cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Perbedaan efektivitas home bleaching berbahan carbamide peroxide 10% dengan home bleaching berbahan non peroxide terhadap gigi premolar rahang atas Jeanice Felincia; Rudy Djuanda; Angela Evelyna
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.2 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.22514

Abstract

Pendahuluan: Terdapat beberapa macam pewarnaan gigi, yaitu eksternal, internal dan gabungan keduanya. Prosedur bleaching menjadi perawatan gigi yang paling digemari untuk mengatasi perubahan warna gigi. Terdapat dua macam prosedur bleaching vital, yaitu home bleaching dan in office bleaching. Bahan yang sering digunakan untuk metode home bleaching adalah carbamide peroxide 10% yang aman serta efektif memutihkan gigi, namun peroksida cenderung bersifat tidak stabil dan mutagenik dalam konsentrasi tinggi, karena itu dikembangkan bahan bleaching non peroxide.Tujuan penelitian untuk membandingkan efektifitas home bleaching carbamide peroxide 10% dan non peroxide terhadap gigi premolar rahang atas. Metode: Penelitian dilakukan dengan cara merendam gigi dalam bahan carbamide peroxide 10% dan non-peroxide hingga batas CEJ selama 14 hari dengan durasi 7 jam per hari. Sampel disimpan dalam inkubator bersuhu 37˚C. Pengukuran warna dilakukan pada hari ke-1, ke-7, dan ke-14 menggunakan spektofotometer Premiere Colorscan SS6200 yang menghasilkan pengelompokan warna CIELAB. Metode analisis data menggunakan t-test independent. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai perubahan warna 17.672 pada kelompok perlakuan carbamide peroxide 10% dan 8.863 pada non peroxide di hari ke-14. Nilai p=0.000 (<0.005) pada kedua perbandingan hari ke-7 dan ke-14. Simpulan: Penggunaan bahan carbamide peroxide 10% lebih efektif memutihkan gigi dibandingkan bahan non peroxide.Kata kunci: Home bleaching, carbamide peroxide, non peroxide, teeth discoloration
Hubungan oral hygiene dengan Coated Tongue pada ibu hamil Nabilla Rifda; Wahyu Hidayat; Tenny Setiani Dewi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.22312

Abstract

Pendahuluan: Kehamilan adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi perubahan fisiologis, perubahan pola makan, dan perubahan psikologis. Hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi status kebersihan mulut dan selaput lidah. Sebagian besar wanita hamil ditemukan menderita beberapa penyakit mulut yang diketahui terkait dengan kehamilan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara oral hygiene dengan coated tongue pada ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung. Metode: Jenis penelitian analitik korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang memenuhi kriteria adalah sebanyak 69 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh dengan menghitung Oral Hygiene Index Simplified dan Coated Tongue Index, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman menggunakan aplikasi MegaStat. Hasil: Hubungan antara oral hygiene dan coated tongue pada kelompok ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung, mempunyai nilai korelasinya (rs) sebesar 0,259 menunjukkan Nilai signifikan secara statistik dengan p-value sebesar 0,00158567 (p<0,005). Simpulan: Terdapat hubungan antara oral hygiene dan coated tongue pada kelompok ibu hamil, yang berarti ketika kebersihan rongga mulut buruk, area selaput putih (coated tongue) pada dorsal lidah semakin besar.Kata kunci: Oral hygiene, coated tongue, kehamilan
Perbedaan nilai kekerasan permukaan semen Glass Ionomer (GIC) dan modifikasi resin semen Glass Ionomer (RMGIC) akibat efek cairan lambung buatan secara in vitro Nuni Maharani; Agung Wibowo; Dudi Aripin; Mohammad Richata Fadil
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 1, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v1i1.22293

Abstract

Pendahuluan: Gastroesophageal reflux disease (GERD) didefinisikan sebagai reflex otot esophagus atau spincter, yang memungkinkan asam lambung bergerak naik melalui kerongkongan hingga masuk kedalam rongga mulut. Asam lambung memiliki pH berkisar 1 hingga 1.5, berada di bawah pH kritis email sebesar 5.5 yang dapat menyebabkan terjadinya demineralisasi email, dentin, dan sementum. Tujuan penelitian adalah untuk membedakan nilai kekasaran permukaan semen glass ionomer (GIC) dan modifikasi resin semen glass ionomer (RMGIC) akibat efek cairan lambung buatan.  Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental murni secara in vitro. Sampel dipersiapkan sebanyak 40 buah, yang terdiri dari 20 sampel semen glass ionomer (GIC) dan 20 sampel modifikasi resin semen glass ionomer (RMGIC). Seluruh sampel dibagi ke dalam 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 10 sampel yaitu (1) kelompok GIC direndam dalam saliva buatan, (2) kelompok RMGIC direndam dalam saliva buatan, (3) kelompok GIC direndam dalam cairan lambung buatan selama 3 kali 7 menit dan setelahnya direndam kembali dalam saliva buatan, dan (4) kelompok RMGIC direndam dalam cairan lambung buatan selama 3 kali 7 menit dan setelahnya direndam kembali dalam saliva buatan. Perendaman dilakukan selama 9 hari. Nilai kekasaran diukur dengan menggunakan surface roughness tester (Profilometri). Hasil dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji ANAVA dan analisis post-hoc dengan menggunakan t-test. Hasil: Terdapat perbedaan nilai kekasaran permukaan semen glass ionomer (GIC) dan modifikasi resin semen glass ionomer (RMGIC) akibat efek cairan lambung buatan. Simpulan: Paparan cairan asam lambung pada pasien GERD dapat mempengaruhi kekasaran permukaan bahan restorasi GIC dan RMGIC. Kata kunci: Gastroesophageal reflux disease, Kekasaran permukaan, semen glass ionomer, modifikasi resin semen glass ionomer, profilometri ABSTRACTIntroduction: Gastroesophageal reflux disease (GERD) is defined as involuntary muscle relaxing of the upper esophageal sphincter, which allows refluxed acid to move upward through the esophagus into the oral cavity. The gastric acid has pH between 1 and 1.5, far below the critical pH of 5.5 at which tooth enamel will dissolve. Gastric juice has been shown to demineralize enamel, dentin, and root cementum. Methods: Fourthy samples of each restorative material, a conventional glass ionomer cement (20 samples) and a resin modified glass ionomer cement (20 samples), were prepared and divided into four groups, each group consist of 10 samples. Group (1) group of GIC immersed in simulated saliva and group (2) group of RMGIC immersed in simulated saliva, both control groups immersed for 9 days. Group (3) were group GIC and group (4) were RMGIC, both groups immersed in simulated saliva for 9 days and in between both groups immersed in gastric juice every 3 times a day for 7 minute. Each group subjected to profilometric analysis. The profilometric values were statistically analyzed using ANOVA and 2-way analysis of variance (post-hoc). Results: There are differences between GIC and RMGIC after immersion in gastric juice. Conclusion: Surface roughness of all tested materials were affected by the simulated gastric juice.Keywords: Gastroesophageal reflux disease, surface roughness, glass ionomer cement, resin modified glass ionomer cement, profilometer
Pola dan terapi infeksi Herpes simpleks virus-1 pada rongga mulut di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2013-2017The pattern and therapy of the Herpes simplex virus-1 infection in the oral cavity at Dr Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2013-2017 Farhani Azizah; Irna Sufiawati; Mieke Hemiawati Satari
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.22501

Abstract

Pendahuluan: Salah satu virus yang menginfeksi rongga mulut adalah Herpes Simpleks Virus-1 (HSV-1). Virus ini menjadi patogen utama pada berbagai macam inang dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit orofasial. Tatalaksana infeksi HSV-1 memiliki pola terapi yang beragam bergantung pada kondisi klinis pasien. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data mengenai pola dan terapi penyakit mulut karena infeksi HSV-1. Metode: Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder berasal dari logbook dan rekam medik pasien di Poliklinik Gigi dan Mulut RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2013-2017. Sampel penelitian ditentukan menggunakan metode purposive sampling, yaitu rekam medik pasien dengan diagnosis penyakit mulut karena infeksi HSV-1. Hasil: Pola penyakit mulut pada instalasi rawat jalan yaitu Recurrent Intraoral Herpes (RIH) sebanyak 84,91%, Herpes Associated Erythema Multiforme (HAEM) 9,43%, Herpes labialis 3,77%, dan Primary Herpetic Gingivo Stomatitis (PHGS) 1,89%. Pola penyakit mulut pada rawat inap yaitu Recurrent Intraoral Herpes (RIH) sebanyak 85,71% dan Herpes labialis sebanyak 14,29%. Pemberian terapi sangat bervariatif yaitu kombinasi asiklovir, antiseptik, multivitamin, antiinflamasi steroid, NSAID, pelembab bibir, antibiotik, antihistamin, dan antifungal. Simpulan: Penyakit mulut karena infeksi HSV-1 yang paling sering ditemukan baik pada instalasi rawat jalan maupun rawat inap adalah recurrent intraoral herpes. Pemberian terapi yang paling sering digunakan pada instalasi rawat jalan yaitu kombinasi obat antiinflamasi steroid dan multivitamin, sedangkan pada instalasi rawat inap yaitu multivitamin dan kombinasi asiklovir, antiseptik, dan multivitamin.Kata kunci: Pola penyakit mulut, pola terapi, infeksi Herpes Simpleks Virus-1 ABSTRACTIntroduction: One of the viruses that infect the oral cavity is Herpes Simplex Virus-1 (HSV-1). This virus becomes the primary pathogen in various types of hosts and can cause various kinds of orofacial diseases. Management of HSV-1 infection has a diverse pattern of therapy depending on the clinical condition of the patient. The purpose of this study was to obtain data on the patterns and treatment of oral diseases due to HSV-1 infection. Methods: Data collected was secondary data from the logbook and medical records of patients at the Dental Polyclinic of Dr Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2013-2017. The study sample was determined using a purposive sampling method, namely medical records of patients with a diagnosis of oral disease due to HSV-1 infection. Results: The pattern of oral disease in outpatient installations, namely Recurrent Intraoral Herpes (RIH) 84.91%, Associated Erythema Multiforme (HAEM) Herpes 9.43%, Herpes labialis 3.77%, and Primary Herpetic Gingivo Stomatitis (PHGS) 1.89%. The pattern of oral disease in inpatient installations, namely Recurrent Intraoral Herpes (RIH) as much as 85.71% and Herpes labialis 14.29%. Given therapy was very varied, namely a combination of acyclovir, antiseptic, multivitamin, anti-inflammatory steroid, NSAIDs, lip moisturisers, antibiotics, antihistamines, and antifungal. Conclusion: Oral disease due to HSV-1 infection that is most often found both in outpatient and inpatient installations is recurrent intraoral herpes. The most commonly used therapy in outpatient installations is a combination of steroid anti-inflammatory drugs and multivitamins, while in inpatient installations are multivitamins and a combination of acyclovir, antiseptic, and multivitamins.Keywords: Oral disease patterns, therapy patterns, Herpes Simplex Virus-1 infection
Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis pada radiograf periapikalRadiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions on periapical radiographs Istri Dwi Utami; Farina Pramanik; Lusi Epsilawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.22306

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan penyakit yang paling banyak terjadi. Pada tahun 2013 kerusakan gigi masyarakat Indonesia adalah 460 buah gigi per 100 orang. Jika dibiarkan tidak dirawat akan berkembang mengarah pada kematian pulpa dan akan menyebar menyebabkan infeksi periapikal. Tahun 2010 penyakit pulpa dan periapikal menempati posisi ke 7 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia. Teknik radiograf yang dapat digunakan untuk diagnosis penyakit pulpa dan periapikal adalah teknik radiografi periapikal. Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi mengenai proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis di RSGM Unpad. Metode: Jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh radiograf periapiakal gigi nekrosis dengan lesi periapikal pada bulan November 2018 – Januari 2019 di Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi RSGM Unpad. Sampel penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 54 radiograf periapikal. Hasil: Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal yaitu abses periapikal sebanyak 42 kasus (77,78%), granuloma periapikal 8 kasus (14,81%) dan kista periapikal 4 kasus (7,40 %). Simpulan: Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis di RSGM Unpad didapatkan proporsi tertinggi adalah abses periapikal diikuti granuloma periapikal dan yang terakhir adalah kista periapikal.Kata Kunci: Gigi nekrosis, lesi periapikal, radiograf periapikal ABSTRACTIntroduction: Caries is the most common disease. In 2013, tooth decay of Indonesian people was 460 teeth per 100 people. If left untreated, it will develop, leading to pulp death and will spread, causing periapical infection. In 2010, pulp and periapical diseases were ranked 7th out of the ten most diseases in outpatients of the hospitals in Indonesia. A radiographic technique that can be used for the diagnosis of pulp and periapical disease is a periapical radiographic technique. This study was aimed to obtain information about the radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Methods: This study was descriptive, with study population was all radiographs of the necrotic teeth periapical lesions in November 2018 - January 2019 at Dentomaxillofacial Radiology Installation of Universitas Padjadjaran Dental Hospital. The research sample was determined by purposive sampling method. The number of samples was 54 periapical radiographs. Results: The radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions, namely periapical abscesses in 42 cases (77.78%), periapical granuloma in 8 cases (14.81%) and periapical cysts in 4 cases (7.40%). Conclusion: The radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions at Universitas Padjadjaran Dental Hospital mostly are periapical abscesses, followed by periapical granuloma, and the least is periapical cysts.Keywords: Necrotic teeth, periapical lesions, periapical radiographs
Karakteristik karies periode gigi campuran pada anak usia 6-7 tahun Diani Prisinda; Indah Suasani Wahyuni; Prima Andisetyanto; Yuliawati Zenab
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 1, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v1i1.22520

Abstract

Pendahuluan: Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan status karies gigi masyarakat masih tinggi. Banyak orang beranggapan bahwa gigi sulung tidak perlu dirawat karena akan digantikan oleh gigi permanen sehingga kurang memperhatikan kesehatan gigi sulung anak, akibatnya keadaan gigi sulung yang dijumpai di praktek dokter gigi seringkali sudah mengalami kerusakan parah. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data mengenai karakteristik karies periode gigi campuran pada anak usia 6-7 tahun, sebagai dasar penelitian karies gigi lebih lanjut. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah anak usia 6-7 tahun dan siswa SD kelas 1 di Kecamatan Tanjungsari, Sumedang. Teknik purposive sampling mendapatkan subyek penelitian sejumlah 52 anak usia 6-7 tahun yang merupakan siswa kelas 1 dari salah satu SD. Instrumen penelitian yaitu: sinar lampu, kaca mulut, sonde, alat tulis dan formulir pemeriksaan. Data hasil pemeriksaan diolah menggunakan program Excel Office. Hasil: Permukaan gigi permanen yang paling banyak mengalami karies adalah oklusal, sedangkan pada gigi sulung adalah permukaan mesial. Kedalaman karies yang paling banyak ditemukan pada gigi permanen adalah superfisial, sedangkan pada gigi sulung adalah profunda. Ditemukan sejumlah 22 gigi permanen mengalami kerusakan, 343 gigi sulung mengalami kerusakan dan 108 gigi sulung hilang karena karies. Simpulan: Terdapat perbedaan karakteristik karies gigi permanen dan gigi sulung pada periode gigi campuran anak usia 6-7 tahun di Kecamatan Tanjungsari Sumedang.Kata kunci: Karakteristik karies, periode gigi campuran, gigi permanen, gigi sulung.
Efektivitas mengonsumsi keju Brie terhadap kenaikan pH salivaEffectiveness of consuming Brie cheese on increasing salivary pH Celia Lazarus; Henry Yonatan Mandalas; Winny Suwindere
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.184 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.22480

Abstract

Pendahuluan: Derajat keasaman (pH) saliva merupakan faktor kunci utama keseimbangan demineralisasi dan remineralisasi gigi. Demineralisasi email terjadi pada keadaan pH <5,5 dan terjadi dalam waktu beberapa menit setelah asupan sukrosa. Saliva memiliki peran signifikan dalam proses meningkatkan pH rongga mulut sehubungan dengan kemampuan buffering, yaitu kandungan bikarbonat yang dapat menetralkan pH sehingga mencegah enamel gigi dari demineralisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengukur atau menilai peranan keju Brie dalam menaikan pH saliva. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental semu bersifat komparatif. Jumlah subjek penelitian adalah 32 orang yang dibagi menjadi kelompok perlakuan, yaitu mengonsumsi keju Brie dan kelompok kontrol, yaitu tidak mengonsumsi keju Brie. Subjek penelitian diukur nilai pH saliva awal dan akhir menggunakan pH test strip. Hasil: Rerata selisih nilai pH awal dan akhir pada kelompok perlakuan adalah sebesar 0,48 dan pada kelompok kontrol adalah sebesar -0,29. Rerata selisih pH saliva pada kelompok perlakuan, yaitu mengonsumsi keju Brie, lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Simpulan: Mengonsumsi keju Brie efektif dalam meningkatkan pH saliva.Kata kunci: Efektivitas, keju Brie, pH saliva ABSTRACTIntroduction: Salivary acidity degree (pH) is the main key factor in the balance of tooth demineralisation and remineralisation. Enamel demineralisation occurs at the pH < 5.5 and occurs within minutes after sucrose intake. Saliva has a significant role in the process of pH increase in the oral cavity due to the buffering ability, which is the bicarbonate content which able to neutralise the pH value to prevent tooth enamel demineralisation. The purpose of this study was to measure or assess the effect of Brie cheese consumption in raising the salivary pH. Methods: This study is a quasi-experimental comparative. The number of research subjects was 32 people who were divided into treatment groups which consumed Brie cheese, and the control group which did not consume Brie cheese. Each research subject was measured the initial and final salivary pH values using a pH test strip. Results: The average difference in the initial and final pH values of the treatment group was 0.48, and in the control group was -0.29. The average difference of the salivary pH in the treatment group, which was consuming Brie cheese, was higher than the control group, with a significant difference (p < 0.05). Conclusion: Consuming Brie cheese is effective in increasing the salivary pH.Keywords: Effectiveness, Brie cheese, salivary pH
Perubahan pengetahuan setelah edukasi foto ronsen di bidang kedokteran gigi pada siswa Sekolah Menengah Atas menggunakan media animasi Nur Alya Nazerin; Lusi Epsilawati; Anne Agustina Suwargiani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.21428

Abstract

Pendahuluan: Radiografi gigi merupakan salah satu pemeriksaan wajib yang digunakan di kalangan dokter gigi untuk membantu dalam menentukan diagnosis yang tepat dalam rongga mulut. Namun, radiografi gigi menghasilkan bahaya yang tidak terduga yaitu radiasi sinar-X yang memberi dampak buruk ke tubuh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan pengetahuan setelah edukasi radiografi gigi di kalangan siswa SMAN 1 Cipatat menggunakan media animasi. Metode:Penelitian ini dirancang dengan metode deskriptif. 32 siswa kelas VI MIPA 2 di SMAN 1 Cipatat dipilih menjadi responden berdasarkan teknik total sampling. Perubahan pengetahuan setelah edukasi menggunakan media animasi diukur dengan memberikan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Perubahan pengetahuan setelah menerima pendidikan radiografi gigi yang 24 responden (75%) meningkat karena mereka memperhatikan selama pendidikan dan memiliki perilaku yang menentukan untuk belajar. Selain itu,6 responden  (18.75%) tidak mengalami perubahan pengetahuan radiografi gigi. Simpulan: Adanya peningkatan pengetahuan radiografi gigi yang signifikan setelah edukasi menggunakan media animasi.Kata kunci: Pengetahuan, radiologi kedokteran gigi, edukasi, media animasi
Tingkat kepuasan pasien dewasa pada pelayanan radiografi panoramik di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha Wine Meilasari; Winny Suwindere; Hendra Polii
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.22511

Abstract

Pendahuluan: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan yang semakin banyak dipakai sebagai alat ukur yang dipercaya untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang tersedia dalam bidang kesehatan gigi dan mulut adalah Rumah Sakit Gigi dan Mulut. RSGM adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, gawat darurat, pelayanan medik dan pelayanan penunjang, salah satunya adalah pelayanan radiologi kedokteran gigi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk dapat memberikan data yang akurat tentang kepuasan pasien radiografi panoramik di instalasi radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptifanalitik dengan menggunakan metode survei. Studi penelitian ini menggunakan rancangan crosssectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha yang dilaksanakan pada bulan Juli- Agustus 2017. Pengambilan sampel pasien dengan cara accidental sampling dimana sampel yang digunakan adalah seluruh pasien dewasa yang datang ke instalasi radiologi. Analisis data menggunakan uji statistik oneway anova yang diolah menggunakan program komputer SPSS. Hasil: Sebagian besar responden menyatakan puas pada dimensi Reliability (kehandalan) dengan skor 95,25 %, Assurance (jaminan/keyakinan) dengan skor 94,6%, Tangibles (penampilan) dengan skor 100%, Empathy  (perhatian)  dengan skor 100% Responsiveness (ketanggapan) yaitu memiliki skor 100%. Simpulan: Pelayanan pemeriksaan radiografi panoramik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha pada periode 18 Juli-18 Agustus  2017 sangat baik, dengan tingkat kepuasan yang tinggi pada dimensi kualitas pelayanan reliability (kehandalan), assurance (jaminan/keyakinan), tangibles (penampilan), empathy (perhatian) dan responsiveness (ketanggapan).Keywords: Pelayanan, kepuasan, radiografi panoramik
Hubungan antara stres dengan gangguan sendi temporomandibula pada mahasiswa program profesi kedokteran gigiThe relationship between stress and temporomandibular joint disorders in dental profession students Laurensia Ericka Husada; Susiana susiana; Ellen Theresia
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.21891

Abstract

Pendahuluan: Gangguan pada sendi rahang (temporomandibular joint) yang sering disebut sebagai temporomandibular joint disorders (TMD) atau craniomandibular disorders (CMD) sampai sekarang masih belum banyak terungkap. Penyebab TMD multifaktorial, tidak hanya disebabkan oleh satu penyebab.2 Pertes et al menyatakan penyebab utama TMD adalah trauma, stres emosional dan penyakit sistemik. Stres dapat menyebabkan perubahan pada tubuh berupa peningkatan aktivitas otot (hiperaktivitas). Hiperaktivitas yang berlangsung lama dan terus – menerus akan memicu kelelahan otot termasuk otot di sekitar TMJ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara stres dengan gangguan sendi temporomandibula pada mahasiswa program profesi kedokteran gigi. Metode: Penelitian ini merupakan analisis data yang digunakan yaitu analisis korelasi untuk menguji hubungan stres dengan gangguan sendi temporomandibula. Hasil: Penelitian ini pada 107 mahasiswa program profesi kedokteran gigi yang terdiri dari kelompok yang mengalami gangguan sendi temporomandibular sebesar 58,8% (63 orang). Karakteristik responden yang memiliki stres kategori sedang dengan presentase 96,8%. Analisis statistik korelasional dengan α sebesar 5%, pada hubungan gejala stres dengan gangguan sendi temporomandibula menyatakan bahwa H1 dapat diterima yang berarti terdapat hubungan antara stres dengan gangguan sendi temporomandibula. Simpulan: Terdapat hubungan antara stres terhadap gangguan sendi temporomandibula.Kata kunci: Kelainan sendi temporomandibula, stres, mahasiswa program profesi kedokteran gigi. ABSTRACTIntroduction: Temporomandibular joint disorders which are often referred to as temporomandibular joint disorders (TMD) or craniomandibular disorders (CMD) have not yet been discovered. The causes of TMD is multifactorial, not only caused by one cause. The main causes of TMD are trauma, emotional stress and systemic disease. Stress can cause changes in the body in the form of increased muscle activity (hyperactivity). Hyperactivity that lasts a long time and continuously will trigger muscle fatigue, including muscles around TMJ. The purpose of this study was to analyse the relationship between stress and temporomandibular joint disorders in dental profession students. Methods: This study was an analysis of data used which was correlation analysis to examine the relationship of stress with temporomandibular joint disorders. Results: The study was conducted on 107 dental professions student consisted of 58.8% of temporomandibular joint disorders (63 people) — characteristics of respondents with moderate stress category with a percentage of 96.8%. Correlational statistical analysis with α of 5%, the relationship between stress symptoms and temporomandibular joint disorders stated that H1 was acceptable, which means that there was a relationship between stress and temporomandibular joint disorders. Conclusion: There was a relationship between stress and temporomandibular joint disorders.Keywords: Temporomandibular joint disorders, stress, dental profession students.

Page 5 of 27 | Total Record : 269