cover
Contact Name
Wahyudi Rahmat
Contact Email
wahyudirahmat24@gmail.com
Phone
+6285664494180
Journal Mail Official
wahyudirahmat24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Daksinapati Barat 4, RT.11/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26854147     DOI : https://doi.org/10.26499/bahasa
Focuses on publishing the original research articles, review articles from contributors, and the current issues related to language and literature education, linguistics and literature.
Articles 160 Documents
Fungsi dan Pandangan Hidup Manusia dalam Babasan dan Paribasa Sunda Hidrologis Kurniasih, Nia; Sudaryat, Yayat; Nurjanah, Nunuy
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1496

Abstract

The purpose of this study is to examine the function and outlook of the Sundanese people as reflected in the Sundanese babasan and paribasa containing hydrological aspects. This study uses a qualitative descriptive method with content analysis to identify and interpret the meanings contained in the babasan and paribasa expressions. The results show that Sundanese babasan and paribasa related to water (hydrology) not only function as a means of communication, but also as a guide to morals, ethics, and a philosophy of life. Various proverbs such as "cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok" which means water dripping continuously on a stone eventually becomes a hollow, reflect the Sundanese people's understanding of perseverance, patience, adaptation, and sustainability. These expressions also describe the harmonious relationship between humans and nature, especially water, which is considered a source of life and a symbol of purity. Thus, Sundanese babasan and paribasa with hydrological elements function as heirs of local wisdom that shape the character and perspective of the Sundanese people towards life, nature, and social values. Understanding these aspects is important for preserving cultural heritage and understanding the roots of Sundanese thought. Abstrak Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengkaji fungsi dan pandangan hidup masyarakat Sunda yang tercermin dalam babasan dan paribasa Sunda yang mengandung aspek hidrologis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis isi untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi makna-makna yang terkandung dalam ungkapan babasan dan paribasa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa babasan dan paribasa Sunda yang berkaitan dengan air (hidrologi) tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai panduan moral, etika, dan filosofi hidup. Berbagai peribahasa seperti “cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok” yang artinya air menetes terus-menerus pada batu lama-lama menjadi cekungan, merefleksikan pemahaman masyarakat Sunda tentang ketekunan, kesabaran, adaptasi, dan keberlanjutan. Ungkapan-ungkapan ini juga menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, khususnya air, yang dianggap sebagai sumber kehidupan dan simbol kesucian. Dengan demikian, babasan dan paribasa Sunda yang berunsur hidrologis berfungsi sebagai pewaris kearifan lokal yang membentuk karakter dan cara pandang masyarakat Sunda terhadap kehidupan, alam, serta nilai-nilai sosial. Pemahaman terhadap aspek-aspek ini penting untuk melestarikan warisan budaya dan memahami akar pemikiran masyarakat Sunda.
Representasi Kritik Sosial dalam Novel Rumah di Seribu Ombak Karya Erwin Arnada: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Irmayanti, Irmayanti; Salam, Salam; Abidin, Aslan
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1490

Abstract

This study aims to reveal the representation of social criticism in Erwin Arnada's novel “Rumah di Seribu Ombak”. This study uses a qualitative descriptive method through the Critical Discourse Analysis (AWK) approach modeled by Norman Fairclough. The focus of the study lies in three dimensions of discourse meaning, namely experiential, relational, and expressive values, which are analyzed through aspects of vocabulary, grammar, and text structure. Data sources come from quotations in the novel that contain social criticism. Data collection techniques are carried out by reading and taking notes on texts containing elements of social criticism. Meanwhile, the data analysis technique uses Norman Fairclough's discourse analysis model which includes three levels, namely text analysis (vocabulary, grammar, text structure), discourse practice (text production and consumption), and social practice (socio-cultural context). The results of the study show that social criticism in the novel is represented through the choice of vocabulary (synonyms, antonyms, hyponyms), grammatical forms (active, passive, imperative, modality), and text structure (turn-taking, topic control) that contain social values such as poverty, class inequality, subordination, and power domination. Experiential values reflect the social reality of the characters, relational values show social positions in interactions, and expressive values show attitudes and emotions towards social injustice. This study concludes that the novel Rumah di Seribu Ombak is not only a work of fiction, but also a medium of social criticism that depicts the reality of society in depth and gives voice to marginalized groups. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi kritik sosial dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif  melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Fokus penelitian terletak pada tiga dimensi makna wacana, yakni nilai eksperensial, relasional, dan ekspresif, yang dianalisis melalui aspek kosakata, gramatika, dan struktur teks. Sumber data berasal dari kutipan-kutipan dalam novel yang mengandung muatan kritik sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat terhadap teks yang mengandung unsur kritik sosial. Sementara itu, teknik analisis data menggunakan model analisis wacana Norman Fairclough yang mencakup tiga tataran, yaitu analisis teks (kosakata, gramatika, struktur teks), praktik wacana (produksi dan konsumsi teks), dan praktik sosial (konteks sosial-budaya). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik sosial dalam novel direpresentasikan melalui pilihan kosakata (sinonim, antonim, hiponim), bentuk gramatikal (aktif, pasif, imperatif, modalitas), dan struktur teks (gilir tutur, kontrol topik) yang mengandung nilai-nilai sosial seperti kemiskinan, ketimpangan kelas, subordinasi, dan dominasi kekuasaan. Nilai eksperensial merefleksikan realitas sosial tokoh, nilai relasional menunjukkan posisi sosial dalam interaksi, dan nilai ekspresif memperlihatkan sikap dan emosi terhadap ketidakadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Rumah di Seribu Ombak bukan hanya sebagai karya fiksi, tetapi juga sebagai media kritik sosial yang menggambarkan realitas masyarakat secara mendalam dan menyuarakan suara kelompok marjinal.
Ekranisasi Novel Home Sweet Loan Karya Almira Bastari sebagai Sarana Penyampaian Nilai Moral: Tinjauan Aksiologi Susanti, Amelia; Suroso, Suroso
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1501

Abstract

This research examines the effectiveness of the film adaptation of Almira Bastari’s novel, Home Sweet Loan, as a medium for conveying moral values. Considering the decline in reading interest, this research examines the film from the perspective of the axiology of the philosophy of science to identify and describe the moral values it contains. The main goal is to analyze the benefits of film adaptation in delivering moral messages about human relationships with God, oneself, and others. The study uses a descriptive qualitative method with library research. The primary data source is the 112-minute Home Sweet Loan film. Data was collected through the Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) and note-taking, then analyzed using triangulation and the Miles and Huberman stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal various moral values in the film, categorized into three main themes, 1) human relationships with God (sincerity), 2) human relationships with oneself (patience, sadness and disappointm, anger, happiness, guilt, optimism), and 3) human relationships with others (care, affection, helping, attentiveness, forgiveness). In conclusion, the film adaptation of Home Sweet Loan is an effective tool for spreading positive moral messages and has the potential to boost literacy interest.  AbstrakPenelitian ini menganalisis efektivitas ekranisasi novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari sebagai media penyampaian nilai moral. Mengingat menurunnya minat baca, penelitian ini meninjau film tersebut dari sudut pandang aksiologi filsafat ilmu untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan nilai moral yang terkandung di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis manfaat ekranisasi dalam menyampaikan pesan moral tentang hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Sumber data utama adalah film Home Sweet Loan berdurasi 112 menit. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) dan teknik catat, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi serta tahapan Miles dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengidentifikasi film ini mengandung beragam nilai moral yang terbagi menjadi tiga kategori utama yakni, 1) hubungan manusia dengan Tuhan (keikhlasan), 2) hubungan manusia dengan diri sendiri (kesabaran, kesedihan dan kekecewaan, kemarahan, kebahagiaan, rasa bersalah, optimis), dan 3) hubungan manusia dengan sesama (kepedulian, kasih sayang, tolong-menolong, perhatian,  pemaaf). Secara keseluruhan, ekranisasi novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari terbukti menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan pesan moral positif dan berpotensi meningkatkan kembali minat literasi masyarakat. 
Gaya Berbahasa dalam Ceramah Ustaz di Makassar: Pendekatan Stilistika Amir, Johar; Luthfiah, Nurul; Asia, Asia
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1336

Abstract

This study aims to describe the form of language style in Ustad’s lectures in Makassar based on a stylistic approach. The main focus of this study is 1) Describing language style based on word choice, 2) Describing language style based on tone choice, and 3) describing language style based on sentence structure. The type of research used is descriptive qualitative, the data in this study are in the form of phrases, clauses and sentences containing language style. The data sources in this study were obtained from the lectures of the three ustads, namely Ustaz Das’ad Latif, Ustaz Maulana, and Ustaz Syamsuddin, which were accessed through the YouTube platform. The data collection techniques are free listening and note-taking techniques, note-taking techniques and documentation techniques. The data analysis techniques are the data reduction stage, the data presentation or data analysis stage and drawing conclusions and verification. The results of the study show that: 1) Language style based on word choice, the ustads use formal, informal, and conversational language styles to build closeness with the congregation; 2) Language style based on tone, found simple, noble, powerful and medium anguage styles and 3) Language style based on sentence structure, found the use of climax, anticlimax, antithesis and repetition styles. The conclusion of this study is that the language style of the ustad in Makassar reflects a varied and effective communicative strategy, which not only conveys religious messages but also builds emotional closeness with the listener. The language style used shows the characteristics of each ustaz’s style, Ustaz Das’ad Latif with a firm lecture style, dominant humor using noble and powerful tones, Ustaz Maulana with an energetic style, humor, dominant using noble and powerful tones, while Ustaz Syam with a relaxed style that predominantly uses simple tones. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk gaya berbahasa dalam ceramah ustaz di Makassar berdasarkan pendekatan stilistika. Fokus utama penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan gaya berbahasa berdasarkan pilihan kata, 2) mendeskripsikan gaya berbahasa berdasarkan pilihan nada, dan 3) mendeskripsikan gaya berbahasa berdasarkan struktur kalimat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data dalam penelitian ini berupa kata frasa, klausa dan kalimat yang mengandung gaya bahasa. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari ceramah ketiga ustaz yaitu Ustaz Das’ad Latif, Ustaz Maulana, dan Ustaz Syamsuddin.yang diakses melalui platform YouTube. Adapun teknik pengumpulan data yaitu teknik simak bebas libat catat, teknik catat dan teknik dokumentasi. Teknis analisis data lyaitu tahap reduksi data, tahap penyajian data atau analisis data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) gaya berbahasa berdasarkan pilihan kata, para ustaz meenggunakan gaya bahasa resmi, tidak resmi, dan gaya bahasa percakapan untuk membangun kedekatan dengan jamaah; 2) gaya berbahasa berdasarkan nada, ditemukan gaya bahasa sederhana, mulia bertenaga dan menengah; dan 3) gaya  berbahasa berdasarkan struktur kalimat, ditemukan penggunaan gaya klimaks, antiklimaks, antitesis dan repetisi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gaya berbahasa para ustaz di Makassar mencerminkan strategi komunikatif yang variatif dan efektif, yang tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan pendengar. Gaya berbahasa yang digunakan menunjukkan ciri khas style masing-masing ustaz, Ustaz Das’ad Latif dengan style ceramah tegas, humor yang dominan menggunakan nada mulia dan bertenaga, Ustaz Maulana dengan style energik, humor, yang dominan menggunakan nada mulia dan bertenaga, sedangkan Ustaz Syam dengan style santai yang dominan menggunakan nada sederhana. 
Teachers’ Beliefs of Monolingualism in an International School Ariyati, Dwi
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1563

Abstract

This research explores the beliefs of Indonesian EAL teachers about monolingualism, they saw it as a challenge or a benefit and how they perceived students’ native language conducted in one of the International Schools in Jakarta, Indonesia. The participants of this research were three Indonesian EAL teachers who worked in an International School in Jakarta. This researched employed qualitative research, and semi-structured interviews to collect the data. For data analysis, this researched utilised thematic analysis to analyse and examine the similarity and differences from research participants response. The findings stated that Indonesian EAL teachers recognised monolingualism as a disadvantage. Furthermore, using one language in the classroom, it raised the challenges included students at the beginner level was struggling to communicate and exchange their minds if they did not know how to express themselves in English and the needed to balance content and language for the teachers. Due to these challenges, the strategies in classroom included small groups with mixed abilities of students’ English level and with one country. In addition, Indonesian EAL teachers perceived students' native language as a resource that should be taught at school, and it was helpful in expressing their thoughts and understanding the material.  Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi keyakinan guru EAL Indonesia tentang monolingualisme, bagaimana mereka memandangnya sebagai tantangan atau manfaat, dan bagaimana mereka memandang bahasa ibu siswa yang dilakukan di salah satu Sekolah Internasional di Jakarta, Indonesia. Partisipan penelitian ini adalah tiga guru EAL Indonesia yang bekerja di Sekolah Internasional di Jakarta. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan wawancara semi-terstruktur untuk mengumpulkan data. Untuk analisis data, peneliti menggunakan analisis tematik untuk menganalisis dan memeriksa persamaan dan perbedaan dari tanggapan partisipan penelitian. Temuan penelitian menyatakan bahwa guru EAL Indonesia mengakui monolingualisme sebagai kerugian. Lebih lanjut, penggunaan satu bahasa di kelas menimbulkan tantangan, termasuk siswa tingkat pemula yang kesulitan berkomunikasi dan bertukar pikiran jika mereka tidak tahu cara mengekspresikan diri dalam bahasa Inggris, serta kebutuhan untuk menyeimbangkan konten dan bahasa bagi guru. Karena tantangan ini, strategi di kelas mencakup kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan bahasa Inggris siswa yang beragam dan dengan satu negara. Selain itu, guru EAL Indonesia memandang bahasa ibu siswa sebagai sumber daya yang harus diajarkan di sekolah, dan hal itu membantu dalam mengekspresikan pikiran mereka dan memahami materi..
Transformasi Novel Gadis Kretek ke dalam Film Gadis Kretek: Pendekatan Teori Naratif Seymour Chatman Malik, Miftahul; Firmansyah, Arif; Deliani, Alya Octa; Wandasari, Widi Widia
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1541

Abstract

Novels are currently one of the most popular literary works transformed into films. This can be used as an alternative and new means to appreciate literary works. The purpose of this study is to identify the narrative structure in the novel Gadis Kretek based on the concepts of kernel and satellite, and to analyze the transformations that occur when the novel is adapted into a film series. This study uses a qualitative descriptive method with a note-taking technique as the data collection process. The results show that there are 97 sequences of events in the novel and 138 in the Gadis Kretek film series. In the novel, there are 56 kernels and 41 satellites, while in the film series there are 59 kernels and 79 satellites. The transformation analysis shows that only 5 kernels are the same, while 28 kernels experience differences in presentation and 23 kernels from the novel are not shown in the series. In the satellite section, 11 are found to be presented differently and 30 are not shown at all, so there are no satellites that are completely the same between the novel and film. These findings indicate that the process of transformation from the novel to the film series does not simply transfer the plot, but also involves selecting, reducing, and adding events to suit the dramatic and narrative needs of the audio-visual medium. Abstrak Novel saat ini menjadi salah satu karya sastra yang populer bertransformasi ke dalam bentuk film. Hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif serta sarana baru untuk mengapresiasi karya sastra. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi struktur naratif dalam novel Gadis Kretek berdasarkan konsep kernel dan satellite, serta menganalisis transformasi yang terjadi ketika novel tersebut diadaptasi ke dalam serial film. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat sebagai proses pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 97 rangkaian peristiwa dalam novel dan 138 dalam serial film Gadis Kretek. Dalam novel terdapat 56 kernel dan 41 satellite, sedangkan dalam serial film terdapat 59 kernel dan 79 satellite. Analisis transformasi menunjukkan hanya lima kernel yang sama, sementara 28 kernel mengalami perbedaan penyajian dan 23 kernel dari novel tidak ditampilkan dalam serial. Pada bagian satellite, ditemukan sebelas yang berbeda penyajiannya dan tiga puluh tidak ditayangkan sama sekali, sehingga tidak ditemukan satellite yang sepenuhnya sama antara novel dan film. Temuan tersebut menunjukkan bahwa proses transformasi dari novel ke dalam serial film tidak sekadar memindahkan alur, melainkan juga melakukan seleksi, reduksi, dan penambahan peristiwa untuk menyesuaikan kebutuhan dramatik dan naratif dalam medium audio-visual. 
Analisis Psikologis Tokoh Utama dalam Novel Ancika Karya Pidi Baiq sebagai Alternatif Bahan Ajar Novel Wachyudin, Wachyudin; Rakhmat, Moh.; Permana, Nineu Maharani; Juariah, Juariah
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1542

Abstract

This study examines the psychological aspects of the main character in Pidi Baiq's novel Ancika using a descriptive qualitative approach. The analysis focuses on Sigmund Freud's psychoanalytic theory, which divides personality structure into three entities: id, ego, and superego. The research data consists of novel excerpts that show the psychological dynamics of Ancika, and are supported by literature related to psychological theory and the development of teaching materials. The results show that Ancika is a strong, idealistic, and independent figure, but also experiences inner conflict due to the interaction of the id, ego, and superego in facing daily problems, social relationships, and the search for identity. These findings indicate that Ancika's novel not only has cultural and social value but is also relevant as a literary teaching material to improve empathy, psychological understanding, and critical thinking skills of students. Thus, the integration of psychological analysis of characters in literary learning is expected to broaden students' horizons while supporting contextual and flexible educational programs. AbstrakPenelitian ini mengkaji aspek psikologis tokoh utama dalam novel Ancika karya Pidi Baiq dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Analisis difokuskan pada teori psikoanalisis Sigmund Freud yang membagi struktur kepribadian menjadi tiga entitas: id, ego, dan superego. Data penelitian berupa kutipan novel yang menunjukkan dinamika psikologis tokoh Ancika, serta diperkuat dengan literatur terkait teori psikologi dan pengembangan bahan ajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ancika merupakan sosok yang kuat, idealis, dan mandiri, namun juga mengalami konflik batin akibat interaksi id, ego, dan superego dalam menghadapi persoalan sehari-hari, hubungan sosial, dan pencarian jati diri. Temuan ini mengindikasikan bahwa novel Ancika tidak hanya memiliki nilai budaya dan sosial, tetapi juga relevan sebagai bahan ajar sastra untuk meningkatkan empati, pemahaman psikologis, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dengan demikian, integrasi analisis psikologis tokoh dalam pembelajaran sastra diharapkan mampu memperluas wawasan peserta didik sekaligus mendukung program pendidikan yang kontekstual dan fleksibel.
Analisis Psikologi Humanistik Abraham Maslow pada Tokoh Utama dalam Novel Terjebak Karya Fredy Suni sebagai Usulan Bahan Ajar Sastra Novel Kelas XII Fatkullah, Faiz Karim; Mulyanto, Agus; Soleha, Salsabila
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1539

Abstract

This study aims to describe the fulfillment of the hierarchy of needs of the main character in the novel Terjebak by Fredy Suni based on Abraham Maslow's humanistic psychology theory and examine its relevance as a teaching material for novel literature in grade XII of high school. This study uses a qualitative descriptive method with reading and note-taking techniques. The primary data is the text of the novel Terjebak, while the secondary data is in the form of supporting literature on literary psychology and Maslow's theory. The analysis was carried out through the stages of data reduction, presentation, and drawing conclusions, and its validity was tested by triangulation of theories and sources. The results of the study show that there are 16 data on fulfillment and 22 data on unfulfillment of Maslow's hierarchy of needs in the main character Aldo. These dynamics describe Aldo's struggle to fulfill physiological needs, security, affection, appreciation, and self-actualization. These dynamics describe Aldo's conflicts and struggles in facing economic pressures while emphasizing the values of education, resilience, and responsibility. This novel is relevant as a teaching material for literature because it is able to foster appreciation, empathy, and motivation in students in facing life's challenges. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemenuhan hierarki kebutuhan tokoh utama dalam novel Terjebak karya Fredy Suni berdasarkan teori psikologi humanistik Abraham Maslow serta menelaah relevansinya sebagai bahan ajar sastra novel di kelas XII SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik baca dan catat. Data primer berupa teks novel Terjebak, sedangkan data sekunder berupa literatur pendukung mengenai psikologi sastra dan teori Maslow. Analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya dengan triangulasi teori dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 data keterpenuhan dan 22 data ketidakterpenuhan hierarki kebutuhan Maslow pada tokoh utama Aldo. Dinamika tersebut menggambarkan perjuangan Aldo dalam memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Dinamika tersebut menggambarkan konflik dan perjuangan Aldo dalam menghadapi tekanan ekonomi sekaligus menekankan nilai pendidikan, ketangguhan, dan tanggung jawab. Novel ini relevan dijadikan bahan ajar sastra karena mampu menumbuhkan apresiasi, empati, serta motivasi siswa dalam menghadapi tantangan hidup.
Fungsi Senyapan dalam Gelar Wicara Mata Najwa Rahmawati, Fadilah; Amilia, Fitri; Anggraeni, Astri Widyaruli
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1576

Abstract

This study aims to describe the forms of silent and filled silences, while analyzing their functions. The method used is descriptive qualitative with a psycholinguistic approach. The data collection technique was carried out through the listening and note-taking method, namely by repeatedly listening to the speech in the podcast, then transcribing the conversation between the source and interviewer verbatim. The transcribed data were marked with sections containing silences, both silent and filled, to be later classified. The data analysis technique was carried out through several stages, namely identifying silences based on form, classifying them according to psycholinguistic categories, analyzing functions based on the context of the speech, and interpreting the meaning and role of silence in the communication dynamics between the source and interviewer. The results of the study show that silent silences appear more frequently in PT, with the main function being a means of providing time to think, controlling emotions when discussing sensitive issues, and strengthening rhetorical effects to emphasize statements. Filled silences, on the other hand, are more dominantly used by Najwa Shihab in her role as an interviewer. Their main function is to maintain speaking turns, smooth transitions between topics, and provide rhetorical pressure to increase the intensity of the conversation. Furthermore, filled silences also function interpersonally, creating a more natural conversational atmosphere and building rapport with the audience. Therefore, silences in podcasts should not be viewed as meaningless pauses, but rather as communication strategies with cognitive, affective, rhetorical, and interactive value. This research confirms that the presence of silences in public conversations plays a crucial role in shaping the quality of communication, both for the interviewee and the interviewer. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk senyapan diam dan senyapan terisi, sekaligus menganalisis fungsi-fungsi yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikolinguistik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan catat, yakni dengan menyimak secara berulang tuturan dalam gelar wicara, kemudian mentranskripsikan percakapan narasumber dan pewawancara secara verbatim. Data hasil transkripsi ditandai bagian yang mengandung senyapan, baik diam maupun terisi, untuk kemudian diklasifikasikan. Teknik analisis data ditempuh melalui beberapa tahap, yaitu mengidentifikasi senyapan berdasarkan bentuk, mengklasifikasikan sesuai kategori psikolinguistik, menganalisis fungsi berdasarkan konteks tuturan, serta menafsirkan makna dan peran senyapan dalam dinamika komunikasi antara narasumber dan pewawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyapan diam lebih banyak muncul pada PT, dengan fungsi utama sebagai sarana memberi waktu berpikir, mengendalikan emosi ketika membahas isu sensitif, dan memperkuat efek retoris untuk menekankan pernyataan. Senyapan terisi, sebaliknya, lebih dominan digunakan oleh Najwa Shihab dalam perannya sebagai pewawancara. Fungsi utamanya adalah menjaga giliran berbicara, memperhalus transisi antar topik, serta memberikan tekanan retoris untuk meningkatkan intensitas percakapan. Selain itu, senyapan terisi juga berfungsi secara interpersonal untuk menciptakan suasana percakapan yang lebih alami dan membangun kedekatan dengan audiens. Dengan demikian, senyapan dalam gelar wicara tidak dapat dipandang sebagai jeda tanpa makna, melainkan strategi komunikasi yang memiliki nilai kognitif, afektif, retoris, dan interaktif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberadaan senyapan dalam percakapan publik berperan penting dalam membentuk kualitas komunikasi, baik dari sisi narasumber maupun pewawancara.
Hiperrealitas Nostalgia dalam Video Klip Sakura Abadi Karya Diskoria Bersama Laleilmanino dan Neida Paramanandana, Satrya; Pitana, Titis Srimuda; Ardianto, Deny Tri
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i2.1489

Abstract

The trend of returning to the past or retro—particularly in the realm of music—has recently gained popularity on social media. This phenomenon has grown rapidly since the Covid-19 pandemic, with the 1980s being the chosen decade. One of the music groups that initiated this trend in Indonesia is Diskoria. This DJ duo has revived the creative pop genre of the 1980s in the present day, reproducing nostalgia in a way that can be enjoyed across generations. Sakura Abadi is one of Diskoria's music videos on YouTube that embodies this concept both in audio and visual aspects. This study aims to explore the hyperreality of nostalgia constructed by Diskoria through the music video and its impact on viewers, as reflected in the comments section. This research employs a netnographic method and is analyzed using Baudrillard’s concept of hyperreality and Boym’s theory of nostalgia. The findings reveal that Sakura Abadi is a pastiche of Fariz RM’s 1980 song Sakura and TVRI programs such as Selekta Pop and Aneka Ria Safari. The use of neon fonts, VHS recording effects, and fashion in the video also draw inspiration from 1980s pop culture. Meanwhile, YouTube users’ responses to the video show that they experience a sense of nostalgia, as if returning to the 1980s. Thus, it can be concluded that Sakura Abadi successfully evokes a hyperreality of nostalgia for its audience. Abstrak Tren kembali ke masa lalu atau retro, terutama di bidang musik belakangan populer di media sosial. Fenomena ini berkembang pesat sejak pandemi Covid-19 dan periode yang dipilih adalah dekade 1980-an. Salah satu grup musik yang memulai tren ini di Indonesia adalah Diskoria. Grup DJ ini menghidupkan kembali genre pop kreatif dari dekade 1980-an di masa kini dan mereproduksi nostalgia sehingga dapat dinikmati lintas generasi. Sakura Abadi adalah salah satu video klip musik karya Diskoria di YouTube yang mewakili konsep tersebut baik dari aspek audio maupun visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang hiperrealitas nostalgia yang dibangun Diskoria melalui video klip tersebut dan dampaknya bagi penontonnya dalam kolom komentar. Penelitian ini menggunakan netnografi kemudian dianalisis dengan konsep hiperrealitas Baudrillard dan nostalgia Boym. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sakura Abadi merupakan pastische terhadap lagu Sakura karya Fariz RM (1980) dan program TVRI seperti Selekta Pop dan Aneka Ria Safari. Font neon, efek rekaman VHS dan fesyen dalam video klip tersebut juga mengadaptasi dari budaya populer dekade 1980-an. Sementara respons pengguna YouTube yang melihat video klip tersebut menunjukkan bahwa mereka merasakan nostalgia seperti kembali ke dekade 1980-an. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Sakura Abadi berhasil menghadirkan hiperrealitas nostalgia bagi para penikmat video klip mereka.