cover
Contact Name
Hedrikson Marnes Ander
Contact Email
pppm.polnustar@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pppm.polnustar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kepulauan sangihe,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Tindalung
ISSN : 24427381     EISSN : 26554291     DOI : 10.54484
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Tindalung merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian yang diangkat pada bidang Maritime, Fishing and Processing, Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 128 Documents
SIFAT FUNGSIONAL SEMI REFINED CARRAGEENAN (SRC) DARI RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONII ASAL KABUPATEN SANGIHE Obyn Pumpente; Jaka Frianto Putra Palawe
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i1.388

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan karena permintaan yang terus meningkat untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. Untuk meningkatkan nilai tambah dan harga jual, maka pengolahan rumput laut menjadi produk karaginan perlu dilakukan. Tetapi meskipun rumpu laut cukup melimpah di Kabupate Sangihe, sejauh ini belum ada penelitian mengenai kualitas tepung karaginan yang diolah dari rumput laut asal pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi KOH yang menghasilkan karaginan terbaik dan mengkarakterisasi sifat fungsional karagi­nan rumput laut Eucheuma cottonii asal Kampung Bulo, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabu­paten Kepulauan Sangihe sedangkan manfaat dari penelitian ini dapat memberikan informasi tentang prospek pengembangan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan prospek usaha karaginan sebagai bahan baku berbagai industri. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan mengamati sifat fungsional dari pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe, prosedur penelitian dilakukan menggunakan dua tahap yaitu pada tahap pertama pengolahan SRC dengan perlakuan konsentrasi potasium hidroksida 4%, 6%, 8% dan 10%, suhu 80°C dan waktu proses 2 jam, tahap kedua yakni analisis sifat fungional dan rendemen. Penggunaan kalium hidroksida pada proses pembuatan SRC telah memenuhi standar mutu. Kisaran nilai rendemen sebesar 48.49-52.04%, nilai kekuatan gel yakni sebesar 279.59-394.22g/cm2, nilai viskositas didapatkan sebesar 22.08-35.79 cP, nilai kadar sulfat berkisar 18.13-25.43%. Nilai sifat fungsional SRC dari rumput laut Eucheuma cottonii asal Kampung Bulo, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe memenuhi standar yang ditetapkan oleh FAO dan BSN. Seaweed is one of the promising fisheries commodities because of its increasing de­mand for both domestic and export needs. To increase added value and price, it is necessary to process seaweed into carrageenan products. However, despite the economic potential of carrageenan and the abundance of seaweed in Sangihe Islands, no research has addressed the quality of carrageenan from seaweed of this region. This study aimed to obtain the best KOH concentration for producing the best carrageenan from Euchema cottonii of Bulo village Nusa Tabukan district Sangihe Islands and to characterize its carrageenan functional properties. The benefit of this research included to provide information regarding the prospects of developing sea­weed cultivation in the regency and semi refined carrageenan (SRC) supply as raw material for various industries. The functional properties of semi SRC were determined by using two step analyses. First, SRC was treated with different concentration of potassium hydroxide (4%, 6%, 8% and 10%) KOH at 80°C and for 2 hours. Then, it was followed by analysis of SRC’s functional properties and yields. The results showed yield of 48.49 to 52.04%, gel strength of 279.59-394.22g /cm2, viscosity of 22.08-35.79 cP and sulfate content of 18.13-25.43%. These SRC’s functional properties of E. cottonii from Sangihe Is­lands Regency and the KOH concentration used in this study met the standards set by FAO and BSN.
KANDUNGAN FENOL PADA PINEKUHE YANG DIOLAH DENGAN ASAP CAIR DAN PENGASAPAN KONVENSIONAL Jefri A. Mandeno; Mukhlis A. Kaim
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i1.393

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fenol pada ikan asap pinekuhe dengan asap cair dan dengan pengasapan konvensional. Penelitian menggunakan Rancangan deskriptif kualitatif dengan memberikan gambaran proses dan hasil penelitian melalui gambar, tabel maupun histogram. Perlakuan dalam penelitian adalah sebagai berikut: (A) Ikan asap pinekuhe ang direndam dalam asap cair lalu dikeringkan, (B) Ikan asap pinekuhe yang dkeringkan, direndam dalam asap cair lalu dikeringkan, (C) Ikan asap pinekuhe direndam dalam asap cair lalu dikeringkan dan (D) Ikan asap pinekuhe dari pengasapan konvensional dengan bahan bakar biasa. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa ikan asap cair yang dikeringkan kemudian direndam dalam asap cair memiliki kadar fenol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan asap yang diolah dengan metode pengasapan konvensional, yaitu dengan menggunakan bahan bakar cangkang pala. Kadar fenol tertinggi yaitu pada perlakuan B (15,77%) dan kadar fenol terendah yaitu pada perlakuan C (10,2%). The purpose of this study was to determine the phenol content of pinekuhe smoked fish with liquid smoke and conventional smoking. The study used a qualitative descriptive design by providing an overview of the research process and results through pictures, tables, and histograms. The treatments in the study were as follows: (A) Pinekuhe smoked fish soaked in liquid smoke then dried, (B) Pinekuhe smoked fish that was dried, soaked in liquid smoke then dried, (C) Pinekuhe smoked fish was immersed in liquid smoke then dried and (D) Pinekuhe smoked fish from conventional smoking on ordinary fuel. The conclusion from the results of this study is that smoked fish that is dried and then immersed in liquid smoke has a higher phenol content when compared to smoked fish processed by conventional smoking methods, namely using nutmeg shell fuel. The highest phenol content was in treatment B (15.77%) and the lowest phenol content was in treatment C (10.2%) Abstract: The purpose of this study was to determine the phenol content of pinekuhe smoked fish with liquid smoke and conventional smoking. . The study used a qualitative descriptive design by providing an overview of the research process and results through pictures, tables, and histograms. The treatments in the study were as follows: (A) Pinekuhe smoked fish soaked in liquid smoke then dried, (B) Pinekuhe smoked fish that was dried, soaked in liquid smoke then dried, (C) Pinekuhe smoked fish was immersed in liquid smoke then dried and (D) Pinekuhe smoked fish from conventional smoking on ordinary fuel. The conclusion from the results of this study is that smoked fish that is dried and then immersed in liquid smoke has a higher phenol content when compared to smoked fish processed by conventional smoking methods, namely using nutmeg shell fuel. The highest phenol content was in treatment B (15.77%) and the lowest phenol content was in treatment C (10.2%).
Artikel PEMETAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN PERAIRAN MANGANITU DENGAN MENGGUNAKAN GPSMAP 580/585 MILIK POLNUSTAR 05 Stevani Daud; Joneidi Tamarol; Ishak Bawias
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i2.394

Abstract

Perairan Manganitu di Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan daerah yang banyak terdapat alat pengumpul ikan. Alat pengumpul ikan jenis ini dikenal oleh masyarakat dengan nama bui dengan fungsi yang sama dengan rumpon atau ponton Keberadaan bui tersebut sangat penting untuk diketahui. Selain itu pemetaan bui dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) di daerah tersebut sangat minim informasinya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada nelayan-nelayan. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu memetakan daerah penangkapan ikan berdasarkan GPS (Global Position System) di Perairan Manganitu sedangkan tujuannya untuk memetakan daerah penangkapan ikan berdasarkan data pemetaan GPS Map580/585, untuk mencapai tujuan tersebut maka digunakan metode observasi dan partisipasi aktif. Hasil pemetaan berdasarkan data pengoperasian GPS, didapatkan hasil sebanyak 22 posisi geografis bui beserta kedalamnnya. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mendata semua bui yang ada di perairan Manganitu, karena belum semua bui terdata posisi geografisnya. Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi kepada pemilik bui, berupa penyampaian informasi tentang aturan penempatan bui yang harus mengikuti peraturan berlaku, dimana jarak antar bui harus lebih dari 10 mil laut. The waters of Manganitu in Sangihe Islands Regency are an area with many fishing buoy. The existence of this buoy is very important to know. In addition, buoy mapping using the Global Positioning System (GPS) in the area has very limited information. The results of this study are expected to provide information to fishermen. The formulation of the problem of this research is mapping the fishing area based on the GPS (Global Position System) in Manganitu waters while the aim is to map the fishing area based on the GPS Map580/585 mapping data, to achieve this goal the observation and active participation methods are used. Mapping results based on GPS operating data, obtained 22 geographic positions of the prison and their depths. Further research needs to be carried out to record all fihing buoy in Manganitu waters, because not all buoy have recorded their geographic position. In addition, it is necessary to conduct outreach to buoy owners, in the form of submitting information about the rules for placing buoy that must comply with applicable regulations, where the distance between prisoners must be more than 10 nautical miles.
PENGARUH RADIASI SINAR ULTRAVIOLET TIPE C (UVC) TERHADAP KULTUR TOTAL MIKROBA IKAN ASAP PINEKUHE Jaka Frianto Putra Palawe; Jefri Mandeno
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i2.395

Abstract

Untuk meningkatkan mutu produk olahan khas daerah, khususnya ikan asap pinekuhe, pengembangan teknik atau instrumen baru menjadi sebuah keharusan. Sejauh ini, metode yang umum digunakan untuk mempertahankan mutu produk pangan, khususnya mutu mikrobiologis, adalah mensterilkan produk pangan untuk mengurangi dan menginaktifkan mikroba kontaminan misalnya melalui perebusan, penggaraman atau pengasapan. Tetapi metode steriliasi menggunakan sinar ultraviolet khususnya tipe C (UVC) belum banyak diterapkan pada produk pangan di Indonesia. Sinar ultraviolet adalah gelombang elektromagnetik yang memiliki muatan elektron berfrekuensi tinggi dan panjang gelombang 100-400 nm. Sinar UV dapat memotong rantai basa nitrogen dalam RNA atau DNA sehingga menyebabkan kegagalan pemberian kode genetik untuk sintesa protein dan kematian mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sinar UVC terhadap isolat kultur mikroba dari ikan asap pinekuhe dengan menggunakan metode observasi dan analisa data secara deskriptif. Koloni bakteri yang diisolasi dari ikan pinekuhe dipaparkan dengan sinar UVC dengan perlakuan (12, 24, 36 dan 48) jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa sinar ultra violet tipe c (UVC) dengan daya 8 va dan penyinaran 48 jam mempengaruhi pertumbuhan koloni mikroba ikan asap pinekuhe secara maksimal berupa kekeringan pada koloni bakteri isolat dari ikan asap pinekuhe. To improve quality of pinekuhe smoked fish locally produced in Sangihe Islands, development of new techniques or instruments becomes necessary. Widely used techniques for maintaining food quality mainly include sterilization through boiling, salting or smoking. To date, however, sterilization by ultraviolet type C (UVC) has been poorly practiced for preserving food products in Indonesia. Ultraviolet light is an electromagnetic wave that has a high frequency electron charge with a wavelength of 100-400 nm. It can cut the nitrogenous base chains in RNA or DNA resulting in coding failure in protein synthesis, causing the death of microbes. This research aimed to study the effect of UVC on microbes isolated from pinekuhe. The results showed that UVC radiation with 8 va for 48 hours significantly affected the growth of microbial colonies isolated from the smoked fish, drying up the bacterial colony.
Artikel TEKNIK PEMBUATAN GADING PERAHU PENANGKAP IKAN TIPE PAMO DI KAMPUNG PARA SALENGKERE KECAMATAN TATOARENG Marsugianto Lentiuwulang; Yuliana Varala Tatontos; Julius Wuaten
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i1.400

Abstract

Proses pembuatan gading perahu merupakan salah satu tahapan yang penting dan sangat menentukan dalam pembuatan perahu berbahan kayu, karena dalam konstruksi kapal, gading berfungsi selain untuk memperkuat kapal dari terjangan gelombang juga berfungsi dalam pembentukan badan kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembuatan gading perahu penangkap ikan tipe pamo di Kampung Para Salengkere Kecamatan Tatoareng. Penelitian dilakukan dengan melaksanakan observasi atau pengamatan langsung dan partisipasi aktif dalam pembuatan dan pemasangan gading perahu tipe pamo. Secara umum teknik pembuatan gading perahu tipe pamo di Kampung Para Salengkere Kecamatan Tatoareng menggunakan bahan kayu kapuraca (Callophyllum inophyllum) yang dalam bahasa lokal disebut dingkaleng yang tahan terhadap air laut, kuat dan memiliki serat yang padat. Pada proses pembuatan gading terdapat beberapa bentuk gading yang di buat untuk 1 (satu) unit perahu yaitu gading berbentuk huruf “V” pada bagian haluan dan bentuk huruf “U” pada midship sampai buritan perahu dan pemasangannya di mulai dari bagian linggi depan perahu ke arah buritan. Jumlah gading yang dipasang pada perahu tipe pamo yang dibuat berjumlah ganjil sebanyak 23 buah dengan jarak antar gading 28 cm. The process of making hull frame represents one the most important and crucial stages in building wooden boats because in ship construction, frames function to strengthen the ship from waves and to form a ship's hull. This reserach aimed to determine the technique of making “pamo”-type hull frame in Para Salengkere Village, Tatoareng District. We applied field observation and active participation in building pamo-type hull frame in Para Salengkere Village, Tatoareng District using local wood known as “kapuraca” or “dingkaleng” because of its resistance to sea water, strong and dense fibers. We used V shaped frame on the bow, round bottom (RB) at midship and "U" shape at the stern of the boat and the installation starts from the front height of the boat towards the stern. We installed an odd number (23) of tusks with a distance of 28 cm among the tusks.
KONDISI EKSTERNAL (PANJANG DAN BERAT TUBUH) DAN INTERNAL (Usus, POHON RESPIRASI DAN GONAD) TERIPANG GAMAT BATU Stichopus horrens SETELAH EVISERASI DAN PEMOTONGAN Edwin Oscar Langi; Jetti Treslah Saselah
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i2.405

Abstract

Mekanisme pertahanan diri organisme adalah salah satu upaya untuk hidup di habitatnya. Pada kelompok hewan berduri Echinodermata: dikenal dengan istilah autotomi, yaitu proses melepaskan organ tubuh secara spontan sebagai respons terhadap suatu rangsangan yang membuat biota tersebut stres. Biota ini mampu melakukan eviserasi, fission dan regenerasi setelah proses pemutusan. Produk akhirnya adalah organ internal dan individu baru. Penelitian ini dilakukan di Teluk Tahuna selama 28 hari. Hasilnya Teripang Gamat Batu Stichopus horrens yang eviserasi dan pemotongan melintang ternyata mengalami penyusutan ukuran yang cukup besar. Tidak ada spesimen yang bertambah ukurannya. Jika terjadi eviserasi bagian tubuh yang dibuang adalah isi perut, yaitu kotoran, dan sebagian usus. Bagian tubuh yang tersisa pada spesimen yang dipotong adalah yang melekat pada bagian anterior, yaitu pangkal tenggorokan, lambung dan sebagian usus. Sedangkan bagian posterior tidak pernah ditemukan gonad, hanya sebagian usus dan pohon respirasi yang berpangkal pada bagian kloaka. Kondisi organ internal (pencernaan, pohon respirasi dan gonad) setelah eviserasi maupun pemotongan melintang menyusut ukurannya, baik saat tebar awal sampai hari ke-28. Sehingga memberikan arti bahwa pada 4 minggu pertama individu teripang ini setelah belum melakukan regenerasi organ internal. The organism's self-defense mechanism is an attempt to live in its habitat. In the group of spiny animals Echinoderm: known as autotomy, which is the process of spontaneously releasing organs in response to a stimulus that stresses the biota. This biota is capable of evisceration, fission and regeneration after the transverse fission. The end products are internal organs and new individuals. This research was conducted in Tahuna Bay for 28 days. The result was that the sea cucumber Gama Batu or Stichopus horrens was revised and that the transverse fission actually experienced a significant reduction in size. There is no specimen that increased in size. If there is evisceration, the parts of the body that are removed are the stomach contents, namely feces, and part of the intestines. The body parts remaining in the transeverse fission specimen are those attached to the anterior, namely the larynx, stomach and a portion of the intestines. Parts of the body are missing. While the posterior gonads have never been found, only a part of the intestine and respiration tree originates from the cloaca. The condition of the internal organs (intestines, respiration tree and gonads) which were eviscerated and the transverse fission experienced a reduction in size, both during initial stocking until the 28th day. It means that in the first 4 weeks the individual these sea cucumber had not regenerated the internal organs.
PENGARUH PERENDAMAN DAN DURASINYA DALAM LARUTAN MADU TERHADAP MASKULINASASI LARVA Oreochromis niloticus Aprelia Tomasoa; Deidy Azhari; Christian Andelsen Manansang; Ferly Feybe Dansole
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i2.406

Abstract

Budidaya ikan nila monoseks jantan memiliki peranan penting dalam meningkatkan produksi ikan nila. Meskipun saat ini teknik maskulinisasi menggunakan hormon sintetik umum diterapkan namun cara ini berbahaya dari segi keamanan pangan dan konsumen karena sifat karsinogenik dan potensi akumulasi di alam dari hormon sintetik. Sebaliknya, bahan alami seperti madu yang menggandung Chrysin, yang telah diketahui sebagai aromatase inhibitor yang dapat menyebabkan maskulinisasi pada ikan dapat digunakan dalam teknik maskulinisasi. Meskipun demikian, sejauh ini pengaruh perendaman larva ikan nila dalam larutan madu terhadap maskulinisasi masih harus dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dan durasi perendaman dalam larutan madu terhadap rasio kelamin jantan benih ikan nila. Menggunakan larva berumur 7 hari hasil pemijahan semi-buatan dengan induksi hormon, penelitian ini dilakukan menggunakan 4 perlakuan (durasi perendaman) dengan 1 konsentrasi (15 mL/L). Untuk mengetahui rasio kelamin jantan, analisa histologis dengan pewarnaan asetokarin dilakukan untuk mengamati gonad benih hasil perlakuan. Perendaman larva ikan nila pada larutan madu konsentrasi 15 mL/L selama 20 jam mampu menghasilkan 80% benih berkelamin jantan. Sebagai kesimpulan, durasi perendaman berpengaruh terhadap rasio kelamin jantan yang dihasilkan dan perendaman selama 20 jam adalah durasi perendaman terbaik untuk larva ikan nila. Farming monosex male tilapia has an important role in improving the production of Nile tilapia. Although synthetic hormone is commonly used to produce male monosex tilapia, this method poses a serious threat to food safety and consumer’s health due to carcinogenic potential and bioaccumulation of the synthetic hormone in ecosystem. In contrast, honeybee is a natural product containing Chrysin, an aromatase inhibitor, which is known to cause masculinity in fish and can be used for masculinization. To date, however, the effect of honeybee on tilapia larvae’s masculinization is yet to be studied. This research aimed to study the effect of immersion and its duration in honeybee’of Nile Tilapia’s Larvae in honeybee’s solution and length of immersion on male ratio. This research was conducted in quadruple consisting of three different times of immersion (duration of immersion) and one concentration (15 mL/L). Using 7-day post hatched Nile tilapia larvae from semi-artificial breeding, we determined male ratio based on histological analysis using acetocarmine stain. The result show that the Nile Tilapia’s larvae treated at the concentration of 15 mL/L of honeybee for 20 hours had the highest male ratio (80%). To conclude, immersion in honeybee solution affected male ratio with 20 hours length of immersion resulting in the highest male ratio for tilapia’s larvae.
PROSES FINISHING PEMBUATAN KAPAL PAJEKO (MINI PURSE SEINER) DI KAMPUNG PARA I KECAMATAN TATOARENG Julius Frans Wuaten; Ishak Bawias; Rafles Kawowode
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i2.396

Abstract

Abstrak: . Salah satu lokasi tempat pembuatan kapal penangkap ikan yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu di Kampung Para I Kecamatan Tatoareng. Masyarakat nelayan yang ada di Kampung Para I pada umumnya memiliki kemampuan dan keahlian dalam membuat unit perahu/kapal penangkap ikan yang diperolehnya secara turun temurun dari orang tua dan nenek moyang mereka. Hampir setiap tahun, nelayan pembuat kapal di Kampung Para I memproduksi kapal penangkap ikan dari bahan kayu, pesanan dari nelayan yang ada di sekitar Pulau Para maupun dari luar pulau. Penelitian ini dilakukan untuk melihat secara langsung proses pembuatan kapal penangkap ikan dari bahan kayu, khususnya dalam proses finishing kapal pajeko. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif, dengan menggambarkan atau menguraikan kejadian di lapangan dalam bentuk laporan, tanpa mengurangi atau menambah informasi yang ada di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dengan nelayan pembuat kapal, pengamatan langsung dan partisipasi dalam proses finishing meliputi pemakalan, pendumpulan, dan pengecatan kapal. Proses finishing dalam pembuatan kapal pajeko berbahan baku kayu di Kampung Para 1 Kecamatan Tatoreng semuanya dilakukan secara tradisional dan pengerjaannya dilakukan oleh nelayan setempat, mulai dari proses memakal, mendempul dan mengecat dengan peralatan yang sederhana. Abtract: One of the locations for fishing boats in Sangihe Islands Regency is Para Village 1, Tatoareng District. The fishing communities in Para Village 1 generally have the ability and expertise to build fishing boats / vessels, which they have from generation to generation from their parents and ancestors. Almost every year, fishermen who build boats in Para I Village produce fishing boats made of wood, orders from fishermen around Para Island and from outside the island. This research was conducted to see firsthand, the process of making fishing boats from wood, especially in the finishing process of the pajeko boat. The method used is descriptive method, by describing the events in the field, to the form of reports, without reducing or adding to the information in the field. Data collection techniques are carried out by conducting interviews with shipbuilders, direct observation and participation in the shipbuilding finishing process including ‘pemakalan’, ‘pendumpulan’, and ship painting. The finishing process in making pajeko boats made of wood in Para Village 1, Tatoreng District, is all done traditionally and the work is done by local fishermen, starting from the process of ‘pemakalan’, ‘pendumpulan’ and painting with simple equipment.
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN PANCING ULUR DI KAMPUNG KARATUNG II KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Eunike Irene Kumaseh; Costantein Imanuel Sarapil; Yafet Takasabare
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i2.429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya pendapatan nelayan pancing ulur di Kampung Karatung II Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kampung Karatung II terletak di Kecamatan Manganitu dengan jumlah penduduk 991 jiwa. Pendapatan nelayan di Kampung Karatung II bergantung pada hasil tangkapan. Jenis ikan hasil tangkapan pada umunya yaitu ikan Selar (Selaroides sp.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2020 di perairan Kampung Karatung II Kecamatan Manganitu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi terhadap para nelayan. Pendapatan nelayan pancing ulur di Kampung Karatung II yaitu sebesar Rp 1.250.000,- per bulan. Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Utara No. 330 Tahun 2020, upah minimum Provinsi Sulawesi Utara tahun 2020 Rp 3.310.723,- (tiga juta tiga ratus sepuluh ribu tujuh ratus dua puluh tiga rupiah) setiap bulan, dengan demikian pendapatan nelayan di Kampung Karatung II termasuk dalam kategori rendah. This study aims to determine the income of hand line fishermen in Karatung II Village, Manganitu District of Sangihe Islands Regency. Karatung II Village is located in Manganitu District with population of 991 people. The income of fishermen in Karatung II village depends on the catch. The kind of fish caught is Selar (Selaroides sp.). This research was carried out in September to October 2020 in the waters of Karatung II village, Manganitu District. Data collection techniques were carried out by interviewing and observing the fishermen. The income of hand line fishermen in Karatung II Village is Rp. 1,250,000 per month. Based on the Decree of the Governor of North Sulawesi No. 330 of 2020, the minimum wage of North Sulawesi Province in 2020 was IDR 3,310,723 (three million three hundred ten thousand seven hundred and twenty three rupiahs) every month, and therefore, the income of fishermen in Karatung II Village is categorized as a low income.
EFEK TERAPI HORMON OODEV TERHADAP PERKEMBANGAN TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp.) DI TELUK TALENGEN Aprelia Tomasoa; Usy Nora Manurung; Sermiati Makasehe; Christania Daukalu; Jelia Janica Makarilang; Srimayangsari Balandatu
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i2.440

Abstract

Marine aquaculture activities in the Sangihe Islands, more specifically in the waters of Talengen Bay, are not yet optimal and still utilize seeds from catches in nature. This study aims to determine the effect of using the Oodev hormone and obtain the best dose to stimulate the gonadal maturity level (TKG) of red snapper (Lutjanus sp.). The red snapper used comes from the catch in the waters of Talengen Bay and is also domesticated in floating net cages. The sampled fish used were 60 individuals with average body weight (30.5 g). The Oodev hormone dose treatment, namely; 0 mL/kg, 0.5 mL/kg, 1 mL/kg and 1.5 mL/kg. Oodev hormone was applied to commercial feed specifically for marine fish with the trademark Megami GR-3 orally for 30 days of rearing. The results showed that the administration of the Oodev hormone had a positive effect on the gonadal maturity level of red snapper, with the development of different levels of gonadal maturity in each treatment. The 0.5 mL/kg dose treatment resulted in the highest gonadal maturity level (TKG III). The maturation stage was followed by 1 mL/kg and 1.5 mL/kg (TKG II) treatments. Meanwhile, compared with the 0 mL/kg treatment, the developmental stage was still TKG I (immature). These findings provide Oodev hormone with 0.5 mL/kg dose could stimulate the red snapper gonad maturity level to mature for 30 days of rearing.

Page 11 of 13 | Total Record : 128