cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
ISSN : 19782365     EISSN : 25281917     DOI : -
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan merupakan jurnal ilmiah yang berisi hasil penelitian/kajian dibidang ketenagalistrikan, energi baru, terbarukan, dan konservasi energi. Diterbitkan melalui proses review oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi dalam 2 (dua) edisi Juni dan Desember setiap tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
PENGGUNAAN BIOETANOL (E100) PADA GENSET KAPASITAS 5 KVA ; BIOETHANOL (E100) UTILISATION IN 5 KVA GENERATOR Firmansyah, Arfie Ikhsan; Gunawan, Yohanes; Adilla, Ikrar; Widhiatmaka, Widhiatmaka
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 16, No 1 (2017): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah eksperimen dilakukan untuk mempelajari unjuk kerja mesin genset mengunakan bahan bakar bioetanol 100% (E100). Pada eksperimen ini digunakan mesin genset 5 kVA yang dimodifikasi pada saluran masuk bahan bakar dan saluran keluar/gas buang dengan alat penukar kalor, sehingga didapatkan temperatur evaporasi bioetanol yang optimal untuk proses pembakaran. Generator/genset dibebani dengan variasi beban dari 1 kW, 2 kW, 3 kW. 4 kW, dan 5 kW, dengan tujuan untuk mengetahui konsumsi etanol, temperatur penukar kalor, dan gas buang per beban yang divariasikan. Kinerja genset dengan penambahan penukar kalor menunjukkan, saat temperatur gas buang mencapai 460oC, terjadi kenaikan temperatur etanol sebelum masuk ke ruang bakar, yaitu sebesar 40oC dibandingkan temperatur awal. Hasil uji pembebanan menunjukkan bahwa pada beban 5000 watt didapatkan efisiensi termal yang paling optimum, yaitu mencapai 20,6 %, dengan konsumsi bahan bakar etanol sebanyak 2721,2 gr/ kWh bioetanol. Penggunaan bioetanol mampu menekan emisi CO hingga mencapai 0,011%. Bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar bensin, penggunaan bioetanol pada genset dengan modifikasi pada temperatur saluran suplai udara dan bahan bakar, memiliki efiensiensi termal lebih tinggi dibandingkan bensin.An experiment was conducted to study the performance of engine generator using 100% bioethanol fuel (E100). This experiment employed a 5 kVA generator engine that has been modified in its fuel inlet and outlet / exhaust with a heat exchanger, to obtain an optimal bioethanol evaporation temperature for the combustion process. The generator was loaded with several electrical load variations i.e. 1 kW, 2 kW, 3 kW. 4 kW and 5 kW, in order to to determine ethanol consumption, temperature of the heat exchanger and the flue gas emitted per variation of the loads applied. The addition of heat exchanger showed that when the exhaust gas temperature reaches 460oC, the temperature of ethanol increased for about 40°C from the initial before entering the combustion chamber. Loading test showed that the 5000 watt load obtained optimal thermal efficiency, it reached 20.6%, with ethanol consumption as much as 2721.2 g / kWh. Bioethanol utilisation also able to reduce CO emission up to 0.011%. Compared to the use of gasoline, using bioethanol in modified generator engine by adding heat exchanger, has a higher thermal eficiency number.
CAMPURAN KARBONDIOKSIDA DAN PROPANE SEBAGAI REFRIGERAN TEMPERATUR RENDAH RAMAH LINGKUNGAN PADA SISTEM REFRIGERASI CASCADE Syaka, Darwin Rio Budi; Nasruddin, Nasruddin; Saputra, Lasman
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 9, No 1 (2010): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pengobatan dan penelitian biomedis diperlukan cold storage yang dapat mencapai temperatur sangat rendah dan untuk mencapai temperatur rendah tersebut digunakan sistem refrigerasi cascade. Selama ini sirkuit temperatur rendah menggunakan sistem refrigerasi cascade dan menggunakan refrigeran yang mengandung zat perusak ozon atau penyebab pemanasan global. Karena itu, diperlukan alternatif refrigeran alamiah, yang salah satunya adalah karbondioksida. Namun, tingginya tekanan dan temperatur triple (-56,6oC) menghalangi penggunaan karbondioksida untuk temperatur rendah. Salah satu solusinya adalah dengan mencampur karbondioksida dengan propane. Pengujian ini dilakukan dengan memvariasikan komposisi massa karbondioksida dari 0% s/d 100%. Data yang diperoleh dari pengujian berupa temperatur evaporasi, temperatur kondenser, temperatur kondenser penukar kalor cascade, tekanan hisap (suction) dan keluar (discharge) kompresor serta daya sehingga dapat menentukan performa sistem refrigerasi yang diukur dalam COP (coefficient of Performance). Hasil pengujian diketahui bahwa peningkatan komposisi karbondioksida akan meningkatkan daya pemakaian listrik sedangkan temperature evaporasi terendah terjadi pada temperatur -72,5oC dengan komposisi massa karbondioksida : propanesebesar 60%:40%.
UJI KINERJA DAN KEAMANAN LAMPU FLUORESEN SWABALAST REKONDISI; PERFORMANCE AND SAFETY TEST OF RECONDITIONED COMPACT FLUORESCENT LAMP (CFL) ahadi, khalif; Anggono, Tri
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 16, No 2 (2017): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, banyak beredar lampu fluoresen swabalast rekondisi yang merupakan hasil perbaikan dari lampu fluoresen swabalast yang sudah habis masa pakainya. Lampu rekondisi tersebut banyak diminati oleh masyarakat karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan lampu baru. Namun demikian, kualitas kinerja serta faktor keamanannya belum teruji. Apabila kualitas kinerjanya sangat buruk tentunya dapat menyebabkan penggunaan energi menjadi tidak efisien. Terlebih lagi jika tidak memenuhi syarat faktor keamanan, sehingga akan berbahaya bagi keselamatan konsumen. Pengujian ini dilakukan berdasarkan standar uji SNI 04-6504-2001 “lampu swabalast untuk pelayanan pencahayaan umum – persyaratan keselamatan” dan SNI IEC 60969-2009 “lampu swabalast untuk pelayanan pencahayaan umum – persyaratan unjuk kerja” yang dilaksanakan dengan menggunakan fasilitas laboratorium uji P3TKEBTKE. Hasil uji kinerja menunjukkan bahwa terdapat 50% lampu rekondisi yang diuji tidak dapat bertahan hingga 1500 jam, namun yang dapat bertahan menunjukkan efikasi di bawah lampu baru. Untuk lampu baru terdapat 11% lampu yang diuji tidak dapat bertahan hingga 1500 jam, dan 71% di antaranyanya merupakan lampu dengan harga murah. Seluruh tipe/model lampu fluoresen swabalast rekondisi yang diuji tidak memenuhi persyaratan keselamatan, sehingga belum layak digunakan.  Currently, reconditioned compact fluorescent lamps (CFL), i.e the reconstructed or repaired broken lamps, can easily be found on the market. These lamps showed a great demand by the community, because the price is much cheaper than the new lamps. However, the performance quality and safety factor have not been tested. If the performance is very poor, the energy use will be inefficient. Moreover, if the safety factor does not meeet safety standard, it will be harmful for the consumer. The laboratory tests on safety and performance of reconditioned CFL is based on standard test of SNI 04-6504-2001 "Self-ballasted lamps for general lighting services - Safety requirements" and IEC 60969-2009 " Self-ballasted lamps for general lighting services - Performance requirements" conducted using laboratory facilities test in P3TKEBTKE. The result showed, approximately 50% of reconditioned CFL could not survive until 1500 hours, but the survive ones has the efficacy number below the new lamp. Approximately 11% of new lamps being tested could not last up to 1500 hours, in which 71% among them are a lower price lamp. All types/models of the reconditioned CFL tested do not meet the safety requirements, so they are not yet feasible to use.
SIMULASI NATURAL STATE LAPANGAN PANAS BUMI DOLOK MARAWA DI SUMATERA UTARA Putriyana, Lia
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 17, No 1 (2018): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapangan Panas Bumi Dolok Marawa, Provinsi Sumatera Utara, merupakan daerah green field yang belum berproduksi dengan estimasi potensi cadangan terduga ± 38 MWe. Lapangan ini memiliki sistem geotermal dominan air dengan temperatur reservoar ± 180 oC. Berdasarkan model konseptual dari penelitian geologi, geofisika, dan geokimia, dibuatlah model numerik menggunakan perangkat lunak TOUGH2 untuk memodelkan kondisi alamiah (natural state) lapangan tersebut. Selanjutnya dilakukan skenario produksi untuk mengetahui perilaku reservoar dalam kurun waktu pembangkitan tertentu. Dua skenario produksi telah disimulasikan untuk kurun waktu 30 tahun dimana skenario pertama menggunakan satu sumur produksi dan satu sumur injeksi, sementara skenario kedua menggunakan dua sumur produksi dan satu sumur injeksi. Kapasitas pembangkit yang didapatkan dari skenario pertama sebesar 10,19 MW dan skenario kedua sebesar 20,97 MW. Hasil simulasi mengindikasikan tipe pembangkit yang sesuai untuk lapangan ini adalah Single Flash – Condensing type. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data pendukung penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).
PELAPISAN KATALIS PADA PROSES PABRIKASI MEA FUEL CELL JENIS PEM Pranoto, Bono; Wargadalam, Verina J.; Rasyid, Harun Al
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 12, No 1 (2013): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat beberapa metode dalam proses coating pada fabrikasi MEA yaitu brush coating, spray coating dan print coating terhadap tinta katalis yang mengandung campuran elektrolit, karbon, katalis Penelitian berhubungan dengan pengembangan metoda pelapisan katalis pada MEA menggunakan mesin sputtering dengan tujuan menurunkan kandungan katalis platina dalam lapisan. Metoda pelapisan meliputi: tahapan pelapisan kertas karbon dengan larutan nafion, dilanjutkan dengan pelapisan tinta nafion-carbon menggunakan kuas secara merata pada permukaan kertas karbon, kemudian proses pelapisan katalis dengan metode sputtering. Pada penelitian ini kombinasi daya, tegangan dan tekanan operasi mesin sputtering menghasilkan luas aktif katalis yang optimal dengan ketebalan katalis yang minimal. MEA yang difabrikasi pada 100 W daya RF dan tekanan sputtering 10 mTorr menghasilkan kinerja serta Electrochemical Active Surface Area (ECSA) yang paling tinggi dibandingkan dengan MEA yang difabrikasi pada 75, dan 125 pada 10 mTorr dengan daya RF, daya DC, serta pada tekanan 20 dan 30 mTorr pada 100 W RF. Pada kondisi ini dihasilkan power density maksimum sebesar 58.5 mW/cm2 dan ECSA sebesar 13.6 m2/g. Kondisi operasi yang terbaik pada daya 100 W RF, 10 mTorr. There are several methods in the process of coating on the MEA fabrication brush coating, spray coating and printing coating the catalyst ink contain in a mixture of electrolytes, carbon, catalyst. The research related to the development of the catalyst coating method on the MEA using sputtering machine with the aim is decrease the content of platinum in the catalyst layer. The coating method include: stages of carbon paper coating with a solution of Nafion, followed by brush coating a Nafioncarbon ink on the surface of the carbon paper, and then the catalyst coating by sputtering method. In this study, a combination of power, voltage and operating pressure of puttering machine result an optimal active catalyst with a minimum thickness of the catalyst. MEA fabricated at 100 W RF power and 10 mTorr give the best performance and higer Electrochemical Active Surface Area (ECSA) than MEA that fabricated at 75 and 125 W 10 mTorr RF, DC power, and at 20, and 30 mTorr 100 W RF. at these conditions give maximum power density 58.5 mW/cm2 and Electrochemical Active Surface Area (ECSA) 13.6 m2/g.
SIMULASI POTENSI PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK PADA PENERANGAN JALAN UMUM DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI LAMPU LED Ahadi, Khalif; Al Irsyad, M. Indra; Anggono, Tri
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 17, No 1 (2018): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi penerangan jalan pada umumnya mengkonsumsi energi listrik yang cukup besar untuk dapat memenuhi standar pencahayaan yang dipersyaratkan. Pemakaian energi yang lebih efisien untuk Penerangan Jalan Umum (PJU), harus tetap mengacu kepada standar pencahayaan yang berlaku saat ini. Dalam tulisan ini, dilakukan survei pemakaian energi listrik terhadap PJU pada salah satu jalan arteri utama di wilayah Maluku Tenggara, yang kemudian disimulasikan dengan perangkat lunak Dialux untuk dapat mengetahui penyebaran kuat pencahayaan. Untuk memenuhi standar kualitas pencahayaan normal berdasarkan SNI 7391:2008, penggunaan teknologi untuk PJU eksisting dapat dilakukan dengan menaikkan faktor kehilangan cahaya serta perubahan spesifikasi tiang. Pengurangan pemakaian energi dan suplai tenaga listrik dilakukan dengan pemakaian luminer PJU teknologi terkini yaitu LED. Potensi penghematan energi listrik yang dapat dicapai pada lokasi penelitian dilaksanakan adalah sebesar 1.963 kWh/bulan atau sekitar 53 persen, dengan penghematan suplai tenaga listrik sebesar 21,9 kVA atau sekitar 81,5 persen.
PEMANFAATAN METODE KRIGING UNTUK PERAPATAN DATA SPASIAL RADIASI SURYA; KRIGING METHOD UTILIZATION TO DOWNSCALE SPATIAL DATA OF SOLAR RADIATION; Fitri, Silvy Rahma; Pranoto, Bono
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 13, No 1 (2014): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kriging adalah metode estimasi (interpolasi) geostatistik untuk mendapatkan prediksi nilai dari lokasi tak terukur melalui proses regresi kombinasi linier. Kriging menggunakan model fungsi matematis untuk pemodelan semivariogram empirik. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan metode Kriging untuk melakukan perapatan data spasial radiasi surya dari interval spasi 110 km menjadi 7 km yang kemudian diverifikasi terhadap data ukur lapangan.  Metodologi yang dilakukan adalah membuat aturan ketergantungan dengan memvariasikan jumlah titik ketergantungan (4,9,12 dan 16 titik), membuat prediksi, melakukan perapatan data dengan lima jenis Kriging (Circular, Spherical, Exponesial, Gaussian dan Linear), dan verifikasi data model. Verifikasi data model terhadap data pengukuran lapangan melibatkan perhitungan statistik berupa RMS error, korelasi pearson dan uji T berpasangan. Hasil penelitian didapat bahwa perapatan data metode Kriging dengan jumlah ketergantungan 4 titik memiliki nilai sesatan (error) yang lebih kecil dibanding jumlah titik lainnya. Pendekatan pemodelan paling presisi untuk perapatan data adalah menggunakan metode Kriging Gausian dengan nilai RMS error sebesar 2,76, korelasi sebesar 0,475 dan keberterimaan paling besar yaitu 98%. Kriging is the method of geostatistical estimation (interpolation) to obtain predictions of value of unmeasured location through linear combination regression process. Kriging using mathematical function models for modeling empirical semivariogram. The purpose of this study is to utilize kriging method to downscale spatial data of solar radiation intervals spaced 110 km to 7 km which is then verified against the field measuring data. The methodology is to make dependency rules by varying the number of points of dependence (4,9,12 and 16 points), make predictions, downscale the data with five types of Kriging (Circular, Spherical, Exponesial, and Linear Gaussian), and verification of data models. Data verification of the models with the field measurement data involves statistical calculations such as RMS error, Pearson correlation, and paired t test.  The result is that the density of data of kriging method with number of dependence 4 spot has an error value smaller than the number of other points. The most precise modeling approach to downscale the data is using Kriging method Gausian with RMS Error value by 2.76, a correlation of 0.475 and greatest acceptance is 98%.
Appendix Vol.9 No.1 2010 ketjurnal, redaksi
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 9, No 1 (2010): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KESETIMBANGAN ENERGI DAN EMISI CO2 BIOETANOL BERBAHAN BAKU PATI SINGKONG Sihombing, Adolf Leopold SM; Susila, I Made Agus Dharma; Magdalena, Medhina
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 12, No 2 (2013): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan peran bahan bakar fosil perlu mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan. Penggunaan energi dan material selama siklus produksi bioetanol akan melepaskan emisi gas rumah kaca (karbondioksida). Studi difokuskan pada analisa kesetimbangan energi dan perhitungan emisi gas rumah kaca (karbondioksida) untuk bioetanol yang berasal dari bahan baku pati singkong yang mencakup tahapan budidaya tanaman hingga proses produksi bioetanol. Lokasi studi terletak di Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) Lampung.Hasil studi menunjukkan bahwa nilai input energi pada siklus produksi bioetanol sebesar 26,142 MJ/kg-BE atau 0,970 MJ/MJ-BE, dengan nilai emisi sebesar 4,527 kg CO2/kg-BE atau 0,168 kg-CO2/MJ-BE. Tahapan budidaya tanaman singkong berkontribusi sebesar 13% dari total kebutuhan energi dan 5,5% dari total emisi CO2 yang hasilkan. Penurunan emisi gas rumah kaca dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi energi dari biogas dalam menggurangi pemakaian bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan energi peralatan listrik pada pabrik etanol/bioetanol. The development of bioethanol as an alternative fuel to substitute gasoline must consider the environmental impact. As we know that the use of energy and materials during the lifecycle of bioethanol production releases greenhouse gas emissions (carbon dioxide). A study of energy balance and greenhouse gas emission, covering from cassava cultivation process until bioethanol production, has been done to evaluate cassava-based ethanol. The study took place in Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) Lampung. The results showed that the value of the energy input in the lifecycle of bioethanol production was 26.142 MJ / kg-BE, equivalent to 0.970 MJ / MJ-BE, and the greenhouse gases emitted was 4,527 kg-CO2/kg-BE, equivalent to 0.168 kg-CO2/MJ-BE. Cassava cultivation contributed 13% of total energy and 5.5% of total CO2 emissions. The utilization of biogas on electrical equipment on bioethanol plant could also reduce GHG emissions. 
Appendix Vol.9 No.2 2010 ketjurnal, redaksi
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 9, No 2 (2010): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 5 of 15 | Total Record : 147