cover
Contact Name
Okta Hadi Nurcahyono
Contact Email
okta.hadi@staff.uns.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
habitus@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Pendidikan Sosiologi Antropologi Gedung C FKIP UNS. Jl Ir Sutami No.36A, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Habitus: Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi
ISSN : -     EISSN : 25979264     DOI : https://doi.org/10.20961/habitus.v3i2.35716
Core Subject : Education, Social,
Habitus Journal is published by the Sociology-Anthropology Education Study Program, FKIP, Sebelas Maret University (UNS). Published twice a year ie 1st Edition: January-June and 2nd edition: July-December. The Habitus Journal focuses on theoretical studies and analysis of research results in the fields of education, social and culture.
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
PERMAINAN TRADISIONAL CONGKLAK TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI (8-10 TAHUN) DI WONOKARTO SEKAMPUNG LAMPUNG TIMUR Nadya Yulfi Cemara
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.85146

Abstract

This research activity aims to determine the importance of character education for the morality of early childhood in the surrounding community in the digital era. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach. Traditional games are activities that have existed and been played by people for decades. Traditional games always involve physical skills, strategy and social interaction, and are still passed down from generation to generation. Traditional games also reflect the culture, values and identity of the communities to which they originate. Through traditional games we can also improve the character education found in each individual's character. Character education requires methods and approaches that are in sync with the potential or personality of young children. Seeing today's developments, many students use technology for entertainment and lack good social or moral attitudes in society. Keywords: Traditional game; Character building; Early childhood; Ineraction; Personality ABSTRAKKegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya pendidikan karakter bagi moralitas anak usia dini di lingkungan masyarakat sekitar pada era digital. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Permainan tradisional merupakan suatu aktivitas yang sudah ada dan dimainkan oleh masyarakat selama puluhan tahun. Permainan tradisional selalu  melibatkan keterampilan fisik, strategi, dan interaksi sosial, dan tetap diwariskan dari generasi ke generasi secara turun menurun. Permainan tradisional juga mencerminkan budaya, nilai, dan identitas masyarakat tempat mereka berasal. Melalui permainan tradisional kita juga dapat meningkatkan pendidikan karakter yang terdapat pada masing-masing karakter setiap individu. Pendidikan karakter membutuhkan metode dan pendekatan yang sinkron dengan potensi atau kepribadian anak usia dini. Melihat perkembangan zaman sekarang banyak pelajar yang  menggunakan  teknologi  untuk  hiburan  serta  kurang  memiliki  sikap sosial atau moral yang baik  di  masyarakat. Kata Kunci: Permainan Tradisional; Pendidikan Karakter; Anak Usia Dini; Ineraksi; Kepribadian
KELAPA SAWIT PRIMADONA PERKEBUNAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI MANDIRI DI DESA SUMBER JAYA KECAMATAN SIGINGI HILIR Abdina Putri Qiasa; Niswatin Niswatin
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 8, No 1 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i1.82136

Abstract

Kebun kelapa sawit menjadi primadona dalam sektor pertanian di berbagai daerah di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat pesat, mencapai 16,38 juta hektar, dengan Riau sebagai provinsi terluas, menguasai 20,68% dari total luas perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia.Di Kabupaten Kuantan Singingi, Desa Sumber Jaya menjadi salah satu subsektor unggulan dengan memanfaatkan sebagian besar lahan pertanian sebagai kebun kelapa sawit. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberadaan kebun kelapa sawit memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat, meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan aksesibilitas. Namun, keberadaan kebun kelapa sawit juga menimbulkan sejumlah tantangan, seperti masalah perizinan, biaya perawatan yang tinggi, serta dampak lingkungan dan sosial yang signifikan. Meskipun memberikan pendapatan yang menjanjikan, manajemen pertanian yang bertanggung jawab untuk meminimalkan dampak lingkungan dan sosialnya sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari kebun kelapa sawit terhadap pendapatan petani mandiri di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Singingi Hilir. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan mewawancarai petani mandiri untuk memahami perubahan yang terjadi, tantangan yang dihadapi, dan pandangan mereka terkait pengelolaan kebun kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebun kelapa sawit memberikan pendapatan tetap bagi petani mandiri meskipun ada tantangan seperti biaya perawatan yang tinggi dan perubahan praktik pertanian. Penelitian ini memberikan gambaran tentang kompleksitas praktik pertanian kebun kelapa sawit dan tantangan yang dihadapi petani mandiri. Kesimpulannya, sambil memberikan pendapatan yang menjanjikan, pertanian kebun kelapa sawit memerlukan manajemen yang lebih bertanggung jawab untuk meminimalkan dampak lingkungan dan sosialnya. Kata Kunci: Kelapa Sawit; Petani Mandiri; PendapatanAbstractOil palm plantations are excellent in the agricultural sector in various regions in Indonesia. In recent years, the area of oil palm plantations in Indonesia has increased rapidly, reaching 16.38 million hectares, with Riau as the largest province, controlling 20.68% of the total area of oil palm plantations throughout Indonesia.In Kuantan Singingi Regency, Sumber Jaya Village has become one of the leading subsectors by utilizing most of the agricultural land as oil palm plantations. Previous research has shown that the existence of oil palm plantations has a positive impact on the community's economy, increasing income, creating jobs, and increasing accessibility. However, the existence of oil palm plantations also poses a number of challenges, such as licensing issues, high maintenance costs, and significant environmental and social impacts. Although it provides promising income, responsible management of the farm to minimize its environmental and social impact is indispensable. This study aims to explore the impact of oil palm plantations on the income of independent farmers in Sumber Jaya Village, Singingi Hilir District. Qualitative research methods were used by interviewing independent smallholders to understand the changes that occurred, the challenges faced, and their views regarding oil palm plantation management. The results showed that oil palm plantations provide a steady income for independent smallholders despite challenges such as high maintenance costs and changes in agricultural practices. This research provides an overview of the complexity of oil palm plantation farming practices and the challenges faced by independent smallholders. In conclusion, while providing promising incomes, oil palm plantation farming requires more responsible management to minimize its environmental and social impacts. Keywords: Independent Farmer; Income; Oil Palm
BENTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA Adelia Shintia Ningrum
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 9, No 2 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i2.96861

Abstract

ABSTRACTMulticultural education in Indonesia plays a critical role in addressing the nation's vast diversity in culture, religion, and language. This study explores the theoretical, policy, and practical developments of multicultural education in the Indonesian context. Using a qualitative approach and narrative literature review, the research analyzes key dimensions such as the integration of Pancasila values, the development of inclusive teaching methods, and the challenges of implementation. Findings reveal that while significant progress has been made, obstacles remain, including infrastructural disparities and limited educator capacity to implement multicultural principles effectively.The study highlights the potential of digital technology and global-local integration to enhance the effectiveness of multicultural education. Recommendations include developing contextually relevant policies, strengthening local implementation capacities, and fostering stakeholder collaboration. Future research is needed to design adaptive and transformative educational models. Multicultural education is presented not only as a necessity but also as a strategic imperative for building an inclusive and cohesive Indonesian society capable of meeting global challenges while maintaining its cultural authenticity.Keywords: Cultural Diversity; Education Policy; Globalization; Inclusive Pedagogy; Multiculturalism ABSTRACTPendidikan multikultural di Indonesia memiliki peran penting dalam menghadapi keberagaman budaya, agama, dan bahasa yang sangat luas. Penelitian ini mengeksplorasi perkembangan teoretis, kebijakan, dan praktik pendidikan multikultural dalam konteks Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif dan kajian literatur naratif, penelitian ini menganalisis dimensi utama seperti integrasi nilai-nilai Pancasila, pengembangan metode pembelajaran inklusif, serta tantangan dalam implementasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan signifikan, hambatan seperti disparitas infrastruktur dan kapasitas pendidik yang terbatas dalam menerapkan prinsip multikultural masih menjadi tantangan.Penelitian ini menyoroti potensi teknologi digital dan integrasi lokal-global untuk meningkatkan efektivitas pendidikan multikultural. Rekomendasi mencakup pengembangan kebijakan yang relevan secara kontekstual, penguatan kapasitas implementasi di tingkat lokal, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk merancang model pendidikan yang adaptif dan transformatif. Pendidikan multikultural dipaparkan tidak hanya sebagai kebutuhan tetapi juga sebagai imperatif strategis untuk membangun masyarakat Indonesia yang inklusif dan kohesif serta mampu menghadapi tantangan global sambil mempertahankan keautentikan budayanya.Kata Kunci: Kebijakan Pendidikan; Keberagaman Budaya; Multikulturalisme; Pedagogi Inklusif; Teknologi Digital
IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN PUZZLE PADA UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 4 KOTA PASURUAN Marsela Diah; Choirun Nisak; Putri Ayu
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 7, No 2 (2023): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v7i2.81256

Abstract

Masalah serius yang timbul akibat rendahnya keterlibatan belajar peserta didik pada proses pembelajaran menjadi fokus penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai apakah penerapan model pembelajaran puzzle dapat meningkatkan tingkat keaktifan peserta didik. Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) yang menyertakan serangkaian langkah, termasuk perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan evaluasi. Subjek penelitian mencakup 34 peserta didik dari kelas X3 SMA Negeri 4 Pasuruan. Metode pengumpulan data menyertakan observasi dan wawancara. Analisis data menunjukkan bahwa pada tahap pra siklus, tingkat keaktifan peserta didik sebesar 55,00%. Angka tersebut mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 63,72%, dan terus meningkat pada siklus II hingga mencapai 78,43%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada keaktifan belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran puzzle.Kata Kunci: Keaktifas belajar, Puzzle,Proses Pembelajaran. Abstract Serious problems that arise due to low learning involvement of students in the learning process are the focus of this research. The aim of this research is to assess whether the application of the puzzle learning model can increase the level of student activity. This type of research is classroom action research (PTK) which involves a series of steps, including planning, implementation, observation and evaluation. The research subjects included 34 students from class X3 of SMA Negeri 4 Pasuruan. Data collection methods involve observation and interviews. Data analysis shows that at the pre-cycle stage, the level of student activity was 55.00%. This figure increased in cycle I to 63.72%, and continued to increase in cycle II until it reached 78.43%. The conclusion of this research is that there is a significant increase in students' learning activeness through the application of the puzzle learning model.Keywords: Active learning, puzzles, learning process. 
KAJIAN SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW SOCIOLOGICAL THINKING DALAM PEMBELAJARAN Rintia Rintia; Tutin Aryanti
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.103071

Abstract

Kemampuan sociological thinking merupakan kompetensi kunci dalam pendidikan sosiologi yang berperan penting dalam membentuk kesadaran kritis peserta didik terhadap realitas sosial. Namun demikian, belum banyak studi yang secara sistematis mengkaji bagaimana konsep ini diintegrasikan dalam pembelajaran sosiologi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsep, dimensi, dan indikator sociological thinking, serta mengevaluasi strategi implementasinya dalam pembelajaran sosiologi berdasarkan studi literatur yang relevan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis 20 artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam rentang waktu tertentu. Proses penyaringan dilakukan melalui tahapan title and abstract screening hingga full-text analysis, dengan mempertimbangkan kesesuaian tema terhadap pendidikan sosiologi dan sociological thinking. Data dianalisis dengan mengelompokkan temuan ke dalam tiga klaster tematik: (1) urgensi sociological thinking dalam pendidikan, (2) posisi pembelajaran sosiologi sebagai wadah pengembangannya, dan (3) strategi serta tantangan implementasi sociological thinking dalam konteks kelas. Hasil kajian menunjukkan bahwa sociological thinking tidak hanya relevan dalam konteks pembelajaran sosiologi, tetapi juga sebagai kerangka berpikir lintas disiplin. Pembelajaran sosiologi ideal yang berbasis refleksi, proyek, studi kasus, serta integrasi nilai dan teknologi terbukti efektif dalam membentuk pola pikir sosiologis siswa. Namun demikian, masih ditemukan kesenjangan antara tujuan kurikulum nasional dengan praktik pengajaran di lapangan, terutama dalam hal strategi eksplisit dan evaluasi berpikir sosiologis. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan model pembelajaran sosiologi yang secara sistematis mengintegrasikan sociological thinking dalam sintaks pembelajaran. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kurikulum, pelatihan guru, serta perumusan kebijakan pendidikan yang lebih responsif terhadap tuntutan sosial abad ke-21. Kata Kunci: Sociological Thinking, Pendidikan Sosiologi, Sekolah dan Pembelajaran.ABSTRACTSociological thinking is a key competency in sociology education, serving as a strategic foundation for developing students’ critical awareness of social realities. However, few studies have systematically examined how this concept is integrated into sociology learning at the senior high school level. This study aims to identify the concepts, dimensions, and indicators of sociological thinking, and to evaluate its implementation strategies in sociology education based on relevant academic literature. Using a Systematic Literature Review (SLR) approach, this study analyzes 20 peer-reviewed articles. The screening process involved title and abstract evaluation, followed by full-text analysis, with a focus on articles relevant to sociology education and sociological thinking. The findings are categorized into three thematic clusters: (1) the urgency of sociological thinking in education, (2) the role of sociology subjects as a platform for cultivating it, and (3) strategies and challenges in implementing sociological thinking in classroom settings. The review reveals that sociological thinking is not only essential in sociology learning but also serves as a cross-disciplinary cognitive framework. Ideal sociology learning integrating reflection, project-based learning, case studies, and digital literacy proves effective in fostering students’ structural and critical thinking skills. Nevertheless, there is a gap between curricular goals and classroom practices, particularly in terms of explicit strategies and assessment of sociological thinking. This study recommends the development of instructional models that systematically embed sociological thinking into each phase of the learning process. These findings are expected to contribute to curriculum development, teacher training, and educational policy formulation responsive to 21st-century social demands. Keywords: Learning, Schools, Sociological Education and Sociological Thought.
ADOK DALAM STATUS SOSIAL MASYARAKAT LAMPUNG PEPADUN DI DESA SUKARAJA NUBAN Maya Sari; Karsiwan karsiwan
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.85358

Abstract

Begawi is a traditional ceremony for taking the highest title in the Lampung Pepadun tradition which has been carried out from time to time by the community to include cultural values. The aim of this research is to find out how to get adok in the traditional Lampung pepadun begawi in Sukaraja Nuban Village, Batanghari Nuban District, East Lampung Regency which is in the highland and inland areas of Lampung including the Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) areas. is ulun (person). Lampung Sukaraja Nuban people still adhere to their local wisdom, one of which is the ritual of giving traditional titles during or after marriage. This article aims to explain the process of giving traditional titles to the Lampung Saibatin people and find out how giving traditional titles affects the social status of the Lampung Saibatin people. With qualitative research methods, this research uses symbolic interactionism theory as an analytical study. The results of the research explain that the procession of awarding degrees goes through several processes, including paying traditional money such as lighting fees, kissing fees, and kibau. The meaning of giving traditional titles includes respect and social status in traditional ceremonies, regulation of relationships in kinship, symbols of maturity, as well as mechanisms for preserving culture carried out from generation to generation. The implications of traditional titles for social status include roles, social recognition in the community, and as social control.Keywords: adok, begawi, dan  social status AbstractBegawi merupakan sebuah upacara adat dalam pengambilan gelar tertinggi di adat lampung pepadun yang telah dilaksanakan dari zaman ke zaman oleh masyarakat dalam mencantumkan nilai-nilai kebudayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara mendapatkan adok dalam begawi adat lampung pepadun di Desa sukaraja nuban, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur yang berada di daerah dataran tinggi dan pedalaman Lampung meliputi daerah Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) Mayoritas masyarakatnya adalah ulun (orang). Lampung Masyarakat Sukaraja Nuban masih berpegang teguh pada kearifan lokalnya, salah satunya adalah ritual pemberian gelar adat saat atau setelah perkawinan.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses pemberian gelar adat pada masyarakat Lampung Saibatin dan mengetahui pemberian gelar adat terhadap status sosial masyarakat Lampung Saibatin. Dengan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai kajian analisis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar melalui beberapa proses diantaranya membayar uang adat seperti dau penerangan, dau pengecupan, serta kibau. Makna dari pemberian gelar adat meliputi, penghormatan dan status sosial dalam upacara adat, pengaturan relasi dalam kekerabatan, simbol kedewasaan, serta mekanisme pelestarian budaya yang dilakukan secara turun temurun. Implikasi gelar adat terhadap status sosial meliputi, peran, pengakuan sosial dalam komunitas, dan sebagai kontrol social.Kata Kunci: adok, begawi, dan status sosial
MENANGANAI MESTRUASI: ANTARA PENGETAHAUN, PENDIDIKAN, DAN PERILAKU KESEHATAN Chusna Cahya Marhaeni; Shilvi Khusna Dilla Agatta
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.94931

Abstract

Many different elements can influence how an individual acts when it comes to seeking health care. An individual's level of health knowledge is still a significant concern in this topic. This pertains to how knowledge can help reduce misconceptions or negative perceptions while providing information about the importance of healthcare. This research focuses on the reproductive health-seeking behavior of women. Where a lack of knowledge about reproductive health can be a barrier for individuals to obtain accurate information and proper care. The study seeks to answer questions about female students' knowledge of reproductive health and how their health-seeking behavior is related to this issue. Involving diverse master's students with various socio-cultural backgrounds, the study is expected to provide a deeper understanding of knowledge and reproductive health behavior and its correlation with their education. This study conducted over approximately 4 weeks, the research utilizes various data sources such as participant observation, in-depth interviews, and literature studies supporting field findings. The study reveals the complexity of the relationship between knowledge, education, and reproductive health-seeking behaviour, especially concerning menstruation. The lack of knowledge impacts the attitudes and behaviours of informants related to menstruation. However, even when knowledge exists, it does not always reflect optimal reproductive health-seeking behavior. That’s why thus knowledge and education are considered the initial foundation of health-seeking behaviour but do not always determine decisions related to reproductive health.Keywords: reproductive health, menstruation, sex education, health-seeking behavior  ABSTRAK Banyak elemen yang berbeda dapat mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak dalam mencari perawatan kesehatan. Tingkat pengetahuan kesehatan seseorang masih menjadi perhatian penting dalam topik ini. Hal ini berkaitan dengan bagaimana pengetahuan dapat membantu mengurangi miskonsepsi atau persepsi negatif sambil memberikan informasi tentang pentingnya perawatan kesehatan. Penelitian ini berfokus pada perilaku pencarian kesehatan reproduksi perempuan. Dimana kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat menjadi penghalang bagi individu untuk mendapatkan informasi yang akurat dan perawatan yang tepat. Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan tentang pengetahuan mahasiswa perempuan tentang kesehatan reproduksi dan bagaimana perilaku pencarian kesehatan mereka terkait dengan masalah ini. Melibatkan beragam mahasiswi dengan berbagai latar belakang sosial budaya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengetahuan dan perilaku kesehatan reproduksi serta korelasinya dengan pendidikan mereka. Penelitian yang dilakukan selama kurang lebih 4 minggu ini menggunakan berbagai sumber data seperti observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi literatur yang mendukung temuan di lapangan. Penelitian ini mengungkap kompleksitas hubungan antara pengetahuan, pendidikan, dan perilaku pencarian kesehatan reproduksi, khususnya terkait menstruasi. Minimnya pengetahuan berdampak pada sikap dan perilaku informan terkait menstruasi. Namun, bahkan ketika pengetahuan ada, tidak selalu mencerminkan perilaku pencarian kesehatan reproduksi yang optimal. Oleh karena itu, pengetahuan dan pendidikan dianggap sebagai fondasi awal dari perilaku pencarian kesehatan, namun tidak selalu menentukan keputusan terkait kesehatan reproduksi. Kata Kunci: kesehatan reproduksi, menstruasi, sex education, pencarian kesehatan
VIRTUAL SOCIETY: A NEW SPACE FOR SOCIAL IDENTITY FORMATION OR A FIELD OF ALIENATION? Rahma Hayati Harahap; Romasta Romasta
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 9, No 2 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i2.110101

Abstract

The emergence of virtual society has created a new space for the formation of social identity that is fluid and performative. This study aims to analyze whether the online sphere provides freedom for identity expression or, conversely, fosters social alienation. Using a descriptive qualitative approach, this paper employs Erving Goffman's dramaturgical theory, Anthony Giddens’ concept of the reflexive self, and Karl Marx’s theory of alienation as its analytical framework. The findings reveal that identity in virtual society is shaped through continuous self-image negotiation, which can lead to a gap between the ideal self and the real self. The online space may serve as a platform for self-expression, yet it also has the potential to reinforce feelings of alienation, particularly when digital interactions replace genuine social closeness. This study highlights the importance of critical awareness in navigating the dynamics of identity formation in contemporary digital society. Keywords: Social identity, virtual society, dramaturgy, digital alienation, reflectivitas ABSTRAK Kemunculan masyarakat virtual telah membuka ruang baru bagi pembentukan identitas sosial yang bersifat cair dan performatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ruang daring memberi kebebasan ekspresi identitas atau justru menciptakan keterasingan sosial. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, tulisan ini menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman, konsep “reflexive self” dari Anthony Giddens, dan teori alienasi Karl Marx sebagai kerangka analisis. Temuan menunjukkan bahwa identitas di masyarakat virtual dibentuk melalui proses negosiasi citra diri yang terus-menerus, namun berpotensi menimbulkan jarak antara diri ideal dan diri nyata. Ruang daring dapat menjadi wadah ekspresi, tetapi juga medan yang memperkuat perasaan keterasingan, terutama ketika interaksi digital menggantikan kedekatan sosial yang autentik. Penelitian ini menyoroti pentingnya kesadaran kritis terhadap dinamika pembentukan identitas dalam masyarakat digital kontemporer. Kata Kunci: Identitas sosial, masyarakat virtual, dramaturgi, alienasi digital, reflektivitas 
RELEVANSI PENDIDIKAN MORAL MENURUT EMILE DURKHEIM DENGAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI TINGKAT SMP/MTS Anizar Anizar
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 8, No 1 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i1.80169

Abstract

Fokus masalah penelitian ini adalah mengenai konsep pendidikan moral menurut Emile Durkheim dan relevansinya dengan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Madrasah Ainul Yaqin Batagak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku berjudul "Pendidikan moral: suatu study teori dan aplikasi sosiologi Pendidikan" dan pengolahan data menggunakan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis dan komparatif, dengan keabsahan data yang dijamin melalui teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan moral menurut Emile Durkheim adalah kesepakatan antar kelompok manusia (masyarakat) yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang dihormati oleh manusia. Moralitas menurut Durkheim bersifat duniawi, berkaitan dengan masyarakat, dan tidak bersangkut pautkan dengan hal yang bersifat rohani atau religius. Relevansi pendidikan moral menurut Emile Durkheim dengan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Menengah Pertama adalah bahwa pendidikan moral dipandang sebagai tindakan keteraturan, keterikatan terhadap kelompok, dan otonomi diri sendiri, dengan masyarakat sebagai subjek utama. Pendidikan moral dapat muncul melalui gejala dan krisis yang terjadi dalam masyarakat. Sementara Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial mencakup berbagai disiplin ilmu sosial yang membahas masalah-masalah sosial, dan dalam materi bahan ajar IPS terdapat keterkaitan dengan gejala yang terjadi dalam masyarakat, sehingga pendidikan moral dapat diintegrasikan sebagai kurikulum tersembunyi dalam pembelajaran IPS. Kata Kunci: Pendidikan Moral, Emile Durkheim, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial  AbstractThe Focus Of This Research problem is the concept of moral education according to Emile Durkheim and its relevance to Social Sciences Education at Madrasah Ainul Yaqin Batagak. The research method used is library research with a qualitative approach and descriptive research type. The primary data used in this research is a book entitled "Moral education: a theoretical study and application of the sociologyof education" and data processing uses documentation methods. Data analysis was carried out using analytical and comparative methods, with the validity of the data guaranteed through source triangulation techniques. The research results show that the concept of moral education according to Emile Durkheim is an agreement between human groups (society) that upholds noble values that are respected by humans. According to Durkheim, morality is worldly, related to society, and has nothing to do with spiritual or religious matters. The relevance of moral education according to Emile Durkheim to Social Science Education in Junior High Schools is that moral education is seen as an act of order, attachment to groups, and self- autonomy, with society as the main subject. Moral education can emerge through symptoms and crises that occur in society. Meanwhile, Social Sciences Education includes various social science disciplines that discuss social problems, and in social studies teaching materials there is a connection with phenomena that occur in society, so that moral education can be integrated as a hidden curriculum in social studies learning. Keyword: Moral Education, Emile Durkheim, Social Science Education
MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI: TINJAUAN PUSTAKA Nadia Estu Ningtias; R Sri Martini Meilanie; Nurbiana Dhieni
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.104238

Abstract

Pendidikan seks pada anak usia dini merupakan isu yang semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan, terutama terkait upaya perlindungan diri anak sejak usia dini. Anak usia 5-6 tahun berada pada masa krusial dalam mengenal tubuhnya, memahami batasan, serta membentuk identitas diri. Namun, pendekatan dan media pembelajaran yang digunakan dalam mengenalkan pendidikan seks pada kelompok usia ini masih menjadi tantangan bagi pendidik dan orang tua. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji berbagai media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan seks anak usia dini melalui metode literature review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media visual berbasis narasi, seperti buku cerita bergambar terbukti efektif dalam membantu anak memahami konsep tubuh pribadi, hak atas tubuh, serta keberanian melapor. Selain itu, media berbasis permainan dan diskusi terbimbing juga memiliki dampak positif terhadap pemahaman anak secara menyeluruh. Buku bergambar memungkinkan anak memaknai pesan melalui ilustrasi dan cerita sesuai dengan dunia mereka, sementara pendekatan bermain menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa pemilihan media pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan ramah anak sangat penting dalam mendukung efektivitas pendidikan seks di jenjang pendidikan anak usia dini. Kata Kunci: Anak Usia Dini, Pendidikan Seks, Media Pembelajaran  ABSTRCTSex education in early childhood is an issue that has received increasing attention in the world of education, especially related to efforts to protect children from an early age. Children aged 5-6 years are at a crucial time in recognizing their bodies, understanding boundaries, and forming self-identity. However, the approach and learning media used in introducing sex education in this age group is still a challenge for educators and parents. This article aims to examine various learning media used in learning early childhood sex education through the literature review method. The results show that narrative-based visual media, such as picture storybooks, are effective in helping children understand the concept of personal body, body rights, and the courage to report. In addition, game-based media and guided discussions also have a positive impact on children's overall understanding. Picture books allow children to interpret messages through illustrations and stories according to their world, while the play approach creates a fun learning atmosphere. The conclusion of this study confirms that the selection of interactive, contextual and child-friendly learning media is crucial in supporting the effectiveness of sex education in early childhood education.Keywords: Early Childhood, Sex Education, Learning Media 

Page 2 of 4 | Total Record : 34