cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 670 Documents
Perilaku Komunikasi Kelompok Penggemar ENHYPEN dalam Komunitas Virtual di Twitter Sagala, Priscilla Evangeline Celine; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.27851

Abstract

K-pop fans in Indonesia are actively involved in various interactions through social media, including Twitter. These communication activities allow fans to seek information about their idols and connect with other fan communities, thus encouraging the formation of virtual communities such as the @enginafess community. The @enginafess community is a place for ENHYPEN fans (ENGENE) from Indonesia to share information and discuss fandom activities. Every communication activity in this community is governed by various norms that determine the communication behavior of the fan group. The purpose of this study is to describe the group communication behavior of ENHYPEN fans in the virtual community through the @enginafess account. The concepts that support this research are group communication and virtual community. This research was conducted using a qualitative approach and a case study method. The results show that fans' involvement in virtual communities is to express support for idols and fellow fans. They feel an expansion of the network with the addition of new relationships. The virtual community's auto base system will divide followers into two different groups based on roles, namely as information givers and information receivers. However, the text-based characteristics of Twitter can lead to misperceptions and fans' concerns about sharp criticism, so norms are needed to regulate fans' behavior. Penggemar K-Pop di Indonesia terlibat aktif dalam berbagai interaksi melalui media sosial, termasuk Twitter. Aktivitas komunikasi ini memungkinkan penggemar untuk mencari informasi mengenai idola mereka dan terhubung dengan komunitas penggemar lainnya sehingga mendorong terbentuknya komunitas virtual seperti komunitas @enginafess. Komunitas @enginafess adalah wadah bagi penggemar ENHYPEN (ENGENE) asal Indonesia untuk berbagi informasi dan berdiskusi terkait aktivitas fandom. Setiap aktivitas komunikasi dalam komunitas ini diatur oleh berbagai norma yang menentukan perilaku komunikasi kelompok penggemar di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku komunikasi kelompok yang dilakukan penggemar ENHYPEN dalam komunitas virtual melalui akun @enginafess. Konsep yang mendukung penelitian ini adalah konsep komunikasi kelompok dan komunitas virtual. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan penggemar dalam komunitas virtual adalah untuk mengekspresikan dukungan terhadap idola dan sesama penggemar. Penggemar merasakan adanya perluasan jaringan dengan bertambahnya relasi baru. Sistem autobase yang dimiliki komunitas virtual akan membagi pengikut ke dalam dua kelompok berbeda berdasarkan peran, yaitu sebagai pemberi informasi dan penerima informasi. Namun, karakteristik Twitter yang berbasis teks dapat menimbulkan kesalahan persepsi dan kekhawatiran penggemar terhadap kritik tajam sehingga diperlukan norma untuk mengatur penggemar dalam berperilaku.
Representasi Cantik pada Iklan Pond’s Air Light Sunscreen Gel Gusmiarni, Karunia Isya; Putri, Sekartaji
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33065

Abstract

Women's appearance in ads contributed to the concept of beauty, with an emphasis on their looks. Undoubtedly, face is one of the most prominent body features in women. The aim of this research is to identify the representation of beauty in Pond's advertisement "Kulit Terlindungi Maksimal dengan POND'S Air Light Sunscreen Gel!".  This study employs Roland Barthes' semiotic analysis to determine the signs and signifiers found in advertising. This analysis employs the meanings of denotation, connotation, and myth through the signs and signifiers that occur in the advertising, namely a woman's face that has black blotches due to indoor sun exposure and suddenly becomes bright and smooth after applying Pond's Air Light Sunscreen Gel. This ad despicts a beautiful woman as having a bright, smooth, and shining face, which is one of the qualities that contribute to women's confidence and happiness. Physically attractive women are more likely to receive positive opportunities and affirmations in society than those who are deemed unattractive. Without realising it, this advertisement contributes to the perpetuation of the concept of modern beauty through the employment of female models, in which having a bright, smooth, and shining face is regarded as superior in achieving better social standing. Kemunculan perempuan dalam iklan, membentuk konsep kecantikan yang sering kali menyoroti wajah mereka. Tak bisa dipungkiri, wajah adalah salah satu bagian tubuh perempuan yang paling disorot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi kecantikan dalam iklan Pond’s “Kulit Terlindungi Maksimal dengan POND’S Air Light Sunscreen Gel!”, melalui analisis semiotika Roland Barthes untuk mengindentifikasi tanda dan petanda yang muncul dalam iklan. Analisis ini menggunakan makna denotasi, konotasi, dan mitos melalui tanda dan petanda yang muncul dalam iklan, yaitu wajah perempuan yang terdapat noda hitam akibat paparan sinar matahari dalam ruangan, seketika menjadi cerah dan mulus karena menggunakan Pond’s Air Light Sunscreen Gel. Iklan ini merepresentasikan bahwa perempuan cantik diasosiasikan dengan memiliki wajah cerah, mulus, dan glowing sebagai salah satu faktor kepercayaan diri dan kebahagiaan perempuan, di mana mereka dikategorikan sebagai perempuan cantik. Perempuan cantik secara fisik sering kali mendapatkan peluang serta afirmasi lebih positif dalam bermasyarakat, dibandingkan yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan. Tanpa disadari, iklan ini berperan dalam melanggengkan mitos kecantikan modern melalui model perempuan yang digunakan, di mana memiliki wajah yang cerah, mulus, dan glowing dipandang lebih unggul dalam mendapatkan status sosial yang lebih tinggi.
Perbedaan Pandangan Antargenerasi dalam Film Pendek Ngaheot Jakaria, Delinda Amelia; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33279

Abstract

Taboo is something that cannot be separated from society. Pamali functions to influence the obedience of the surrounding community. One of the taboos that developed in Sundanese society is forbidden to whistle at night. The short film Ngaheot was chosen because it approaches the problem that today’s young generation tends to ignore their own culture. Therefore, this research aims to find out how the construction of whistle as myth is maintained in the short film Ngaheot. This research uses the concepts of mass communication, film, social reality construction, myth, and Roland Barthes semiotic model. This research uses a qualitative research method using Roland Barthes semiotic text analysis method. The subject of this study are scenes in the film and the objects of this study are scenes or texts that have signs of myth in the film. The results of this study indicate that there is a myth constructed between parents who are considered old-fashioned and young people representing thoughts that follow the generation in the short film Ngaheot. Even though it has entered the modern era, myth still has a role in human life. The purpose of the myth itself is as a form to respect each other. Pamali merupakan suatu hal yang tidak bisa lepas dari kalangan masyarakat. Pamali berfungsi untuk memengaruhi ketaatan masyarakat sekitar. Salah satu kepercayaan yang terdapat dalam masyarakat Sunda adalah larangan untuk bersiul di malam hari. Film pendek Ngaheot dipilih karena film ini memiliki pendekatan tentang masalah di mana generasi muda sekarang ini cenderung mengabaikan budayanya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konstruksi siul sebagai pamali yang dipertahankan dalam film pendek Ngaheot. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi massa, film, konstruksi realitas sosial, mitos, dan semiotika model Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis teks semiotika Roland Barthes. Subjek dari penelitian ini adalah adegan-adegan dalam film yang memiliki tanda-tanda konstruksi siul sebagai pamali yang dipertahankan dan objek dari penelitian ini adalah adegan atau teks yang memiliki tanda-tanda mitos dalam film. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat konstruksi mitos antara orang tua yang dianggap kolot dan anak muda mewakili pemikiran yang mengikuti generasi dalam film pendek Ngaheot. Meskipun sudah memasuki era yang semakin berkembang, mitos mengenai pamali masih tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Tujuan dari pamali sendiri adalah sebagai bentuk saling menghormati kepada satu sama lain.
Pengaruh Minat terhadap Kepuasan Khalayak (Studi pada Podcast PodHub di Kanal YouTube Deddy Corbuzier) Meicella, Fioren; Aulia, Sisca
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33283

Abstract

Podcasts, with their on-demand nature, are a popular form of new media among Generation Z. Accessible via platforms like YouTube in audio-visual format, podcasts attract audiences with engaging and relevant content. One notable example is PodHub, a segment of Deddy Corbuzier's Close The Door podcast, hosted by Deddy Corbuzier and Vidi Aldiano. This research investigates the influence of audience interest on satisfaction with the PodHub podcast.Using the Uses and Gratification theory, the study applies a quantitative approach with purposive sampling and a questionnaire for data collection. The sample includes Generation Z individuals residing in Jakarta, aged 12–27, who actively listen to PodHub. The results reveal a strong positive relationship between interest and satisfaction. The correlation coefficient is 0.862, indicating a very high correlation, while the determination value of 74.4% confirms that interest significantly affects satisfaction. These findings highlight that relevant content, combined with an engaging communication style, enhances the audience’s experience. Interest plays a critical role in shaping audience satisfaction, demonstrating its importance in media consumption patterns. The research underscores how PodHub successfully meets the needs of its audience, emphasizing the potential of podcasts as a medium for delivering satisfying and meaningful content. Podcast dalam bentuk audio visual melalui saluran YouTube semakin banyak digemari khalayak. Salah satu contoh podcast yang populer di Indonesia adalah PodHub, bagian dari podcast Close The Door milik selebritis Deddy Corbuzier. Podcast ini dipandu oleh Corbuzier dan penyanyi Indonesia, Vidi Aldiano. Penelitian ini akan mengukur pengaruh minat terhadap kepuasan khalayak terhadap podcast PodHub. Penelitian ini menggunakan teori Uses and Gratification dengan pendekatan kuantitatif. Dengan teknik purposive sampling peneliti menyebarkan kuesioner dengan sampel generasi Z dengan rentang usia 12- 27 tahun berdomisili Jakarta.  Penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif antara variabel dengan hasil uji koefisien korelasi menunjukkan nilai 0,862, artinya korelasi kedua variabel tersebut sangat tinggi. Nilai determinasi sebesar 74,4% menunjukkan adanya pengaruh antara variabel minat terhadap variabel kepuasan khalayak. Ketertarikan pada konten yang relevan, dan gaya komunikasi yang menarik mampu menciptakan pengalaman memuaskan bagi pendengar podcast PodHub. 
Analisis Semiotika Nilai Kolektivitas Remaja dalam Anime Wind Breaker (Perspektif Roland Barthes) Ananta, Della; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33284

Abstract

Film is an effective medium to introduce a country's culture to other countries as well as acting as a form of literary work. This research aims to analyze the representation of Shuudan Shugi Moral Value (collectivism) in youth groups in the Wind Breaker anime using Roland Barthes semiotics. The theoretical concepts used in this research are mass communication theory, film as a mass communication product, and cultural communication (Shuudan Shugi). Researchers used a qualitative approach with Roland Barthes semiotic data analysis techniques and data collection methods in the form of documentation and interviews with expert sources, namely Meta Sekar Puji Astuti, S.S., M.A., Ph.D. The results showed that Anime Wind Breaker represented the concept of Shuudan Shugi through symbols that show social hierarchy, group loyalty, visual symbols, and interactions between members. Analysis using Roland Barthes' semiotic approach shows that the values of collectivism are displayed through denotation, connotation, and myth elements. The hierarchical structure of the Furin group, along with identity symbols such as uniforms and graffiti, reflect Shuudan Shugi's moral values of cooperation, responsibility, and the role of individuals in supporting group stability. Film merupakan media yang efektif untuk memperkenalkan budaya suatu negara kepada negara lain sekaligus berperan sebagai bentuk karya sastra. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi Nilai Moral Shuudan Shugi (kolektivisme) dalam kelompok remaja pada anime Wind Breaker menggunakan semiotika Roland Barthes. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi massa, film sebagai produk komunikasi massa, dan komunikasi budaya (Shuudan Shugi). Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis data semiotika Roland Barthes serta metode pengumpulan data berupa dokumentasi dan wawancara dengan narasumber ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Anime Wind Breaker merepresentasikan konsep Shuudan Shugi melalui simbol tanda yang menunjukan hierarki sosial, loyalitas kelompok, simbol-simbol visual, dan interaksi antaranggota. Analisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes menunjukkan bahwa nilai-nilai kolektivisme ditampilkan melalui elemen denotasi, konotasi, dan mitos. Struktur hierarki kelompok Furin, beserta simbol-simbol identitas seperti seragam dan grafiti, mencerminkan nilai moral Shuudan Shugi yang mementingkan kerja sama, tanggung jawab, dan peran individu dalam mendukung stabilitas kelompok.
Persepsi Politik Generasi Z di TikTok: Analisis Teori Ekologi Media Ginting, Geby Enzelica Br; Pribadi, Muhammad Adi
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33286

Abstract

Generation Z uses TikTok as a space to access political information, build perceptions, and express opinions. This study aims to analyze the formation of GenerationZ's political perceptions of TikTok using a qualitative descriptive approach based on media ecology theory. Data collection methods through in-depth interviews, observation, and documentation Research shows that TikTok plays a role in shaping Generation Z's political perceptions through a personalization algorithm that presents content according to user preferences Generation Z actively consumes political content that is creatively packaged in short videos, trending hashtags, and easy-to-understand stories. In addition, TikTok serves as a dynamic space that encourages Generation Z to actively participate in political discussions through interactive features such as duets, remixes, and comments. This process provides Generation Z with a deeper and more thoughtful understanding of political issues. This research provides new insights into TikTok's role in shaping Generation Z's political experiences, particularly in the context of interactions between users, content, and digital technologies. Generasi Z menggunakan TikTok sebagai ruang untuk mengakses informasi politik, membangun persepsi, dan mengekspresikan pendapat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan persepsi  politik Generasi Z terhadap TikTok dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan teori ekologi media. Metode pengumpulan data  melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian menunjukkan bahwa TikTok berperan dalam membentuk persepsi politik Generasi Z melalui  algoritma personalisasi yang menyajikan konten sesuai preferensi pengguna Generasi Z  aktif mengonsumsi konten politik yang dikemas secara kreatif dalam video pendek, hashtag yang sedang tren, dan cerita yang mudah dipahami. Selain itu, TikTok berfungsi sebagai ruang dinamis yang mendorong Generasi Z untuk berpartisipasi aktif  dalam diskusi politik melalui fitur interaktif seperti duet, remix, dan komentar. Proses ini memberikan Generasi Z pemahaman yang lebih dalam dan bijaksana mengenai isu-isu politik. Penelitian  ini memberikan wawasan baru mengenai peran TikTok dalam membentuk pengalaman politik Generasi Z, khususnya dalam konteks interaksi antara pengguna, konten, dan teknologi digital.
Memperkuat Warisan Budaya Tionghoa melalui Media Sosial di Kalangan Generasi Muda Gio, Gio; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33287

Abstract

This study analyzes the role of the Instagram account @Chinese_Server in introducing and preserving Chinese cultural values among young Chinese-Indonesian generations. Using a qualitative approach with a case study method, the research explores how social media serves as an effective cultural communication tool in the fast-paced digital era. Data were collected through in-depth interviews with the account manager, cultural academics, social media specialists, and followers of @Chinese_Server. Additionally, observations were conducted on the account’s content to examine various types of posts, including Chinese history, traditions, culinary arts, and cultural celebrations, as well as audience interactions through interactive features. The findings reveal that Instagram, as a visually driven platform, effectively conveys cultural information through creative, engaging, and educational content. The account successfully fosters cultural awareness, engagement, and pride among younger generations of Chinese Indonesians. This study offers new insights into the use of social media for cultural preservation, emphasizing digital communication strategies and their critical role in promoting cultural identity amidst globalization and modernization trends. Penelitian ini menganalisis peran akun Instagram @Chinese_Server dalam pengenalan dan pelestarian nilai-nilai budaya Tionghoa di kalangan generasi muda keturunan Tionghoa di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana media sosial dimanfaatkan sebagai alat komunikasi budaya di era digital yang serba cepat. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengelola akun, akademisi budaya, Social Media Specialist, serta pengikut akun @Chinese_Server. Selain itu, observasi terhadap konten akun dilakukan untuk menganalisis jenis unggahan, seperti sejarah, tradisi, kuliner, dan perayaan budaya Tionghoa, serta keterlibatan audiens melalui fitur interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram sebagai platform berbasis visual sangat efektif dalam menyampaikan informasi budaya melalui konten yang kreatif, menarik, dan edukatif. Akun ini berhasil membangun kesadaran, keterlibatan, serta kebanggaan budaya di kalangan generasi muda Tionghoa Indonesia. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang pemanfaatan media sosial sebagai sarana pelestarian budaya, strategi komunikasi digital, serta perannya dalam memperkenalkan identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi.
Gerakan Sosial Kolektif dalam Drama Pyramid Game (Studi Semiotika Roland Barthes) Noel, Grace Ekklesia; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33290

Abstract

Evolving social changes create various types of dynamic social movements. This research aims to analyze the denotative and connotative meanings in the Korean drama Pyramid Game about collective behavior as a form of social movement using Roland Barthes semiotics. The teories and concepts used in this research are film as mass communication, social movement (collective behavior theory and new social movement theory), and semiotics according to Roland Barthes. With a qualitative approach that uses the semiotics of Barthes research method and Roland Barthes’ semiotic analysis technique involving concepts of denotation, connotation, and myth, this study aims to reveal collective behavior as a form of social movements in Korean drama Pyramid Game. Based on the results of the research, social movement in this drama are depicted through collective behaviors that are conventional and technological that bring success of social movements with the weakening of the oppressive system, the development of collective action groups, and boycotts. These elements build significant collective power in fighting injustice and promoting social change. In addition to being a medium of entertainment, the drama also reflects social realities related to the dynamics of social movements that are relevant in modern society. Perubahan sosial yang terus berkembang menciptakan berbagai jenis gerakan sosial kolektif yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotatif dan konotatif dalam drama Korea Pyramid Game tentang perilaku kolektif sebagai bentuk gerakan sosial dengan menggunakan semiotika Roland Barthes. Teori serta konsep yang digunakan dalam penelitian ini  adalah film sebagai komunikasi massa, gerakan sosial (teori perilaku kolektif dan teori gerakan sosial baru), dan semiotika menurut Roland Barthes. Dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode penelitian semiotika Barthes dan teknik analisis semiotika Roland Barthes yang melibatkan konsep denotasi, konotasi, dan mitos ini bertujuan untuk mengungkap perilaku kolektif sebagai bentuk gerakan sosial dalam drama Korea Pyramid Game. Berdasarkan hasil penelitian, gerakan sosial dalam drama ini digambarkan melalui perilaku kolektif yang secara konvensional maupun dengan teknologi yang membawa keberhasilan dari gerakan sosial dengan melemahnya sistem menindas, berkembangnya kelompok tindakan kolektif, dan aksi boikot. Elemen-elemen ini membangun kekuatan kolektif yang signifikan dalam melawan ketidakadilan dan mendorong perubahan sosial. Selain menjadi medium hiburan, drama ini juga mencerminkan realitas sosial terkait dinamika gerakan sosial yang relevan di masyarakat modern.
Komunikasi Internal dan Work-life Balance di Perusahaan Event Management Hendrik, Hendrik; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33292

Abstract

In recent decades, globalization and technological advancements have increased work pressures, blurring the boundaries between work and personal life. This highlights the importance of work-life balance in maintaining employee productivity. Effective internal communication within organizations directly impacts job satisfaction and the creation of work-life balance, especially in industries such as event management. PK Entertainment, a leading promoter in Indonesia, implements coordinated internal communication to ensure the smooth running of each stage of events. This study aims to explore and describe PK Entertainment's internal communication in fostering work-life balance. The concepts supporting this research include organizational communication, internal communication, organizational communication climate, and work-life balance. The researcher used a qualitative approach with a case study method. The findings show that transparency in internal communication allows employees to freely express opinions, supporting their personal development and skills. Leaders have a responsibility to ensure effective internal communication. Company support for work-life balance is crucial in creating a healthy work environment that enhances productivity and creativity. Internal communication plays a key role in creating productive collaboration, harmonious relationships, and building trust and motivation to achieve shared goals. Openness in the organizational communication climate creates a flexible, collaborative work environment that fosters work-life balance.  Dalam beberapa dekade terakhir, globalisasi dan kemajuan teknologi telah meningkatkan tekanan kerja, sehingga menghilangkan batas antara kehidupan kerja dan pribadi. Hal ini menekankan pentingnya work-life balance untuk menjaga produktivitas karyawan. Komunikasi internal yang efektif dalam organisasi berdampak langsung terhadap kepuasan kerja dan terciptanya work-life balance, terutama di industri hiburan seperti event management. PK Entertainment, sebagai promotor terkemuka di Indonesia, menerapkan komunikasi internal yang terkoordinasi untuk memastikan kelancaran setiap tahap acara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan komunikasi internal PK Entertainment dalam menciptakan work-life balance. Konsep yang mendukung penelitian ini adalah konsep komunikasi organisasi, komunikasi internal, iklim komunikasi organisasi, dan work-life balance. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transparansi dalam alur komunikasi internal memungkinkan karyawan menyampaikan pendapat dengan bebas, mendukung pengembangan diri dan kemampuan mereka. Pemimpin memiliki tanggung jawab memastikan komunikasi internal berjalan baik. Dukungan perusahaan terhadap work-life balance sangat penting untuk membuat lingkungan kerja sehat yang meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Komunikasi internal berperan dalam menciptakan kolaborasi produktif, hubungan harmonis, serta membangun kepercayaan dan motivasi dalam mencapai tujuan bersama. Keterbukaan dalam iklim komunikasi organisasi menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel, kolaboratif, dan menciptakan work-life balance.
Pro dan Kontra Cross Cover Dance (Studi Kasus Komentar di Akun TikTok @aiueza) Wibowo, Honey Florence; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33293

Abstract

The presence of popular South Korean music or K-pop has led to the emergence of cross dance cover activities, the existence of which often elicits various reactions from netizens on social media. These reactions can be in the form of opinions that agree (pro), disagree (con), or neither (neutral). The existence of opposing opinions regarding cross dance covers occurs because people often assume that cross dance cover dancers are people who violate religion and norms that apply in Indonesia. Therefore, the purpose of this study is to determine the pros and cons of K-pop cross dance covers in the comment’s column of the TikTok account @Aiueza for the period 2023-2024 based on the ABC of Attitude concept of opinion-forming components (affect, behavior, and cognition). The theories and concepts that support this research are new media theory and the concept of opinion. This research was conducted using a qualitative approach with a case study method. After conducting the research process, the results showed that there were only 2 of the 3 components that formed the ABC of Attitude opinion, namely affect and cognition. Hadirnya musik populer Korea Selatan atau K-pop menyebabkan munculnya aktivitas cross dance cover, yang keberadaannya kerap menimbulkan beragam reaksi dari netizen di media sosial. Reaksi tersebut dapat berupa opini yang setuju (pro), tidak setuju (kontra), ataupun tidak keduanya (netral). Adanya opini kontra mengenai cross dance cover terjadi karena masyarakat kerap menganggap bahwa penari cross dance cover adalah orang yang melanggar agama dan norma yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pro dan kontra K-pop cross dance cover dalam kolom komentar akun TikTok @Aiueza periode tahun 2023-2024 berdasarkan konsep ABC of Attitude dari komponen pembentuk opini (affect, behavior, dan cognition). Teori dan konsep yang mendukung penelitian ini adalah teori media baru dan konsep opini. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Setelah melakukan proses penelitian, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa hanya terdapat 2 dari 3 komponen pembentuk opini ABC of Attitude, yaitu affect dan cognition.