cover
Contact Name
laelatus Syifa Sari Agustina
Contact Email
laelatussyifa.sa@staff.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wacana@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Gedung D Fakultas Kedokteran UNS Jl. Ir. Sutami no. 36A, Kota surakarta (solo), Jebres, Jawa Tengah, 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
WACANA
ISSN : 20850514     EISSN : 27161625     DOI : https://doi.org/10.13057/wacana.v12i1
Wacana adalah wadah pengembangan psikologi di indonesia khususnya dibidang indegenous yang memuat naskah-naskah ilmiah penelitian empiris. Psikologi dalam ranah indegenous mengkhususkan diri pada studi yang mengangkat seni, etnis, budaya, nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, agama dan kearifan lokal yang saling mempengaruhi proses sosial dan proses individual serta hubungan intra dan/atau inter kelompok dan lingkungan. Kajian dalam bidang-bidang psikologi lainnya dapat dimuat dalam Wacana sepanjang memiliki relevansi dengan psikologi khusunya bidang indegenous.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri Andini Dwi Yudhanti; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.178 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.106

Abstract

Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri     Psychological Well Being Comparison between Transsexual Prostitute and Transsexual Non Prostitute Based on Self Esteem     Andini Dwi Yudhanti, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Psychological well being merupakan kondisi psikologis dimana individu mampu menjalani peran-peran dalam kehidupannya berdasarkan pengalaman-pengalaman sehingga melahirkan sikap positif dalam hidupnya. Perbedaan perlakuan masyarakat terhadap status pekerjaan waria (waria PSK dan waria Non PSK) menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan penghargaan diri waria kemudian mengarahkan pada kondisi psychological well being yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri, perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK), dan perbedaan harga diri pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Populasi dalam penelitian ini adalah waria (waria PSK dan waria Non PSK) yang terdapat pada komunitas waria lokal Kota Surabaya yang bernama PERWAKOS dengan rentang usia 18-40 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 orang waria pekerja seks komersial (PSK) dan 30 orang waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well being (r=0,883) dan skala harga diri (r=0,902). Hasil analisa data menggunakan uji two way anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada psychological well being waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri (Fhitung = 19,291, p < 0,05). Analisis data selanjutnya menggunakan uji t. Hasil analisia data tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung =-0,597, p > 0,05); serta tidak terdapat perbedaan harga diri waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung = 0,521, p > 0,05).   Kata kunci:psychological well being, harga diri, waria
PERBEDAAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER ( NHT) DAN JIGSAW TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA SISWA SMA (STUDI KASUS DI SMA KARANGTURI SEMARANG) Rini Sugiarti; Agung Santoso Pribadi
Wacana Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.245 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v5i2.10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan jigsaw dalam meningkatkan keterampilan sosial pada siswa SMA. Subjek penelitian ini berjumlah 46 siswa SMA kelas XI. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan pretest and posttest control group design. Data  penelitian dikumpulkan dengan menggunakan peer assessment keterampilan sosial. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis independent samples t test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara keterampilan sosial kelas yang menggunakan model kooperatif tipe NHT dengan keterampilan sosial kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Dalam penelitian ini juga ditemukan adanyya perbedaan rata-rata skor keterampilan sosial siswa, dimana yang mendapat perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki rata-rata lebih tinggi dibandingan denga siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kata kunci : keterampialn sosial, pembelajaran kooperatif, (Numbered Head Together (NHT), Jigsaw
MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI HARDINESS, IKLIM SEKOLAH, DAN PERSEPSI TENTANG HARAPAN ORANG TUA (STUDI PADA SISWA OLIMPIADE DI SMA N 3 SEMARANG) Rini Setyowati; Rifqi Charis Pratama; Tsoraya Dina Taufiq
Wacana Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.694 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v11i1.141

Abstract

ABSTRAKDunia pendidikan di Indonesia beberapa tahun belakangan telah mengalami perkembangan pesat. Pendapat pemerintah mengenai penurunan tajam pendidikan di tanah air, sehingga program olimpiade dibuat sebagai upaya peningkatan mutu. Adanya program olimpiade, meningkatkan motivasi berprestasi pada siswa. Motivasi berprestasi dipengaruhi secara internal dan eksternal. Faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah hardiness, iklim sekolah, dan persepsi tentang harapan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hardiness, iklim sekolah, dan persepsi tentang harapan orang tua dengan motivasi berprestasi; hubungan antara hardiness dengan motivasi berprestasi; hubungan antara iklim sekolah dengan motivasi berprestasi; hubungan antara persepsi tentang harapan orang tua dengan motivasi berprestasi pada siswa kelas olimpiade di SMA N 3 Semarang.Sampel pada penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas olimpiade sejumlah 54 siswa dengan merujuk pada penelitian populasi. Instrumen yang digunakan adalah skala hardiness (r=0,823), skala iklim sekolah (r=0,862), skala persepsi tentang harapan orang tua (r=0,915), dan skala motivasi berprestasi (r=0,920). Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara hardiness, iklim sekolah, dan persepsi tentang harapan orang tua dengan motivasi berprestasi (Fhitung=6,094 > Ftabel=3,18, p=0,001<0,05; r=0,517). Uji parsial pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan positif antara hardiness dengan motivasi berprestasi (r= 0,319, p= 0,021 < 0,05), terdapat hubungan signifikan positif antara iklim sekolah dengan motivasi berprestasi (r= 0,484, p= 0,000 < 0,05), dan tidak terdapat hubungan signifikan antara persepsi tentang harapan orang tua dengan motivasi berprestasi (r= 0,067, p= 0,637 < 0,05). Nilai koefisien determinasi R2= 0,268 artinya hardiness, iklim sekolah, persepsi tentang harapan orang tua secara bersama-sama memberi sumbangan 26,8% terhadap motivasi berprestasi dengan sumbangan 6,04% dari hardiness, 19,97% dari iklim sekolah, dan 0,79% dari persepsi tentang harapan orang tua. Hipotesis keempat pada penelitian ini tidak terbukti karena adanya pengaruh dari variabel lain yang tidak diteliti. Kata kunci: hardiness, iklim sekolah, persepsi tentang harapan orang tua, motivasi berprestasi, siswa olimpiade
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL PADA REMAJA TUNARUNGU YANG DIBESARKAN DALAM LINGKUNGAN ASRAMA SLB-B DI KOTA WONOSOBO Ratna Widyastutik; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.909 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i1.42

Abstract

Berbagai kesulitan karena keterbatasan pendengaran maupun kesulitan-kesulitan masa remaja dihadapi remaja tunarungu mengarahkan pada kondisi ketertekanan. Dukungan sosial sangat membantu remaja tunarungu untuk menghadapi kesulitan tersebut dan membangun kondisi psychological well-being. Melihat adanya korelasi antara dukungan sosial dengan psychological well-being, maka tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bentuk dukungan sosial yang efektif untuk membangun psychological well-being pada remaja tunarungu. Perbedaan bentuk dukungan yang paling banyak diterima oleh remaja tunarungu akan mengarahkan pada psychological well-being yang berbeda pula. Populasi penelitian ini ialah remaja tunarungu Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu Don Bosco dan Dena Upakara, Wonosobo, masing-masing sebanyak 62 dan 58 siswa. Sampel diambil dengan kriteria Remaja dengan usia 13-18 tahun, laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan baca dan tulis, serta memiliki kecerdasan normal atau di atas rata-rata. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Seluruh populasi masuk ke dalam kriteria yang dibutuhkan oleh peneliti. Pengumpulan data menggunakan skala psychological well-being dan skala dukungan sosial. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis varians klasifikasi satu arah (One Way Anova). Hasil analisis dengan menggunakan teknik One Way Anava diperoleh F hitung (11,478 ) > F tabel (2,725) serta taraf sigifikansi 0,000 < 0,05. Dari hasil analisis tersebut, maka dapat dikemukakan ada perbedaan yang sangat signifikan psychological well-being ditinjau dari bentuk dukungan sosial pada remaja runarungu. Selain itu, hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya perbedaan rata-rata psychological well-being ditinjau dari dukungan sosial. Rata-rata psychological well-being tertinggi berada pada bentuk dukungan emosional dan terendah berada pada bentuk dukungan instrumental.   Kata kunci: psychological well-being, dukungan sosial, remaja tunarungu
PENGARUH RUTINITAS, KONFLIK PERANAN, IKLIM DUKUNGAN SOSIAL DAN OTONOMI PEKERJAAN TERHADAP STRESS KERJA DENGAN KEYAKINAN DIRI (SELF EFFICACY) SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Pada Karyawan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta) Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.071 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i1.65

Abstract

The goal of this research was to examined (1) influence factor of routine, conflict of role, climate of  social support and job autonomy significant toward job stress employees in psyche hospital Surakarta.  (2) examined influence conflict of role, climate of  social support and job autonomy significant toward job stress employee in psyche hospital Surakarta with self efficacy as moderating variable. Data was collected from 150 employees in psyche hospital Surakarta with purposive random sampling method. The data is analyzed with some test, such as validity and reliability test with cronbach’s alpha. Assumption classic test used normality test, heteroskedastisitas, multikolinieritas and autocorrelation. Hypothesis test with used multiple regression linier analysis, determination coefficient (R2), significance t and significance F. The result of the research shows that (1) the effect positive and significance between job routine and conflict of role toward job stress (2) the effect negative and significance between climate of social support and job autonomy toward job stress employees and than to decrease climate of social support and job autonomy therefore job stress can increasing job stress employees  (3) increasing self efficacy of employees because job routine and conflict of role condition increasing with decrease climate of social support and job autonomy therefore job stress can decreasing or no happened (4) the effect positive and significance between routine, conflict of role, climate of  social support and job autonomy according to simultaneous toward job stress employees (5) the effect positive and significance between routine, conflict of role, climate of  social support and job autonomy with moderating self efficacy according to simultaneous toward job  stress employees.   Keyword : routine, conflict of role, climate of  social support, job autonomy, job stress, self efficacy  
Gambaran Pengasuhan dan Penyesuaian dalam Keluarga Pada Orangtua Siswa SD dan SMP Titin Suprihatin; Erni Agustina Setiowati; Ali Bowo Tjahjono
Wacana Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.979 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v11i1.132

Abstract

Abstrak. Keterampilan dalam pengasuhan dan penyesuaian dalam keluarga sangat dibutuhkan oleh orangtua agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Penelitian ini fokus pada orangtua khususnya Ibu yang memiliki anak dan remaja yang masih bersekolah. Sebanyak 261 orangtua siswa SD dan SMP di Kota Semarang dilibatkan sebagai responden dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah Parenting and Family Adjustment Scale (PAFAS). Skala pengasuhan terdiri dari 28 aitem dengan reliabilitas Alpha Cronbach 0,627 dan skala penyesuaian dalam keluarga terdiri dari 12 aitem dengan reliabilitas Alpha Cronbach 0,791. Latar belakang pendidikan orangtua diketahui 13% lulusan perguruan tinggi, 36% lulusan SMA, 20% lulusan SMP, dan 28% lulusan SD, 3% tidak mengisi pertanyaan mengenai pendidikan orangtua. Latar belakang pekerjaan orangtua diketahui 43% sebagai ibu rumah tangga, 33% sebagai buruh atau karyawan swasta, 18% wiraswasta, 2% sebagai PNS, dan 4% tidak mengisi pertanyaan tentang pekerjaan. Berdasarkan hasil pengukuran diketahui 99,5% responden memiliki pengasuhan dalam kategori tinggi. 8,3% memiliki penyesuaian dalam keluarga yang rendah, 77,8% memiliki penyesuaian dalam keluarga yang sedang, dan 13,9% memiliki penyesuaian dalam keluarga yang tinggi. Berdasarkan hasil uji beda menggunakan anava diketahui tidak terdapat perbedaan pengasuhan dilihat dari pendidikan dan pekerjaan orangtua, nilai F = 1,368 pada p = 0,190 ( p>0,05).Kata Kunci: pengasuhan; penyesuaian dalam keluarga; orangtua
TINGKAT STRES DITINJAU DARI KESIAPAN MENIKAH DAN KECERDASAN EMOSI PADA MAHASISWI TINGKAT AKHIR PRODI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Vera Bekti Rahayu; . Hardjono; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.897 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.33

Abstract

Stres dalam kehidupan manusia tidak dapat dihindari, karena stres dapat menimpa siapa saja. Pada mahasiswi tingkat akhir, stres dapat terjadi karena ketertekanan dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan menyelesaikan skripsi. Tingkat stres pada mahasiswi tingkat akhir berbeda-beda sesuai dengan kemampuan individu dalam menghadapinya. kemampuan yang dapat mempengaruhi tingkat stres adalah kesiapan menikah dan kecerdasan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesiapan menikah dan kecerdasan emosi dengan tingkat stres pada mahasiswi tingkat akhir Prodi Psikologi FK UNS Surakarta. Subjek penelitian ini adalah mahasiswi tingkat akhir yang dalam proses mengerjakan skripsi sebanyak 66 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Penelitian ini menggunakan tiga skala, yaitu: skala tingkat stres, skala kesiapan menikah, dan skala kecerdasan emosi. Analisis data menggunakan metode analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F hitung = 13, 684, p<0,05, dan nilai R = 0,550. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara kesiapan menikah dan kecerdasan emosi dengan tingkat stres pada mahasiswi tingkat akhir Prodi Psikologi UNS Surakarta. Secara parsial menunjukkan nilai rx1y = -0,279 dengan p = 0,025 (p<0,05), artinya terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kesiapan menikah dengan tingkat stres. Semakin tinggi kesiapan menikah semakin rendah tingkat stres, sebaliknya semakin rendah kesiapan menikah semakin tinggi tingkat stres. Nilai rx2y = -0,119 dengan p = 0,346 (p>0,05), menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan tingkat stres. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,303 atau 30,3%, terdiri atas sumbangan efektif kesiapan menikah terhadap tingkat stres sebesar 22,01% dan sumbangan efektif kecerdasan emosi terhadap tingkat stres sebesar 8,29%. Ini berarti masih ada 69,7% faktor lain yang mempengaruhi tingkat stres selain kesiapan menikah dan kecerdasan emosi.   Kata kunci: tingkat stres, kesiapan menikah, kecerdasan emosi, dan mahasiswi tingkat akhir.
Hubungan Antara Budaya Organisasi denganCommon Ingroup Identity Pada Karyawan PT Intan Pariwara Kuzana Alpra; Aditya Nanda Priyatama; Selly Astriana
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.706 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.88

Abstract

Hubungan Antara Budaya Organisasi  denganCommon Ingroup Identity Pada Karyawan PT Intan Pariwara   The Correlation Between Organizational Culture And Common Ingroup Identity On Employee Of PT.  Intan Pariwara Kuzana Alpra, Aditya Nanda Priyatama, Selly Astriana   Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret     ABSTRAK Common ingroup identity adalah perubahan representasi kognitif dari yang semula berorientasi “kami” versus “mereka” menjadi lebih inklusif yaitu “kita”. Strategi ini menekankan proses rekategorisasi dimana anggota kelompok dari  kelompok yang berbeda diinduksi untuk menerima diri mereka sebagai satu kesatuan, lebih inklusif menjadi grup superordinat dibandingkan dengan sebagai dua grup yang terpisah.Common ingroup identity memiliki dampak positif bagi anggota organisasi. Dampak positif yang dihasilkan tersebut dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan proses dalam perusahaan sehingga semua karyawan dapat terintegrasi dengan baik. Common ingroup identity pada individu dipengaruhi oleh berbagai variabel, salah satunya adalah budaya organisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara budaya organisasi dengan common ingroup identity pada karyawan PT. Intan Pariwara. Sampel penelitian yang digunakan berjumlah 91 karyawan PT Intan Pariwara menggunakan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala budaya organisasi dan skala common ingroup identity.Skala budaya organisasi terdiri dari 23 aitem valid dengan koefisien reliabilitas 0,814, skala common ingroup identity terdiri dari 18 aitem valid dengan koefisien reliabilitas 0,799. Analisis data menggunakan teknik korelasi pearson product moment dan diperoleh koefisien korelasi (R) sebesar 0,848 dan p=0,00 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan common ingroup identity yang signifikan dan positif. Nilai R square atau koefisien determinasi sebesar 0,719 yang berarti dalam penelitian ini budaya organisasi memberikan kontribusi sebesar 71,9 % dan 28,1% dijelaskan oleh faktor lain. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan common ingroup identity pada karyawan PT. Intan Pariwara.   Kata kunci : Budaya organisasi, common ingroup identity
Hubungan antara Materialisme dan Penghargaan terhadap Suami dengan Kepuasan Pernikahan pada Guru Profesional di Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar Rizki Setyasri Nugrahani; Machmuroch .; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.713 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i1.122

Abstract

ABSTRAK   Peningkatan perceraian pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar pascasertifikasi  salah  satunya  dikarenakan  pernikahan  yang  tidak  berhasil.  Pernikahan  yang  berhasil memiliki syarat salah satunya kepuasan pernikahan. Kepuasan pernikahan pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar diantaranya dipengaruhi oleh materialisme dan penghargaan   terhadap   suami.   Tujuan   penelitian   ini   adalah   untuk   mengetahui   hubungan   antara materialisme dan penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan, hubungan antara materialisme dengan kepuasan pernikahan, dan hubungan antara penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.   Populasi dalam penelitian ini  mencakup 362 guru di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan cluster random sampling sehingga didapatkan responden sebanyak 100 guru. Instrumen yang digunakan adalah skala kepuasan pernikahan, skala materialisme, dan skala penghargaan terhadap suami. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai Fhitung sebesar 36,715 (> Ftabel 3,09) dengan sig. 0,000 (p < 0,05) dan nilai R = 0,656. Nilai R2  dalam penelitian ini sebesar 0,431 atau 43,1%, dimana sumbangan efektif materialisme sebesar 0,7% dan sumbangan efektif penghargaan terhadap suami sebesar 42,4%. Secara parsial, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara materialisme dengan kepuasan pernikahan (sig 0,778> 0,05), rx1y  = -0,029; serta terdapat hubungan yang signifikan antara penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan (sig 0,000< 0,05), rx2y = 0,615.   Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara materialisme dan penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara materialisme dengan kepuasan pernikahan, dan terdapat hubungan yang signifikan antara penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.   Kata kunci: materialisme, penghargaan terhadap suami, kepuasan pernikahan, guru profesional, karanganyar
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN ASERTIVITAS DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA SISWA KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA Nike Kusumawati; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.516 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.24

Abstract

Komunikasi interpersonal memegang peranan penting dalam perkembangan remaja. Keberhasilan mengembangkan komunikasi interpersonal yang baik dapat membantu remaja mengembangkan berbagai kapasitas mental dan intelektual. Namun demikian, banyak permasalahan yang timbul berkaitan dengan komunikasi. Salah satu permasalahan yang dihadapi remaja terkait dengan komunikasi adalah kecemasan komunikasi interpersonal. Konsep diri dan asertivitas merupakan faktor personal yang terkait dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan asertivitas dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tiga skala, yaitu skala kecemasan komunikasi interpersonal, skala konsep diri, dan skala asertivitas. Analisis  data menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F-test = 76,071, p  0,05, dan nilai R = 0,781. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu ada hubungan yang signifikan dan kuat antara konsep diri dan asertivitas dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai rx1y = -0,240; p<0,05, artinya ada hubungan negatif yang signifikan antara konsep diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Semakin tinggi konsep diri maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal, sebaliknya semakin rendah konsep diri maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonal. Nilai rx2y = -0,600; p<0,05, menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara asertivitas dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Semakin tinggi asertivitas maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal, sebaliknya semakin rendah asertivitas maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonal. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,611 atau 61,1%, terdiri atas sumbangan efektif konsep diri terhadap kecemasan komunikasi interpersonal sebesar 12,94% dan sumbangan efektif asertivitas terhadap kecemasan komunikasi interpersonal sebesar 48,13%. Ini berarti masih terdapat 38,9% faktor lain yang mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal selain konsep diri dan asertivitas.   Kata kunci: kecemasan komunikasi interpersonal, konsep diri, asertivitas

Page 2 of 18 | Total Record : 172