cover
Contact Name
Hedrikson Marnes Ander
Contact Email
pppm.polnustar@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pppm.polnustar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kepulauan sangihe,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Tindalung
ISSN : 24427381     EISSN : 26554291     DOI : 10.54484
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Tindalung merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian yang diangkat pada bidang Maritime, Fishing and Processing, Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 128 Documents
Artikel ALAT TANGKAP IKAN TRADISIONAL BERDASARKAN PARAMETER SELEKTIVITAS DAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN CODE OF CONDUCT FOR RESPONSIBLE FISHERIES DI PULAU MAHUMU Julius Frans Wuaten; Ishak Bawias; Yuliana Varala Tatontos; Yana Sambeka; Dekrist Kapai
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.496

Abstract

Apabila keberadaan alat tangkap tradisional yang digunakan oleh nelayan berpotensi untuk merusak ekosistem terumbu karang di sekitar pulau-pulau kecil di Kepulauan Sangihe, maka aktivitas penangkap ikan akan berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan perairan pesisir pantai. Dibutuhkan penelitian yang sistematis dan obyektif berdasarkan kode etik tatalaksana perikanan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries, FAO 1995) terhadap metode dan jenis alat tangkap tradisional yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang di fokuskan pada dua tempat yang menjadi sampel yaitu Pulau Mahumu dan Pulau Bebalang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan pada responden dalam bentuk kuesioner. Responden dalam hal ini adalah nelayan pemilik alat tangkap ikan yang ada di Pulau Mahumu. Pada kuesioner tersebut digunakan pembobotan 1 sampai dengan 4 dalam setiap poin pertanyaan yang mengacu kepada 9 kriteria alat tangkap ramah lingkungan (Firdaus et al. 2017 dalam Pramesthy dan Mardiah, 2019). Hasil penelitian menemukan beberapa kesimpulan yaitu : a). Terdapat 5 jenis alat tangkap ikan tradisional yang dioperasikan di perairan pulau Mahumu, yaitu Soma Paka (gillnet), Soma Tagaho (Pukat dampar), Buya-buya (Tuna hand line), Bawae’ Noru (Hand line) dan Papiti (Senapan Ikan ). b). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa alat tangkap Pancing Tuna (Buya-buya) memiliki tingkat selektivitas yang sangat baik. Selain itu, data penelitian juga menunjukkan bahwa hanya ada 1 jenis alat tangkap ikan yang ada di Pulau Mahumu, yang memiliki hasil tangkapan sampingan minimumnamun memiliki nilai pasar yang tinggi, yaitu alat tangkap Bawae’ Noru. If the existence of traditional fishing gear used by fishermen has the potential to damage coral reef ecosystems around small islands in the Sangihe Islands, fishing activities will have a negative impact on the environmental sustainability of coastal waters. A systematic and objective research is needed based on the Code of Conduct for Responsible Fisheries, (FAO 1995) on the methods and types of traditional fishing gear used by fishermen in the Sangihe Islands Regency, focusing on two sample locations, namely Mahumu Island and Bebalang Island. Data collection techniques were carried out by compiling a list of questions posed to respondents in the form of a questionnaire. Respondents in this case are fishermen who own fishing gear on Mahumu Island. The questionnaire uses a weighting of 1 to 4 in each question point that refers to 9 criteria for environmentally friendly fishing gear (Firdaus et al. 2017 in Pramesthy and Mardiah, 2019). The results of the study found several conclusions, namely: a). There are 5 types of traditional fishing gear operated in the waters of Mahumu Island, namely Soma Paka (gillnet), Soma Tagaho (Pukat dampar), Buya-buya (Tuna hand line), Bawae' Noru (Hand line) and Papiti (Senapan Ikan ). b). Based on the results of the study, it can be seen that the Pancing Tuna (Buya-buya) fishing gear has a very good level of selectivity. In addition, research data also shows that there is only 1 type of fishing gear on Mahumu Island, which has a minimum by-catch but has a high market value, namely Bawae' Noru fishing gear.
DAERAH PENANGKAPAN PANCING ULUR DASAR (BOTTOM HAND LINE) DI SEKITAR PESISIR TELUK TAHUNA Fitria Fresty Lungari; Joneidi Tamarol
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.511

Abstract

Keberadaan daerah penangkapan ikan bagi usaha penangkapan ikan, lebih khususnya cakupan nelayan kecil sangat mempengaruhi kondisi perekonomian. Semakin dekat daerah penangkapan ikan, akan semakin mudah untuk dijangkau dan dapat meminimalisir biaya produksi. Tingginya aktivitas manusia di suatu peraiaran merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan perubahan suatu kondisi perairan. Di Teluk Tahuna dan sekitarnya, nelayan mengalami kesulitan dalam menangkap ikan demersal di sekitar Teluk Tahuna. Penelitian ini bertujuan untuk melaihat keberadaan daerah penangkapan ikan demersal dengan pendekatan metode deskriptif. Pengambilan data yaitu mencakup kedalaman, arus dan posisi dengan menggunakan GPS. Hasil yang diperoleh yaitu daerah penangkapan ikan demersal mulai bergeser ke arah Maselihe (lebih jauh dari sebelumnya), hal ini terlihat dari jumlah hasil tangkapan yang lebih sedikit di Teluk Tahuna dibandingkan di sekitar Maselihe. Jumlah daerah penangkapan ikan terdiri dari 8 pos, dengan kecepatan arus berkisar antara 8 det/ 5 m di perairan sekitar Maselihe sampai dengan 3. 37 menit /5 m di perairan sekitar Lesa dan Batulewer (Teluk Tahuna). Kedalam daerah pengoperasian alat tangkap yaitu 22.6 m sampai dengan 44.8 m. The existence of fishing grounds for fishing businesses, especially the scope of small fishermen, greatly affects economic conditions. The closer the fishing area is, the easier it will be to reach and minimize production costs. The high level of human activity in a waters is one of the important factors that cause changes in water conditions. In Tahuna Bay and its surroundings, fishermen have difficulty catching demersal fish around Tahuna Bay. This study aims to examine the existence of demersal fishing areas with a descriptive method approach. Data retrieval includes depth, current and position using GPS. The results obtained are that the demersal fishing area begins to shift towards Maselihe (further than before), this can be seen from the lower number of catches in Tahuna Bay than around Maselihe. The number of fishing areas consists of 8 posts, with current speeds ranging from 8 second/5 m in the waters around Maselihe, and to 3.37 minutes /5 m in the waters around Lesa and Batulewer (Teluk Tahuna). The depth of the fishing gear operating area is 22.6 m to 44.8 m.
UJI MATERIAL PLYWOOD PERAHU PENANGKAP TUNA TIPE PUMPBOAT DI SANGIHE TERHADAP SERANGAN BIOFOULLING Fitria Fresty Lungari; Walter Balansa; Yana Sambeka
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.513

Abstract

Dampak yang ditimbulkan oleh organisme penempel (biofouling) masih menjadi tantangan bagi nelayan pemilik perahu atau kapal. Pumpboat merupakan alat transportasi antar pulau dan sarana yang digunakan masyarakat pesisir kepulauan Sangihe untuk menangkap ikan. Biaya operasional yang tinggi seharunya tidak lagi ditambah dengan biaya pemeliharaan yang tinggi, sehingga nelayan dapat meminimalisir kerugian dimasa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tahan material plywood marine use yang biasanya digunakan nelayan Sangihe terhadap pertumbuhuan biofouling. Perendaman material yang sudah dicat dan dikeringkan dilakukan selama satu bulan. Perhitungan IS (intensitas serangan) dilakukan dengan mengumpulkan data luas permukaan material sebelum diserang dan setelah diserang setiap minggu. Hasil yang diperoleh yaitu minggu pertama 19.8 %, minggu ke-2 48.8 %, minggu ke-3 63.6% dan minggu ke-4 87.4%. Tingginya laju pertumbuhan ini mengharuskan pengaplikasian metode khusus, sehingga performa konstruksi dan mesin kapal tetap maksimal saat melaut. The impact caused by adhering organisms (biofouling) is still a challenge for fishermen who own boats or ships. Pumpboat is an inter-island transportation tool and a means used by the coastal communities of the Sangihe Islands to catch fish. High operational costs should no longer be coupled with high maintenance costs, so that fishermen can minimize losses in the future. This study aims to determine the durability of marine use plywood material, which is usually used by Sangihe fishermen against biofouling growth. Immersion of the material that has been painted and dried is carried out for one month. The calculation of IS (intensity of attack) is done by collecting data on the surface area of ​​the material before being attacked and after being attacked every week. The results obtained are 19.8% in the first week, 48.8% in the 2nd week, 63.6% in the 3rd week and 87.4% in the 4th week. This high growth rate necessitates the application of special methods, so that the ship's construction and engine performance remains optimal while at sea.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PESISIR DI PULAU MAHUMU KECAMATAN TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Eunike Irene Kumaseh; Costantein Imanuel Sarapil
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.482

Abstract

Pulau Mahumu yang terletak pada koordinat 3 24’11,970” LU dan 125 34’ 2,382” BT (KKP, 2012). Pulau Mahumu merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jarak tempuh dari ibukota Kecamatan Tamako yaitu 8 km dan jarak tempuh dari ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu 53 km, dengan menggunakan perahu motor. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai Petani yaitu sebesar 53,14 % dan kemudian diikuti oleh nelayan sebesar 40 %. Kondisi sosial budaya di Kampung Mahumu yaitu masyarakat memiliki tingkat solidaritas yang tinggi, serta sifat kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai – nilai kearifan lokal di Pulau Mahumu dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah pesisir di Pulau Mahumu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengamatan (observasi), wawancara mendalam (indepth interview) serta studi kepustakaan. Pengamatan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengamati situasi dan kondisi lingkungan serta perilaku masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Pulau Mahumu mempunyai rasa solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi. Kearifan lokal di Pulau Mahumu seperti menoma, tidak boleh memotong pohon bakau, serta gotong royong membangun rumah. Kearifan lokal tersebut menjaga keberlangsungan hidup di pulau kecil dan keberlanjutan sumber daya laut dan perikanan. Kearifan lokal yang ada di Pulau Mahumu merupakan daya tarik tersendiri dalam pengembangan wisata bahari pada Klaster Teluk Dagho. Mahumu Island is located at the coordinates of 3° 24'11.970" North Latitude and 125° 34' 2.382" East Longitude (KKP, 2012). Mahumu Island is one of the islands included in the administrative area of ​​​​Tamako District, Sangihe Islands Regency. The distance from the capital of Tamako District is 8 km and the distance from the capital of Sangihe Islands Regency is 53 km, by using a motor boat. Most of the population work as farmers, which is 53.14% and then followed by fishermen by 40%. The socio-cultural conditions in Mahumu Village are that the community has a high level of solidarity, as well as a high level of kinship and mutual cooperation. This study aims to describe the values ​​of local wisdom on Mahumu Island in relation to the management of coastal areas on Mahumu Island. The method used in this research is observation (observation), in-depth interview (in-depth interview) and literature study. Observation is a technique of collecting data by observing environmental situations and conditions as well as community behavior. The results showed that the people on Mahumu Island had a high sense of solidarity and kinship. Local wisdom on Mahumu Island, such as menoma, is not allowed to cut mangrove trees, and mutual cooperation in building houses. This local wisdom maintains the survival of small islands and the sustainability of marine and fishery resources. The local wisdom that exists on Mahumu Island is the main attraction in the development of marine tourism in the Dagho Bay Cluster.
BERBEDA TAPI SAMA: PLASTISITAS MORFOLOGI SPONGE XESTOSPONGIA TESTUDINARIA DARI PERAIRAN KABUPATEN SITARO DAN SANGIHE? Walter Balansa; Frets Rieuwpassa
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.493

Abstract

Plastisitas morfologi sponge telah lama menjadi tantangan berat dalam identifikasi jenis sponge dan mempunyai implikasi penting di bidang konservasi spesies, penemuan bahan bioaktif maupun biomaterial berpotensi medis dari invertebrata laut ini. Peran ekologis, kandungan senyawa bioaktif maupun variasi genetik dari X. testudinaria, sponge ikonik di terumbu karang Sulawesi Utara dan Indo-Pasifik ini, telah seringkali dilaporkan. Tetapi penelitian tentang plastisitas X. testudinaria masih sangat terbatas. Untuk menentukan plastisitias X. testudinaria dari Kabupaten Sitaro dan Sangihe, kami membandingkan karakteristik morfologi (contoh, warna, bentuk pertumbuhan, permukaan tubuh, ukuran dan bentuk spikula). Sejauh ini, tiga morfotipe sponge jenis Xestospongia testudinaria telah ditemukan di Kepulauan Sitaro dan Sangihe; (1) morfotipe digitate di Pulau Mahumu, (2) morfotipe lamellate di perairan Enepahembang dan Bebalang dan (3) morfotipe licin di Ulu Siau. Berbeda dengan studi plastisitas X. testudinaria sebelumnya, penelitian kami tidak menunjukkan adanya dominasi dari salah satu morfotipe ini di wilayah di sekitar pelabuhan laut dan daerah dengan masukan sedimentasi tinggi. Kami juga membahas implikasi dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran lebih baik mengenai distribusi berbagai morfotipe X. testudinaria di perairan Nusa Utara. Morphological plasticity in sponge has become a serious challenge in sponge identification and has an important implication in species conservation. Ecological roles, bioactive compounds, and genetic variation of X. testudinaria, the iconic sponge from the coral reef in North Sulawesi and even Indo-Pacific, have been frequently reported. However, research on the plasticity of X. testudinaria remains limited. To determine the plasticity of this species from Sitaro and Sangihe Islands, we compared the morphological characteristics (e.g. color, growth form, surface, size and the style of spicule). So far, three morphotypes of X. testudinaria have been found in Sitaro and Sangihe Island regencies; digitate, lamellate and smooth surfaces. Different from earlier study on plasticity in X. testudinaria, our research did not show domination of any morphotype in areas near seaport and high sedimentation. We also discussed the implication of this research to get a better understanding of the distribution of X. testudinaria with different morphotypes in Nusa Utara waters.
DINAMIKA EKONOMI PENDAPATAN NELAYAN DI PULAU MATUTUANG KECAMATAN KEPULAUAN MARORE KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Irene Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.498

Abstract

Pulau Matutuang mempunyai hamparan terumbu karang seluas 2 ha, padang lamun seluas 1,5 ha pada zona pasang surut, serta hamparan pasir putih seluas 250 meter. Hasil tangkapan nelayan biasanya langsung dijual ke pasar atau nelayan yang berasal dari negara tetangga Filipina yang mempunyai modal yang besar dan teknologi pengolahan hasil perikanan yang jauh lebih memadai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika pendapatan nelayan di Pulau Matutuang yang membawa hasil tangkapan mereka ke Pulau Sangihe besar ataupun yang dijual kepada nelayan dari negara tetangga Filipina. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data secara langsung melalui wawancara dan observasi pada nelayan di Pulau Matutuang Kecamatan Kepulauan Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe. Analisa data secara deskriptif kualitatif disebut pula dengan kuasi kualitatif atau desain kualitatif semu. Besarnya pendapatan nelayan dihitung dengan menggunakan persamaan dimana = keuntungan/ Profit, = Total pendapatan/ Total revenue, = Total biaya/ Total Cost.Besarnya pendapatan nelayan per bulan berkisar pada Rp 4.320.000,- Rp 14.400.000,-. Alat tangkap yang banyak digunakan yaitu hand line dan long line, dengan hasil tangkapan yaitu ikan Kurisi (Sahamia) dan ikan demersal lainnya. Faktor yang mempengaruhi dinamika pendapatan nelayan di Pulau Matutuang yaitu faktor cuaca. Pekerjaan sampingan yang dilakukan nelayan saat cuaca buruk adalah dengan berkebun, menanam ubi, pisang, kelapa, dan cengkeh. Matutuang Island has a stretch of coral reefs covering an area of ​​2 ha, seagrass beds covering an area of ​​1.5 ha in the tidal zone, and a stretch of white sand covering an area of ​​250 meters. The catches of fishermen are usually sold directly to the market or fishermen from neighboring country Philippines who have large capital and more adequate processing technology for fishery products. This study aims to look at the dynamics of fishermen’s income on Matutuang Island who bring their catch to Sangihe Island or sold to Filipino fishermen. Data collection was carried out by collecting data directly through interviews and observations of fishermen on Matutuang Island, Marore Islands District, Sangihe Islands Regency. Descriptive qualitative data analysis is also called quasi-qualitative or quasi-qualitative design. The amount of fisherman's income is calculated using the equation =TR-TC, where = profit/profit, TR = total income/total revenue, TC = total cost/total cost. 14,400,000,-. Most fishing gear used are hand line and long line, with the catch being Kurisi fish (Sahamia) and other demersal fish. The factor that influences the dynamics of fishermen's income on Matutuang Island is the weather factor. The side jobs that fishermen do when the weather is bad are gardening, planting sweet potatoes, bananas, coconuts, and cloves.
Pertumbuhan Ikan Cupang (Betta sp) Dengan Pakan Berbeda Susantie, Darna; Langi, Edwin Oscar
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v11i1.566

Abstract

Keunggulan ikan cupang dari ikan hias air tawar lainnya karena memiliki daya adaptasi yang luas dan toleransi terhadap kondisi lingkugan cukup tinggi. Pakan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pertumbuhan ikan dan dalam usaha budidaya ikan (Afrianto dan Liviawaty, 2005). Pakan berperan penting dalam merangsang pertumbuhan individu yang optimal. Ketersediaan pakan alami sudah tentu tidak akan mencukupi kebutuhan ikan terhadap pakan selama periode pemeliharaan, untuk itu diperlukan pakan tambahan. Dosis pakan yang diberikan tidak hanya terbatas dalam jumlah saja, tetapi nilai gizi pakan perlu diperhatikan untuk mendapatkan pertambahan berat yang optimal pada kurun waktu pemeliharaan yang cukup pendek. Kegiatan penerapan penelitian Unggulan Perguruan Tinggi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan tingkat keberhasilan hidup ikan cupang. Waktu pelaksanaan penelitian selama 28 hari dari tanggal 24 Agustus sampai 22 September 2022. Prosedur kerja penelitian meliputi beberapa tahap yaitu persiapan pakan uji, persiapan wadah pemeliharaan, persiapan ikan uji, dan pemeliharaan ikan uji. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan cupang berukuran 1.5 - 3 cm sebanyak 12 ekor dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, dimana masing-masing wadah didistribusikan 1 ekor ikan. Sedangkan pakan uji yang dipakai adalah pellet MEM Prime NRD 300-500m, embryo Tubifex, Holly Blood, dan pellet Holly Feed. Laju pertambahan bobot tertinggi ikan cupang selama 28 hari pemeliharaan yaitu pada perlakuan D (pellet Holly feed) sedangkan laju pertumbuhan Panjang tubuh tertinggi yaitu pada perlakuan B (embryo Tubifex). Tingkat keberhasilan hidup ikan cupang selama 28 hari pemeliharaan untuk semua perlakuan yaitu 100%, yang artinya semua ikan uji yang dipelihara hidup semua. The superiority of betta fish from other freshwater ornamental fish is because it has a wide adaptability and tolerance to environmental conditions is quite high. Feed is a very important component in fish growth and in fish farming (Afrianto and Liviawaty, 2005). Feed plays an important role in stimulating optimal individual growth. The availability of natural food will certainly not meet the needs of fish for feed during the rearing period, for this reason additional feed is needed. The dose of feed given is not only limited in amount, but the nutritional value of the feed needs to be considered to obtain optimal weight gain in a fairly short maintenance period. This Higher Education Excellence research implementation activity aims to determine the effect of different feeds on the growth and survival rate of betta fish. The time for research is 28 days from August 24 to September 22, 2022. The research work procedures included several stages, namely preparation of test feeds, preparation of maintenance containers, preparation of test fish, and maintenance of test fish. The test fish used in this study were 12 betta fish seeds measuring 1.5 - 3 cm with 4 treatments and 3 replications, where 1 fish was distributed in each container. While the test feeds used were MEM Prime NRD 300-500m pellets, Tubifex embryos, Holly Blood, and Holly Feed pellets. The highest rate of weight gain for betta fish during 28 days of rearing was in treatment D (pellet Holly feed) while the highest growth rate in body length was in treatment B (embryo Tubifex). The success rate for betta fish for 28 days of rearing for all treatments was 100%, which means that all the test fish that were kept were all alive.
PENERAPAN HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT (HACCP) PADA TUNA (Thunnus sp.) UTUH BEKU Karimela, Ely John; Laleno, Jeinita Fernanda; Ansar, Novalina Maya Sari; Gansalangi, Ferdinand
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v11i1.701

Abstract

Tuna merupakan salah satu kelompok ikan yang banyak diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki kualitas daging yang sangat baik dan gizi yang tinggi. Salah satu cara yang dapat memberikan jaminan keamanan produk yang akan dipasarkan yaitu dengan menggunakan sistem pengendalian kualitas keamanan pangan yaitu Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan HACCP pada tuna (Thunnus sp.) utuh beku di PT. Golden Tuna Bali. Teknik pengambilan data yang digunakan yaitu metode partisipatif dan observasi dengan data yang diperoleh adalah data primer dan sekunder. Berdasarkan 12 langkah penerapan HACCP di PT. Golden Tuna Bali meliputi pembentukan tim HACCP, deskripsi produk, tujuan penggunaan produk, penyusunan bagan alir produksi, konfirmasi diagram alir di lapangan, identifikasi bahaya, penentuan CCP, penentuan batas kritis tiap CCP, prosedur pemantauan, penetapan tindakan koreksi, penetapan prosedur verifikasi, dokumentasi dan pencatatan sudah diterapkan. Penerapan HACCP di PT. Golden Tuna Bali menunjukkan adanya CCP yaitu pada penerimaan bahan baku.
KARAKTERISTIK RUMPUT LAUT MERAH JENIS Eucheuma cottonii SEBAGAI BAHAN BAKU SELAI Pumpente, Obyn; Rieuwpassa, Frets Jonas
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 10 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v10i2.475

Abstract

Rumput laut dewasa ini merupakan salah satu komoditas hasil laut yang penting. Disamping mempunyai banyak kegunaan, rumput laut juga sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir. Rumput laut bisa dimanfaatkan untuk berbagai jenis makanan olahan sehingga dapat dikonsumsi dalam bentuk lain yang lebih bergizi dan dapat dikonsumsi dimasa yang akan datang tanpa mengurangi nilai gizinya dengan cara diawetkan salah satunya yaitu diolah menjadi selai. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis mutu rumput laut kering sebagai bahan baku pembuatan selai. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama yaitu meliputi preparasi dan analisis proksimat bahan baku rumput laut yang digunakan. Tahap kedua yaitu pembuatan serta analisis nilai organoleptik selai rumput laut. Data pada penelitian ini diambil dari pengujian di laboratorium. Data analisis yang diperoleh dihitung nilai rata-rata kemudian dideskripsikan. Data disajikan dalam bentuk gambar dan grafik, serta dianalisis secara deskriptif. Analisis mutu yang dilakukan pada rumput laut merah jenis Eucheuma cottonii yaitu analisis kadar air, protein, lemak, karbohidrat dan abu sedangkan analisis mutu produk selai yaitu uji hedonik. Hasil penelitian didapatkan untuk nilai rata-rata kadar air 35.21%, kadar abu 18.50 %, kadar protein 3.68 %, kadar lemak 1.04 %, kadar karbohidrat 37.11 %. Untuk analisis skala hedonik didapatkan nilai pada parameter kenampakan rata-rata 8.5 (sangat suka), nilai bau rata-rata 7.7 (sangat suka), nilai rasa rata-rata 8.1 (sangat suka) dan nilai rata-rata tekstur 8.2 (sangat suka) Seaweed is one of the important marine product commodities. Besides having many uses, seaweed is also a source of income for coastal communities. Seaweed can be used for various types of processed food so that it can be consumed in other forms that are more nutritious and can be consumed in the future without reducing its nutritional value by preserving it, one of which is processed into jam. Purpose of this study was to analyze the quality of dried seaweed as a raw material for making jam and to test the hedonic quality of seaweed jam. This research was conducted in two stages. The first stage includes preparation and proximate analysis of the seaweed raw materials used. The second stage is the manufacture and analysis of the organoleptic value of seaweed jam. Data in this study were taken from the laboratory. The analytical data obtained were calculated the average value and then described. Data is presented in the form of pictures and graphs, and analyzed descriptively. Quality analysis was carried out on E. cottonii red seaweed, the analysis of water, protein, fat, carbohydrates and ash content while the analysis of the quality jam products was hedonic test. The research results obtained for the average value of water content 35.21%, ash 18.50%, protein 3.68%, fat 1.04%, carbohydrate 37.11%. Hedonic quality analysis, the average appearance parameter is 8.5 (very like), the smell is 7.7 (very like), the taste is 8.1 (very like) and the average texture is 8.2 (very like it).
POTENSI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN DI KAMPUNG MAHUMU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Ansar, Novalina Maya Sari; Ijong, Frans Gruber
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 9 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v9i2.488

Abstract

Kampung Mahumu terletak di salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Potensi sumber daya perikanan laut di kampung Mahumu cukup besar untuk dikembangkan, karena letak kampung Mahumu yang dikelilingi oleh lautan. Akan tetapi, hingga sekarang potensi sumber daya perikanan laut di kampung Mahumu belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini, yaitu mengidentifikasi potensi sumber daya perikanan laut khususnya pengolahan hasil perikanan di Kampung Mahumu. Penelitian ini dapat memberikan informasi dan kajian dalam pengembangan potensi perikanan di Kampung Mahumu. Penelitian ini menggunakan metode survei dan observasi lapangan serta dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan sekitar 40 persen penduduk kampung Mahumu berprofesi sebagai nelayan. Pengolahan hasil perikanan yang ada di kampung Mahumu, yaitu penangkapan dan pendinginan ikan tuna secara tradisional dengan hancuran es dan cool box, pengolahan ikan hiu kering, dan pengeringan teripang. Musim penangkapan ikan tuna pada bulan Agustus – Desember, dan menggunakan metode hand line. Ikan tuna yang ditangkap, dimasukkan dalam cool box dan ditaburkan hancuran es (flake ice) perbandingan 1:1. Pengolahan ikan hiu kering atau kimboleng bahise, dilakukan dengan memotong dan membelah daging ikan hiu dengan kulitnya, lalu dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih 14 hari. Pengeringan teripang di kampung Mahumu dilakukan dengan mengeluarkan isi perut, kemudian dicuci, dan dijemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih 7 hari. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengolahan hasil perikanan di kampung Mahumu, yaitu pengolahan ikan hiu dan teripang kering, yang masih dilakukan secara tradisional pada skala rumah tangga Mahumu Village is located on one of the islands in the Sangihe Archipelago Regency. The potential for marine fisheries resources in the village of Mahumu is significant enough to be developed because the sea surrounds the village of Mahumu. However, until now, the potential of marine fishery resources in Mahumu village has never been studied. This study aims to identify the potential of marine fisheries resources, especially the processing of fishery products in Mahumu village. This research can provide information and analyses on developing fisheries potential in Mahumu village. This study used survey methods and field observations and was analyzed descriptively. The results of this study indicate that around 40 percent of the population of Mahumu village work as fishermen. Processing fishery products in Mahumu village, namely traditional catching and cooling of tuna with flake ice and cool boxes, processing dried sharks, and drying sea cucumbers. The fishing season for tuna is from August to December and uses the hand line method. The caught tuna is put in a cool box and sprinkled with flake ice (ratio of 1:1). Processing dried shark or Kimboleng Bahise, is done by cutting and splitting the shark meat with the skin, then drying it in the sun for about 14 days. Sea cucumbers are dried in the village of Mahumu by removing the viscera, washing, and drying in the sun for about seven days. From the study results, we can conclude that the processing of fishery products in Mahumu village, namely the processing of sharks and dried sea cucumbers, is still done traditionally at the household scale

Page 12 of 13 | Total Record : 128