cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JFIOnline
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia. Isi website memuat seluruh jurnal yang telah diterbitkan mencakup semua aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian antara lain farmakologi, farmakognosi, fitokimia,farmasetika, kimia farmasi, biologi molekuler, bioteknologi, farmasi klinik,farmasi komunitas, farmasi pendidikan, dan lain-lain.
Arjuna Subject : -
Articles 443 Documents
FORMULASI EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) DENGAN BASIS GEL SEBAGAI ANTIINFLAMASI Abdassah, Marline; Sumiwi, Sri Adi; Hendrayana, Jemmy
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v4i4.29

Abstract

Formulation anti-inflammatory gel  from sukun leaves extract (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) by various sukun leaves extract concentrate 4%, 8%, 12%, and 16% has been carried out. The purpose is  to find a stable formula of extract, efective and safe as gel anti-inflammatory. The evaluation included  stability,  organoleptic, pH , viscosity, consistency, safety test after 56 days storage, and anti-inflammatory activity has been investigated on male white rats of Wistar strain. The activity test using the carrageenan inducement method of the right paw of the rats and the  materials test were given topically. The result showed after  physical and chemical stability observation  , no changes occurred. In  safety test, every forms has been guaranteedly safety since no skin irritation occur. Effectivity test showed that every formula can produces anti-inflammatory activity. The best formula  was given anti-inflamatory, is gel with concentrate sukun leaves extract (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg)of  16%, inflammation inhibition of 6.96%. ABSTRAK Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi gel antiinflamasi dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) dengan menggunakan variasi konsentrasi ekstrak 4%, 8%, 12%, dan 16%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula gel yang stabil, efektif dan aman dalam penggunaannya  sebagai  sediaan gel antiinflamasi. Pengujian meliputi uji stabilitas, yaitu pemeriksaan secara organoleptis, perubahan pH, viskositas, konsistensi, uji keamanan selama 56 hari penyimpanan, dan uji aktivitas antiinflamasi terhadap tikus putih jantan galur Wistar. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan metode penginduksian karagenan pada telapak kaki kanan tikus dan bahan uji diberikan secara topikal. Hasil pengamatan stabilitas fisik dan kimia sediaan meliputi konsistensi, warna, dan bau menunjukkan bahwa selama 56 hari penyimpanan tidak terjadi perubahan. Sedangkan untuk nilai viskositas dan pH mengalami penurunan. Berdasarkan uji keamanan, setiap formula dinyatakan aman untuk digunakan karena tidak mengiritasi kulit. Hasil pengujian efektivitas menunjukkan bahwa semua formula dapat memberikan aktivitas antiinflamasi.  Formula yang memberikan aktivitas antiinflamasi paling baik adalah formula dengan konsentrasi ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) 16%,  dengan memberikan efek inhibisi radang 6,96%.
PENGEMBANGAN POTENSI RHODOMYRTONE SEBAGAI BAHAN AKTIF SEDIAAN TOPIKAL Fahmi, Rizal; Rullah, Kamal; Rahmat, Rosita Dewi; Lucida, Henny; Manjang, Yunazar; Hj. Lajisc, Nordin; Dachriyanus, .
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v6i1.93

Abstract

Rhodomyrtone, an antibacterial constituent was isolated from the active fraction of theleaves extract of Karamuntiang, Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk. In this presentstudy, the topical cream formula of rhodomyrtone 2% in vanishing cream was evaluated byin vitro and in vivo preclinical test. The in vitro test was peformed against Staphylococcusaureus ATTC 6538 and Staphylococcus epidermidis ATTC 12228 by using disk agardiffusion method, while the in vivo test was evaluated on the surface of skin infection area ofthe rabbit caused by Staphylococcus aureus. Both these tests were guided bychloromphenicol 2% cream as a comparison. The topical cream of rhodomyrtone 2% invanishing cream showed diameters of inhibition zones of 15 mm and 26 mm towardStaphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis respectively. These diffusions werelower than inhibition zones of chloromphenicol 2% cream which has 30 mm and 32 mm forthe same bacterias in the same condition. The in vivo test showed that rhodomyrtone 2%topical cream can reduced that skin infection and did not caused irritation on the testedrabbits.ABSTRAKRhodomyrtone adalah suatu konstituen antibakteri fraksi aktif ekstrak daun karamuntiang,Rhodomyrtus tomentosa (Ait) Hassk. Pada penelitian ini telah dilakukan uji preklinisterhadap krim sediaan topikal Rhodomyrtone 2% dalam vanishing cream. Uji preklinissecara in vitro menggunakan media agar dan Staphylococcus aureus ATTC 6538 danStaphylococcus epidermidis 12228 sebagai bakteri uji, sedangkan secara in-vivo dilakukanterhadap kulit pada kelinci yang di infeksi dengan Staphylococcus aureus. Kedua uji inimenggunakan krim kloromfenikol 2% sebagai pembanding. Krim sediaan topikalrhodomyrtone 2% dengan basis vanishing cream memberikan diameter hambatan berturutturut15 mm dan 26 mm terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.Difusi ini lebih rendah dibanding sediaan krim kloromfenikol 2% yang memberikan diameterhambatan 30 mm dan 32 mm, masing-masing untuk Staphylococcus aureus danStaphylococcus epidermidis pada kondisi yang sama. Selanjutnya uji secara in vivomenunjukkan bahwa krim sediaan topikal rhodomyrtone 2% dapat mengurangi infeksi kulitdan tidak menimbulkan iritasi pada kelinci percobaan.
Efek Imunostimulan Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosella Wulandari, Dita; Puri, Putri Ratna; W, Ratna Kurnia; Nurkhasanah, .
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.759 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v7i1.150

Abstract

The aims of this study was to determine the immunostimulant potential ethanolic extract of roselle calyx through the proliferation of lymphocytes and phagocytosis ability of macrophages Balb/c mice in vitro. Dried calyx of roselle were extracted using 96% ethanol by maceration method is further polyphenols assay are qualitatively and quantitatively. Vitro test using with immunostimulants are seeing an increase in lymphocyte proliferation using the MTT method and phagocytosis activity macrophages with latex beads. Lymphocyte proliferation is expressed by the difference in absorbance values between treatment and control groups, where as the ability of phagocytosis is expressed as an index of phagocytosis and the SFA. Concentration of extract used was 10-1000 μg/mL. Ethanolic extract of roselle calyc containing polyphenols with total polyphenol content (TPC) of 2.757%. Ethanol extract of roselle calyx enhanced immune response at low concentrations. Concentration  of 100 μg/mL is the optimal concentration that increased proliferation of lymphocytest. The highest index of phagocytosis and SFA are at concentrations of 150 μg/mL and 250 μg/mL. It can be concluded that ethanolic extract of roselle calyx has potential as immunostimulants.Keywords : roselle, immune response, macrophage phagocytosis, lymphocyte proliferation, immunostimulant.
Uji aktivitas in-silico senyawa baru 1-benzil-3-benzoilurea induk dan tersubstitusi sebagai agen-agen antiproliferatif Suhud, Farida
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 7, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.904 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v7i4.285

Abstract

Studi ini terkait dengan rancangan dan penambatan molekul senyawa  baru 1-benzil-3-benzoilurea induk dan tersubstitusi sebagai antiproliferatif. Tujuan dari studi ini untuk memprediksi agen antiproliferatif yang lebih poten. Untuk mencapai tujuan tersebut ,  uji aktivitas in-silico terhadap reseptor 1-UWH  dihitung dengan Molegro Virtual Docker 5 dan  hidroksiurea digunakan sebagai pembanding. Hasil didapatkan semua senyawa 1-benzil-3-benzoilurea induk  dan tersubstitusi lebih  poten dibandingkan hidroksiurea. Sangat direkomendasikan untuk dilakukan sintesis lebih lanjut semua senyawa 1-benzil-3-benzoilurea induk dan tersubstitusi sebagai agen-agen antiproliferatif.   Kata kunci: 1-benzil-3-benzoilurea, rancangan, penambatan molekul, agen-agen antiproliferatif  
Tinjauan Implementasi Penilaian Risiko Terintegrasi Terhadap Manajemen Rantai Pasok pada Industri Farmasi Dermawan, Doni; Bahtiar, Rio
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5654.253 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v9i1.546

Abstract

ABSTRAK : Akses akan obat sebagai salah satu hak manusia merupakan salah satu tujuan utama diselenggarakannya sistem pelayanan kesehatan. Rantai pasok (supply chain) produk farmasi harus dapat menyediakan obat dengan kuantitas yang memadai dan kualitas yang memenuhi pesyaratan. Manajemen risiko rantai pasok merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari manajemen rantai pasok untuk mencapai tujuan implementasinya. Tinjauan literatur ini sebagai langkah pertama dari manajemen risiko pada rantai pasok produk farmasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi semua risiko yang dapat mengancam akses terhadap obat akibat aspek-aspek yang berperan sebagai tinjauan. Penilaian berfokuspada risiko kualifikasi pemasok dan rantai pasok, risiko finansial, risiko organisasi perusahaan, risiko logistik, isu pasar, dan regulasi. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwakualifikasi pemasok adalah masalah paling penting yakni sebesar 45 % dari keseluruhan risiko. Oleh karena itu, perlu adanya pula implementasi yang sifatnya integratif dan komprehensif terhadap penilain risiko-risiko pada rantai pasok produk farmasi secara konsisten dan berkelanjutan.
EFEK ANTIDIABETES DAN IDENTIFIKASI SENYAWA DOMINAN DALAM FRAKSI KLOROFORM HERBA CIPLUKAN (Physalis angulata L.) Sediarso, .; Sunaryo, Hadi; Amalia, Nurul
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 4, No 2 (2008)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v4i2.11

Abstract

To reveal the dominant substances contribute to antidiabetic effect of Physalis angulata herbs, an antidiabetic test had been done  on chloroform fraction of the herbs eluted with methanol-ammoniak. Identification of active substances was done by GC-MS.  Antidiabetic test was done using 30 male mice  (Mus musculus) strain ddY. The blood samples was taken on day-7 and day-14. Results showed that sugar blood level of the treated mice was significantly decreased, and reached normal level on day-14. Identification with GC-MS revealed that dominant substances in chloroform fraction of Physalis angulata herbs were unsaturated fatty acids, i.e. Hexanoic acid, Hexadecanoic acid methyl ester, 9-Octadecenoic acid methyl ester, Oleic acid butyl ester, 9-Octadecenoic acid, 1,2-Benzendicarboxylic acid, and Aplysterylacetate.. Beside fatty acids it was also found Nordextromethorphan, an alkaloid substance. In conclusion, chloroform fraction of  Physalis angulata herbs had antidiabetic avtivity and the dominant substances were unsaturated fatty acids and alkaloid Nordextromethorphan.   ABSTRAK Untuk mengetahui senyawa dominan dalam herba ciplukan yang mempunyai efek antidiabetes, maka dilakukan uji antidiabetes fraksi kloroform yang dieluasi dengan metanol-amoniak, selanjutnya diidentifikasi kandungannya dengan kromatografi gas spektrofotometri massa (KGC-MS). Pengujian dilakukan dengan menggunakan 30 ekor mencit putih jantan (Mus musculus) galur ddY. Masing-masing mencit diambil sampel darahnya pada hari ke-7 dan hari ke-14, untuk diuji kadar gula darahnya. Hasilnya ketiga dosis menunjukkan penurunan kadar gula darah secara signifikan pada hari ke-7, tetapi penurunannya belum mancapai kadar normal, sedangkan pada hari ke-14 seluruh perlakuan menunjukkan penurunan kadar gula darah secara signifikan dan penurunannya telah mencapai normal. Hasil identifikasi dengan KGC-MS menunjukkan kandungan dominan fraksi kloroform yang dieluasi dengan metanol-amoniak adalah golongan asam lemak tidak jenuh berantai panjang yaitu asam heksanoat, metil heksadekanoat, metil 9-oktadekanoat, butil oleat, asam 9-oktadekanoat, asam 1,2-benzendikarboksilat, dan Aplistearilasetat. Di samping asam lemak tidak jenuh, ditemukan pula senyawa alkaloid yaitu Nordextromethorphan. Dapat disimpulkan bahwa fraksi kloroform herba ciplukan mempunyai efek antidiabetes dan mempunyai kandungan senyawa golongan asam lemak tidak jenuh dan alkaloid Nordextromethorphan.
PENGARUH SUHU DAN CAHAYA TERHADAP STABILITAS ANGKAK HASIL FERMENTASI Monascus purpureus 3090 PADA BERAS Indrawati, Teti; Tisnadjaja, Djadjat; Ismawatie, .
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 5, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v5i2.42

Abstract

Red rice is the product of yeast Monascus purpureus grown on rice as a natural colorant but unstable. This research aims are to get the optimum of depository conditions for red yeast rice. This research was did by fermentating the yeast strain of Monascus purpureus 3090 on rice, later its product were characterised and tested its stability during 9 weeks at 6 depository conditions, that  is in   room ((24-27oC), 30oC, and  40oC temperature, hit by sunlight, lamp light and without light.The results exhibited that the red rice product were dust powder, red color, caramel smell, and water content 5,62 %. The water solution of 0,2% red rice had pH of 4,70 and 0,1093 color absorpstion, and in 70% ethanol solution had pH of 5,60 and 0,5348 color absorption at 523 nm.  Its stability didnâ??t influence by temperature, but influence by lamp light and sunlight. It was stable in depository without light, room temperature, 30oC and 40oC. ABSTRAK Angkak  merupakan pigmen berwarna kuning sampai merah hasil fermentasi beras (Oryza sativa) yang aman sebagai pewarna alami tetapi tidak stabil.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi penyimpanan angkak yang optimun. Penelitian dilakukan dengan cara beras difermentasi oleh kapang Monascus purpureus 3090, kemudian angkak yang dihasilkan  dikarakterisasi dan diuji stabilitasnya selama 9 minggu pada 6 kondisi penyimpanan, yaitu suhu kamar (24-27oC), 30oC, 40oC, terkena cahaya matahari, terkena cahaya lampu dan tanpa cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angkak yang dihasilkan berupa serbuk halus, berwarna merah,  berbau karamel dan mengandung kadar air 5,62%. Larutan angkak 0,2 % dalam pelarut air suling memiliki pH 4,70 dan serapan warna 0,1093 pada λ 523 nm, dalam etanol 70% memiliki pH 5,60 dan serapan warna 0,5348 pada λ 523 nm. Stabilitasnya tidak dipengaruhi oleh suhu, tetapi dipengaruhi oleh cahaya lampu dan matahari. Angkak stabil pada penyimpanan tanpa cahaya, suhu kamar (24-27oC), 30oC dan 40oC selama 9 minggu.
UJI AKTIVITAS ANTIFUNGI MINYAK ATSIRI DAUN BELUNTAS TERHADAP Candida albicans DAN PEMBUATAN SEDIAAN YANG SESUAI Arini, Sri; Nurmawan, Dani; Alfiani, Fina; Mulyani, Sri
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 3, No 2 (2006)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v3i2.74

Abstract

Leucorrhea is one disease commonly found in women live in tropical area such as Indonesia. Candida albicans is one of the main cause of this disease. Beside leucorrhea,  Candida albicans can also cause infection in mouth, skin, and lung. The leaves of  Pluchea indica Less is traditionally used to overcome leucorrhea. This experiment was conducted to examine the activity of volatile oil in Pluchea indica Less in inhibiting the growth of Candida albicans. The experiment was done using liquid diffusion method. Result showed that volatile oil of Pluchea indica Less can inhibit the growth of Candida albicans with minimum inhibition concentration 12.5%. To observe the efficacy in application, the volatile oil was combined with other ingredients to make a ready to use product. 2 parts of  volatile oil of Pluchea indica Less, was combined with 1 part parfum and 7 parts technical ethanol 95%. This product was then spray over outer part of vagina with leucorrhea. Examination showed that this product was more effective compare to  povidon iodium (positive control). Analytical examination using GC-MS revealed that the volatile oil of Pluchea indica Less contain caryophyllene,  isocaryophyllene, azulene derivate-compound, and naphthalene. ABSTRAK Keputihan merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita sebagian besar wanita didaerah tropis seperti Indonesia. Candida albicans merupakan salah satu penyebab keputihan yang sering dijumpai. Selain menyebabkan keputihan, Candida albicans juga dapat menyebabkan infeksi mulut, kuku, kulit dan paru-paru. Daun beluntas merupakan salah satu tanaman yang secara tradisional sering digunakan dalam pengobatan keputihan. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas anti Candida albicans dari minyak atsiri daun beluntas dengan metode dilusi cair. Hasil uji aktivitas antifungi terhadap Candida albicans, minyak atsiri daun beluntas memiliki KBM pada konsentrasi 12,5%. Minyak atsiri kemudian dibuat sediaan dengan komposisi 2 bagian minyak atsiri daun beluntas, 1 bagian pewangi dan 7 bagian etanol tehnis 95%. Sediaan ini digunakan dengan cara menyemprotkannya pada daerah kewanitaan. Hasil uji aktivitas anti Candida albicans terhadap sediaan yang dibuat dengan metode difusi padat menunjukkan potensi sedian yang dibuat lebih besar daripada povidon iodium (kontrol positif). Hasil analisis kromatografi gas-spektroskopi menunjukkan bahwa minyak atsiri daun beluntas mengandung caryophyllene dan isocaryophyllene serta senyawa derivat azulene, dan naphthalene.
Kajian Biodegradasi Filem Plastik Campuran Polimer Sintetik dengan Biopolimer dalam Larutan Air Octaviani, Melzi; Zaini, Erizal; Djamaan, Akmal
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1542.725 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v6i2.131

Abstract

The degradation of a plastic film containing polymer syntheticpolystyrene (PS) and biopolymer poly(3-hydroxybutyrate)[P(3HB)] and poly (3-hydroxybutyrate-co-3-hydroxy valerat)[P(3HB-co-3HV)] in various composition in aquous solution by in-vitro and in-vivo has been carried out. The testing was conducted based on immersion test in aquadest, river water, pH 4 solution, 6,8 and 10. Rate degradation measured use linear regression equality and parameter is time degradation 50% (t 50%), time degradation 95% (t 95%) and indicated by the slope (k). The result showed that, degradation of a plastic film containing PS and P(3HB) in pH 6 solution occurred faster, followed by ratio PS/P(3HB) 95:5, PS/P(3HB) 90:10, PS/P(3HB) 85:15 and PS/P (3HB) 80:20, in contrast degradation of pure PS (100:0) not occured. It is also observed that the biodegradation plastic film containing PS/P(3HB-co-3HV) in river water ratio PS/P(3HB-co-3HV) 95:5, PS/P (3HB-co-3HV) 90:10 and PS/P (3HB-co-3HV) 85:15, in contrast degradation of pure PS (100:0) not occurred.Keywords : biodegradation, polystyrene, poly(3-hydroxybutyrate), poly (3-hydroxybutyrate-co-3-hydroxyvalerat), plastic film.
Laporan Kasus Tentang Aspirin Dosis Rendah Memicu Anemia Aplastik Widyati, Widyati
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.351 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v7i2.169

Abstract

Aspirin has been reported could trigger aplastic anemia in an elderly patient who used aspirin as antiplatelet therapy for secondary prevention of coronary heart diseases. Assessment methods used are time series data collection followed by causality analysis using Naranjo Scale. The results of analysis reveals a Naranjo scale of 11 which was then interpreted as definite. This report concluded that low-dose aspirin triggered acquired aplastic anemia. The mechanism of the AA presumably through destruction of immunemediated bone marrow or through direct destruction of blood cells. Keywords: Aspirin, antiplatelet, aplastic anemia, Naranjo scale  Aspirin dilaporkan telah memicu anemia aplastik (AA) pada seorang pasien manula yang menggunakan aspirin sebagai antiplatelet untuk prevensi sekunder penyakit jantung koroner. Metode asesmen yang digunakan adalah pengumpulan data secara time series dilanjutkan dengan analisis kausalitas menggunakan Skala Naranjo. Hasil telaah kasus menunjukkan skala Naranjo 11 (definite) yang diinterpretasikan bahwa insiden anemia aplastik tersebut pasti dipicu oleh aspirin. Disimpulkan bahwa aspirin dosis rendah memicu anemia aplastik dengan tipe acquired Aplastic Anemia. Mekanisme terjadinya AA tersebut diduga melalui pengrusakan sumsum tulang yang diperantarai immun atau melalui pengrusakan langsung sel-sel darah Kata kunci: Aspirin, antiplatelet, anemia aplastik, skala NaranjoÂ