Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
Jurnal JIREH: Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity merupakan jurnal yang mempublikasikan artikel yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian analisis kritis dan aplikasi teori di bidang keberagamaan, kewujudan, dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles
183 Documents
Profesionalisme Guru Agama Kristen Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik
Roseta, Roseta;
Sirait, Junio Richson
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.98
Teachers are educators, and it can be said that teachers are people who play a very important role in producing humans with good quality human resources for the country. The phenomena obtained from the teachers slapping and tearing students' books for not doing their assignments. The aims of this research are as follows: (1) what is meant by a professional teacher? (2) how is the character of Christian religious education teacher? (3) how is the competence of Christian religious education teacher? (4) how to shape the character of student? and (5) How is the professionalism of Christian religious educators to shape the characteristics of students? This research uses a qualitative method with a literature study approach. The results of the study are (1) Professional teachers are educators who do work as educators/teachers with high capacities who are the source of life. (2) Have the characters of Christ. (3) Have pedagogic, professional, social, and personality competencies. (4) An exemplary teacher. (5) a teacher who has the principle that students are gold, gems and diamonds that do not pay off. Guru merupakan tenaga pendidik, dan bisa dikatakan guru adalah orang yang sangat berperan dalam mengasilkan manusia dengan kualitas sumber daya manusia yang baik bagi negeri. Fenomena yang di dapatkan Guru menampar dan merobek buku murid hanya karena tidak mengerjakan tugas. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Apakah yang dimaksud guru professional? (2) Bagaimana karakter guru pendidikan agama Kristen? (3) Bagaimana kompetensi guru pendidkan agama Kristen? (4) Bagaiman membentuk karakter peserta didik? dan (5) Bagaimana Profesionalisme tenaga pendidik agama kristen untuk membentuk karaktersitik peserta didik? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil dari penelitian adalah (1) Guru Profesional merupakan pendidik yang melakukan pekerjaan sebagai pendidik/pengajar dengan kapasitas tinggi yang menjadi sumber kehidupan. (2) Memiliki karakter Kristus. (3) Memiliki kompetensi pedagogic, profesional, sosial, dan kepribadian. (4) Guru yang menjadi teladan. (5) Guru yang memiliki prinsip bahwa peserta didik adalah emas, permata dan berlian yang tidak terbayar harganya.
Pendidikan Perempuan Pantekosta Sebagai Upaya Optimalisasi Peran Wanita Dalam Penatalayanan Gereja
Runkat, Elsye Ribkah
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.101
The fact show that there is still an understanding that women do not need to optimize themselves regarding the implementation of of the Christian faith, ethich and morality education as organism involved in church stewardship activities. Women deal mostly with consumption and are limited to housewives, a bad mirror of women among Pentecostal women. While Pentecostal women also seem to enjoy the condition without a role. This paper aims to provide a significant insight into the need for education for women to be optimal in their duties and role according to the Lord Jesus’ mandate for believers which is facilitated in church stewardship. This paper was preceded by the application of descriptive qualitative research methods to served as church pastors, housewives, and leaders of Pentecostal service oraganizations. Researchers obtain the reality that the Pentecostal Church does not understand gender. Pentecostal women who are the source of data in this research are the facts of the domination of Pentecostal male ego, as well as providing a strong indication of the importance of Pentecostal women’s education in the context of efforts to optimize the role of female congregation members in church stewardship as concrete events that require creative and transformative solutions. Fakta bahwa masih ada pemahaman perempuan tidak perlu mengoptimalisasi diri terkait implementasi nilai-nilai iman Kristen, edukasi etika dan moralitas sebagai organisme yang terlibat dalam kegiatan penatalayanan gereja. Perempuan hanyalah berurusan dengan konsumsi, sebatas ibu rumah tangga, merupakan cermin buruk perempuan di kalangan perempuan Pantekosta. Sementara perempuan Pantekosta pun seolah-olah menikmati kondisi tanpa peran. Tulisan ini bertujuan memberikan suatu wawasan signifikan tentang perlunya pendidikan bagi kaum perempuan untuk menjadi optimal dalam tugas dan perannya sesuai mandat Tuhan Yesus bagi orang percaya yang difasilitasi dalam penatalayanan gereja. Tulisan ini didahului penerapan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif pada beberapa perempuan yang berperan sebagai gembala jemaat, ibu rumah tangga, dan pemimpin wadah-wadah pelayanan Pantekosta. Peneliti memperoleh realita bahwa Gereja Pantekosta tidak mengerti perihal gender. Perempuan Pantekosta yang menjadi sumber data dalam riset ini adalah fakta dominasi keakuan laki-laki Pantekosta, sekaligus memberikan indikasi kuat pentingnya pendidikan perempuan Pantekosta dalam rangka upaya optimalisasi peran warga jemaat kategori wanita dalam penatalayanan gereja sebagai peristiwa kongkret yang membutuhkan solusi kreatif dan transformatif.
Kontekstual Sinergisitas Gereja Dan Influencer Rohani Dalam Pembangunan Spiritual Generasi “Z”
Tetelepta, Hendrik Bernardus;
Gultom, Joni Manumpak Parulian
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.102
Artikel ini melihat aspek spiritualitas biblika, komitmen pelayanan, dan pengembangan spiritual sebagai irisan untuk konteks pendekatan praksis dalam pengembangan spiritual generasi Z. Penulis melihat ruang sinergisitas antara gereja dengan tradisi pelayanan fisik dengan influencer Kristen dalam ruang media sosial. Tujuannya adalah merumuskan kembali postulat gereja dalam pengembangan spiritual generasi Z bersama Influencer Kristen. Bagian pertama memuat peran gereja dan influencer Kristen sebagai inisiator dalam pengembangan relasi dan komunitias generasi Z dalam ruang fisik dan virtual. Bagian kedua menjelaskan langkah influencer rohani bertindak sebagai opinion leader dalam media. Bagian ketiga menjelaskan dua kategori bentuk sinergisitas gereja dan influencer Kristen. Kategori awal ketika gereja bertanggung jawab dalam melatih dan melahirkan influencer Kristen dalam pesan pertobatan dan pengembangan rohani dengan pengurapan dan otoritas Ilahi, serta berkualitas tinggi dalam norma-etika di ruang digital. Kategori akhir adalah sinergisitas dalam bentuk ekuivalensi mutu Firman Tuhan dalam ruang fisik dan virtual. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dan pengumpulan data melalui studi literatur.
Konsep Menyerahkan Orang Kepada Iblis dalam 1 Korintus 5:1-13 dan Implementasinya dalam Kehidupan Orang Percaya
Malau, Andre;
Luthy, Christopher James;
Laukapitang, Yunus D. S.
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.107
The basic diificulty in understanding the text is understanding the role of the devil who destroys the body but aims to save the soul of the person who is handed over to the devil which is very contrary to the goal of the devil who wants to destroy humans so that they experience eternal death instead of saving the soul. The purpose of this study is to examine the concept of handing people over to the devil in the text of 1 Corinthians 5:1-13. In addition, the author also explains the implications of the text for believers today. This study uses a grammatical-historical hermeneutic study method. The result of the author's study is that the concept of handing people over to the Devil in 1 Corinthians 5:1-13 is an act of the congregation by exercising church discipline against church members who have not left their sins and aims to provide a deterrent effect. Meanwhile, the implementation of the concept of handing people over to the Devil/demons in 1 Corinthians 5:1-13 is that believers live in a commitment to holiness, carry out church discipline as the identity of the holy people, and carry out church discipline as the authority of the congregation. Kesulitan dasar dalam memahami teks tersebut ialah memahami peran Iblis yang membinasakan tubuh namun bertujuan untuk keselamatan roh atas orang yang diserahkan kepada Iblis yang sangat bertentangan dengan tujuan Iblis yang mau membinasakan manusia agar mengalami kematian kekal bukan keselamatan roh. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji konsep menyerahkan orang kepada Iblis dalam teks 1 Korintus 5:1-13. Selain itu, penulis juga menjelaskan implikasi teks bagi orang percaya pada masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kajian hermeneutik gramatikal-historis. Hasil kajian penulis ialah konsep menyerahkan orang kepada Iblis dalam 1 Korintus 5:1-13 adalah tindakan jemaat dengan menjalankan disiplin gereja terhadap anggota jemaat yang belum meninggalkan dosanya dan bertujuan memberikan efek jera. Adapun, implikasi dari konsep menyerahkan orang kepada Iblis/setan dalam 1 Korintus 5:1-13 ialah orang percaya hidup dalam komitmen kekudusan, menjalankan disiplin gereja sebagai identitas umat yang kudus, serta menjalankan disiplin gereja sebagai wewenang jemaat.
TERIAKKAN “PUKUL TERUS”: Misiologi Pantekosta dan Pendidikan Agama Kristen
Tambunan, Elia;
Sembiring, Hesra Oktavianus;
Sudjono, Andreas
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.109
The paper presents Pantecostal missiology both historically, teaching and learning processes, as well as more recent empirical data. By not dismissing the problems and criticisms from scholars who doubted whether Pantecostalism really had a missiology, and doubted the process of learning about it in Christian religious higher education, here is narrated the dynamics of Pantecostal missiology. This paper presents the Pantecostal Church in Indonesia (PCiI or GPdI) and many things that surround it, the history of its formation since January 6, 1906 in the era of the Dutch East Indies as the object of study. To build a solid argument, based on the finding that there really is a Pantecostal missiology, we use a combined research method of quantitative empirical through a questionnaire survey for the need for a postgraduate thesis and qualitative based on primary data sources from the GPdI senior figures themselves and literature from other researchers as secondary sources. The paper is useful as a conceptual framework for the Indonesian academic field, namely Pantecostal missiology and Christian religious education which has never been the object of study so far that is useful for Christian religious higher education and global studies of Pantecostalism which is currently growing in the international academic arena. Tulisan ini menampilkan misiologi Pantekosta baik itu secara historis, proses belajar mengajar, maupun data empiris yang lebih baru. Dengan tidak menampik adanya problem dan kritik dari sarjana yang banyak meragukan apakah Pantekosta benar-benar memiliki misiologi, dan meragukan proses pembelajaran akan hal tersebut di pendidikan tinggi keagamaan Kristen, di sini dinarasikan dinamika misiologi Pantekosta. Tulisan ini mengetengahkan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dan banyak hal yang mengitarinya sejarah pembentukannya sejak 6 Januari 1906 di era Hindia Belanda sebagai objek studi. Untuk membangun argumentasi yang solid atas dasar temuan bahwa benar ada misiologi Pantekosta, kami menggunakan metode penelitian gabungan antara kuantitatif empiris lewat survei angket untuk kebutuhan tesis pascasarjana dan kualitatif berdasarkan sumber data primer dari tokoh GPdI itu sendiri serta literatur dari peneliti lain sebagai sumber sekunder. Tulisan ini berguna menjadi kerangka konseptual dari ladang akademik Indonesia yakni misiologi Pantekosta dan pendidikan agama Kristen yang belum pernah menjadi objek kajian selama ini yang berguna bagi pendidikan tinggi keagamaan Kristen maupun studi global Pantekostalisme yang sedang menggeliat di arena akademik internasional.
Rekonstruksi Sosial Jemaat Katunen Pada Esoterisme Religio Magis Bukit Batu
Yuel, Yuel
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.113
This research stems from the phenomenon of religious and psycho-social community life dayak Ngaju Katingan that must be faced by members of the Katunen Congregation. The Esoteric Rite of The Rock is loaded with magi practices can affect the personality of members of the congregation who should grow and develop into mature and faithful members of the Church. The research focused on the socio-cultural construction of the Dayak Ngaju Katingan community through the externalization, objectification, and internalization of members of the congregation, the consciousness of adult congregation members. The research method used is phenomenal. The results showed that the Esoteric Social construction of Bukit Batu for the members of the Riwut asi Katunen Kasongan congregation processed externalization, objectivation and internalization. The socio-cultural construction of katingan society towards Bukit Batu as a social reality is an expression of Dayak Ngaju Katingan's imagination of the world and transcendent values are religio magi. In general, most Dayak Ngaju Katingan people support and faithfully carry out the rite. The social reconstruction of adult church members to the stone hill rite is implemented in the learning of adult packs in the congregation through Sunday worship and categorical worship, especially the service section of the fathers, the women's ministry section and also through family worship. Penelitian ini bertitik tolak dari fenomena kehidupan masyarakat keagamaan dan psiko-sosial masyarakat Dayak Ngaju Katingan yang harus dihadapi anggota Jemaat Katunen. Ritus Esoteris Bukit Batu sarat dengan praktek magi dapat mempengaruhi kepribadian anggota jemaat yang seharusnya tumbuh dan berkembang menjadi anggota Jemaat yang dewasa dan yang beriman.. Penelitian ini difokuskan pada konstruksi sosial-budaya masyarakat Dayak Ngaju Katingan melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi anggota jemaat, kesadaran anggota jemaat dewasa. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenalogi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi Sosial Esoteris Bukit Batu bagi warga jemaat Riwut asi Katunen Kasongan berproses secara eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Konstruksi sosial budaya masyarakat Katingan terhadap Bukit Batu sebagai realitas sosial adalah ungkapan penghayatan Dayak Ngaju Katingan tentang dunia dan nilai transenden bersifat religio magi. Pada umumnya kebanyakan masyarakat Dayak Ngaju Katingan mendukung dan setia melaksanakan ritus.Rekonstruksi sosial anggota jemaat dewasa terhadap ritus bukit batu diimplementasikan pada pembelajaran pak dewasa di jemaat melalui ibadah minggu dan ibadah kategorial khususnya ibadah seksi pelayanan bapak-bapak, seksi pelayanan perempuan dan juga melalui ibadah keluarga.
Analisis Teks Yosua Pasal 12 dan 13 Tentang Penaklukan Bangsa-Bangsa di Tanah Kanaan
Limpele, Stefanus Maurits;
Hura, Rosnila
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.114
When the Israelites came out of Egypt, the Lord led them back into the land of Canaan according to the promise God made to their ancestors. That promise was fulfilled during the reign of Joshua. So in the book of Joshua chapter 12 tells about the kings who were defeated during the reign of Moses and Joshua and the distribution of the promised land to the tribes of Israel. Meanwhile, Joshua chapter 13 tells of the lands that were left behind and had not been conquered by Joshua after he grew old and advanced in age. In addition, this chapter gives another account of Moses' conquest of Sihon and Og and the division of the land of Canaan to the tribes of Israel. Moses repeatedly told the Israelites about the land of Canaan to remind them that God was faithful to his promises to His chosen people. But there are still questions that arise among Christians, namely if God promised why the Israelites had difficulty entering the land of Canaan and occupying the land, there were even other nations left there. On this question, the author discusses the text that is in us, Joshua 12 and 13. Through this discussion, it is hoped that it can add insight to the readers about the conquest of nations and further strengthen the belief of today's believers that God's promises to His people are never broken. Ketika Bangsa Israel keluar dari Mesir mereka dituntun Tuhan masuk kembali ke dalam tanah Kanaan sesuai dengan janji Allah kepada nenek moyangnya. Janji itu digenapi pada masa kepemimpinan Yosua. Maka dalam Kitab Yosua pasal 12 menceritakan tentang raja-raja yang telah dikalahkan pada masa kepemimpinan Musa dan Yosua serta pembagian tanah perjanjian kepada suku-suku Israel. Sedangkan Yosua pasal 13 menceritakan negeri-negeri yang tertinggal dan belum ditaklukkan oleh Yosua setelah ia menjadi tua dan lanjut umur. Selain itu, pasal ini memberikan kembali laporan tentang penaklukan Musa atas Sihon dan Og serta pembagian tanah Kanaan kepada suku-suku Israel. Musa berulang kali menyampaikan kepada bangsa Israel tentang tanah Kanaan untuk mengingatkan mereka bahwa Allah setia terhadap janji kepada umat pilihan-Nya. Namun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dikalangan orang Kristen, yaitu jika Allah yang berjanji mengapa bangsa Israel mengalami kesulitan masuk ke dalam tanah Kanaan dan menduduki negri itu, bahkan ada bangsa-bangsa lain yang tertinggal di sana. Atas pertanyaan ini maka penulis membahas teks yang ada dalam kita Yosua 12 dan 13. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat menambah wawasan para pembaca tentang penaklukan terhadap bangsa-bangsa dan semakin meneguhkan keyakinan orang percaya masa kini bahwa janji Allah kepada umat-Nya tidak pernah ingkar.
Pelaksanaan Pendidikan Iman Anak oleh Orangtua di Paroki Santo Yosef Delitua
Kurniadi, Benediktus Benteng;
Fajariyanto, Tri Chandra;
Br Ginting, Yova Andriani
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.119
The objective of this study is to describe the implementation of children's faith education by parents in Paroki Santo Yosef Delitua. This study applies the descriptive qualitative method by using interview, observation and documentation. Thus parents become role models in developing children's faith. Although the implementation is recognized by the parents, it has not been carried out optimally and has not covered all the activities of family members. Lacking time of parents and chilhdren to sit together from morning to evening as the most factor that make the implementation of the children's faith education does not run well. However, it can be concluded that parents have understood the purpose of Catholic marriage where husband and wife are being together in the sacrament of marriage for the purpose of birth and education of children. Children who are believed as the crown of God must be guided and educated according to the Catholic faith. The family is the first and foremost educator of children. Thus, parents carry out their duties and responsibilities as a Catholic family. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan pendidikan iman anak oleh orangtua di Paroki Santo Yosef Delitua. Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik wawancara, pengamatan dan dokumentasi di tujuh wilayah Paroki Santo Yosef Delitua. Orangtua menjadi teladan dalam pengembangan iman anak. Pelaksanaan pendidikan iman anak tersebut terwujud dalam bentuk kegiatan berdoa bersama yang ditandai dengan tanda salib sebagai orang katolik, mendengarkan nyayian rohani dan membaca buku rohani serta kitab suci, memfasilitasi bakat anak serta berperan aktif dalam kegiatan rohani di gereja, sosial gereja dan retret (pedalaman iman) orang muda katolik. Meskipun pada pelaksanaanya diakui oleh orangtua belum terlaksana secara maksimal dan belum mencakup pada keseluruhan aktifitas anggota keluarga. Faktor penyebabnya adalh kurangnya waktu bersama misalnya untuk berdoa bersama. Orangtua telah memahami tujuan perkawinan katolik dimana suami dan istri dipersatukan dalam sakramen perkawinan untuk tujuan kelahiran dan pendidikan anak. Anak yang merupakan mahkota dari Tuhan wajib dibimbing dan dididik sesuai dengan iman katolik. Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama anak. Dengan demikian, orangtua menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai keluarga katolik.
Developing an ICT Based Media of English Learning for Buddhist Students at Kusalamitra Homeschooling
Junaidi, Junaidi;
Shadikah, Arina Afiyati;
Walyono, Walyono;
Rispatiningsih, Dwi Maryani
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.130
This study was conducted at one of Buddhist Homeschooling namely Kusalamitra Homeschooling. This study aimed to develop an ICT based application to learn English for Buddhist students of Kusalamitra Homeschooling. This recent study was a research and development study so it objected to develop an English learning application for the students. Subjects of this study were validators and Buddhist students. There were two techniques used to collect the data namely interview and questionnaires. The interview was used to identify students’ need in learning English. The questionnaires were used to validate the product and evaluate the product. The data collected were analyzed qualitatively and quantitatively. There were five procedures in conducting this study. Those were analyzing needs, designing product, developing product, implementing product, and evaluating product. Based on the research finding, this study showed that the media developed had very good quality and very worth to be implemented on the students. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Homeschooling Buddha yang bernama Homeschooling Kusalamitra. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran bahasa Inggris berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan sebuah aplikasi pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa. Terdapat dua subjek dalam penelitian ini yaitu validator dan juga siswa Buddha homeschooling itu sendiri. Terdapat dua teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu melalui wawancara dan penyebaran angket. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Terdapat lima langkah dalam melaksanakan penelitian ini yaitu menganalisis kebutuhan, mendesain produk, mengembangkan produk, mengimplementasikan produk, dan mengevaluasi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan masuk dalam kategori sangat baik dan sangat layak untuk digunakan oleh siswa.
Dialektika Pendidikan dalam Perspektif Paulo Freire: Kritik dan Solusi Terhadap Pendidikan Feodalistik
Pantan, Frans
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v4i2.93
Effective education provides positive energy to humans as an effort to realize it. However, it is a shame because, lately, educational phenomena are still trapped in the black area. Spaces for discussion, debate, and freedom of thought are reduced to the mere fulfillment of the curriculum. Conditions like this place students as passive objects. This study aims to reveal the principles of liberating education in Christian religious education. This study uses library research with a descriptive qualitative approach. Empirical facts provide evidence that the implementation of education at this time is still conventional. Paulo Freire critically and transformatively breaks through the deadlock in education due to the interference of power and owners of capital by offering revolutionary, philosophical, and reflective concepts and approaches on how humans should be educated to become truly human beings who are aware of their existence and work in the concrete world. This condition can be realize through the application of educational dialectics. The solution recommendation from this research is applying the dialectical method in the educational process as the best way to present superior individuals who understand educational institutions as public spaces where all kinds of perspectives resolve through rigid discourse. Pendidikan efektif memberikan energi positif kepada manusia sebagai upaya mewujudkan. Namun patut disayangkan karena ternyata belakangan ini masih ditemukan fenomena pendidikan yang terjebak di area hitam. Ruang-ruang diskusi, debat, dan kebebasan berpikir direduksi sebatas pemenuhan kurikulum semata. Kondisi seperti ini menempatkan peserta didik sebagai objek pasif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan prinsip pendidikan yang membebaskan dalam pendidikan agama Kristen. Penelitian ini menggunakan riset perpustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Fakta empiris memberi bukti bahwa pelaksanaan pendidikan di saat ini masih konvensional. Paulo Freire secara kritis dan transformatif menerobos kebuntuan pendidikan akibat campur tangan kekuasaan dan pemilik modal dengan menawarakan konsep dan pendekatan revolusioner, filosofis dan reflektif tentang bagaimana manusia seharusnya dididik menjadi benar-benar manusia yang sadar akan eksistensi dan kiprahnya dalam dunia konkretnya. Kondisi ini dapat diwujudkan melalui penerapan dialektika pendidikan. Rekomendasi solutif dari penelitian ini yakni penerapan metode dialetika dalam proses pendidikan sebagai jalan terbaik untuk menghadirkan pribadi unggul yang memahami lembaga pendidikan sebagai ruang publik di mana segala macam perspektif dituntaskan melalui diskursus yang rigid.