cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Authentic Research on Mathematics Eduacation (JARME)
Published by Universitas Siliwangi
ISSN : -     EISSN : 26557762     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) ISSN: 2655-7762 (online) diterbitkan oleh Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS PESERTA DIDIK DITINJAU DARI GAYA BERPIKIR GREGORC Fanny Ahmad Fauzi; Nani Ratnaningsih; Ratna Rustina; Khomsatun Nimah
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v2i2.1734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik ditinjau dari gaya berpikir sekuensial konkret, sekuensial abstrak, acak konkret dan acak abstrak. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan tes gaya berpikir, tes kemampuan berpikir kritis matematik dan wawancara. Instrumen utama penelitian yaitu peneliti sendiri (human instrument) dan instrumen bantu yakni tes gaya berpikir, soal tes kemampuan berpikir kritis matematik, dan pedoman wawancara dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 4 peserta didik. Data hasil penelitian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Peserta didik dengan gaya berpikir sekuensial konkret, memiliki kemampuan berpikir kritis matematik pada semua indikator yaitu memeriksa kebenaran argumen, pernyataan dan proses solusi; menyusun menyusun pertanyaan disertai alasan; mengidentifikasi data relevan dan tidak relevan suatu masalah matematika; dan mengidentifikasi asumsi dan menyusun jawaban atau menyelesaikan masalah matematika disertai alasan. Peserta didik dengan gaya berpkir sekuensial abstrak dan acak konkrit tidak mampu mengidentifikasi asumsi, tetapi mampu pada indikator yang lainnya. Sedangkan peserta didik dengan gaya berpikir sekuensial abstrak dan acak abstrak tidak mampu menyusun pertanyaan disertai alasan, tetapi mampu pada indikator lainnya.
PROSES BERPIKIR PESERTA DIDIK MENURUT EDWARD DE BONO DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIK DITINJAU DARI DOMINASI OTAK Icha Sofia Nurazizah; Dedi Muhtadi; Redi Hermanto
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v4i1.4290

Abstract

Tujuan penelitian adalah menganalisis proses berpikir peserta didik menurut de Bono dalam memecahkan masalah matematik ditinjau dari dominasi otak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Subjek penelitian berasal dari tiga kelompok yaitu peserta didik berdominasi otak kiri, kanan dan seimbang. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik berdominasi otak kiri memiliki proses berpikir vertikal, berdominasi otak kanan memiliki proses berpikir lateral, dan berdominasi otak seimbang memiliki proses berpikir vertikal juga berpikir lateral. Namun terdapat perbedaan berpikir vertikal antara peserta didik berdominasi otak seimbang dengan yang berdominasi otak kiri, yaitu peserta didik berdominasi otak seimbang dalam memahami masalah dan menyusun rencana penyelesaian melalui membaca holistik dengan pendekatan intuitif, sedangkan peserta didik berdominasi otak kiri melalui membaca fonetik, rasional dan detail. Perbedaan juga terdapat antara berpikir lateral peserta didik berdominasi otak seimbang dengan peserta didik berdominasi otak kanan, yaitu peserta didik berdominasi otak seimbang dalam menyelesaikan masalah dengan cara analitis dan menunjukkan respon verbal, sedangkan peserta didik dominasi otak kanan tidak menunjukkan proses penyelesaian yang analitis (sintetis) dan menunjukkan respon non verbal.
BAGAIMANA SISWA MENYELESAIKAN SOAL BERPIKIR KREATIF MATEMATIS DITINJAU DARI DOMINASI OTAK? Bayu Sukmaangara; Dedi Muhtadi; Sri Tirto Madawistama
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v3i2.3218

Abstract

Guru harus mengembangkan soal berpikir kreatif matematis sesuai dengan dominasi otak siswa untuk mengoptimalkan fungsi kedua belahan otak secara seimbang, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana siswa menyelesaikan soal berpikir kreatif matematis ditinjau dari dominasi otak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Instrumen yang digunakan adalah soal berpikir kreatif matematis, tes dominasi otak, dan wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitian sebagai berikut: siswa dominasi otak kiri menyelesaikan soal berpikir kreatif matematis menggunakan karakteristik dari fungsi belahan otak kiri yaitu berpikir konvergen, analisis, penilaian analitik, berurutan dan teratur, sedangkan penggunaan karakteristik fungsi belahan otak kanan yaitu memori baru proses dan sistem membaca seluruh bahasa; siswa dominasi otak seimbang menggunakan karakteristik fungsi belahan otak kiri yaitu melakukan proses lalu memori, sistem membaca fenotik, respon verbal, berurutan dan teratur, sedangkan penggunaan karakteristik belahan otak kanan adalah berpikir holistik dan berpikir sintesis; dan siswa dominasi otak kanan menggunakan karakteristik dari fungsi belahan otak kanan yaitu sistem membaca seluruh bahasa, memori lalu proses, respon non verbal, berpikir holistik, berpikir sintesis, dan bersifat acak.  
PROSES BERPIKIR METAFORA DALAM MEMECAHKAN MASALAH SEGITIGA DAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI SELF-CONFIDENCE SISWA Rahmi Nur Fitria Utami; Yena Nursyifa; Nani Ratnaningsih
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v3i1.2583

Abstract

Proses berpikir metafora berperan penting dalam mentransformasikan dan mengaitkan situasi permasalahan yang dihadapi siswa dengan konsep yang lebih dikenalinya, sedangkan self-confidence memotivasi siswa agar selalu belajar, memperbaiki diri, dan tidak menyerah terhadap suatu persoalan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir metafora dalam memecahkan masalah segitiga dan segiempat ditinjau dari self-confidence siswa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan melaksanakan tes proses berpikir metafora, angket self-confidence, dan wawancara. Instrumen yang digunakan berupa soal tes proses berpikir metafora dan angket self-confidence. Subjek penelitian ini adalah tiga siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sidamulih yang memiliki self-confidence rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir metafora siswa sebagai berikut: (1) siswa dengan self-confidence rendah mencapai 4 indikator tahapan, yaitu: explore, analyze, transform, dan experience, (2) siswa dengan self-confidence sedang mencapai 5 indikator tahapan, yaitu: connect, relate, analyze, transform, dan experience, dan (3) siswa dengan self-confidence tinggi mampu melalui semua indikator tahapan yaitu connect, relate, explore, analyze, transform, dan experience.
ANALISIS KESALAHAN PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PEMECAHAN MASALAH MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL BERDASARKAN NEWMAN Sinta Silvia; Supratman Supratman; Sri Tirto Madawistama
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v2i2.1748

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita pemecahan masalah materi sistem persamaan linear dua variabel berdasarkan Newman.  Metode  penelitian yang  digunakan  adalah  eksplorasi.  Penelitian  ini mendeskripsikan kesalahan  peserta  didik  dan  penyebab  terjadinya kesalahan  tersebut.  Subjek  penelitian  sebanyak  3 orang  dipilih  secara  purposive berdasarkan pertimbangan hasil tes peserta didik yang melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal cerita pemecahan masalah materi sistem persamaan linear dua variabel.  Pengumpulan data yang  digunakan berupa soal cerita pemecahan masalah dan  wawancara  dengan  teknik  think aloud.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa peserta didik melakukan kesalahan pada tahap memahami masalah,  penyebabnya yaitu kurangnya kemampuan dalam memahami masalah yang pertama kali ditemui, mengabaikan menuliskan unsur-unsur yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. Peserta didik melakukan kesalahan pada tahap transformasi,  penyebabnya yaitu kurangnya pemahaman mengenai model matematika, tidak terbiasa membuat model matematika dari kalimat yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, tidak teliti dalam membuat persamaan, bingung untuk membuat pemisalan ke dalam bentuk variabel, kurang memahami soal, kurang belajar dan kurang menangkap informasi dari guru. Peserta didik melakukan kesalahan pada tahap keterampilan proses, penyebabnya yaitu tidak tahu langkah-langkah untuk menyelesaikan permasalahan, tidak mampu menggunakan langkah-langkah penyelesaian dengan tepat, kurangnya pemahaman mengenai materi, kurang berlatih menyelesaikan soal cerita. Peserta didik melakukan kesalahan pada tahap penarikan kesimpulan, penyebabnya yaitu tergesagesa ingin mengumpulkan jawaban, kurang teliti, tidak menemukan hasil akhir, dan kurang menangkap informasi dari guru, kesimpulan akhir tidak tepat karena melakukan kesalahan pada langkah sebelumnya, dan tidak mampu menunjukan jawaban akhir dari penyelesaian soal. Kata Kunci: Kesalahan Peserta didik, Pemecahan Masalah, Analisis Newman
DESAIN PEMBELAJARAN HIMPUNAN MELALUI PERANCANGAN HYPOTHETICAL LEARNING TRAJECTORY MENGGUNAKAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK Sukirwan Sukirwan; Putri Ramadhani Fitri; Warsito Warsito; Hairul Saleh
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v4i1.3675

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain pembelajaran himpunan melalui perancangan hipotesis lintasan belajar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian desain, yang meliputi tahapan: studi pendahuluan, eksperimen pengajaran, dan analisis retrospektif. Penelitian diawali dengan analisis situasi problematik, studi historis, serta analisis pengalaman guru mengajarkan materi himpunan hingga terbentuk hipotesis lintasan belajar awal. Rancangan pembelajaran disusun berdasarkan hipotesis lintasan belajar awal yang kemudian diujicobakan melalui 2 tahapan, yaitu: pengajaran pendahuluan, dan eksperimen pengajaran. Analisis retrospektif dilakukan pada masing-masing tahapan tersebut dengan membandingkan antara hipotesis lintasan belajar awal dengan lintasan belajar aktual hingga diperoleh hipotesis lintasan belajar final. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 5 Agustus-10 Desember 2021 dengan melibatkan 20 siswa SMP Madinatul Hadid kelas VII B pada tahap pengajaran pendahuluan dan 20 siswa SMP Madinatul Hadid kelas VII A pada tahap eksperimen pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dapat melalui hipotesis lintasan belajar melalui konteks survey jajanan sekolah, yang terdiri dari aktivitas: mendaftar objek jajanan di kantin sekolah (masalah kontekstual), mengelompokkan objek berdasarkan karakteristik/sifat objek yang identik (pemodelan), membuat relasi dua himpunan berdasarkan objek (anggota himpunan) yang sama (membangun pengetahuan), menggunakan notasi formal irisan dan gabungan (matematika formal). 
ANALYSIS OF STUDENTS' SKILLS TO COMPLETE SCHOOL EXAMS BASED ON THE MINIMUM COMPETENCY ASSESSMENT Andri Rahadyan; Indra Kurniawan
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v4i2.5170

Abstract

This study analyses students' skills to complete school exam questions based on the minimum competency assessment (MCA). This study employs qualitative and descriptive methods to characterize students' MCA-based School Examination question-solving abilities. The subjects of this study were class XII students at HSPG Bekasi who completed MCA-based school exams containing literacy and numeracy skills. In addition to collecting samples by interviewing six students, the researchers gathered data to describe students' abilities. Students answered a total of forty questions. This study found four students with low numeracy skills, 13 with moderate skills, and three with high skills. Low, medium, and increased literacy levels were determined through interviews. Students with weak literacy skills struggle to read algebra or geometry questions, indicating they have soft numeracy skills. Medium-literacy students like the story and simple context questions. They cannot answer questions because they cannot remember formulas. High-literacy students. They like story questions and questions with real-world contexts because they let us apply our skills and understand existing procedures. They struggle with knowledge-based questions. Because additional reasoning takes so much time, students with high literacy have average numeracy skills. So, the students' problem-solving skills improve.
DAMPAK PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DARING TERHADAP HASIL PENILAIAN KOGNITIF PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SELAMA PANDEMI COVID-19 Komara Komara; Nani Ratnaningsih
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v4i2.4048

Abstract

Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) bahwa belajar dari rumah dilaksanakan melalui pembelajaran daring/jarak jauh untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Hal ini mengubah paradigma pembelajaran dari yang semula pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka berubah menjadi pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana dampak pelaksanaan pembelajaran daring terhadap hasil penilaian kognitif peserta didik dalam pembelajaran matematika selama pandemi covid-19 di MTs Negeri 3 Ciamis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian yang diambil sebanyak 4 orang guru matematika. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dan diskusi menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran daring memberikan dampak terhadap rata-rata pencapaian tujuan pembelajaran yang relatif rendah, aspek kognitif yang digunakan guru dalam pembuatan instrumen penilaian hanya tahap mengingat (remember), memahami (understand) sampai menerapkan (apply) dan rata-rata hasil penilaian kognitif tidak sesuai dengan yang diharapkan guru yaitu 60% peserta didik belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sehingga guru melaksanakan program remidial agar nilai seluruh peserta didik dapat mencapai KKM.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS BERDASARKAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA Fahmi Abdul Rozi; Ekasatya Aldila Afriansyah
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v4i2.4880

Abstract

Kreativitas merupakan aspek penting yang harus dimiliki siswa. Dengan mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa, guru memperoleh wawasan yang luas tentang potensi dan bakat yang dimiliki siswanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada materi segi empat dan segitiga berdasarkan disposisi matematis. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan 3 subjek siswa kelas VIII di Desa Sindangsari. Pemilihan subjek berdasarkan kemampuan disposisi matematis tinggi, sedang, dan rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan tes kemampuan berpikir kreatif matematis, angket disposisi matematis, dan wawancara. Analisis tes kemampuan berpikir kreatif mengacu pada tiga indikator berpikir kreatif, yaitu fluency, ,flexibility, dan originality. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa (1) kemampuan berpikir kreatif siswa dengan disposisi matematis tinggi diperoleh tingkat kemampuan berpikir kreatif (TKBK) 3 yang artinya kreatif; (2) kemampuan berpikir kreatif siswa dengan disposisi matematis sedang diperoleh  (TKBK) 1 yang artinya kurang kreatif; (3) kemampuan berpikir kreatif siswa dengan disposisi matematis rendah diperoleh  (TKBK) 1 yang artinya kurang kreatif.Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis, Disposisi Matematis, Segiempat, Segitiga.Creativity is an important aspect that must be owned by students. By knowing students' creative thinking abilities, teachers gain broad insight about the potential and talents of their students. This study aims to describe students' mathematical creative thinking skills on the material of rectangles and triangles based on mathematical dispositions. This research is a qualitative descriptive study using 3 subjects of class VIII students in Sindangsari Village. Subject selection was based on high, medium, and low mathematical disposition abilities. Data collection techniques used mathematical creative thinking ability tests, mathematical disposition questionnaires, and interviews. The creative thinking ability test analysis refers to three indicators of creative thinking, namely fluency, flexibility, and originality. The results of this study stated that (1) the creative thinking ability of students with high mathematical disposition obtained a level of creative thinking ability (TKBK) 3 which means creative; (2) the creative thinking ability of students with moderate mathematical disposition is obtained (TKBK) 1 which means less creative; (3) the creative thinking ability of students with low mathematical disposition is obtained (TKBK) 1 which means less creative.Keywords: Mathematical Creative Thinking Ability, Mathematical Disposition, Quadrilateral, Triangle.
PENALARAN MATEMATIS PESERTA DIDIK DITINJAU DARI CHRONOTYPE DAN GENDER Ai Wida Saputri; Dedi Muhtadi; Diar Veni Rahayu
Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jarme.v4i2.4851

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis proses penalaran matematis peserta didik ditinjau dari Chronotype dan Gender. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan eksploratif. Subjek penelitian diambil secara purposif sebanyak empat orang peserta didik Kelas X Desain Komunikasi Visual 2 SMK Negeri 3 Kota Tasikmalaya berdasarkan proses penalaran matematik, chronotype, dan gender. Data dikumpulkan menggunakan angket tipe chronotype, personal attributes questionnaire, tes penalaran matematik, dan wawancara tidak terstruktur. Teknik analisis data meliputi tahap-tahap reduksi data, display data, serta interpretasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menyimpulkan: 1) Peserta didik laki-laki tipe morningness (MM) dapat melakukan sebagian tahap menilai situasi permasalahan, dapat memilih dan menerapkan strategi penyelesaian masalah, serta dapat menyusun simpulan, tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah  dengan cara berbeda; 2) Peserta didik laki-laki tipe eveningness (EM) dapat melakukan tahap-tahap menilai situasi permasalahan dan memilih strategi penyelesaian masalah, dapat melakukan sebagian tahap-tahap menerapkan strategi penyelesaian masalah dan menyusun kesimpulan, tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah dengan cara berbeda; 3) Peserta didik perempuan tipe morningness (MF) dapat melakukan semua tahap menilai situasi permasalahan, memilih strategi penyelesaian, menerapkan strategi penyelesaian masalah dengan dua cara berbeda, serta menyusun simpulan; dan 4) Peserta didik perempuan tipe eveningness (EF) tidak dapat melakukan penilaian situasi permasalahan, tetapi dapat memilih dan menerapkan strategi penyelesaian masalah, serta menyusun simpulan, akan tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah dengan cara berbeda.

Page 7 of 14 | Total Record : 137