cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
GAMBARAN KECEMASAN EVALUATIF PADA MAHASISWA Chaterine Angellim; Monty P. Satiadarma; Untung Subroto
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.7536.2021

Abstract

Test anxiety is a set of cognitive, behavioral, and physiological responses which are followed by concerns about the possible negative outcomes of failure on the test or similar evaluative conditions. Excessive degree of test anxiety can result in negative impacts including poor school performance, poor examination performance, mental distress, cognitive impairment, and poor health. This study was aimed to find out test anxiety level experience by college students. This study uses quantitative approach with 207 students from one of private univerity in Jakarta. Data was collected using the Test Anxiety Inventory. The results showed that from 207 participants, there were 119 (57%) students with low test anxiety levels, 85 (41%) students with moderate test anxiety levels, 3 (1%) students with high test anxiety levels.Test anxiety atau kecemasan evaluatif adalah kumpulan dari respon perilaku, kognitif, dan fisiologis yang disertai dengan kehawatiran akan kemungkinan konsekuensi negatif dari kegagalan pada tes atau situasi evaluatisf yang serupa. Kecemasan evaluatif yang tinggi dapat berdampak negatif bagi penyandangnya seperti misalnya prestasi sekolah yang rendah, performa tes yang buruk, gangguan kognitif, kesehatan yang buruk dan tekanan psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kecemasan evaluatif pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif pada 207 mahasiswa universitas swasta X di Jakarta. Pengukuran kecemasan evaluatif menggunakan Test Anxiety Inventory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 207 partisipan, terdapat 119 (57%)  mahasiswa dengan tingkat kecemasan evaluatif rendah, 85 (41%) mahasiswa dengan tingkat kecemasan evaluatif sedang, 3 (1%) mahasiswa dengan tingkat kecemasan evaluatif tinggi
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS PENGAJARAN MEMBANGUN MODEL MENTAL BACAAN BAGI GURU SEKOLAH DASAR Sri Tiatri; Jap Tji Beng; Claudia Fiscarina; Hartinah Dinata
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.11348.2021

Abstract

Building Mental Models Teaching during reading is beneficial to improve students' reading and thinking skills. However, this teaching was not popular because the implementation was complicated. Efforts to develop learning models to build mental models for teachers are continuously being pursued. This study examines the factors that can affect the effectiveness of teacher training. Data is collected through documentation of the entire training process, starting from preparation, implementation, and completion. Interviews and in-depth observations were held in this in-house training process. Participants of this in-house training are a group of primary school teachers in Salatiga (10 teachers) and Tanjungpandan (10 teachers). The results show, there are 5 factors that need to be considered to achieve the effectiveness of in-house training of building mental models: (a) principal support, (b) association with certification, (c) training implementation time, (d) teachers' prior knowledge, (e) teacher habits when teaching in classroom, especially regarding assessment. Based on the evaluation of this training, the material presented was considered quite easy by the teacher. However, there is a tendency that teachers' habits in assessment affect the learning to build mental models that are carried out. There are habits that have the potential to interfere with the freedom of thought that are being developed. Based on the results of this study, it is hoped that the teaching carried out by the teacher can encourage students to think independently, not solely focusing on academic achievement. Pengajaran Membangun Model Mental saat membaca bermanfaat meningkatkan kemampuan membaca dan berpikir siswa. Namun pengajaran ini tidak populer karena pelaksanaannya yang tidak sederhana. Upaya mengembangkan model pembelajaran membangun model mental bagi para guru terus diupayakan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pelatihan guru. Data dikumpulkan melalui dokumentasi seluruh proses pelatihan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Wawancara dan observasi mendalam dilaksanakan dalam proses in house training. Partisipan in house training dalam penelitian ini adalah kelompok guru SD di Salatiga (10 guru) dan Tanjungpandan (10 guru). Hasil penelitian menunjukkan 5 faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai keefektifan in house training pembelajaran membangun model mental: (a) dukungan kepala sekolah, (b) pengaitan dengan sertifikasi, (c) waktu pelaksanaan pelatihan, (d) pengetahuan awal para guru, (e) kebiasaan guru dalam pengajaran di kelas, khususnya mengenai penilaian. Berdasarkan evaluasi terhadap pelatihan ini, materi yang disampaikan dianggap cukup mudah oleh guru. Namun ada kecenderungan bahwa kebiasaan guru dalam penilaian mempengaruhi pembelajaran membangun model mental yang dilaksanakan.  Ada kebiasaan yang berpotensi mengganggu kemerdekaan berpikir yang sedang dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan pengajaran yang dilakukan guru dapat mendorong siswa untuk merdeka berpikir, tidak semata-mata berfokus pada prestasi akademik saja.
PERUNDUNGAN REMAJA DI SEKOLAH KATOLIK SWASTA JAKARTA Rr Kharesdriani Vacomia; Weny Savitry S. Pandia
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.3043.2020

Abstract

There are several roles when it comes to bullying; the bully, the assistant, the victim, the defender, and the outsider. This study aims to look at an overview of bullying at Catholic schools, especially the roles in bullying, and the efforts that have been taken by the schools to prevent and overcome bullying. Catholic schools are chosen in this study for having values both in learning process and various activities. A mixed method is applied as the research method. Quantitative approach is implemented to identify the role description in students bullying at Catholic schools, and qualitative approach is conducted to perceive the efforts that have been taken by the schools to prevent and overcome bullying at the schools. The study involved 178 students who filled out questionnaires and 15 students in group interviews, as well as 15 teachers from 3 different Catholic schools. The data were processed with SPSS. The observation was conducted by observing the building conditions of school A, B, and C. The result of the study indicates that bullying occurs in Catholic schools and the students take a part in different roles. The biggest percentage is the role of the bully. The interview results with the teachers and the student groups show that the bullying prevention had been carried out by providing various useful activities. Each school has values in educating pupils based on the spirit of the Saint of which are implemented as a fundamental of all activities and in the character building. The schools supervise the students and give mentoring to them if they make mistakes. Nevertheless, regulations against bullying, further information about bullying, and evaluations on implemented programs are still needed. Ada beberapa peran dalam hal perundungan: pelaku, asisten pelaku, korban, pembela potensial, dan penonton yang tidak terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tentang perundungan di sekolah Katolik, khususnya perannya dalam perundungan, dan upaya yang telah dilakukan sekolah untuk mencegah dan menanggulangi perundungan. Sekolah Katolik dipilih dalam penelitian ini karena memiliki nilai-nilai, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam berbagai kegiatan. Mixed method diterapkan sebagai metode penelitian. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mengetahui gambaran peran siswa dalam melakukan perundungan di sekolah Katolik, dan pendekatan kualitatif dilakukan untuk melihat upaya yang telah dilakukan sekolah dalam mencegah dan menanggulangi perundungan di sekolah. Penelitian ini melibatkan 178 siswa yang mengisi kuesioner dan 15 siswa dalam wawancara kelompok, serta 15 guru dari 3 sekolah Katolik yang berbeda. Data diolah dengan SPSS. Observasi dilakukan dengan melihat kondisi sekolah A, B, dan C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perundungan terjadi di sekolah Katolik, dan peran siswa berbeda-beda. Persentase terbesar adalah peran pelaku perundungan. Hasil wawancara dengan guru dan kelompok siswa menunjukkan bahwa pencegahan perundungan telah dilakukan dengan memberikan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Setiap sekolah memiliki nilai-nilai dalam mendidik anak didik yang dilandasi oleh semangat Orang Suci yang diimplementasikan sebagai dasar dari semua kegiatan dan pembinaan karakter. Sekolah mengawasi siswa dan memberikan pendampingan jika mereka melakukan kesalahan. Kendati demikian, regulasi yang melarang perundungan, informasi lebih lanjut tentang perundungan, dan evaluasi atas program-program yang dilaksanakan masih diperlukan.
Daftar Isi JMISHS Vol 5 No 1 Wulan Purnama Sari
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi JMISHS Vol 5 No 1
PERAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN JENIS KELAMIN TERHADAP KETERIKATAN KERJA Dian Ardianti; Fransisca I. R. Dewi; P. Tommy Y.S. Suyasa
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.7565.2020

Abstract

According to the literature, employees who have vigor, dedication and absorp in their work are considered to have a high work engagement and are able to increase productivity. This research was conducted to see the role of transformational leadership and gender to work engagement. Participants are 208 IT sales that sell IT products. The instrument test uses item analysis test, and regression analysis uses multiple regression. The results show that only transformational leadership has a significant relationship with work engagement, that means the higher the role of transformational leaders, the higher level of work engagement is held. While the gender variable does not have a significant relationship with work engagement. Based on the results obtained, the role of transformational leadership is needed by IT sales as a factor that can increase work engagement. Menurut literatur, karyawan yang menampilkan semangat, dedikasi dan tenggelam dalam pekerjaan mereka dianggap memiliki keterikatan kerja yang tinggi serta mampu meningkatkan produktivitas. Penelitian ini dilakukan untuk melihat peran kepemimpinan transformasional dan jenis terhadap keterikatan kerja. Partisipan berjumlah 208 sales IT yang melakukan penjualan produk IT. Uji instrumen menggunakan uji analisis butir, serta analisis regresi menggunakan regresi berganda. Hasil menunjukkan bahwa hanya kepemimpinan transformasional yang berperan secara signifikan terhadap keterikatan kerja, artinya semakin tinggi peran pemimpin transformasional yang dirasakan maka semakin tinggi pula tingkat keterikatan kerja yang dimiliki. Sedangkan variabel jenis kelamin tidak berperan terhadap keterikatan kerja. Berdasarkan hasil yang diperoleh, peran kepemimpinan transformasional diperlukan oleh sales IT sebagai faktor yang dapat meningkatkan keterikatan kerja.
PROFIL FAKTOR KEPRIBADIAN MALADAPTIF PADA DEWASA AWAL: STUDI DESKRIPTIF Ray Caesarly Santosa; Rismiyati E. Koesma; Zamralita Zamralita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9604.2020

Abstract

Personality disorder is an incapacitating mental illness that leads the individual to some negative consequences, often deadly. However, to date, no studies have been conducted to determine the prevalence of personality disorders in Indonesia.  This could happen due to the fact that personality disorders often co-morbid with other mental disorders making them difficult to detect. According to Alternative Model for Personality Disorders (AMPD), personality disorders can be diagnosed by the presence of maladaptive personality factors in oneself. There are five maladaptive personality factors according to the model: Negative Affectivity, Detachment, Disinhibition, Antagonism, and Psychoticism. Therefore, this study aims to get an overview of the maladaptive personality factors and describe the maladaptive personality characteristics in order to detect the symptoms of personality disorders in community sample. Through survey and descriptive analysis of 608 emerging adults (M age= 19.66 y.o, SD = 1.895), the study found that 1.2% are classified in High Personality Dysfunction category and 38.8% of the participants are classified in Low Personality Dysfunction category. The results showed that Negative Affectivity factor has the highest score for each group of the participants. In addition, the study also found the largest characteristic difference between groups of participants lies in the Psychoticism and Detachment factors. The study concludes by providing some avenues for further research and suggestions for mental health practitioners, and society in general.  Gangguan kepribadian adalah gangguan mental serius dan dapat menyebabkan beberapa konsekuensi negatif pada penderitanya, termasuk kematian. Namun, hingga saat ini belum ditemukan studi mengenai prevalensi gangguan kepribadian di Indonesia. Hal tersebut dapat terjadi karena gangguan kepribadian seringkali bersanding dengan gangguan mental lain sehingga sulit terdeteksi. Menurut model alternatif untuk gangguan kepribadian (AMPD), gangguan kepribadian dapat dideteksi dengan keberadaan faktor kepribadian maladaptif dalam diri seseorang. Berdasarkan pendekatan AMPD, terdapat lima faktor kepribadian maladaptif, yaitu Negative Affectivity, Detachment, Disinhibiton, Antagonism, dan Psychoticism. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau profil kelima faktor kepribadian maladaptif guna memindai gejala gangguan kepribadian pada sampel dan gambaran karakteristik masyarakat secara umum. Melalui survei dan analisis deskriptif terhadap 608 orang dewasa awal (Musia = 19.66 tahun, SD = 1.895), ditemukan partisipan dengan tingkat disfungsi kepribadian tinggi sebesar 1.2% dan partisipan dengan tingkat disfungsi kepribadian rendah sebesar 38.8%. Hasil juga menunjukkan bahwa faktor negative affectivity adalah faktor yang paling besar dimiliki oleh tiap-tiap kelompok partisipan. Selain itu, perbedaan karakteristik paling besar antar kelompok partisipan terletak pada faktor psychoticism dan detachment. Studi disimpulkan dengan memberikan beberapa usulan untuk penelitian lebih lanjut, psikoterapis, dan masyarakat secara umum. 
PERAN KETIDAKNYAMANAN KERJA TERHADAP INTENSI PINDAH KERJA Ranisya Fitta; Fransisca I. R. Dewi; Rita Markus Idulfilastri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.8845.2020

Abstract

PT X is a startup company engaged in financial technology, experiencing an increased in the number of turnover. Turnover has a negative impact on the company. Company will lack human resources and need time recruiting and training new employees. Turnover intention is an accurate predictor of the number of turnover. An organization can’t eliminate the intention of employee turnover, but can reduce the level of intention. One of the factor that cause frequent employee desires to leave the company are employee insecurities at job. T test results of this study indicate that the standard value of the coefficient job insecurity is 0.189 with a significance level of 0,000. Based on the results can be concluded that job insecurity has a significant and positive effect of turnover intention. PT. X adalah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang financial technology, mengalami peningkatan angka pindah kerja. Pindah kerja memberikan dampak yang negatif bagi perusahaan. Perusahaan akan kekurangan sumber daya manusia dan membutuhkan waktu untuk merekrut serta melatih karyawan baru. Intensi pindah kerja adalah peramal yang akurat terhadap angka pindah kerja. Suatu organisasi tidak dapat menghilangkan intensi pindah kerja karyawan, namun dapat mengurangi tingkat intensi tersebut. Salah satu faktor yang menyebabkan sering terjadinya keinginan karyawan untuk keluar dari perusahaan tempat bekerja adalah perasaan tidak nyaman karyawan pada pekerjaannya. Hasil Uji T pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai standar koefisien yang diperoleh pada ketidakamanan kerja sebesar 0.189 dengan tingkat signifikansi 0.000. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ketidaknyamanan kerja berpengaruh signifikan dan positif terhadap intensi pindah kerja. 
PENGARUH KECEMASAN TERHADAP PENYESUAIAN PERNIKAHAN PADA WANITA PERIMENOPAUSE Ivana Kamilie; Rismiyati E. Koesma; Zamralita Zamralita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9606.2020

Abstract

Physical decline will occur gradually in middle adulthood. One of the big things related to the physical condition of middle adult women is the period of perimenopause. Not only physically, the perimenopause period will also affect the emotional aspects of women. In this period, women will experience a higher level of anxiety rather than other developmental periods. The anxiety experienced not only affects the individual, but can also have an impact on the couple, such as affecting marriage satisfaction, marriage quality, and sexual satisfaction. One term that is quite broad and can summarize these aspects is marital adjustment. This study aims to determine the effect of anxiety on marital adjustment in perimenopause women. Participants in this study were 182 women, aged 40-50 years who experienced perimenopause symptoms (hot flashes, vaginal dryness, easy headaches, bone loss, increased levels of bad cholesterol, dry skin, difficulty concentrating, forgetfulness, decreased sexual desire and fertility, mood changes, irritability, increased symptoms of depression and anxiety). The measuring instruments used in this study were the State-Trait Anxiety Inventory (STAI) and the Dyadic Adjustment Scale (DAS). In this study, the analysis technique used is simple linear regression. The results showed a negative effect of anxiety on marriage adjustment (B = -0.583, p <0.01). The higher the anxiety, the lower the marriage adjustment, and vice versa. The amount of influence given by anxiety on marital adjustment is 34%. Penurunan fisik akan terjadi secara bertahap pada masa dewasa madya. Salah satu hal besar yang berhubungan dengan kondisi fisik pada wanita dewasa madya adalah periode perimenopause. Tidak hanya berpengaruh secara fisik, periode perimenopause juga akan memengaruhi aspek emosional pada wanita. Pada periode ini, wanita akan mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan pada masa perkembangan lainnya. Kecemasan yang dialami tidak hanya berdampak pada individu, namun juga dapat berdampak pada pasangan, seperti memengaruhi kepuasan pernikahan, kualitas pernikahan, dan kepuasan seksual, Salah satu istilah yang cukup luas dan dapat merangkum aspek-aspek terseut adalah penyesuaian pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kecemasan terhadap penyesuaian pernikahan pada wanita perimenopause. Partisipan pada penelitian ini adalah 182 wanita, berusia 40-50 tahun yang mengalami simptom perimenopause (hot flashes, rasa kering pada vagina, mudah sakit kepala, pengeroposan tulang, peningkatan kadar kolesterol jahat, kulit kering, sulit berkonsenterasi, mudah lupa, penurunan gairah seksual dan kesuburan, perubahan kondisi mood, mudah tersinggung, peningkatan gejala depresi dan kecemasan). Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah State-Trait Anxiety Inventory (STAI) dan Dyadic Adjustment Scale (DAS). Pada penelitian ini teknik analisa yang digunakan adalah regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh negatif kecemasan terhadap penyesuaian pernikahan (B = -0.583, p < 0.01). Semakin tinggi kecemasan maka penyesuaian pernikahan akan semakin rendah, dan sebaliknya. Adapun besar pengaruh yang diberikan kecemasan terhadap penyesuaian pernikahan adalah sebesar 34%.
PERANAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KUALITAS HIDUP REMAJA PERKOTAAN Pamela Hendra Heng; Naomi Soetikno; Amala Fahditia
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.6599.2020

Abstract

In an effort to improve the progress of the Indonesian nation, it is necessary to pay attention to all levels of society, especially the young people who will be the pillars of the Indonesian nation in the future. One fourth of Indonesia's population is children and adolescents. Other studies have shown that parenting can influence a child's level of self-confidence, academic performance, and children's behavior. This research was to examine the "Role of Parents’ Parenting towards Urban Adolescents’ Quality of Life". A quantitative method with non-experimental was used and attended by 381 State High School students (SMAN), ages of 14-19 years in schools of X and Y in X city, namely 234 girls and 147 boys. Measuring instruments used are Youth Quality of Life (YQOL) and parenting measuring instruments that have been adapted. Based on the results of different tests on parenting parents with One-way Anova obtained values of F = 10,203, p = .000 <.05 for mothers’ parenting, and F = 6,146, p = .000 <.05 for fathers’ parenting, so there are significant differences between quality of life with parenting styles. The results showed that "authoritative" parenting has a high quality of life, where parents encourage, also provide limits, adolescents become independent individuals. Meanwhile, “neglectful” parenting has a low quality of life, lacks involvement in the lives of children, adolescents do not become independent individuals, less competent in socializing and lack of self-control. Dalam upaya meningkatkan kemajuan bangsa Indonesia perlu diperhatikan semua lapisan masyarakat, khususnya para remaja yang akan menjadi tiang tonggak bangsa Indonesia di masa mendatang. Seperempat dari penduduk Indonesia merupakan anak-anak dan remaja. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa pola asuh orangtua dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri anak, performa dalam akademik, dan perilaku anaknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji “Peranan Pola Asuh Orang Tua terhadap Kualitas Hidup Remaja Perkotaan.” Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan non eksperimental dan ini diikuti oleh 381 siswa SMAN berusia 14-21tahun di sekolah X dan Y di kota X, yakni 234 wanita dan 147 pria. Alat ukur yang digunakan adalah Youth Quality of Life (YQOL) dan alat ukur pola asuh yang telah diadaptasi. Berdasarkan hasil uji beda pada pola asuh orangtua dengan Oneway Anova diperoleh nilai F = 10.203, p = .000 < .05 untuk pola asuh ibu, dan F = 6.146, p = .000 < .05 untuk pola asuh ayah, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas hidup dengan pola asuh orangtua. Hasil penelitian menunjukkan, remaja dengan pola asuh orangtua yang “authoritative” memiliki kualitas hidup yang tinggi, dimana orang tua mendorong, juga memberikan batasan, remaja menjadi pribadi yang mandiri. Sementara, remaja dengan pola asuh orangtua yang “neglectful” memiliki kualitas hidup yang rendah, dimana kurang keterlibatan orangtua dalam kehidupan anak, remaja menjadi pribadi tidak mandiri, kurang kompeten bersosialisasi dan kurang pengendalian diri. 
GAMBARAN KESEJAHTERAAN SPIRITUAL USHER DEWASA MADYA DI GEREJA X JAKARTA Graciella Faren; Raja Oloan Tumanggor
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.8979.2021

Abstract

Well-being is something that most people look for. Not only about material, well-being is essentially an achievement of harmony in life from physical, intellectual, social, mental, and also spiritual aspects. Likewise, spirituality becomes one of the supports of individuals to carry out life. Spiritual well-being is important in the lives of middle-aged individuals who have experienced many changes in their lives. These changes have a certain impact on the lives of middle-aged individuals, where middle-aged individuals will evaluate themselves more and live a better quality. This study aims to determine the description of the spiritual well-being of church servants “Church X” in Jakarta. Spiritual well-being is not only focused on the person and God, but other dimensions are related to one another. The research method used is a mixed method that combines questionnaires and interviews. The subjects of this study are the church servants in “Church X” Jakarta, amounting to 33 servants who distributed questionnaires and 3 servants to be interviewed. From the results of the study, it can be concluded that the picture of spiritual well- being of church-servants in Church X is said to be high and has positive well-being from every dimension, personal, communal, environmental and, transcendental. Kesejahteraan adalah sesuatu yang dicari oleh kebanyakan orang. Tidak hanya materi, kesejahteraan pada hakikatnya merupakan pencapaian keharmonisan dalam hidup baik dari aspek fisik, intelektual, sosial, mental maupun spiritual. Demikian pula spiritualitas menjadi salah satu penunjang individu dalam menjalani kehidupan. Kesejahteraan spiritual penting dalam kehidupan individu paruh baya yang telah mengalami banyak perubahan dalam hidup mereka. Perubahan ini memiliki dampak tertentu pada kehidupan individu paruh baya, di mana individu paruh baya akan lebih mengevaluasi diri dan menjalani kualitas yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesejahteraan spiritual pelayan gereja di Jakarta. Kesejahteraan spiritual tidak hanya terfokus pada pribadi dan Tuhan, tetapi dimensi lain terkait satu dengan yang lainnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran yang menggabungkan kuesioner dan wawancara. Subjek penelitian ini adalah abdi gereja di “Gereja X” Jakarta yang berjumlah 33 orang dengan menyebarkan kuesioner dan 3 orang untuk diwawancarai. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gambaran kesejahteraan spiritual hamba-hamba Gereja di Gereja X dikatakan tinggi dan memiliki kesejahteraan yang positif dari setiap dimensi baik personal, komunal, lingkungan dan transendental.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue