cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Lirik Tembang Cianjuran Wanda Panambih dalam Kajian Struktur dan Etnopedagogik Mulyani, Noni; Sudaryat, Yayat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7317

Abstract

The lyric of Cianjuran Wanda Panambih (Complementary Type) is a kind of lyric that is much inspired by kawih and kesindenan. The use of barels include pelog degung, sorog, salendro, mandalungan, and wisaya.  This research aims to find out and determine the structure of lyric Cianjuran wanda panambih songs based on the structures and ethnopedagogics. In this research, a qualitative approach with a descriptive method is applied. Data is collected through documentation techniques and interview techniques. The source of this research data is the lyrics of Cianjuran song by Mang Bakang.  The results of the research find 33 (thirty-three) lyrics of the song Cianjuran wanda panambih by Mang Bakang, which are observed in terms of structure and ethnopedagogic value. In terms of structure, 10 lyrics are found in the form of pupuh, 18 lyrics in the form of free poetry, and 5 lyrics in the form of insertions. In the lyrics, most images are found, the most dominant theme is humanity, the most dominant tone is educating the reader or reminding the reader, and the most dominant figurative language is the paraphrasing base style. In terms of étnopédagogic, 71 characters are found that refer to the educational value of cultural and national characters based on the Curriculum Center, Research and Development Agency, Ministry of National Education. This research can add insight into the elements of poetry in Cianjuran songs and the emergence of a sense of pride from the community towards Cianjuran songs. AbstrakLirik Tembang Cianjuran Wanda Panambih (Tipe Pelengkap) merupakan tipe lirik tembang yang dipengaruhi oleh kawih dan kepesindenan. Laras yang digunakan meliputi pelog degung, sorog, salendro, mandalungan, dan wisaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan struktur lirik tembang Cianjuran wanda panambih yang dikaji dari struktur dan etnopedagogik. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Sumber data penelitian ini adalah lirik tembang Cianjuran karya Mang Bakang. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 33 lirik tembang Cianjuran wanda panambih karya Mang Bakang yang dikaji dari segi struktur dan nilai etnopedagogik. Dari segi struktur ditemukan 10 lirik dalam bentuk pupuh, 18 lirik dalam bentuk puisi bebas, dan 5 lirik dalam bentuk sisindiran. Di dalam lirik tersebut, kebanyakan ditemukan imaji rasa; tema yang paling dominan, yaitu kemanusiaan; nada yang paling dominan, yaitu mendidik pembaca atau mengingatkan pembaca; dan bahasa figuratif yang paling dominan, yaitu gaya bahasa parafrase. Dari segi etnopedagogik ditemukan 71 karakter yang merujuk pada nilai pendidikan karakter budaya dan bangsa yang berdasar pada Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional. Penelitian ini bisa menambah wawasan tentang unsur puisi dalam tembang Cianjuran serta timbulnya rasa bangga dari masyarakat terhadap tembang Cianjuran.
Intertekstualitas dalam Novel “Hati Suhita” Karya Khilma Anis Eliya, Ixsir; Lida, Ulfah Mey; Nurpadillah, Veni; Rachman, Anita Kurnia; Nuthihar, Rahmad
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.5522

Abstract

This study describes the intertextual relationship between the characters and plot of the novel "Hati Suhita" by Khilma Anis with several characters and plots in the world of wayang (shadow puppetry). The research employs a qualitative descriptive method in relation to text interpretation. Based on the findings, the forms of intertextuality that appear in the novel "Hati Suhita" are in the description of (1) character naming, (2) character traits, (3) character emotions, and (4) suppositions. The intertextuality contained within also serves as evidence that the author uses other works as references in producing her work. The novel "Hati Suhita" is greatly influenced by stories from wayang characters, allowing readers to internalize cultural values and philosophies through the content of the story. Based on this, the novel "Hati Suhita" is not only an interesting novel in terms of its narrative but also serves as a reflection of culture, social criticism, and a literary work rich in moral and spiritual values. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan hubungan intertekstualitas pada karakter dan alur cerita novel “Hati Suhita” karya Khilma Anis dengan beberapa karakter dan alur cerita dalam dunia pewayangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif  dalam menganalisis hubungannya dengan interpretasi teks. Berdasarkan hasil penelitian, bentuk intertekstualitas yang muncul dalam novel ”Hati Suhita” adalah dalam deskripsi (1) bentuk penamaan tokoh, (2) karakter tokoh, (3) perasaan tokoh, dan (4) pengandaian. Intertekstualitas yang terkandung juga menjadi bukti bahwa pengarang dalam memproduksi karya menjadikan karya lain sebagai referensinya. Novel “Hati Suhita” banyak dipengaruhi oleh kisah-kisah dalam tokoh pewayangan sehingga pembaca juga dapat menginternalisasi nilai-nilai budaya dan filosofi yang terkandung melalui isi cerita. Berdasarkan hal tersebut, novel “Hati Suhita” tidak hanya menjadi novel yang menarik dari segi cerita, tetapi juga sebagai refleksi budaya, kritik sosial, dan karya sastra yang kaya akan nilai moral dan spiritual.
Pengaruh Jenis Kelamin Penulis Sastra Anak pada Minat Baca Siswa Laki-Laki Kelas 5 SD Tetum Bunaya Hartiningtyas, Widjati; Wulan, Nur; Riana, Derri Ris; Khasyar, Meita Lesmiaty
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6166

Abstract

PIRLS test results in 2007 show that boys have lower reading interests than girls. On the other hand, female authors have recently dominated the children's book industry in Indonesia. The situation raises a question: Does the authors' sex influence 10-12 years old boys’ reading interest? In order to answer the research question, the writers conducted research using a descriptive qualitative approach and analyzed the data using reader-response theory. The population of this study is fifth-grader boys in Tetum Bunaya during the 2022 academic year. The data used in the study is the survey and interview results conducted with fifth-grader boys and fifth-grader class teachers. The objects of the studies are four digital chapter books entitled  Aku Anak Kajang, Candiku yang Terhebat, Dendang Hati Gigih, and Festival Cap Go Meh di Kota Seribu Klenteng. The results of this study indicate that the authors' sex does not significantly influence the reading interest of fifth-grader boys in Tetum Bunaya during the 2022 academic year. Some intrinsic features that also affect boys' reading interest are eye-catching illustrations, historical facts, exciting actions, relatable characters, page-turning plots, conflict and tension, cultural values, and unusual settings. AbstrakHasil Tes PIRLS tahun 2007 menunjukkan bahwa anak laki-laki memiliki minat baca yang lebih rendah dari anak perempuan. Di sisi lain, sastra anak Indonesia banyak didominasi oleh penulis perempuan dalam lima tahun terakhir. Hal ini memicu pertanyaan, apakah jenis kelamin penulis memiliki pengaruh pada minat baca anak laki-laki usia 10-12 tahun? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori respon pembaca. Subjek penelitian ini adalah siswa laki-laki kelas 5 di SD Tetum Bunaya tahun ajaran 2022. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil survei dan wawancara dengan siswa laki-laki kelas 5 dan guru kelas 5 di SD Tetum Bunaya. Objek penelitian adalah empat buku digital yang berjudul Aku Anak Kajang, Candiku yang Terhebat, Dendang Hati Gigih, dan Festival Cap Go Meh di Kota Seribu Klenteng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin penulis tidak secara signifikan memengaruhi minat baca siswa laki-laki kelas 5 di SD Tetum Bunaya pada tahun 2022. Beberapa unsur intrinsik yang turut memengaruhi minat baca anak laki-laki adalah ilustrasi yang menarik, fakta sejarah, aksi yang seru, tokoh yang membuat anak-anak merasa terhubung, alur yang membuat penasaran, konflik dan ketegangan, muatan budaya, serta latar tempat yang tidak biasa.
A Representation of Education in Film Hindi Medium Fitria, Tira Nur
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6048

Abstract

This research describes the representation of education in the film Hindi Medium. This research is qualitative descriptive research. The analysis shows that "Hindi Medium" is a captivating film that offers a poignant representation of the education system in India, particularly through the lens of social class and privilege. In "Hindi Medium," representation plays a pivotal role in dissecting various societal intricacies. Firstly, the film meticulously delineates the socioeconomic chasm, starkly portraying the divide between the affluent and the less privileged, particularly evident in access to education. Secondly, it navigates the intricate terrain of language barriers, emphasizing the significance of English-medium education and the challenges faced by those lacking proficiency in the language. Thirdly, "Hindi Medium" delves into the depths of parental aspirations, vividly depicting the lengths to which parents go to secure their child's educational future, often confronting the complexities of the system and resorting to unconventional means. Fourthly, the film employs satire and humor as its primary tools, effectively critiquing the flaws within the education system and broader societal structures. Fifthly, it touches upon the delicate balance between cultural identity and assimilation, highlighting the tension arising from the prioritization of English-medium education over cultural preservation. Lastly, "Hindi Medium" illuminates the privilege and entitlement entrenched within elite private schools, shedding light on preferential treatment and the disregard for students from less privileged backgrounds. Together, these representations form a comprehensive narrative that prompts reflection on the multifaceted issues surrounding education, social class, and cultural identity in contemporary Indian society. This film can frame criticism of the education system through a satirical comedy-drama that is built from the dialogue and conflicting roles of the characters. Apart from that, this film will make us realize that sometimes school is only a tool for parents to maintain prestige. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan representasi pendidikan dalam film Hindi Medium. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa "Hindi Medium" adalah film menawan yang menawarkan representasi tajam sistem pendidikan di India, khususnya melalui kacamata kelas sosial dan hak istimewa. Dalam "Hindi Medium", representasi memainkan peran penting dalam membedah berbagai seluk-beluk masyarakat. Pertama, film ini dengan cermat menggambarkan jurang sosio-ekonomi, dengan jelas menggambarkan kesenjangan antara masyarakat kaya dan masyarakat kurang mampu, khususnya terlihat dalam akses terhadap pendidikan. Kedua, panduan ini mengatasi rumitnya hambatan bahasa, menekankan pentingnya pendidikan berbahasa Inggris dan tantangan yang dihadapi oleh mereka yang kurang mahir dalam bahasa tersebut. Ketiga, "Hindi Medium" menggali kedalaman aspirasi orang tua, dengan jelas menggambarkan upaya orang tua untuk menjamin masa depan pendidikan anak mereka, sering kali menghadapi kompleksitas sistem dan menggunakan cara-cara yang tidak konvensional. Keempat, film ini menggunakan sindiran dan humor sebagai alat utamanya, yang secara efektif mengkritik kelemahan dalam sistem pendidikan dan struktur masyarakat yang lebih luas. Kelima, artikel ini menyentuh keseimbangan antara identitas budaya dan asimilasi, menyoroti ketegangan yang timbul dari prioritas pendidikan berbahasa Inggris di atas pelestarian budaya. Terakhir, "Hindi Medium" menyoroti keistimewaan dan hak yang tertanam di sekolah swasta elit, menyoroti perlakuan istimewa dan pengabaian terhadap siswa dari latar belakang yang kurang mampu. Secara keseluruhan, representasi-representasi ini membentuk narasi komprehensif yang mendorong refleksi terhadap beragam isu seputar pendidikan, kelas sosial, dan identitas budaya dalam masyarakat India kontemporer. Film ini dapat membingkai kritik terhadap sistem pendidikan melalui drama komedi satir yang dibangun dari dialog dan konflik peran para karakter. Selain itu, film ini akan menyadarkan kita bahwa terkadang sekolah hanya menjadi alat orang tua untuk menjaga gengsi.
Father Absence and Female Masculinity in Little Women (2019) and Yuni (2021) Rizqiyah, Nafiatur; Hidayatullah, Danial
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6325

Abstract

This research aims to find the relation between the father's absence and the masculinity of the daughter and how the father's absence can influence a daughter's masculine behavior in characters Jo of Little Women (2019) and Yuni of Yuni (2021). Therefore, the researcher found the relationship between these issues using Carl Jung's father absence theory and Jack Halberstam's female masculinity theory. Then researchers use qualitative methods by interpreting or defining the comparison of Jo and Yuni's characters. The data units in this research are scenes of the movie that are explained through story narration and the lingual unit of verbal dialogues. Then, the researcher created a database to facilitate the analysis process, which collects data as a dialogue. Then, the researcher assigns markings or codes to the data to divide the relevant dialogue. Next, to analyze the data, the researcher adjusting the behavior of Jo and Yuni related to the female masculinity variable, namely tomboy or, more specifically, independent and rebellious behavior. From those behaviors, the researcher determines the root cause of the existing similarities. After that, the researcher concludes the findings. The results obtained in this research are father’s absence has been shown to affect daughters' masculinity. Then, there is a tendency for tomboy behavior in them. These behaviors are independence and rebellion. Both behaviors arise because of the form of father's absence experienced. Then, the daughter who experiences a father's absence not must have the same form of behavior. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara ketidakhadiran ayah dan maskulinitas anak perempuan dan bagaimana ketidakhadiran ayah dapat mempengaruhi perilaku maskulin anak perempuan pada karakter Jo dari Little Women (2019) dan Yuni dari Yuni (2021). Oleh karena itu, peneliti menemukan hubungan antara isu-isu tersebut dengan menggunakan teori ketidakhadiran ayah dari Carl Jung dan teori maskulinitas perempuan dari Jack Halberstam. Kemudian peneliti menggunakan metode kualitatif dengan memaknai atau mendefinisikan perbandingan karakter Jo dan Yuni. Unit data dalam penelitian ini adalah adegan-adegan film yang dijelaskan melalui narasi cerita dan unit lingual berupa dialog verbal. Kemudian, peneliti membuat database untuk memudahkan proses analisis, yaitu mengumpulkan data berupa dialog. Kemudian, peneliti memberikan tanda atau kode pada data untuk membagi dialog yang relevan. Selanjutnya, untuk menganalisis data, peneliti menyesuaikan perilaku Jo dan Yuni yang berkaitan dengan variabel maskulinitas perempuan, yaitu tomboi atau, lebih spesifiknya, perilaku mandiri dan pemberontak. Dari perilaku tersebut, peneliti menentukan akar penyebab dari kesamaan yang ada. Setelah itu, peneliti menyimpulkan hasil temuannya. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah ketidakhadiran ayah terbukti mempengaruhi maskulinitas anak perempuan. Kemudian, terdapat kecenderungan perilaku tomboi pada diri mereka. Perilaku tersebut adalah kemandirian dan pemberontakan. Kedua perilaku tersebut muncul karena bentuk ketidakhadiran ayah yang dialami. Kemudian, anak perempuan yang mengalami ketidakhadiran ayah belum tentu memiliki bentuk perilaku yang sama.
Di Atas Kereta Angin: Berjalan di Ruang Hibriditas Mardiani, Mardiani; Rustan, Dwi Rezki Hardianto Putra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6730

Abstract

This study aimed to strip the journey of colonised and coloniser subjects in the short story Di Atas Kereta Angin (DAKA). The exploration used Homi K. Bhabha's postcolonial concept to see the characters' walking into hibridity space. By used a qualitative method, the results of this study show that there is mimicry in the way Dullah and bumiputra characters look and behave in front of Europeans. The mimicry was triggered by the justice and equality discourse and the changing times produced by Europeans. Although the mimicry as mockery in the eyes of one of the Europeans, Jan Buskes. The mimicry of Dullah and the bumiputra character makes them a hybrid subject, situated between Java and Europe. This hybrid condition creates a space of hybridity. The space of hybridity in DAKA is basically a negation created by the relationship between the coloniser and the colonised. On the one hand, Dullah and the bumiputra use it to achieve the justice and equality created by Kees and the other colonies. But on the other hand, it also became a space for the coloniser, Kees, to discipline Dullah's body. The existence of the narratives of justice and equality that were used to soften the hearts of Dullah and other natives, turned out to create a space of hybridity-ambivalence. With this ambivalence, DAKA is the one that negates the author's own view that Dutch figures have a humanist side. Furthermore, through DAKA, Bhabha's concept of mimicry as mockery does not apply universally, for example Kees condition, instead he deconstructs it. Finally, through DAKA, postcolonial studies can be used even though DAKA is set during the colonization era in the Indies. This means that postcolonial can speak beyond a specific time and space—when colonisation was still going on, before, or after. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menelanjangi perjalanan subjek terjajah dan penjajah di dalam Cerpen Di Atas Kereta Angin (DAKA). Penelanjangan tersebut menggunakan konsep poskolonial Homi K. Bhabha untuk melihat perjalanan tokoh-tokoh di ruang hibriditas. Dengan menggunakan metode kualitatif, maka hasil penelitian ini menunjukkan adanya mimikri cara berpenampilan dan bertingkah laku tokoh Dullah dan bumiputra di hadapan orang Eropa. Mimikri tersebut dipicu oleh wacana keadilan dan kesetaraan serta zaman sudah berubah yang diproduksi oleh orang Eropa. Meskipun mimikri tersebut juga menjadi mockery di hadapan mata salah satu orang Eropa, Jan Buskes. Mimikri tokoh Dullah dan bumiputra menjadikannya sebagai subjek yang hibrid, berada di antara Jawa dan Eropa. Kondisi yang hibrid inilah yang melahirkan ruang hibriditas. Ruang hibriditas dalam DAKA pada dasarnya adalah negasi yang diciptakan oleh hubungan antara penjajah dan terjajah. Di satu sisi, Dullah dan bumiputra menggunakannya untuk mencapai keadilan dan kesetaraan yang diciptakan oleh Kees dan koloni-koloni lainnya. Akan tetapi di sisi lain juga menjadi ruang penjajah, Kees, dalam mendisiplinkan tubuh Dullah. Keberadaan narasi keadilan dan kesetaraan yang digunakan untuk melunakkan hati Dullah dan bumiputra lainnnya, ternyata melahirkan ruang hibriditas-ambivalen. Dengan adanya ambivalen tersebut, maka DAKA—menjadi salah satu—yang menegasi padangan penulisnya sendiri yang menggap tokoh-tokoh Belanda memiliki sisi humanis. Selanjutnya, melalui DAKA, konsep mimicry as mockery Bhabha tidak berlaku secara universal, contohnya Kees tidak terganggu sama sekali, malahan dia mendekonstruksinya kembali. Terakhir, melalui DAKA, kajian pokolonial dapat digunakan meskipun DAKA memiliki latar waktu saat era kolonialisasi di Hindia berlangsung saat itu. Artinya, poskolonial dapat berbicara di luar ruang dan waktu tertentu—saat era kolonialisasi masih berlangsung, sebelum, atau sesudahnya.
Optimalisasi Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran Menulis Puisi di SMA Widodo, Arip; Puspandari, Diyas; Taufik, Indra Nugrahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7604

Abstract

Writing skills are very important for educators. Because, it is a creative process that requires knowledge, skills, techniques, and continuous practice. The weakness of creative thinking in Indonesian learning in writing competence, especially poetry writing. The objectives of this study are: (a) to analyze the difference in poetry writing ability using the relay writing method  and students who use conventional methods; (b) analyze the creative thinking ability of students who use the relay writing method  with students who use conventional methods; (c) correlation to the creative thinking ability of class X students and writing poetry using  the relay writing method and  the creative thinking ability of class X students and writing poetry using conventional methods. Based on the results of the research, there is a conclusion that learning to write poetry texts has an impact on students' creative thinking skills. It is evident from the results of the average pre-test results of the experimental class students obtained 57, while the average post-test results of the experimental class obtained 82 which showed a significant increase in scores before and after the treatment. Likewise, the average score of students' creative thinking pretries is 40 while the average score after the creative thinking test is 83. This shows a significant increase in creative thinking. AbstrakKeterampilan menulis sangatlah penting bagi pendidik. Karena, merupakan suatu proses kreatif yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, teknik, serta latihan terus menerus. Lemahnya daya berpikir kreatif pembelajaran Indonesia dalam kompetensi menulis khususnya menulis puisi. Tujuan penelitian ini adalah: (a) menganalisis perbedaan kemampuan menulis puisi yang menggunakan metode estafet writing dengan siswa yang menggunakan metode konvensional; (b) menganalisis kemampuan berpikir kreatif siswa yang menggunakan metode estafet writing  dengan siswa yang menggunakan metode konvensional; (c) korelasi terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X menulis puisi dengan menggunakan metode estafet writing dan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X  menulis puisi dengan menggunakan metode konvensional. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat simpulan bahwa pembelajaran menulis teks puisi berdampak terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Terbukti dari hasil prates rata-rata siswa kelas eksperimen memperoleh 57, sementara perolehan rata-rata pascates kelas ekperimen memperoleh 82 yang menunjukan kenaikan nilai yang signifikan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Begitu pula dengan nilai rata-rata prates berpikir kreatif siswa yaitu 40 sementara nilai rata-rata pascates berpikir kreatif 83. Hal ini, menunjukan kenaikan yang signifikan terhadap berpikir kreatif.
Analisis Struktur Puisi Karya Perempuan dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah Setiadi, David; Firdaus, Asep
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6332

Abstract

This research focuses on examining poems published in Suara 'Aisyiyah magazine in the "Aksara" rubric written by Cheny Kurata A'yun, which in quantity appears frequently in the 2021 publication period. This research aims to describe the structural analysis of women's poetry in Suara 'Aisyiyah magazine published in 2021. The research method used is a qualitative method by descriptive analysis, with the object of research in the form of three poems by Cheny Kurata A'yun entitled "Rain on a Prayer Mat", "Owner of Pertiwi" and "Hilang Arah" (2021). This study concludes that women's poems written in the 2021 publication period have a consistent physical and inner structure. This is characterized by the elements of construction with the presence of diction, imagery, majas, rhyme, typography, theme and mandate.  AbstrakPenelitian ini berfokus dalam mengkaji puisi-puisi yang terbit di majalah Suara ‘Aisyiyah dalam rubrik “Aksara” yang ditulis oleh Cheny Kurata A’yun yang secara kuantitas kemunculan sering ada pada periode terbit tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan analisis struktur puisi perempuan dalam majalah Suara ‘Aisyiyah periode terbit tahun 2021 tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara deskriptif analisis, dengan objek penelitian berupa tiga puisi karya Cheny Kurata A’yun yang berjudul “Hujan di Atas Sajadah”, “Pemilik Pertiwi” dan “Hilang Arah” (2021). Penelitian ini menghasilkan simpulan bahwa puisi-puisi perempuan yang ditulis pada periode terbit tahun 2021 memiliki struktur fisik dan batin yang ajek. Hal ini ditandai dengan unsur-unsur pembangun dengan adanya diksi, imaji, majas, rima, tipografi, tema dan amanat.
Pesona Pantun Jarjit dalam Serial Animasi Upin-Ipin: Pantun sebagai Diplomasi Budaya Indonesia-Malaysia Aswan, Aswan; Darmawan, Taufik; Sulistyorini, Dwi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6276

Abstract

The animated series Upin and Ipin has had a wide-ranging impact on the Malaysian-Indonesian community. Jarjit is an influential figures in animated series. Jarjit is popular because he is good at singing rhymes while communicating with other figures. The purpose of this study is to examine the charm of Jarjit's pantun and its relevance to cultural diplomacy instruments to strengthen Malaysia-Indonesia relations. The method used was qualitative, with a content analysis approach involving several stages. The data source in this study is the Les'Copauque YouTube channel, while the research data are Jarjit rhymes from 45 episodes of Upin and Ipin. The findings of this study are that Jarjit's rhymes in the animated series Upin and Ipin have a unique charm in terms of the characteristics of Jarjit rhymes, which always start with two or three as the sampiran of the rhymes; Jarjit, who comes from Indian ethnicity; the type of karmina rhymes; Jarjit rhymes as a children's oral tradition; and pantun jarjit as a representation of multiculturalism. Based on the charm of Jarjit's pantun, the poem is entitled that Jarjit's rhyme is an instrument of cultural diplomacy that can strengthen Malaysia-Indonesia relations. AbstrakSerial animasi Upin dan Ipin memberi dampak yang luas biasa bagi masyarakat Malaysia-Indonesia. Salah satu tokoh yang berpengaruh di dalam serial animasi tersebut adalah Jarjit. Jarjit populer karena piawai berpantun ketika berkomunikasi dengan tokoh-tokoh lainnya. Dari fenomena tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengkaji pesona pantun Jarjit dan relevansinya pada instrumen diplomasi budaya untuk memperkokoh hubungan Malaysia-Indonesia. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan konten analisis melalui beberapa tahapan. Sumber data dalam penelitian ini adalah kanal Youtube Les’Copauque sedangkan data penelitian adalah pantun Jarjit dari 45 episode Upin dan Ipin. Temuan penelitian ini adalah pantun Jarjit dalam serial animasi Upin dan Ipin memiliki pesona yang unik ditinjau dari ciri khas pantun Jarjit yang selalu berawal dari dua tiga sebagai sampiran pantunnya,  Jarjit yang berasal dari etnis India, jenis pantun karmina, pantun Jarjit sebagai tradisi lisan anak, dan pantun Jarjit sebagai representasi multikulturalisme. Berdasarkan pesona pantun Jarjit tersebut, disimpulkan bahwa pantun Jarjit merupakan instrumen diplomasi budaya yang dapat memperkokoh hubungan Malaysia-Indonesia.
Konflik Tokoh Utama dalam Novel Panganten Karya Deden Abdul Aziz: Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney Nurhuda, Denny Adrian; Koswara, Dedi; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty; Yuliani, Yuliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5256

Abstract

This study aims to explain the conflict phenomenon and types, also its resolution efforts made by the main character in the novel Panganten by Deden Abdul Aziz. The descriptive-qualitative research uses Karen Horney's literary psychology approach (psychoanalysis theory), which emphasizes that literature is a reflection of society, to analyze the data. The data analysis technique of this research is interpretative descriptive analysis. The results show that there are interpersonal conflicts between characters in this novel and intrapsychic conflicts consisting of despised real self, real self, ideal self, and actual self. In addition, conflict resolution efforts that occur in this novel are approaching others, fighting others, and staying away from others. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena, jenis, dan upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh karakter utama dalam novel Panganten karya Deden Abdul Aziz. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra Karen Horney yang menekankan bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat. Penelitian deskriptif kualitatif dengan teori psikoanalisis sosial Karen Horney ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk menganalisis datanya. Teknik analisis data penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konflik interpersonal antartokoh dalam novel dan konflik intrapsikis yang terdiri atas diri rendah (despised real self), diri nyata (real self), diri ideal (ideal self), dan diri aktual (actual self). Di samping itu, upaya penyelesaian konflik yang terjadi dalam novel ini adalah mendekati orang lain, melawan orang lain, dan menjauhi orang lain.