Jurnal Didaktika Dwija Indria
Jurnal ini membahas tentang hal-hal yang terkait dengan bidang Ke SD an. Beberapa hal yang menjadi bahan kajian dalam jurnal ini yakni metode pembelajaran, model pembelajaran, Teknologi pembelajaran, media pembelajaran, majanemen sekolah, bahan ajar sekolah dasar.
Articles
795 Documents
Analisis Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Peserta Didik Sekolah Dasar dalam Perspektif Sosiolinguistik
Namira Shifa Chaerunnisa; Joko Daryanto; Septi Yulisetiani
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 5 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i5.122785
This study aimed to analyze students' Javanese speaking skills and the factors influencing them from a sociolinguistic perspective. This study employed a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using the interactive analysis model developed by Miles and Huberman. The results showed that students' Javanese speaking skills had not yet demonstrated optimal application of unggah-ungguh basa (Javanese speech etiquette). Students were able to use the ngoko (informal) register in interactions with peers; however, they were not yet able to use the krama (formal) register consistently in formal situations. In addition, the use of Indonesian and code-mixing was found when communicating with teachers. This condition was influenced by internal factors, namely limited krama vocabulary and low self-confidence, as well as external factors, namely insufficient habituation in the use of krama within the family and school environments and the dominance of Indonesian. From a sociolinguistic perspective, these findings indicate that students had not yet been able to adjust their language use according to the social context of communication.
Eco-Mathematics dalam Pendidikan Matematika: Systematic Literature Review (SLR)
Anesa Surya; Candra Dewi; Kartika Christy Suryandari; Dessy Az-Zahra Putri Riyanti
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 3 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i3.124972
Krisis lingkungan global menuntut integrasi isu keberlanjutan ke dalam pendidikan matematika, namun upaya ini masih tersebar dalam berbagai label konseptual yang tidak seragam, seperti eco-math, green math learning, dan eco-mathematical literacy. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) mengikuti alur PRISMA untuk memetakan definisi, keterampilan target, indikator capaian, dan bentuk implementasi eco-mathematics, dengan lima artikel terpilih dari 241 artikel yang teridentifikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun belum ada definisi tunggal, kelima artikel memiliki kesamaan orientasi dalam menjadikan lingkungan sebagai konteks autentik pembelajaran matematika. Kajian ini mengidentifikasi empat keterampilan utama (berpikir kritis, pemecahan masalah matematis, kesadaran lingkungan, dan eco-mathematical literacy), indikator capaian pada dimensi kompetensi matematis dan keberlanjutan, serta empat bentuk implementasi, yaitu bahan ajar berbasis lingkungan, pemanfaatan teknologi, pembelajaran berbasis proyek, dan penguatan kapasitas guru. Hasil ini diharapkan menjadi landasan konseptual bagi pengembangan pembelajaran matematika untuk pendidikan berkelanjutan.
Studi Komparasi Pengaruh Model Realistic Mathematics Education dan Creative Problem Solving terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Peserta Didik Kelas V Gugus Majapahit Kartasura
Ersalina Widya Rahma;
Riyadi Riyadi;
Jenny Indrastoeti Siti Poerwanti
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 5 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i5.123629
Studi ini didasari oleh rendahnya keterampilan siswa SD dalam mengatasi masalah cerita matematika, terutama pada topik pecahan. Keadaan ini diduga terkait dengan penerapan model pembelajaran yang minim melibatkan siswa secara aktif dan kurang menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis perbandingan pengaruh model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME), Creative Problem Solving (CPS), dan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan siswa kelas V Gugus Majapahit Kecamatan Kartasura dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Penelitian ini mengaplikasikan Model kuantitatif dengan rancangan komparatif yang melibatkan dua kelas eksperimen serta satu kelas kontrol. Jumlah sampel penelitian adalah 76 siswa yang diambil menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest, selanjutnya dianalisis dengan N-Gain, uji normalitas, uji homogenitas, One Way ANOVA, serta uji lanjut Scheffe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model RME memperoleh rata-rata N-Gain tertinggi yaitu 0,3496, diikuti CPS dengan 0,3132, dan konvensional sebesar 0,2060. Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok dengan nilai signifikansi 0,033 (p < 0,05). Hasil analisis lanjutan menunjukkan bahwa RME secara signifikan lebih efisien dibandingkan metode pembelajaran konvensional, sedangkan perbedaan antara RME dan CPS serta CPS dan konvensional tidak signifikan secara statistik.
Pengaruh Penggunaan Metode Word Square Berbantuan Media PuzzleMaker terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V se-Kecamatan Kartasura
Flanela Ramadhani Rahma Saputri;
Jenny Indrastoeti Siti Poerwanti;
Siti Istiyati
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 4 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i4.121841
Kajian ini didasarkan pada rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa di sekolah dasar dalam pembelajaran IPAS yang sering kali berlangsung secara konvensional dan belum mendorong keaktifan siswa. Oleh sebab itu, kajian ini dilakukan untuk melihat bagaimana penerapan metode Word Square yang dipadukan dengan media PuzzleMaker dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kajian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen, mencakup dua kelompok yakni kelompok eksperimen juga kontrol. Data diperoleh melalui pretest dan posttest, kemudian dianalisis memanfaatkan aplikasi SPSS. Pada penelitian ini menghasilkan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen menunjukkan peningkatan yang lebih unggul dibanding kelas kontrol. Hal tersebut diperkuat oleh hasil uji hipotesis yang memperlihatkan skor signifikansi dibawah 0,05, dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan metode tersebut memberikan pengaruh yang berarti. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dikemas secara aktif dan didukung media yang menarik dapat membantu siswa lebih mudah memahami materi, sekaligus melatih mereka dalam berpikir secara lebih kritis dan sistematis.
Pengembangan Keterampilan Proses Sains Dasar melalui Aktivitas Eksperimen pada Pembelajaran IPAS
Anastasia Putri Agung Febriana; Peduk Rintayati; Jenny Indrastoeti Siti Poerwanti
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 5 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i5.124589
The implementation of Natural and Social Sciences (IPAS) learning in elementary schools plays a significant role in developing students' basic science process skills. However, classroom instruction is still predominantly characterized by lecture and demonstration methods, resulting in limited student engagement in scientific activities. This study aimed to examine the effect of the experimental method on the basic science process skills of fourth-grade students in learning the topic of changes in the states of matter. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design with a nonequivalent control group design. The sample was selected through cluster sampling, with SDN Wirogunan 02 serving as the experimental group and SDN Kertonatan 01 as the control group. Data were collected through pretests, posttests, observations, and documentation. Data analysis included descriptive and inferential statistics, consisting of the Shapiro–Wilk normality test, Levene’s test for homogeneity of variance, and an independent samples t-test to test the research hypothesis. The findings revealed a significant difference between the two groups. The experimental group achieved a mean posttest score of 80.00, whereas the control group obtained a mean score of 46.94. The hypothesis testing showed a significance value of p < .001, indicating that the experimental method had a statistically significant effect on students’ basic science process skills. These findings suggest that the experimental method is an effective instructional alternative for enhancing students’ active participation, conceptual understanding, and basic science process skills in elementary school IPAS learning.
Eksplorasi Peran Problem Based Learning Terintegrasi SAVI sebagai Stimulus Pemahaman Nilai Sila Kedua dan Kelima
Shofia Lutfi Dzulfahmi;
Matsuri Matsuri Matsuri;
Endrise Septina Rawanoko
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 5 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i5.124843
Penelitian ini mengkaji sejauh mana model PBL terintegrasi SAVI dapat menjadi stimulus dalam pemahaman konsep praktik nilai-nilai pokok 2 dan 5 pada siswa kelas 5. Metode yang digunakan adalah Desain Kelompok Kontrol Non-Ekuivalen Kuasi Eksperimental dengan dua kelompok utama, yaitu Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol. Kelompok kedua menerima pretest dan posttest sebelum dan sesudah perlakuan. Peneliti menggunakan model PBL terintegrasi SAVI yang diterapkan pada kelompok eksperimen, serta model PBL tanpa integrasi yang diterapkan pada kelompok kontrol. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon dan Uji Mann Whitney. Hasil uji dan analisis akhir dengan Uji Mann Whitney menunjukkan nilai signifikansi 0,227, yang lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat dinyatakan bahwa penerapan model PBL terintegrasi SAVI pada pemahaman nilai-nilai pokok 2 dan 5 pada siswa kelas 5 tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Hasil yang tidak signifikan diduga disebabkan oleh adanya pemahaman awal yang telah terbentuk sebelumnya, sehingga mengakibatkan kejenuhan pada siswa.
Kepercayaan Diri dalam Keterampilan Berbicara Materi Iklan Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar
Sahra Suqyaa Rahmatina; Matsuri Matsuri
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 5 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i5.123414
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berbicara peserta didik kelas V sekolah dasar pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi iklan. Peserta didik masih cenderung pasif, kurang percaya diri, serta mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapat secara lisan dengan lancar dan runtut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan keterampilan berbicara peserta didik kelas V SD Negeri se-Gugus Tunas Harapan Kecamatan Sragen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Populasi penelitian berjumlah 160 peserta didik dengan sampel sebanyak 115 peserta didik. Pengumpulan data menggunakan angket kepercayaan diri dan tes keterampilan berbicara lisan yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment berbantuan IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik memiliki tingkat kepercayaan diri pada kategori sedang (72,17%) dan keterampilan berbicara pada kategori sedang (78,26%). Analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dengan keterampilan berbicara peserta didik, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,614 (Sig = 0,000 < 0,05) yang termasuk dalam kategori kuat. Hasil koefisien determinasi menunjukkan bahwa kepercayaan diri memberikan kontribusi sebesar 37,7% dengan keterampilan berbicara, sedangkan 62,3% sisanya berkaitan dengan faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kepercayaan diri peserta didik, maka cenderung semakin baik pula keterampilan berbicaranya.
Penerapan model project based learning (pjbl) untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada pembelajaran IPA di kelas V sekolah dasar
Isti Nur Hidayah;
Peduk Rintayati;
Chumdari Chumdari
Didaktika Dwija Indria Vol 11, No 6 (2023): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v11i6.77154
The aim of this classroom action research is to describe the application of the project based learning model and increase the active learning of students in class V at SDN Kalijoso. This research involved teachers and all fifth grade students at Kalijoso Elementary School, totaling 26 students. Interviews, documentation and observations were used to collect data. Source and technical triangulation is used to determine the validity of the data. Interactive data analysis as a data analysis method. The findings of this study show that the implementation of the project based learning model is carried out according to steps including (1) starting with basic questions, (2) making a product plan, (3) making a schedule, (4) monitoring, (5) testing product results, ( 6) evaluation of experience. The application of the Project Based Learning (PjBL) model can increase students' learning activeness through three cycles. The average pre-action learning activity was 31.95% then increased in the first cycle to 58% and increased in the second cycle to 76.27% and again increased in the third cycle to 88.45%.Kata kunci: project based learning, active learning, science learning, elementary school
Strategi pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan literasi sosial siswa kelas 3 sd pada materi ipas
Rahma Tsani Azalia;
Joko Suprapmanto
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 4 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v14i4.122842
Contextual Teaching and Learning (CTL); Elementary School; IPAS; Social Literacy.This study aimed to analyze the effect of the Contextual Teaching and Learning (CTL) strategy on improving the social literacy of third-grade elementary school students in Integrated Science and Social Studies (IPAS) learning. The study was motivated by students' low level of social literacy, particularly in connecting learning materials with real-life social contexts, collaborating with peers, and understanding social situations in their surrounding environment. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design. The research participants consisted of third-grade students from SDN Bojongkawung as the experimental class and SDN Babakan Cibatu as the control class in the Cisaat Gadis Cluster, Sukabumi Regency. Data were collected through a social literacy questionnaire, observation, and documentation, while data analysis included validity testing, reliability testing, normality testing, homogeneity testing, and Welch's Test. The results showed that the mean social literacy score of the experimental class increased from 57.17 in the pretest to 71.56 in the posttest, whereas the control class showed only a slight increase from 55.00 to 56.52. The hypothesis testing using Welch's Test produced a significance value of 0.001 (< 0.05), indicating that the Contextual Teaching and Learning strategy had a statistically significant effect on improving the social literacy of third-grade elementary school students in IPAS learning. These findings indicate that the CTL strategy provides meaningful learning experiences by connecting learning materials with real-life situations, thereby enhancing students' ability to interact, collaborate, and understand various social situations. The findings are expected to serve as a reference for teachers in implementing contextual learning strategies to improve students' social literacy in elementary school IPAS learning..
Analisis keterampilan berpikir kritis matematis ditinjau dari multiple intelligences pada peserta didik kelas V di sekolah dasar
Widi Ika Maryani;
Retno Winarni;
Anesa Surya
Didaktika Dwija Indria Vol 11, No 3 (2023): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/ddi.v11i3.76872
This study aims to explain and describe the ability to think critically mathematically in terms of Multiple Intelligence in fifth grade students at elementary school. The method used in this study is a qualitative approach with a case study research design. Sampling was carried out using purposive sampling technique. The data collection technique uses triangulation using data from document analysis, questionnaires, interviews, and observations. Data analysis was carried out descriptively and qualitatively. Based on the research results, it is known that the ability to think critically basically has different levels of ability when viewed from the perspective of multiple intelligences. Students have a lower level of critical thinking skills than their peers; However, they show extraordinary intelligence in certain areas. Students who fall into the categories of linguistic intelligence, musical intelligence, intrapersonal intelligence, and natural intelligence show lower order thinking skills (Lower Order Thinking/LOT) on mathematical critical thinking performance. Students with logical-mathematical intelligence and spacial intelligence category show High Order Thinking (HOT) on mathematical critical thinking performance. Students who fall into the category of bodily-kinesthetic intelligence and interpersonal intelligence show Middle Order Thinking (MOT) on mathematical critical thinking performance. This study focuses on the characteristics of students' multiple intelligences towards the level of critical thinking mathematics so that it can be used as a reference for classifying students in the process of learning mathematics.