cover
Contact Name
Euis Reni Yuslianti
Contact Email
ery.unjani@yahoo.co.id
Phone
+6282116560248
Journal Mail Official
medikakartika@unjani.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Jend.Sudirman PO BOX 148 Cimahi
Location
Kota cimahi,
Jawa barat
INDONESIA
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 26139332     EISSN : 26556537     DOI : http://dx.doi.org/10.35990/mk
Core Subject : Health,
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan adalah jurnal yang mempublikasikan artikel hasil penelitian baik ilmu kedokteran dasar maupun terapan, tinjauan pustaka (artikel review), dan laporan kasus. Medika Kartika dipublikasikan dua kali dalam setahun (April dan Oktober) dengan jumlah enam artikel.
Articles 261 Documents
PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL TEH HITAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN LEMPENG METAFISIS DAN PANJANG OS FEMUR MENCIT Wendra Rasyad
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.505 KB)

Abstract

Tulang merupakan salah satu jaringan tubuh manusia yang selalu mengalami perombakan dan pembentukan kembali sehingga dalam proses pertumbuhan tulang terjadi perubahan tebal lempeng metafisis dan ukuran panjang tulang, khususnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan tulang panjang ini dimulai dari pusat metafisis. Pada masyarakat awam teh hitam dipercaya berkhasiat bagi kesehatan tulang. Salah satu senyawa aktif yang terdapat dalam teh hitam adalah katekin Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak teh hitam terhadap perubahan pada lempeng metafisis os femur dan pertumbuhan panjang os femur. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian berupa rancangan acak lengkap. Objek penelitian yang digunakan adalah 24 ekor mencit betina galur DDY usia 8 minggu dan dibagi 6 kelompok perlakuan, yaitu; 1 kelompok kontrol negatif (P0) dan 5 kelompok perlakuan (P1, P2, P3, P4 dan P5) yang diberikan teh hitam dengan dosis masing-masing 40 mg/kgBB, 60 mg/kgBB, 80mg/kgBB, 100mg/kgBB dan 120mg/kgBB per oral dosis tunggal selama 28 hari berturut-turut. Pengukuran panjang os femur diukur menggunakan Kaliper Vernier. Tebal lempeng metafisis diukur menggunakan mikrometer mikroskop pada sediaan HE (400X). Analisis data menggunakan uji beda ANOVA dan uji lanjut Duncan (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan pemberian ekstrak teh hitam dosis 120mg/kgBB terhadap tebal lempeng metafisis (p=0,019) dan terdapat pengaruh signifikan pemberian ekstrak teh hitam dosis 100mg/kgBB terhadap pertumbuhan panjang (0,000). Penambahan panjang dan tebal lempeng metafisis tulang diduga akibat pengaruh senyawa katekin pada ekstrak teh hitam yang akan memicu osteoblastogenesis dan mencegah aktivasi osteoklas sehingga tulang akan bertambah panjang termasuk pada bagian lempeng metafisis. DOI : 10.35990/mk.v4n1.p1-10
RESOLUSI NEURORETINITIS DENGAN CIPROFLOXACIN DAN ASETAZOLAMID Muhammad Syauqie
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.461 KB)

Abstract

Neuroretinitis merupakan suatu sindrom klinis ditandai dengan penurunan visus unilateral akut dengan makulopati eksudatif yang terdiri dari eksudat hard tersusun dalam gambaran bintang di sekitar fovea. Pada artikel ini, penulis melaporkan suatu kasus neuroretinitis dengan ablasio makula serosa yang memperlihatkan outcome yang baik setelah pemberian terapi asetazolamid. Seorang pasien perempuan, umur 18 tahun, datang dengan keluhan utama berupa penglihatan mata kiri kabur. Visus mata kiri saat presentasi awal yaitu 1/300 dan pada funduskopi hanya didapatkan edema papil nervus optik disertai perdarahan peripapil. Tidak didapatkan perbaikan gejala klinis setelah pemberian metilprednisolon intravena selama 3 hari. Pada follow up hari keempat, muncul gambaran macular star yang khas untuk neuroretinitis, dan pada pemeriksaan optical coherence tomography (OCT) didapatkan cairan subretina pada makula sehingga diberikan tambahan terapi asetazolamid. Setelah pemberian asetazolamid selama 2 minggu didapatkan perbaikan visus menjadi 5/60 dengan visus akhir pada follow up bulan ketiga menjadi 6/12. Meskipun neuroretinitis bersifat self-limited tetapi pada kasus ini pemberian asetazolamid mempercepat perbaikan visus, dan reduksi ablasio makula serosa. DOI : 10.35990/mk.v4n2.p110-121
ANALISIS POLIMORFISME CYP2D6*4 DAN CYP2D6*10 SEBAGAI METABOLIZER PRIMAKUIN DI RSUD JAYAPURA PAPUA INDONESIA Octavia Permata Sari
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.063 KB)

Abstract

Primakuin adalah antimalaria yang digunakan untuk mengeliminasi stadium gametosit Plasmodium falciparum dan stadium hipnozoit dari P. vivax. Efektivitas primakuin dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam memetabolisme obat. Metabolisme primakuin utama diperankan melalui jalur enzim sitokrom P 450 2D6. Polimorfisme gen pengkode enzim tersebut, yakni gen CYP2D6 berdampak pada perubahan dalam kemampuan memetabolisme obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi genotipe dan frekuensi alotipe dari CYP2D6*4(G/A) dan CYP2D6*10(C/T). Metode yang digunakan untuk menilai polimorfisme pada penelitian ini adalah PCR-RFLP dengan desain penelitian deskriptif observasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alel CYP2D6*4 yang dapat bermanifestasi sebagai poor metabolizer tidak ditemukan pada sampel penelitian. Frekuensi alel CYP2D6*10 yang dapat bermanifestasi sebagai intermediete metabolizer adalah 10%. Genotipe homozigot mutan CYP2D6*4 dan CYP2D6*10 tidak ditemukan pada penelitian ini. 100% sampel penelitian ini memiliki kemampuan metabolisme yang baik (extensive metabolizer) terhadap primakuin. DOI : 10.35990/mk.v4n2.p168-181
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG KONTRASEPSI PADA AKSEPTOR KONTRASEPSI WANITA DI PUSKESMAS WILAYAH KOTA PEKANBARUINDONESIA Lasiah Susanti; Ratih Ayuningtiyas; Sonia Mutiara Fadilah
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.143 KB)

Abstract

Pengguna Keluarga Berencana(KB) ditahun 2018 tercatat meningkat dibanding tahun 2017, namun Provinsi Riau masih menjadi provinsi kedelapandengan cakupan pengguna aktif yang rendah yaitu 52,28% dari totalPasangan Usia Subur (PUS) pada tahun 2018. Cara penggunaan kontrasepsi yang umum digunakan di Indonesia, yaitu metode kontrasepsi dengan cara modern seperti sterilisasi, pil, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), suntik, implan, kondom, dan Metode Amenorea Laktasi(MAL), sedangkan metode kontrasepsi dengan cara tradisional,yaitu seperti pantangberkala dan senggama terputus.Metode kontrasepsi modern jangka pendek seperti pil dan suntik menjadi pilihan yang dominan digunakan dibandingkan dengan metode kontrasepsi modern jangka panjang sepertiAKDRdan Implan. Salah satu penyebabitudikarenakan masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kontrasepsi dan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan serta sarana kesehatan yang ada.Penelitian ini bertujuanmengetahui gambaran pengetahuan tentang metode kontrasepsi pada akseptor kontrasepsi wanita di Puskesmas wilayah Kota Pekanbaru. Penelitian menggunakandesain studi deskriptif observasional, dengan rancangan cross sectional, dilakukan pada 12 Puskesmas di Kota Pekanbaru.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknikstratified random samplingdengan besar sampel 400 orang.Hasildari 400 respondendidapatkan 392responden(98%) memiliki pengetahuan kategori kurang, 8 responden (2%) memiliki pengetahuan kategori cukup, tidak ada responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang kontrasepsi.Hampir seluruh responden memiliki tingkat pengetahuan kategori kurang tentang 11 metode kontrasepsi. DOI : 10.35990/mk.v4n3.p230-242
HUBUNGAN STUNTING DENGAN KARAKTERISTIK ANAK, ASUPAN GIZI, DAN ANEMIA PADA BATITA DI WILAYAH PUSKESMAS CIBEBER Dinar Mutiara; Andri Andrian Rusman; Rizky Sukma Ruhiman
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.297 KB)

Abstract

Stunting adalah suatu keadaantinggi badan menurut umur (TB/U) seseorang yang tidak sesuai dengan umur dan merupakan indikator dari malnutrisi pada anak usia dini. Seseorang dikatakan stuntingbila z-score indeks TB/U atau PB/U-nya kurang dari (-2) standar deviasi berdasarkan World Health Organization-Multicentre Growth Reference Study(WHO-MGRS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stunting dengan karakteristik anak (usia, jenis kelamin, dan BBLR), asupan zat gizi (asupan zat besi dan protein), dan anemia pada anak batita di wilayah Puskesmas Cibeber. Penelitian inidilakukan dengan metode analitik secara potong lintang. Pengumpulan sampel diambil dengan cara non-probability sampling,yaitu menggunakan metode consecutive sampling pada bulan Januari -Februari 2021 dan diperoleh 32 sampel. Instrumen yang digunakan berupa alat ukur tinggi badan, hemoglobinometer, dan lembar food recall 2 x24 jam. Hasil uji statistik kai kuadrat didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara asupan zat gizi dengan kejadian stunting pada batita, yaitu asupan protein dengan nilai p= 0,012 dan asupan zat besi dengan nilai p= 0,028. Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada jenis kelamin dengan nilai p= 0,476, BBLR dengan nilai p= 0,365, dan anemia dengan nilai p= 0,288 dengan kejadian stuntingpada anak batita. Kesimpulan pada penelitian ini setelah dilakukan uji bivariat adalah faktor asupan zat gizi yang berupa asupan zat besi dan protein memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada anak batita. Pemenuhan kebutuhan gizi batita sangat dibutuhkan untuk mencegah stunting sehingga proses perkembangan anak batita dapat berjalan sesuai dengan tahapannya.DOI : 10.35990/mk.v4n3.p293-304
UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) PADA MENCIT GALUR DDY (Mus musculus) Maman Djamaludin; Ris Kristiana; Bagus Yuda Permana
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 4 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.716 KB)

Abstract

Daun salam (Syzygium polyanthum) adalah salah satu tanaman di Indonesia yang dipergunakan sebagai tanaman obat alternatif seperti obat antidiare, antiinflamasi, dan antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas akut ekstrak etanol daun salam (EEDS) terhadap mencit galur DDY yang dilihat dari kematian mencit, perubahan perilaku, perubahan berat badan, dan nilai indeks organ. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan 24 mencit putih jantan dan 24 mencit betina (Mus musculus) galur DDY yang dibagi menjadi 4 kelompok di setiap jenis dengan variasi dosis 1250 mg/kgBB, 2500 mg/kgBB, 5000 mg/kgBB, dan kelompok kontrol negatif. Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu kematian mencit, perubahan perilaku, perubahan berat badan, dan nilai indeks organ. Indeks organ yang dinilai adalah jantung, paru-paru, hati, limpa, ginjal, testis, vesica seminalis pada mencit jantan, serta ditambah organ ovarium, uterus pada mencit betina. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji one way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun salam tidak menyebabkan kematian mencit, perubahan perilaku, perubahan berat badan, dan perubahan indeks organ mencit. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa daun salam termasuk kategori praktis tidak toksik menurut klasifikasi dari BPOM tahun 2014. DOI : 10.35990/mk.v4n4.p355-368
KARAKTERISTIK DOKTER MUDA FK UNJANI TERKONFIRMASI POSITIF COVID-19 BERDASARKAN HASIL SWAB RT-PCR Asti Kristianti; Susanti Ratunanda; Iis Inayati
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 4 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.261 KB)

Abstract

Corona Virus Disease 19 (COVID-19) adalah penyakit pernafasan yang saat ini menjadi pandemi di dunia. Jawa Barat adalah salah satu provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak di Indonesia. Gejala yang timbul adalah demam, batuk, sesak, malaise, myalgia, sakit tenggorokan, anosmia, dan disgeusia. Polymerase Chain Reaction (PCR) swab adalah pemeriksaan baku emas untuk COVID-19. Pekerja kesehatan termasuk dokter muda adalah kelompok yang memiliki risiko sangat tinggi terinfeksi COVID-19. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (FK Unjani) yang terkonfirmasi COVID-19 berdasarkan hasil swab RT-PCR (Agustus 2020–Januari 2021). Penelitian ini dirancang sebagai penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Dari pemeriksaan swab RT-PCR terhadap 303 dokter muda FK Unjani didapatkan 35 orang terkonfirmasi positif COVID-19, rentang usia 23-24 tahun, dan 85,71% perempuan. Karakteristik berdasarkan gejala klinis 62,86% tidak bergejala, 25,71% demam, 17,14% gangguan penghidu, 11,43% gangguan pengecap, 5,71% batuk dan nyeri badan, 2,86% sesak, sakit kepala, hidung beringus, dan diare. Sebanyak 42,86% sedang persiapan pembelajaran luar jaringan (luring), 22,86% stase di Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM), 17,14% Radiologi, 11,43% Neurologi, dan 2,86% di Laboratorium Mata dan Anak. Sebanyak 74,29% tidak ada riwayat kontak dan sebanyak 25,71% ada riwayat kontak. Tata laksana yang dilakukan, yaitu 31 orang (62,86%) isolasi mandiri, tiga orang (8,57%) dirawat di rumah sakit, dan satu orang (2,86%) dirawat di fasilitas isolasi milik pemerintah. Kesimpulan pada penelitian ini adalah karakteristik dokter muda FK Unjani yang terkonfirmasi positif COVID-19, yaitu sebagian besar perempuan, tanpa gejala, sedang persiapan luring, tidak ada riwayat kontak, dan ditatalaksana dengan isolasi mandiri. DOI : 10.35990/mk.v4n4.p421-432
HUBUNGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI HORMONAL TERHADAP KUANTITAS TEAR FILM Muhammad Syauqie; najdah fakhirah karami
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 5 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.959 KB)

Abstract

Mata kering adalah penyakit multifaktorial yang ditandai dengan hilangnya homeostasis tearfilm yang diikuti gejala okular akibat penurunan kuantitas tear film. Pada jaringan mata,hormon seksual berperan dalam mengatur struktur dan fungsi dari kelenjar lakrimal.Penggunaan kontrasepsi hormonal merupakan salah satu terapi sistemik yang dapatdihubungkan dengan penurunan kuantitas tear film. Penelitian ini merupakan penelitiananalitik dengan pendekatan observasional pada 40 orang wanita dengan rentang usia 21-44tahun. Kelompok sampel adalah wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal minimaldalam 1 tahun dan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menggunakan kontrasepsihormonal. Hasil penelitian dan analisis data mendapatkan rerata uji Schirmer kelompoksampel dan kontrol adalah (21,3±12,7) dan (23,9±10). Rerata terkecil uji Schirmer adalahpada kontrasepsi jenis injeksi 3 bulan, yaitu (18,2 ± 11,6). Pada tear meniscus terjadipenurunan pada kelompok sampel (40%) dan kontrol (30%). Hasil kuesioner ocular surfacedisease index (OSDI) kelompok sampel didapatkan dry eye ringan (20%), sedang (20%), danberat (5%). Sementara itu kelompok kontrol hanya mengalami dry eye ringan (45%). Dalampenelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan hasil yang bermakna (p > 0,05) antarakelompok tersebut. Kesimpulan yang didapatkan adalah tidak terdapat hubungan yangbermakna pemakaian kontrasepsi hormonal dengan kuantitas tear film. DOI : https://doi.org/10.35990/mk.v4n5.p483-492
KARAKTERISTIK AKNE AKIBAT MASKER (MASKNE) PADA PETUGAS KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DUSTIRA CIMAHI Lina Damayanti
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 5 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.384 KB)

Abstract

Maskne merupakan suatu varian klinis dari akne, timbul pertama kali atau sebagai suatukondisi yang memperparah akne yang sudah ada atau eksaserbasi akne yang telah terkontrolsebelumnya akibat dari penggunaan masker secara terus-menerus, minimal dalam enamminggu. Penelitian ini bertujuan melihat karakteristik maskne pada petugas kesehatan.Metode yang digunakan yaitu potong lintang, data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitiandari total sampling sebanyak 105 orang didapatkan 66% responden mengeluhkan adanyakelainan pada wajah, berupa maskne (81%), dermatitis seboroik (1%), dermatitis perioral(1%), kulit berminyak (13%) dan iritasi (4%). Sekitar 58% responden menggunakan maskerselama 4-8 jam, dan masker yang paling banyak digunakan berturut-turut adalah maskerbedah (42%), KN95 (34%), N95 (19%) dan masker kain (5%). Rerata responden menggantimasker sehari 2x sebanyak 41% dan membersihkan wajah sehari 2x sebanyak 52%.Responden yang menggunakan kosmetik sebelum memakai masker sebanyak 52% dan 67%mempunyai riwayat akne sebelumnya. Maskne merupakan kelainan kulit yang paling banyakditemukan pada petugas kesehatan selama pandemi Covid-19 ini dan dapat terjadi padaseseorang yang belum pernah menderita akne sebelumnya. DOI : https://doi.org/10.35990/mk.v4n5.p543-552
EFEKTIVITAS ASAP CAIR KULIT KOPI (Coffea sp) SEBAGAI ANTISEPTIK TERHADAP MIKROBA SECARA IN VITRO dan IN VIVO Anzar irawan saepul; Sindi Pitrianingsih; Ahmad Sodikin; Feldha Fadhila; Yayan Maryana; Alfi Rumidatul
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.672 KB)

Abstract

Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh bakteri dan jamur, pencegahannya dapat diatasidengan antiseptik tetapi penggunaan antiseptik dapat menimbulkan efek samping sepertiiritasi ringan sampai kerusakan jaringan sehingga diperlukan antiseptik alternatif. Asap cairkulit kopi berpotensi sebagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitasasap cair kulit kopi sebagai antiseptik terhadap pertumbuhan mikroba secara in vitro denganmenggunakan uji daya hambat dan in vivo menggunakan metode swab test pada telapaktangan. Hasil uji in vitro diperoleh zona hambat asap cair kulit kopi terhadap Escherichia coliATCC 25922 adalah 1,16 mm (konsentrasi 50%), 1,6 mm (konsentrasi 75%), dan 2,1 mm(konsentrasi 100%). Pada Staphylococcus aureus ATCC 25923 adalah 2,0 mm (konsentrasi50%), 2,8 mm (konsentrasi 75%), dan 3,3 mm (konsentrasi 100%), pada Aspergilus flavusATCC 9643 dan Candida albicans ATCC 10231 belum mampu menghambat. Hasil uji invivo menunjukkan efektivitas penurunan pertumbuhan pada bakteri sebesar 72,75 % danjamur sebesar 65,75% sedangkan dari data kuesioner responden diperoleh hasil 75%responden menyukai warna, 50% menyukai aroma, 91,67% tidak menimbulkan kekeringan,dan 75% tidak menimbulkan efek gatal dan rasa terbakar. Asap cair kulit kopi mampumenghambat bakteri karena adanya interaksi antara senyawa fenol dalam asap cair denganprotein pada dinding sel mikroba sehingga menyebabkan lisis pada membran sel. Berdasarkanhasil penelitian dapat disimpulkan bahwa asap cair kulit kopi (Coffea sp) berpotensi sebagaiantiseptik. DOI : 10.35990/mk.v5n1.p21-33

Page 7 of 27 | Total Record : 261


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 3 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 2 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 1 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 4 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan (Edisi PIT FK Unjani 2024) Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan (Edisi PIT FK Unjani) Vol 6 No 4 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 3 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 4 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 3 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol 4 No 5 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 4 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018): Medika Kartika Edisi PIT 10 Kedokteran Gigi Vol 2 No 1 (2018): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan 2018 Vol 1 No 1 (2017): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan More Issue