cover
Contact Name
Hedrikson Marnes Ander
Contact Email
pppm.polnustar@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pppm.polnustar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kepulauan sangihe,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Tindalung
ISSN : 24427381     EISSN : 26554291     DOI : 10.54484
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Tindalung merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian yang diangkat pada bidang Maritime, Fishing and Processing, Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 128 Documents
ANGKA LEMPENG TOTAL PLATE COUNT PADA BEBERAPA UNIT PENGOLAHAN IKAN ASAP PINEKUHE DI KABUPATEN SANGIHE ELY KARIMELA; Jeffri Anthonius Mandeno
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu produk hasil olahan perikanan asap yang dimiliki oleh nelayan Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah Pinekuhe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran mikroba pada ikan asap Pinekuhe hasil olahan nelayan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pengamatan kemunduran mutu produk ikan asap Pinekuhe, diamati melalui uji total plate count. Hasil penelitian menunjukkan nilai total plate count pada pengolah A, B, C dan D, berturut-turut sebesar 1,3 x 104 CFU/g. 2,6 x 104 CFU/g, 6,9 x 104 dan 1,2 x 104 CFU/g. Jumlah total bakteri pada pengolah A, B, C dan D memenuhi syarat sesuai Standar Nasional Indonesia mengenai batas cemaran mikroba pada ikan asap. It is one of the resulted products which are prepared by the smoke fisheries owned by the fisherman in Regency of the Sangihe Island known as Pinekuhe. The aim of the research is to know the higher contamination of microbe on the smoke fish Pinekuhe. It was the product prepared by the fisherman in the Regency of the Sangihe Island. Observation of the deterioration of the quality of Pinekuhe smoked fish products was observed through a total plate count test. The results showed the total plate count values in processors A, B, C and D, respectively 1.3 x 104 CFU / g. 2.6 x 104 CFU / g, 6.9 x 104 and 1.2 x 104 CFU / g. The total number of bacteria in processors A, B, C and D meet the requirements according to the Indonesian National Standard regarding the limits of microbial contamination in smoked fish.
IDENTIFIKASI MASALAH PENANGANAN PASCA TANGKAP HASIL PERIKANAN DI PULAU LIPANG Stevy Imelda Wodi; Frans Gruber Ijong
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Lipang merupakan salah satu pulau terluar yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang memiliki potensi perikanan laut yang sangat luar biasa. Namun besarnya potensi tersebut belum dapat mensejahterakan masyarakat kecil yang menjadikan laut sebagai mata pencaharian utama seperti nelayan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran produksi hasil tangkapan ikan, mengidentifikasi potensi-potensi hasil perikanan guna pengembangan industri pengolahan serta hambatan hambatan usaha perikanan yang berkaitan dengan komoditas, fasilitas dan teknologi di pulau Lipang sehingga bisa mengembangkan industri perikanan tangkap bidang pengolahan. Metode yang digunakan adalah metode survey dan observasi lapangan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas penduduk pulau Lipang bermata pencaharian sebagai nelayan dengan berbagai ragam jenis ikan seperti tongkol, selar, layang dan yang paling dominan adalah ikan kakap merah. Produksi hasil tangkapan sebagian besar dipasarkan dalam bentuk segar, dikonsumsi dan diolah dengan cara dikeringkan dengan cara yang relatif sederhana dan tradisional. Nelayan sudah memanfaatkan es untuk penanganan, namun nelayan belum memahami berapa kebutuhan es yang ideal untuk mempertahankan mutu ikan. Lipang Island is one of the outermost islands in the Sangihe Islands Regency, which has extraordinary marine fisheries potential. But the large potential has not been able to prosper the small community that makes the sea as the main livelihood such as fishermen. Therefore it is necessary to conduct research that aims to find out the big picture of the production of fish catches, identify the potential of fishery products for the development of the processing industry as well as obstacles to fishing business related to commodities, facilities and technology on Lipang island so that they can develop the capturing fisheries industry in the processing sector . The method used is the survey method and field observations and analyzed descriptively. The results showed that the majority of Lipang island residents have a livelihood as fishermen with various types of fish such as tuna, selar, flying fish and the most dominant is red snapper. The production of catches is mostly marketed in fresh form, consumed and processed by drying in a relatively simple and traditional manner. Fishermen have used ice for handling, but fishermen do not yet understand how much ice is ideal to maintain fish quality.
KOMPOSISI JENIS IKAN DEMERSAL YANG TERTANGKAP HANDLINE DI PERAIRAN PULAU BEBALANG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Julius Frans Wuaten; Mukhlis Abdul Kaim; getruida mozes; Dekris Kapai
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan demersal, sebagian besar masa kehidupannya berada di dasar atau dekat dasar perairan. Ciri-ciri utama kelompok ikan demersal antara lain adalah membentuk gerombolan yang tidak terlalu besar. Oleh masyarakat di Sangihe ikan demersal dinamakan kina sahe menjadi salah satu dari sekian banyak sumberdaya perikanan yang dihasilkan oleh nelayan di Kepulauan Sangihe. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat produksi ikan demersal di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2010 mencapai 511,21 ton (6,65%) dari total produksi ikan yang mencapai 7.677,2 ton. Sebagai pulau kecil, Pulau Bebalang memiliki potensi untuk dikembangkan khususnya potensi ikan demersal karena disekitar Pulau Bebalang banyak terdapat terumbu karang yang merupakan habitat dari berbagai jenis ikan demersal yang memberi dampak pada tingginya produktifitas ikan demersal. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui komposisi sumberdaya ikan demersal berdasarkan jenis ikan di Perairan Pulau Bebalang Kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pengumpulan data mengenai ikan demersal dengan melakukan pendataan dan identifikasi terhadap hasil tangkapan ikan demersal yang tertangkap handline di perairan sekitar Pulau Bebalang pada daerah penangkapan ikan demersal kemudian di dokumentasikan dan diukur panjangnya untuk memperoleh komposisi ikan demersal berdasarkan jenisnya. Komposisi ikan demeral yang tertangkap handline di perairan Pulau Bebalang yang paling dominan yaitu Family Serranidae (46%), Holocentridae (31%), Lethrinidae (5%) dan Balistidae (4%) dan spesies ikan demersal yang paling dominan yaitu : Cephalopholis spiloparaea (26%), Sargocentron caudimaculatum (23%) dan Cephalopholis urodeta (13%). Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan bahan masukan dalam menunjang pengelolaan sumberdaya ikan demersal di Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya di perairan sekitar Pulau Bebalang. Large amounts of Demarsal fishes live at the bottom of sea, near the seabed. The main characteristic of these species is small schooling. Demarsal fishes are called “kina sahe” by Sangihe people, these fishes become one of the fishery resources for fisherman in Sangihe Regency. According to the data of Fishery and Marine Services Office in 2010, the cathing production of these species are 511,21 tons (6.65%) of 7.677.2 tons total production. As a small island, Bebalang island has potential for conservation and keeping its marine resources, because this area has great amount of coral types where Demarsal fishes live. As the effect of it, the population of Demarsal fishes are high. The aims of this research are to find out the amount of Demarsal fishes and their types in Bebalang Island sea, South Manganitu District, Sangihe Regency. The data collection of Demarsal fishes are caught by handline in Bebalang Island Sea, identifing them, measuring their length to classify, and taking documentation. The species of Demarsal those are caught by handline are Serranidae (46%), Holocentridae (31%), Lethrinidae (5%), Balistidae (4%). The most catching of Demersal fishes are: Cephalopholis spiloparaea (26%), Sargocentron caudimaculatum (23%) and Cephalopholis urodeta (13%). We hope that the result of this research can give reference for conservation and keeping the Damarsal species in Sangihe Regency, especially around Bebalang Island Sea.
POTENSI BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Jetti Saselah; Edwin O Langi; Fauldiks Hatimanis
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/jit.v5i2.254

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi budidaya ikan air tawar di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang akan diperoleh langsung dilapangan yang diperoleh Sedangkan data sekunder merupakan data yang didapat melalui studi literature dan informasi dari pihak terkait. Lokasi penelitian adalah beberapa kampung yang melakukan kegiatan budidaya ikan di kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu Kampung Pananaru, Kampung Lelipang, Kampung Barangkalang, Kampung Taloarane 1, Kampung Kuma 1, Kampung Kuma, Kampung Utaurano, Kampung Beha, Metode pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian mengambarkan tentang jenis ikan yang dibudidayakan, Potensi lahan dan produksi budidaya, Sumber air, kualitas air, teknik budidaya, sarana dan prasarana, bantuan yang diterima, permintaan pasar. Dari hasil yang diperoleh potensi yang ada berupa lahan, kualitas air dan infrastruktur dapat diberdayakan meningkatkan produksi budidaya ikan. The purpose of this study is to determine the potential of freshwater fish farming in the Sangihe Islands District. This research uses primary data and secondary data. Primary data is data that will be obtained directly in the field obtained while secondary data is data obtained through literature studies and information from related parties. The research locations are located at several villages that carry out fish farming activities in Sangihe Islands district, namely Pananaru Village, Lelipang Village, Barangkalang Village, Taloarane 1 Village, Kuma 1 Village, Kuma Village, Utaurano Village, Beha Village, The method of selecting samples was done by purposive sampling. The results of the study describe the types of fish being cultivated, land potential and aquaculture production, water sources, water quality, cultivation techniques, facilities and infrastructure, assistance received, market demand. From the results obtained there is potential in the form of land, water quality and infrastructure that can be empowered to increase fish farming production.
PEMBERIAN PAKAN KOMBINASI PELLET DAN Lemna minor UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BAWAL (Colossoma macropomum) Jetti Saselah; Meilani Gamise; Usy Nora Manurung
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/jit.v5i1.270

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan bawal yang diberikan pakan kombinasi pellet dan Lemna minor. Dalam penelitian ini menggunakan ikan bawal yang diberi 3 perlakuan yaitu perlakuan A (100% L. minor + 0% pellet), perlakuan B (50% L. minor + 50% pellet) dan perlakuan C (0% L. Minor + 100% pellet) dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan pertambahan panjang dan berat tertinggi diperoleh pada perlakuan C (0% L. minor + 100% pellet) dan yang terendah pada perlakuan A (100% L. minor + 0% pellet) selama 28 hari pemeliharaan dan tingkat kelangsungan hidup ikan bawal selama masa pemeliharaan sebesar 100% pada setiap kelompok perlakuan. The purpose of this study is to determine the growth and survival of the fish given the combination of pellet and Lemna minor. In this study, we used 3 types of fish: treatment A (100% L. minor + 0% pellet), B treatment (50% L. minor + 50% pellet) and C treatment (0% L. Minor + 100% pellet) with a frequency of feeding twice a day. The results showed that the highest increase in length and weight was obtained in treatment C (0% L. minor + 100% pellet) and lowest in treatment A (100% L. minor + 0% pellet) during 28 days of maintenance and survival rate of the fish, during the maintenance period of 100% in each treatment group.
PERBANDINGAN CAHAYA LAMPU BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN CUMI – CUMI (Loligo Sp.) DI PERAIRAN KELURAHAN PANANEKENG KECAMATAN TAHUNA BARAT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Yunikson Palatangara; Mukhlis Abdul Kaim; Costantein Sarapil; Eunike Irene Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan laut Sulawesi Utara banyak mengandung kekayaan laut yang terdiri dari jenis-jenis ikan dan biota laut lainnya yang mempunyai nilai ekonomis penting baik untuk pasaran lokal maupun ekspor. Salah satu jenis-jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomis penting yang ada di perairan Sulawesi utara adalah cumi-cumi (Loligo Sp.). Potensi cumi-cumi di perairan Sulawesi terlebih khusus di perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe sangat besar. Di Kelurahan Pananekeng masyarakat nelayan penangkap cumi-cumi dalam melakukan operasi penangkapan menggunakan kombinasi lampu warna hijau dan biru. Hal ini mendasari peneliti untuk mengetahui kombinasi warna yang efektif untuk mendapatkan hasil tangkapan cumi-cumi. Metode praktek yang digunakan secara deskriptif kualitatif yaitu pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dokumentasi dan diskusi. Pada pendekatan ini, peneliti memuat suatu gambaran yang kompleks. Metode perbandingan merupakan suatu metode pengkajian atau penyelidikan dengan mengadakan perbandingan di antara dua objek kajian atau lebih untuk menambah dan memperdalam pengetahuan tentang objek yang dikaji. Hasil tangkapan yang diperoleh selama operasi penangkapan berjumlah 257 ekor, di mana kombinasi warna cahaya yang paling dominan terhadap hasil tangkapan cumi-cumi adalah kombinasi cahaya warna hijau-biru (51,8%), dibandingkan dengan kombinasi cahaya warna merah-hijau (31,5%) dan merah-biru (16,7%). North Sulawesi's marine waters contain a lot of marine wealth consisting of species of fish that have important economic value both for local and export markets. One of the most economically important type of fish in the waters of North Sulawesi is squid (Loligo sp.). The potential of squid in the waters of Sulawesi especially in the waters of the Sangihe Islands Regency is very large. In Pananekeng Village, squid fishing communities use a combination of green and blue lights so that this becomes the basis of research to find out effective color combinations to get squid catches. The practice method used is descriptive qualitative data collection such as interviews, observation, documentation and discussion. In this approach, researchers carry a complex picture. Comparison method is a method of study or investigation by making comparisons between two or more objects of study to add and deepen knowledge about the object being studied. The result of the catch are 275 squids, the dominant of the lamp’s colors are mixing blue and green color for the outcome of the catching. The most dominant color combination of light squid catches is the combination of light green-blue (51.8%), compared to the combination of red-green (31.5%) and red-blue (16.7%) .
OPERASIONAL PUKAT CINCIN KM. MALBERS 02 DI PERAIRAN TELUK TOMINI PROVINSI GORONTALO Junneifer Aldo Maneking; Joneidi Tamarol; Fitria Fresty Lungari
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i2.295

Abstract

Peningkatan efisiensi dan efektifitas operasi perangkapan ikan dengan pukat cincin diperlukan beberapa sarana dimana salah satunya yaitu dengan menggunakan alat bantu penangkapan ikan jenis rumpon. Selain rumpon dalam pengoperasiannya pukat cincin dilengkapi pula dengan perahu lampu. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif dengan dasar studi kasus dilapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan pukat cincin didominasi oleh ikan Layang (Decapterus sp), sebagian lagi ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dan ikan Sunglir (Elegatis bipinnulatus). Dari hasil analisis data menunjukan bahwa alat tangkap pukat cincin KM.Malbers 02 dalam pengoperasiannya dibantu oleh alat bantu penangkapan ikan yakni rumpon dan perahu lampu serta alat tambahan penangkapan ikan yakni winch untuk penarikan tali cincin, power block untuk penarikan daging jaring dan caduk (sibu-sibu) untuk pengangkatan ikan hasil tangkapan. Waktu setting hingga hauling diantara 5-7 menit. Increasing the efficiency and effectiveness of the fishing operation using purse seine requires several means, one of which is the use of FAD fishing tools. In addition to FADs, in the operation of the purse seine, it is also equipped with a lamp boat. This research was conducted with a descriptive method based on field case studies. The results showed that the catch of purse seines was dominated by Layang fish (Decapterus sp), some Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) and, Sunglir fish (Elegatis bipinnulatus). From the results of the data analysis, it shows that KM.Malbers 02's purse seine fishing gear is assisted in its operation by fishing aids, namely FADs and light boats as well as additional fishing tools, namely winches for pulling ring ropes, power blocks for pulling net meat, and cisterns (sibu- sibu) for the lifting of the caught fish. Time from setting to hauling is between 5-7 minutes.
NILAI ORGANOLEPTIK BAKSO IKAN LAYANG (Decapterus russelli), IKAN KUNIRAN (Upeneus moluccensis) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Thania Kahiking; Novalina Maya Sari Ansar; Eko Cahyono
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i2.301

Abstract

Bakso ikan merupakan produk berbahan dasar dari surimi yang terbuat dari lumatan daging ikan yang telah mengalami proses penghilangan tulang, dan sebagian komponen larut air dan lemak melalui pencucian dengan air, sehingga disebut sebagai konsentrat basah protein myofibril dari daging ikan layang, kuniran, dan nila. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mutu bakso dari berbagai jenis daging ikan yang digunakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Hasil uji ogranoleptik menunjukkan bakso dengan kategori-kategori berikut, kenampakan terbaik pada ikan nila (8,2), bau terbaik dari ikan kuniran (7,8), rasa terbaik pada ikan layang (8,8) dan tekstur terbaik pada ikan layang (8,8). Kesimpulan dari ketiga jenis bahan baku yang digunakan ikan kuniran merupakan bahan baku terbaik dalam pembuatan bakso. Fish ball is a surimi-based product made from ground fish meat that has undergone a bone removal process as well as elimination of water and fat soluble components through washing with water. Hence, it is called wet concentrated myofibril protein mainly derived from mackerel scad, goldband goatfish, and tilapia meat. The objective of this research was to determine the quality of fish balls from various types of fish (mackerel scad, mac). Organoleptic tests showed that the best appearance, smell, taste and texture categories were found in tilapia (8.2), goatfish (7.8), mackerel scad (8.8), and mackerel scad (8.8) respectively. As a conclusion, of the three raw materials used in this research, goldband goatfish proved to be the best source of raw material for fish balls.
KARAKTERISASI CHITOSAN DAN CHITOSAN POLYMER MEDIUM DARI CANGKANG KEPITING BATU Eko Cahyono; Stevy Imelda Murniati Wodi; Jumardi Tondais
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i1.343

Abstract

Kepiting batu (Grapsus albolineatus) merupakan spesies yang banyak ditemukan di pantai berbatu dan eksoskeletonnya adalah salah sumber potensial chitin-chitosan. Chitosan adalah polimer bersifat polikationik dengan chitosan polymer medium (CPM) yang memiliki molekul lebih sederhana sebagai salah satu turunannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan mutu chitosan dan chitosan polymer medium dari cangkang kepiting batu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental. Hasil analisis membuktikan bahwa cangkang kepiting memiliki komposisi 4.17±0.08 air, 54.4±2.78 abu, 6.28±0.05 lemak, 23.48±0.01 protein, 11.70±2.93 kaborhidrat. Karakterisasi chitosan memperlihatkan rendemen sebesar 10±0.70%, kadar air 8.10±0.14%, abu 19.39±0.55%, lemak 6.26±0.37%, protein 8.24±0.34%, karbodidrat 50.03±0.04%, derajat putih 60.61±0.86% , viscositas 7.30±0.42 cps dan derajat deasetilasi 55.92±1.30%. Untuk chitosan polymer medium, rendemennya mencapai 98.33±0.40% dan derajat deasetilasinya sebesar 60.22±0.24%. Chitosan dan chitosan polymer medium dari cangkang kepiting batu (Grapsus albolineatus) masih memenuhi standar yang ditetapkan SNI. Stone crab (Grapsus albolineatus) is a species commonly found in rocky beaches. Its exoskeleton is a good source of chitin and/or chitosan. Chitosan represents a polycationic polymer with chitosan polymer medium (CPM) having simpler molecular formula than chitosan as chitosan’s derivative. The objective of this research was to determine the quality of chitosan and chitosan polymer medium from rock crab’s shells. Experimental method was used in this study with characterization of the crab’s shells showing a composition of 4.17±0.08%, water, 54.4±2.78% ash, 6.28±0.05% fat, 23.48±0.01% protein and 11.70±2.93% carbohydrate. Similar characterization on chitosan revealed a composition of 10±0.70% rendemen, 8.10±0.14% water, 19.39±0.55% ash, 6.26±0.37% fat, 8.24±0.34% protein, 50.03±0.04% charabohydrate, 60.61±0.86% white degree, 7.30±0.42 cps viscosity and 55.92±1.30% degrees of deacetylation. Although chitosan contained similar composition of white degree (60%) and deactylation (60%0 to chitoxan polymer medium, CPM had higher composition of rendemen (98.33±0.40%) than chitosan (10±0.70%). In conclusion, this study shows that chitosan and chitosan polymer medium of G. albolineatus met our national standard (SNI).
KARAKTERISTIK SENSORI DAN KADAR AIR IKAN SELAR (Selaroides leptolepis) ASIN PADA KONSENTRASI KADAR GARAM YANG BERBEDA Jhon Robert Sasiang; Novalina Maya Sari Ansar; Ely John Karimela
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i1.357

Abstract

Ikan Asin merupakan ikan yang diawetkan dengan menambahkan garam dalam jumlah tertentu sehingga menghasilkan ikan asin dengan rasa, aroma dan tekstur khas. Kekurangan dari produk ikan asin saat ini adalah tampilan produk yang tidak menarik dan rasa terlalu asin karena takaran garam yang tepat belum diketahui. Sebagai salah jenis ikan dengan kandungan gizi cukup tinggi tetapi melimpah pada musim terntentu saja di Kabupaten Sangihe, ikan selar menjadi salah satu bahan baku utama ikan asin di kabupaten ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai sensori dan kadar air ikan selar yang diberi perlakuan garam dengan konsentrasi berbeda (5, 10 dan 15) %. Hasil pengujian organoleptik memperlihatkan nilai kenampakan 7.93, 8.2 and 9.0, bau (7.6, 8.2 dan 9.0) dan tekstur (7.53, 7.93 dan 8.93) pada konsentrasi (5, 10 dan 15)% berturut-turut. Dengan kata lain pengaruh perlakuan naik dengan bertambahnya konsentrasi dan nilai uji sensori tertinggi (9.0) terdapat pada perlakuan kadar garam 15%. Sebaliknya, hasil uji kadar air memperlihatkan nilai makin rendah dengan meningkatnya kadar garam dan kadar air terendah teramati pada perlakuan dengan kadar garam 15%. Meskipun begitu, nilai kadar air pada tiga perlakuan itu (25.7, 26.3 and 27.8)% masih memenuhi standar kadar air (40%) yang ditetapkan SNI 2016. Salted fish is fish preserved by adding certain amount of salt to produce salted fish with a distinctive taste, aroma and texture. One problem with localy produced salted fish is its unattractive appearance and overly salty taste caused mainly by the lack of knowledge on the right amount of salts used for preparing salted fish. Being a seasonally abundant species that also contains high nutrional value, scad fish has long become of one of the major source of salted fish in the region. This research aimed to study the sensory value and water content of scad salted fish treated with different salt concentration. Organoleptic test showed increasing values as salt concentration increased with the values of 7.93, 8.2 and 9.0 for appearance, 7.53, 7.93 and 8.93 for texture and 7.6, 8.2 and 9.0 for smell treated concentration of (5, 10 and 15)% respectively, with the highest sensory value (9.0) observed at the highest salt concentration (15%). In contrast, water content decreased as the concentration increased with the lowest water content (25.7) observed at the concentration of 15%. Nevertheless, all water content (25.7 to 27.8)% in this study met the standard value (40%) set by SNI 2016.

Page 9 of 13 | Total Record : 128