dengan menggunakan teknik konvensional, dan (4) tidak terdapat interaksi antara kedua teknik dan motivasi siswa terhadap kemampuan menulis paragraf recount siswa dimana nilai Fhitung nya adalah 0.150 yang lebih kecil daripada nilai Ftabel 4.02.Key Words: Clustering Technique, Motivation, Writing Recount Paragraph, Recount Text.
Combining Form and Function in Language Teaching: Teaching Grammar Communicatively Doni Marzuki
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.648 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v13i1.3927

Abstract

perdebatan mengenai metode terbaik untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa, terutama di dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dan bahasa asing, telah berlangsung selama sekitar empat puluh tahun. Kelompok pertama adalah pendukung metode pengajaran bahasa yang berfokus pada bentuk, sedangkan kelompok kedua adalah mereka yang mendukung metode yang berfokus pada fungsi. Dalam praktik pembelajaran, metode yang berfokus pada bentuk (form-focused) memandang pembelajaran gramatika dan semua aturannya sebagai syarat mutlak, sedangkan metode yang berfokus pada fungsi (function-focused) percaya bahwa pemerolehan keterampilan komunikatif yang baik dalam bahasa target adalah tujuan akhir dalam pembelajaran bahasa kedua. Kedua belah pihak mengklaim bahwa metode yang mereka gunakan dalam praktik pembelajaran sebagai cara terbaik untuk membuat peserta didik memperoleh bahasa target dengan baik. Terlepas dari keuntungan yang ditawarkan oleh masing-masing metode, beberapa peneliti  menemukan bahwa setiap metode sebenarnya tidak bebas dari kelemahan. Dengan menyadari kelemahan dari setiap metode, tampaknya rasional untuk tidak berdiri di satu metode saja dalam praktik pembelajaran bahasa. Mungkin dengan menggabungkan dua metode dalam praktik pembelajaran, guru bahasa akan mendapatkan keuntungan dan menghilangkan kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing metode. Sebuah metode baru dapat dibentuk dengan menerapkan pembelajaran formal dalam kegiatan komunikatif . Kata kunci: pembelajaran bahasa, metode berfokus pada bentuk, metode berfokus pada fungsi
Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban) Ilvan Roza
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.702 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v9i2.94

Abstract

People use many kinds of utterances in their daily activities that involve speakin. One of the utterances is interjection. This particular utterance is used to express the emotional feeling to the listener. Generally, interjections are used in spoken language except the using the novel or comics. One of the expressions of interjection is “outou” (answer). This is an expression to see the respond or answer from the listener. The expression can be a comment or reaction towards the listener’s opinion and demand. Keywords: “kandoushi” (interjection words), “outou” (jawaban).
Penyusunan SOP (Standard Operational Procedures) Perpustakaan untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Perpustakaan Perguruan Tinggi Elva Rahmah
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.173 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v13i2.3937

Abstract

The implementation of SOP (Standard Operational Procedures) in university library is needed to improve the service quality. The arrangement of SOP in University library includes four stages. The first is analysis of SOP needs. The beginning step in arranging of SOP is by analyzing SOP that will be created. Furthermore, the SOP that created depends on the ongoing work condition and procedures. The second is the development of SOP. Because of the change of internal and external organization of university library, SOP also has to change. The third is implementation of SOP. In implementing SOP, it is hoped that there is a balance between the availability of SOP, that organizes the operational activity of university library, and the human resources, that have professional behavior in arranging the library. The fourth is observation and evaluation. In order to implement SOP properly, it should be assessed by reviewers. These four steps are done in sequence to produce SOP that is appropriate to field needs for supporting the completeness of integrated quality management in university library. Therefore, the standard service quality of library can be measured by having SOP. Thus, the service quality which is given to visitors can be determined based on SOP. Keywords: library service, service quality, SOP
IMPROVING NEWS WRITING SKILL THROUGH COOPERATIVE LEARNING JIGSAW TYPE FOR THE VIIID GRADE OF MTs PONDOK PESANTREN AS-SALAM Mardiah Mardiah
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.97 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v15i2.7497

Abstract

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS BERITA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS VIIID MTs PONDOK PESANTREN AS-SALAMAbstractBased on initial observations in the field, the student’s news writing skills MTs Boarding School As-Salam Naga Beralih Kampar regency was still low. This is caused by several factors, one of which is the selection of the learning modeling accuracies. Learning model used is still the main choice in lecture learning. Another factor that comes from the students was the lack of motivation to write the story because it was thought that writing a story is a difficult activity. To correct this condition carried through Classroom Action Research Type Jigsaw Cooperative Learning Model. The Purpose of this research class action (1) Describing the process of improving the student skill in writing news items in class VIII D of class VIIID MTs Boarding School As-Salam Naga Beralih Kampar regency increases trough Jigsaw cooperative learning model, and (2) describing the supporting factors improved writing skills class VIIID news MTs Boarding School As-Salam Naga Beralih Kampar regency increases trough Jigsaw cooperative learning model. Class room Action Research was conducted in two cycles. Each cycle through the stages of (1) planning, (2) actions, (3) observation, (4) reflection. The subjects were students of class VIIID Boarding School As-Salam Naga Switch Kampar regency. The results of this study showed an increase in news writing skills class VIIID with respect to completeness of the content of the news (5w +IH), regularity of exposure, use of effective sentences, vocabulary used, the accuracy of using EYD, and attractiveness of headlines along with the formulation of several contributing factors in improving writing news class VIIID boarding School As-Salam Naga Beralih Kampar regency. Jigsaw cooperative learning model type is suitable for use by teachersin teaching students to write news. Teachers should choose appropriate learning steps in using the model of cooperative learning Jigsaw type new sin the learning process.Keywords: Keterampilan, Menulis Berita, Model Pembelajaran Kooperatif, Tipe Jigsaw. AbstrakBerdasarkan pengamatan awal di lapangan, kemampuan menulis berita siswa Pesantren MTs As-Salam Naga Beralih Kabupaten Kampar masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pemilihan ketepatan belajar modeling. Model pembelajaran yang digunakan masih menjadi pilihan utama dalam pembelajaran perkuliahan. Faktor lain yang datang dari para siswa adalah kurangnya motivasi untuk menulis cerita karena dianggap menulis sebuah cerita merupakan kegiatan yang sulit. Untuk memperbaiki kondisi ini dilakukan melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pembelajaran Gergaji Kelas. Tujuan dari tindakan kelas penelitian ini (1) Mendeskripsikan proses peningkatan kemampuan siswa dalam menulis item berita di kelas VIII D Pondok Pesantren VIII As-Salam Naga Beralih meningkat melalui model pembelajaran kooperatif Jigsaw, dan (2) Menggambarkan faktor pendukung peningkatan kemampuan menulis kelas VIIID berita Pesantren MTs As-Salam Naga Beralih Kabupaten Kampar meningkat melalui model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Ruang kelas Action Research dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus melalui tahapan (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIID Pondok Pesantren As-Salam Naga Beralih Kabupaten Kampar. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis berita kelas VIIID sehubungan dengan kelengkapan isi berita (5w + IH), keteraturan keterpaparan, penggunaan kalimat efektif, kosakata yang digunakan, keakuratan penggunaan EYD, dan daya tarik. Berita utama beserta rumusan beberapa faktor pendukung dalam memperbaiki penulisan berita kelas VIIID pesantren As-Salam Naga Beralih Kabupaten Kampar. Jenis model pembelajaran kooperatif jigsaw sangat cocok untuk digunakan oleh guru dalam mengajar siswa menulis berita. Guru harus memilih langkah pembelajaran yang tepat dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sin baru proses pembelajaran.Kata Kunci: Keterampilan, Menulis Berita, Model Pembelajaran Kooperatif, Tipe Jigsaw.
Rangsang Awal sebagai Motivasi dalam Pembelajaran Koreografi di Jurusan Pendidikan Sendratasik Desfiarni Desfiarni
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.84 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v10i2.59

Abstract

The creation of works of choreography requires a creative work process and time of development, ranging from initial stimulation until the dance composition. The stimulation of dance begins with stimulation of ideas, visual stimulation, stimulation of audio, kinesthetic stimulation, ad touch stimulation. The creation of dance associated with the creative process requires sufficient time. Choreographers are not just stringing-chain motion, but to develop ideas, creative power train in expressing movement, abstracting ideas at this stage of cultivation, improving the knowledge of understanding, and providing a variety in the creative process. Exploration activities undertaken are not yielding a form of dance, but rather motivating and stimulating the creation of a new movement through stages of composition that would be a form of dance. The appearance of creative ideas requires natural objects as the inspirations for choreographers Key word: Keyword: First stimulus, choreography, dance, choreographer, motivation.

Page 8 of 24 | Total Record : 238