cover
Contact Name
Dody Candra Harwanto
Contact Email
dcharwanto@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dcharwanto@gmail.com
Editorial Address
Jalan Diponegoro 233 Ungaran, Jawa Tengah
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja
ISSN : 25797565     EISSN : 26851253     DOI : 10.37368
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Abdiel merupakan kumpulan artikel ilmiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Musik Gereja. Jurnal ini sangat terbuka untuk menjadi wadah bagi para dosen, peneliti, dan mahasiswa dalam melatih dan mengembangkan budaya akademik sesuai dengan bidang Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Musik Gereja.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Melampaui Antropocentrism: Ekoteologi dan Etika Lingkungan dalam Dialog, Sebuah Pendekatan Interdisipliner Untuk Keberlanjutan dan Keadilan Ekologis Sumule, Linus
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 8 No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i2.625

Abstract

The current ecological issue has become a global challenge, one of the triggers of the current ecological issue is the human understanding that considers itself superior and anthropocentric. Responding to these fundamental problems needs to be addressed for the future sustainability of the earth. Interdisciplinary theology is present as an approach that bridges one or more disciplines to direct global issues that are being wrestled with. This research uses descriptive qualitative methods, collection and development of information through literature studies to answer the problem formulation being studied. The description contains ecological problems and interdisciplinary dialogues between eco-theology and environmental ethics to direct anthropocentric attitudes as the root of ecological problems. This research aims to provide new breakthroughs towards sustainability and ecological justice. The results of the study show that interdisciplinary theology provides a relevant and profound foundation for facing ecological challenges and shifting the human paradigm as a ruler of nature towards a wise and sustainable attitude.
Menguak Esensi Kemerdekaan: Menafsir Galatia 5:1-26 Menggunakan Lensa Kasampurnan Syekh Siti Jenar Say, Eby
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 8 No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i2.695

Abstract

Tulisan ini hendak menggumuli teks dalam Surat Galatia 5:1-26 seputar pesan Paulus kepada jemaat di Galatia yang tengah mengalami kebimbangan iman. Jemaat di Galatia terombang-ambing dan mudah dipengaruhi oleh ajaran yang Paulus anggap tidak sesuai dengan prinsip hidup bagi orang yang sudah dimerdekakan oleh Kristus. Namun demikian, berkaitan dengan dimerdekakan oleh Kristus juga menjadi persoalan hermeneutis karena dalam pesannya kepada jemaat di Galatia. Paulus tidak mengelaborasi berkaitan dengan kemerdekaan yang dimaksudnya. Dalam pada itu, penulis akan menggali dimensi spiritual yang terkandung dalam Surat Galatia 5:1-26 untuk mendapat pengayaan makna. Langkah penafsiran yang penulis kerjakan adalah dengan menggunakan salah satu metode hermeneutik yang dikenal dengan istilah teknis seeing through. Adapun lensa yang penulis gunakan berasal dari konsep yang terdapat pada tradisi religius lain dalam hal ini Islam-Jawa, yaitu ajaran kasampurnan Syekh Siti Jenar. Hasilnya, melalui lensa tersebut penulis memahami bahwa dimerdekakan oleh Kristus berarti Allah telah menyingkapkan diri kepada umat-Nya namun demikian umat-Nya memiliki tanggung jawab untuk menginternalisasi dan mengalami transformasi dari peristiwa penyingkapan tersebut. Bagi orang yang sudah memahami esensi kemerdekaan dalam Kristus, maka hidupnya akan dipimpin oleh Roh yaitu Roh al-Haqq yang bersemayam dalam relung jiwanya hingga kemudian orang tersebut mampu menghasilkan buah Roh, mampu memilah yang fana dan baka serta tidak dipusingkan lagi dengan syariat agama. This paper explores the text in Galatians 5:1-26 about Paul's message to the Galatians who were experiencing wavering faith. The Galatians were swayed and easily influenced by teachings that Paul deemed incompatible with the principles of life for people who have been set free by Christ. However, being set free by Christ is also a hermeneutical issue because in his message to the Galatians. Paul does not elaborate on freedom. In this regard, this article attempts to explore the spiritual dimension contained in Galatians 5:1-26 to gain enrichment of meaning. The interpretive step that this article takes is to use one of the hermeneutic methods known as the technical term seeing through. The lens that this article uses comes from the concept found in other religious traditions, in this case Islamic-Javanese, namely the kasampurnan teachings of Sheikh Siti Jenar. As a result, through this lens this article understands that being liberated by Christ means that God has revealed Himself to His people, however, His people have the responsibility to internalize and experience the transformation of the revelation event. For people who have understood the essence of freedom in Christ, then their lives will be led by the Spirit, namely the Spirit of al-Haqq who dwells in the recesses of their souls until then the person is able to produce the fruit of the Spirit, able to sort out the mortal and the immortal and no longer bother with religious law.
Pembacaan Poskolonial Lukas 10:25-37 dengan Kerangka Berpikir Edward Said dan Implementasinya terhadap Pelayanan Gereja di Tengah Marginalisasi Rasial di Indonesia Sulistiyanto, Nehemia
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 8 No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i2.713

Abstract

Memasuki abad ke-21 penelitian Alkitab sebagai teks poskolonial menjadi langkah yang perlu digumulkan oleh gereja. Hal ini dikarenakan adanya paradigma kolonial yang masih mengakar di dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia. Meskipun secara politik Indonesia telah bebas dari kolonialisasi, tetapi secara sosial masyarakat Indonesia masih terkooptasi oleh prinsip-prinsip kolonialisme. Salah satunya adalah marginalsiasi rasial. Melalui artikel ini, penulis berharap dapat menghadirkan nilai poskolonial dari Lukas 10:25-37 guna melepaskan kekangan kolonialisme yang berejawantah dalam bentuk marginaliasi rasial tersebut. Penulis akan melakukan kajian terhadap Lukas 10:25-37 dengan metode berpikir Edward Said tentang oposisi biner. Oposisi biner adalah teori sosial yang diciptakan oleh penjajah terhadap jajahan dalam praktek kolonisasi. Berangkat dari kajian tersebut, penulis akan berfokus pada penemuan nilai-nilai poskolonial dari tokoh dan alur cerita Lukas 10:25. Setelah menemukan nilai-nilai poskolonial dari teks, penulis akan mengimplementasikan nilai tersebut dalam konteks pelayanan gereja di tengah marginalisasi rasial di Indonesia.
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM ERA AI: MENGGUNAKAN KECERDASAN BUATAN UNTUK PERSONALISASI PEMBELAJARAN SPIRITUAL Waruwu, Yamotani
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 8 No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i2.786

Abstract

The digital era and the emergence of Artificial Intelligence (AI) have presented a significant shift in teaching methods, including in the realm of Christian Religious Education (PAK). This article explores the integration of AI in PAK, with a focus on personalizing spiritual learning. Using a qualitative method with a literature study approach, this study analyzes current sources to understand the potential and challenges of using AI in the context of spiritual education. The results of the study show that AI offers significant opportunities to improve the quality and effectiveness of PAK through personalized learning, deeper analysis of religious texts, and wider access to educational resources. However, the application of AI also presents ethical challenges, including concerns about data privacy, the potential erosion of relational aspects in education, and the risk of widening the digital divide. The study emphasizes the importance of a balanced approach to integrating AI, which involves training educators, developing ethical frameworks, and ongoing theological reflection. In conclusion, while AI has transformative potential in PAKs, its application must be done carefully to ensure that technology supports, not replaces, important aspects of Christian religious education, including authentic character building and spiritual growth.
Inkarnasi Allah sebagai Mahkota Sejati Ciptaan dalam Teologi Maximus the Confessor Pranoto, Minggus Minarto
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 8 No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i2.808

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep inkarnasi Kristus sebagai mahkota sejati ciptaan dengan membangun argumentasinya didasarkan pada pengajaran Maximus tentang dyothelitism. Metode yang dipakai dalam artikel ini melalui studi literatur atau pustaka dengan menjelaskan pokok-pokok pemikiran teologi Maximus tentang relasi dua kehendak Yesus Kristus dalam beberapa karya tulisannya. Dyothelitism berbicara mengenai kesatuan kehendak Ilahi dan manusiawi secara harmonis di dalam diri Yesus Kristus. Kehendak manusiawi-Nya ditundukkan kepada kehendak Ilahi menjadikan inkarnasi Yesus Kristus ke dalam ciptaan sebagai mahkota sejati ciptaan. Ia contoh bagi ciptaan lainnya bagaimana seharusnya berelasi dan berpusat kepada Allah. Yesus Kristus menjadi perantara relasi kembali antara Allah dan ciptaan. Keselamatan dinyatakan melalui karya inkarnasi tersebut.
NON-CANONICAL REFERENCE IN NEW TESTAMENT WRITINGS Yong, Steven
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 9 No 1 (2025): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v9i1.791

Abstract

This paper investigates the use of non-canonical references in New Testament writings. Although the 27 books from Matthew to Revelation are widely accepted as authoritative and canonical, the epistle of Jude includes quotations from non-canonical sources, specifically the Apocryphal Book of Enoch and the Assumption of Moses. This raises important questions about the integration of non-canonical texts within canonical scripture. Through a literary analysis approach, this study examines the background of the quotation in Jude 9 from the Assumption of Moses, explores the debates surrounding this apocryphal text, and assesses the implications of incorporating non-canonical works into canonical texts. The paper aims to determine whether Jude’s authoritative status is affected by its use of such sources and to reevaluate the criteria for canonical acceptance in light of these practices.
Eksplorasi Teologi Interkoneksi: Mengintegrasikan Iman dan Ilmu Pengetahuan dalam Diskursus Kristen Kontemporer Gulo, Rezeki Putra; Zai, Nikarni
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 9 No 1 (2025): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v9i1.815

Abstract

Penelitian ini menyoroti teologi interkoneksi sebagai respon atas tantangan epistemologis dalam integrasi iman Kristen dan ilmu pengetahuan; sebagai upaya mengatasi konflik dikotomis tradisional. Berfokus pada paradigma yang lebih dialogis, penelitian ini menggali bagaimana iman dan sains dapat saling memperkaya, dengan latar belakang perubahan historis dari pandangan konfrontatif menuju kolaboratif dalam ranah keilmuan dan spiritual. Dengan metode kualitatif berbasis tematik, penelitian ini menganalisis literatur terkait integrasi teologis dan ilmiah, mengeksplorasi pola utama yang menggambarkan relasi dinamis antara wahyu Alkitab dan temuan ilmiah. Studi ini memperkenalkan konsep baru dalam diskursus Kristen yang memungkinkan iman dan sains bekerja sama tanpa mengabaikan batas epistemologis masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi interkoneksi membuka ruang dialog yang lebih harmonis, menawarkan landasan apologetis yang kokoh untuk menghadapi tantangan modern serta memperkuat pemahaman Kristen tentang peran ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk memahami kebesaran Tuhan dalam ciptaan-Nya.
Esther: Pembentukan Karakter Melalui Keberanian Dan Iman Dalam Perspektif Teologi Dan Konteks Kontemporer Mooy, Drisandri Bidrawati; Lesmana, Yeffry Hendra
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 9 No 1 (2025): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v9i1.820

Abstract

Kisah Esther dalam Alkitab memberikan wawasan mendalam tentang keberanian, iman, dan kepemimpinan, yang tetap relevan dalam konteks kehidupan Kristen modern. Melalui keberanian Esther dalam menghadapi raja Ahasyweros, kita diajak untuk mengatasi tantangan rohani dan berdiri teguh dalam iman, meskipun dihadapkan pada situasi yang tidak mendukung. Pembentukan karakter Kristen sangat bergantung pada iman yang aktif, yang mendorong tindakan nyata berdasarkan keyakinan akan rencana Tuhan yang baik. Selain itu, studi perbandingan dengan tokoh Alkitab lain, seperti Daniel dan Musa, menunjukkan bahwa tema keberanian dan kepemimpinan adalah panggilan bagi setiap orang percaya untuk bertindak demi kebaikan bersama. Dengan menghidupkan iman dalam tindakan nyata, kisah Esther menjadi panduan bagi kita untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan dalam masyarakat.
Khotbah sebagai Karya Teologis: Meninjau Pentingnya Pengajaran Iman dalam Praksis Khotbah Masa Kini Blegur, Romelus
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 9 No 1 (2025): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v9i1.828

Abstract

Preaching is an important means for the growth of the congregation's faith, because through it the word of God is proclaimed. Based on that, the preaching service must be actualized properly as a forum for serving the word of God. The challenge of today's sermons is the emergence of sermons that arouse the psychology of the listener and are full of humanist messages without theological depth. Such sermons tend to be entertaining and do not prepare the faith of the congregation and believers to face today's doctrinal challenges. This problem must be addressed by returning the sermon to its substance. One important offer to address this problem is to make sermons a theological work in which the Christian faith can be taught. The method used in this research is the library method through literary sources, both books and scientific journal articles. The results of this research are, first. Preaching is an important service that supports the existence of the church because through it the word of God is preached and builds the faith of the congregation. Second, the challenge of contemporary preaching that deviates from its objectives is a reality that cannot be ignored, therefore it must be addressed. Third, the sermon should be a theological work, because through it Christian doctrines are taught as a solid foundation for the congregation's faith both cognitively and practically in facing today's challenges.
Analisis Tematik Kisah Emosional Ayub dan Usulan Implementasi dalam Penanganan Penderita Ziliwu, Alnodus Jamsenjos Indirwan; Sualang, Farel Yosua
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 9 No 1 (2025): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Harapan untuk kehidupan bebas penderitaan dan kenyataan tak terhindarkan dari penderitaan diperkenalkan melalui kisah Ayub, dengan penekanan pada konsep literatur emosional dalam Alkitab. Penelitian menggunakan metode analisis tematik dengan pendekatan kualitatif untuk memahami secara mendalam aspek emosional terkait dengan penanganan penderitaan dalam naratif Ayub. Tujuan penelitian adalah mengungkap bagaimana Ayub berhasil mengatasi aspek emosional yang dialaminya, termasuk pemikiran tidak realistis, kebingungan, perasaan ditolak, takut, dan kesusahan. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga prinsip yang dipegang oleh Ayub untuk mengatasi penderitaannya: pemahaman bahwa Allah mengatur segala sesuatu, keyakinan bahwa dirinya tidak salah dan tidak seharusnya mengalami penderitaan ini, serta kesabaran Ayub dalam menunggu pertolongan dari Allah.