cover
Contact Name
Devita Febriani Putri
Contact Email
devita@malahayati.ac.id
Phone
+62811796180
Journal Mail Official
jmm@malahayati.com
Editorial Address
Jln. Pramuka no.27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Medika Malahayati
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 23556757     EISSN : 25493582     DOI : https://doi.org/10.33024/jmm.v5i4
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Malahayati (JMM) merupakan jurnal peer-review, multidisiplin dan ilmiah yang menerbitkan artikel ilmiah yang relevan dengan masalah kesehatan nasional, bidang Kedokteran Dasar; Kedokteran Klinis; Kedokteran Molekuler; Kedokteran Forensik; Kesehatan Psikologi; Pendidikan Kedokteran; Kesehatan Masyarakat. JMM mempunyai akses terbuka, diterbitkan 4 kali per tahun untuk mempromosikan original research, case report dan review analisis di bidang yang berhubungan dengan kesehatan. Jurnal ini diakui secara nasional dan terindeks Google scholar. JMM merupakan platform Publikasi Ilmiah Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dengan nomor terdaftar eISSN 2549 - 3582 (Online). Diterbitkan Oleh: Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati email: jmm@malahayati.ac.id
Articles 526 Documents
Laporan Kasus : Bronkopneumonia Pada Bayi 10 Bulan Dengan Presentasi Klinis Atipikal Aspri Sulanto; Muhamad Iqbal Ramadan; Meisy Monica; Milla Monica Agiestya; Faramitha Sandra Irawan; I Ketut Candra Irawan; Heny Tri Andayani; Gilang Ramdhan Putra; Adiatma Bahrul Hilmi
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.20621

Abstract

Bronkopneumoni merupakan salah satu bentuk pneumonia yang sering terjadi pada bayi dan anak-anak, terutama pada usia di bawah lima tahun. Laporan kasus ini membahas seorang pasien perempuan berusia 10 bulan yang datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan demam naik turun selama tujuh hari, batuk berdahak, mual, dan muntah. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya suara tambahan ronki pada kedua lapang paru bagian bawah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan limfosit dan monosit serta penurunan neutrofil, MCV, dan MCH, yang mendukung kemungkinan infeksi saluran pernapasan bawah. Diagnosis ditegakkan sebagai bronkopneumonia, dan pasien mendapatkan tatalaksana berupa terapi cairan, antipiretik, antibiotik ceftriaxone, mukolitik, antiemetik, serta nebulisasi beta-agonis. Perbaikan klinis terjadi setelah tiga hari perawatan, ditandai dengan hilangnya demam dan berkurangnya batuk. Kasus ini menekankan pentingnya deteksi dini, diagnosis tepat, dan tatalaksana komprehensif dalam menangani bronkopneumoni pada anak, guna mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan.
Literature Review: Comprehensive Diagnostic Approach to Nipah Virus Infection; Integrating Clinical Features and Laboratory Confirmation Hidayat Hidayat; Mulat Muliasih
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.25408

Abstract

Nipah virus (NiV) infection is a highly fatal zoonotic disease that requires rapid and accurate diagnosis to reduce mortality and prevent outbreaks. This literature review aims to summarize current evidence on a comprehensive diagnostic approach integrating clinical features and laboratory confirmation of NiV infection. A structured search was conducted using databases such as PubMed, ScienceDirect, and WHO reports, focusing on peer-reviewed articles published within the last decade. Clinically, NiV infection presents with acute febrile illness, respiratory symptoms, and encephalitis, often supported by nonspecific laboratory findings such as thrombocytopenia and elevated liver enzymes. However, definitive diagnosis relies on laboratory confirmation. Real-time reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) remains the gold standard for early detection due to its high sensitivity and ability to detect viral RNA in multiple specimen types. Serological assays, particularly ELISA, complement diagnosis by identifying IgM and IgG antibodies during different stages of infection. Virus isolation and immunohistochemistry are confirmatory but limited by biosafety constraints. Recent advances highlight the growing role of rapid molecular techniques, though their implementation remains limited. Additionally, higher viral load detected by RT-PCR is associated with severe outcomes, underscoring its prognostic value. In conclusion, integrating clinical assessment with molecular and serological methods is essential for timely and accurate diagnosis of NiV infection, while further development of accessible diagnostic tools remains a global priority.
Faktor Sosiodemografi Pada Wisatawan Dengan Perilaku Pencegahan Malaria Di Daerah Endemis Malaria Provinsi Lampung Aprilina Sunardi; Betta Kurniawan; Jhons Fatriyadi Suwandi; Bayu Anggileo Pramesona; Suharmanto Suharmanto
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.24006

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah endemis, termasuk kawasan pesisir Provinsi Lampung yang berkembang sebagai destinasi wisata. Wisatawan merupakan kelompok berisiko akibat mobilitas tinggi dan aktivitas luar ruang, namun kepatuhan terhadap pencegahan malaria masih rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor sosiodemografi dengan perilaku pencegahan malaria pada wisatawan di daerah endemis malaria Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional cross sectional dan dilaksanakan pada Agustus–November 2025 di kawasan wisata pesisir endemis malaria Kabupaten Pesawaran, meliputi Kecamatan Punduh Pidada, Marga Punduh, dan Teluk Pandan. Sampel sebanyak 107 wisatawan domestik yang menginap minimal satu malam diperoleh melalui teknik consecutive sampling. Variabel yang diteliti meliputi tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan, dengan analisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan (p=0,865; OR=0,8), pekerjaan (p=0,715; OR=0,7), maupun pendapatan (p=0,465; OR=0,6) dengan perilaku pencegahan malaria. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku pencegahan malaria pada wisatawan tidak hanya dipengaruhi faktor sosiodemografi, sehingga diperlukan pendekatan berbasis perilaku dan persepsi risiko dalam upaya eliminasi malaria di kawasan wisata.
Hubungan Usia dengan Ukuran Tonsil pada Pasien Tonsilitis Kronis di RS Bintang Amin Bandar Lampung (2022–2024) Diah Wulan Nurfadilah; Muslim Kasim; Ringgo Alfarisi; Tan’im Arief
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.21613

Abstract

Tonsilitis kronis merupakan peradangan amandel yang berlangsung lama akibat infeksi berulang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan tonsil. Kondisi ini dapat memicu hiperplasia parenkim atau degenerasi fibrinoid disertai penyumbatan kripta, yang mengakibatkan pembesaran tonsil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia dengan ukuran tonsil pada pasien tonsilitis kronis di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung selama periode 2022–2024. Penelitian ini merupakan studi analitik cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis. Sampel sebanyak 164 pasien diambil dengan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi Square (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia ≤18 tahun merupakan kelompok terbanyak yang mengalami tonsilitis kronis, yaitu sebanyak 113 orang (68,9%), dan ukuran tonsil yang paling dominan adalah grade 3 sebanyak 78 orang (47,6%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pasien usia ≤18 tahun lebih banyak memiliki ukuran tonsil yang lebih besar (grade tinggi) dibandingkan usia 18 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan ukuran tonsil (p = 0,022). Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan ukuran tonsil pada pasien tonsilitis kronis di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2022–2024. Temuan ini menunjukkan bahwa kelompok usia lebih muda cenderung memiliki pembesaran tonsil yang lebih tinggi, sehingga diperlukan pemantauan dan penatalaksanaan dini untuk mencegah komplikasi.
Karakteristik Penderita Kanker Paru Di Bangsal Paru RSUD Raden Mattaher Jambi Periode Januari 2022 – Maret 2024 Al Faruq Zidan Ramadhan; Dicky Wahyudi; Ahmad Syauqi
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.25484

Abstract

Kanker paru merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker dengan prognosis yang buruk, terutama karena sebagian besar kasus terdiagnosis pada stadium lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita kanker paru di RSUD Raden Mattaher Jambi periode Januari 2022 hingga Maret 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan retrospektif melalui data rekam medis. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 39 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penderita berada pada kelompok usia 66 tahun (46,5%), berjenis kelamin laki-laki (79,5%), dan memiliki riwayat merokok (76,9%). Keluhan utama yang paling sering ditemukan adalah sesak napas (56,4%), diikuti nyeri dada (38,4%) dan batuk (5,1%). Berdasarkan gambaran radiologi, sebagian besar pasien mengalami efusi pleura (75,6%), sedangkan sisanya menunjukkan nodul paru (24,4%). Penelitian ini menunjukkan bahwa kanker paru lebih banyak terjadi pada laki-laki usia lanjut dengan riwayat merokok, serta umumnya datang dengan gejala sesak napas dan gambaran radiologis efusi pleura. Hasil ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam upaya deteksi dini, pencegahan, dan penanganan kanker paru, khususnya pada kelompok berisiko tinggi.
Kesiapan Sumber Daya Manusia Dalam Integrasi Layanan Primer : Studi Kasus Posyandu Kenanga II Syahdila Nur Izzati; Agung Aji Perdana; Wayan Aryawati; Trio Adiwibowo
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.22254

Abstract

Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan transformasi layanan primer merupakan salah satu pilar utama reformasi sistem kesehatan nasional. Salah satu wujud implementasinya adalah integrasi layanan kesehatan primer melalui Posyandu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan Posyandu Kenanga II dalam mendukung integrasi puskesmas, dengan fokus pada aspek sumber daya manusia. Penelitian menggunakan metode kualitatif eksploratif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Informan terdiri atas kepala desa, tim pembangunan desa, bidan desa, kepala puskesmas, empat kader, serta dua anggota masyarakat pengguna posyandu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman kader terkait konsep Posyandu   masih terbatas, khususnya dalam komunikasi efektif, kunjungan rumah, pencatatan, dan pelaporan. Kesiapan sumber daya manusia di Posyandu Kenanga II dinilai belum optimal dalam mendukung pelaksanaan integrasi layanan primer. Sebagian besar kader belum memahami SOP ILP secara komprehensif dan pencatatan masih manual. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan, pengawasan rutin, serta peningkatan kolaborasi lintas sektor guna memperkuat kesiapan sumber daya manusia dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
Laporan Kasus : Benign Paroxysmal Positional Vertigo Pada Wanita 44 Tahun Muhamad Ibnu Sina; Nurmarisa Nurmarisa; Muhammad Farhan Dito
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.21113

Abstract

Vertigo merupakan sensasi ilusi gerakan, terutama berputar, yang sering kali disertai dengan keluhan otonom seperti mual dan muntah. Vertigo perifer, termasuk Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), adalah bentuk tersering dan sering kali bersifat jinak namun sangat mengganggu kualitas hidup pasien. Laporan ini membahas seorang wanita usia 44 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan pusing berputar sejak satu hari sebelumnya, terutama memburuk saat perubahan posisi kepala, disertai mual, muntah, dan nyeri ulu hati. Pemeriksaan fisik dan neurologis menunjukkan tidak adanya tanda fokal, namun tes Romberg dan tandem gait positif. Diagnosis klinis ditegakkan sebagai vertigo perifer dengan etiologi BPPV. Pasien mendapat terapi kombinasi rehidrasi, antiemetik, betahistin, flunarizin, dan diazepam dengan perbaikan klinis bertahap dalam tiga hari perawatan. Laporan ini menekankan pentingnya diagnosis dini, identifikasi gejala khas vertigo perifer, serta penatalaksanaan komprehensif untuk mencapai perbaikan gejala dan mencegah kekambuhan.
Laporan Kasus: Wanita 27 Tahun Dengan Kista Ovarium Sinistra Ukuran Besar Yang Ditatalaksana Dengan Salpingo-Ooforektomi Bambang Kurniawan; Fuad Farras Gusreputra; Natasabila Natasabila; Della Ling Kim; Ricky Dharmawan; Yuke Wulandari; Wanda Fatresia; Haidar Nahda Tajallaika AP; Amalina Nur Puspitaningdiyah
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.23582

Abstract

Kista ovarium merupakan salah satu tumor ginekologi jinak yang sering ditemukan pada wanita usia reproduksi, dengan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga nyeri pelvis, gangguan menstruasi, dan distensi abdomen. Penatalaksanaan ditentukan berdasarkan ukuran kista, gejala yang ditimbulkan, serta risiko keganasan. Seorang wanita berusia 27 tahun datang dengan keluhan nyeri haid sejak satu bulan yang disertai rasa kembung dan pembesaran perut yang progresif. Pasien belum menikah, memiliki siklus menstruasi teratur, dan tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi abdomen dan teraba massa kistik berukuran sekitar 7,5 × 5 cm disertai nyeri tekan. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya kista ovarium kiri berukuran 7,10 × 5,84 cm. Hasil pemeriksaan laboratorium berada dalam batas normal. Berdasarkan temuan klinis dan penunjang, ditegakkan diagnosis kerja kista ovarium sinistra, dan pasien menjalani tindakan salpingo-ooforektomi sinistra melalui laparotomi karena ukuran kista dan risiko komplikasi. Selama operasi ditemukan massa kistik yang lebih besar, yaitu sekitar 25 × 25 cm, sebagian padat dan tanpa perlengketan, yang mengindikasikan kemungkinan underestimation pada pemeriksaan pencitraan. Perdarahan selama operasi diperkirakan ±300 cc. Penatalaksanaan pascaoperasi meliputi terapi cairan, analgesik, antibiotik, serta monitoring ketat. Kasus ini menekankan pentingnya evaluasi komprehensif dan penatalaksanaan bedah yang tepat waktu pada kista ovarium berukuran besar untuk mencegah komplikasi serta mempertahankan fungsi reproduksi.    
Hubungan Intensitas Olahraga Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus : Studi Cross-Sectional Di RS Natar Medika Lampung Selatan Marsheilla Deyenda; Firhat Esfandiari; Festy Ladyani; Toni Prasetia
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.21909

Abstract

Diabetes melitus merujuk pada gangguan metabolik kronis terjadinya hiperglikemia akibat adanya gangguan sekresi atau kerja insulin. Salah satu penatalaksanaan non-farmakologis yaitu mengendalikan kadar gula darah dengan cara olahraga teratur. Studi ini diselenggarakan untuk mengidentifikasi hubungan antara intensitas olahraga dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus di RS Natar Medika Lampung Selatan. Studi ini memakai desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional.  Sampel mencakup 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan cara observasi langsung aktivitas olahraga serta pemeriksaan kadar gula darah menggunakan alat Easy Touch.  Hasil penelitian menunjukkan yang paling banyak intensitas olah raga tinggi (4x/bulan) dengan kadar gula darah rendah (100mg/dL) sebanyak 36 responden (60%), sementara responden dengan olahraga ringan (1-2x/bulan) cenderung mempunyai kadar gula darah tinggi (200mg/dL) sebanyak 4 responden (6,7%). Uji statistik menggunakan uji Chi Square komparatif non parametrik. Hasil analisis memperlihatkan terdapat korelasi signifikan antara intensitas olahraga dan kadar gula darah (p = 0,001). Oleh karena itu penelitian ini ada hubungan intensitas olahraga dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus. Direkomendasikan olahraga sebagai bagian dari pengelolaan komprehensif bagi penderita diabetes.
Clinical Outcome of Autologous Hematopoietic Stem Cell Transplantation in Stiff Person Syndrome: A Literature Review Dedeh Supantini; Fellicia Meiliana Fransisca; Ardo Sanjaya; Julia Windi Gunadi; Sylvia Tanumihardja
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.25044

Abstract

Stiff person syndrome (SPS) is a rare immune-mediated neurological disorder characterized by progressive muscle stiffness and painful spasms that significantly impair functional ability. Although symptomatic and immunomodulatory therapies are commonly used, some patients remain refractory to standard treatments. Autologous hematopoietic stem cell transplantation (aHSCT) has been proposed as a potential therapeutic option for severe or treatment-resistant cases. This literature review aims to evaluate the clinical outcomes and safety of aHSCT in patients with SPS. A narrative literature review was conducted using published studies reporting the use of  aHSCT in SPS, including clinical trials, cohort, case series, and case reports. Relevant articles were identified through PubMed and Google Scholar, limited to studies published within the last ten years. A total of 134 articles were initially identified, followed by a selection process, and five eligible articles were included in this review. The reviewed studies demonstrated that aHSCT may lead to clinical improvement in selected patients with refractory SPS. Autologous HSCT reduced muscle stiffness and improved functional status. Treatment responses varied, and some non-responders were reported; however, overall clinical outcomes were favorable with acceptable safety profiles. In conclusion, aHSCT may be considered a potential therapeutic option for severe or treatment-resistant SPS, although further prospective studies are needed to confirm its efficacy and safety.