cover
Contact Name
Hana Ike Dameria Br. Purba
Contact Email
purbahana@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmutiarakesmas@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT
ISSN : -     EISSN : 25278185     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat merupakan jurnal yang memuat tentang ilmu kesehatan masyarakat serta tulisan-tulisan hasil penelitian terkait administrasi kebijakan Kesehatan, epidemiologi, kesehatan dan keselamatan kerja, kesehatan lingkungan, kesehatan reproduksi, biostatistik dan promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Terbit dua kali dalam setahun yakni di bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 243 Documents
PERENCANAAN DAN DISTRIBUSI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN: TANTANGAN, FAKTOR PENENTU, DAN STRATEGI PEMERATAAN Lilis Heri Mis Cicih; Ditia Chrospandi; Endah Sulistyowati; Mila Suryani; Priyo Nugroho; Rinne Yulianti; Saumadin Saumadin; Sujarwo Tribuwono; Willy Johan
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6211

Abstract

Latar belakang: Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) merupakan fondasi utama sistem kesehatan dan penentu keberhasilan pencapaian Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage [UHC]). Meskipun jumlah tenaga kesehatan meningkat, ketimpangan distribusi antarwilayah, antarjenis tenaga, dan antartingkat fasilitas masih menjadi tantangan serius, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakseimbangan ini berdampak pada akses, mutu layanan, dan keadilan kesehatan. Tujuan: mengkaji tantangan, faktor penentu, dan strategi pemerataan dalam perencanaan serta distribusi SDMK guna memperkuat sistem kesehatan. Metode: desain literature review dengan penelusuran sistematis melalui basis data PubMed dan Google Scholar terhadap publikasi 20 tahun terakhir berbahasa Indonesia dan Inggris. Kriteria inklusi mencakup penelitian kuantitatif, kualitatif, mixed-method, studi kebijakan, serta dokumen kebijakan yang relevan dengan perencanaan dan distribusi SDMK. Sebanyak 15 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan pendekatan sintesis tematik secara naratif untuk mengidentifikasi pola tantangan, faktor determinan, dan strategi pemerataan. Hasil: Ketimpangan distribusi SDMK dipengaruhi oleh faktor multidimensional, meliputi preferensi individu, keterbatasan tata kelola, sistem informasi yang belum terintegrasi, ketidaksesuaian produksi dan kebutuhan tenaga, serta lemahnya kebijakan retensi. Strategi efektif meliputi perencanaan berbasis kebutuhan seperti Workload Indicators of Staffing Need (WISN), reformasi pendidikan berbasis komunitas, regulasi penempatan, insentif finansial dan nonfinansial, serta pemanfaatan inovasi seperti task shifting dan telemedicine. Kesimpulan: Pemerataan SDMK memerlukan pendekatan komprehensif dan berbasis bukti yang terintegrasi lintas sektor. Implikasi bagi pengabdian kepada masyarakat mencakup penguatan advokasi kebijakan, pendampingan perencanaan SDMK berbasis beban kerja di daerah, serta edukasi dan kolaborasi komunitas untuk mendukung retensi tenaga kesehatan secara berkelanjutan.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR PADA ANAK TODDLER (USIA 12 – 36 BULAN) DI PUSKESMAS PENEBEL II Desak Gede Yenny Apriani; Desak Made Firsia Sastra Putri; Ni Kadek Juni Antari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.5940

Abstract

Latar belakang: Toddler adalah usia 12 – 36 bulan, disebut golden period. Aspek terpenting proses perkembangan adalah perkembangan motorik kasar. Salah satu faktor mempengaruhi perkembangan motorik kasar yaitu pola pengasuh. Hasil wawancara, bahwa banyak orang tua yang belum paham terhadap pola asuh yang tepat diberikan kepada anak, serta terdapat perbedaan pola asuh orang tua dengan perkembangan motorik kasar pada anak toddler. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan motorik kasar pada toddler (Usia 12 – 36 bulan) di Puskesmas Penebel II.  Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain deskriptif korelatif dengan rancangan cross sectional. Responden dipilih berdasarkaan purposive sampling sebanyak 82 orang dengan menggunakan Kuesioner PSDQ dan KPSP. Menggunakan uji analisis Chi Square. Hasil: Pola asuh orang tua demokratis dengan perkembangan motorik kasar normal 66 orang (100,0%) dan abnornmal 0 (0,0%). Sedangkan pola asuh otoriter dengan perkembangan motorik kasar normal 11 orang (68,8`%) dan abnormal 5 orang (31,3%). Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p value 0,001 (< 0,05). Kesimpulan: Ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan motorik kasar anak toddler (usia 12 – 36 bulan) di Puskesmas Penebel II.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGENDALIAN JENTIK NYAMUK AEDES AEGYPTI DENGAN KEJADIAN DBD Delinawati Delinawati; Rifa Yanti
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.5942

Abstract

Latar belakang: Pada tahun 2024 Di Kecamatan Rengat terdapat 23 kasus DBD hal ini menunjukkan peningkatan dari tahun 2023 dimana terjadi 19 kasus, Untuk mengurangi penyebab DBD perlu dilakukan upaya dalam pengendalian jentik nyamuk dimana hal ini dapat menekan atau mengurangi pertumbuhan atau penyebaran dari nyamuk Aedes aegypti. Tujuan: Mengetahui faktor apa saja yang memiliki hubungan terhadap pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti dengan kejadian DBD di Desa Sungai Guntung Tengah Kecamatan Rengat Provinsi Riau. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional Study yang dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap variabel dependen (kejadian DBD) dan variabel independen (pengetahuan, sikap, tindakan) dalam waktu yang bersamaan, Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Dari penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara              pengetahuan,    Sikap   dan Tindakan terhadap pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti dengan kejadian DBD.Variabel pengetahuan menunjukkan nilai p-value sebesar 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti dengan kejadian DBD. Pada variabel sikap, diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 (p < 0,05), menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sikap masyarakat dalam pengendalian jentik dengan kejadian DBD . Selanjutnya, variabel tindakan juga berhubungan signifikan dengan kejadian DBD, ditunjukkan dengan perolehan nilai p-value sebesar 0,031 (p < 0,05). Kesimpulan: Untuk menghindari penyebaran nyamuk Aedeaegypti Direkomendasikan kepada pihak Desa agar melaksanakan gotong royong berkala, survei jentik mandiri, dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),dan untuk masyarakat diharapkan berperan aktif dalam melaksanakan kebersihan lingkungan.
FAKTOR KONDISI LINGKUNGAN FISIK DAN POLA PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP RISIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Maineldawati Maineldawati; Jufenti Ade Fitri
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.5943

Abstract

Latar belakang: Pada Tahun 2024 Di Kabupaten Kampar terjadi 256 kasus DBD dengan angka kematian sebanyak 3 orang, meningkat dari tahun 2023 sebanyak 148 kasus Lingkungan Fisik merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya DBD dan selain itu faktor dari perilaku masyarakat juga merupakan salah satu penentu dalam penyebaran DBD perlu dilakukan penelitian terhadap faktor lingkungan fisik dan perilaku masyarakt terhadap kejadian demam berdarah dengue (DBD). Tujuan: Mengetahui pengaruh Lingkungan Fisik dan perilaku Masyarakat terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja UPT Puskesmas Bangkinang. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasi analitik dengan menggunakan desain studi case control, Dimana penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan antara dua kelompok yaitu kelompok kasus dan kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi kejadian berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan Hasil: Dari penelitian ini ditemukan adanya pengaruh antara faktor lingkungan fisik suhu udara ruangan, keberadaan jentik nyamuk dan perilaku masyarakat terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Kesimpulan: Karena ditemukan adanya pengaruh dari lingkungan fisik diharapkan kepada masyarakat lebih memperhatikan lingkungan seperti membersihkan tempat penampungan air, tidak menggantung pakaian di sembarang tempat untuk mengurangi frekuensi tempat peristirahatan nyamuk di dalam rumah. Selalu menggunakan obat anti nyamuk saat beraktivitas didalam rumah untuk menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST IMMOBILISASI GIPS FRAKTUR SUPRACONDYLAR HUMERI SINISTRA DENGAN TENS INFRARED DAN EXERCISE Wisnu Candra; Rima Yunitasari; Zuyina Luklukaningsih
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6205

Abstract

Latar belakang: Kasus patah tulang selangka bawah (fraktur supracondylar humeri) sering dijumpai pada pasien anak, khususnya laki-laki (60%) dibandingkan perempuan (40%). Rentang usia 4 sampai 10 tahun menjadi periode paling rentan karena tulang masih dalam fase pertumbuhan (osifikasi). Untuk memulihkan kondisi ini, pemasangan gips pasca-reduksi menjadi opsi penanganan non-bedah yang utama demi menjaga posisi tulang tetap stabil. Tujuan: bertujuan untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada post imobilisasi gips akibat fraktur supracondylar humeri sinistra. Metode: Metode dirancang dengan metode studi kasus di Klinik GFRR Karanganyar, yang berlangsung sejak Desember 2025 sampai Januari 2026. Hasil: Setelah diberikan intervensi sebanyak 6 kali, terdapat perubahan pada. Keluhan nyeri berkurang, meliputi nyeri diam T1=2 menjadi T6=1, nyeri tekan T1=4 menjadi T6=2, dan nyeri gerak T1=5 menjadi T6=2. Fleksibilitas sendi membaik dengan peningkatan lingkup gerak dari T1=S=0°-0-110° menjadi T6=S=0°-0-135°. Kekuatan otot juga meningkat, baik pada kelompok otot fleksor T1=4 menjadi T6=5 maupun ekstensor T1=4 menjadi T6=5. Kondisi ini didukung oleh peningkatan kemampuan fungsional dengan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) dari 37% menjadi 19%. Kesimpulan: Setelah dilakukan 6 kali intervesi fisioterapi, didapatkan hasil adanya penurun nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, adanya peningkatan kekuatan otot serta adanya peningkatan kemampuan fungsional  
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME MENGGUNAKAN MODALITAS TENS MWD DAN TERAPI LATIHAN Annisa Adi Pramesti; Zuyina Luklukaningsih; Rima Yunitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6206

Abstract

Latar belakang: Cervical Root Syndrome kondisi tubuh posisi abnormal akibat tekanan pada akar saraf serviks akibat  trauma pada diskus intervertebralis di leher. Faktornya peradangan,cedera,osteoartritis, gangguan nyeri myofascial,spasme dan proses degeneratif. Prevalensi penderita 16,6% orang berumur mengalami ketidaknyamanan di leher pertahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada wanita. Tujuan: untuk memberikan informasi efektif transcutaneus electrical nerve stimulation, microwave diathermy, dan terapi latihan dalam mengurangi intensitas sakit, meningkatkan lingkup gerak sendi, daya tahan otot, serta memperbaiki aktivitas fungsional. Metode: Metode yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah studi kasus. Data pasien didapatkan melewati anamnesis,pemeriksaan fisioterapi,serta penatalaksanaan fisioterapi dipoli rehabilitasi RSUD Salatiga.Informasi didapatkan dari pasien poli fisioterapi. Hasil: Hasil evaluasi menunjukan adanya perubahan  intensitas sakit, peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional. Kesimpulan: Setelah dilakukan 6 kali terapi dengan modalitas Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation,Microwave Diathermy dan Terapi Latihan menunjukkan perubahan intensitas sakit,peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PASCA REKONSTRUKSI PCL SINISTRA DENGAN TENS INFRARED DAN TERAPI LATIHAN Naufal Luthfi Kurniawan`; Zuyina Luklukaningsih; Rima Yunitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6207

Abstract

Latar belakang: Pasca rekonstruksi PCL merupakan rehabilitatif pascaoperasi pada cedera PCL yang bertujuan mengembalikan fungsi sendi lutut. Setelah operasi, pasien memerlukan penatalaksanaan fisioterapi pada fase awal rehabilitasi untuk membantu mengurangi nyeri, mengurangi keterbatasan gerak, serta meningkatkan fungsi lutut secara bertahap agar pemulihan berlangsung optimal. Tujuan: untuk mendeskripsikan penatalaksanaan fisioterapi pasca rekonstruksi pcl sinistra dengan TENS, Infrared, dan terapi latihan. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pengumpulan data melalui anamnesis, pemeriksaan, dan pelaksanaan fisioterapi. Hasil: Hasil menunjukkan setelah 6 kali terapi terjadi perbaikan. Nilai kekuatan otot fleksor meningkat T0: 2 menjadi T6: 3, sedangkan otot ekstensor T0: 3 menjadi T6: 4. Rentang luas gerak sendi meningkat dari S: 0°–0°–70° menjadi 0°–0°–100°. Nyeri juga mengalami penurunan, yaitu nyeri saat posisi diam T0: 5 menjadi T6: 2, nyeri saat ditekan 7 menjadi 4, dan nyeri saat bergerak dari 8 menjadi 5. Kemampuan fungsional meningkat dari 13,4% gangguan berat menjadi 61,5% gangguan ringan. Kesimpulan: kombinasi TENS, Infrared, dan terapi latihan pada pasien pasca rekonstruksi PCL dapat memberi manfaat untuk meningkatnya nilai kekuatan otot, meningkatkan gerak sendi, mengurangi nyeri, serta memperbaiki kemampuan aktivitas fungsional
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA BELL’S PALSY SINISTRA DENGAN INFRARED TENS DAN TERAPI LATIHAN Muhammad Fatihul Huda; Zuyina Luklukaningsih; Rima Yunitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6208

Abstract

Latar belakang: Bell’s palsy yaitu suatu kelumpuhan saraf facialis perifer yang muncul dengan tiba-tiba, biasanya bersifat unilateral yang menyerang pada Nervus fascialis (N.VII). Prevalensi bell’s palsy berkisar 22,4 hingga 22,8 kasus per 100.000 orang setiap tahunnya. Tujuan: mendeskripsikan penatalaksanaan dan hasil fisioterapi menggunakan Infrared (IR), TENS, dan terapi latihan pada pasien Bell's Palsy di Poli Instalasi Rehab Medik Rumkit Tk. II dr. Soedjono Magelang. Metode: metode studi kasus tunggal dengan pengumpulan data melalui anamnesis, asesmen, dan manajemen fisioterapi. Intervensi yang diberikan berupa Infrared (IR), TENS, dan terapi latihan mirror exercise. Hasil Setelah dilakukan 6 kali terapi didapatkan hasil adanya peningkatan emampuan fungsional pada posisi diam T0=6 menjadi T6=20,mengerutkan dahi T0=3 menjadi T6=7, menutup mataT0=21menjadi T6=30,tersenyum T0=9 menjadi T6=21,bersiul T0=3 menjadi T6=10. Adanya peningkatan nilai kekuatan otot pada M. frontalisT0=1 menjadi T6=3, M corrugator supercili T0=1 menjadi T6=3, Mprocerus T0=1 menjadi T6=3, M orbicularis oris T0=3 menjadi T6=5, M nasalis T0=3 menjadi T6=5, M.depressorangulioris T0:3 menjadiT6=5,Mzygomaticummayor T0=3 menjadi T6=5,Mplatysma T0=3 menjadi T6=5, Morbicularis oris T0=3 menjadi T6=5, Mbuccinators T0=1 menjadi T6=3, M mentalis T0=1menjadiT6=5,Mdepressorlabii inferiorT0=3 menjadi T6=5 Kesimpulan: Setelah dilakukan intervensi fisioterapi sebanyak 6 kali terapi didapatkan hasil terdapat peningkatan kemampuan fungsional, terdapat peningkatan nilai kekuatan    otot, dan terdapat penurunan spasme otot.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK USIA SEKOLAH (6–12 TAHUN) DI PUSKESMAS BATOH KOTA BANDA ACEH Devi Satul Hajar; Tahara Dilla Santi; Dharina Baharuddin
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6209

Abstract

Latar belakang: Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada anak usia sekolah di negara berkembang seperti Indonesia. Puskesmas Batoh, kasus meningkat dari 250 pada 2023 menjadi 258 pada 2024. Kejadian diare dipengaruhi oleh kebersihan pribadi, sanitasi lingkungan, dan pengetahuan ibu. Tujuan: untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak usia sekolah (6–12 tahun) di wilayah kerja Puskesmas Batoh Kota Banda Aceh. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden yang terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi linier berganda. Hasil: analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel sanitasi lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare (p-value = 0,005; OR = 8,046), sedangkan variabel personal hygiene (p-value = 0,071; OR = 3,689) dan pengetahuan ibu (p-value = 0,056; OR = 3,897) tidak berpengaruh signifikan setelah dikontrol bersama variabel lainnya. Kesimpulan: sanitasi lingkungan merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian diare pada anak usia sekolah (6–12 tahun).
ANALISIS DETERMINAN YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP KEJADIAN PREDIABETES DI TAZKIYA LEARNING CENTER Fayza Aulia Azhar; Annisa Tazkiya Muenchenia Moelyadi; Mirzani Herfina; Nisrina Khalisa Zahira; Siti Maulida; Putri Novitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6261

Abstract

Latar belakang: Pada tahun 2023, kejadian diabetes di kabupaten Bandung menduduki peringkat pertama penderita terbanyak. Risiko kejadian diabetes dapat diasosiasikan dengan angka prediabetes. Adapun faktor - faktor gaya hidup, pola makan yang kurang baik, genetik, dan komposisi tubuh mempengaruhi kejadian prediabetes. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi dengan kejadian prediabetes pada pekerja usia produktif di sekolah Tazkiya Learning Center Kabupaten Bandung. Metode: Penelitian  kuantitatif  dengan  pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian didapatkan melalui teknik purposive sampling dengan jumlah 27 orang. Analisis data primer dengan melakukan analisis univariat dan bivariat. Uji statistik menggunakan uji chi-square Hasil: Keseluruhan nilai p-value tiap variabel >0.05 yang menunjukan tidak adanya hubungan signifikan. IMT dengan p-value 1 (p>0.05), usia dengan p-value 0.075 (p>0.05), tekanan darah dengan p-value sebesar 0.596 (p>0,05), riwayat DM keluarga dengan p-value sebesar 1 (p>0,05), aktivitas fisik dengan p-value sebesar 0.869 (p>0,05), konsumsi buah dan sayur dengan p-value 1 (p>0.05), makanan dan minuman manis dengan p-value 0.594 (p>0.05), makanan berlemak dengan p-value 1 (p > 0.05), dan minuman berenergi dengan p-value 1 (p > 0.05). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian dan hasil uji statistik, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan kejadian prediabetes pada pekerja usia produktif di Tazkiya Learning Center.