cover
Contact Name
Nefonavratilova Ritonga
Contact Email
lppm.unar@gmail.com
Phone
+6285373542125
Journal Mail Official
lppm.unar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raja Inal Siregar, Kec Batunadua - Padangsidimpuan
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia / Indonesian Health Scientific Journal
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal) Indonesian Health Scientific Journal is a tools of publication of research results and community service with the theme of health. This journal will be published online through the official website of University Of Aufa Royhan Padangsidimpuan city. This journal will be published every 6 months in June and December each year
Articles 531 Documents
Analisis Persepsi Tenaga Kesehatan terhadap Implementasi Rekam Medis Elektronik Berdasarkan Model UTAUT di Puskesmas Posumaen Kabupaten Minahasa Tenggara Ersian Rani Gratia Wongkar; Arlin Adam; Andi Alim
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2107

Abstract

Transformasi digital dalam sistem pelayanan kesehatan mendorong penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di seluruh fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, sebagai bagian dari kebijakan nasional untuk meningkatkan efisiensi dan mutu layanan. Namun, keberhasilan implementasi RME tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan juga oleh kesiapan dan persepsi tenaga kesehatan sebagai pengguna utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi tenaga kesehatan terhadap implementasi RME di Puskesmas Posumaen Kabupaten Minahasa Tenggara dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain deskriptif analitik. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner tertutup disusun berdasarkan empat konstruk utama dalam model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT): performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Seluruh populasi sebanyak 23 tenaga kesehatan dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum persepsi tenaga kesehatan terhadap RME berada pada kategori tinggi, dengan 65,2% responden memiliki persepsi positif. Dimensi performance expectancy menunjukkan skor tertinggi (69,6%), diikuti oleh social influence dan facilitating conditions (masing-masing 78,3%), serta effort expectancy (65,2%). Temuan ini mengindikasikan bahwa penerimaan terhadap RME cukup baik, namun masih terdapat sebagian responden yang menunjukkan persepsi “cukup”, sehingga dibutuhkan penguatan dalam hal pelatihan, pendampingan teknis, dan infrastruktur pendukung. Penelitian ini menegaskan pentingnya faktor persepsi pengguna dalam keberhasilan implementasi sistem digital di layanan kesehatan primer, khususnya di wilayah terpencil.
SURVEILANS POTENSIAL PENYAKIT MENULAR PADA BENCANA BANJIR DI DESA SIPANGE SIUNJAM KECAMATAN SAYURMATINGGI” Raja Akbar; Lestari Hasibuan; Amalia Kartika; Hasyim Sholeh Harahap; Naser Hamed Tambunan; Vincent Agustinus Mendrofa; Claudia Renata Nababan; Wilda Zahara; Anni Holila Harahap; Nefonavratilova Ritonga
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2119

Abstract

Bencana banjir sering kali meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular di daerah terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi penyakit menular seperti diare, demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan penyakit kulit campak selama dan setelah bencana banjir di Desa Sipange Siunjam, Kecamatan Sayurmatinggi, serta mengevaluasi sistem surveilans kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Studi ini dilakukan oleh mahasiswa Universitas Aufa Royhan menggunakan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yaitu dengan case study. Populasi pada penelitian ini adalah kepala keluarga yang terpapar pasca banjir yang dipilih secara purposive sampling sebanyak 22 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur kuesioner pada Kamis, 19 Desember 2024, dengan teknik pengumpulan data yang meliputi survei lapangan dan pemberian kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penyakit pasca-banjir yaitu diare memiliki jumlah kasus tertinggi dengan 11 (50%) dari total kasus, menunjukkan bahwa penyakit ini paling dominan dalam data yang disajikan. Demam berdarah dengue menempati urutan kedua dengan 5 (22,73%) kasus, yang masih cukup signifikan dibandingkan penyakit lainnya. Malaria berada di posisi ketiga dengan 4 (18,18%) kasus, sementara campak memiliki jumlah kasus paling sedikit, yaitu 2 (9,09%)kasus. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perbaikan strategi pencegahan dan penanganan penyakit menular pada situasi darurat bencana di masa mendatang.
Makna Sosial Budaya dalam Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Fricilia Magda Winosoi Kandou; Arlin Adam; Andi Alim
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2125

Abstract

Pelayanan kesehatan tidak hanya dipahami sebagai tindakan medis, tetapi juga sebagai bentuk interaksi sosial yang dipengaruhi oleh nilai dan norma budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna sosial budaya dalam persepsi pasien rawat inap terhadap kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Mitra Sehat Kabupaten Minahasa Tenggara. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, penelitian ini melibatkan pasien rawat inap sebagai informan utama yang telah menjalani perawatan minimal tiga hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya lokal, seperti sopan santun, penghormatan terhadap orang tua, keramahan, dan kesetaraan perlakuan. Pengalaman pelayanan yang dianggap berkualitas tidak hanya mencakup kompetensi teknis tenaga kesehatan, tetapi juga aspek relasional seperti komunikasi yang empatik, sikap hormat, serta kepekaan terhadap bahasa dan kebiasaan lokal. Interaksi sosial yang positif dan penghormatan terhadap identitas budaya pasien memperkuat rasa dihargai dan meningkatkan kepercayaan terhadap institusi rumah sakit. Temuan ini menegaskan pentingnya pelayanan kesehatan yang sensitif budaya untuk menciptakan sistem layanan yang inklusif, manusiawi, dan bermakna bagi masyarakat setempat.
Persepsi Tenaga Kesehatan terhadap Dampak Perubahan Sosial Budaya atas Pelayanan Kesehatan: Studi Kualitatif di Puskesmas Kabupaten Minahasa Tenggara Saputri Stiawati; Arlin Adam; Andi Alim
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengungkap persepsi tenaga kesehatan terhadap dampak perubahan sosial budaya terhadap praktik pelayanan kesehatan di Puskesmas Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya pengaruh transformasi sosial dan budaya digital terhadap perilaku masyarakat, kepercayaan, serta pola komunikasi dalam konteks pelayanan kesehatan. Tujuan utama penelitian adalah untuk menggambarkan pengalaman tenaga kesehatan dalam merespons dan beradaptasi terhadap perubahan sosial budaya tersebut sembari tetap menjaga mutu pelayanan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan tiga informan yaitu seorang perawat, dokter, dan bidan yang telah bekerja lebih dari sepuluh tahun. Hasil analisis tematik menunjukkan lima temuan utama: (1) Terdapat perubahan signifikan dalam sikap masyarakat seperti meningkatnya sikap kritis, ketergantungan pada informasi daring, dan menurunnya kepercayaan terhadap nasihat medis; (2) Perubahan ini memengaruhi cara tenaga kesehatan berkomunikasi, menyuluh, dan menjalin relasi dengan pasien; (3) Strategi adaptasi dilakukan melalui komunikasi empatik, pendekatan berbasis budaya lokal, dan pemanfaatan media digital; (4) Tantangan yang dihadapi mencakup miskomunikasi, resistensi budaya, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam program preventif; (5) Upaya menjaga kualitas pelayanan dilakukan melalui relasi interpersonal, kolaborasi internal, dan pendekatan berbasis komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tenaga kesehatan di wilayah tidak hanya berperan sebagai pemberi layanan medis, tetapi juga sebagai mediator budaya yang harus mampu menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.
Makna Budaya dan Spiritualitas dalam Praktik Resusitasi Neonatus: Studi Fenomenologis pada Perawat Instalasi Gawat Darurat Jelni M. Oruh; Arlin Adam; Andi Alim
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resusitasi neonatus merupakan tindakan medis kritis yang tidak hanya menuntut keterampilan teknis dan pengambilan keputusan cepat, tetapi juga melibatkan dimensi emosional, budaya, dan spiritual para perawat yang terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna budaya dan spiritualitas dalam praktik resusitasi neonatus sebagaimana dialami oleh perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif, penelitian ini melibatkan dua informan yang dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman langsung dalam tindakan resusitasi neonatus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya seperti gotong royong, rasa hormat, dan sikap penuh ketulusan menjadi bagian tak terpisahkan dari tindakan resusitasi. Sementara itu, spiritualitas diekspresikan melalui doa, keyakinan akan kehendak Tuhan, serta pemaknaan terhadap keberhasilan dan kegagalan sebagai bagian dari takdir Ilahi. Perawat memaknai profesi mereka sebagai bentuk pengabdian yang menyatukan keterampilan klinis, kekuatan mental, serta kedekatan spiritual. Praktik resusitasi tidak hanya dipahami sebagai prosedur penyelamatan, tetapi juga sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan yang sarat makna transendental. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi antara kompetensi teknis, kepekaan budaya, dan kekuatan spiritual dalam pendidikan serta praktik keperawatan, khususnya dalam situasi kegawatdaruratan. Oleh karena itu, pengembangan kebijakan dan pelatihan perawat hendaknya mencakup penguatan dimensi holistik demi pelayanan yang profesional, etis, dan bermartabat.
Implementasi Keperawatan Pada Lansia Yang Menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Adilka Nurpadilah; Ailsa Shakira Alya Maulani; Erlyna Tri Astuti; Silvia Agnesti; Heri Ridwan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2151

Abstract

Prevalensi orang tua yang menderita diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 10,3 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 16,7 juta jiwa pada tahun 2045. Diabetes mellitus tipe II merupakan kondisi kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang, termasuk pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengendalian berat badan, serta penggunaan obat-obatan dan insulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perawatan keperawatan pada lansia dengan diabetes mellitus tipe II melalui metode literature review. Artikel ini mengumpulkan dan menganalisis berbagai literatur terkait praktik keperawatan, pendekatan edukasi, dan intervensi yang efektif dalam membantu lansia mengelola diabetes tipe II. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang konsisten, dukungan emosional, serta pemantauan rutin oleh perawat memiliki dampak signifikan terhadap pemahaman pasien mengenai penyakitnya, kepatuhan terhadap pengobatan, dan perubahan gaya hidup. Kesimpulan dari kajian ini menegaskan pentingnya peran keperawatan dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dengan diabetes mellitus tipe II melalui intervensi yang terstruktur dan berbasis bukti.
Hubungan Masa Kerja, Beban Kerja, dan Kelelahan Kerja dengan Stres Kerja pada Pengrajin Batu Bata Putri Yanti; Aynun Abdi Putri Bausad
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2192

Abstract

Stres kerja merupakan permasalahan global yang berdampak signifikan terhadap kinerja organisasi. Kondisi ini dapat menurunkan kesehatan pekerja, melemahkan motivasi, dan mengurangi produktivitas. Faktor-faktor seperti tuntutan pekerjaan, usia, lama masa kerja, beban kerja, dan tingkat kelelahan menjadi determinan timbulnya stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara masa kerja, beban kerja, dan kelelahan kerja dengan tingkat stres kerja pada pengrajin batu bata.Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 84 responden, diperoleh melalui metode total sampling. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji chi-square serta regresi logistik. Hasilnya menunjukkan bahwa beban kerja dan kelelahan kerja berhubungan signifikan dengan tingkat stres kerja (p < 0,05), sementara masa kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik (p > 0,05).Analisis multivariat menunjukkan bahwa beban kerja dan kelelahan kerja merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap stres kerja.Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar pemilik usaha pengrajin batu bata melakukan pengaturan beban kerja yang lebih proporsional serta mencegah kelelahan kerja melalui pembagian tugas yang adil, pemberian waktu istirahat yang memadai, dan edukasi mengenai manajemen stres.
Hubungan Usia, Masa Kerja Dan Kualitas Tidur Dengan Tingkat Kelelahan Pada Tenaga Kerja Bongkar Muat Musyahidah Mustakim; Adhinda Putri Pratiwi
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2196

Abstract

Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada tenaga kerja bongkar muat yang memiliki beban fisik tinggi dan jam kerja bervariasi. Faktor individu seperti usia, masa kerja, dan kualitas tidur berperan penting dalam memengaruhi tingkat kelelahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan usia, masa kerja, dan kualitas tidur dengan tingkat kelelahan kerja pada tenaga kerja bongkar muat. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh tenaga kerja bongkar muat dengan jumlah sampel 52 orang menggunakan metode total sampling. Instrumen penelitian meliputi kuesioner biodata, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan Subjective Self Rating Test dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil ditemukan sebagian besar responden berusia 30–39 tahun (42,3%), memiliki masa kerja 5–10 tahun (38,5%), kualitas tidur buruk (61,5%), dan tingkat kelelahan kerja berat (59,6%). Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara usia (p = 0,003), masa kerja (p = 0,000), dan kualitas tidur (p = 0,000) dengan tingkat kelelahan kerja. Usia, masa kerja, dan kualitas tidur memiliki hubungan bermakna dengan tingkat kelelahan kerja pada tenaga kerja bongkar muat.
Analisis Penerapan Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Petani Padi Asna Ampang Allo; Tenri Diah T.A
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2197

Abstract

Di Indonesia, sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung perekonomian nasional.Pada periode Januari hingga Oktober 2024, tercatat sekitar 356.383 kasus kecelakaan kerja.Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek yang sangat penting dalam sektor pertanian, mengingat banyaknya risiko yang dihadapi oleh pekerja, baik petani maupun pekerja yang terlibat dalam proses produksi pertanian lainnya.Penyebab kecelakaan kerja pada petani dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang seringkali terkait dengan lingkungan kerja dan cara mereka bekerja di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada petani dari segi penggunaan APD dan lama waktu kerja petani. Hasil penelitian yang dilakukan pada petani di Dusun Tandiallona, Toraja Utara dapat disimpulkan bahwa penerapan K3 pada petani di Dusun tersebut masih kurang baik, hal tersebut dapat dilihat dari kurangnya pengetahuan para petani tentang pentingnya penggunaan APD, serta lama waktu kerja dalam perharinya yang lebih dari 8 jam, mereka bekerja hingga 11 jam perharinya dengan jam istirahat yang sangat kurang. Saran dari peneliti, yaitu memberi edukasi dan penyuluhan tentang pentingnya APD saat bekerja dan risiko yang dapat terjadi saat tidak menggunakan APD dari segi keselamatan dan kesehatan para petani. Melakukan penyuluhan terkait lama waktu kerja yang sesuai standar yang ada, yaitu 8 jam perhari, mensosialisasikan tentang keseimbangan antar waktu bekerja dengan waktu istirahat, meningkatkan pengetahun terkait risiko kesehatan dan penggunaan alat bantu kerja yang tepat untuk mengurangi kelelahan saat bekerja.
Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja pada Perawat: Systematic Literatur Riview Nurhayati, Aida Rahmatia; Hanifa, Aa Fadly Jihady; Fatimah, Ayu Siti; Prasetya, Dika Eka; Atoriq, Dwiyanti; Ridwan, Heri; Sutresna, Iyos
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 Desember 2024
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v9i2.1774

Abstract

Motivasi adalah dorongan energi atau keadaan semangat yang dimiliki seseorang untuk melakukan pekerjaannya. Salah satu penyebab adanya motivasi pada perawat saat bekerja adalah penerapan gaya kepemimpinan yang diterapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami adanya ikatan antara gaya kepemimpinan dengan terciptanya motivasi kerja pada perawat karena motivasi saat bekerja dapat menciptakan semangat kerja yang dapat menghasilkan kinerja dan kedisiplinan yang baik. Penelitian ini menggunakan metode literature review secara sistematik di beberapa database menggunakan kriteria artikel yaitu gaya kepemimpinan yang berpengaruh terhadap motivasi kerja perawat dengan metode cross sectional. Hasil dari beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja pada perawat diantaranya gaya kepemimpinan partisipatif, demokratis dan suportif.