cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Hubungan Oral Hygiene dengan Coated Tongue pada Ibu Hamil di Puskesmas Garuda Bandung Arintya, Nabilla Rifda; Hidayat, Wahyu; Dewi, Tenny Setiani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.548 KB)

Abstract

Pendahuluan: Kehamilan adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi perubahan fisiologis, perubahan pola makan, dan perubahan psikologis. Hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi status kebersihan mulut dan selaput lidah. Sebagian besar wanita hamil ditemukan menderita beberapa penyakit mulut yang diketahui terkait dengan kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara oral hygiene dengan coated tongue pada ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung. Metode: Penelitian ini mengunakan metode analitik korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang memenuhi kriteria adalah sebanyak 69 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh dengan menghitung Oral Hygiene Index Simplified dan Coated Tongue Index, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman menggunakan aplikasi MegaStat. Hasil: Hubungan aantara oral hygiene dan coated tongue pada kelompok ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung, mempunyai nilai korelasinya (rs) sebesar 0,259 menu jukkan Nilai signifikan secara statistik dengan p-value sebesar 0,00158567 (p<0,005). Simpulan: Terdapat hubungan antara oral hygiene dan coated tongue pada kelompok ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung yang berarti ketika kebersihan rongga mulut buruk, area selaput putih (coated tongue) pada dorsal lidah semakin besar.Kata kunci : Kehamilan, oral hygiene, coted tongue
Pengaruh kehilangan gigi posterior terhadap kualitas hidup pada kelompok usia 45-65 tahunEffect of posterior tooth loss on the quality of life in the 45-65 years old age group Mochammad Nevry Rizkillah; Rheni Safira Isnaeni; Rina Putri Noer Fadilah
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.729 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.22135

Abstract

Pendahuluan: Kehilangan gigi merupakan keadaan terlepasnya gigi dari soketnya. Kehilangan gigi sering kali terjadi pada seseorang yang mulai memasuki kelompok usia lansia. Seseorang yang memiliki kehilangan gigi terutama gigi posterior akan menyebabkan terganggunya fungsi mastikasi yang membuat seseorang merasa sulit dalam menkonsumsi makanan. Kehilangan gigi dapat secara langsung dapat berdampak pada kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kehilangan gigi posterior terhadap kualitas hidup pada kelompok usia 45-65 tahun di Puskesmas wilayah Kota Cimahi. Metode: Jenis penelitian analitik yang bersifat cross-sectional. Penentuan lokasi sampel menggunakan cluster random sampling. Penentuan sampel menggunakan purposive sampling pada pasien usia 45-65 tahun dengan kehilangan ≥3 gigi, sehingga diperoleh minimal sampel yaitu 77 orang. Penentuan kualitas hidup dengan menggunakan kuisioner OHIP-14, kemudian uji analisis dengan menggunakan analisis korelasi Pearson. Hasil: Analisis dengan uji korelasi Pearson didapatkan nilai r yaitu -0,625 dengan nilai p-value≤0,05 yang berarti terdapat hubungan kuat antara kualitas hidup dengan kehilangan gigi, semakin tinggi kehilangan gigi maka kualitas hidup akan semakin menurun. Simpulan: Terdapat pengaruh kehilangan gigi terhadap kualitas hidup pada pasien usia 45-65 tahun di Puskesmas wilayah Kota Cimahi.Kata kunci: Kehilangan gigi, kualitas hidup, OHIP-14ABSTRACTIntroduction: Tooth loss is the condition of the tooth being detached from its socket. Tooth loss often occurs in someone who enters the elderly period. Someone who suffers tooth loss, especially in the posterior teeth will disrupt the mastication function, which makes a person feel difficult in consuming food. Tooth loss can directly affect the quality of life. This study was aimed to determine the effect of posterior tooth loss on the quality of life in the 45-65 years old age group at the Community Health Center of the City of Cimahi. Methods: This study was an analytical study with a cross-sectional design. Determination of sample locations was using random cluster sampling. Determination of the sample was using purposive sampling in patients aged 45-65 years old with teeth loss of ≥ 3 teeth so that a minimum sample of 77 people was obtained. Determination of the quality of life was using the OHIP-14 questionnaire, then analysed using a Pearson correlation analysis. Results: Analysis with the Pearson correlation test obtained the r-value of -0.625 with a p-value of ≤ 0.05 which means there was a strong relationship between the quality of life and tooth loss, the higher the tooth loss amount, the higher the quality of life will decrease. Conclusion: There is an effect of tooth loss on the quality of life in patients aged 45-65 years old at the Community Health Center of the City of Cimahi.Keywords: Tooth loss, quality of life, OHIP-14
Nilai gula darah 2 jam post prandial pada pasien Diabetes Melitus tipe II dengan kecepatan pengunyahan terkontrolBlood sugar level 2 hours postprandial in patients with type II diabetes mellitus with controlled mastication speed Maghfira Indriawati Iswiningtyas; Kartika Indah Sari; Riani Setiadhi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.21448

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit metabolik akibat tidak pekanya jaringan tubuh terhadap insulin yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah pola makan, mulai dari jumlah, jenis, maupun kebiasaan mengunyah. Kecepatan pengunyahan mempengaruhi tingkat obesitas serta faktor risiko dari penyakit diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai gula darah 2 jam postprandial pada pasien rawat jalan kasus diabetes melitus tipe II di RSUD Kota Bandung dengan kecepatan pengunyahan terkontrol. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan melihat nilai gula darah 2 jam postprandial setelah memberikan makanan porsi diet khusus pasien diabetes melitus tipe II yang dikunyah dengan kecepatan 40 kali kunyahan dalam satu menit. Hasil: Sebanyak 16 dari 20 responden mengalami penurunan nilai gula darah dengan rentan 0-150 mg/dL dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dan 4 sisanya mengalami kenaikan nilai gula darah dengan rentan 0-50 mg/dL. Simpulan: Nilai gula darah 2 jam postprandial pada penderita diabetes melitus tipe II di RSUD Kota Bandung dengan kecepatan pengunyahan terkontrol mengalami penurunan pada 16 dari 20 responden.Kata kunci: Diabetes melitus tipe II, kecepatan pengunyahan, nilai gula darah 2 jam postprandial ABSTRACTIntroduction: Type II diabetes mellitus is a metabolic disease due to the lack of sensitivity of the body's tissues to insulin caused by an unhealthy lifestyle, one of which is eating patterns, ranging from the number, type, and mastication habit. Mastication speed affects the level of obesity and risk factors for diabetes mellitus. This study was aimed to determine the blood sugar level of 2 hours postprandial in outpatients with type II diabetes mellitus cases in Bandung Regional Public Hospital with controlled mastication speed. Methods: The type of research used was descriptive with purposive sampling technique. The study was conducted by observing the blood sugar level of 2 hours postprandial after giving a particular diet portion of type II diabetes mellitus patients who chewed at 40 times in the mastication speed in one minute. Results: A total of 16 of the 20 respondents experienced a decrease in their blood sugar level with susceptible 0-150 mg / dL compared to the previous month, and the remaining 4 respondents experienced increases in their blood sugar values with susceptible 0-50 mg / dL. Conclusion: Blood sugar level of 2 hours postprandial in patients with type II diabetes mellitus in Bandung Regional Public Hospital with controlled mastication speed decrease in 16 of 20 respondents.Keywords: Type II diabetes mellitus, mastication speed, blood sugar level 2 hours postprandial
Proses penyembuhan lesi periapikal pada radiografi periapikal menggunakan Software Image J Bilqis Quinta Fitriandari; Farina Pramanik; Rahmi Alma Farah Adang
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.318 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.21436

Abstract

Pendahuluan:  Lesi periapikal adalah lesi yang berada di daerah apikal dan dapat dirawat dengan perawatan endodontik untuk mencapai penyembuhan. Proses penyembuhan lesi periapikal dapat dievaluasi dengan pemeriksaan radiografis dengan menggunakan radiograf periapikal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan gambaran yang terjadi pada proses penyembuhan lesi periapikal pada radiograf periapikal menggunakan software image J. Metode: Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan 30 arsip radiograf periapikal pada saat diagnosis, pengisian, dan kontrol perawatan endodontik yang terdapat di Instalasi PPDGS Konservasi Gigi RSGM Unpad. Proses penyembuhan ini dilihat dari luas dan densitas lesi dengan menggunakan software image J. Hasil: Nilai rata-rata pengurangan ukuran luas lesi sebesar 13.25±10.77 mm2 dan peningkatan densitas rata-rata sebesar 9.95±7.26% yang dilihat dari foto diagnosis, pengisian, dan kontrol. Simpulan: Gambaran penyembuhan lesi periapikal terjadi pengurangan ukuran luas lesi terbesar pada tahap diagnosis ke pengisian dan peningkatan densitas terbesar pada tahap pengisian ke kontrol pada perawatan endodontik yang dilihat dari radiograf periapikal menggunakan software image J.Kata kunci: Proses penyembuhan, lesi periapikal, radiograf periapikal, Software Image J.
Indeks karies gigi murid usia 12 tahun dengan tingkat pendapatan orangtua rendah dan tinggiDental caries index of 12-years-old students with low and high parental income levels Meilani Yustri Hutami; Marlin Himawati; Ratih Widyasari
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.22124

Abstract

Pendahuluan: Karies adalah penyakit gigi yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Karies gigi sering dialami oleh anak usia sekolah. Karies disebabkan oleh banyak faktor. Empat faktor risiko primer atau yang utama adalah host, mikroorganisme, substrat, dan waktu. Faktor risiko sekunder terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, ras, lingkungan, perilaku, dan  sosioekonomi. Sosioekonomi biasanya berhubungan dengan pendapatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui indeks karies gigi berdasarkan tingkat pendapatan orangtua murid usia 12 tahun. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan tiga cluster sekolah dasar terpilih dari 125 cluster sekolah dasar yang berada di Kota Cimahi dengan menggunakan cluster random sampling yang terdiri dari 150 subjek anak untuk dilakukan penelitian. Hasil: Anak berusia 12 tahun dengan pendapatan orangtua tinggi menunjukkan indeks DMFT rendah yaitu 1,2 dan orangtua dengan pendapatan rendah menunjukkan indeks DMFT tinggi yaitu 4,1 dikarenakan pendapatan tinggi dapat mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang khusus dan upaya pencegahan karies gigi. Pendapatan tinggi dapat memperlihatkan indeks DMFT lebih rendah. Faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu akses kesehatan, lingkungan, diet, serta perawatan kesehatan gigi dan mulut.  Simpulan: Murid dengan orangtua berpendapatan tinggi menunjukkan indeks DMFT rendah yaitu 1,2 dan murid dengan orangtua berpendapatan rendah menunjukkan indeks DMFT tinggi yaitu 4,1.Kata kunci: Indeks karies, karies, pendapatan orangtua ABSTRACTIntroduction: Caries is a dental disease that affects many Indonesians. School-age children often experience dental caries. Caries is caused by many factors. The four primary risk factors are hosts, microorganisms, substrate, and time. Secondary risk factors are age, gender, education level, race, environment, behaviour, and socioeconomics. Socioeconomics is usually related to income. The purpose of the study was to determine dental caries index based on the level of 12-years-old students based on their parent’s income. Methods: This research was descriptive with three clusters of selected primary schools from 125 clusters of elementary schools in the city of Cimahi using random cluster sampling consisted of 150 child subjects. Results: 12-years-old children with high parental income showed a low DMFT index of 1.2 and low-income parents showed a high DMFT index of 4.1 because high income could have access to special dental and oral health services and prevention efforts for dental caries. High income showed a lower DMFT index. Other factors affected were health access, environment, diet, and dental and oral health care. Conclusion: Students with high-income parents show a low DMFT index of 1.2 and students with low-income parents show a high DMFT index of 4.1.Keywords: Caries index, caries, parental income
Prevalensi hiperpigmentasi gingiva pada pasien perokok di klinik periodonsia RSGM FKG Unpad Faruchy, Annisa Ghea; Komara, Ira; Pribadi, Indra Mustika Setia
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.548 KB)

Abstract

Pendahuluan: Hiperpigmentasi gingiva merupakan pewarnaan pada gingiva berupa warna kecoklatan atau kehitaman berbentuk unit soliter atau pita bersambung yang berasal dari granula melanin yang diproduksi oleh sel-sel melanoblas, yang dapat disebabkan oleh faktor endogen dan faktor eksogen. Salah satu penyebab terjadinya hiperpigmentasi gingiva adalah merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hiperpigmentasi gingiva pada pasien perokok di klinik Periodonsia RSGM FKG Unpad. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 49 orang. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria ditanya beberapa pertanyaan mengenai kebiasaan merokoknya kemudian diperiksa keadaan gingivanya dan ditentukan klasifikasi hiperpigmentasi gingivanya bedasarkan klasifikasi Hedin. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar subjek penelitian mengkonsumsi rokok 1-10 batang per hari dan telah merokok lebih dari 10 tahun. Jenis rokok yang banyak dikonsumsi oleh subjek dalam penelitian ini adalah rokok kretek. Nilai hiperpigmentasi gingiva dengan jumlah terbanyak adalah 4, dan jumlah terkecil adalah 0. Simpulan: prevalensi hiperpigmentasi gingiva pada pasien perokok di klinik Periodonsia RSGM FKG Unpad adalah 89,8%.Kata kunci: Prevalensi, hiperpigmentasi gingiva, perokok
Perbedaan risiko karies orang tua siswa usia 35—44 tahun antara dua Sekolah Dasar di daerah Jatinangor Sundus Maysun; Anne Agustina Suwargiani; Gilang Yubiliana
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i1.21430

Abstract

Deskripsi pertumbuhan akar lengkap pada gigi molar tiga rahang atas berdasarkan usia kronologis Kerk Xi Zhe; Lusi Epsilawati; Ria Noerianingsih Firman
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 1, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v1i1.22137

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan gigi adalah satu proses yang lambat, tetapi pertumbuhan gigi tetap mengikuti satu pola perkembangan tersebut. Perkembangan gigi sering digunakan untuk mengevaluasi usia kronologis melalui radiograf. Erupsi gigi molar ketiga biasanya paling akhir, maka gigi tersebut dapat menjadi indikator kematangan usia. Penelitian menunjukan erupsi gigi tersebut biasanya sekitar usia 17-25 tahun tetapi, usia atau waktu pertumbuhan sempurna dari akar gigi molar ketiga masih belum diketahui. Tujuan penelitian untuk meneliti usia kronologis melalui pertumbuhan akar gigi secara sempurna pada pasien di RSGM Unpad. Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskripsi  dengan sampel diambil dari radiograf panoramik di Instalasi Radiologi RSGM Unpad. Populasi yang diteliti adalah pasien dari usia 17-25 tahun pada bulan April-Juni 2016. Data ini dikategorikan untuk 3 kategori sesuai dengan anatomi akar, dan diverifikasi oleh konsulen dari departemen radiologi sebelum disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Kelompok sampel gigi 18 menunjukkan 66% sampel perempuan dan 69% sampel laki-laki adalah dalam kategori III. Kelompok sampel gigi 28 menunjukkan  55% sampel perempuan dan 77 % sampel laki-laki adalah dalam kategori III. Simpulan: Mayoritas akar gigi molar ketiga pada populasi perempuan tumbuh secara sempurna pada usia 23 dan 25, dan pada populasi laki-laki adalah usia 22.Kata kunci: Gigi molar tiga rahang atas, pertumbuhan akar gigi, radiograf panoramik, usia kronologis
Pengetahuan radiografi di bidang kedokteran gigi pada siswa Sekolah Menengah Atas Fauza Raidha; Lusi Epsilawati; Riana Wardani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.21449

Abstract

Pendahuluan: Remaja merupakan sosok yang membutuhkan perawatan gigi yang khusus disebabkan remaja sering mengalami beberapa masalah kesehatan  gigi dan mulut. Keberhasilan dari perawatan gigi yang dilakukan akan lebih maksimal apabila ditunjang oleh pemeriksaan radiografi. Masyarakat harus mengetahui peran dan fungsi, minimnya bahaya radiasi yang dapat ditimbulkan, serta proteksi radiasi yang harus dilakukan pada pemeriksaan radiografi kedokteran gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan radiografi di bidang kedokteran gigi pada siswa SMAN 1 Cipatat. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Cipatat pada Februari 2018. Metode menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan persentase yang dikategorikan menjadi tiga kriteria objek pengetahuan yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil: Sebanyak 4,87% siswa memiliki pengetahuan yang tinggi, 59,75% memiliki pengetahuan yang sedang, dan 35,36% memiliki pengetahuan yang rendah megenai radiografi kedokteran gigi. Tiap variabel mempunyai rata-rata persentase yang menjawab benar. Berdasarkan rata-rata tersebut, pengetahuan yang paling rendah yaitu mengenai proteksi radiasi yaitu hanya sebesar 39,42%. Simpulan: Pengetahuan radiografi di bidang kedokteran gigi pada siswa SMAN 1 Cipatat dinyatakan sedang, namun pengetahuan mengenai proteksi radiasi masih sangat rendah.Kata kunci: Pengetahuan, radiografi kedokteran gigi, remaja
Korelasi peran modelling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak Dhia Thifal Malihah; Inne Suherna Sasmita; Arlette Suzy Puspa Pertiwi Setiawan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i1.21438

Abstract

Pendahuluan: Dental fear merupakan rasa takut terhadap perawatan kesehatan gigi yang sangat terlihat pada anak usia pra sekolah, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah metode modeling. Tujuan Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antara modeling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak. Metode: Jenis penelitian merupakan analitik korelatif. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner peran modeling orang tua dan The Children’s Fear Survey Schedule Dental Subscale (CFSS-DS) versi Bahasa Indonesia pada 20 ibu yang memiliki anak berusia tiga hingga enam tahun yang merupakan pasien anak di RSKGM dan pernah dibawa ke dalam ruang praktik selama perawatan kesehatan gigi kepada ibu berlangsung. Analisis data menggunakan uji Spearman Coefficient of Rank Correlation. Hasil: Sebanyak 95% ibu telah memperlihatkan perilaku positif di hadapan anaknya dan 5% memperlihatkan perilaku negatif. Dental fear yang dirasakan anak untuk kriteria rendah adalah 40%, sedang 40%, dan tinggi 20%. Hasil analisis pada derajat kekeliruan  = 0,05 adalah rs -0,46, thitung -2,19, p-value 0,020930553, dan penelitian bersifat signifikan dengan keterkaitan antara kedua variabel penelitian 21,05%. Simpulan: Terdapat korelasi antara modeling orang tua dengan dental fear anak, yaitu semakin ibu memperlihatkan perilaku positif selama mendapatkan perawatan kesehatan gigi, maka semakin rendah dental fear yang dirasakan anak usia tiga hingga enam tahun.Kata Kunci: Korelasi, peran modeling orang tua, Dental Fear anak

Page 2 of 27 | Total Record : 269