cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PENERAPAN PROGRAM THE GOOD BEHAVIOR GAMES (GBG) UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU PROSOSIAL PADA BYSTANDER Yunike Putri; Sri Tiatri; Pamela Hendra Heng
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7712.2020

Abstract

Bullying is not only affects victims of bullying, but it can also affect students who witness bullying (bystander). The role of the bystander becomes very important because as someone who often witnesses the bullying, they can prevent the incident. A bystander who is often passive in stopping bullying has been found to have a low quality prosocial behavior. In doing prosocial behavior, one of very important thing to do is to give reinforcement to children. In the Good Behavior Games (GBG) program, students in groups will be given instructions in a game to do various prosocial behavior. Students will be given reinforcement, which is the compilation of rewards if they can show the expected behavior. The purpose of this research is to examine whether the implementation of the Good Behavior Games (GBG) program can increase prosocial behavior of bystander in 6th grade students. This study used an experimental design of one group pre-test post-test involving 27 participants who were identified as bystanders. The sampling technique in this study used purposive sampling. Measurements in this study used a Prosocial Behavior measurement tool developed by Knafo Noam et al. The GBG implementation was carried out in 22 sessions. The results showed that the Good Behavior Games intervention program was able to increase prosocial behavior of bystanders. Kejadian bullying tidak hanya mempengaruhi korban bullying, tetapi hal tersebut juga dapat memengaruhi siswa-siswa yang menyaksikan kejadian bullying (bystander). Peran bystander menjadi sangat penting, karena sebagai seseorang yang seringkali menyaksikan bullying, mereka dapat mencegah kejadian tersebut. Seorang bystander yang seringkali bersikap pasif dalam menghentikan bullying ditemukan memiliki kualitas perilaku prososial yang rendah. Dalam mengajarkan perilaku prososial, salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan yaitu dengan memberikan reinforcement atau penguatan pada anak. Dalam program the Good Behavior Games (GBG) para siswa dalam kelompok diberikan instruksi untuk melakukan berbagai perilaku prososial dalam suatu permainan. Siswa diberi reinforcement, yaitu berupa reward ketika berhasil menunjukkan perilaku yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah penerapan program the Good Behavior Games (GBG) dapat meningkatkan perilaku prososial pada bystander pada siswa kelas 6 SD. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen one group pre-test post-test dengan melibatkan 27 partisipan yang teridentifikasi sebagai seorang bystander. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan alat ukur Perilaku Prososial yang dikembangkan oleh Knafo Noam dkk. Pelaksanaan the GBG dilaksanakan sebanyak 22 sesi. Hasil penelitian menunjukkan pemberian intervensi program the Good Behavior Games dapat meningkatkan perilaku prososial pada bystander.
PERAN PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI TERHADAP KESIAPAN MENGHADAPI PERUBAHAN DENGAN MODAL PSIKOLOGIS SEBAGAI MEDIATOR Cecilia Meilian; Rita Markus Idulfilastri; Fransisca I. R. Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.7716.2021

Abstract

Change is a necessity because no one can reject or avoid change. This can also happen in organizations, so it is important to be able to see a person's readiness in dealing with changes with the variables that influence it. The main objective of this study was to examine the role of psychological capital as a mediators in the relationship between perceived organizational support and readiness of change in PT X. Participants were 150 employees of PT X, a subsidiary of one of the BUMN. Data were collected using a change readiness questionnaire based on the Holt scale, Armenakis (2007), the scale of the perception of organizational support by Eisenberger, Huntington, Hutchinson, & Sowa (1986) to measure perceived organizational support. Psychological capital is measured using a concept from Luthans, Youssef-Morgan, Avolio (2015) which was later developed by the Faculty of Psychology at Tarumanagara University. Data processing using linear regression has proven the perceived of organizational support directly has a positive and significant effect on readiness of changes in PT X. The contribution of the variable perception of organizational support in explaining the variable readiness of change is 30.2%. Perceived organizational support have a positive and significant effect on readiness to face change through psychological capital mediators at PT X. The contribution of readiness of change and psychological capital in explaining the variables of readiness to face change is 46.6%.  Perubahan adalah keniscayaan karena tidak ada seorang pun yang dapat menolak atau menghindar dari perubahan. Hal ini pun dapat terjadi di organisasi, sehingga penting untuk dapat melihat kesiapan seseorang dalam menghadapi perubahan dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhinya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji peran mediator modal psikologis terhadap hubungan persepsi dukungan organisasi dengan kesiapan menghadapi perubahan di PT X. Partisipan adalah 150 karyawan PT X, anak usaha salah satu BUMN. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kesiapan berubah berdasarkan skala Holt, Armenakis (2007), skala studi persepsi dukungan organisasi oleh Eisenberger, Huntington, Hutchinson, & Sowa (1986) untuk mengukur persepsi dukungan organisasi. Variabel modal psikologis diukur dengan menggunakan konsep dari Luthans, Youssef-Morgan, Avolio (2015) yang kemudian dikembangkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara. Pengolahan data menggunakan regresi linear telah membuktikan persepsi dukungan organisasi secara langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menghadapi perubahan di PT X. Kontribusi dari variabel persepsi dukungan organisasi dalam menjelaskan variabel kesiapan menghadapi perubahan sebesar 30.2%. Persepsi dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menghadapi perubahan melalui mediator modal psikologis di PT X. Kontribusi dari variabel persepsi dukungan organisasi dan modal psikologis dalam menjelaskan variabel kesiapan menghadapi perubahan sebesar 46.6%.
ANALISIS PENGARUH KONSEP INTERIOR RUANG KERJA DI RUMAH TINGGAL PASCA PANDEMI COVID-19 Fivanda, Fivanda; Ismanto, Adi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.11728.2021

Abstract

Residential is an important means for humans. The house must be able to provide tranquility, comfort, and convenience. Before the Covid-19 pandemic spreads, function of residents was to provide shelter from hot sun and rain. Since March 2020, complying with the social physical distancing protocols has required many companies have to limit the number of employees working in the office. This means that work from office activities have not been fully implemented and the work from home policy is the choice of companies. Employees spend every day 10 hours working. It is necessary to have a workspace arrangement in a residence that can separate between work zones and rest zones. The purpose of this research is to describe how the influence of workspace design in residential houses for the efficiency and effectiveness of workers. Through the Post Evaluation Occupancy (POE) research method, the workspace in the 25 respondents' residence was used as a reference for evaluation by obtaining data through the Focus Group Discussion (FGD) process. With 3 respondents, direct observations were made and 22 respondents supported through a questionnaire. The evaluation results obtained show that 90% of workers need furniture to work, window for ventilation, lighting, and providing natural views. Visualized in the design concept 'less is more' that the implementation of a simple workspace but provides a physical and psychological experience to support working from home. A design concept that prioritizes the fulfillment of activities towards the function and use of furniture as needed. Rumah tinggal merupakan sarana penting bagi manusia. Pada perkembangannya rumah bukan hanya sekedar untuk menghindarkan diri dari hujan dan panas tetapi melainkan rumah harus mampu memberikan ketenangan, kesenangan bahkan kenyamanan. Sebelum pandemi Covid-19 merebak, fungsi rumah tinggal bagi penghuninya sebatas memberikan tempat perlindungan dari panas matahari dan cuaca dingin supaya terhindar dari hujan. Semenjak bulan Maret 2020, keharusan dalam mematuhi protokol social physical distancing mengharuskan perusahaan membatasi jumlah karyawan yang bekerja di kantor. Ini artinya, kegiatan work from office belum sepenuhnya dapat berjalan dan kebijakan work from home menjadi pilihan dari perusahaan-perusahaan. Mengingat waktu yang dihabiskan karyawan bekerja di kantor berkisar 10 jam per hari. Maka, diperlukan tatanan ruang kerja pada rumah tinggal yang nyaman serta dapat membedakan antara zona bekerja dengan zona beristirahat. Tujuan penelitian untuk memaparkan bagaimana pengaruh desain ruang kerja pada rumah tinggal terhadap efisiensi dan efektivitas pekerja dalam menjalankan perannya. Melalui metode penelitian Post Evaluation Occupancy (POE) ruang kerja pada rumah tinggal 25 responden dijadikan acuan sebagai bahan evaluasi dengan mendapatkan data naracoba pengguna melalui proses Focus Group Discussion (FGD). Dengan 3 responden, dilakukan pengamatan langsung dan 22 responden pendukung melalui kuesioner. Hasil evaluasi yang diperoleh dari naracoba menunjukan bahwa 90% pekerja membutuhkan furnitur untuk bekerja, ventilasi jendela sebagai penghawaan, pencahayaan, serta memberikan pemandangan alami. Divisualisasikan dalam konsep desain ‘less is more’ bahwa implementasi ruang kerja yang sederhana tetapi memberikan pengalaman secara fisik dan psikis yang mendukung kinerja work from home. Sebuah konsep desain yang mengutamakan pemenuhan aktivitas terhadap fungsi dan penggunaan furnitur sesuai kebutuhan.
SIKAP BURUH TANI DI KECAMATAN PGL BDG MENGHADAPI ANJURAN STAY AT HOME Deni Sutisna; Arif Widodo; Muhammad Sobri; Mohammad Archi Maulyda; Nursaptini Nursaptini
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9154.2021

Abstract

This study aims to examine the problems of various community behaviors in facing the threat of COVID-19, especially of farmworkers on the PGL sub-district, Bdg district. The basic reason for this research is that in the midst of the government's great efforts to suppress the spread of this virus by limiting community activities, both social distancing and suggestions to stay at home in various areas, the people of PGL sub-district, especially farmers and farm laborers, are still carrying out their activities. like before the COVID-19 pandemic. The descriptive method is used in this research. Observations were made with interview techniques and documentation because they were very appropriate for studying descriptive social problems such as this research. The reasons for farmers and farm laborers to continue their activities are: First, farm workers in PGL think that the COVID-19 pandemic will not hit their area, they believe they will remain healthy because of their work patterns that are outdoors and exposed to direct sunlight. The two economic factors and difficulties in fulfilling the necessities of life, the third is the lack of public awareness farmworkers about the dangers of COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengaji permasalahan tentang berbagai perilaku masyarakat dalam menghadapi ancaman COVID-19 terutama masyarakat kalangan buruh tani yang berada di kawasan kecamatan PGL kabupaten Bdg. Alasan mendasar dari penelitian ini adalah di tengah usaha pemerintah yang begitu besar dalam upaya menekan penyebaran virus ini dengan membatasi aktivitas masyarakat baik social distancing ataupun anjuran untuk stay at home di berbagai wilayah, tetapi masyarakat kecamatan PGL khususnya pada kalangan petani dan buruh tani masih menjalankan aktivitasnya seperti sebelum terjadi pandemi COVID-19. Metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Pengamatan dilakukan dengan teknik wawancara, dan dokumentasi karena sangat tepat untuk mengkaji permasalahan sosial yang bersifat deskripsi seperti penelitian ini. Alasan para buruh tani tetap beraktivitas adalah: Pertama, buruh tani di PGL beranggapan pandemik COVID-19 tidak akan melanda wilayahnya, mereka berkeyakinan tetap sehat karena pola kerja mereka yang berada di luar ruangan dan terkena sinar matahari langsung. Kedua, faktor ekonomi dan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup; ketiga, kurangnya kesadaran masyarakat kalangan buruh tani akan bahaya dari COVID-19.
EFEKTIVITAS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 22/PUU-XV/2017 TENTANG BATAS USIA PERKAWINAN Hadiati, Mia; Syailendra, Moody R; Marfungah, Luthfi; Ramadhan, Febriansyah; Monalisa, Monalisa; Gunawan, Anggraeni Sari
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.10097.2021

Abstract

This paper will discuss how the post-judicial decision of the Constitutional Court has a minimum age of marriage for woman and consideration in the values of human rights. This paper aims to provide an understanding to the public that the importance of paying attention to the age of marriage is a form of protection of children’s rights, and as an effort to prevent discrimination against woman. The research method used is a combination of normative legal research and empirical legal research. The research material that will be used in this research includes secondary data and primary data. Primary data were obtained directly from samples / research subjects. While the legal materials for secondary data in this study were obtained from library materials related to the problem. After the verdict of the Constitutional Court at a minimum age is married to a 19-year-old woman in terms of the values of human rights, and this is one form of public awareness and responsibility of the state for the protection and fulfillment of human rights (children’s rights and principles of nondiscrimination) and constitutional rights. This issue further looks at the future impact of child marriage for woman can lead to discriminatory actions against woman related to the issue of legal position between men and women who will directly violate children’s rights. Tulisan ini akan membahas bagaimana pasca-putusan Mahkamah Konstitusi usia minimal menikah bagi perempuan dan pertimbangan dalam nilai-nilai hak asasi manusia. Tulisan ini bertujuan: memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pentingnya memperhatikan usia menikah sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap hak-hak anak dan sebagai salah satu upaya pencegahan tindakan diskriminasi terhadap perempuan. Metode penelitian yang digunakan yakni perpaduan antara penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. Bahan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi data sekunder maupun data primer. Data primer diperoleh secara langsung dari sampel/subjek penelitian. Sedangkan bahan hukum data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang berhubungan dengan permasalahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasca-putusan Mahkamah Konstitusi usia minimal menikah bagi perempuan 19 (sembilan belas) tahun menunjukan sangat sarat dengan pertimbangan nilai-nilai hak asasi manusia, dan ini merupakan salah satu bentuk kesadaran masyarakat dan tanggung jawab negara atas perlindungan dan pemenuhan terhadap hak asasi (hak-hak anak, dan prinsip non diskriminasi) dan hak konstitusi. Persoalan ini lebih jauh melihat kedepan dampak dari perkawinan usia anak bagi perempuan dapat menimbulkan tindakan diskriminasi terhadap perempuan terkait dengan persoalan kedudukan hukum antara laki-laki dan perempuan yang secara langsung akan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak anak.
PERAN SELF EFFICACY SEBAGAI MEDIATOR ANTARA JOB RESOURCES DAN WORK ENGAGEMENT PADA DOKTER HEWAN Puspa Putri Sajuthi; Raja O. Tumanggor; P. Tommy Y.S. Suyasa
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.3495.2020

Abstract

This study explores the role of self-efficacy as a mediator between job resources and work engagement among veterinarians. Self-efficacy is seen as the degree of confidence of the veterinarian in performing their duties. Job resources is an aspect of work that individuals can use to handle the demands and challenges of their work. Job resources in this study includes opportunities for professional development and skills discretion. Opportunties for professional development refers to the opportunities provided for veterinarians to enroll in courses that can develop their veterinary knowledge. Skills discretion refers to the extent to which veterinarians acquire the opportunity to apply all their skills, both as a veterinarian and other skills such as negotiation and creativity. Participants included 32 veterinarians from X Veterinary Clinic, Jakarta. The analysis methods used were regression and bootstrapping. The results showed that self-efficacy is proven to act as a partial mediator in explaining the relationship between skills discretion and work engagement. Penelitian ini mengeksplorasi peran self efficacy sebagai mediator antara job resources dan work engagement pada dokter hewan. Self efficacy digambarkan sebagai derajat keyakinan dokter hewan dalam melakukan pekerjaannya. Job resources merupakan aspek pekerjaan yang dapat digunakan individu untuk menangani tuntutan dan tantangan pekerjaannya. Job resources pada penelitian ini digambarkan dengan opportunities for professional development dan skills discretion. Opportunties for professional development mengacu pada kesempatan yang diberikan bagi para dokter hewan untuk mengikuti kursus yang dapat mengembangkan ilmunya sebagai dokter hewan. Skills discretion mengacu pada sejauh mana dokter hewan memeroleh kesempatan untuk menerapkan segenap keterampilan yang dimilikinya baik keterampilan sebagai dokter hewan maupun keterampilan lainnya seperti negosiasi dan berkreasi. Partisipan adalah 32 orang dokter hewan di Klinik Hewan X, Jakarta. Metode analisis yang digunakan adalah regresi dan bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self efficacy teruji berperan sebagai mediator parsial dalam menjelaskan hubungan antara skills discretion dan work engagement. 
HANS JONAS ON THE ETHICS OF TECHNOLOGY Raja Oloan Tumanggor
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.8978.2020

Abstract

This paper highlights Hans Jonas' technological ethic. For Jonas, traditional ethics is no longer adequate because the dynamics of modern technology are increasingly sophisticated. Initially, technology only helped humans learn natural laws so that nature could be used by humans according to their needs. However, the more advanced the technology, the side effects are also out of control and cannot be controlled. Therefore, Jonas offers ethical responsibility in the context of technology. This study examines Jonas's view of how humans should behave in today's technological developments. The method used is a qualitative method by analyzing Jonas' primary writings on technology ethics, then trying to describe them descriptively and critically. First of all, a brief biography of Jonas will be presented. Then discussed step by step his thoughts on technological ethics that come from primary and secondary sources. The result is that according to Jonas, humans have to change their way of life (lifestyle) in producing, consuming and caring about the environment. By creating a sense of human responsibility can prevent future calamities. This awareness is called Jonas with the principle of future responsibility. Studi ini menyoroti etika teknologi oleh Hans Jonas. Bagi Jonas, etika tradisional tidak lagi memadai karena dinamika teknologi modern semakin canggih. Pada awalnya teknologi hanya membantu manusia mempelajari hukum-hukum alam sehingga alam dapat dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan kebutuhannya. Namun, semakin canggih teknologi tersebut, efek sampingnya menjadi tidak terkendali. Oleh karena itu, Jonas menawarkan sebuah tanggung jawab etis dalam konteks teknologi. Studi ini mengkaji pandangan Jonas tentang bagaimana seharusnya manusia berperilaku dalam perkembangan teknologi saat ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menganalisis tulisan utama Jonas tentang etika teknologi, kemudian mencoba mendeskripsikannya secara mendalam dan kritis. Pertama-tama, terdapat biografi singkat Jonas. Kemudian pemikirannya tentang etika teknologi yang bersumber dari sumber primer dan sekunder dibahas selangkah demi selangkah. Hasilnya adalah, menurut Jonas, manusia harus mengubah cara hidup (gaya hidup) dalam memproduksi, mengonsumsi, dan peduli terhadap lingkungan. Dengan menciptakan rasa tanggung jawab manusia, musibah di masa depan dapat dicegah. Kesadaran ini disebut oleh Jonas sebagai prinsip tanggung jawab masa depan.
PERAN JOB DEMANDS DAN JOB RESOURCES TERHADAP WORK-FAMILY ENRICHMENT PADA GURU DI SEKOLAH X Florensia Louhenapessy; Rita Markus Idulfilastri; P. Tommy Y.S. Suyasa
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.8818.2020

Abstract

The teacher plays two main roles in his life, namely the role in work and in the family. The implementation of these two roles does not always cause conflict, but can improve the quality of life of teachers. Teacher job conflicts are closely related to job demand and job resources. Therefore, the purpose of this study is to see how the role of job demands and job resources on work-family enrichment in teachers. Work-family enrichment is enrichment obtained from individual experiences at work towards the welfare of family life, or vice versa. Job demands are defined as identical job demands with various pressures on the job (job stressor). Examples of job demands on teachers are the number of students who exceed the capacity in the classroom, the addition of subject matter outside of the teacher's interest / competence, the demand to adjust science to the times. Job resources are physical, social, and organizational aspects that serve as support or resources to achieve work goals. With the existence of job resources, job demands can be resolved. Psychologically, solving work demands based on available resources will stimulate the individual to grow and develop personally, in this case the personal growth of the individual has implications for increasing his welfare in working / family life. Participants in this study were 43 teachers in School X. Analysis of research results using multiple regression showed that job demands and job resources together played a role in predicting an increase in work-family enrichment by 12.5%. The implication of the results of this study is that various demands on work supported by resources at work can improve welfare in working life / family life. Guru menjalankan dua peran utama dalam kehidupannya yaitu peran di pekerjaan dan keluarga. Menjalankan dua peran tersebut tidak selalu menimbulkan konflik, namun justru bisa meningkatkan kualitas hidup guru. Konflik pekerjaan guru sangat berhubungan dengan job demand dan job resources. Oleh karena itu, tujuan penelitian adalah untuk melihat bagaimana peran job demands dan job resources terhadap work-family enrichment pada guru. Work-family enrichment merupakan pengayaan yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman individu di pekerjaan terhadap kesejahteraan kehidupan berkeluarga, atau sebaliknya. Job demands didefinisikan sebagai tuntutan-tuntutan pekerjaan yang indentik dengan berbagai tekanan dalam pekerjaan (job stressor). Contoh dari job demands pada guru adalah jumlah siswa yang melebihi kapasitas di dalam kelas, penambahan materi pelajaran di luar minat/kompetensi guru, tuntutan untuk menyesuaikan ilmu pengetahuan dengan perkembangan zaman. Job resources adalah aspek-aspek fisik, sosial, maupun organisasi yang berfungsi sebagai pendukung atau sumber daya untuk mencapai tujuan pekerjaan. Dengan adanya job resources maka job demands dapat terselesaikan. Secara psikologis, penyelesaian job demands berdasarkan job resources yang dimiliki akan menstimulasi individu untuk bertumbuh dan berkembang secara personal, dalam hal ini pertumbuhan personal yang dimiliki individu berimplikasi pada work-family enrichment. Partisipan pada penelitian ini adalah guru yang berjumlah 43 orang di Sekolah X. Analisis hasil penelitian yang menggunakan multiple regression menunjukan bahwa job demands dan job resources bersama-sama berperan memprediksi peningkatan work-family enrichment sebesar 12,5%.  Implikasi dari hasil penelitian ini bahwa berbagai tuntutan dalam pekerjaan yang di dukung dengan sumber daya dalam pekerjaan dapat meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupan berkerja dan berkeluarga. 
KAJIAN META ANALISIS ALAT UKUR INTERNET GAMING DISORDER Fiscarina, Claudia; Soetikno, Naomi; Idulfilastri, Rita Markus
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9503.2020

Abstract

Online game addiction is one of the addictive behaviors described by APA (2013) as a mental and behavioral disorder called Internet Gaming Disorder (IGD) with 9 criteria. This study aims to identify the appropriate criteria for internet gaming disorder to be used in the preparation of measuring instruments using a meta-analysis study. A total of 33 out of 470 articles involving 11 measuring instruments for internet gaming disorder were studied using random-effect models. A total of 29599 samples were involved in this study. The results showed that the criteria for internet gaming disorder owned by the PVP Scale had a weighted score percentage of 10.3% with the criteria of preoccupation, tolerance, loss of control, withdrawal, escape, deception, and disregard family / school disruption, from the correlation coefficient test it showed that preoccupation (p 0.040 <0.05) and tolerance (p 0.043 <0.05) had a positive correlation with internet gaming disorder. This study did not show publication bias. Kecanduan game online merupakan salah satu dari perilaku kecanduan berdasarkan APA (2013) dijelaskan sebagai gangguan mental dan perilaku dengan sebutan Internet Gaming Disorder (IGD) dengan 9 kriteria. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria internet gaming disorder yang tepat untuk dipergunakan dalam penyusunan alat ukur dengan studi meta-analisis. Sebanyak 33 artikel dari 470 artikel yang melibatkan 11 alat ukur internet gaming disorder dipelajari menggunakan random-effect models. Sebanyak 29599 sampel dilibatkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria internet gaming disorder yang dimiliki oleh PVP Scale memiliki presentase weighted score sebesar 10.3% dengan kriteria preoccupation, tolerance, loss of control, withdrawal, escape, deception, and disregard family / school disruption. Dari uji koefisien korelasi pada ketujuh kriteria internet gaming disorder menunjukkan bahwa preoccupation (p 0.040 < 0.05) dan tolerance (p 0.043 < 0.05) memiliki korelasi positif terhadap internet gaming disorder.  Studi ini tidak menunjukkan bias publikasi.
STUDI DESKRIPTIF-KOMPARATIF SIMTOM KECEMASAN DAN DEPRESI PADA MAHASISWA/I DI UNIVERSITAS X Chandra, Vivian; Satiadarma, Monty P.; Risnawaty, Widya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7531.2020

Abstract

College students are facing transitions in many aspects, and one of them is the educational challenges. Various types of academic stress may cause anxiety and depression. Hence, it is necessary to provide a description of anxiety and depression prevalences for further interventions. Researchers used DASS as screening instrument and gathered data from 371 students. From these findings, there were more students with anxiety or depression symptoms than those who did not. Anxiety was most found in moderate degree; while depression was most found in mild degree. Such results indicated that mental health awareness and psychological services are necessary to be endorsed for the sake of students’ wellbeing. Mahasiswa merupakan kelompok populasi yang mengalami transisi dalam berbagai aspek, salah satunya adalah dalam tantangan pendidikan. Ragam tantangan dalam dunia perkuliahan berpotensi untuk menyebabkan permasalahan psikologis, seperti stress dan depresi. Oleh karena itu, perlu diperoleh gambaran mengenai simtom kecemasan dan depresi guna ditindaklanjuti. Peneliti menggunakan kuesioner DASS sebagai instrument skrining pada 371 mahasiswa. Dari hasil temuan, ternyata lebih banyak mahasiswa/i yang mengalami simtom kecemasan atau depresi dibandingkan yang tidak mengalami simtom. Tingkat kecemasan yang paling prevalen adalah taraf sedang; taraf depresi yang paling prevalen adalah taraf ringan. Berdasarkan pemaparan data, kesadaran akan kesehatan mental dan layanan psikologis perlu untuk digalakkan demi kesejahteraan mental mahasiswa.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue