cover
Contact Name
Sunu Bagaskara
Contact Email
sunu.bagaskara@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
melok.roro@yarsi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal Psikogenesis
  • Jurnal-Online-Psikogenesis
  • Website
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 23033177     EISSN : 25977547     DOI : -
Jurnal Psikogenesis is a semiannualy publication produced by Fakultas Psikologi Universitas YARSI since 2012 (e-ISSN: 2597-7547, p-ISSN: 2303-3177). The journal reflects the wide application of all aspects of psychology related to health. It also addresses the social contexts in which psychological and health processes are embedded. The main emphasis of the journal is on original research, theoretical review papers, meta-analyses, and applied studies.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
Kepuasan Pernikahan Tanpa Anak: Sebuah Studi Fenomenologi Amalia Adhandayani; Alifa Tri Febrianti; Nadhifa Itsna Maulida; Risha Asfrillah
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 1 (2022): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i1.2846

Abstract

Childfree berkembang sebagai stereotip yang mempertanyakan apakah pasangan puas tanpa kehadiran anak, terutama jika childfree adalah sebuah pilihan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan kualitas kepuasan pernikahan pada individu yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif fenomenologis. Partisipan berjumlah dua orang dan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan empat kriteria: a) Individu yang memutuskan untuk tidak memiliki anak secara sukarela (voluntary childless); b) Perempuan; c) Telah menikah dengan usia minimal menikah 1 tahun; d) Tinggal bersama pasangan dalam satu rumah, bukan yang sedang menjalani pernikahan jarak jauh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan tegas untuk tidak memiliki anak hanya ditemukan pada subjek GM. Dengan demikian, upaya untuk tidak memiliki anak lebih tepat menggambarkan keputusan subjek SA dan GM untuk menjalani pernikahan tanpa anak. Upaya ini mendorong komunikasi asertif, meningkatkan keintiman dengan melakukan aktivitas bersama, memiliki kesempatan menabung lebih banyak, serta lebih bebas beban tanpa anak. Namun, upaya tidak memiliki anak saling terkait dengan ketakutan ditolak oleh keluarga, yang mana mempengaruhi keraguan kedua subjek untuk tetap menjalani pernikahan childfree seumur hidup mereka. Dapat disimpulkan bahwa kualitas kepuasan pernikahan pada kedua subjek hanya diwakili oleh empat aspek kepuasan pernikahan yaitu communication, leisure activity, financial management serta children and parenting yang muncul pada tema-tema dari jawaban partisipan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan penelitian terkait pernikahan sukarela tanpa anak di Indonesia.
Peran Strength-Based Parenting terhadap Subjective Well-Being pada Mahasiswa Indonesia Marissa Chitra Sulastra; Vida Handayani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2847

Abstract

Subjective well-being adalah refleksi kognitif individu terhadap kehidupannya sekaligus respons emosi individu yang bersifat positif (Diener, 1984). Mahasiswa di Indonesia masih menjadi tanggung jawab dari orangtuanya. Perlu ada pengasuhan yang tepat untuk membantu peningkatan subjective well-being mahasiswa melalui strength-based parenting. Strength-based parenting adalah gaya pengasuhan yang memiliki karakteristik berupa pengetahuan mengenai dan dorongan untuk mengembangkan strengths (Waters, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran strength-based parenting terhadap subjective well-being yang dimiliki mahasiswa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan uji regresi linier. Terdapat 326 responden dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner strength-based parenting dari Waters (2015), Satisfaction with Life Scale dari Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., Griffin, S. (1985) dan Scale of Positive and Negative Affect (SPANE) dari Diener Diener (2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strength-based parenting dapat berkontribusi secara signifikan terhadap life satisfaction (R2 = 0.315, p 0.001) dan affect balance (frekuensi emosi positif yang lebih tinggi daripada emosi negatif) (R2 = 0.190, p 0.001) pada mahasiswa. 
Gambaran Psychological Well-Being pada Penyintas COVID-19 Yohanes Aldiyasa Setyo Bimantoro; Wieka Dyah Partasari
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2995

Abstract

Pandemi COVID-19 telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama lebih dari dua tahun, berdampak pada kesehatan mental individu, terutama bagi mereka yang terpapar COVID-19. Penyintas COVID-19 harus menanggung dampak fisik psikologis selama pemulihan, dan dapat mengalami stigma dari lingkungan. Pengalaman menghadapi dan pulih dari COVID-19 akan mempengaruhi kesehatan mental para penyintas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran psychological well-being penyintas COVID-19 di Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Terdapat 133 orang penyintas COVID-19 berusia 18-60 tahun yang menjadi partisipan pada penelitian ini, yang dipilih dengan menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Psychological Well-Being Scale (PWBS) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan diberikan secara daring. Uji coba alat ukur dengan metode Cronbach’s Alpha menunjukkan hasil yang reliabel dengan jumlah item akhir 76 butir. Peneliti melakukan analisis deskriptif dan uji beda dengan metode Mann-Whitney Kruskal-Wallis. Hasil analisis deskriptif menunjukkan sebagian besar penyintas COVID-19 memiliki psychological well-being yang cenderung tinggi. Hasil analisis masing-masing dimensi positive relations with others, autonomy, environmental mastery, self-acceptance, personal growth, dan purpose in life juga menunjukkan hasil mayoritas cenderung tinggi. Ditemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan usia dengan skor tertinggi pada kategori usia dewasa madya. Ditemukan bahwa individu penyintas menerima dukungan sosial selama menjalani masa perawatan, kebanyakan bersumber dari keluarga dan teman. Dukungan sosial tersebut membawa dampak positif kepada perasaan penyintas dalam menghadapi penyakit. Setelah sembuh mayoritas penyintas mendapatkan tanggapan yang positif dari orang di sekitarnya, tetapi terdapat partisipan yang mengalami stigmatisasi akibat statusnya sebagai penyintas COVID-19.
Hubungan Antara Self-Compassion dan Gaya Hidup Sehat Pada Mahasiswa Sekar Rizki Nabila; Zulfa Febriani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2860

Abstract

Mahasiswa saat ini memiliki beberapa masalah dalam menerapkan gaya hidup sehat seperti tingkat asupan gizi yang kurang baik, aktifitas fisik yang rendah, mudah stres. Mahasiswa perlu menerapkan gaya hidup sehat agar memperoleh kesehatan tubuh dan mental yang optimal. Salah satu faktor untuk meningkatkan gaya hidup sehat adalah self-compassion  karena self-compassion mengacu pada cara sehat yang berhubungan langsung dengan  dirinya  sendiri. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan antara self-compassion dan gaya hidup sehat pada mahasiswa serta mengetahui tinjauannya dalam Islam. Partisipan adalah 170 mahasiswa berdomisili di kota-kota besar di Indonesia yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian dengan uji kolerasi spearman menunjukan bahwa self-compassion berkorelasi positif dan signifikan dengan gaya hidup sehat pada dimensi hubungan interpersonal, pertumbuhan spiritual, dan manajemen stres, dan tidak berkorelasi dengan dimensi nutrisi, tanggung jawab kesehatan dan aktivitas fisik.. Keterbatasan pada penelitian ini adalah perlu upaya promosi kesehatan dengan meningkatkan rasa self-compassion mahasiswa baik melalui praktisi maupun akademisi, serta edukasi kesehatan secara holistik.
The Relationship of Emotion Regulation and Subjective Well-Being in Young Adulthood Who Experiences Break Up Amanda Diva Anggraita; Laurentius Sandi Witarso
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2863

Abstract

Dewasa awal memiliki tugas memenuhi kebutuhan akan keintiman dengan menjalin hubungan romantis. Hubungan romantis memiliki tantangan, termasuk putus cinta. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terdapat dampak dari putus cinta secara emosional maupun kepuasan hidup, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan seseorang, sehingga individu pada masa dewasa awal perlu mengelola atau mengatur emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan antara dimensi regulasi emosi dan aspek subjective well-being (SWB). Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional. Seratus dua puluh lima partisipan penelitian ini diperoleh dengan metode convenience sampling dengan karakteristik berusia 20-30 tahun, mengalami putus cinta dalam kurun 6 bulan terakhir, dan belum menikah atau bertunangan. Data penelitian diperoleh dengan Emotion Regulation Questionnaire, Scale of Positive and Negative Experiences, dan Satisfaction With Life Scale secara daring, kemudian dikorelasikan menggunakan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara cognitive reappraisal dengan aspek afektif positif (r = 0.320, p 0.05)  dan negatif SWB (r = -0.283, p 0.05), serta aspek kognitif (r = 0.258, p 0.05). Sementara itu, expressive suppression tidak berhubungan signifikan dengan aspek afektif positif (r = -0.024, p 0.05) dan kognitif SWB (r = 0.068, p 0.05), hanya berhubungan signifikan dengan pengaruh negatif (r = 0.178, p 0.05). Cognitive reappraisal dianggap mampu mengurangi afek negatif dan meningkatkan afek positif. Sementara itu, expressive suppression dapat menyebabkan inauthenticity. Temuan tersebut berkaitan dengan faktor budaya kolektif Indonesia sebagai negara Asia yang memperjuangkan keharmonisan. Penelitian selanjutnya dapat memasukkan aspek kepribadian dan faktor pendukung hubungan.
Gambaran Stres dan Strategi Penyesuaian Diri Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas X Angkatan 2020 dalam Mengikuti Perkuliahan Tatap Muka Anastasia Wulandari Tantoputri; Gabriella Tjahjono; Immanuel Yosua; Maria Olivia Susilo; Nathania Adius Ferdinanto; Shanika Iverna Tamara
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2864

Abstract

Perkuliahan daring yang sudah genap dilaksanakan dalam kurun waktu dua tahun sebagai dampak dari pandemi COVID-19 berhasil mengalami penurunan kasus, hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk melaksanakan Perkuliahan Tatap Muka (PTM) kembali. Perubahan tersebut tentunya menimbulkan stres pada mahasiswa dan tuntutan penyesuaian diri dalam menghadapi rintangan PTM yang mereka alami, terkhusus mahasiswa Universitas X angkatan 2020 yang belum pernah melaksanakan perkuliahan offline sejak masuk kuliah. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai stres dan strategi koping yang dilakukan mahasiswa dalam mengikuti PTM untuk pertama kalinya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengambilan data dilakukan dengan mewawancarai tiga mahasiswa Universitas X angkatan 2020 yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menemukan bahwa beberapa hal yang menyebabkan stres dari partisipan selama mengikuti PTM adalah (1) masalah transportasi, (2) perubahan rutinitas, (3) terdistraksi dengan kehadiran orang lain, (4) tekanan dalam situasi sosial, (5) ketidakmampuan dalam melakukan multitasking, dan (6) dibutuhkannya energi yang lebih banyak untuk mengikuti PTM. Selain itu, peneliti juga menemukan jenis-jenis strategi koping yang dilakukan mahasiswa dalam menghadapi situasi stres akibat PTM, yaitu variasi dari problem-focused coping, emotion-focused coping, social support, religious-focused coping, dan meaning making. Hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya perguruan tinggi untuk memperhatikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan stres bagi mahasiswa dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan dalam proses transisi menuju perkuliahan tatap muka, agar tetap mampu menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Enhancing Self-Compassion Program (ESP) untuk Meningkatkan Self-Compassion pada Mahasiswa Fitri Fazrika Sari; Juliani Prasetyaningrum
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2845

Abstract

Dalam menghadapi masalah, seringkali individu terjebak pada perilaku untuk menyalahkan serta menghukum diri sendiri. Perilaku tersebut dapat mengarahkan individu untuk berpandangan sempit terhadap kehidupan yang dijalani sehingga menarik diri dari lingkungan. Perilaku membesar-besarkan masalah dan merasa dirinya paling menderita berkaitan dengan rendahnya rasa welas asih yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, perlu adanya program untuk meningkatkan rasa welas asih yang dapat digunakan secara praktis. Enhancing Self-Compassion Program (ESP) merupakan salah satu metode intervensi yang efektif untuk meningkatkan rasa welas asih. Prosedur intervensi diawalai dengan meminta individu untuk mengisi skala welas asih sebagai dasar pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilaksanakan. Intervensi dilakukan sebanyak 6 sesi dalam satu hari pelaksanaan dengan memberikan loving-kindness meditation, compassionate letter writing, time management training, dan mindfulness practice. Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan rasa welas asih yang dimiliki individu secara kuantitatif, serta perubahan perilaku secara kualitatif yang mengarah pada penyelesaian masalah yang dihadapinya saat itu. Modifikasi ESP yang telah disesuaikan dengan latar belakang sosial-budaya serta karakteristik individu merupakan suatu hal yang perlu ditelisik lebih lanjut. Adanya program intervensi yang dilakukan dalam waktu singkat dapat membantu para praktisi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis secara lebih luas dan efektif.
Gambaran Kesepian dan Strategi Coping pada Lansia di Masa Pandemi COVID-19 Natasha Christy; Wieka Dyah Partasari
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2891

Abstract

Pembatasan sosial yang berlaku selama pandemi COVID-19 membatasi ruang gerak, memicu perasaan terisolasi yang berdampak pada kondisi kesehatan mental masyarakat. Pada kelompok lansia, pembatasan sosial menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan relasi dan menimbulkan kesepian. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesepian pada lansia selama pandemi COVID-19. Untuk menghadapi permasalahan kesepian yang meningkat di kalangan lansia, diperlukan strategi coping yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kesepian dan strategi coping lansia selama pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif fenomenologis, metode sampling purposive dengan teknik homogeneous. Ada empat partisipan berusia 65 tahun ke atas, berdomilisi di Jabodetabek, tinggal di rumah, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi-structured terhadap partisipan utama dan significant others untuk triangulasi. Hasil penelitian menemukan lansia merasakan kesepian karena berkurangnya kepuasan terhadap relasi sosial. Keempat partisipan menggunakan jenis strategi coping: active coping, instrumental dan emotional support, positive reframing, serta religion. Penggunaan teknologi dan pengaturan tempat tinggal bersama keluarga atau tinggal dekat dengan anggota keluarga menjadi faktor yang mendukung lansia untuk dapat mempertahankan relasi selama pandemi COVID-19. Ditemukan pula faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan lansia, yaitu tekanan sebagai caregiver, masalah keuangan akibat penurunan pendapatan, dan terbatasnya akses lansia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Harapan dan Identitas Etnis pada Remaja Nusa Tenggara Timur Panis, Marleny Purnamasary
Jurnal Online Psikogenesis Vol 11 No 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v11i2.1937

Abstract

The formation of ethnic identity illustrates the important task for emotional development during adolescence. Hope is a protective factor for adolescents during the process of identity formation. This study aims to determine the effect of hope on the development of ethnic identity of adolescents in NTT. The participants of this study were 45 adolescents aged 17-19 years old who were studying at several universities in NTT. The sample of the study was taken by using purposive sampling technique. This study used the Children Hope Scale (CHS) and Ethnic Identity Scale to measure the effect of hope on the development of ethnic identity of adolescents in NTT. Hypothesis testing using simple linear regression analysis resulted in significance value (Sig.) 0.040 <0.05, t-statistic 2,115> 2,015, R square = 0.094. The results of the study show that there is a significant effect of hope variable amounts to 9,4% on the development of ethnic identity of adolescents in NTT. This study implies the need to cultivate hope as an effective variable in developing emotional skills of adolescents by way of improving solidarity among members in various ethnic groups in NTT.
Hubungan Antara Meaning of Work dan Komitmen Organisasi Pada Perawat dengan Kepuasan Kerja Sebagai Mediator Soniyya, Talitha; Mulyati, Rina
Jurnal Online Psikogenesis Vol 11 No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v11i1.1943

Abstract

Nurses are health workers who are always there in every hospital and are a benchmark for hospital health services, so this is a major concern that management should not ignore because it will have an impact on the organization. The purpose of this study was to explore relationship between meaning of work and organizational commitment in nurses mediated by job satisfaction. Respondents in this study were 214 nurses with a minimum working period of one year in the hospital. Data collection methods in this study use a scale of (1) The Work and Meaning Inventory (WAMI), (2) Organization Commitment Questionnaire (OCQ), and (3) Job Satisfaction Scale from Scale for the Measurement of Some Work Attitudes and Aspects of Psychological Well-Being. The result showed that meaning of work positively correlated to job satisfaction and organizational commitment. Moreover, job satisfaction positively effects organizational commitment. The results of data analysis using simple model 4 mediator analysis from PROCESS by Hayes (2012) show that job satisfaction plays a significant role as a partial mediation on the relationship between meaning of work and organizational commitment on nurses. This means that nurses have high job satisfaction don’t necessarily have high organizational commitment. Conversely, nurses who have low job satisfaction don’t necessarily have low organizational commitment. Therefore, the hospital needs to make a program to increase the meaning of the work that nurses have because it can have an impact on the organizational commitment of a nurse.