cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
PROSES TERBENTUKNYA PULAU-PULAU WISATA, GILI TRAWANGAN, MENO DAN AIR, AKIBAT AKTIFITAS GUNUNGAPI BAWAH LAUT DI PAMENANG, KABUPATEN LOMBOK BARAT Prijantono Astjario; Nyoman Astawa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.324 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.1.2005.122

Abstract

Kegiatan gunungapi dasar laut di masa lalu, di wilayah pesisir baralaut Pulau Lombok menghasilkan struktur aliran lava bantal yang membeku di laut dangkal. Kondisi lingkungan air laut yang jernih, kadar salinitas yang cukup serta penetrasi sinar matahari yang baik memungkinkan tumbuhnya beragam jenis terumbu karang hingga mencapai permukaan laut dan membentuk pulau-pulau atol. Gili Trawangan, Meno dan Air merupakan pulau-pulau atol yang menyingkapkan batuan dasar gunungapi dasar laut berupa lava bantal, ditutupi oleh material gunungapi produk gunungapi Rinjani dan material rombakan terumbu karang. Dengan kondisi tersebut menjadikan ke tiga pulau-pulau tersebut memiliki nilai wisata bahari yang tinggi. Saat ini, ketiga pulau tersebut selain memiliki pasir pantai yang putih bersih dan singkapan struktur lava bantal, telah memiliki nilai wisata yang tinggi baik geowisata, wisata pantai dan wisata bahari. Pengelolaan kawasan wisata yang baik dapat meningkatkan kehadiran parawisatawan asing maupun domestik, hal ini penting guna meningkatkan penghasilan asli daerah. Paleo-underwater volcanoes activities in the northwest coast of Lombok Island have formed pillow lava flow structure that harden in shallow sea. Clear environment, good salinity, and penetrasion sunlight make many various coral reefs to grow well to reach the sea-surface and formed some atol islands. Gili Trawangan, Meno, and Air are some of atol islands which have outcroped the base rocks of underwater volcanoes in the form of pillow lava, covered by volcano materials Rinjani Mountain and rework materials of coral reefs. As a result, those three islands have been high rated marine tourism. Nowaday, those three islands with cleane sandbeach and outcroped pillow lava structured have became a high values of tourism, which include geotourism, and aquatic- tourism. Good tourism management could increase the number of foreign tourists and domestic tourists, which is very important to increase local area income.
GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT BERDASARKAN PENAFSIRAN REKAMAN SEISMIK PANTUL DANGKAL SALURAN TUNGGAL DI PERAIRAN SELAT SUNDA Nyoman Astawa; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1205.157 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.250

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan dasar laut dengan metode seismik pantul dangkal saluran tunggal, dan pemeruman. Seismik stratigrafi daerah penelitian dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) unit, yaitu Unit 1 diinterpretasikan sebagai batuan intrusi, Unit 2 yang dekat dengan Pulau Jawa sebagai batuan volkanik dan yang dekat dengan Pulau Sumatera diduga sebagai Formasi Lampung, dan batuan lava andesit, serta Unit 3 diinterpretasikan sebagai sedimen Kuarter. Kedalaman permukaan dasar yang dapat direkam berkisar antara -5 hingga -125 meter dengan perubahan yang terjadi secara bergradasi dari arah pantai ke laut. Kata kunci : Morfologi permukaan dasar laut, seismik stratigrafi, geologi bawah permukaan, Selat Sunda The aims of study is to determine the subsurface geology condition of Sunda Strait by using single channel shallow seismic reflection, and the sounding method. Seismic stratigraphy of the study area can be divided into three (3) units, those are Unit 1, interpreted as intrusive rocks, Unit 2, which is close to Java be expected at volcanic rocks and the adjacent of Sumatera island interpreted Lampung Formation and andesitic lava rock, while Unit 3 as suspected Quaternary sediments. The sea floor depth that can be recorded ranging from -5 to -125 metres with the changes depth gradually from the shore to the sea. Keywords : Seafloor morphology, seismic stratigraphy, subsurface geology, Sunda Strait
DISTRIBUSI KARBON ORGANIK DALAM SEDIMEN INTI DI PERAIRAN LEMBATA, LAUT FLORES Yani Permanawati; Undang Hernawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4029.567 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.1.2018.541

Abstract

Kondisi lingkungan dapat diketahui berdasarkan jejak karbon organik dalam sedimen inti. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan lingkungan saat sedimen terendapkan. Lokasi penelitian berada di perairan utara Pulau Lembata, Laut Flores. Bahan yang digunakan adalah sampel sedimen inti yang diambil menggunakan penginti jatuh bebas pada 7 (tujuh) lokasi dengan sayatan oles. Karakteristik sedimen bagian timur didominasi fragmen biogenik dan sedimen lebih halus. Bagian tengah memiliki komposisi relatif sama antara fragmen batuan dengan biogenik. Bagian barat didominasi oleh fragmen biogenik. Persentase material organik antara 2.496-11.133%, CaCO3 (karbonat) 16.365-79.910% dan total organik karbon 0.999-4.453%. Distribusi karbon organik dalam sedimen inti menunjukkan perubahan dinamis di wilayah perairan tengah dibandingkan dengan bagian barat dan timur. Perubahan distribusi karbon organik terjadi karena adanya perbedaan sumber asal sedimen, perbedaan morfologi dasar laut, perubahan kekuatan dinamika perairan, pemanfaatan kesuburan perairan, dan perbedaan produktivitas perairan saat material karbon organik terendapkan. Kata kunci: sedimen, karbon organik, total organik karbon, perairan LembataEnvironmental conditions can be traced through recording the distribution of organic carbon content in core sediments. This study aims to determine environmental changes when sediment is deposited in Lembata waters. The research location is in the north waters of Lembata Island, Flores Sea. The materials used were core sediment samples taken using gravity core at seven locations. The study method uses a Loss On Ignition (LOI) procedure. The results of the analysis of the upper smear slide (0 cm). The eastern part is dominated by biogenic and sedimentary fragments which are finer than the western-central part, the middle part has a relatively similar composition between rock and biogenic fragments. in the dominant western part is a brightly colored material fragment. The change in the percentage of organic material is between 2,496-11,133%, the concentration of CaCO3 ranges from 16,365-79,910% and the concentration of TOC ranges from 0.999-4,453%. Distribution of organic carbon in core sediments from Lembata waters shows dynamic changes in the middle waters compared to the west or east. Changes in the distribution of organic carbon in Lembata waters occur due to differences in sources of sediment origin, differences in seabed morphology, changes in the strength of water dynamics, utilization of aquatic fertility, and differences in waters productivity when organic carbon material is deposited.Keywords: sediment, organic carbon, total organic carbon, Lembata waters
MINERALOGI INTI SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT GRT-05-03 DARI CEKUNGAN TOMINI - SULAWESI TENGAH Dida Kusnida; Nur Adi Kristanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.956 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.2.2012.218

Abstract

Makalah ini merupakan hasil dari kegiatan penelitian geologi laut dalam yang dilaksanakan oleh Puslitbang Geologi Kelautan di Cekungan Tomini, Sulawesi Tengah. Mineralogi sedimen permukaan dasar laut secara umum dari contoh penginti tunggal GRT-05-03 setebal 145 cm terdiri atas unsur utama (SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O, Na2O, TiO2 and LiO), unsur logam (Au, Ag, Cu, Pb, Zn, Cr, Mn, Ni, Fe and Co) dan unsur tanah jarang (Th, Zr, Ba, Nb, Ce and Sr). Hasil analisis mineral dari contoh penginti tunggal GRT-05-03 menunjukkan bahwa mineral logam didominasi oleh konsentrasi mangan (2865-3211 ppm), sedangkan unsur tanah jarang didominasi oleh Barium (245-289 ppm). Tingginya konsentrasi secara vertikal dari kedua unsur tersebut di atas, menunjukkan bahwa proses sedimentasi di Teluk Tomini berada pada lingkungan reduksi. Kata kunci : penginti tunggal, mineral, elemen major, minor dan unsur tanah jarang; Cekungan Tomini This paper is a result of deep sea geological study conducted by Marine Geological Institute in Tomini Basin, Central Sulawesi. General mineralogy of surficial sediments of single core GRT-05-03 with the thickness of 145 cm consist of major elements (SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O, Na2O, TiO2 and LiO), minor elements (Au, Ag, Cu, Pb, Zn, Cr, Mn, Ni, Fe and Co), and trace elements (Th, Zr, Ba, Nb, Ce and Sr). Results of mineral analysis indicate that a major element is dominated by Manganese (2865-3211 ppm), while a rare trace element is dominated by Barium (245-289 ppm). The vertically high concentrations of these two elements indicate that sedimentation processes in Tomini Basin is in the anoxic environment. Key words: single core; minerals; major; minor and trace elements; Tomini Basin.
IDENTIFIKASI PROSES TOMBOLO TANJUNG GONDOL DENGAN PERHITUNGAN ENERGI FLUX GELOMBANG DI PANTAI SINGARAJA, BALI UTARA Nyoman Astawa; Saultan Panjaitan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.354 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.2.2010.186

Abstract

Morfologi Tanjung Gondol terdiri atas perbukitan yang cukup kontras terhadap morfologi di sekitarnya berupa pedataran. Batuan penyusun Tanjung Gondol terdiri atas batuan volkanik berupa lava, dan breksi vulkanik, yang mempunyai resistensi cukup tinggi terhadap energi gelombang laut. Daerah pedataran disusun oleh endapan aluvium yang sebagian besar berupa endapan pasir yang sangat mudah tergerus oleh energi gelombang. Tanjung Gondol adalah sebuah pulau dekat pantai yang dipisahkan dari Pulau Bali oleh sebuah selat yang sempit dengan lautnya yang dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pembentukan tombolo Tanjung Gondol berdasarkan analisis data geologi dan oseanografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanjung Gondol sebelumnya berupa sebuah pulau kecil yang terpisah dari Pulau Bali, dan dibatasi oleh laut dangkal. Karena proses pendangkalan pada laut tersebut akibat arus sejajar pantai, maka pulau kecil ini secara berangsur bersatu dengan Pulau Bali membentuk Tombolo Tanjung Gondol. kunci : geologi, oseanografi, tombolo, Tanjung Gondol The morphology Tanjung Gondol consists of hills that fairly contrast to the surrounding morphology of plain. The lithology of Tanjung Gondol consist of volcanic rocks such plain as lava, and volcanic breccia, which has a high resistans to the sea wave energy. The plain area consist of alluvial deposits mostly of sand which are easily eroded by the sea waves. Tanjung Gondol is an island near the coast which is separated from Bali Island by the narrow strait with shallow sea. The aim of study is to identify the forming process of tombolo Tanjung Gondol based on the analyses of geological and oceanographical data. The result shows that the previous Tanjung Gondol was a small island separated from the Bali Island by a shallow sea. Due to the shallowing process in the area caused by longshore currents, this small island is then gradually connected to Bali Island forming the tombolo of Tanjung Gondol. Keywords : geology, oceanography, tombolo, Tanjung Gondol.
OSTRACODA SEBAGAI INDIKATOR PERUBAHAN LINGKUNGAN PERAIRAN SEKITAR PLTU TARAHAN, TELUK LAMPUNG, SUMATERA Kresna Tri Dewi; Indra Adhirana; Yusuf Adam Priohandono; Luli Gustiantini
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.054 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.1.2016.335

Abstract

Teluk Lampung terletak di bagian selatan Pulau Sumatera yang berhadapan dengan Selat Sunda.  Kualitas ingkungan perairan ini secara perlahan menurun sebagai akibat pertumbuhan berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir.  Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami  struktur komunitas ostracoda sebagai komponen sedimen laut terkait dengan perubahan lingkungan perairan ini. Studi ini menggunakan  22 sub-sampel sedimen dari 4 titik lokasi di lepas pantai sekitar PLTU Tarahan dan beberapa sampel sedimen permukaan yang mewakili kondisi lingkungan saat ini. Kemudian sampel sedimen ini dicuci dalam ayakan berbukaan 0.063 mm, dikeringkan dan digunakan untuk studi ostracoda dengan bantuan mikroskop binokuler. Hasilnya menunjukkan bahwa secara vertikal kelimpahan ostracoda menurun atau tidak hadir di beberapa lapisan bawah dasar laut. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau tahun 1883 yang ditunjang oleh keterdapatan material batu apung di lapisan-lapisan sedimen ini. Secara horizontal, ostracoda dari sampel permukaan atau dasar laut cukup bervariasi dan melimpah namun juga menemukan spesimen abnormal seperti rusak dan terisi atau tertutup oleh material berwarna gelap yang mengandung Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan menurunnya kondisi lingkungan daerah penelitian yang berpengaruh pada habitat ostracoda.Katakunci: ostracoda, spesimen abnormal, perubahan lingkungan, Teluk Lampung Lampung Bay is located in the southern part of Sumatera island that facing to the Sunda Strait. This bay is gradually degradation environment as a result of growing various human activities in the coastal area.  The purpose of this study is to understand the community structure of ostracoda as component of marine sediments related to environmental changes of this area.  This study used 22 sediment sub-samples from four sites in the offshore area of Tarahan power plant and several surface sediment samples represented the present environmental condition. These samples were then washed through 0.063 mm sieve, dried and used for  ostracod study under a binocular microscope. The result shows that,  the ostracoda assemblages, vertically, are decrease or disappear at certain layers below seafloor. It may related to the eruption of Krakatau Volcano in 1883 that was supported by finding of pumice materials in these layers. Horizontally,  ostracod from surface sediments is quite diverse and abundant but we also found abnormal specimens such as abraded and filled or covered by Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%).  It may related to decline environment in the study area that likely affect the habitat of ostracoda. Keywords: ostracoda, abnormal specimens, Tarahan power plant.
ANALISIS GEOTEKNIK KELAUTAN PADA SISI KETAPANG (SELAT BALI) UNTUK PENGEMBANGAN PENGHUBUNG JAWA - BALI Ediar Usman; Franto Novico; Kris Budiono; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.055 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.113

Abstract

Daerah penelitian terletak di Perairan Ketapang, Selat Bali, ke arah timur dari pantai Banyuwangi. Di daerah ini akan dikembangkan jembatan penghubung Jawa dan Bali. Hasil penelitian geologi dan geofisika kelautan menunjukkan kondisi geologi dan geofisika yang komplek. Berdasarkan hasil pemboran inti dan nilai SPT memperlihatkan adanya sedimen tidak terkonsolidasi mencapai tebal 20 meter dari permukaan dasar laut yang tersusun dari fragmen terumbu koral dan cangkang foram. Analisis ini tanpa menggunakan metoda propertis keteknikan karena sedimen tak terkonsolidasi di dominasi oleh fragmen dan cangkang foram hampir 80%. Analisis nilai SPT menunjukkan kapasitas tiang pancang untuk diameter 50 cm mempunyai rata-rata 93.752 ton beban tekan dan 21.532 ton beban tarik. Untuk meningkatkan beban tersebut harus meningkatkan diameter tiang pancang lebih dari 50 cm dan kedalaman tiang pancang lebih dari 20 meter dari permukaan dasar laut. The area investigated is the Ketapang Waters of Bali Strait, easthward of the Banyuwangi Coast. This area will be developed a bredge between Java and Bali. Result of geological dan marine geophysical method shows the geologic and oseanograhic condition very complex. Based on coring data and Standard Penetration Test (SPT) value shows the unconsolidated sediments to reach 20 meters from seabed consist of coral fragments and foram shells. This analysis without engineering properties method because unconsolidated sediment is dominated by fragment and shell almost 80%. Analisys of Standard Penetration Test (SPT) value shows the bearingpile capacity of 50 cm of bearingpile diameters has avarage 93.752 ton of download and 21.532 ton of upload. For more then that value has to increasing the diameters more then 50 cm and ent bearingpile more then 20 meters thicknees in depth from seabed.
PENELITIAN GAYABERAT DAN GEOMAGNIT KEPULAUAN ARU, CEKUNGAN WOKAM Tatang Patmawidjaya; Subagio Subagio
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1278.822 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.241

Abstract

Paparan Arafura di bagian selatan Kepulauan Aru merupakan depresi Lempeng Indo-Australia yang ditunjukkan oleh anomali gayaberat dan geomagnet tinggi. Sedangkan depresi di bagian utara yang tertahan Palung Aru diperlihatkan oleh anomali gayaberat tinggi dan anomali geomagnet rendah. Anomali ini diduga sebagai penebalan batuan metamorf yang mengalami pangangkatan sebagai alas cekungan Wokam. Analisis data gayaberat dan geomagnet mengindikasikan penurunan cekungan ini ke arah utara. Penurunan anomali gayaberat ke arah Pulau Wokam yang berarah baratdaya-timurlaut di selatan dan baratlaut-tenggara di daerah utara ditafsirkan sebagai struktur sesar. Hal ini dicirikan oleh arah sungai atau selat sebagai pemisah pulau-pulau di Kepulauan Aru. Anomali gayaberat residual mengindikasikan cekungan dan punggungan berarah baratdaya-timurlaut yang membentuk antiklin dan sinklin. Sesar dan lipatan ini menerus sebagai struktur geologi dangkal bawah permukaan. Berdasarkan pemodelan gayaberat dan geomagnet dapat dikatakan bahwa Cekungan Wokam cenderung menurun ke arah utara akibat sesar normal. Kata Kunci : gayaberat, geomagnet, pemodelan geologi, Cekungan Wokam Arafura Shelf in the southern part of the Aru Islands is a depression of the Indo-Australian crust at the south that indicated by high gravity and geomagnetic anomalies. While the northern depression blocked by the Aru Trough indicated by high gravity anomaly and low geomagnetic anomaly. These anomalies presumed as a thickening of the metamorphic rocks due to uplifting and acting as the basement of Wokam Basin. Gravity and geomagnetic analyses indicate a northward subsidence of the basin. The decreasing of the southwest–northeast gravity anomaly in the south and the northwest-southeast in the north, interpreted as a fault. It this characterized by the river direction or strait as islands separation in Aru Archipilagoes. Residual gravity anomaly indicates a southwest-northeast basin and ridge form anticline and syncline. These faults and folds are continuous as the shallow subsurface geological structures. On the base gravity and geomagnetic models, it can be concluded that Wokam Basin tends to subside northward as the result of a normal fault. Keywords: gravity, geomagnetic, geological models, Wokam Basin
KARAKTERISTIK SEDIMEN PANTAI DAN DASAR LAUT DI TELUK PAPELA, KABUPATEN ROTE, PROVINSI NTT Rina Zuraida; Nineu Yayu Gerhaneu; Isnu H. Sulistyawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2277.048 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.376

Abstract

Penelitian karakteristik sedimen pantai dan dasar laut Teluk Papela dilakukan untuk mengetahui rona awal lingkungan Teluk Papela. Analisis mineralogi dan granulometri yang dilakukan pada sedimen pantai dan dasar laut, menunjukkan dominasi pasir halus. Sedimen pantai menunjukkan kecenderungan menghalus ke arah utara dengan kandungan cangkang yang semakin besar, sedangkan sampel laut menunjukkan kecenderungan butiran lebih kasar ke arah utara dengan kandungan cangkang yang semakin kecil. Hasil analisis unsur utama menunjukkan bahwa TiO2 (0,1 wt%) dan CaO (82,5 wt%) menunjukkan tingginya pasokan material asal darat. Kandungan unsur jejak Sr, Cl, I dan unsur utama P2O5 dalam sedimen lebih rendah dari kandungan dalam air laut. Pu terdeteksi dalam semua sampel dengan nilai berkisar antara 13.200 dan 28.000 ppm. Korelasi positif Cl-Na2O serta Cl-P2O5 menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut merupakan hasil dari pengendapan garam dalam sedimen. Keterdapatan Sr berkaitan dengan kelimpahan organisme pembentuk cangkang, sedangkan kandungan I dipengaruhi oleh kandungan bahan organik. Keterdapatan Pu dalam sedimen Teluk Papela diperkirakan merupakan hasil aktivitas manusia yang terserap dalam cangkang dan terakumulasi dalam sedimen pantai dan dasar laut.Kata kunci: karakteristik sedimen, unsur utama, unsur jejak, mineralogi, granulometri, Teluk Papela The study of seafloor and beach sediments of Papela Bay is conducted to identify the initial early environment of Papela Bay sediments. Mineralogy and grain size analysis some of selected samples were conducted on coastal and seafloor sediments and they show dominated by fine sand. Coastal sediments show tend to fining northward with increasing skeletal, in contras marine samples tend to show a more coarse northward with a smaller skeletal content. Result of major elements analysis show that the average of weight percentage of TiO2 (0.1 wt%) and CaO (82.5wt%) and indicate that the high supply of material derived from land. Trace elements content of Sr, Cl, I and major element P2O5 within sediment lower than within sea water. Pu detected within all samples with values range between 13,200 and 28,000 ppm. The positive correlations of Cl-Na2O and Cl-P2O5 show that these elements are the result of salt deposition within sediment. The occurance of Sr related with the abundance of shell-forming organisms, whereas the content of I influenced by organic matter content. The occurance of Pu within sediment in Papela Bay can be resulted by antropogenic activities that absorbed and accumulated within coastal and seabed sediments.Key words: sediment characteristics, major element, trace element, grain mineralogy, Papela Bay
MODEL SEDERHANA 2-DIMENSI ARAH PERGERAKAN SEDIMEN DI SUNGAI PORONG JAWA TIMUR Huda Bachtiar; Franto Novico; Fitri Riandini
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.446 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.3.2011.209

Abstract

Model numerik MIKE 21 modul transport sedimen digunakan untuk mengetahui respon pergerakan lumpur Sidoarjo pada saat musim hujan dan musim kemarau dan pengaruh tanggul yang berada di muara Sungai Porong. Data yang digunakan adalah pasang surut muka air laut, kedalaman air, debit sungai, arus dan konsentrasi sedimen. Simulasi dilakukan dengan membuat dua skenario, yaitu pada saat kondisi musim hujan dan pada saat musim kemarau. Hasil simulasi model hidrodinamika di verifikasi dengan data lapangan untuk mendapatkan nilai korelasi. Verifikasi meliputi data muka air dan kecepatan arus baik arah –x maupun –y. Berdasarkan hasil verifikasi didapatkan nilai korelasi muka air sebesar 0.8641 sementara arus bernilai 0.1493 untuk sumbu –x dan 0.1917 untuk sumbu –y. Selanjutnya hasil simulasi model menunjukkan konsentrasi sedimen pada tanggal 27 November 2007 merupakan puncak tertinggi dengan nilai 3.2x10-3 kg/m3 untuk musim hujan sementara untuk musim kemarau konsentrasi sedimen bernilai 0.0x10-3 kg/m3. Kata kunci : Model Numerik, Pergerakan Lumpur, Sungai Porong. Numerical model of MIKE 21 sediment transport module was applied to recognize the response of mud flow respective in rainy and dry season and also to get information of dike effect at the river mouth. Data that used in this simulation was tide, water depth, river discharge, current and sediment concentration. The simulations were created for two scenarios, therefore dry season and wet season. The result of the simulation model verified with observation data to see the correlation value. The verification are covering water level data and current magnitude of –x and –y axis. Based on the verification result, the correlation value of water level has a value 0.8641 meanwhile for the current the correlation value have magnitude 0.1493 of x-axis and 0.1917of y-axis. Moreover, the maximum value of sediment concentration could be seen at November 27th 2007 with 3.2x10-3 kg/m3 at the wet season and 0.0x10-3 kg/m3 for dry season. Keywords: Numerical Model, Mud Movement, Porong River