cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
ISSN : 20887469     EISSN : 24076864     DOI : -
Core Subject : Social,
Reformasi adalah jurnal peer-review yang menerbitkan artikel tentang praktik, teori, dan penelitian di semua bidang komunikasi politik, komunikasi massa, media & gender, komunikasi pemasaran, pelayanan publik, manajemen publik, pelayanan publik, kebijakan publik, dan otonomi daerah. Scope jurnal terdiri dari sosial, politik, komunikasi. Setiap naskah yang diserahkan akan ditinjau oleh satu peer-reviewer menggunakan metode double blind review. Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Politik diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jurnal ini diterbitkan setiap enambulan sekali (Januari-Juni dan Juli-Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2024)" : 21 Documents clear
Identifikasi Tahap Pengembangan Wisata Kampung Tempe di Desa Beji Kota Batu Berdasarkan Analisis Tourism Area Life Cycle (TALC) Hamida, Fira Aisyah; Purnomo, Agus
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6186

Abstract

Beji Village is one of the villages in the city of Batu that has the potential for Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) for Tempe industry. This potential has been developed into a concept of tempe educational tourism knows as Wisata Kampung Tempe (Tempe Village Tourism). This study aims to assess the readiness of Beji Village as a village tourism using the Tourism Area Life Cycle (TALC) theory.  This research adopts a descriptive qualitative approach, utilizing the analysis of Tourism Area Life Cycle (TALC) theory. The research data include the tourism activities, the sum of tempe MSMEs in Beji Village, the statistic data of tourist visits, the stakeholders involved in tourist activities and the available tourism facilities. The data were obtained through the purposive sampling method, using observation, interviews, and documentation as data collection methods. Data analysis techniques involved data collection, data reduction, data presentation, and finding the conclusions. The research findings indicate that Wisata Kampung Tempe in Beji Village, according to the Tourism Area Life Cycle (TALC) theory, is in the exploration stage, which is the initial phase if an area’s growth inti a tourist destination. Due to being new tourist destination, the number of tourist visits in Wisata Kampung Tempe is still low, the role of stakeholders is not optimal, the tourist facilities do not meet the needs of tourists, and the promotion of tourist products is not yet optimal. Therefore, the readiness of Beji Village as a tourist destination is still low. Abstrak Desa Beji merupakan salah satu desa di Kota Batu yang memiliki potensi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tempe. Potensi tersebut dijadikan sebagai ide desa wisata yang berkonsep wisata edukasi tempe dengan nama Wisata Kampung Tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan Desa Beji menjadi daerah tujuan wisata menggunakan teori Tourism Area Life Cycle (TALC).  Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis Tourism Area Life Cycle (TALC). Data penelitian berupa proses kegiatan wisata, jumlah UMKM tempe di Desa Beji, jumlah kunjungan wisata, stakeholder yang terlibat dalam kegiatan wisata dan fasilitas wisata yang tersedia. Data tersebut berasal dari responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Wisata Kampung Tempe di Desa Beji menurut teori Tourism Area Life Cycle (TALC) berada pada tahap eksplorasi, yaitu tahapan awal berkembangnya sebuah daerah menjadi daerah tujuan wisata. Karena Wisata Kampung Tempe merupakan destinasi wisata baru, jumlah kunjungan wisata yang masih sedikit, belum optimalnya peran para stakeholder, fasilitas wisata belum memenuhi kebutuhan wisatawan dan belum optimalnya promosi produk wisata. Sehingga kesiapan Desa Beji menjadi daerah tujuan wisata masih rendah.  
Collaborative Governance dalam Mewujudkan Thengul Sebagai City Branding Kabupaten Bojonegoro Orgita, Nava Intan; Taufiq, Ahmad; Rupiarsieh, Rupiarsieh
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.5543

Abstract

This research aims to determine and describe the implementation of collaborative governance carried out by the Bojonegoro Regency Culture and Tourism Office and other actors in promoting thengul as an icon of Bojonegoro Regency. The research approach used is qualitative with descriptive methods. Data collection techniques were carried out through interviews with the actors involved, observation and documentation. The focus of this research is on the collaboration process with indicators found by Ansell and Gash (2008). The results of this research show that the collaboration process carried out by the actors in realizing Thengul as city branding is quite good. However, there are shortcomings in the collaborative governance process, namely that there are several indicators including face-to-face dialogue indicators and indicators of an imperfect commitment process because there is no formal cooperation agreement. The non-involvement of mass media elements as important actors in the process of disseminating information to the public is a problem because in collaboration to realize Thengul as city branding, it is very necessary to utilize mass media for information publication.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan collaborative governance yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro serta para aktor lainnya dalam mempromosikan thengul sebagai ikon Kabupaten Bojonegoro. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara pada aktor-aktor yang terlibat, observasi, dan dokumentasi. Fokus penelitian ini adalah pada proses kolaborasi dengan indikator yang ditemukan oleh Ansell dan Gash (2008). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses kolaborasi yang dilakukan oleh para aktor dalam mewujudkan thengul sebagai citra kota sudah cukup baik. Namun terdapat kekurangan dalam proses collaborative governance, yaitu terdapat pada beberapa indikator termasuk indikator dialog tatap muka dan indikator proses komitmen yang belum sempurna karena tidak ada perjanjian kerjasama secara resmi. Tidak terlibatnya unsur media massa sebagai aktor penting dalam proses penyebaran informasi kepada khalayak menjadi sebuah masalah karena seharusnya pada kolaborasi mewujudkan Thengul sebagai city branding sangat perlu memanfaatkan media massa untuk publikasi informasi.
Good Governance: Analisis Efisiensi dan Transparansi Pada Aplikasi Simaniz di Kabupaten Bojonegoro Taslimah, Nasihatut; Wulandari, Septi; Rupiarsieh, Rupiarsie
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.5554

Abstract

Technological developments in an increasingly advanced era make very important needs for the community, at this time the government is required to make the fulfillment of services that can satisfy the community by utilizing technological developments and encouragement from the community to provide better services. This study aims to determine whether the simaniz application has operated effectively and openly in providing public services. This research examines the implementation of online service programs that contain data, understanding of technology, and also wider access that can also be reached easily. Qualitative research conducted with field observations and interviews with several informants. The focus of this research is on the users of the simaniz application as well as the implementors who are responsible for the implementation of the simaniz application. The results of this study are that the community, especially in the Bojonegoro district area, can use non-business and non-licensing services easily by using the simanis application, the community feels comfortable in using electronic services because they can access anywhere and the requirements in it are not too complicated. The public can also find out and monitor how far the submission has been processed.AbstrakPerkembangan teknologi di era yang semakin maju menjadikan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat, disaat ini pemerintah di tuntut untuk menjadikan pemenuhan pelayanan yang dapat memuaskan masyarakat dengan memanfaatkan dari perkembangan teknologi dan dorongan dari masyarakat untuk melakukan pelayanan yang lebih baik lagi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah aplikasi simaniz telah beroperasi secara efektif dan terbuka dalam memberikan layanan publik. Pengkajian penelitian ini pada program pelaksanaan pelayanan dengan online yang memuat data, pemahaman teknologi, dan juga akses yang semakin luas juga dapat dijangkau dengan mudah. Penelitian kualitatif yang dilaksanakan dengan pengamatan di lapangan dan wawancara dengan bebeapa informan. Fokus penelitian ini yaitu kepada pengguna aplikasi simaniz juga kepada  implementor yang bertanggungjawab atas pelaksanaan aplikasi simaniz. Hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat khususnya pada daerah Kabupaten Bojonegoro dapat menggunakan pelayanan non bisnis dan non perizinan secara mudah dengan menggunakan aplikasi simanis, masyarakat merasakan kenyamanan dalam penggunaan pelayanan elektronik karna dapat mengakses dimanapun dan persyaratan yang ada didalamnya tidak telalu ribet. Masyarakat juga dapat mengetahui  dan mengawasi sampaimana pengajuan yang telah diproses.
Dari Krisis Menuju Eksis: Geliat Kawasan Ekowisata Gunung Merapi Pasca Bencana Saputro, Agus; Muryanti, Muryanti; Ningtyas, Trimurti; Muryani, Tri; Sari, Qorir Yunia
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6578

Abstract

One of the most important assets in developing ecotourism is natural conditions that have marketability to tourists, while still paying attention to sustainability. As an active volcano, Mount Merapi in Yogyakarta has great potential to be affected by natural disasters caused by volcanic activity. This research aims to look at the development of volcanic ecotourism after the disaster. This research uses a case study, with interview and literature study data collection techniques. The theory used in this research is social capital from Robert Putnam. The results of this research found that after the eruption disaster, ecotourism in the Mount Merapi area experienced a decline in visitors, but this did not last long. What is quite interesting is that after the 2010 volcanic eruption disaster in the Mount Merapi tourist area, many new tourist attractions emerged that exist to this day. Meanwhile, during Covid-19, tourist attractions were in a slump due to government restrictions on activities outside the home so that tourists were reluctant to come on tour. However, after Covid-19, Mount Merapi Ecotourism quickly adapted and activities returned to normal, starting to attract visitors.AbstrakSalah satu modal terpenting dalam pengembangan ekowisata adalah kondisi alam yang memiliki daya jual kepada wisatawan, dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Sebagai gunung berapi yang aktif, Gunung Merapi di Yogyakarta memiliki potensi yang besar terdampak atas bencana alam yang disebabkan aktivitas gunung berapi tersebut. Penelitian ini bertujuan melihat geliat perkembangan ekowisata Gunung berapi pasca bencana. Penelitian ini menggunakan studi kasus, dengan teknik pengumpulan data wawancara dan studi pustaka. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah modal sosial dari Robert Putnam. Hasil dalam penelitian ini menemukan kondisi pasca bencana letusan, ekowisata di Kawasan Gunung Merapi mengalami penurunan pengunjung akantetapi hal itu tidak berlangsung lama. Hal yang cukup menarik, pasca bencana letusan gunung berapi 2010 pada Kawasan Wisata Gunung Merapi justru muncul banyak wisata baru yang eksis sampai sekarang ini. Sedangkan saat covid-19, objek wisata yang terpuruk karena pembatasan dari pemerintah aktivitas di luar rumah sehingga wisatawan enggan hadir untuk berwisata. Akan tetapi, pasca Covid-19 Ekowisata Gunung Merapi cepat beradaptasi dan aktivitas kembali normal mulai ramai pengunjung.
Studi Implementasi E-Procurement Pada Peningkatan Peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Malang Sasmito, Cahyo; Suprojo, Agung; Anchieta, Yosephina
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6276

Abstract

This study aims to analyze the effect of E-Procurement on increasing the role of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Malang Regency, East Java Province. This study uses a quantitative method, data collected from questionnaires with MSME respondents who participated in the procurement of government goods and services in Malang Regency through E-Procurement. Data analysis was carried out using SEM-PLS with WarpPLS 7.0 software. This study found that E-Procurement has a very significant effect on increasing the role of MSMEs in Malang Regency. This system expands market access, improves operational efficiency, and increases transparency in the procurement process. In addition, the training and technical support provided help improve the capabilities of MSMEs in using this platform. E-Procurement is an effective tool to empower MSMEs, increase their participation in government procurement, and encourage local economic growth. However, there needs to be an increase in technological infrastructure, ongoing training, and strengthening policies to support MSMEs. These findings provide insights for local governments and other stakeholders in optimizing the benefits of E-Procurement for inclusive economic development.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh E- Procurement terhadap peningkatan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, data dikumpulkan dari  kuesioner UMKM yang berpartisipasi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah di kabupaten Malang  melalui E-Procurement. Analisis data dilakukan dengan SEM-PLS dengan software WarpPLS 7.0. Penelitian ini menghasilkan bahwa E-Procurement berpengaruh sangat signifikan dalam meningkatkan peran UMKM di kabupaten Malang. Sistem ini memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi operasional, dan meningkatkan transparansi proses pengadaan. Selain itu, pelatihan dan dukungan teknis yang diberikan membantu meningkatkan kapabilitas UMKM dalam menggunakan platform ini. E-Procurement merupakan alat efektif untuk memberdayakan UMKM, meningkatkan partisipasi mereka dalam pengadaan pemerintah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun perlu adanya peningkatan infrastruktur teknologi, pelatihan berkelanjutan, dan penguatan kebijakan untuk mendukung UMKM. Temuan ini memberikan wawasan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengoptimalkan manfaat E-Procurement untuk pembangunan ekonomi yang inklusif.  
Smart People KTM Sungai Rambutan-Parit Kabupaten Ogan Ilir: Studi Problematika Penduduk Transmigran Saputra, Ardi; Sri Andriani, Dian; Helmi, Henny; Septiani, Yin Yin
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6552

Abstract

Community development is an effort to improve the quality of social life in society. Quality improvement is also an inseparable part of regional development. This research aims to determine the potential of the transmigrant population in the context of smart people in the Mandiri Integrated City area of Sungai Rambutan and Parit. This research uses mixed methods with a research focus on digital education and community creativity. The research results show that the transmigrant community does not meet the criteria for being smart people. This is in accordance with survey data that the digital education variable with the digital mastery indicator of 78% is not met and the openness indicator of 66% is not met. Meanwhile, for the flexible indicator skills variable, 70% were not met, 76% were satisfied with the desire to develop, 82% were met for ethnic and social plurality, and 77% were fulfilled for participation in life together. The results of the research can be concluded that there are still problems with KTM Sungai Rambutan-Parit being able to become a smart people area.Pembangunan masyarakat merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas hidup sosial di masyarakat. Peningkatan kualitas juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi penduduk transmigran dalam konteks smart people di kawasan Kota Terpadu Mandiri Sungai Rambutan dan Parit. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan fokus penelitian pada edukasi digital dan kreatifitas masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat transmigran belum memenuhi kriteria sebagai smart people. Hal ini sesuai dari data survey bahwa variabel edukasi digital dengan indikator penguasaan digital 78% tidak terpenuhi dan indicator keterbukaan 66% tidak terpenuhi. Sedangkan pada variabel keterampilan indikator fleksibel 70% tidak terpenuhi, keinginan untuk berkembang 76%, pluralitas etnik dan sosial 82% terpenuhi, dan partisipasi dalam kehidupan bersama 77% terpenuhi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masih terdapat permasalahan pada KTM Sungai Rambutan-Parit untuk dapat menjadi kawasan yang smart people 
Peran Kepemimpinan Lokal dalam Pengembangan Objek Wisata Kampung Warna Warni Jodipan Kota Malang Kerong, Yulius Wanga; Adiwidjaja, Ignatius; Ghunu, Agustinus
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6567

Abstract

 Tourism has a significant impact on a region's economic development because it not only generates foreign cash, but also determines where industries are located and how quickly non-resource areas develop. Local governments have a significant influence on the growth of tourism potential because they are, among other things, motivators, facilitators, and dynamic. This study uses a qualitative research approach and data collection through observation, interviews, and documentation. The data collection process involves several steps, including data collection, analysis, condensation, presentation, and conclusion drawing. The sampling technique used is purposive sampling. The results of the study indicate that the government's motivational role has been running effectively and according to the right parameters, thanks to the support of the community and government. The government has succeeded in qualifying as a facilitator by fostering strong cooperation among all stakeholders involved in meeting the needs of the community. The government employs a dynamic pentahelix partnership pattern. One important factor in the development of tourist attractions such as Kampung Warna Warni Jodipan is the active participation of the community in conveying creative ideas. However, the lack of widespread awareness of the need to maintain environmental cleanliness through proper waste disposal is one of the challenges.Pariwisata memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi suatu daerah karena tidak hanya menghasilkan uang tunai asing tetapi juga menentukan di mana industri berada dan seberapa cepat daerah non-sumber daya berkembang. Pemerintah daerah memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan potensi wisata karena, antara lain, ia menjadi motivator, fasilitator, dan dinamis. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah-langkah yang terlibat dalam analisis data adalah pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan pembuatan kesimpulan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran motivasi pemerintah telah berjalan dengan efektif dan sesuai parameter yang tepat berkat dukungan masyarakat dan pemerintah. Melalui pengembangan kerja sama yang kuat di antara semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah telah berhasil memenuhi perannya sebagai fasilitator. Sebagai dinamisator, pola kemitraan pentahelix digunakan. Salah satu faktor penting dalam pengembangan objek wisata seperti Kampung Warna Warni Jodipan adalah partisipasi aktif masyarakat dalam menyampaikan ide-ide kreatif. Namun, kurangnya kesadaran luas tentang perlunya menjaga kebersihan lingkungan melalui pembuangan sampah yang tepat merupakan salah satu tantangan. 
Collaborative Governance Pentahelix ABCMG+ dalam Pengelolaan Program Bank Sampah di Kota Bekasi Rahayu, Retno Dwi; Pramitasari, Anisa; Ardiyansah, Ardiyansah
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6078

Abstract

Waste management has become a crucial issue in the modern era, requiring a holistic and collaborative approach to achieve environmental sustainability. This journal discusses the concept of Collaborative Governance Pentahelix ABCMG+ in the context of managing the Waste Bank program in Bekasi City. This concept combines five main pillars, namely Academics, Business, Government, Society and Media (ABCMG+), with the aim of optimizing the role of each party to achieve maximum efficiency and effectiveness in waste management. This research uses literature analysis, case studies, interviews and observations to describe the implementation and impact of this collaboration at the local level. The research results show that full integration of ABCMG+ can increase public awareness, waste collection efficiency and waste processing. The success of the Waste Bank program is closely related to the active involvement of all related parties, including universities, business people, local governments, the general public and the mass media. The application of sustainable economic principles in this collaborative framework also opens up new opportunities to create a sustainable ecosystem in Bekasi City. This research provides an in-depth understanding of how Collaborative Governance Pentahelix ABCMG+ can be implemented in the management of the Waste Bank program, contributing to the development of collaboration-based strategies to overcome environmental challenges at the local level and achieve broader sustainability goals.Pengelolaan sampah menjadi isu krusial di era modern, membutuhkan pendekatan yang holistik dan kolaboratif untuk mencapai keberlanjutan lingkungan. Jurnal ini membahas konsep Collaborative Governance Pentahelix ABCMG+ dalam konteks pengelolaan program Bank Sampah di Kota Bekasi. Konsep ini memadukan lima pilar utama, yaitu Akademisi, Bisnis, Pemerintah, Masyarakat, dan Media (ABCMG+), dengan tujuan mengoptimalkan peran masing-masing pihak untuk mencapai efisiensi dan efektivitas maksimal dalam pengelolaan sampah. Penelitian ini menggunakan metode analisis literatur, studi kasus, wawancara, dan observasi untuk menggambarkan implementasi dan dampak kolaborasi ini pada tingkat lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi penuh dari ABCMG+ dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, efisiensi pengumpulan sampah, dan pemrosesan limbah. Keberhasilan program Bank Sampah ini terkait erat dengan keterlibatan aktif dari semua pihak terkait, termasuk perguruan tinggi, pelaku bisnis, pemerintah daerah, masyarakat umum, dan media massa. Penerapan prinsip-prinsip ekonomi berkelanjutan dalam kerangka kolaboratif ini juga membuka peluang baru untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan di Kota Bekasi. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana Collaborative Governance Pentahelix ABCMG+ dapat diimplementasikan dalam pengelolaan program Bank Sampah, memberikan kontribusi pada pengembangan strategi berbasis kolaborasi untuk mengatasi tantangan lingkungan di tingkat lokal dan mencapai tujuan keberlanjutan yang lebih luas.
Identifikasi Akar Kekerasan dan Perencanaan Kebijakan Perlindungan Perempuan Dan Anak Di Maluku Utara Hirto, Sahrony A.; Alhaddad, Yahya; Ilyas, Wawan
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6520

Abstract

This study explores the roots of violence against women and children in North Maluku, which are influenced not only by patriarchy but also by a combination of structural, cultural, and socio-psychological factors. Weak legal enforcement, fragile social control, and inadequate sexual education exacerbate the issue. Media and social language contribute to perpetuating symbolic violence through gender-biased narratives. Although local traditions such as Boso Kene and Oke Sou promote respect for women, their values have diminished in modern contexts. The study recommends strengthening the legal system, incorporating culturally-based sexual education, media reform, and family economic empowerment to mitigate gender-based violence in North Maluku.Penelitian ini mengeksplorasi akar kekerasan terhadap perempuan dan anak di Maluku Utara yang tidak hanya dipengaruhi oleh sistem patriarki, tetapi juga oleh kombinasi faktor struktural, budaya, dan sosio-psikologis. Lemahnya implementasi hukum, kontrol sosial yang rapuh, dan pendidikan seksual yang minim memperparah situasi ini. Media dan bahasa sosial turut berkontribusi dalam melanggengkan kekerasan simbolik melalui narasi bias gender. Meskipun tradisi lokal seperti Boso Kene dan Oke Sou mengajarkan penghormatan terhadap perempuan, nilai-nilainya mengalami penurunan relevansi di era modern. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem hukum, pendidikan seksual berbasis budaya lokal, reformasi media, dan pemberdayaan ekonomi keluarga untuk meminimalkan kekerasan berbasis gender di Maluku Utara.
Penanggulangan Kemiskinan Berdasarkan Model Collaborative Governance pada Kabupaten Kepulauan Tanimbar Koisin, Edoardus Koisin
REFORMASI Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v14i2.6392

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the collaborative governance model in efforts to alleviate poverty in the Tanimbar Islands Regency, Maluku Province. The collaborative governance model involves various stakeholders, including the local government, private sector, community, academics, and media, who collaborate to address poverty issues effectively and efficiently. This research employs a qualitative approach, using data collection techniques such as in-depth interviews, observation, and document study. The results show that the implementation of collaborative governance in Tanimbar Regency is underway but has not yet been fully optimized, particularly in terms of collaboration between stakeholders in poverty alleviation efforts. Poverty alleviation measures are still partial and lack clear goals and targets, with programs such as sustainable community economic empowerment not yet achieving optimal outcomes. Based on these findings, this study offers recommendations for the local government to improve poverty alleviation efforts in the Tanimbar Islands Regency.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model collaborative governance dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Model collaborative governance melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), yaitu Pemerintah Daerah, Sektor Swasta, Masyarakat, Akademisi, dan Media, yang berkolaborasi untuk mengatasi masalah kemiskinan secara efektif dan efisien. Dalam penelitian ini megunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan collaborative governance di Kabupaten Tanimbar sudah berjalan tetapi belum optimal dalam aspek kolaborasi antara pemangku kepentingan (stakeholders) dalam penanggulangan kemiskinan, penangulangan kemiskinan yang sifatnya parsial tanpa memiliki tujuan dan sasaran penanggulangan kemiskinan belum tepat sasaran, seperti program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan yang belum optimal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan kepada pemerintah daerah agar lebih optimal lagi upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. 

Page 1 of 3 | Total Record : 21