cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PERLINDUNGAN DATA PRIBADI TERHADAP TINDAKAN PENYEBARAN SEX TAPE MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA Syailendra, Moody R
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.12506.2021

Abstract

Technological developments give rise to various kinds of influences in human life. This influence not only has a positive impact, but also has a negative impact because of the misuse of technology. One of the recent incidents is the widespread distribution of pornographic videos (sex tapes) played by artists or ordinary people, for the benefit of the spreader or as a medium for extorting objects in photos/videos. This paper aims to look at forms of legal protection against the ownership of personal data containing pornography and to see steps that private owners can take to protect their personal data. In this paper, the author uses a legal research method, which is a know-how activity (finding how), not just know-about (searching about). As a know-how activity, legal research is conducted to solve legal issues faced. In this study, it can be concluded that the Electronic Personal Data containing pornography can be protected by law as a scope for the personal interests of the object in the photo/video itself. However, the data must be maintained and stored so that there is no access from other parties who can disseminate the data. The owner of personal data has personal rights to his electronic personal data, if the personal data is in the hands of another person, then the right holder has the authority to do something or not to do something to his personal data. One of the protection measures that can be taken is the destruction of personal data to prevent data misuse. Perkembangan teknologi memunculkan berbagai macam pengaruh di dalam kehidupan manusia. Pengaruh tersebut tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga turut berkembang pula pengaruh negatif Sebagai dampak penyalahgunaan teknologi. Salah satu kejadian yang marak belakangan ini adalah maraknya penyebaran video porno (sex tape) yang diperankan oleh kalangan artis atau masyarakat biasa, demi keuntungan penyebar atau sebagai media pemerasan kepada objek di dalam foto/video. Tulisan ini memiliki tujuan untuk melihat bentuk perlindungan hukum terhadap kepemilikan data pribadi bermuatan pornografi dan melihat langkah yang dapat diambil pemilik pribadi untuk melindungi data pribadi miliknya. Pada tulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian hukum, yaitu suatu kegiatan know-how (mencari bagaimana), bukan sekadar know-about (mencari tentang). Sebagai kegiatan know-how, penelitian hukum dilakukan untuk memecahkan isu hukum yang dihadapi. Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Data Pribadi Elektronik bermuatan pornografi dapat dilindungi oleh hukum sebagai lingkup untuk kepentingan pribadi objek di dalam foto/video sendiri. Namun data tersebut haruslah dijaga dan disimpan agar tidak ada akses dari pihak lain yang dapat menyebarluaskan data tersebut. Pemilik data pribadi memiliki hak pribadi terhadap data pribadi elektroniknya, apabila data pribadi tersebut berada di tangan orang lain, maka sebagai pemegang hak memiliki wewenang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu terhadap data pribadinya. Salah satu upaya perlindungan yang dapat dilakukan dengan pemusnahan data pribadi untuk mencegah penyalahgunaan data.
RANCANGAN KUESIONER LIMA ASPEK MINDFULNESS BAHASA INDONESIA Mutiara, Raden; Suyasa, P. Tommy Y.S.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.11783.2021

Abstract

The Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) is one of the most widely used mindfulness measurement instruments due to the ability of the instrument to assess not only how the individual is at present, but also provides accurate conclusions about the impact of each mindfulness practice that has been practiced before. Unfortunately, the Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) is not available in Indonesian. The study was conducted to redesign the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) developed by Baer et al. (2006) in English which consisted of 39 items representing 5 aspects, namely acting with awareness, non-assessing experiences, observing, non-reactivity of inner experiences, and describing in words. The questionnaire redesign in Indonesian version and developed into 40 items consisting of 8 items representing acting with awareness, 9 items representing non-judging of experience, 8 items representing observing, 7 items representing non-reactivity of inner experiences, and 8 items represent describing with words. The questionnaire was arranged in a submitted rating scale format with choices that had  been arranged in semantic differential format where response options are presented on a bipolar scale. Kuesioner lima aspek mindfulness atau yang lebih dikenal Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) adalah salah satu instrumen pengukuran mindfulness yang paling banyak digunakan disebabkan oleh kemampuan instrumen ini menilai bukan hanya bagaimana individu pada saat ini, namun juga memberikan penilaian yang akurat tentang dampak dari setiap praktik mindful yang telah dipraktekkan sebelumnya. Sayangnya saat ini instrumen Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) belum tersedia dalam bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan untuk membuat rancangan kuesioner lima aspek mindfulness atau Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) yang telah dikembangkan oleh Baer et al. (2006) menggunakan bahasa Inggris yang terdiri dari terdiri dari 39 butir yang mewakili 5 aspek yaitu acting with awareness, non-judging of experience, observing, non-reactivity of inner experience, dan describing with words. Kuesioner tersebut yang dirancang kembali dalam bahasa Indonesia dan berkembang menjadi 40 butir yang terdiri dari 8 butir pernyataan mewakili aspek acting with awareness, 9 butir pernyataan mewakili aspek non-judging of experience, 8 butir pernyataan mewakili aspek observing, 7 butir pernyataan mewakili aspek non-reactivity of inner experience dan 8 butir pernyataan mewakili aspek describing with words. Kuesioner disusun dalam format submitted rating scale dengan pilihan respon disusun dalam format semantic differential dimana pilihan respon disajikan dalam skala bipolar.
FEAR OF COVID-19 PADA KARYAWAN YANG BEKERJA SECARA LURING SELAMA PANDEMI Nelsen, Kevin Leo; Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.10940.2021

Abstract

The year 2020 begins with the COVID-19 pandemic, because of the sudden pandemic, many individuals are unable to adapt to the situation, moreover, the COVID-19 pandemic has an impact on many fields, from the health sector (medical) to the field. offices. COVID-19 spreads very quickly and caused panic. The government is doing its best to reduce the number of positive cases of COVlD19 in Indonesia. Some people are worried about the invisible threat of COVID-19. From this excessive anxiety, a new phenomenon has emerged, namely the fear of COVID-19. The purpose of this study is to provide an overview of the fear of COVID-19 among employees who work offline during the pandemic in the Jakarta area. Convenience sampling was used to collect data, and involved 173 participants who filled out questionnaires online. These participants are employees or workers from various professions who still have to work outside the home with an age range of 17-49 years. The results of data analysis in this study indicate that employees who work offline during the pandemic are 36 people (20.8%) classified as having a low level of fear of COVID-19, 109 people (63%) are classified as moderate, and 109 people are classified as high. 28 people (16.2%). So, it can be said that the level of fear of COVID-19 of employees working offline during the pandemic in the Jakarta area is fairly moderate. Tahun 2020 diawali dengan pandemi COVID-19, karena pandemi yang datang secara tiba-tiba, banyak sekali individu yang tidak dapat beradaptasi dengan situasi, terlebih, pandemi COVID-19 berdampak pada banyak sekali bidang, mulai dari bidang kesehatan (medis), hingga bidang perkantoran. COVID-19 menyebar dengan sangat cepat dan sempat membuat kepanikan. Pemerintah melakukan yang terbaik untuk menekan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia. Sebagian orang merasa cemas akan ancaman COVID-19 yang tidak terlihat. Dari rasa cemas yang berlebihan itu, munculah fenomena baru, yaitu fear of COVlD19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran umum fear of COVID-19 pada pegawai yang bekerja secara luring (luar jaringan) selama pandemi di daerah Jakarta. Teknik pengambilan data dilakukan dengan convenience sampling, dan melibatkan 173 partisipan yang mengisi kuisioner secara online. Partisipan ini adalah pegawai atau pekerja dari berbagai profesi yang tetapharus bekerja di luar rumah dengan rentang umur 17-49 tahun. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukan bahwa pegawai yang bekerja secara luring selama pandemi yang tergolong memiliki tingkat fear of COVID-19 rendah berjumlah 36 orang (20.8%), partisipan yang tergolong sedang berjumlah 109 orang (63%, dan partisipan yang tergolong tinggi berjumlah 28 orang (16.2%). Jadi, dapat dikatakan bahwa tingkat fear of COVID-19 para pegawai yang bekerja secara luring selama pandemi di daerah Jakarta terbilang sedang.
PERAN DESA ADAT DALAM TATA KELOLA LEMBAGA PERKREDITAN (LPD) DI BALI Hadiati, Mia; Julianti, Lis; Syailendra, Moody R; Marfungah, Luthfi; Gunawan, Anggraeni Sari
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.10080.2021

Abstract

LPD as one of the MicroFinance Institutions is very rapidly growing in Bali Province. LPD is said to be the business center of the informal sector. The existence of LPD as a credit institution in the village has been recognized based on customary law. In 2020 LPD in Bali amounted to about 1,433 LPD from a total of 1,485 Indigenous Villages in Bali which more served loans for villagers for various purposes. Therefore, in the management of LPD must be managed properly, correctly, transparency so that there is no misuse of LPD in its management and designation. The research method used in this research is normative-empirical legal research. This research is a blend of normative legal research and empirical legal research. Normative legal research is legal research that uses secondary data, while empirical legal research is legal research that uses primary data.  Based on the results of this pre-study can be concluded the occurrence of criminal acts of corruption committed both the Board and lpd managers cause disputes. Disputes conducted by lpd managers and managers cause conflicts of interest either between the manager with customary karma or between managers and managers both in the duties and functions of their authority. Disputes over customary issues in the Village within the scope of LPD either indicated that cause village losses or violations of applicable laws and regulations are often resolved through national law compared to customary law that applies in an LPD area. LPD sebagai salah satu Lembaga Keuangan Mikro sangatlah berkembang pesat di Provinsi Bali. LPD dikatakan sebagai pusat usaha sektor informal. Eksistensi LPD sebagai lembaga perkreditan di desa telah diakui keberadaannya berdasarkan hukum adat. Tahun 2020 LPD di Bali berjumlah sekitar 1.433 LPD dari total 1.485 Desa Adat di Bali yang lebih banyak melayani pinjaman bagi masyarakat desa untuk berbagai keperluan. Oleh karena itu didalam pengurusan LPD haruslah dikelola dengan baik, benar, transparansi agar tidak terjadi penyalahgunaan LPD di dalam pengelolaan dan peruntukannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif-empiris. Penelitian ini merupakan perpaduan antara penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang menggunakan data sekunder, sedangkan penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum yang menggunakan data primer.  Berdasarkan hasil pra penelitian ini dapat disimpulkan terjadinya tindak pidana korupsi yang dilakukan baik itu Pengurus dan pengelola LPD menimbulkan sengketa. Sengketa yang dilakukan oleh Pengurus dan pengelola LPD menimbulkan konflik kepentingan baik antara pengurus dengan karma adat atau antar pengurus dan pengelola baik dalam tugas dan fungsi kewenangannya. Sengketa permasalahan adat di Desa dalam ruang lingkup LPD baik itu terindikasi yang menimbulkan kerugian desa ataupun pelanggaran Peraturan Perundang Undangan yang berlaku seringkali sengketa tersebut diselesaikan melalui hukum Nasional dibandingkan dengan hukum adat yang berlaku di suatu wilayah LPD.
GAMBARAN DUKUNGAN SOSIAL, STRES, DAN ATTACHMENT PADA IBU DENGAN ANAK AUTISME DALAM MENGHADAPI PANDEMIK Putri, Nevy Prinanda; Mar'at, Samsunuwiyati; Soetikno, Naomi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.11311.2021

Abstract

Pandemics change a lot of activities, as well as patterns of activity of children with autism and interaction. Mothers as caregivers have to put in more effort to care for children during the pandemic so that stress levels also increase. This study aimed to see a picture of social support, stress and attachment to mothers with children with autism in a pandemic meeting. Participants in this study were 4 mothers who have children with autism. Sampling was done by convenience sampling. The method used is a qualitative method with a phenomenological design. The results shows that during the pandemic, the stress experienced by mothers with autism children who were received at a secondary assessment, understood their resources for coping and elicited emotional reactions such as anxiety that would develop rapidly. The attachment style of mothers with autism children is secure attachment based on the results of interviews, such as conducting joint interactions (meeting, playing, doing assignments, being responsive to needs and doing activities together) making necessary contact and adaptation to the pandemic. The description of social support during the pandemic of mothers with autistic children is a significant other, such as psychologists, baby sitters, and therapists. The main social support are direct assistance and information about the daily routine schedule that will be given to children Pandemik membuat banyak aktivitas berubah, begitu pula pola aktivitas anak dengan autisme dan ibunya. Ibu sebagai pengasuh utama harus mengeluarkan lebih banyak usaha untuk mengasuh anak pada masa pandemik sehingga tingkat stres juga meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran dukungan sosial, stres dan attachment pada ibu dengan anak autisme dalam menghadapi pandemik. Partisipan pada penelitian ini sebanyak 4 ibu yang memiliki anak dengan autisme. Pengambilan sampel dilakukan dengan convenience sampling. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran stres selama pandemik yang dialami para ibu dengan anak autisme mengacu pada penilaian secondary appraisal, mengetahui sumber daya mereka untuk melakukan coping dan memunculkan reaksi emosional seperti cemas akan perkembangan anaknya. Gambaran attachment selama pandemik para ibu dengan anak autisme adalah secure attachment berdasarkan hasil wawancara, seperti melakukan interaksi bersama (kehadiran, bermain, mengerjakan tugas, responsif terhadap kebutuhan dan melakukan kegiatan bersama-sama) sehingga cenderung dapat menghadapi dan adaptasi terhadap situasi pandemik. Gambaran dukungan sosial selama pandemik para ibu dengan anak autisme adalah significant other yaitu tenaga profesional seperti psikolog, babysitter, terapis dan pihak sekolah berupa bantuan langsung maupun informasi mengenai jadwal rutinitas sehari-hari yang akan diberikan kepada anak dengan autisme sehingga ibu dengan anak autisme tetap dapat melakukan kegiatan dalam situasi pandemik secara optimal.
RECHTSVACUUM ATAS PENGATURAN KEKUASAAN PEMBINA YAYASAN Miarsa, Fajar Rachmad Dwi; Hazir, Cholilla Adhaningrum
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.9268.2021

Abstract

The foundation is a legal entity that is private and run without profit (profit oriented). There are three organs that run a Foundation, namely Builders, Managers and Supervisors. The organ that is responsible for running the Foundation so that the purpose and purpose of the foundation of the Foundation which is social, religious, and humanitarian can be realized. Establishment of Law Foundation Number 16 of 2001 on the Foundation. The regulation contains the norm vacancy (rechtsvacuum) in the regulation of Foundation Builders. The problematic form of authority possessed by the Founders of the Foundation, seems to be infinite (absolute) and there is no arrangement for the termination of the Builder. The purpose of this writing is to analyze the form of vacancy norms of Law No. 16 of 2001 on the Foundation regarding the authority held by the Founders of the Foundation. Based on the description, then the problem is what are the consequences of juridis rechtsvacuum on Law Number 16 of 2001 on the Foundation on the form of responsibility of the Builder? This writing uses the writing method used is the normative juridical writing that is all the activities of a person to answer legal issues that are academic and practical, using a legal approach (Statute Approach), and a conceptual approach (Conceptual Approach) with prescriptive writing that gives a description or formulate problems in accordance with existing circumstances / facts. The author uses this method to provide an argument for the results of the writing done by the author. The results of the writing on the legal consequences of the form of problem solving on the form of arbitrariness of the Founders of the Foundation due to the vacancy of rules (rechtsvacuum) on Law No. 16 of 2001 on the Foundation. Yayasan merupakan badan hukum yang bersifat privat dan dijalankan dengan tidak mencari keuntungan (profit oriented). Terdapat tiga organ yang menjalankan suatu Yayasan, yaitu Pembina, Pengurus dan Pengawas. Organ tersebut yang bertugas menjalankan Yayasan agar tujuan dan maksud pendirian Yayasan yang bersifat sosial, keagamaan, dan kemanusiaan dapat terwujud. Pembentukan Yayasan diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Peraturan mengandung kekosongan norma (rechtsvacuum) pada pengaturan mengenai Pembina Yayasan. Problematika bentuk kewenangan yang dimiliki Pembina Yayasan, terkesan tanpa batas (absolute) dan tidak terdapat pengaturan mengenai pemberhentian Pembina. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bentuk kekosongan norma Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan mengenai kewenangan yang dimiliki Pembina Yayasan. Berdasarkan pada uraian tersebut, maka permasalahannya adalah apa akibat yuridis rechtsvacuum atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan mengenai bentuk tanggungjawab Pembina? Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif yaitu segala aktivias seseorang untuk menjawab permasalahan hukum yang bersifat akademik dan praktis, dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (Statute  Approach), dan  pendekatan konseptual (Conceptual Approach) dengan penelitian preskriptif yaitu memberikan gambaran atau merumuskan masalah sesuai dengan keadaan/fakta yang ada. Penulis menggunakan metode ini untuk memberikan argumentasi atas hasil penelitian yang dilakukan penulis. Hasil penelitian mengenai akibat yuridis terhadap bentuk penyelesaian masalah mengenai bentuk kesewenang-wenangan Pembina Yayasan karena adanya kekosongan aturan (rechtsvacuum) atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan.
Cover JMISHS vol 5 no 2 Sari, Wulan Purnama
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JMISHS vol 5 no 2
IKLIM ORGANISASI, MOTIVASI KERJA, DAN KEPUASAN UPAH TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN Hadi, Nizarwan; Aulia, Aulia; Sari, Erita Yuliasesti Diah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.12103.2021

Abstract

Employee commitment is an important factor in improving organizational performance. There are several factors that affect employee commitment, one of which is the organizational climate.The organizational climate is an effective management device for integrating employee motivation with the tasks and objectives of the organization.The purpose of this study is to empirically examine the role of organizational climate, work motivation, and wage satisfaction on employee organizational commitment. The method used in this study is a quantitative method with a correlation approach. The participants of this study were permanent employees of company "X" with an age range of 25-50 years, having a minimum service period of two years with a total of 160 subjects. The analytical technique used to test the hypothesis is multiple regression analysis technique. The results showed that the variables of organizational climate, work motivation and wage satisfaction simultaneously played a role in organizational commitment. The effective contribution of organizational climate, work motivation and wage satisfaction simultaneously is 69.7%. While partially, each variable of organizational climate, work motivation, and wage satisfaction has a positive role with organizational commitment. Komitmen karyawan merupakan faktor penting untuk meningkatkan kinerja organisasi. Ada beberapa faktor yang memengaruhi komitmen karyawan, salah satunya adalah iklim organisasi. Iklim organisasi adalah suatu perangkat manajemen yang efektif untuk mengintegrasikan motivasi karyawan dengan tugas dan tujuan dari organisasi.  Tujuan penelitian ini adalah menguji secara empiris peran iklim organisasi, motivasi kerja, dan kepuasan upah terhadap komitmen organisasi karyawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Partisipan penelitian ini adalah karyawan tetap perusahaan “X” dengan rentang usia 25-50 tahun, memiliki masa kerja minimal yaitu dua tahun dengan jumlah subjek sebanyak 160 orang. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan variabel iklim organisasi, motivasi kerja dan kepuasan upah secara simultan berperan terhadap komitmen organisasi. Sumbangan efektif iklim organisasi, motivasi kerja dan kepuasan upah secara simultan adalah sebesar 69.7%. Sementara secara parsial, masing-masing variabel iklim organisasi, motivasi kerja, dan kepuasan upah memiliki peran positif dengan komitmen organisasi.
PERAN SELF-EFFICACY TERHADAP SELF-REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA YANG BEKERJA DI MASA PANDEMI COVID-19 Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.12704.2021

Abstract

In December 2019, an outbreak of coronavirus or known as Coronavirus Diseases-19 (COVID-19) first occurred in Wuhan, China. The outbreak is affecting the entire world including Indonesia. Therefore, workers or employees who work in government and private sector carry out almost all work from home or known as work from home (WFH). Not spared with the world of education. Learning is usually done face-to-face, changing to a system in network (online) or online.This affects self-regulation as well as self-confidence that must adapt to the new environment. The purpose of this study was to examine the role of self-efficacy in self-regulated learning in students working during the COVID-19 pandemic. Self-regulated learning is a learning ability that uses aspects of metacognition, motivation, and behavior as persistently as possible, with their means and beliefs to achieve the goals set. Self-efficacy is a person's belief that he or she can carry out a task at a certain level that affects. This research was conducted at College X and the University of X Jakarta. This study involved 232 students who worked during the COVID-19 pandemic. The sampling technique used was the purposive sampling technique. Data analysis was performed using multiple regression (multiple regression) using Statistical Product and Service Solutions (SPSS). The results show that self-efficacy plays a role in self-regulated learning by 9,8 %. It can be concluded that there is a positive role of self-efficacy in self-regulated learning. The higher the self-efficacy, the higher the self-regulated learning. Pada bulan Desember 2019, terjadi sebuah wabah virus Corona atau yang dikenal dengan Coronavirus Diseases-19 (COVID-19) pertama kali terjadi di Wuhan, Cina. Wabah tersebut menyerang seluruh dunia termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, para pekerja atau karyawan yang bekerja di pemerintahan dan swasta melaksanakan hampir semua pekerjaan dari rumah atau yang dikenal dengan work from home (WFH). Tak luput dengan dunia pendidikan. Pembelajaran yang biasa dilakukan tatap muka, berubah ke sistem dalam jaringan (daring) atau online. Hal ini berpengaruh pada regulasi diri serta keyakinan diri yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat peran dari self-efficacy terhadap self-regulated learning pada mahasiswa yang bekerja di masa pandemi COVID-19. Self-regulated learning adalah kemampuan belajar yang menggunakan aspek metakognisi, motivasi, dan perilaku dengan sekuat dan segigih mungkin, dengan cara dan keyakinan sendiri untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Self-efficacy merupakan keyakinan seseorang bahwa dia dapat menjalankan suatu tugas pada suatu tingkat tertentu yang mempengaruhi tingkat pencapaian tugasnya. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Tinggi X, dan di Universitas X Jakarta. Penelitian ini melibatkan 232 mahasiswa yang bekerja di masa pandemic COVID-19. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengolahan data menggunakan regresi linear menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Hasil penelitian menunjukan bahwa self-efficacy berperan dalam self-regulated learning sebesar 9.8%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peran positif self-efficacy terhadap self-regulated learning. Semakin tinggi self-efficacy maka dapat meningkatkan self-regulated learning.
PENGUJIAN STRUKTUR FAKTOR PADA KONSTRUK BECK SCALE FOR SUICIDE IDEATION DENGAN INDIVIDU DEWASA AWAL Kesuma, Verisca Marciana; Atmodiwirjo, Ediasri Toto; Idulfilastri, Rita Markus
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.11310.2021

Abstract

WHO called suicide become a global phenomenon. There are at least 800,000 people who commit suicide each year or at least one death every 40 seconds. In fact, 79% of suicide occur in low and middle income countries from ages 15-29. Suicides have also increased in Indonesia at least in January to September 2019 by 302 cases. According to Beck et al. individuals who want to commit suicide are preceded by the suicide ideation so its appropriate to assess suicide in predicting suicide risk later in life. According to Beck et. al. it’s appropriate to assess suicide ideation to predicting suicide risk in the future. Scale For Suicide Ideation (BSS) is one of the measuring tools to assess someone’s suicide ideation by Beck et al. Some researchers in Indonesia use or refer to indicators in BSS. There are 4 studies that use BSS. 2 of them, use three indicators, 1 of them use five indicators, and other only use BSS without mentioning the indicator. Based on this, researchers want to test the factor structure of the construct in BSS. Participants in this study were 158. The results obtained from testing the factor structure are that there are 3 indicators with the model classified as fit. The first indicator has 10 significant items, the second indicator has 6 significant items, while the third indicator has 3 significant items. WHO menyebutkan bunuh diri menjadi suatu fenomena yang global. Terdapat setidaknya lebih dari 800 ribu orang yang melakukan bunuh diri tiap tahunnya atau setidaknya 1 kematian setiap 40 detik. Faktanya 79% bunuh diri terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah dari usia 15-29 tahun. Kasus bunuh diri juga bertambah di Indonesia setidaknya pada Januari sampai September 2019 sebanyak 302 kasus. Menurut Beck et al. individu yang ingin bunuh diri didahului oleh ide untuk bunuh diri sehingga tepat untuk menilai bunuh diri dalam memprediksi risiko bunuh diri di kemudian hari.  Scale for Suicide Ideation (BSS) merupakan salah satu alat ukur untuk menilai ide bunuh diri seseorang yang disusun oleh Beck et al. Beberapa peneliti di Indonesia menggunakan atau mengacu pada indikator dalam BSS. Terdapat 4 penelitian yang menggunakan BSS, 2 diantaranya menggunakan tiga indikator, 1 peneliti menggunakan lima indikator dan yang lainnya hanya menggunakan alat ukur BSS tanpa menyebutkan indikator yang digunakan. Berdasarkan hal ini, peneliti ingin menguji struktur faktor pada konstruk BSS. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 158 partisipan. Hasil yang didapatkan dari pengujian struktur faktor adalah terdapat 3 indikator dengan model yang tergolong fit. Indikator pertama memiliki 10 butir yang signifikan, indikator ke 2 memiliki 6 butir yang signifikan, sedangkan indikator ke 3 memiliki 3 butir yang signifikan.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue