cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Studi Organologi pada Alat Musik Seruling Bambu dalam Pertunjukan Kesenian di Desa Tebat Ijuk Sari, Ayuthia Mayang; Pratama, Olan Yogha
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.28956

Abstract

Penelitian ini mengkaji proses pembuatan alat musik seruling bambu di desa Tebat Ijuk kecamatan Depati VII kabupaten Kerinci. Seruling Bambu merupakan alat musik tradisional dengan suara yang unik dan pada awalnya dimainkan secara individu oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Dalam perkembangannya seruling bambu dijadikan pertunjukan kesenian berbentuk ensambel musik tradisional. Saat ini tidak banyak masyarakat desa Tebat ijuk dan generasi muda yang mengetahui proses pembuatan alat musik ini. Tujuan penelitian ini untuk membedah mengenai bahan, proses serta teknik yang digunakan dalam pembuatan alat musik seruling bambu.  Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dalam menjelaskan proses pembuatan seruling bambu dan menggunakan kajian organologi sebagai landasan dalam menganalisa objek tersebut. Hasil penelitian didasarkan pada teori teknis organologi yang terdapat didalamnya pengukuran alat musik, pendeskripsian, penggambaran serta teknik pembuatannya. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa proses pembuatan alat musik seruling bambu masih menggunakan teknik tradisional dalam penggunaan bahan, alat dan metode pembuatannya untuk menghasilkan suara seruling bambu yang nantinya dapat digunakan dalam pertunjukan kesenian seruling bambu.   This research examines the process of making bamboo flute musical instruments in Tebat Ijuk village, Depati VII sub-district, and Kerinci district. The bamboo flute is a traditional musical instrument with a unique sound that was originally played individually by people who worked as farmers. In its development, bamboo flutes were used as performing arts in the form of traditional music ensembles. Currently, not many residents of Tebat Ijuk village and the younger generation know the process of making this musical instrument. The aim of this research is to dissect the materials, processes, and techniques used in making bamboo flute musical instruments. This research uses a qualitative, descriptive approach in explaining the process of making bamboo flutes and uses organological studies as a basis for analyzing this object. The research results are based on the technical theory of organology, which includes the measurement of musical instruments, descriptions, depictions, and manufacturing techniques. The conclusion from this research is that the process of making bamboo flute musical instruments still uses traditional techniques, both in the use of materials, tools, and manufacturing methods, to produce bamboo flute sounds that can later be used in bamboo flute art performances.
Peran Kampanye Ular Tangga AKSI (Antikorupsi) sebagai Media Belajar di SDN 11 Jimbaran Cendharana, Nanda Aqshal; Handriyotopo, Handriyotopo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.29350

Abstract

Korupsi adalah masalah serius yang dapat menghancurkan integritas dan pembangunan suatu negara. Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk memulai upaya pencegahan sejak dini, termasuk melibatkan anak-anak sebagai generasi masa depan yang berintegritas. Dalam, kampanye "Ular Tangga AKSI" diimplementasikan di SDN 11 Jimbaran, Bali, dengan fokus pada anak-anak sekolah dasar.Kampanye ini dirancang untuk mengajarkan anak-anak tentang arti pentingnya antikorupsi, serta memberikan pemahaman tentang etika, kejujuran, dan transparansi. Melalui permainan ular tangga yang interaktif dan edukatif, anak-anak diajak untuk memahami konsep-konsep ini secara menyenangkan. Hasil dari penelitian berdasarkan kuesioner pre-test, post-test, serta kuesioner opini yang responden ikuti menunjukkan bahwa permainan ini efektif dalam meningkatkan kesadaran mereka tentang korupsi dan mendorong mereka menjadi agen perubahan dalam melawan korupsi melalui pemahaman nilai-nilai integritas dan peran aktif dalam menyebarkan pesan antikorupsi. Dari hasil penelitian yang ada, dapat disimpulkan bahwa kampanye ular tangga AKSI (Antikorupsi) dapat meningkatkan kesadaran anak-anak dalam pemahaman antikorupsi namun kekurangan penelitian ini belum ada sistem untuk memantau perilaku responden ke depannya.   Corruption is a serious problem that can undermine the integrity and development of a country. To address this issue, it is important to start prevention efforts early, including involving children as the future generation of integrity. In the "Ular Tangga AKSI" campaign implemented in Jimbaran, Bali, the focus is on elementary school children. This campaign is designed to teach children about the importance of anti-corruption and provide an understanding of ethics, honesty, and transparency. Through interactive and educational snake and ladder games, children are invited to understand these concepts in a fun way. The results of the research, based on pre-test and post-test questionnaires, as well as opinion surveys conducted with the respondents, indicate that this game is effective in enhancing their awareness of corruption and motivating them to become agents of change in the fight against corruption through an understanding of the values of integrity and an active role in spreading anti-corruption messages. From the existing research findings, it can be concluded that the AKSI (Anti-Corruption) snakes and ladders campaign can increase children's awareness of anti-corruption understanding. However, a limitation of this research is the absence of a system to monitor the respondents.
Dampak Menonton Video Dakwah di Media Sosial Tik Tok terhadap Pengalaman Agama Remaja Masjid Desa Medan Krio Fauzi, Ahmad; Muktarruddin, Muktarruddin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.29398

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak memonton video dakwah di media social Tik Tok terhadap pengalaman agama remaja di Masjid Medan Krio. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data dalam   penelitian   ini   diperoleh   dari   sumber   data primer  yaitu  hasil  wawancara  mendalam,  observasi mengenai  tinjauan  yang  dijadikan fokus    penelitian    ini.    Format    pengolahan    data menggunakan  analisis  deskriptif  dimana  data  yang dikumpulkan berupa kata-kata. Sedangkan,   untuk   sumber   data   penunjang   dalam penelitian ini adalah buku dan jurnal terdahulu yang selaras dengan penelitian ini. Penelitian ini didasarkan pada dampak pengguna pengguna aplikasi Tik Tok akan berusaha mengubah perilaku keagamaan remaja yang terabaikan, seperti shalat, mengaji, menaati orang tua, dan menjaga lingkungan sosialnya. Dari semua hasil wawancara yang telah dilakukan para remaja masjid mengaku menonton video dakwah di Tik Tok sangat berpengaruh untuk pengamalan agama mereka, karena setiap menonton konten dakwah dimedia sosial Tik Tok mereka jadi tertarik untuk melakukan hal-hal yang disampaikan video tersebut. Dengan adanya konten dakwah tersebut mereka akan mengikuti apa yang disampaikan oleh para da’i jika itu sesuai dan apalagi da’i tersebut adalah orang yang mereka sukai. Seperti sholat, ketika konten dakwah tidak masuk ke beranda mereka pastinya mereka akan mengulur waktu untuk sholat, tetapi dengan adanya konten dakwah pada media sosial Tik Tok akan meningkatkan pengamalan agama mereka. Banyak hal yang mereka awalnya tidak tahu dengan menonton konten dakwah menjadi tahu, seperti tuntunan doa-doa sehari-hari yang bisa diamalkan, efek apabila mereka melakukan sedekah, berperilaku baik, berkata-kata-kata baik.     This study aims to analyze the impact of da'wah videos on Tik Tok social media on the religious experience of adolescents at Medan Krio Mosque. This research uses qualitative methods with the type of field research (field research). The data in this study was obtained from primary data sources, namely the results of in-depth interviews, observations about the review that was the focus of this study. The data processing format uses descriptive analysis where the data collected is in the form of words. Meanwhile, the supporting data sources in this study are previous books and journals that are in line with this study. This research is based on the impact that users of the Tik Tok application will try to change the neglected religious behavior of adolescents, such as praying, reciting, obeying parents, and maintaining their social environment. From all the interviews that have been conducted, mosque teenagers claim to watch da'wah videos on Tik Tok is very influential for their religious practice, because every time they watch da'wah content on Tik Tok social media they become interested in doing the things conveyed by the video. With the content of da'wah they will follow what is conveyed by the da'is if it is appropriate and moreover the da'i is the person they like. Like praying, when da'wah content does not enter their homepage, of course they will buy time to pray, but with the da'wah content on Tik Tok social media will increase their religious practice. Many things that they initially did not know by watching da'wah content became known, such as the guidance of daily prayers that can be practiced, the effects if they do alms, behave well, speak good words.
Uncovering the Representation of Indonesian Culture: An Analysis of Marjan Syrup Advertisement Sihombing, Lambok Hermanto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.29594

Abstract

The efforts to preserve the culture could be done in various ways. Advertisement is one of them. This study aims to analyze the advertisement of Marjan syrup, one of the popular Indonesian syrups that not only attempts to attract customers but also introduce Indonesian culture. To examine how Marjan syrup represents Indonesian culture, the object of the study was taken from @Iklanesia HD YouTube channel entitled “Iklan Sirup Marjan-Tari Betawi dan Sepatu Roda”. The author applies a qualitative approach by finding the dataset through literary works. The author utilizes the concept of Advertisement Kia Brandt and Representation from Stuart Hall to analyze how the Marjan syrup advertisement attempts to represent Indonesian culture especially Betawi culture. The findings show that there are several signs of Betawi culture shown in this advertisement. The representation of Betawi culture could be seen through the existence of Ondel-ondel, trumpet, coconut flower (kembang kelape), and mask dance (tari topeng) in the ads.   Upaya melestarikan budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Iklan merupakan salah satu media untuk memperkenalkan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis iklan sirup Marjan, salah satu sirup populer Indonesia yang tidak hanya berupaya menarik pelanggan tetapi juga memperkenalkan budaya Indonesia. Untuk mengkaji bagaimana sirup Marjan mewakili budaya Indonesia, objek penelitian diambil dari @Iklanesia HD yang berjudul “Iklan Sirup Marjan-Tari Betawi dan Sepatu Roda”. Penulis menerapkan pendekatan kualitatif dengan memperoleh data melalui artikel ilmiah. Penulis menggunakan konsep Advertisement dari Kia Brandt and Representation dari Stuart Hall untuk menganalisis bagaimana iklan sirup Marjan berupaya merepresentasikan budaya Indonesia khususnya budaya Betawi. Hasil dari penulisan artikel ilmiah ini ditunjukkan melalui beberapa simbol dari budaya Betawi. Representasi budaya Betawi adalah Ondel-ondel, terompet, kembang kelapa, dan tari topeng (tari topeng).
Model Kelembagaan Adat Desa dalam Membangun Ekonomi Produktif Masyarakat Faletehan, Aun Falestien; Mauludin, Muchammad Firman; Hakim, Ahmad Khairul
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.29364

Abstract

Di tengah minimnya studi tentang model kelembagaan adat dan peranannya dalam sektor ekonomi, riset ini bertujuan untuk melahirkan model organisasi Lembaga Adat Desa yang efektif dan menggambarkan peranannya dalam pengembangan kegiatan ekonomi produktif masyarakat. Mengambil desain kualitatif, riset ini dilakukan di Desa Ngadisari Probolinggo dengan memanfaatkan teknik pengumpulan data seperti wawancara dan observasi. Dengan analisis tematik, hasil riset menunjukkan bahwa struktur kelembagaan adat di desa ini cenderung bersifat informal dan menekankan adanya kolaborasi kolegial antara kepala desa, Paruman Dukun Tengger, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Ketiganya membentuk kesatuan entitas unik yang bertugas dalam melestarikan adat dan mengayomi masyarakat terkait hal-hal apapun. Peranan Lembaga Adat Desa ini dalam mengungkit kegiatan ekonomi produktif masyarakat cukup tampak dalam fungsinya sebagai pelindung aset ekonomi warga, lembaga yang mengajarkan pendekatan spiritual dan kearifan lokal terkait sektor mata pencaharian masyarakat, penegak aturan adat untuk konservasi alam, inisiator kolaborasi dengan pihak luar, mentor teknis di sektor ekonomi, dan pengelola keharmonisan sosial dalam bekerja. Studi ini merekomendasikan agar model kelembagaan adat desa seperti ini hendaknya dipertahankan sebagai pola kepemimpinan yang unik untuk melestarikan adat, membantu pengembangan ekonomi produktif, dan mengayomi masyarakat.      Amidst the paucity of research on the customary institutional model and its involvement in the economic domain, this study endeavors to formulate an effective organizational framework for the village customary institution and scrutinize its contributions to the advancement of the community's productive economic endeavors. Employing a qualitative approach, this investigation was carried out in Ngadisari Village, Probolinggo, using data collection techniques including interviews and observations. With thematic analysis, the findings reveal that the structure of the customary institution in this village leans towards informality, prioritizing collaborative partnerships between the village head, Paruman Dukun Tengger, and Parisada Hindu Dharma Indonesia. These three entities together constitute a distinctive and cohesive unit, entrusted with the preservation of traditions and safeguarding the community's interests across diverse spheres. The village customary institution plays a discernible role in catalyzing the community's productive economic undertakings. It functions as a guardian of the community's economic assets, an institution that imparts spiritual insights and indigenous wisdom pertinent to the community's livelihood pursuits, enforcers of traditional regulations for ecological preservation, initiators of collaborative ventures with external entities, technical mentors in the economic domain, and managers of harmonious workplace interactions. This study recommends that such a model of village customary institutions should be preserved as a unique leadership pattern to preserve traditions, aid in the development of productive economies, and nurture communities.
Front Matter Volume 7 No 2 Oktober 2023 Satwika, Admin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai-Nilai Etno-Parenting Pada Serat Sasana Sunu: Analisis Hermeneutik Hermawan, Salsabila Yuli Adys; Arilla Ainda Ubak; Sabila, Aliza Nur; Harits, Iasha Brillianti; Putra, Fathur Andyka; Wahyuni, Fitri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30173

Abstract

Terjadinya penyimpangan moral dan gaya hidup generasi muda sering kali menyebabkan bergesernya nilai-nilai moral dan budaya lokal yang ada sehingga diperlukan adanya revitalisasi nilai-nilai moral. Upaya tersebut dapat dilakukan dalam penerapan pola asuh dengan berlandaskan budaya lokal yang ada di lingkungan sekitar. Salah satu perantara yang dapat digunakan dalam mendidik karakter moral anak adalah Serat Sasana Sunu. Tujuan diadakannya riset ini adalah untuk; 1) mengkaji filosofi nilai-nilai yang terkandung pada Serat Sasana Sunu, serta 2) menginternalisasi dan mengintegrasikan Serat Sasana Sunu sebagai rekomendasi model parenting yang berlandaskan budaya lokal. Riset ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif hermeneutika milik Ricoeur. Data diperoleh menggunakan teknik studi literatur (literature riset). Hasil yang dicapai dalam riset di antaranya adalah ditemukannya 5 nilai dari Serat Sasana Sunu yang dapat digunakan sebagai model parenting, yaitu; ajaran beragama, ajaran menyikapi kegemaran hidup, ajaran berkawan, sikap sebagai generasi muda, dan ajaran bertutur kata. Integrasi nilai-nilai parenting yang telah ditemukan dalam Serat Sasana Sunu relevan dengan gabungan antara pendekatan pola asuh demokratis dan eklektik.   The occurrence of deviations in the morals and lifestyles of the younger generation often causes a shift in existing moral values ​​and local culture so that there is a need to revitalize moral values. These efforts can be made in implementing parenting patterns based on local culture in the surrounding environment. One of the intermediaries that can be used to educate children's moral character is Serat Sasana Sunu. The aim of conducting this research is to; 1) examine the philosophy of values ​​contained in Serat Sasana Sunu, and 2) internalize and integrate Serat Sasana Sunu as a recommended parenting model based on local culture. This research was carried out using Ricoeur's qualitative hermeneutical method. Data in this research was obtained using literature study techniques (literature research). The results achieved in the research include the discovery of 5 values ​​from Serat Sasana Sunu which can be used as a parenting model, namely; religious teachings, teachings about dealing with life's passions, teachings about making friends, attitudes as a young generation, and teachings about speaking. The integration of parenting values ​​that have been found in Serat Sasana Sunu is relevant to the combination of democratic and eclectic parenting approaches.
Pola Arkeoastronomi: Kerajaan Wengker Berdasarkan Garis Imajiner pada Sendang Kuno di Ponorogo Sucahyo, Iqbal Rizki; Zameilani, Niswa Asmi; Andhifani, Wahyu Rizky; Wiretno, Wiretno
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30205

Abstract

Kabupaten Ponorogo merekam jejak peradaban Kerajaan Wengker yang masih diperdebatkan lokasi pusat pemerintahan. Berdasarkan observasi awal, peneliti menemukan pola garis imajiner yaitu Situs Sendang Beji, Situs Sirah keteng, Goa Pertapa Selo Jolo Tundho dan Punden Ngreco. Pola garis tersebut menunjukkan kemungkinan sebuah pola tata ruang dan kosmologi. Metode yang digunakan adalah Grounded Research yang dibantu dengan ilmu Arkeoastronomi serta budaya untuk mencari hubungan garis imajiner dengan posisi benda langit. Penelitian ini menggunakan teknik analisis astronomi dan analisis arkeologi yang diperoleh dari wawancara, literatur, benda arkeologi dan kondisi geografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garis imajiner utama yang ditemukan peneliti memiliki kesegarisan dengan matahari pada Bulan Caitra yang merupakan bulan pertama dalam kalender saka serta kosmologi spiritual Masyarakat Wengker yang berorientasi pada gunung Suci Wilis. Topografi tinggalan arkeologi pada garis imajiner dan sekitarnya belum menunjukkan keberadaan lokasi pusat pemerintahan tetapi menjadi bukti adanya peradaban Kerajaan Wengker yang terbagi dalam 3 wilayah yaitu, tani atau pemukiman penduduk, dharma lpas atau tanah hibah raja dan karesyian. Selain itu, situs-situs disekitar garis imajiner juga menunjukkan pola pertahanan raja atau penguasa wilayah Wengker. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan pemerintah dalam pelestarian situs sejarah di Ponorogo, serta menambah khazanah ilmu pengetahuan, agar terus dikembangkan.   Ponorogo Regency records traces of the civilization of the Wengker Kingdom which is still debated on the location of the seat of government. Based on initial observations, researchers found imaginary line patterns, namely the Sendang Beji Site, Sirah keteng Site, Selo Jolo Tundho and Punden Ngreco. The line pattern shows the possibility of a spatial and cosmological pattern. The method used is Grounded Research which is assisted by archaeoastronomy and culture to find the relationship between imaginary lines and the position of celestial bodies. This research uses astronomical analysis techniques and archaeological analysis obtained from interviews, literature, archaeological objects and geographical conditions. The results showed that the main imaginary line found by the researcher has a parallelism with the sun in the month of Caitra which is the first month in the saka calendar as well as the spiritual cosmology of the Wengker Community which is oriented towards the Holy mountain Wilis. The topography of archaeological remains on the imaginary line and its surroundings has not shown the existence of a central government location but is evidence of the existence of the Wengker Kingdom civilization which is divided into 3 areas, namely, tani or residential areas, dharma lpas or king's grant land and karesyian. In addition, the sites around the imaginary line also show the defense pattern of the king or ruler of the Wengker region. The results of this research can be a reference for the government in preserving historical sites in Ponorogo, as well as adding to the treasury of knowledge, so that it continues to be developed. 
Pengembangan Pariwisata Berbasis Kerakyatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal Jawa Tengah Nadhirah, Faizzati; Adiputra, Agung
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30583

Abstract

Pengembangan pariwisata kerakyatan mengutamakan partisipasi aktif masyarakat setempat dalam seluruh tahapan pengembangan pariwisata, mulai dari perencanaan hingga implementasi program pariwisata. Hal ini akan memastikan bahwa pembangunan pariwisata berlangsung secara berkelanjutan dan memperkuat ekonomi lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pariwisata kerakyatan dapat dikembangkan di kawasan Bumijawa. Penelitian yang dilakukan peneliti merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT. Pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik Multistage Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan pengembangan pariwisata Kecamatan Bumijawa dilakukan menggunakan analisis SWOT yang termasuk dalam Kuadran I, menjelaskan bahwa Kabupaten Bumijawa masih dalam posisi yang baik karena mempunyai kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk  peluang yang menguntungkan. Analisis strategi yang digunakan pada Kuadran I adalah strategi agresif, yaitu dengan cara pengelolaan wisata yang dilakukan oleh masyarakat meningkatkan daya tarik wisata dan berdampak pada perekonomian lokal.   Popular tourism is an idea that supports the local community's economy with the culture and local wisdom of the local area. This idea will impact the selling value of the tourist destination by becoming a tourist attraction wrapped in local culture. Community tourism development prioritizes the active participation of local communities in all stages of tourism development, from planning to implementing tourism programs. This will ensure that tourism development takes place in a sustainable manner and strengthens the local economy. The aim of this research is to explain how popular tourism can be developed in the Bumijawa region. The research conducted by the researcher was a qualitative descriptive study using a SWOT analysis approach. The sampling technique for this research uses the Multistage Random Sampling technique. The research results show that one of the strengths of tourism is its high dependence on natural resources and local culture. The variety of tourist attractions in Bumijawa Regency is the reason why tourists are interested in visiting Bumijawa Regency because their interest is not only in the beauty of its natural resources, but also the rich culture offered by the local community. The reason tourists are interested in visiting is because of the friendliness of the community in receiving visitors, making it easier for visitors to carry out tourist activities.
Tinjauan Kritis Filsafat Kebudayaan Van Peursen dalam Nuansa Magis Upacara Adat Labuhan Yogyakarta Dony, Ahmad Rama; Daffa, Muhammad
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30859

Abstract

Eksistensi dari Kerajaan Mataram di tanah Jawa tidak bisa terlepaskan dari upacara adat yang turun-temurun dan melekat pada kultur masyarakat, khususnya Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Tujuan penelitian sebagai tinjauan kritis filsafat kebudayaan Van Peursen dalam nuansa magis upacara labuhan Yogyakarta. Pemikiran C.A. Van Peursen berkolerasi dalam pelaksanaan upacara labuhan yang membagi kebudayaan menjadi tiga tahap; tahap mistis, ontologis dan fungsional. Penelitian ini menggunakan deskriptif analisis, mendeskripsikan data-data yang dihimpun kemudian dilakukan analisis, sehingga ditemukanlah tinjauan kritis kebudayaan Van Peursen melalui upacara labuhan. Hasil penelitian ini adalah 1) Pada tahap mistis upacara labuhan dilaksanakan atas perjanjian yang telah diikat oleh Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul dan ikatan tersebut wajib dilanjutkan oleh anak cucu Panembahan Senopati. 2) Tahap ontologis dari upacara labuhan dilaksanakan adalah sebagai bentuk penyatuan masyarakat dan memberikan dampak sosial 3) Pada tahap fungsional, upacara labuhan memiliki peran sebagai pengembangan dan pembangunan sektor wisata yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dalam dan luar negeri. Namun berdasarkan tahap perkembangan kebudayaan ditemukan tahapan yang tidak bisa ditemukan dalam upacara labuhan. Upacara labuhan di Dlepih dan Gunung Lawu tidak bisa mencapai tahap fungsional, sehingga di dua tempat hanya sampai pada tahap mistis dan supranatural.   The existence of the Mataram Kingdom in Java cannot be separated from the traditional ceremonies that are hereditary and inherent in the culture of the community, especially the Surakarta Sunanate and Yogyakarta Sultanate. The purpose of the research is a critical review of Van Peursen's philosophy of culture in the magical nuances of Yogyakarta's Labuan ceremony. The thinking of C.A. Van Peursen correlates with the implementation of the Labuhan ceremony, which divides culture into three stages: mystical, ontological, and functional stages. This research uses descriptive analysis, describing the data collected and then analyzing it so that a critical review of Van Peursen's culture through the Labuan ceremony is found. The results of this research are 1) In the mystical stage, the Labuan ceremony is carried out on the agreement that has been bound by Panembahan Senopati and Kanjeng Ratu Kidul and the bond must be continued by Panembahan Senopati's children and grandchildren. 2) The ontological stage of the Labuhan ceremony is carried out as a form of community unification and has a social impact 3) At the functional stage, the Labuan ceremony has a role in the development and development of the tourism sector which has its attraction for domestic and foreign communities. However, based on the stages of cultural development, some stages cannot be found in the Labuhan ceremony. The Labuan ceremony in Dlepih and Gunung Lawu cannot reach the functional stage so in two places it only reaches the mystical and supernatural stages.