cover
Contact Name
Euis Reni Yuslianti
Contact Email
ery.unjani@yahoo.co.id
Phone
+6282116560248
Journal Mail Official
medikakartika@unjani.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Jend.Sudirman PO BOX 148 Cimahi
Location
Kota cimahi,
Jawa barat
INDONESIA
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 26139332     EISSN : 26556537     DOI : http://dx.doi.org/10.35990/mk
Core Subject : Health,
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan adalah jurnal yang mempublikasikan artikel hasil penelitian baik ilmu kedokteran dasar maupun terapan, tinjauan pustaka (artikel review), dan laporan kasus. Medika Kartika dipublikasikan dua kali dalam setahun (April dan Oktober) dengan jumlah enam artikel.
Articles 261 Documents
KARAKTERISTIK BALITA PENDERITA MALARIA DI DAERAH HIPOENDEMIS Lambok Siahaan
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.96 KB)

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Balita adalah salah satukelompok yang berisiko mengalami infeksi penyakit ini. Pengenalan karakteristik penderitamalaria dapat membantu memutus rantai penularan penyakit malaria. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui karakteristik balita penderita malaria di daerah hipoendemis. Penelitian inimerupakan penelitian longitudinal dimana setiap sampel penelitian diamati selama dua bulan.Penelitian dilakukan pada masyarakat yang telah tinggal menetap di wilayah penelitian yangmemiliki beberapa faktor risiko malaria. Diagnosis malaria ditentukan dengan pemeriksaanmikroskopis secara serial. Hasil penelitian terdapat balita penderita malaria dengan proporsitertinggi adalah penderita malaria klinis. Penyebab malaria tersering adalah Plasmodiumvivax. Ditemukan adanya perbedaan yang signifikan kadar hemoglobin pada balita penderitamalaria dengan non-penderita malaria. Pada penelitian tidak ditemukan perbedaan yangsignifikan pada parameter perlindungan diri dan perilaku. Diagnosis malaria pada anak dibawah lima tahun tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala klinis demam dan tandaklinis anemia, tetapi harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis secara serial. DOI : 10.35990/mk.v5n1.p1-11
UJI STABILITAS BAWANG HITAM PADA BERBAGAI SUHU PENYIMPANAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIBAKTERI Lia Siti Halimah; Eka Noneng Nawangsih; Ilma Fiddiyanti; Emma Mardliyah Hidayat; Rina Munirah; Irena Juniar Setiawati
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.365 KB)

Abstract

Bawang hitam merupakan hasil proses fermentasi bawang putih yang memiliki aktivitas antibakteri. Penurunan kualitas suatu produk pangan dapat dipengaruhi diantaranya oleh suhu dan waktu penyimpanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji stabilitas bawang hitam tunggal pada berbagai suhu penyimpanan terhadap aktivitas antibakteri. Bawang hitam disimpan di suhu ruangan (27-28oC) selama 90 hari, pada suhu panas (37oC) selama 17 hari, suhu kulkas (50C) dan suhu freezer (-200C) selama 90 hari. Penelitian ini menggunakan bawang hitam tanpa perlakuan (kontrol 0 hari). Penelitian menggunakan metode difusi agar Kirby-Bauer dengan menanamkan ekstrak etanol bawang hitam 75% pada media Mueller Hinton Agar yang sudah diinokulasi Staphylococcus aureus dengan tiga kali pengulangan (triplo). Hasil penelitian menunjukan bawang hitam tunggal yang disimpan pada suhu ruangan (27-28oC),suhu kulkas (50C), suhu freezer (-20oC) tidak menunjukkan penurunan aktivitas antibakteri, sedangkan bawang hitam yang disimpan pada suhu panas (37oC) menunjukkan penurunan aktivitas antibakteri yang signifikan. Zona hambat yang terbentuk membuktikan bahwa ekstrak etanol bawang hitam mengandung senyawa aktif allicin yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Senyawa aktif allicin terbentuk ketika bawang putih segar mengalami destruksi disebabkan allin dan enzim allinase berada didalam kompartemen sel yang berbeda. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bawang hitam tunggal pada suhu ruangan, suhu kulkas), suhu freezer tidak mengalami penurunan aktivitas antibakteri, sedangkan pada penyimpanan suhu panas menunjukan penurunan aktivitas antibakteri. DOI : 10.35990/mk.v5n1.p55-66
HUBUNGAN STADIUM OTITIS MEDIA AKUT DENGAN DERAJAT GANGGUAN DENGAR DI POLI THT RS DUSTIRA Yanti Nurrokhmawati; Luthfi Nurlaela; nabilah parashandy
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.65 KB)

Abstract

Otitis media akut (OMA) adalah infeksi pada telinga tengah yang disebabkan oleh virus atau bakteri. OMA memiliki 5 stadium, diantaranya adalah stadium oklusi, stadium hiperemis, stadium supuratif, stadium perforasi, dan stadium resolusi. Penurunan pendengaran adalah salah satu gejala klinis dari OMA. Tujuan penelitian ini untuk mencari apakah ada hubungan antara stadium OMA dengan derajat gangguan dengar dan bagaimana hubungan antara kedua variabel tersebut. Desain penelitian ini menggunakan pengamatan cross sectional yang melibatkan rekam medis untuk menyeleksi kriteria eksklusi, setelah itu pasien yang sudah sesuai dengan kriteria inklusi akan dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni. Hasil analisis hubungan antara stadium OMA dengan derajat gangguan dengar menggunakan uji Chi Square Pearson memiliki P-Value = 0,001. Hasil analisis hubungan setiap stadium OMA dengan derajat gangguan dengar, memiliki nilai P-Value berbeda- beda. Stadium oklusi memiliki P-Value = 0,000, stadium hipermis memiliki P-Value = 0,000, stadium supuratif memiliki P-Value = 0,007, stadium perforasi memiliki P-Value = 0,000, dan stadium resolusi memiliki P-Value = 0,000. Maka, dapat disimpulkan dari hasil di atas menunjukan bahwa hubungan semua stadium OMA dengan derajat gangguan pendengaran di THT Poli RS Dustira adalah signifikan karena P-Value > 0,05. Hubungan yang terjadi antara stadium OMA dengan derajat gangguan dengar disebabkan oleh gangguan hantar gelombang suara. Gangguan hantaran gelombang suara ini dipengaruhi oleh beberapa komponen yang terganggu proses fisiologisnya. Komponen tersebut diantaranya: membran timpani, tekanan di telinga tengah, dan tulang - tulang di telinga tengah. DOI : 10.35990/mk.v5n2.p112-126
PROFIL PASIEN PSORIASIS VULGARIS DI UNIT RAWAT JALAN DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT (RSPAD) GATOT SOEBROTO JAKARTA PERIODE MEI – JULI 2021 Nissa Avina Pillar; I Dewa Ayu Suryantini
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.069 KB)

Abstract

Psoriasis vulgaris merupakan kelainan kulit kronis dengan hiperproliferasi keratinosit dan sangat memengaruhi kualitas hidup pasien. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan pada pasien psoriasis vulgaris dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi tingkat morbiditas pasien psoriasis vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi profil pasien psoriasis vulgaris di Unit Rawat Jalan Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta. Penelitian yang dilakukan merupakan studi retrospektif menggunakan data rekam medis pasien psoriasis vulgaris di Unit Rawat Jalan Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSPAD Gatot Soebroto Jakarta selama periode Mei sampai Juli 2021. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 25 pasien psoriasis vulgaris dari observasi selama 3 bulan. Sebagian besar pasien psoriasis vulgaris berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 orang (64%), dengan kelompok usia terbanyak pada kelompok usia dewasa (25 - 54 tahun) sebanyak 14 pasien (56%). Terapi yang diberikan pada pasien meliputi pemberian obat topikal pada 25 pasien (100%) , sistemik (metotreksat) pada 11 pasien (44%), dan fototerapi pada 4 pasien (16%) serta memberikan tingkat kesembuhan yang lebih signifikan. Kesimpulannya pasien psoriasis vulgaris lebih banyak pada laki-laki dan metotreksat dapat menjadi terapi pilihan. DOI : 10.35990/mk.v5n2.p175-182
PERBANDINGAN DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN DAN BUAH JAMBU BIJI (Psidium guajava) TERHADAP AKTIVITAS BAKTERI Enterococcus faecalis Rachmi Fanani Hakim; Fakhrurrazi Fakhrurrazi; Masnaini Masnaini
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.128 KB)

Abstract

Enterococcus faecalis adalah bakteri gram positif yang bersifat fakultatif anaerob. Enterococcus faecalis memiliki kemampuan untuk hidup dalam berbagai lingkungan dan mampu bertahan sebagai mikroorganisme dalam saluran akar menyebabkan bakteri ini menjadi patogen sehingga sering disebut sebagai bakteri penyebab terjadinya kegagalan perawatan saluran akar. Jambu biji (Psidium guajava) pada buah dan daun memiliki kandungan flavonoid, tanin, minyak atsiri dan saponin berfungsi sebagai penghambat berbagai jenis bakteri, diantaranya. Peneltian ini bertujuan membandingkan pengaruh ekstrak daun dan buah jambu biji terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis diuji dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun dan buah jambu biji menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Peningkatan konsentrasi ekstrak meningkatkan konsentrasi zona hambat bakteri. Diameter zona hambat yang terbentuk pada pemberian ekstrak daun jambu biji konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% adalah 7,75 mm, 10,46 mm, 12,50 mm dan 15,13 mm. Diameter rata-rata zona hambat yang terbentuk pada pemberian ekstrak buah jambu biji konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% adalah 8,36 mm, 10,50 mm, 10,96 mm dan 15,10 mm. Kemampuan zona hambat konsentrasi daun jambu biji 100% hampir setara dengan kemampuan zona hambat buah jambu biji 100%. DOI : 10.35990/mk.v3n2.p126-138
EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN PENDEKATAN METODE GYSSENS TERHADAP LUARAN KLINIS PASIEN BALITA PENDERITA PNEUMONIA DI RSUD KOTA BOGOR Naifah Luthfiyah Putri; Hany Yusmaini; Sugeng Wiyono
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.915 KB)

Abstract

Pneumonia merupakan penyebab terbanyak kematian balita di dunia terutama di Indonesia. Insidensi penyakit pneumonia di Indonesia mengalami peningkatan dari 63,45% pada tahun 2015 menjadi 65,27% pada tahun 2016. Pada tahun 2017, pneumonia termasuk ke dalam 10 besar penyakit terbanyak di instalasi rawat inap RSUD Kota Bogor. Kejadian resistensi antibiotik pada penyakit infeksi seperti pneumonia telah menjadi masalah global. Salah satu cara untuk mengatasi kejadian resistensi antibiotik adalah dengan melakukan evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik. Evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia balita di RSUD Kota Bogor belum pernah dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional analitik berdasarkan data rekam medis pasien pneumonia balita yang dirawat inap di RSUD Kota Bogor Tahun 2017 dengan jumlah sampel pasien pneumonia balita yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 77 orang. Penelitian ini mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik dengan menggunakan metode Gyssens dan melihat luaran klinis berupa suhu tubuh pada 48-72 jam setelah penggunaan antibiotik. Hasil penelitian ini adalah 51,9% penggunaannya rasional, artinya bahwa penggunaan antibiotik pada 51,9% pasien telah memenuhi seluruh kriteria Gyssens. Penggunaan antibiotik yang rasional akan memberikan optimalisasi terapi antibiotik sehingga luaran klinis yang dihasilkan juga optimal atau baik. Terdapat hubungan antara penggunaan antibiotik dengan luaran klinis pada pasien rawat inap balita penderita pneumonia di RSUD Kota Bogor Tahun 2017. DOI : 10.35990/mk.v4n1.p74-87
GAMBARAN PASIEN TUMOR GANAS LAMBUNG BERDASARKAN FAKTOR RISIKO, GEJALA KLINIS, DAN DIAGNOSIS HISTOPATOLOGI Lukmana Lokarjana; Endah Hamidah Abbas; Muthia Rachmi Anistya Putri
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.121 KB)

Abstract

Tumor ganas lambung merupakan tumor ganas keenam tersering di dunia, dan keempat terbanyak penyebab kematian akibat kanker. Menurut WHO (2018) di Indonesia terdapat 769.728 kasus baru tumor ganas lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien tumor ganas lambung di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2015-2019. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif berdasarkan data sekunder yaitu data rekam medik. Subjek penelitian adalah seluruh data rekam medik pasien tumor ganas lambung di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2015-2019, dan memenuhi kriteria inklusi adalah 44 kasus. Jumlah kasus Bandung Periode 2015-2019 yang termasuk kriteria inklusi. Jumlah kasus tumor ganas lambung yang ditemukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2015-2019, dan memenuhi kriteria inklusi adalah 44 kasus. Jumlah kasus tumor ganas lambung meningkat secara signifikan sejak usia 40 tahun dengan kelompok usia terbanyak yaitu 50-59, dan ≥ 60 tahun (31,8%). Tumor ganas lambung lebih banyak ditemukan pada laki-laki (70,5%). Gejala klinis yang paling sering ditemukan yaitu nyeri epigastrik (50%), dan faktor risiko terbanyak adalah gastritis kronis (47,7%). Karsinoma merupakan diagnosis histopatologi yang paling sering ditemukan pada penelitian ini sebanyak 54,5%. Jumlah kasus tumor ganas lambung mengalami peningkatan secara signifikan mulai dari usia 40 tahun dengan faktor risiko tersering adalah gastritis kronis sehingga disarankan kepada klinisi untuk melakukan pencegahan primer dengan cara penyuluhan dengan eradikasi H. pylori. DOI : 10.35990/mk.v4n2.p98-109
GAMBARAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SISWA SEKOLAH DASAR PADA PROGRAM USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH Sri Sarwendah; Rahmadaniah Khaerunnisa; Rhabiah El Fithriyah; Vianira Devi; Myrna Nurlatifah Zakaria
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.533 KB)

Abstract

Kesehatan gigi, dan mulut pada anak di Indonesia masih perlu mendapatkan perhatian yang serius dari tenaga kesehatan. Upaya untuk mengatasi masalah kesehatan gigi pada anak salah satunya adalah Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang terbagi menjadi tahap optimal, standar, dan minimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status kebersihan gigi, dan mulut siswa Sekolah Dasar usia 12 tahun pada program UKGS tahap optimal, standar, dan minimal. Pemilihan sekolah dilakukan secara cluster random sampling. Sampel penelitian adalah seluruh siswa usia 12 tahun di Sekolah Dasar terpilih di wilayah kerja Puskesmas Cianjur Kota dengan jumlah total 60 siswa yang memenuhi kriteria inklusi, dan diambil data dengan sistem Oral Hygiene Index Simplified (OHII-S). Data diolah secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa median indeks OHI-S pada sekolah dengan UKGS tahap optimal sebesar 1,5; tahap standar sebesar 1,67; dan tahap minimal sebesar 1,5. Tidak terdapat perbedaan yang besar antara ketiga program UKGS yang berbeda, hal ini dapat disebabkan beberapa faktor seperti, kurang maksimalnya pelaksanaan program UKGS, terbatasnya fasilitas sekolah, terbatasnya tenaga, dan waktu tenaga kesehatan, serta kurang kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan gigi, dan mulutnya. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa status kebersihan gigi siswa sekolah dasar usia 12 tahun pada UKGS tahap optimal, standar, dan minimal di wilayah kerja Puskesmas Cianjur Kota termasuk kategori sedang. DOI : 10.35990/mk.v4n2.p157-167
KETIDAKSESUAIAN KONDISI KLINIS DAN DIAGNOSIS MALARIA Lambok Siahaan; Restuty H Saragih
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.793 KB)

Abstract

Malaria masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Ketidaksesuaian hasil pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu masalah diagnosis yang sering dijumpai dalam praktik klinis. Pemeriksaan mikroskopis apusan darah pasien merupakan standar diagnosis malaria. Hasil pemeriksaan tersebut dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai spesies dan kepadatan parasit yang secara umum berkorelasi dengan kondisi klinis pasien. Manifestasi klinis penderita malaria bervariasi, bergantung pada beberapa faktor, seperti endemisitas daerah dan sistem imunitas tubuh penderita. Kepadatan parasit dan keterampilan pemeriksa sangat berpengaruh dalam mendeteksi parasit pada sampel darah penderita malaria tanpa gejala. Kami melaporkan kasus seorang pria Indonesia berusia 45 tahun yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Adam Malik, Medan pada tahun 2019, dengan demam intermiten, anemia dan beberapa keluhan lainnya. Pemeriksaan mikroskopis pada apusan darah secara serial tidak ditemukan adanya parasit. Namun pada pemeriksaan mikroskopis pada sediaan biopsi sumsum tulang menemukan benda yang diduga sebagai “plasmodium”. Pasien dinyatakan menderita penyakit malaria berdasarkan hasil biopsisumsum tulang dan kondisi klinis pasien serta mendapatkan obat antimalaria. Namun kondisi klinis pasien tidak mengalami perubahan yang signifikan. Tatalaksana penyakit lain juga diberikan berdasarkan diagnosis penyakit penyerta lainnya dan menunjukkan perbaikan, walaupun lambat. Perbedaan hasil pemeriksaan laboratorium dan kondisi klinis pasien bisa saja terjadi dalam praktik klinis. Keputusan klinis suatu penyakit sebaiknya dibuat berdasarkan standar diagnosis penyakit tersebut. DOI : 10.35990/mk.v4n3.p220-229
PENGARUH EKSTRAK ETANOL RIMPANG KUNYIT (Curcuma Longa) TERHADAP PEMERIKSAAN HEMOSTASIS DARAH Rini Roslaeni; Raya Agung Maha Sakti; Mochamad Fathan Zulfahmi; Maharany Rizky Yuniar; Evi Sovia; Wahyu Harihardjaja; Anita Liliana Susanti
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.786 KB)

Abstract

Kunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman obat yang banyak terdapat di Asia, sering digunakan sebagai bumbu ataupun obat tradiosional. Tanaman kunyit memiliki akar (rimpang)berwarna kuning tuadan mengandung senyawa penting, diantaranya curcumindan ar-tumeron yang berperan dalam menghambat pembekuan darah. Saat ini salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia adalah penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Potensi kunyit yang dapat bersifat antikoagulan diharapkan menjadi alternatif pencegahan penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek ekstrak etanolrimpang kunyit secara in vivoterhadap bleeding time(BT), dan secara in vitroterhadap prothrombin time(PT) dan retraksi bekuan. Uji in vitromenggunakan sampel darah manusia yang ditambahkan ekstrak rimpang kunyit,sedangkan uji in vivodengan cara memberikan ekstrak rimpang kunyit secara per oral terhadap mencit. Pemeriksaan PT menggunakan metode tilt tube, pemeriksaan retraksi bekuan menggunakan whole bloodlalu didiamkan selama 2 jamdan dihitung sisa serumnya (volume serum/volume darah awal x100%), sedangkan pemeriksaan BT dilakukan dengan menginsisi ekor tikus. Hasil penelitian menunjukkan rerata PTdan BT memanjang pada semua semua kelompok uji.Semakin besar dosis ekstrak rimpang kunyitmaka semakin memanjang nilai PT dan BT. Retraksi bekuan pada kelompok uji menunjukkan rerata persentase serum yang rendah dibandingkan kontrol negatif, dan semakin besar dosis ekstrak yang diberikan maka semakin rendah nilai retraksi bekuannya. Hal tersebut diduga karena zat-zat aktif seperticurcumindan ar-tumerondapat menghambat proses pembekuan darah sehingga memengaruhi hasil pemeriksaan hemostasis darah. DOI : 10.35990/mk.v4n3.p280-292

Page 5 of 27 | Total Record : 261


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 3 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 2 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 1 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 4 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan (Edisi PIT FK Unjani 2024) Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan (Edisi PIT FK Unjani) Vol 6 No 4 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 3 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 4 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 3 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol 4 No 5 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 4 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018): Medika Kartika Edisi PIT 10 Kedokteran Gigi Vol 2 No 1 (2018): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan 2018 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2017): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan More Issue