Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT DENGAN ETIKA AUDITOR SEBAGAI VARIABEL MODERASI Mutiara, Indah; Wulandari, Wulandari; Susanti, Amelia
JURNAL RISET AKUNTANSI JAMBI Vol 1 No 2 (2018): JURNAL RISET AKUNTANSI JAMBI
Publisher : LPPM Universitasdiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.638 KB) | DOI: 10.35141/jraj.v1i2.60

Abstract

Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh kompetensi auditor danindependensi auditor terhadap kualitas audit dengan etika auditor sebagai variabel moderasipada 9 Kantor Akuntan Publik yang ada di Kota Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui seberapa besar kompetensi auditor dan independensi auditor terhadapkualitas auditor dengan dimoderasi oleh etika auditor pada Kantor Akuntan Publik di KotaBandung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifasosiatif dengan pendekatan survey, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengancara menyebarkan kuesioner kepada responden yang bekerja di 9 Kantor Akuntan Publik diKota Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan Proportionate Stratified RandomSampling. Uji validitas danreliabilitas angket menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan Alpha Cronbach’s. Untuk menguji ada tidaknya pengaruh kompetensi auditor terhadap kualitas audit, digunakan korelasi pearson product moment sebesar= 0,684 Untuk menguji hipotesis tersebutdigunakan uji t dimana thitung sebesar= 4,958, sedangkan nilai ttabel pada tingkat signifikansi 5% adalah 2,048,sehingga pada tingkat kekeliruan 5% diputuskan untuk menolak Ho dan menerima Ha yangberarti kompetensi auditor secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit pada9 Kantor Akuntan Publik di Kota Bandung. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai koefisien determinasi diketahui bahwakompetensi auditor secara parsial hanya memberikan pengaruh sebesar 46,7% terhadapkualitas audit pada 9 Kantor Akuntan Publik yang ada di Kota Bandung, sedangkan sisanyayaitu 53,3% merupakan pengaruh faktor-faktor lain yang tidak diteliti.
Pengaruh Financial Distress dan Leverage Terhadap Konservatisme Akuntansi (Studi Empiris pada Perusahaan Property dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2017-2020) susanti, Amelia; Rina Asmeri; Sri Yuli Ayu Putri
Ekasakti Pareso Jurnal Akuntansi Vol. 2 No. 1 (2024): Ekasakti Pareso Jurnal Akuntansi (Januari 2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/epja.v2i1.1006

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan memperoleh fakta empiris mengenai pengaruh kesulitan keuangan dan leverage terhadap konservatisme akuntansi. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 48 perusahaan. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 11 entitas. Pendekatan analisisnya menggunakan regresi linier berganda, koefisien determinasi, uji asumsi klasik, dan analisis data statistik deskriptif. Gunakan uji t dan uji F untuk menguji hipotesis. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa krisis keuangan mempunyai dampak yang baik terhadap konservatisme akuntansi sedangkan leverage tidak mempunyai pengaruh. Uji F menghasilkan kesimpulan bahwa konservatisme akuntansi dipengaruhi secara signifikan oleh kesulitan keuangan dan leverage secara simultan.
EDUKASI KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN LEAFLET BRAILLE PADA SISWA TUNANETRA DI SLB-A PEMBINA TINGKAT NASIONAL JAKARTA Sulistiani, Silvia; Ulliana, Ulliana; Susanti, Amelia
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 30, No 2 (2024): APRIL-JUNI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v30i2.57033

Abstract

Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu cara untuk mencegah dan menangani permasalahan kesehatan gigi melalui pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan data survei Kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2018, ditemukan 57,6% penduduk Indonesia telah melakukan perawatan gigi dan mulut. Salah satu penyebab terjadinya permasalahan gigi dan mulut di masyarakat adalah faktor perilaku atau sikap yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Siswa tunanetra merupakan penyandang disabilitas penglihatan yang menyebabkan keterbatasan dan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk memelihara kesehatan gigi dan muut. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut harus dilakukan dengan penyesuaian secara adequat agar anak tunanetra dapat memahami kesehatan rongga mulut dengan lebih baik. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan media braille leaflet terhadap pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tunanetra. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Quasi eksperimen dengan  pre- post test design yang bersifat kuantitatif. Populasi adalah siswa unanetra berusia 5-25 tahun. Teknik pengambilan sampel adalah Total Sampling dengan sampel berjumlah 68 responden. Uji statistik yang digunakan adalah Wilcoxon dan Chi-Square. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pre- post test dengan  penggunaan media leaflet Braille. Selain itu didaptkan juga bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia siswa dan pendidikan terakahir ibu dengan pengetahuan siswa, namun tidak ada hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin siswa dan status bekerja ibu.
Peningkatan Resiliensi Care Giver Melalui Pemberdayaan Keluarga Sehat Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Padang Susanti, Amelia; Arianti, Diana
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan (JPIK) Vol. 3 No. 1 (2024): JPIK - Juni 2024 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Alifah Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jpik.v3i1.67

Abstract

Schizophrenia causes personality changes and severe social maladjustment so that schizophrenic sufferers experience personal, social, vocational and physical maladjustment. This makes schizophrenic sufferers dependent on other people, especially family members as caregivers. Families who have family members with schizophrenia need strong resilience. Family resilience will be achieved if it gets positive support from the surrounding environment. One of the supports from the surrounding area is the formation of groups that voluntarily want to help families and their environment with mental health problems. One effort that can be made is by providing health education and providing training to community groups around the client's residence. The aim of this activity is to increase caregiver resilience in caring for family members who experience schizophrenia. This service activity takes the form of increasing family knowledge by empowering care givers to increase resilience in order to achieve mentally healthy families through the formation of a mentally healthy family group of 30 people in Andalas Village, the working area of ??the Padang City Health Center.  The results of the activity showed an increase in family resilience in caring for family members with schizophrenia. It is hoped that after this activity, family knowledge and empowerment will increase so that mental health problems can be minimized
Relationship Of Family Support With Anxiety Levels In Inmates In Women's Correctional Institutions Class II B Padang Madurisa, Sesra Med; Susanti, Amelia; Gusdiansyah, Edo
Alifah Health Science Symposium Proceeding 2023: The 2nd Alifah Health Science College Symposium
Publisher : STIKes Alifah Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inmates serving sentences face a variety of psychosocial problems such as anxiety caused by fear of the length of sentence, as well as feelings of loneliness and lack of family support for inmates in Lapas. The purpose of this study was to determine the relationship between family support and anxiety levels in inmates at the Class II B Padang Women's Correctional Institution.This type of research is quantitative with a correlative descriptive design and uses a cross sectional approach. Data collection is carried out for 2 days from April 10 to 11, 2023. The population is all inmates who are entering the Class IIB Padang Women's Prison for the first time. The sampling technique is random sampling with the Slovin formula, as many as 56 respondents. Data collection tools include Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire and family support questionnaire with questionnaire method. Univariate and bivariate data analysis.The results of the study were obtained from 56 respondents, as many as 53.6% received unsupportive family support. As for the level of anxiety, 37.5% experienced severe anxiety. The results of the chi-square test obtained p-value = 0.0001 < (α=0.05) which means that there is a significant relationship between family support and the level of anxiety of prisoners. It can be concluded that there is a relationship between family support and anxiety levels in prisoners in Padang Class II B Correctional Institution. For this reason, it is hoped that prison officers, especially prison clinic health workers, can provide deep breath relaxation therapy and are expected to continue to carry out positive coaching and activities that can reduce anxiety in prisoners. Families are also expected to always provide support and attention so that prisoners do not feel forgotten.
PENINGKATAN MEKANISME KOPING KLIEN SKIZOFRENIA MELALUI PENDEKATAN SPIRITUAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KURANJI KOTA PADANG Susanti, Amelia; Arianti, Diana
Inspirasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2024): Inspirasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Inspirasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasien dengan skizofrenia memiliki gangguan kognitif dan tingkah laku yang meyebabkan perubahan kepribadian dan ketidaksesuaian sosial yang berat sehingga para penderita mengalami ketidakmampuan untuk menentukan koping yang sesuai sehingga berdampak pada perubahan emosional. Penggunaan koping maladaptif juga berdampak pada kepasifan dalam aktifitas sehari-hari,termasuk kegiatan spiritual. Pada individu dengan skizofrenia, tingkat spiritualitas dapat semakin meningkat maupun menurun, tergantung pada mekanisme koping individu dalam mengatasinya. Mekanisme koping yang adaptif dan penerapan spiritualitas menjadi kolaborasi yang baik untuk meningkatkan ketenangan batin dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan skizofrenia. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan koping klien dengan skizofrenia melalui pendekatan spiritual. Kegiatan berupa pemberian pendidikan kesehatan dan terapi spiritual dalam rangka meningkatkan mekanisme koping klien dengan skizofrenia. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diperoleh bahwa 90 % peserta mampu menyebutkan pengertian mekanisme koping., 86 % peserta mampu mendemonstrasikan kan terapi spiritual, dan 85 % peserta bersedia melakukan terapi spiritual dilingkungan keluarga. Diharapkan luaran hasil kegiatan ini dapat dipublikasikan di jurnal nasional.
Terapi Modalitas Bermain Puzzle Pada Lansia Di Wisma Kenanga Panti Perlindungan Dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Budi Sejahtera Banjarbaru Susanti, Amelia; Nur Ahnafani, Mayada; Rahman, Subhannur; Anshori, Muhammad
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 2 No 4 (2024): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v2i4.494

Abstract

Pendahuluan: Terapi bermain puzzle adalah suatu terapi yang dapat merangsang otak dengan menyediakan stimulasi yang memadai untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan fungsi kognitif otak yang tersisa pada lansia. Tujuan: Mendeskripsikan tentang hasil dari terapi bermain puzzle yang dilaksanakan di wisma kenanga Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Budi Sejahtera Banjarbaru Metode: Metode pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dengan melaksanakan kegiatan berupa pemberian edukasi dan terapi modalitas bermain puzzle secara bertahap sebanyak 2 kali seminggu bagi lansia di wisma kenanga Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera Hasil: Hasil terapi bermain puzzle menunjukkan bahwa sebelum dilakukan terapi terdapat 2 dari 8 lansia (25%) memiliki kerusakan aspek fungsi kognitif ringan dan 2 dari 8 lansia (25%) memiliki kerusakan aspek kognitif berat. Setelah dilakukan terapi bertahap didapatkan 6 dari 8 (75%) lansia memiliki fungsi kognitif dan mental baik. Simpulan: Disimpulkan bahwa terapi modalitas bermain puzzle ini berhasil dalam membantu meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan kerusakan aspek kognitif ringan menjadi baik.
Peningkatan Konsep Diri Klien Diabetes Mellitus Melalui Pendekatan Terapi Afirmasi Positif Susanti, Amelia; Diana Arianti
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan (JPIK) Vol. 3 No. 2 (2024): JPIK - Desember 2024 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Alifah Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jpik.v3i2.82

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronis yang berdampak pada fisik dan psikologis, seperti kehilangan konsep diri. Konsep diri yang buruk dapat mempengaruhi keinginan klien untuk mengendalikan diabetes mereka, yang dapat menyebabkan komplikasi dan kualitas hidup yang lebih buruk. Salah satu cara untuk meningkatkan konsep diri pada klien dengan DM adalah terapi afirmasi positif. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kepercayaan diri klien dalam menjalani perawatan DM. Metode yang digunakan melibatkan identifikasi pola pikir negatif, pembuatan afirmasi positif, latihan rutin, dukungan sosial, dan evaluasi berkelanjutan. Melalui pernyataan-pernyataan yang memberdayakan, afirmasi positif membantu klien meningkatkan keyakinan diri mereka dalam mengelola situasi mereka. Kegiatan ini melibatkan 30 orang klien penderita DM di Kelurahan Andalas wilayah Kerja Puskesmas Andalas Kota Padang pada bulan Desember 2023. Hasil implementasi menunjukkan bahwa terapi afirmasi positif dapat meningkatkan kepercayaan diri klien, mengurangi stres, mendorong perubahan perilaku sehat, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Dukungan dari tenaga kesehatan dan lingkungan sosial sangat penting untuk memastikan keberhasilan terapi ini. Pendekatan ini diharapkan menjadi salah satu intervensi yang relevan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dan fisik klien DM.
Peran Dukungan Sosial Dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Remaja di Lingkungan Sekolah Arianti, Diana; Susanti, Amelia
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.42618

Abstract

While social support is recognized as having a positive impact on mental health, there is a lack of research exploring the differences in influence between support from peers, teachers, and family, and how these forms of support function across different social settings. Adolescents experience many significant changes, such as physical, cognitive, and social development, which can trigger stress and mental disorders such as anxiety and depression. Research method Cross-sectional design. The study was conducted from October 2024 to February 2025 at SMPN 12 in Padang City. Population of adolescents attending junior high school. Sampling by stratified random sampling. The sample size was 200 adolescents, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) instrument. Emotional Health Scale: Using measurement tools such as the General Health Questionnaire (GHQ. Statistical test Pearson Correlation Test.The results of the study showed that most respondents (60%) had high social support, while 25% were moderate, and 15% were low. In terms of mental health, 50% of adolescents showed good mental health, 30% moderate, and 20% poor. Bivariate results using Pearson correlation test showed a significant relationship between social support and adolescent mental health. With a correlation coefficient (r) = -0.48 and p = 0.001, this relationship is moderate negative and significant, which means that the higher the social support adolescents receive, the better their mental health, and vice versa, the lower the social support, the higher the level of anxiety, stress, and depression. Keywords: Social Support, Health, Mental, Adolescents.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Jiwa di Lingkungan Kerja Susanti, Amelia; Arianti, Diana; Gusdiansyah, Edo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.42650

Abstract

High workload can increase stress and the risk of mental disorders, while social support and good interpersonal relationships act as protective factors for workers' mental health. This type of research is quantitative with a descriptive correlational approach. This research was conducted in the working area of Puskesmas Kuranji Padang in October 2024 to January 2025.  Population of active workers in Korong Gadang Village, Kuranji Padang Health Center working area. Simple random sampling of 100 respondents. Pearson correlation analysis statistical test. Instruments for workload variables NASA Task Load Index (NASA-TLX). Social Support using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Interpersonal Relationships using the Interpersonal Relationship Scale (IRS). Mental Health was measured using the General Health Questionnaire (GHQ-12). The results of univariate analysis show Workload: Most respondents experienced moderate workload (52%), respondents received moderate levels of social support (40%), Most respondents had good interpersonal relationships (60%). Bivariate results with Pearson correlation test Workload has a negative correlation with mental health (r = -0.45, p = 0.002). This means that the higher the workload, the higher the risk of mental health disorders in workers. Social support has a positive correlation with mental health (r = 0.50, p = 0.003). This means that the higher the social support workers receive, the better their mental health condition. Interpersonal relationships have a positive correlation with mental health (r = 0.48, p = 0.003), indicating that the better the interpersonal relationships, the lower the risk of mental disorders.