cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,859 Documents
Analisis Kaidah Kebahasaan Utas (Thread) pada Media Sosial X sebagai Bentuk Pemanfaatan Bahan Ajar Teks Eksposisi Chaira Fatmala Dewi; Aceng Ruhendi Saifullah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/ycxdgv39

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kaidah kebahasaan yang terdapat pada berbagai thread (utas) media sosial X menggunakan teori teks eksposisi yang dikemukakan oleh Kosasih (2014). Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling. Peneliti mengumpulkan data sebanyak 8 thread yang dikelompokkan dalam 4 tema besar (sains, pendidikan, sosial, pengembangan diri). Dari hasil penelitian ini, peneliti menemukan enam kategori kaidah kebahasaan yang sesuai dengan teori teks eksposisi Kosasih (2014), yaitu pernyataan persuasif, pernyataan bersifat kritis, pernyataan pendukung fakta, istilah teknis, penggunaan konjungsi (khususnya konjungsi temporal), serta kata kerja mental. Selain itu, hasil penelitian ini pun mengemukakan kaidah kebahasaan baru, yaitu penggunaan bahasa di media sosial yang cenderung dinamis dan tidak baku. Hasil analisis kaidah kebahasaan pada beberapa thread di aplikasi X dapat dimanfaatkan sebagai rancangan bahan ajar teks eksposisi. Rancangan bahan ajar berbentuk modul ini harapannya dapat dimanfaatkan oleh siswa saat belajar mandiri tanpa pendampingan guru. Simpulan penelitian ini membuktikan bahwa berbagai thread bertema tertentu di media sosial X memiliki kaidah kebahasaan yang sesuai dengan teori teks eksposisi dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai rancangan bahan ajar berupa modul.
Kajian Sosiolinguistik terhadap Interferensi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia di Podium Nasional: Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Yona Tirta Sari; Hendrokumoro, Hendrokumoro
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/vx5gsq88

Abstract

Indonesia memiliki banyak bahasa. Menurut data yang tercatat di Ethnologue saat ini terdapat 713 bahasa di Indonesia yang satu di antaranya yaitu bahasa Jawa (Eberhard, Simons, & Fennig, 2023). Penggunaan bahasa Jawa di Yogyakarta sangat lestari. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan data yang tercatat di Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa persentase penduduk usia10 tahun ke atas yang menggunakan bahasa daerah di DIY yaitu 91.44% (Badan Pusat Statistik, 2024). Sementara itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 pasal 28  menyebutkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri (Pemerintah Republik Indonesia, 2009). Dalam pidato kenegaraan, presiden wajib menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar tidak terjadi interferensi. Interferensi terjadi karena pengaruh besar bahasa ibu sehingga dalam berujar terucap kode-kode dari bahasa ibunya (Rahardi, 2010). Namun demikian, dalam praktinya, penutur bahasa tidak selalu terlepas dari kemungkinan terjadinya interferensi, sehingga menarik untuk dikaji keberadaan interferensi dalam video pidato perdana Presiden Prabowo untuk mengidentifikasi jenis interferensi serta faktor sosial yang memengaruhi terjadinya interferensi dalam pidato Presiden Prabowo tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Peneliti mengumpulkan data dengan teknik simak, catat, dan studi pustaka lalu menganalisisnya menggunakan teknik agih BUL (Sudaryanto, 2015). Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk interferensi serta mengklasifikasikannya berdasarkan jenis-jenis interferensi (Chaer & Agustina, 2004), lalu dijelaskan menggunakan teori internal bunyi (Anttila, 1989). Pada bab dua, analisis dilakukan dengan menemukan faktor sosial yang memengaruhi terjadinya interferensi menggunakan teori dimensi sosial (Holmes, 2013). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan interferensi fonologis, morfologis, dan morfofonologis bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada pidato perdana Presiden Prabowo. Faktor sosial yang memengaruhi interferensi tersebut dapat terjadi yaitu skala jarak sosial, skala status sosial, dan skala fungsionalitas.
Fenomena Pembelajaran Puisi di SMA Negeri 1 Makassar Sumiati, Sumiati; Mantasiah, Mantasiah; Juanda, Juanda; Afandi, Iswan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/p62qm016

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan fenomena pembelajaran puisi di SMAN 1 Makassar, dengan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran puisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi fenomena pembelajaran puisi secara holistik dalam konteks Kurikulum Merdeka. Fenomena pembelajaran puisi tergambar dari persepsi peserta didik tentang pembelajaran puisi, pengalamanan belajar peserta didik dan kontribusi guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan penelitian selanjutnya pelaksanaaan penelitian pembelajaran  dapat dikembangkan dengan penelitian yang berfokus pada strategi pembelajaran untuk pengembangan pembelajaran puisi di SMA. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa persepsi peserta didik 7,1% memahami puisi, 35,7% peserta didik kesulitan dalam menafsirkan, 28.6% peserta didik kesulitan dalam memaknai lambang dan 28.6% kesulitan dalam menulis puisi. Pengalaman belajar menggambarkan 53,6% peserta didik termotivasi oleh diri sendiri,  ada  17,9% termotivasi oleh orang lain namun masih ada 28,6% peserta didik yang tidak pernah menulis puisi. Dari aspek kontribusi guru ternyata 60,7% responden menjawab bahwa guru selalu memberi umpan balik dalam belajar, dan sebanyak 21,4% menjawab kadang-kadang. Sebanyak 14,3% peserta didik menjawab pernah. Sementara yang menjawab  tidak pernah sebanyak 3,6%. Keadaan ini mengindikasikan bahwa peran guru dan peserta didik memegang peranan penting dalam pembelajaran puisi. Penelitian ini bisa memberi kontribusi  bagi terciptanya pembelajaran puisi yang berdampak pada peserta didik yang literat, kritis han kreatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif untuk mendeskripsikan fenomena pembelajaran puisi secara holistik.
Directive Speech Acts In Trilingual Students' Classroom Interactions At Pondok Modern Al-Aqsha Wulan Sri Ratna Diva Pratiwi; Cipto Wardoyo; Agry Pramita
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/dmwcf466

Abstract

The evolution of Indonesian Islamic boarding schools (pesantren) toward a trilingual education model (Arabic, English, and Indonesian) has created a complex communicative landscape in which directive speech acts serve as a primary pedagogical tool. This study aims to: (1) identify the types of directive speech acts employed in trilingual classroom interactions at Pondok Modern Al-Aqsha; (2) analyze their pragmatic functions in teacher-student and student-student interactions; and (3) examine how these functions differ between Arabic-dominant Islamic studies lessons and Indonesian/English-dominant general education lessons. Adopting a qualitative descriptive approach with a sociopragmatic lens, data were collected from 12 hours of non-participant observations, audio-visual recordings, and semi-structured interviews with three subject teachers and approximately 90 junior high school students (Grades 7–9) at Pondok Modern Al-Aqsha. Data were analyzed using Searle’s (1979) directive taxonomy and Miles and Huberman’s (1994) interactive flow model, with researcher triangulation and data source triangulation (inter-rater reliability: Cohen’s Kappa = 0.87) applied to ensure credibility. Seven directive types were identified commanding (38%), requesting (22%), suggesting (12%), inviting (10%), prohibiting (8%), begging (6%), and advising (4%) distributed unevenly across languages. Commands and prohibitions dominated Arabic-medium Islamic studies (42% of all directives), while requests, suggestions, and invitations predominated in English and Indonesian general education lessons (58%). Peer directives were genuinely trilingual, with Indonesian as the primary medium (61%). The study concludes that directive speech acts at Pondok Modern Al-Aqsha perform a “dual-identity” function, balancing traditional religious authority with modern pedagogical facilitation, demonstrating that pragmatic competence is essential for effective multilingual educational communication.
Authorial Stance in Government News on Social Media Age Restrictions: A Comparative Analysis of Indonesian and English Discourse Afriliani, Afriliani
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/282z8g56

Abstract

This study examines how epistemic stance is linguistically realized across two institutional genres addressing children's digital protection: an Indonesian government policy corpus (Data A, 908 words) and an Australian research report (Data B, 1,490 words). Employing a quantitative corpus-based discourse analysis, the study identifies and compares the distribution of epistemic stance markers across three analytical categories, namely cognitive attitude, epistemic modality, and epistemic justification, developed inductively from the data. The findings reveal a striking asymmetry in both density and distribution: the policy corpus deploys markers at nearly three times the rate of the research corpus (89.21 vs. 32.89 per 1,000 words), with cognitive attitude dominating at 58% of policy markers, while epistemic justification accounts for 84% of research markers. These results indicate that the two corpora construct institutional authority through fundamentally different epistemic logics, with the policy text commanding through normative evaluation and deontic assertion, and the research report persuading through evidential accountability and methodological transparency. The study contributes to cross-genre discourse analysis by demonstrating that comparative examination of institutional texts addressing the same social issue can reveal epistemic patterns invisible in single-genre studies, and affirms that stance is always shaped by communicative purpose, audience design, and institutional ideology.
Representasi Model Perma Martin Seligman dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu Karya J.S Khairen: Kajian Antro-Psikosastra Nur Ratmi; Agustan, Agustan; Ulinsa, Ulinsa; Gazali, Gazali; Juniati, Juniati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/0kdybn08

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi model PERMA Martin Seligman dan menjelaskan fungsinya dalam membangun kesejahteraan psikologis tokoh-tokoh dalam novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen melalui perspektif antro-psikosastra. Pendekatan antro-psikosastra digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara dimensi psikologis dan nilai-nilai budaya Minangkabau yang melandasi perilaku tokoh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik baca-catat dan dokumentasi terhadap teks novel serta analisis data berdasarkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima elemen model PERMA, yaitu Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, dan Accomplishment, direpresentasikan secara jelas melalui tindakan, dialog, dan pengalaman batin tokoh utama. Nilai-nilai budaya seperti religiusitas, kerja keras, cinta keluarga, dan tanggung jawab sosial berperan penting dalam membentuk kesejahteraan psikologis tokoh. Model PERMA dalam novel ini berfungsi untuk menegaskan bahwa kebahagiaan manusia tidak hanya bersifat individual, tetapi juga merupakan hasil interaksi antara aspek emosional, sosial, dan kultural. Kajian ini memperluas penerapan teori psikologi positif dalam konteks sastra Indonesia dan memberikan pemahaman bahwa kesejahteraan psikologis bersifat kontekstual serta berakar pada kearifan lokal.
Pengembangan Media Big Book Berbasis Kearifan Lokal Ibu Kota Nusantara untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Ruslan, Ruslan; Wahyu Sukartiningsih; Hendratno, Hendratno
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/vvj4t512

Abstract

Kemampuan membaca pemahaman merupakan keterampilan dasar yang penting bagi siswa sekolah dasar, namun pembelajaran yang masih konvensional dan kurangnya media yang menarik menyebabkan rendahnya minat serta pemahaman siswa. Selain itu, bahan bacaan belum banyak mengintegrasikan kearifan lokal yang dekat dengan kehidupan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghasilkan media Big Book bermuatan kearifan lokal Ibu Kota Nusantara yang valid, 2) mengetahui kepraktisannya, dan 3) menguji keefektifannya dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SD Negeri 024 Sepaku. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Subjek penelitian adalah 20 siswa kelas V. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, angket, dan tes membaca pemahaman. Analisis data dilakukan melalui uji validitas, kepraktisan, dan keefektifan menggunakan perbandingan hasil pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :1) Pengembangan media Big Book berbasis kearifan lokal dengan menggunakan model ADDIE telah memenuhi kriteria untuk diuji cobakan pada siswa kelas V. 2)Media Big Book berbasis kearifan lokal dinyatakan layak digunakan sebagai sarana penanaman nilai karakter siswa. Hal ini dibuktikan melalui hasil penilaian oleh ahli media yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 3,3 dengan kategori sangat valid, serta hasil penilaian oleh ahli materi yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 2,6 dengan kategori valid. Selain itu, hasil angket respon siswa menunjukkan persentase ketuntasan belajar sebesar 80% dengan kategori baik, yang menandakan respon positif terhadap penggunaan media. 3)Penanaman nilai karakter melalui penggunaan media Big Book berbasis kearifan lokal difokuskan pada dua nilai karakter utama, yaitu gemar membaca dan nilai kesopanan. Proses penanaman nilai karakter dilakukan melalui metode pembiasaan dan keteladanan, sehingga nilai-nilai karakter tersebut dapat berkembang dalam diri siswa.
German and Indonesian Politeness Strategies: A Contrastive Study and Its Pedagogical Implications for German Language Teaching Ending Khoerudin; Putrasulung Baginda; Dani Hendra
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hpm61n44

Abstract

This study investigates politeness strategies represented in the German textbook Netzwerk A1 and contrasts them with documented Indonesian politeness norms to explore their pedagogical implications for German language teaching in Indonesia. Grounded in contemporary politeness theory and contrastive pragmatics, the research employs a qualitative descriptive design based on systematic document analysis. Dialogic interactions in the textbook were examined to identify patterns of directness, grammatical mitigation, hierarchical encoding, lexical politeness markers, and the use of Konjunktiv II. A micro-contrastive analysis of representative request forms further illustrates divergences between German structurally direct but grammatically mitigated formulations and Indonesian relationally oriented, lexically mediated politeness strategies. Interpreted through the distinction between pragmalinguistic and sociopragmatic dimensions, the findings reveal that differences extend beyond linguistic structure to culturally grounded evaluations of appropriateness and hierarchy. These divergences highlight potential areas of pragmatic transfer among Indonesian learners of German. This study contributes to the field of pragmatics by expanding contrastive analysis beyond English-centered paradigms and by providing a multi-layered account of politeness that integrates structural, lexical, and grammatical dimensions. The findings also offer pedagogical insights for developing intercultural pragmatic competence in German language teaching.
Pengaruh Metode Brainstorming terhadap Creative Thingking Skill Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SDN Genuk 01 Ungaran Barat Kabupaten Semarang Eka Rizki Ardani; Atrianing Yessi Wijayanti; Nimas Puspitasari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hdnmzj68

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dampak penerapan metode brainstorming terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Genuk 01, Ungaran Barat. Latar belakang masalah dalam studi ini adalah terbatasnya kecakapan siswa dalam mengonstruksi ide secara lancar, fleksibel, orisinal, serta mendalam. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif melalui desain one-group pretest–posttest. Seluruh populasi yang berjumlah 28 siswa diambil sebagai sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen tes esai yang mencakup empat indikator berpikir kreatif. Prosedur analisis data melibatkan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis paired sample t-test. Temuan penelitian menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000 (< 0,05). Hal ini membuktikan adanya perbedaan capaian yang nyata antara skor pretest dan posttest, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode brainstorming efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.