cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
ISSN : 23032375     EISSN : 25974521     DOI : https://doi.org/10.21009/JKKP
Core Subject : Education,
JKKP (Jurnal Kesejahteran Keluarga dan Pendidikan) provides a forum for publishing the original research articles, review articles, and the novel technology news related to science of family welfare, education, entrepreneurship and hotel accommodation. Articles published in JKKP are articles that have not been published previously in other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 227 Documents
MARRIAGE EDUCATION PRACTICES AT RECONCILIATION SCHOOLS Hadiyansyah, Dhuha; Hunaida, Wiwin Luqna; An’asy, Zaharil
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.05

Abstract

Abstract This study explores community-based marital education practices implemented by the Reconciliation School (SR), an initiative designed to help individuals heal emotional wounds caused by dysfunctional family systems. Employing a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis. The SR program adopts therapeutic frameworks developed by John Bradshaw and Virginia Satir, emphasizing family systems theory, inner child healing, and identity reconstruction. Data analysis was conducted using thematic coding and triangulation to ensure validity. Findings reveal significant improvements in participants’ interpersonal relationships and self-perception after completing the program. Participants reported enhanced emotional awareness, improved communication skills, and greater resilience in managing family dynamics. These results underscore the potential of community-based marriage education as a strategic alternative for strengthening family systems in Indonesia, particularly amid rising divorce rates, which currently range between 15–20 percent annually. Furthermore, SR’s hybrid model—integrating psychotherapy principles, adult learning theory, and spiritual reflection—creates a safe and transformative space for personal growth without requiring formal clinical intervention. The study recommends scaling similar programs through policy support and cross-sector collaboration to broaden accessibility. Ultimately, community-based family education offers a preventive approach to mitigating family dysfunction and its social consequences, fostering healthier relationships and sustainable family well-being. Abstrak Penelitian ini mengkaji praktik pendidikan perkawinan berbasis komunitas yang dilaksanakan oleh Sekolah Rekonsiliasi (SR), sebuah inisiatif yang bertujuan membantu individu memulihkan luka emosional akibat keluarga disfungsional. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Program SR mengadopsi metode terapeutik dari John Bradshaw dan Virginia Satir yang menekankan pemahaman sistem keluarga, penyembuhan luka batin, serta penguatan identitas diri. Analisis data dilakukan melalui pengkodean tematik dan triangulasi untuk menjamin validitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif pada hubungan interpersonal dan persepsi diri peserta setelah mengikuti program. Peserta melaporkan peningkatan kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, serta keterampilan membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan perkawinan berbasis komunitas dapat menjadi alternatif strategis untuk memperkuat sistem keluarga di Indonesia, khususnya di tengah meningkatnya angka perceraian yang mencapai 15–20 persen per tahun. Selain itu, model SR yang mengintegrasikan pendekatan psikoterapi, pembelajaran orang dewasa, dan refleksi spiritual menunjukkan efektivitas dalam menciptakan ruang aman bagi proses transformasi personal. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan program serupa dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan demikian, pendidikan keluarga berbasis komunitas berpotensi menjadi solusi preventif terhadap disfungsi keluarga dan dampak sosial yang ditimbulkannya.
KONSTRUKSI MEDIA ONLINE TERKAIT ISU CHILDFREE Shafabella, Arilla Nindya; Nugroho, Gilang Setyo; Asmarajati, Putri Tiara
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.06

Abstract

Abstrak Keputusan untuk tidak mempunyai anak atau yang biasa disebut childfree mulai menjadi sebuah perbincangan yang hangat. Banyak pakar Kesehatan yang membicarakan hal tersebut karena berhubungan dengan Kesehatan. Di Indonesia sendiri hal ini menjadi topik yang menimbulkan pro dan kontra, karena childfree dapat mengganggu tingkat pertumbuhan penduduk dan juga kesehatan. Semakin banyak orang yang berfikir untuk childfree, maka angka kelahiran pasti akan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami pandangan para pakar kesehatan terhadap fenomena keputusan childfree, di mana individu atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak. Fokus utama penelitian adalah menganalisis bagaimana pandangan-pandangan pro dan kontra dari para pakar kesehatan terhadap fenomena childfree yang sedang marak hingga kalangan Gen Z. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis. Peneliti akan mencari berita berita yang relevan dan menganalisisnya. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran yang komprehensif tentang cara pandang para pakar kesehatan terhadap keputusan childfree, termasuk faktor-faktor kesehatan yang mereka pertimbangkan. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman lebih lanjut tentang kompleksitas keputusan childfree dari sudut pandang kesehatan, serta menggambarkan peran para pakar kesehatan dalam membentuk narasi seputar pilihan hidup ini. Abstract The decision not to have children, commonly referred to as childfree, has become an increasingly prominent topic of public discourse. Many health experts have engaged in discussions surrounding this issue due to its implications for physical and reproductive health. In Indonesia, the childfree phenomenon has sparked debate and controversy, as it is perceived to potentially disrupt population growth and raise health concerns. As more individuals, particularly from Generation Z, consider the childfree lifestyle, birth rates are projected to decline.This study aims to explore how health experts perceive and respond to the childfree phenomenon, examining both supportive and opposing viewpoints. Employing a critical discourse analysis approach, the research analyzes online news articles from Indonesian media platforms that explicitly present expert opinions on childfree choices. The study seeks to provide a comprehensive understanding of how health-related factors influence the childfree decision and how media contribute to shaping the narrative surrounding this personal life choice. The findings are expected to offer valuable insights into the complexity of the childfree phenomenon from a health perspective and highlight the role of health professionals in influencing public opinion and discourse in digital spaces.
STUDI FENOMENOLOGI WORK-FAMILY CONFLICT GURU HONORER DI MADRASAH IBTIDAIYAH Rosyidi, Zudan; Auliya, Difa Rif'ah
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.04

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara mendalam fenomena work‐family conflict yang dialami oleh guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah melalui pendekatan studi fenomenologi. Penelitian ini mengungkap pengalaman subjektif para guru honorer terkait konflik antara tuntutan profesional dan peran di ranah keluarga, dengan fokus pada tiga faktor utama yang muncul, yaitu faktor finansial, kendala waktu, dan keharmonisan keluarga. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat narasumber yang memiliki pengalaman mengajar selama minimal sepuluh tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pendapatan, tekanan beban kerja yang tinggi, serta keterbatasan waktu yang tersedia untuk keluarga menjadi penyebab utama terjadinya work‐family conflict. Temuan ini memberikan gambaran tentang kebutuhan mendesak untuk pengelolaan waktu dan sumber daya yang lebih optimal serta program dukungan bagi guru honorer guna meningkatkan kesejahteraan kerja dan keluarga. Abstract The purpose of this research is to explore in depth the problem of work-family conflict that occurs in honorary teachers, work-family conflict is a conflict that occurs in work and family, both conflicts are involved in each other, choosing honorary teachers at Madrasah Ibtidaiyah level as the object research: With research to determine the factors that influence the occurrence of work-family conflict that occurs among honorary teachers at madrasah ibtidaiyah. This research uses a qualitative phenomenological study method and data collection techniques by conducting interviews so that it can describe the phenomena experienced by the sources in detail. In general, the research results show that there are 3 factors that influence the occurrence of work-family conflict for honorary teachers in Ibtidaiyah madrasahs, namely the financial factor because the income received by honorary teachers, especially at the Ibtidaiyah madrasah level, is low, the time factor at work because being an honorary teacher has a lot more activity at the madrasah than at home and family harmony, there is a tendency for honorary teachers to spend little time with their families, resulting in estrangement with their families. In general, these 3 factors influence the occurrence of work-family conflict for honorary teachers at madrasah ibtidaiyah.
PEMAAFAN ISTRI PASCA PERSELINGKUHAN SUAMI: KAJIAN LITERATUR Nita, Ni Made Ayu Asri; Tobing, David Hizkia
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 12 No. 1 (2025): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.121.01

Abstract

Abstrak Perselingkuhan menjadi salah satu masalah kompleks yang terjadi di kehidupan pernikahan. Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami dapat memicu keretakan dalam rumah tangga. Namun, tidak semua istri memutuskan untuk mengakhiri hubungan suami-istri setelah mengetahui suaminya berselingkuh. Forgiveness menjadi salah satu cara yang diterapkan istri untuk mempertahankan rumah tangganya. Dalam proses pemaafan, istri melewati berbagai tantangan hingga akhirnya berdamai dengan peristiwa yang terjadi dalam rumah tangganya. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah literature review. Literature review ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses forgiveness seorang istri demi mempertahankan pernikahannya pasca perselingkuhan suami. Literatur yang digunakan dalam kajian ini diterbitkan dalam 8 tahun terakhir. Kajian literatur secara deskriptif dilakukan pada 10 artikel yang menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan fenomenologi serta subjek pada kajian literatur ini adalah individu usia dewasa. Terdapat satu artikel yang menggunakan metode penelitian kualitatif sebagai pengambilan data utama dan kuesioner berupa NEO PI-R serta TRIM-18 untuk melengkapi data wawancara. Hasil dari literature review ini menunjukkan terdapat empat tahap yang dilalui istri dari awal mengetahui perselingkuhan suami hingga mampu memaafkan perselingkuhan dan mempertahankan rumah tangganya. Tahap yang dilalui istri terdiri dari Uncovering Phase (Tahap Pengungkapan), Decision Phase (Tahap Keputusan), Work Phase (Tahap Kerja), dan Deepening Phase (Tahap Pendalaman). Kata kunci: pemaafan istri, mempertahankan pernikahan, perselingkuhan suami Abstract Infidelity is one of the complex problems that occur in married life. Infidelity committed by the husband can trigger a rift in the household. However, not all wives decide to end their husband-wife relationship after finding out that their husbands are cheating on them. Forgiveness is one of the ways that wives apply to maintain their household. In the process of forgiveness, the wife went through various challenges to finally make peace with the events that occurred in her household. The method used in this article is literature review. This literature review aims to see how the forgiveness process of a wife in order to maintain her marriage after the husband's infidelity. The literature used in this review was published in the last 8 years. Descriptive literature review was conducted on 10 articles that used qualitative research with a case study approach and phenomenology and the subjects in this literature review were adult-age individuals. There is one article that uses qualitative research methods as the main data collection and questionnaires in the form of NEO PI-R and TRIM-18 to complement interview data. The results of this literature review show that there are four stages that wives go through from the beginning of knowing their husband's infidelity to being able to forgive infidelity and maintain their household. The stages that wives go through consist of the Uncovering Phase, Decision Phase, Work Phase, and Deepening Phase.
PENGEMBANGAN MEDIA EDUKASI PRANIKAH BERBASIS ISPRING SUITE UNTUK CALON PENGANTIN Hernawati, Heni; Jubaedah, Yoyoh; Ningsih, Mirna Purnama
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 12 No. 1 (2025): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.121.05

Abstract

Abstrak Pendidikan pranikah memiliki urgensi tinggi sebagai upaya membekali calon pengantin dengan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung kehidupan pernikahan yang sehat dan harmonis. Persiapan yang matang sebelum menikah diyakini dapat mencegah konflik rumah tangga dan meningkatkan kualitas hubungan pasangan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala, terutama dalam hal penyediaan media pembelajaran yang menarik dan mudah diakses. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media edukasi pranikah berbasis aplikasi iSpring Suite sebagai media pendukung dalam pelaksanaan pendidikan pranikah bagi calon pengantin. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan model penelitian Planning, Production, and Evaluation (PPE). Tahap perancangan dimulai dengan analisis kebutuhan melalui wawancara dan observasi, dilanjutkan dengan pengembangan media edukasi menggunakan aplikasi iSpring Suite. Media yang dikembangkan terdiri dari tiga bagian utama: tampilan muka (identitas dan petunjuk penggunaan), bagian isi (fitur learn dan test berisi materi dalam bentuk teks, gambar, video, soal pilihan ganda, dan studi kasus), serta bagian penutup (fitur guidelines dan profil pengembang). Pada tahap evaluasi, dilakukan expert judgment oleh ahli media dan ahli materi untuk menilai kelayakan media yang telah dibuat. Hasil validasi menunjukkan bahwa media edukasi pranikah berbasis iSpring Suite sangat layak digunakan. Media ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran interaktif yang mendukung pelaksanaan pendidikan pranikah secara fleksibel, mudah diakses kapan saja dan di mana saja, serta menjadi inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan pranikah. Abstract Premarital education is highly essential as an effort to equip engaged couples with the knowledge and skills necessary for a healthy and harmonious marriage. Well-prepared couples are believed to be better equipped to prevent marital conflicts and enhance the quality of their relationship. However, its implementation still faces various challenges, particularly in providing engaging and accessible learning media. This study aims to design a technology-based premarital education media using the iSpring Suite application as a supportive tool for premarital education delivery. A descriptive method was employed, using the Planning, Production, and Evaluation (PPE) research model. The design process began with a needs analysis through interviews and observations, followed by the development of the educational media using iSpring Suite. The media consists of three main components: the front page (containing media identity and usage instructions), the content section (featuring learn and test modules with materials in the form of text, images, videos, multiple-choice questions, and case studies), and the closing section (including guidelines and developer profiles). In the evaluation phase, expert judgment was conducted by media and content experts to assess the feasibility of the developed media. The validation results indicated that the premarital education media developed using iSpring Suite is highly feasible for use. This media is expected to serve as an interactive learning tool that supports flexible premarital education, accessible anytime and anywhere, and offers an innovative approach to its implementation.
PEMBENTUKAN RESILIENSI SOSIAL ANAK MELALUI PROGRAM PENGUATAN KAPASITAS PENGASUHAN ORANG TUA Pratiwi, Rifalni Saeful; Wilodati, Wilodati; Nugraha, Dadi Mulyadi
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.10

Abstract

Abstrak Resiliensi sosial pada anak merupakan kemampuan untuk menghadapi stres, tantangan, dan kesulitan dalam interaksi sosial, termasuk kemampuan menyelesaikan masalah interpersonal, mengendalikan emosi dan perilaku, menjaga hubungan sosial yang positif, serta memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar. Program penguatan kapasitas pengasuhan orang tua yang diselenggarakan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Bayi Sehat Muhammadiyah Bandung menjadi solusi bagi keluarga dhuafa dalam meningkatkan kualitas pola asuh melalui pelatihan yang dilaksanakan secara berkala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program dilaksanakan secara terstruktur dari tahap perencanaan hingga evaluasi, dan berdampak pada terbentuknya resiliensi sosial anak melalui internalisasi pola asuh oleh orang tua, yang ditandai dengan kemampuan coping yang baik, keterampilan interpersonal, sikap optimisme, dan empati tinggi. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa program penguatan kapasitas pengasuhan orang tua berkontribusi dalam memperbaiki pola asuh dan mendukung pembentukan resiliensi sosial anak, serta diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, praktisi, dan akademisi dalam penyelenggaraan program serupa. Abstract Social resilience in children refers to their ability to cope with stress, challenges, and difficulties in social interactions, including the ability to resolve interpersonal problems, regulate emotions and behavior, maintain positive social relationships, and seek support from their surroundings. The parenting capacity strengthening program organized by the Child Welfare Institution (LKSA) Bayi Sehat Muhammadiyah Bandung serves as a solution for underprivileged families to improve the quality of parenting through regular training sessions. This study employs a qualitative approach with a case study method, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and document analysis. The findings reveal that the program is implemented in a structured manner, from planning to final evaluation, and contributes to the development of children's social resilience through the internalization of parenting practices by parents. This resilience is characterized by effective coping strategies, interpersonal skills, optimism, and high empathy. The implications of this study indicate that the parenting capacity strengthening program plays a significant role in improving parenting practices and supporting the development of children's social resilience, and it is expected to serve as a reference for government, practitioners, and academics in implementing similar programs.
KORELASI ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN PERILAKU ALONE TOGETHER PADA REMAJA Bara, Anisa Mega Surya
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.08

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kemampuan komunikasi interpersonal dengan perilaku alone together pada remaja. Studi ini dilakukan terhadap 75 siswa kelas XI di MAN 2 Ciamis dengan menggunakan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas skala komunikasi interpersonal dan skala alone together. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa skala komunikasi interpersonal memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,764, sedangkan skala alone together memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,911, yang keduanya berada dalam kategori reliabel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Sebelum dilakukan uji korelasi, data diuji terlebih dahulu melalui uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal responden berada pada kategori rendah (16%) dan sedang (84%). Sementara itu, perilaku alone together berada pada kategori rendah (16%), sedang (72%), dan tinggi (12%). Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kemampuan komunikasi interpersonal dengan perilaku alone together, dengan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p<0,05) dan koefisien korelasi sebesar -0,358. Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan komunikasi interpersonal dapat berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku alone together di kalangan remaja. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pendidikan yang menekankan pada pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal melalui pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, serta peningkatan kualitas interaksi sosial di lingkungan sekolah. Upaya ini penting untuk mencegah kecenderungan remaja menarik diri secara sosial meskipun secara fisik berada dalam kelompok. Abstract This study aims to examine the relationship between interpersonal communication skills and alone together behavior among adolescents. The study involved 75 eleventh-grade students at MAN 2 Ciamis, selected using a simple random sampling technique. The research instruments consisted of an interpersonal communication scale and an alone togetherbehavior scale. Reliability testing showed that the interpersonal communication scale had a reliability coefficient of 0.764, while the alone together scale had a Cronbach’s Alpha value of 0.911, indicating that both instruments were reliable. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation test. Prior to the correlation analysis, prerequisite tests were performed, including normality and linearity tests. The results indicated that interpersonal communication skills among respondents were in the low category (16%) and moderate category (84%). Meanwhile, alone together behavior was categorized as low (16%), moderate (72%), and high (12%). The correlation test revealed a significant negative relationship between interpersonal communication skills and alone together behavior, with a significance value of 0.002 (p < 0.05) and a correlation coefficient of -0.358. These findings suggest that lower interpersonal communication skills may contribute to higher levels of alone together behavior among adolescents. Therefore, educational interventions that emphasize the development of interpersonal communication skills—through classroom learning, extracurricular activities, and the enhancement of social interaction quality within the school environment—are essential to prevent adolescents from socially withdrawing despite being physically present in group settings.
DUKUNGAN SOSIAL SEBAGAI FAKTOR PENENTU KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF GURU DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR ISLAM Qorifah, Reta Meysatul
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 12 No. 1 (2025): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.121.09

Abstract

Abstrak Guru memiliki peran sentral dalam menentukan mutu pendidikan di sebuah sekolah. Di lingkungan Sekolah Dasar Islam, guru dituntut untuk menyampaikan materi pelajaran umum sekaligus pendidikan agama secara bersamaan. Untuk menjalankan tugas tersebut secara optimal, guru memerlukan tingkat kesejahteraan subjektif yang memadai. Kesejahteraan subjektif yang tinggi memungkinkan guru bekerja secara profesional dan menunjukkan kompetensi yang baik. Namun, kenyataannya banyak guru menghadapi tantangan dalam mencapai kesejahteraan subjektif yang ideal. Salah satu faktor yang dapat mendukung kesejahteraan tersebut adalah adanya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana dukungan sosial berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif guru di salah satu Sekolah Dasar Islam. Penelitian melibatkan 30 guru sebagai sampel, yang merupakan keseluruhan populasi guru di sekolah tersebut. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua skala pengukuran, dan analisis data menggunakan metode regresi non-linear eksponensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan pengaruh sebesar 79,1% terhadap kesejahteraan subjektif guru, dengan tingkat signifikansi 0,000 (< 0,05) dan model persamaan Y = 22,193+0,008x. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa dukungan sosial memiliki kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan subjektif guru di Sekolah Dasar Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan aspek krusial dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif guru. Oleh karena itu, pihak sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan perlu memperhatikan dan memperkuat sistem dukungan sosial di lingkungan kerja guru, baik melalui hubungan antar rekan kerja, dukungan dari pimpinan sekolah, maupun keterlibatan komunitas dan orang tua siswa. Dengan meningkatnya kesejahteraan subjektif, guru akan lebih mampu menjalankan peran mereka secara optimal, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran dan perkembangan siswa. Abstract Teachers play a central role in determining the quality of education in a school. In Islamic elementary schools, teachers are required to deliver both general academic subjects and religious education simultaneously. To carry out this dual responsibility effectively, teachers need an adequate level of subjective well-being. High subjective well-being enables teachers to work professionally and demonstrate strong competence. However, in reality, many teachers face challenges in achieving optimal levels of subjective well-being. One of the factors that can support this well-being is social support. This study aims to examine the extent to which social support influences the subjective well-being of teachers in an Islamic elementary school. The research involved 30 teachers as participants, representing the entire teaching population at the school. Data were collected using two measurement scales, and analyzed using a non-linear exponential regression method. The results indicate that social support has a significant influence on teachers' subjective well-being, accounting for 79.1% of the variance, with a significance level of 0.000 (< 0.05) and a regression equation of Y = 22.193 + 0.008x. These findings support the hypothesis that social support contributes significantly to the subjective well-being of teachers in Islamic elementary schools. The results of this study highlight that social support is a crucial factor in enhancing teachers' subjective well-being. Therefore, school administrators and educational policymakers should pay greater attention to strengthening social support systems within the school environment. This can be achieved through fostering collegial relationships among teachers, providing support from school leadership, and encouraging active involvement from the community and parents. By improving teachers' subjective well-being, they will be better equipped to fulfill their roles effectively, ultimately leading to improved learning quality and student development.
DIGITAL CITIZENSHIP: PERAN PARENTAL MEDIATION DAN KUALITAS LINGKUNGAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN DIGITAL CITIZENSHIP PADA SISWA Agustina, Rena; Elmanora, Elmanora; Hasanah, Uswatun
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.07

Abstract

Abstrak Kemajuan teknologi digital menuntut siswa untuk memiliki kemampuan berperilaku secara bertanggung jawab, kritis, dan etis dalam ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh parental mediation dan kualitas lingkungan kelas terhadap digital citizenship siswa. Penelitian ini melibatkan 222 orang siswa dari salah satu sekolah di DKI Jakarta yang dipilih melalui teknik acak sederhana. Peneliti mengumpulkan data menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji regresi linear berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa parental mediation dan kualitas lingkungan kelas memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap digital citizenship. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin optimal peran orang tua dalam membimbing anak dalam penggunaan media digital, serta semakin kondusif lingkungan kelas yang diciptakan oleh sekolah, maka semakin tinggi pula tingkat digital citizenship yang dimiliki oleh siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter digital siswa yang bertanggung jawab. Abstract The advancement of digital technology requires students to behave responsibly, critically, and ethically in digital spaces. This study aims to examine the influence of parental mediation and the quality of the classroom environment on students' digital citizenship. The research involved 222 students from a school in DKI Jakarta, selected through a simple random sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results indicate that parental mediation and the quality of the classroom environment have a positive and significant influence on digital citizenship. These findings suggest that the more optimal the role of parents in guiding their children in using digital media, and the more conducive the classroom environment created by the school, the higher the level of digital citizenship possessed by students. This study highlights the importance of synergy between families and schools in shaping students' digital citizenship.
MAPPING KOMPETENSI CAREGIVER SEBAGAI PANDUAN KERJA Puspita, Hani; Jubaedah, Yoyoh; Widiaty, Isma
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 12 No. 1 (2025): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.121.10

Abstract

Abstrak Dalam dunia pendidikan, institusi pendidikan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi guna mengubah manajemen sumber daya manusia yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Teknologi dapat diaplikasikan pada bidang caregiver yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, perawatan kesehatan, dan manajemen penyakit untuk meningkatkan kesejahteraan lansia. Untuk menghasilkan tenaga kerja dalam bidang caregiver yang berkualitas diperlukan keselarasan antara kompetensi yang sesuai dengan standar serta perkembangan zaman saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan mapping kompetensi caregiver sebagai panduan kerja yang selaras dengan standar dan perkembangan zaman saat ini. Metode penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) dengan tahapan planning, conducting, dan reporting. Data diperoleh dari 32 artikel internasional dan nasional pada periode 2018-2022 melalui Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, dan Sage Journal. Hasil penelitian menunjukkan 10 kompetensi caregiver yaitu kesehatan lansia, pendampingan lansia, kebersihan diri lansia, mobilitas lansia, teknologi dan informasi, manajemen emosi, gizi lansia, pekerjaan rumah tangga, komunikasi efektif, serta pengetahuan dan perawatan lansia. Mapping kompetensi dirumuskan dalam 3 tema yaitu Pengembangan Diri, Activities of Daily Living (ADL), dan Instrumental Activities of Daily Living (IADL) yang mencakup domain Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap. Mapping kompetensi caregiver ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas, mudah dipahami, dan menjadi panduan kerja sesuai perkembangan zaman saat ini.   Abstract In the world of education, educational institutions are required to adapt to developments in information and communication technology to transform human resource management, which affects the quality of education. Technology can be applied in the field of caregiving, which focuses on meeting daily needs, health care, and disease management to improve the well-being of the elderly. To produce a quality workforce in the field of caregiving, there needs to be harmony between competencies that are in line with current standards and developments. This study aims to produce a mapping of caregiver competencies as a work guide that is in line with current standards and developments. This research method uses Systematic Literature Review (SLR) with the stages of planning, conducting, and reporting. Data were obtained from 32 international and national articles in the 2018-2022 period through Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, and Sage Journal. The results showed 10 caregiver competencies, namely elderly health, elderly assistance, elderly personal hygiene, elderly mobility, technology and information, emotion management, elderly nutrition, housework, effective communication, knowledge and care of the elderly. The competency mapping was formulated into three themes, namely Self-Development, Activities of Daily Living (ADL), and Instrumental Activities of Daily Living (IADL), which cover the domains of Knowledge, Skills, and Attitudes. This caregiver competency mapping is expected to provide a clear and easy-to-understand overview and serve as a work guide in line with current developments.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 12 No. 1 (2025): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 01 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 10 No. 02 (2023): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 10 No. 01 (2023): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 9 No. 02 (2022): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 9 No. 01 (2022): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 8 No. 02 (2021): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 8 No. 01 (2021): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 7 No. 02 (2020): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 7 No. 01 (2020): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 6 No. 02 (2019): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 6 No. 01 (2019): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 5 No. 2 (2018): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 5 No. 1 (2018): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 4 No. 02 (2017): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 4 No. 1 (2017): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 3 No. 2 (2016): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 3 No. 1 (2016): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 2 No. 2 (2015): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 2 No. 1 (2015): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 1 No. 2 (2014): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 1 No. 1 (2014): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) More Issue