cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
ISSN : 18584837     EISSN : 2598019X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Pengaruh jejaring industri lurik terhadap pengembangan Desa Wisata Tenun Tradisional Tlingsing, Klaten Yudhasesa, Nasa Rosa; Aliyah, Istijabatul; Yudana, Galing
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v15i2.24138

Abstract

Pola jejaring industri lurik tradisional merupakan suatu pola yang terbentuk berdasarkan aktivitas industri lurik tradisional yang dihubungkan dengan sistem transportasi, yang meliputi aktivitas pengadaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran. Aktivitas industri lurik tradisional berpengaruh terhadap keberlanjutan proses produksi tenun lurik tradisional di Desa Tlingsing. Desa Tlingsing pada tahun 2011 telah ditetapkan sebagai Desa Wisata tenun Tradisional sehingga pola jejaring yang terbentuk berdasarkan aktivitas industri juga akan berdampak dengan pengembangan Desa Wisata Tlingsing. Jumlah pengrajin lurik dan pengunjung desa wisata Tlingsing dari tahun 2011-2017 mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis skoring dan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing. Berdasarkan analisis regresi linier berganda didapatkan hasil tingkat pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing dari pengaruh lemah – kuat yaitu (1) rumah makan, (2) dekat dengan jalan raya dan fasilitas transportasi, (3) toko cinderamata, (4) pusat informasi, (5) atraksi yang unik, (6) moda transportasi, (7) rambu jalan, (8) akomodasi, (9) ATM, dan (10) adanya masyarakat atau organisasi pengelola desa wisata.
Model penataan lingkungan dengan melibatkan partisipasi masyarakat: Studi Kasus Kelurahan Banyuanyar Surakarta Musyawaroh Musyawaroh; Leny Pramesti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i1.37771

Abstract

Konsep pembangunan dengan melibatkan partisipasi masyarakat sudah dilakukan di Indonesia sejak jaman dahulu, akan tetapi tidak dikembangkan dengan baik. Kendali pembangunan banyak berasal dari pemerintah secara top down dan tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model rancangan lingkungan tertata selaras, sehat, produktif, berjatidiri dan berkelanjutan yang direncanakan dan dibangun dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan multi kasus, data diperoleh dari observasi lapangan, observasi partisipan, wawancara dan studi literatur, dokumen serta rekaman arsip. Penilaian keabsahan data melalui teknik derajat kepercayaan (credibility) dengan triangulasi, dan teknik pemeriksaan keteralihan (transferability) dengan cara uraian rinci. Proses analisis melalui: 1) penjodohan pola dan; 2) analisis antar objek. Penelitian ini menemukan konsep dan desain penataan lingkungan dengan melibatkan pertisipasi masyarakat yang disusun berdasarkan pemetaan potensi dan permasalahan di lapangan.
TINGKAT KESIAPAN KOMPONEN WISATA KREATIF JAYENGAN KAMPOENG PERMATA BERDASARKAN STAKEHOLDER Suryono, Lintang Praharyaning; Astuti, Winny; Rahayu, Murtanti Jani
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v7i1.5784

Abstract

Jayengan Kampoeng Permata is a village ofgem merchant Banjar community which is now being planned to become a creative tourism destination. This study aims to determine how the level of readiness of creative tourism components Jayengan Kampoeng Permata by stakeholders. This study uses a deductive-quantitative method. The sampling technique used purposive sampling with JKP’sstakeholders as the interviewees. JKP’s readiness level was somewhat prepared. Components that contributed the highest value to lowest for readiness of JKP are creative tourism community, infrastructure, attractiveness, external institutions, tourists and internal institutional. The results showed that the readiness of people not guarantee readiness Jayengan Kampoeng Permata as a creative tourism destination, fascination owned Jayengan Kampoeng Permata has not been able to invite tourists, the readiness of JKP’s infrastructure sufficient not been able to attract tourists, internal institutional role in supporting preparedness Jayengan Kampoeng Permata and external institutions as external factors readiness JKP.
EFEKTIVITAS PERKOTAAN GEMOLONG SEBAGAI PUSAT PELAYANAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN SRAGEN Sari, Sri Murdiati Rin Permata; Hardiana, Ana; Putri, Rufia Andisetyana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v7i2.11580

Abstract

The existence of dependency between residential service center with service area then resulted in the slice of service range from some service center adjacent. Urban Gemolong as a residential service center with six sub-districts as its service area (Gemolong, Miri, Sumberlawang, Plupuh, Kalijambe, Tanon), does not yet have a complete settlement service as well as the location of the big city (Solo, Porwodari, Boyolali) There is a tendency for the service area to not meet the needs of its services in urban Gemolong. The problem formulation in this research is how effectiveness of urban Gemolong as settlement service center in Sragen regency? The purpose of the study is the effectiveness of urban Gemolong as a settlement service center in Sragen regency. Research method in this research is deductive, with kind of quantitative research. Analytical techniques in this study is scoring analysis for suitability on each variable, and for assessment of its effectiveness by percentage approach. The conclusion obtained in this study is the effectiveness of urban Gemolong as a settlement service center in Sragen regency in the form of effective approach. Approaching effectively means that urban Gemolong as a settlement service center is in a near-successful position (approaching effectively) in fulfilling its role as a settlement service center in terms of goals, efficiency or affordability. Called approaching to succeed because of the three vaiabel approaches, there is an approach that states that viewed from the side of goals, urban Gemolong has been appropriate (effective from the side of the goal). From the approach of affordability and efficiency that is how the community to reach the service and how the availability of the number of facilities when compared with the population is still not appropriate (not yet effective). Urban Gemolong needs to improve the existing resettlement service especially from efficiency and affordability approach in order to fulfill its function and role as residential service center, in several ways that is the addition of the number of settlement service facilities, shifting and arranging the layout of the facilities so that the needs of facilities availability and affordability of the facilities are met
Kesesuaian Kawasan Transit di Kota Surakarta Berdasarkan Konsep Transit Oriented Development Jati, Dwiki Kuncara; Nurhadi, Kuswanto; Rini, Erma Fitria
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v12i2.12542

Abstract

Uncontrolled and inconsistent urban growth trigger the growth of new, non-interconnected distribution centers (sprawl). The problem that came later was the emergence of congestion problems affecting the economic, social and environmental sectors. TOD concept as an alternative solution to these problems by integrating transport and spatial development in the surrounding area transit stations. Surakarta is one of the cities that implement the concept of TOD at its transit station considering the role of Surakarta City as the National Activity Center (NAC) which makes itself as its hinterland destination. Implementation of the concept is evident from the development of the Bus Rapid Transit transportation system under the name BST (Batik Solo Trans) which has three corridors of travel route to date. The purpose of this study is to assess the suitability of regional transit stations that pass through the three routes to the concept of TOD. The research technique  used is quantitative technique  by using scoring analysis method. The results of the research mentioned that the transit district of Solopurwoari, Solobalapan and Solojebres included in the inappropriate closer classification to the concept of TOD. It is due to the three transit areas have not fulfilled the concept of sixth principle tod, including density, mixed-uses, pedestrian and cyclist friendly and parking. Therefore, transit planning is required to accommodate these six principles.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau pada Setiap Dominasi Penggunaan Lahan (Studi Kasus: Kota Surakarta) Prabowoningsih, Nida Hayu; Putri, Rufia Andisetyana; Rini, Erma Fitria
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 13, No 2 (2018)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v13i2.21158

Abstract

AbstrakPemerintah Kota Surakarta berupaya meminimalisir emisi dengan penyediaan ruang terbuka hijau. Kondisi eksisting RTH publik sebesar 12.74% dari luas Kota Surakarta, angka tersebut menggambarkan bahwa ruang terbuka hijau eksisting di Kota Surakarta belum dapat memenuhi standar RTH publik 20%. Selain itu, menurut Permen PU No 5 Tahun 2008 menjelaskan bahwa RTH pada karakteristik guna lahan yang berbeda, maka arahan RTH juga berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi ketersediaan ruang terbuka hijau pada setiap dominasi penggunaan lahan di kota surakarta. Faktor- faktor yang mempengaruhi ketersediaan ruang terbuka hijau pada setiap dominasi penggunaan lahan di Kota Surakarta, yaitu ketersediaan anggaran, alokasi ruang terbuka hijau dalam perencanaan tata ruang, implementasi rencana kerja terkait RTH, penghargaan dalam program penghijauan, pelaksana program, partisipasi masyarakat, pengaruh tokoh masyarakat, keberadaan komunitas hijau, daya serap pohon terhadap CO2, ketersediaan lahan, nilai lahan, dan pengawasan pengendalian tata guna lahan. Analisis AHP digunakan untuk mengetahui tingkatan faktor yang mempengaruhi ketersediaan ruang terbuka hijau. Hasil penelitian menunjukkan setiap dominasi penggunaan lahan industri, perumahan, perdagangan jasa, perlindungan setempat, dan ruang terbuka memiliki faktor prioritas yang berbeda- beda. Faktor utama yang paling berpengaruh di zona industri adalah pengawasan pengendalian tata guna lahan, zona perumahan dan perdagangan jasa adalah alokasi ruang terbuka hijau dalam perencanaan tata ruang, zona perlindungan setempat adalah ketersediaan anggaran, sedangkan zona ruang terbuka adalah daya serap pohon terhadap CO2. Kata Kunci: ketersediaan, faktor, penggunaan lahan, ruang terbuka hijau
Kajian Kerentanan Bencana pada Kawasan Berisiko Banjir DAS Pepe Hilir, Surakarta Aisha, Mutiara; Miladan, Nur; Utomo, Rizon Pamardhi
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 2 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i2.23136

Abstract

Kawasan DAS Pepe Hilir Surakarta termasuk dalam kawasan berisiko banjir dengan tingkat kerawanan banjir sedang sampai sangat tinggi yang ditentukan melalui data genangan dan data fisik alam oleh DPUPR tahun 2016. Risiko bencana banjir dibagi menjadi kerawanan dan kerentanan terhadap banjir. Kajian mengenai kerentanan pada kawasan berisiko banjir ini dapat menjadi masukan dalam mengidentifikasi kerugian fisik, sosial, dan ekonomi yang disebabkan oleh bencana banjir serta dapat menjadi pertimbangan terkait prioritasi evakuasi kawasan pada kawasan yang tingkat kerentannya lebih tinggi. Kerentanan merupakan keadaan yang ditimbulkan manusia dari proses fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kerentanan  terhadap bencana terbagi menjadi kerentanan fisik, sosial, dan ekonomi. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder didapat dari survey data ke lembaga BPS dan BAPPPEDA, serta dilakukan observasi dan penggunaan citra satelit untuk mendapatkan  data primer berupa digitasi persil bangunan untuk menentukan kerentanan fisik pada kawasan penelitian. Data primer dan sekunder diolah dengan teknik analisis skoring.  Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa kawasan DAS Pepe Hilir Surakarta memiliki kerentanan fisik yang tinggi dengan kerentanan sosial yang rendah, serta ekonomi yang rendah sampai sedang. Sehingga kerentanan rata-rata pada kawasan DAS Pepe Hilir Surakarta termasuk dalam klasifikasi kerentanan rendah sampai sedang. Kata Kunci: Kerentanan Fisik, Sosial, Ekonomi, Kawasan Berisiko Banjir;
Penerapan genius loci pada pengembangan Desa Pahat Batu Tamanagung Ridho Akbar Khoirul Muna; Kusumaningdyah Nurul Handayani; Made Suastika
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i1.24696

Abstract

Desa Tamanagung merupakan kawasan perintis kerajinan pahat batu di Kabupaten Magelang sejak tahun 1953 yang terus berkembang hingga saat ini. Empat puluh tujuh sanggar pahat dengan 144 orang pengrajin di Desa Tamanagung untuk saat ini tidak terfasilitasi sepenuhnya. Kondisi workshop dan galeri yang tidak dibangun dengan prioritas memadai sebagai wadah kegiatan pahat merupakan alasan utama untuk pengembangan kawasan. Kebutuhan utama pengembangan kawasan yaitu melalui penguatan citra kawasan bertujuan untuk mendukung pemasaran serta intrepetasi aktivitas budaya di lokasi. Zoning kawasan eksisting yang tumbuh organik, tampilan bangunan yang tidak representatif serta peruangan yang tidak dapat teridentifikasi merupakan permasalahan yang perlu diselesaikan. Pengembangan kawasan dengan penguatan citra kawasan tersebut pada akhirnya dicapai dengan (1) perencanaan zoning kawasan; (2) perancangan tampilan bangunan; (3) perancangan. Kriteria perencanaan dan perancangan kawasan menerapkan studi genius loci untuk mendapatkan citra kawasan dan bangunan yang sesuai dengan konteks tempat. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur teori genius loci dan uraian konsep desainnya, observasi lapangan melalui pemetaan serta pengamatan terhadap kondisi fisik bangunan dan aktivitas pahat, wawancara terhadap pelaku industri dari 5 sanggar pahat, tokoh masyarakat serta regulator. Hasil studi genius loci menemukan dua proses utama yaitu proses orientasi dan proses identifikasi. Proses orientasi diterapkan pada pengolahan zoning kawasan sedangkan proses identifikasi diterapkan pada peruangan dan tampilan bangunan. Proses orientasi pada perancangan zoning kawasan mempertimbangkan alur sirkulasi eksisting, jenis user (insider/outsider) serta ketersediaan lahan. Proses identifikasi pada perancangan tampilan bangunan dan peruangan mempertimbangkan karakteristik eksisting dan kebutuhan aktivitas.
Hubungan place dependence terhadap keinginan alih fungsi lahan di Kecamatan Pandaan Gunawan Prayitno; Safira Aulia Rusmi; Dian Dinanti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i1.35565

Abstract

Alih fungsi lahan karena adanya pertambahan penduduk merupakan hal yang tidak dapat dielakkan dalam pengembangan wilayah. Perubahan penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi penggunaan lain misalnya permukiman, sarana perdagangan dan jasa, industry umumnya terjadi. Kecamatan Pandaan yang merupakan suatu kecamatan yang menghubungkan antara Kota Malang dan Kota Surabaya serta dilewati toll trans Jawa juga mengalami fenomena alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial masyarakat selain kondisi ekonomi dapat mempengaruhi keputusan masyarakat untuk melakukan alih fungsi lahan. Place dependence yang merupakan hubungan fungsional berdasarkan koneksi fisik individu dengan lingkungan dapat mempengaruhi keputusan alih fungsi lahan. Kami menggunakan analisa cross tabulasi untuk mengetahui hubungan place dependence dengan faktor pendorong aktivitas dalam sebuah tempat (lingkungan dimana tinggal). Place dependence digambarkan dengan pertanyaan dalam kuesioner sedangkan faktor pendorong aktivitas digambarkan dengan tingkat pendapatan, tempat beraktivitas dan kepemilikan lahan. Hasil analisa cross tabulasi menunjukkan bahwa hubungan place dependence dengan keputusan untuk mengubah lahan memiliki nilai signifikansi adalah 0,039 (<0,05). Dengan demikian nilai tersebut menunjukkan bahwa place dependence memiliki hubungan dengan keputusan melakukan alih fungsi lahan.
PONTEN MANGKUNEGARAN SEBUAH TINJAUAN SEJARAH TENTANG REVOLUSI HIDUP BERSIH DAN SEHAT BAGI RAKYAT Kusumastuti, Kusumastuti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v6i1.8500

Abstract

Ponten adalah jamban umum yang didirikan oleh Mangkunagara VII pada tahun 1938 di Kampung Ngebrusan Kelurahan Stabelan Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Ponten merupakan wujud modernisasi sanitasi lingkungan di wilayah kekuasaan Mangkunegaran yang dipengaruhi oleh budaya Eropa. Karena pada masa itu, kondisi lingkungan masyarakat sangat memprihatinkan. Masyarakat sulit untuk mendapatkan sarana air bersih dan sulit untuk membuang hajat besar (BAB), kecuali di lubang jumbleng tradisional yang berbau busuk dan menjadi tempat berbiak nyamuk malaria atau langsung mengakses sungai sebagai sarana sanitasi lingkungan. Pembangunan ponten menunjukkan adanya kepedulian Mangkunagara VII, penguasa saat itu, terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan rakyatnya. Harapannya, ponten dapat mengubah cara hidup rakyatnya menjadi lebih bersih dan sehat.

Page 4 of 27 | Total Record : 263