cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 670 Documents
Simulasi Era Disrupsi dalam Iklan Apple “Crush” Budhiman, Arief; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33282

Abstract

Technological progress is something that has a significant aspect of human life, one example is social media. Companies use these media to share messages with audiences. Every advertisement has a message meaning, either implicit or explicit, that it wants to convey to the audience and each audience has a different view in understanding the meaning contained in the advertisement. To find out the implied meaning in a message, help from semiotics is needed. One company that conveys interesting implied messages in advertising is Apple, which conveys the theme of change. Researchers want to examine further the meaning of the implied messages in the elements contained in the iPad Pro advertisement by carrying out semiotic analysis according to Roland Barthes through the meaning of connotation and meaning of denotation, disruption theory which discusses how change changes the order of human life, as well as assistance from the internet to strengthen the data needed to support the results of this research. Through the method used in this research, there are forms of digital representation in the Apple iPad Pro advertisement with the title "crush" which can be mentioned in three points, namely simple, addition, and revolution. Kemajuan teknologi merupakan hal yang memilki aspek signifikan terhadap kehidupan manusia, salah satu contohnya media sosial. Perusahaan menggunakan media tersebut untuk berbagi pesan kepada audiens. Setiap iklan memiliki makna pesan baik secara tersirat atau tersurat yang ingin disampaikan kepada audiens dan setiap audiens memiliki pandangan yang berbeda dalam memahamai makna yang terkandung dalam iklan, untuk mengetahui makna tersirat dalam suatu pesan diperlukannya bantuan dari semiotika. Salah satu perusahaan yang membawakan makna pesan tersirat yang menarik pada iklan adalah Apple, yang membawakan tema perubahan. Peneliti ingin menelaah lebih lanjut mengenai makna pesan tersirat pada elemen-elemen yang terkandung di dalam iklan iPad Pro dengan melakukan analisis semiotik menurut Roland Barthes melalui makna konotasi dan makna denotasi, teori disrupsi yang membahas bagaimana perubahan mengubah tatanan hidup manusia, serta bantuan dari internet untuk memperkuat data yang diperlukan agar mendukung hasil dari penelitian ini. Melalui metode yang digunakan dalam penelitian ini terdapat bentuk-bentuk representasi digital pada iklan Apple iPad Pro dengan judul “crush” yang dapat disebutkan dengan tiga poin, yaitu simpel, penambahan, serta revolusi.
Analisis Persepsi Orang Tua terhadap Kidfluencer (Studi Pada Akun TikTok @abe_daily) Santosa, Fransisca Widia; Sukendro, Gregorius Genep
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33285

Abstract

The times have made it easier to use social media. Not only as a user, but it can also encourage many people to become content creators who can then attract a large audience or be referred to as influencers. TikTok is one of the social media platforms that currently has many users. This research aims to explore parents' perceptions of the kidfluencer phenomenon on social media, with a case study of the TikTok account @abe_daily. Kidfluencers are children who become influencers on social media, attracting audience attention through content managed by their parents. This research used a qualitative approach with a case study method, involving in-depth interviews with six interviewees from various backgrounds. The results showed that there are diverse perceptions, ranging from appreciation of creativity to concerns regarding the exploitation of children and the impact on their development. In addition, social and cultural factors also influence parents' interpretation of this phenomenon. This research provides insight into the role of social media in children's lives and the importance of parental supervision in utilizing digital media wisely. Perkembangan zaman mempermudah penggunaan media sosial. Tidak hanya sebagai pengguna, namun dapat mendorong banyak orang menjadi pembuat konten yang kemudian dapat menarik banyak audiens atau disebut sebagai influencer. TikTok merupakan salah satu media sosial yang saat ini memiliki banyak pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi orang tua terhadap fenomena kidfluencer di media sosial, dengan studi kasus akun TikTok @abe_daily. Kidfluencer adalah anak-anak yang menjadi influencer di media sosial, menarik perhatian audiens melalui konten yang dikelola oleh orang tua mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dengan enam narasumber dari berbagai latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan adanya persepsi beragam, mulai dari apresiasi terhadap kreativitas hingga kekhawatiran terkait eksploitasi anak dan dampak terhadap tumbuh kembang mereka. Selain itu, faktor sosial dan budaya juga mempengaruhi interpretasi orang tua terhadap fenomena ini. Penelitian ini memberikan wawasan tentang peran media sosial dalam kehidupan anak-anak dan pentingnya pengawasan orang tua dalam memanfaatkan media digital secara bijak.
Strategi Komunikasi Sindiran Konten Lip Service TikTok @podcastkeselaje Simatupang, Gloria Maranatha N.; Sukendro, Gregorius Genep
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33288

Abstract

This study analyzes the communication strategies employed in the satirical content of Lip Service, popularized by Oza Rangkuti on TikTok. Using a qualitative approach, this study explores the use of satirical humor as a tool for delivering social criticism and entertainment. Data was collected through in-depth interviews, content observation, and analysis of three videos with high levels of interaction. The results indicate that subtle satire combined with humor serves to both entertain the audience and convey a message. Humor is used to reduce audience resistance to criticism, enhance content appeal, and improve message retention. Additionally, Oza incorporates nonverbal communication in the form of visual expressions and distinctive gestures to enrich the entertainment element, creating a unique and relatable viewing experience for the audience. The content also utilizes relevant social issues to build emotional connections with the audience, encouraging active interaction and opening up spaces for discussion. This study highlights how satirical communication strategies can address sensitive issues in an entertaining yet meaningful way. The study contributes to a new understanding of satirical humor as a strategic approach in digital communication. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi dalam konten sindiran Lip Service yang dipopulerkan oleh Oza Rangkuti di TikTok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini mengeksplorasi penggunaan humor sindiran sebagai alat penyampaian kritik sosial dan hiburan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi konten, dan analisis tiga video dengan tingkat interaksi tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sindiran halus dipadukan dengan humor yang berperan untuk menciptakan hiburan bagi audien sekaligus dalam menyampaikan pesan. Humor digunakan untuk mengurangi resistensi audiens terhadap kritik, memperkuat daya tarik konten, dan meningkatkan daya ingat pesan. Selain itu, Oza menggabungkan komunikasi non-verbal dalam bentuk ekspresi visual dan gestur khas untuk memperkaya elemen hiburan, menciptakan pengalaman menonton yang unik dan relatable bagi audiens. Konten ini juga menggunakan isu sosial yang relevan untuk membangun keterhubungan emosional dengan audiens, mendorong interaksi aktif, serta membuka ruang diskusi. Penelitian ini menyoroti bagaimana strategi komunikasi dalam bentuk sindiran dapat mengangkat isu sensitif secara menghibur namun tetap bermakna. Studi ini berkontribusi pada pemahaman baru tentang humor sindiran sebagai pendekatan strategis dalam komunikasi digital.
Pemanfaatan Media Sosial X untuk Interaksi Penggemar dalam Mendukung Idola Hasan, Devy Yana; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33291

Abstract

The K-pop phenomenon has become increasingly popular worldwide, including in Indonesia, giving rise to a dedicated fan community. Fans play an essential role in the world of K-pop, one of which is to support their favorite idols.  One form of support that fans can provide is streaming parties. This activity not only increases impressions but also strengthens fan relationships. Looking at this phenomenon, the research aims to describe the use of social media X as a means of fan interaction in supporting their idols through MV streaming party activities. This research uses the concepts of mass communication, social media, and fan interaction, with a qualitative approach and phenomenological methods. This research shows the process of streaming party activities that utilize the features of social media X, namely hashtags, replies, mentions, threads, search, and DM. The results of the research show that social media can be used as a means of fan interaction, with the process involving fans exchanging information about streaming party activities, encouraging one another, and communicating about various topics. Through this process, fans can become more connected with one another, grow closer, and expand their network of friends. Fenomena K-Pop kini telah menjadi semakin populer hingga ke seluruh dunia termasuk Indonesia, sehingga melahirkan suatu komunitas penggemar. Penggemar berperan penting  dalam dunia K-Pop salah satunya adalah untuk mendukung idola kesukaannya.  Salah satu bentuk dukungan yang  dapat dilakukan penggemar yaitu streaming party. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan tayangan, tetapi juga mempererat hubungan penggemar. Melihat dari fenomena ini, penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media sosial X sebagai sarana interaksi penggemar dalam mendukung idolanya melalui kegiatan MV streaming party. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi massa, media sosial, dan juga interaksi penggemar, dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Melalui penelitian ini memperlihatkan proses kegiatan streaming party yang memanfaatkan fitur-fitur media sosial X yaitu tagar, reply, mention, thread, search, dan juga DM. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa media sosial X dapat dimanfaatkan sebagai sarana interaksi penggemar, dengan prosesnya yang meliputi cara penggemar saling bertukar informasi mengenai kegiatan streaming party, saling memberikan semangat satu sama lain, dan juga saling berkomunikasi tentang banyak hal. Melalui proses tersebut para penggemar dapat menjadi lebih terhubung dengan satu sama lain, menjadi lebih dekat, dan juga mereka dapat memperluas jaringan pertemanan.
Representasi Nilai Optimisme dalam MV PLAVE “The 6th Summer” Irfiyani, Khoirunnisa; Yoedtadi, Moehammad Gafar
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33294

Abstract

With the evolution of the digital era, the role of avatars has become increasingly important, and virtual idols have emerged as an important phenomenon in popular culture. Currently, PLAVE has become a popular virtual idol and streamer in South Korea and internationally. In this case, virtual idols often insert various symbols and signs including in MVs. PLAVE's MV "The 6th Summer" conveys the message that the desire for something more than just a dream, appreciates every moment that has been passed and the hope to do something meaningful amidst life's challenges. This study aims to determine the representation of the value of optimism in PLAVE's MV "The 6th Summer". The research method uses Roland Barthes' semiotic analysis with the meaning of denotation, connotation, and myth. The results of this study indicate that the value of optimism through visual elements in the scene and lyrics about the importance of hard work and optimism in facing life's challenges. Representation of the value of optimism that can be obtained through hard work, hope for the future, togetherness, and happiness. So that it is important to foster positive thinking in each individual in order to face obstacles in life. Dengan evolusi era digital, peran avatar menjadi semakin penting, dan virtual idol muncul sebagai fenomena penting dalam budaya populer. Saat ini, PLAVE telah menjadi idol dan streamer virtual populer di Korea Selatan dan internasional. Dalam hal ini, virtual idol sering kali menyisipkan berbagai simbol dan tanda termasuk dalam MV. MV PLAVE “The 6th Summer” ini menyampaikan pesan bahwa keinginan untuk sesuatu yang lebih dari sekedar mimpi, menghargai setiap momen-momen yang telah dilewati dan harapan untuk melakukan sesuatu yang bermakna di tengah tantangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi nilai optimisme dalam MV PLAVE “The 6th Summer”. Metode penelitian menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dengan pemaknaan denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai optimisme melalui elemen visual pada adegan dan lirik tentang pentingnya kerja keras dan optimisme dalam menghadapi tantangan hidup. Representasi nilai optimisme yang dapat diperoleh melalui kerja keras, harapan akan masa depan, kebersamaan, dan  kebahagiaan. Sehingga pentingnya menumbuhkan pemikiran positif dalam diri setiap individu agar dapat menghadapi rintangan dalam hidup.
Fenomena Parasosial dan Ketertarikan Emosional Penggemar SEVENTEEN di Weverse Xiang, Lecia Fernanda; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33295

Abstract

In the digital era, the communication process can be carried out virtually and the tool that is often used is social media. On social media, users can access various information and one of their favorite topics is public figures. Through social media, fans can follow their idols and find out the latest information about their activities. The phenomenon where fans feel a feeling of closeness within fans with their idols is called a parasocial phenomenon. Parasocial interactions and relationships can give rise to feelings of emotional attraction in fans, which has an impact on the way they behave and view their idols. This research uses the basic concepts of mass communication, popular culture and parasocial phenomena. This research aims to analyze parasocial phenomena and emotional attraction of SEVENTEEN fans on the Weverse platform. This research uses a qualitative approach and phenomenological methods. The results of the research show that interactions on digital platforms such as Weverse, through content containing personal messages, have formed a sense of intimacy that supports parasocial relationships and fans' emotional interest. Additionally, parasocial phenomena and emotional attraction may contribute to how fans build relationships in real life. Di era digital, proses komunikasi dapat dilakukan secara virtual dan sarana yang sering kali dipakai adalah media sosial. Di media sosial pengguna dapat mengakses berbagai informasi dan salah satu topik yang disukai adalah mengenai figur publik. Melalui media sosial, penggemar dapat mengikuti idolanya dan mencari tahu informasi terbaru mengenai kegiatannya. Fenomena dimana penggemar merasakan perasasan kedekatan dalam diri penggemar  dengan idolanya disebut sebagai fenomena parasosial. Dari interaksi dan hubungan parasosial dapat menimbulkan perasaan ketertarikan emosional pada penggemar berdampak pada cara mereka berperilaku dan memandang idolanya. Penelitian ini menggunakan landasan konsep komunikasi massa, budaya populer, dan fenomena parasosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena parasosial dan ketertarikan emosional penggemar SEVENTEEN di platform Weverse. Penelitian ini menggunakan  pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa interaksi di platform digital seperti Weverse, melalui konten yang mengandung pesan personal telah membentuk rasa intimasi yang mendukung hubungan parasosial dan ketertarikan emosional penggemar. Selain itu, fenomena parasosial dan ketertarikan emosional dapat berkontribusi pada cara penggemar membangun hubungan di kehidupan nyata.
Transformasi Konsumsi Hiburan Generasi Z melalui TikTok: Pendekatan Ekologi Media Christopher, Ervinn; Pribadi, Muhammad Adi
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33298

Abstract

Advances in digital technology and social media have transformed how Generation Z accesses entertainment, particularly through platforms like TikTok. As a short video-based platform, TikTok offers an engaging, fast-paced, and personalized entertainment experience tailored to young audiences. This research explores how Generation Z utilizes TikTok for entertainment and evaluates its impact through the lens of media ecology theory. Using a qualitative approach and phenomenological method, data was gathered through in-depth interviews with active TikTok users from Generation Z. The findings reveal that TikTok serves as a flexible entertainment medium, fosters emotional engagement via personalized algorithms, and shapes social interaction patterns. Within the media ecology framework, TikTok establishes a digital entertainment ecosystem that enhances Generation Z's cultural engagement. This study contributes academically to communication and social media research while offering practical insights for content creators to design strategies that resonate with younger audiences. Kemajuan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara Generasi Z mengakses hiburan, termasuk melalui platform TikTok. Sebagai platform media sosial pendek berbasis video, TikTok menghadirkan pengalaman hiburan yang interaktif, cepat, dan disesuaikan dengan kebutuhan anak muda, Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Generasi Z menggunakan TikTok sebagai sarana hiburan dan mengkaji dampak penggunaan TikTok dari perspektif teori ekologi media. Data diperoleh melalui wawancara mendalam kepada pengguna aktif TikTok Generasi Z dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologis. Studi ini menunjukkan bahwa TikTok digunakan sebagai media hiburan yang menawarkan fleksibilitas dalam konsumsi konten, menciptakan keterlibatan emosional melalui algoritma personalisasi, dan membentuk pola interaksi sosial. Dalam kerangka teori ekologi media, TikTok menciptakan ekosistem hiburan yang mendukung pengembangan budaya digital bagi Generasi Z. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi secara akademis pada penelitian komunikasi dan media sosial serta memberikan panduan praktis kepada pembuat konten dalam mengembangkan strategi kreatif untuk memenuhi kebutuhan audiens muda.
Dinamika Ekspektasi dalam Pasangan Berpacaran: Studi pada Akun TikTok @ashleywrobz Bhudiawan, Michelle Angela; Junaidi, Ahmad
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33301

Abstract

This study aims to analyze the role of TikTok content from the account @ashleywrobz in shaping expectations about romantic relationships, particularly among the younger generation. The expectations discussed are based on the uses and gratifications theory, which explains the motivation and gratification of media users, as well as the interpersonal communication elements by Joseph Devito, namely openness, empathy, supportiveness, positivity, and equality. This study employs a qualitative approach with a case study method to explore users’ perceptions and experiences related to the content. The findings indicate that TikTok content from @ashleywrobz significantly shapes positive expectations, especially in terms of openness and supportiveness in romantic relationships. However, the expectations formed are often excessive and unrealistic, potentially leading to conflicts or disappointment. This study provides insights into the role of social media as a shaper of romantic expectations while emphasizing the importance of digital literacy to understand and align expectations with reality. Recommendations are offered to individuals, couples, and academics to enhance healthy interpersonal communication and adopt a critical perspective toward digital content. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konten TikTok dari akun @ashleywrobz dalam membentuk ekspektasi pada hubungan berpacaran, terutama di kalangan generasi muda. Ekspektasi yang dibahas meliputi teori uses and gratifications, yang menjelaskan motivasi dan gratifikasi pengguna media, serta elemen komunikasi interpersonal dari Joseph Devito, yaitu keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesetaraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali persepsi dan pengalaman pengguna terkait konten tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten TikTok @ashleywrobz secara signifikan mampu membentuk ekspektasi positif, terutama pada aspek keterbukaan dan dukungan dalam hubungan berpacaran. Namun, ekspektasi yang terbentuk sering kali berlebihan dan tidak sesuai dengan realitas hubungan, sehingga berpotensi menimbulkan konflik atau kekecewaan. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai peran media sosial sebagai pembentuk ekspektasi romantis, sekaligus menekankan pentingnya literasi digital untuk memahami dan menyesuaikan ekspektasi dengan realitas. Saran diberikan kepada individu, pasangan, dan akademisi untuk memperkuat komunikasi interpersonal yang sehat serta bersikap kritis terhadap konten digital.
Representasi Kesenjangan Sosial Menurut Orang Indonesia dalam Serial Queen of Tears (Analisis Semiotika Saussure) Melyanna, Melyanna; Sukendro, Gregorius Genep
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33302

Abstract

Korean dramas are very popular among Indonesian people. The purpose of this study is to find out: Representation of social inequality between two families in South Korea in the Queen of Tears series. Signifier and signified elements about social inequality in the Queen of Tears series. This study uses a qualitative approach by explaining or describing scenes using translated dialogues in Indonesian. The subject of the study is the Queen of Tears series, while the object of the study is the representation of social inequality. The existing social inequality is observed based on indicators of geographical location, income, economy, and quality of human resources. Data collection uses primary data and secondary data. The researcher interviewed South Korean citizens and a sociologist as a triangulator. The data analysis technique uses Saussure's semiotics, consisting of the signifier and the signified, and the stages of data analysis are data reduction, data presentation, and drawing conclusions and verification. The results obtained show that the representation of social inequality between two families in South Korea in the Queen of Tears series is displayed through indicators of differences in geographical location, income or economy, and quality of human resources. The upper social class has a better life in various fields, while the lower social class has limited access to government facilities, obtaining basic necessities, and education. Analysis of the signifier and signified elements shows that there is a contrasting difference between the two families, which shows a gap in the Queen of Tears series. Drama Korea sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia. Tujuan penelitian untuk megetahui: Representasi kesenjangan sosial antar dua keluarga di Korea Selatan dalam serial Queen of Tears. Elemen signifier dan signified tentang kesenjangan sosial dalam serial Queen of Tears. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menjelaskan atau mendeskripsikan adegan yang menggunakan dialog terjemahan dalam bahasa Indonesia. Subjek penelitian yaitu serial Queen of Tears sedangkan objek penelitian adalah representasi kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial yang ada diamati berdasarkan indikator letak geografis, pendapatan, atau ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia. Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Peneliti mewawancarai warga Korea Selatan dan satu sosiolog sebagai triangulator. Teknik analisis data menggunakan semiotika Saussure yang terdiri dari signifier dan signified serta tahapan analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa representasi kesenjangan sosial antar dua keluarga di Korea Selatan dalam serial Queen of Tears ditampilkan melalui indikator perbedaan letak geografis, pendapatan atau ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia. Kelas sosial golongan atas memiliki kehidupan yang lebih baik dalam berbagai bidang, sedangkan kelas sosial bawah memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas pemerintah, memperoleh bahan pokok, dan pendidikan. Analisis pada elemen signifier dan signified menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang kontras antara dua keluarga tersebut yang menunjukkan adanya kesenjangan dalam serial Queen of Tears.
Peran Komunikasi Intrapersonal terhadap Penerimaan Tren Work Life Balance Menjadi Gaya Hidup Generasi Z di Indonesia Susanto, Paulina; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.33305

Abstract

The development of the era and digitalization has brought significant changes to various generations, especially Generation Z. Generation Z is known for its unique characteristics that have a desire to get flexibility in work, as well as an emphasis on the balance between work and personal life which has similarities to the concept brought by the trend of work life balance. Work life balance describes a situation where a person can manage and divide between work responsibilities, personal life, and other responsibilities. Talking about this trend is certainly related to lifestyle and requires intrapersonal communication in accepting this trend into a lifestyle. The purpose of this study is to understand the role of intrapersonal communication in the acceptance of the work life balance trend on the lifestyle decisions of Generation Z. The theory that supports this research is intrapersonal communication theory. This research was conducted with a qualitative approach and phenomenological method. The results showed that intrapersonal communication has an important role in decision making in accepting the work-life balance trend of Generation Z. The process of accepting the work life balance trend is not only influenced by external factors such as work or career.The work life balance trend is popular among Generation Z because this generation has characteristics that prioritize the balance between work and personal life as a top priority. This character is shaped by a more flexible financial situation compared to previous generations. However, as they age and take on life responsibilities, such as starting a family, their priorities shift towards financial stability, and the application of this trend has been shown to influence a more balanced lifestyle, bringing happiness to its users. Perkembangan zaman dan digitalisasi telah membawa perubahan signifikan pada berbagai generasi, terutama Generasi Z. Generasi Z dikenal dengan karakteristik unik yang memiliki keinginan untuk mendapatkan fleksibilitas dalam pekerjaan, serta penekanan pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang mana memiliki kesamaan dengan konsep yang dibawa oleh tren work life balance. Work life balance menjelaskan sebuah keadaan di mana seseorang dapat mengatur dan membagi antara tanggung jawab pekerjaan, kehidupan pribadi dan tanggung jawab lainnya. Berbicara tentang tren ini pastinya berkaitan dengan gaya hidup dan dibutuhkan komunikasi intrapersonal dalam penerimaan tren ini menjadi gaya hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami komunikasi intrapersonal berperan dalam dalam penerimaan tren work life balance terhadap keputusan gaya hidup Generasi Z. Teori yang mendukung penelitian ini adalah teori komunikasi intrapersonal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi intrapersonal memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan dalam penerimaan tren work life balance Generasi Z. Proses dalam penerimaan tren work life balance tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti pekerjaan atau karier, tetapi juga oleh kebutuhan psikologis individu. Tren work life balance  populer di kalangan Generasi Z karena generasi ini memiliki karakteristik yang mementingkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai prioritas utama. Karakter tersebut terbentuk karena kondisi finansial yang lebih fleksibel dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab hidup seperti berkeluarga maka prioritas mereka akan beralih ke stabilitas finansial serta pengaplikasian tren ini terbukti mempengaruhi gaya hidup yang menjadi lebih seimbang dan timbul rasa bahagia pada penggunanya.