cover
Contact Name
Sonezza Ladyanna
Contact Email
ladyannasonezza@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
puitikaunand@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Puitika
Published by Universitas Andalas
ISSN : 0854817X     EISSN : 25806009     DOI : -
Core Subject : Education,
PUITIKA merupakan jurnal ilmiah humaniora yang menyajikan artikel orisinal tentang penelitian di bidang bahasa, sastra, dan budaya. Artikel yang dimuat telah melalui proses seleksi oleh redaksi, penyuntingan oleh dewan editor, dan penilaian layak muat oleh dewan bestari. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun (April dan September) dan sedang dipersiapkan untuk terakreditasi secara nasional.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 21 No. 2 (2025)" : 6 Documents clear
Kode Semiotika Roland Barthes dalam Cerpen “Man Rabuka” Karya A.A. Navis Putra, Yoga Mestika; Amri, Ulil; Fitriah, Siti; Putri, Aprilia Kartika; Triandana, Anggi
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan memahami penerapan lima kode semiotika Roland Barthes dalam cerpen A.A. Navis, “Man Rabuka”, yang dipilih karena kekayaannya akan tanda-tanda sosial dan simbol-simbol budaya. Penelitian kualitatif deskriptif ini menerapkan pendekatan objektif dalam menganalisis kata, frasa, dan klausa yang mengandung lima kode Barthes: hermeneutik, konotatif (semes), simbolik, aksian, dan budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kode-kode tersebut beroperasi secara berlapis untuk membongkar makna tersembunyi dan kritik sosial narasi. Kode hermeneutik menciptakan misteri melalui pertanyaan tentang keheningan desa dan stigma pengkhianat. Kode konotatif mengungkapkan kekosongan spiritual karakter Jamain melalui ekspresi penderitaan batin dan atribusi ironis kualitas surgawi pada keburukan duniawi (opium, tuak). Kode simbolik menyajikan oposisi biner yang runtuh antara Pahlawan (sang kakak) dan narator (Aku), yang pada akhirnya ditiadakan oleh kekuatan Kelupaan. Kode aksian memetakan urutan peristiwa penting, terutama penyiksaan sang pahlawan dan tindakan satir Jamain menyuap Malaikat Kubur. Terakhir, Kode budaya diwujudkan melalui istilah agama dan Minangkabau seperti Tuanku, malin, dan frasa judul Man Rabuka. Kesimpulannya, pendekatan semiotika Barthes berhasil mendekonstruksi “Man Rabuka” sebagai sistem tanda yang kompleks, merefleksikan pandangan dunia penulis dan kritik sosial terhadap masyarakat yang terjebak dalam formalisme dan materialisme.
Formasi Ideologi dalam Cerita Pendek “God Sees Truth, But Waits” Karya Leo Tolstoy Qarimah, Aryana Nurul; Pratiwi, Dyani Prades; Komariya, Siti
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.735

Abstract

Formasi ideologi dalam cerita pendek “God Sees the Truth, But Waits” menjadi fokus utama penelitian ini, khususnya terkait bagaimana berbagai ideologi direpresentasikan dan dinegosiasikan dalam cerita. Dengan menggunakan kerangka hegemoni Antonio Gramsci, penelitian ini memandang teks bukan hanya sebagai cerita moral, tetapi sebagai ruang kontestasi ideologi. Pendekatan kualitatif diterapkan dengan desain analisis wacana kritis melalui teknik close reading untuk mengidentifikasi struktur naratif, penokohan, dialog, dan simbol sebagai penanda ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisionalisme, materialisme, anarkisme, humanisme, dan spiritualisme hadir dan saling berinteraksi melalui hubungan ideologi kontradiktif, korelatif, dan subordinatif. Materialisme tampak sebagai ideologi dominan pada awal narasi, sementara spiritualisme secara bertahap menjadi ideologi penengah melalui transformasi tokoh utama. Pergeseran ini menunjukkan adanya negosiasi ideologi yang berlangsung melalui mekanisme konsensus alih-alih paksaan sebagaimana konsep hegemoni Gramsci. Penelitian ini menyimpulkan bahwa “God Sees the Truth, But Waits” tidak hanya menampilkan nilai moral dan spiritual, tetapi juga merepresentasikan ideologi kolektif yang mencerminkan pandangan sosial-politik Tolstoy sebagai pengarang.
Women’s Resilience in the Main Character of the Novel Hanauzumi Nesa, Fakhria; Hawa, Andina Meutia
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.737

Abstract

This study examines women’s resilience through the main character in Hanauzumi, a novel by Watanabe Jun’ichi. Employing a narrative approach and feminist literary criticism, the research explores the factors that shape resilience, the forms of resilience displayed by the female protagonist, Ogino Ginko, and the outcomes achieved. The findings reveal that both internal factors, such as trauma and illness, and external factors, including social pressures and societal expectations, shape Ginkgo’s resilience. In confronting these conditions, Ginkgo demonstrates strength through transformations in her appearance and her courage in facing social rejection. Ultimately, she succeeds in fulfilling her aspiration to become a female physician. The character Ogino Ginko in the novel Hanauzumi represents a resilient woman who can confront and overcome both internal pressures, such as trauma and illness, and external pressures in the form of social expectations and gender-based discrimination. The forms of resilience she demonstrates include symbolic identity transformation and the mental fortitude to persevere. Her ultimate achievement as a female physician signifies Ginko’s success in breaking through gender boundaries and proving that women are capable of determining their own life paths. This study highlights the importance of understanding the dynamics of women’s resilience in literary texts as a reflection of their existential struggle against patriarchal cultural dominance.
Refleksi Sosial dalam Cerpen “Sommerhaus, später” dan “Rote Korallen” Karya Judith Hermann Septriani, Hilda; Gantrisia, Kamelia; Hardika, Meilita
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.742

Abstract

Penelitian ini menganalisis cerita pendek “Sommerhaus, später” dan “Rote Korallen” karya Judith Hermann sebagai cerminan kondisi sosial masyarakat Jerman pascareunifikasi. Melalui pendekatan sosiologi sastra, penelitian ini mengidentifikasi tema-tema utama seperti krisis identitas, ketidakpastian masa depan, dan disonansi antara harapan dan kenyataan yang dialami oleh generasi muda pada masa pascareunifikasi, terutama untuk warga Jerman Timur. Adapun teori yang akan membantu untuk menguraikan permasalahan dalam penelitian ini adalah teori yang berkenaan dengan krisis identitas oleh Hall (1993) dan Erikson (1968), disonansi kognitif oleh Festinger (1957), serta konsep Erlebnisgesellschaft oleh Schulze (1992) dan Bauman (2000). Kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang dialami masyarakat Jerman Timur setelah reunifikasi ditunjukkan oleh teks secara tersirat. Melalui kutipan yang terdapat dalam kedua cerita pendek tersebut dapat terlihat gambaran kebingungan dan keterasingan yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya yang saling berkelindan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teks objek penelitian ini tidak hanya merefleksikan pengalaman individu, tetapi juga mencerminkan trauma dan pengalaman kolektif masyarakat Jerman dalam menghadapi perubahan besar yang terjadi pascareunifikasi.
Writing Language in the Public Space of Universitas Andalas Hamidi, Ahmad; Yusuf, Muhammad; Aslinda, Aslinda
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.745

Abstract

This study examines written language errors in public spaces at Universitas Andalas as a response to a linguistic paradox: the international recognition of Indonesian—marked by its designation as an official language of UNESCO—and persistently disordered domestic practices, particularly within higher education contexts. The objectives of the study are to identify the forms and degrees of dominance of linguistic errors and to interpret their implications for language practices and institutional image. Employing a descriptive–analytical approach, the study applies error analysis to 30 data sources containing 151 linguistic errors. The results reveal that orthographic errors are the most dominant, accounting for 73.51% of all cases, followed by lexical choice errors (9.93%), sentence-level errors (5.30%), logical errors (4.64%), and phrase- and clause-level errors, each comprising 3.31%. These findings suggest that linguistic issues in public spaces are predominantly microstructural and technical in nature, reflecting a low adherence to the norms of written Indonesian. This phenomenon suggests a lack of normative awareness among educated communities. The study recommends strengthening the role of academic institutions in monitoring language use in public spaces and utilizing artificial intelligence (AI) technologies in conjunction with human linguistic expertise to enhance the quality of public texts, thereby contributing to the elevation of Indonesian as a national language.
Metafiksi, Memori, dan Otoritas Moral dalam Novel Atonement karya Ian McEwan Prabowo, Bayu Ade; Saniro, Roma Kyo Kae
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.746

Abstract

Novel Atonement karya Ian McEwan menempati posisi penting dalam diskursus sastra kontemporer karena mempertanyakan hubungan antara fiksi, memori, dan tanggung jawab moral melalui strategi metafiksional yang kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana metafiksi, memori, dan otoritas moral berinteraksi dalam novel serta mengkaji implikasi etis dari konstruksi naratif sebagai bentuk penebusan. Penelitian menggunakan desain kajian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, mengintegrasikan teori metafiksi (Waugh, Hutcheon), studi memori (Erll, Nora), dan etika naratif. Analisis dilakukan melalui pembacaan tertutup terhadap enam kutipan inti yang merepresentasikan tiga dimensi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi metafiksional mengonstruksi memori bukan sebagai representasi objektif melainkan sebagai produk dari hasrat untuk menguasai; Briony mengklaim otoritas moral secara sepihak dan totaliter melalui mekanisme miniaturisasi; dan novel secara eksplisit mengkritik legitimasi etis penebusan naratif dengan mengidentifikasi paradoks fundamental bahwa kekuasaan absolut penulis justru menghilangkan kemungkinan penebusan autentik. Signifikansi penelitian ini terletak pada integrasi komprehensif tiga dimensi—metafiksi, memori, dan otoritas moral—yang belum dilakukan penelitian sebelumnya. Implikasinya adalah pemahaman bahwa kemampuan mengontrol narasi tidak sama dengan legitimasi moral, dan penebusan autentik memerlukan dialog dengan perspektif orang lain, bukan konstruksi naratif sepihak.

Page 1 of 1 | Total Record : 6