cover
Contact Name
Nur Aini Retno Hastuti, SST., M.Keb
Contact Email
nurainiretno@ub.ac.id
Phone
+6285642140459
Journal Mail Official
joim@ub.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Issues in Midwifery
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 25496581     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Journal of Issues in Midwifery (JOIM) adalah jurnal online dalam bidang kebidanan yang dikelola oleh Jurusan kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang Indonesia. JOIM terbit tiga kali dalam setahun pada periode bulan April - Juli , Agustus - November , dan Desember - Maret dan memuat berbagai artikel sebagai hasil penelitian utuh, tinjauan pustaka, laporan kasus dan komunikasi singkat dalam bidang kebidanan.
Articles 117 Documents
Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Menghambat Flexi Cranial Embrio Ayam Umur 48 Jam Anggraeni, Yessy Mulyanur; Rahardjo, Bambang; Rahayu, Indriati Dwi
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2020.004.03.3

Abstract

Embryonic development forms three layers of germinativum that is endoderm, mesoderm and ectoderm. At the beginning of intrauterine fetus exchange of substances through diffusion, but in line with the development of the embryo, nutrition is not obtained through diffusion alone. Endoderm lining mesoderm cells will then be formed angioblasts as an early sign of vascularity. In the development of flexi cranial can be known from the development of the brain and heart which is characterized by bending the head of the embryo and decreased heart from the cranial down. The development of a normal vascular system will have an effect on organogenesis and morphogesis processes. If there are disturbances in the process of growth and development at that stage can cause congenital abnormalities. Xanthones mangosteen peel is rich in benefits, but in research on the effects of xanthones on embryos is still very limited and has not been able to explain their effects on the condition of the fetus. The study was conducted with the aim to determine the effect of mangosteen peel extract inhibiting the flexi cranial of 48 hours chicken embryos using doses of 100 µg/mL, 150 µg/mL and 200 µg/mL. Mangosteen peel extract is injected into chicken eggs less than 7 days after oviposition then incubated for 48 hours. The results showed that mangosteen peel extract inhibited flexi cranial of chicken embryos with Chi-Square test results (p = 0.002). The conclusion of the study was that exposure to mangosteen peel extract inhibited flexi cranial and gave significant results.
Pengaruh Video Modelling terhadap Kemampuan Toileting pada Anak Usia Toddler di Kelompok Belajar Permata Bunda Padasan Ryandini, Tiara Putri; Pitaloka, Dyah; Astuti, Novia Dwi
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2021.005.01.3

Abstract

Pada masa toddler inilah waktu yang tepat bagi orang tua untuk mengajarkan anak dalam melakukan toileting. Anak yang belum dapat melakukan toileting dengan benar karena kemampuan anak yang masih belum adekuat seperti, belum terbiasa untuk duduk atau jongkok di toilet, belum bisa melepas celananya sendiri, serta ada anak yang belum mengetahui cara toileting, membutuhkan suatu metode atau cara yang mudah dimengerti oleh anak dalam mengajarkan toileting, salah satunya yaitu dengan video modelling. Penelitian ini menggunakan desain Analitik Experimen Design dengan jenis one-group pretest-posttest design yang dilakukan pada 34 responden. Tehnik pengambilan sample menggunakan probability sampling dengan metode Simple random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner kemampuan Toileting dan video Modelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan toileting anak sebelum diberikan videio modeling sebagian besar responden memiliki kemampuan cukup, dan setelah diberikan video modelling hampir seluruh responden memiliki kemampuan baik. Hal ini dibuktikan dengan uji wilcoxon diperoleh nilai p = 0,000 (α < 0,05) dimana 0,000 < 0,05  maka ada  pengaruh video modelling terhadap kemampuan toileting  anak usia toddler di Kb Permata Bunda Padasan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa video modelling dapat digunakan sebagai alternatif untuk media pembelajaran toileting pada anak usia toddler
Hubungan Status Gizi dan Konsumsi Junk Food dengan Menarche Dini Pada Remaja Awal (Studi Kasus di 3 Sekolah Dasar Kota Malang) Arifin, Nur Annisah; Fatmawati, Fatmawati; Fahmi, Ilmia
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2020.004.02.4

Abstract

Pada masa remaja terjadi proses pematangan organ-organ reproduksi manusia dan biasa disebut masa pubertas. Pada perempuan, pubertas dapat ditandai dengan datangnya menstruasi (menarche). Menarche ialah saat seorang perempuan pertama kali mengalami menstruasi. Usia menarche dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu genetika, nutrisi, aktivitas fisik, faktor lingkungan, pengaruh arus komunikasi, dan globalisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dan konsumsi junk food dengan usia menarche pada remaja putri di 3 sekolah dasar kota Malang. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel dari penelitian ini adalah siswi sekolah dasar yang berumur 10-12 tahun dan yang sudah menstruasi di 3 SD Kota Malang (n=64) yang dipilih dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata usia menarche adalah 10,67±1,07 tahun. Dari uji statistik dengan korelasi Spearman ada hubungan antara status gizi dengan menarche dini dengan nilai p-value (<0,05), selain itu tidak terdapat hubungan antara konsumsi junk food dengan menarche dini dengan nilai p-value (>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara status gizi konsumsi junk food dengan menarche dini.
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans SECARA IN VITRO Amir, Nayla Nabilla Tahta Avwina; Winarsih, Sri; Rahardjo, Bambang
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2021.005.02.3

Abstract

The most common cause of patalogis leucorrhoea is infection, one of which is Vulvovaginal Candidiasis (VVC) caused by fungus, while 80% -90% is caused by Candida albicans. Approximately 90% of young women in Indonesia have the potential to experience vaginal discharge because Indonesia is a tropical climate. Alternative treatment for antifungal drugs is needed through the exploration of natural material sources that have the potential as antifungals to deal with this infection safely and easily. The design used in this study was experimental research by in vitro using the dilution method of the tube. Treatment concentrations are 45%; 40%; 35%; 30%; 25%; 20%, 15% and 0% with Candida albicans 104 CFU / ml samples from the microbiology lab of the medical faculty Brawijaya University and repeated 3 times. The result showed that at all concentrations, growth was still obtained in agar media so that it could be denied that the boiled water of avocado seeds had no effect on the growth of Candida albicans fungal colonies in vitro because there were still fungal colonies on the plates.
Hubungan antara Frekuensi dan Durasi Diare dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-36 Bulan di Desa Kedungrejo Kecamatan Pakis Choiroh, Zakiya Miladya; Windari, Era Nurisa; Proborini, Astri
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2020.004.03.4

Abstract

Stunting adalah keadaan dimana terjadi gangguan pertumbuhan panjang badan atau tinggi badan yang tidak sesuai dengan pertambahan usia. Riwayat penyakit infeksi merupakan salah satu faktor langsung yang dapat menyebabkan keadaan ini. Diare adalah salah satu penyakit infeksi yang apabila terjadi terus menerus dapat menyebabkan penurunan kadar cairan dalam tubuh secara bermakna sehingga menimbulkan gangguan dalam penyerapan zat gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi dan durasi diare dengan kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan. Penelitian menggunakan desain case control dengan subjek kelompok kasus adalah balita stunting dengan ibunya sedangkan kelompok kontrol adalah balita tidak stunting dengan ibunya di Desa Kedungrejo Kecamatan Pakis dengan jumlah 24 untuk masing-masing kelompok. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran antropometri pada balita dan ibu diwawancarai menggunakan kuesioner riwayat kejadian diare yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 subjek, persentase balita usia 24-36 bulan yang memiliki riwayat frekuensi diare sering adalah 14,5% (7 anak) dan persentase balita yang memiliki rerata durasi diare panjang adalah 33,3% (16 anak). Hasil uji statistik menunjukkan frekuensi diare tidak berhubungan signifikan (p = 1,000) namun meningkatkan risiko stunting sebesar 1,4 kali, sedangkan durasi diare berhubungan signifikan (p = 0,030) dan meningkatkan risiko stunting sebesar 5,0 kali.Kata kunci: stunting, frekuensi diare, durasi diare, balita
PENGARUH PEMBERIAN SARI TOMAT (Solanum lycopersicum L) DAN INSULIN TERHADAP KADAR GLUKOSA, KADAR LDL, KADAR KOLESTEROL DAN BERAT BADAN LAHIR TIKUS PUTIH STRAIN WISTAR (Rattus Norvegicus) BUNTING DENGAN MODEL DIABETES MELLITUS TIPE 2 Savitri, Faradea Ubaidurrohmah; Safitri, Risma Andani Ayu; Maharani, Wening Pangesthi; Andriani, Lela Dwi; Kalsum, Umi; Proborini, Astri; Reksohusodo, Subandi; Dian Hanifarizani, Rahma
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2021.005.01.2

Abstract

Diabetes Mellitus is a chronic disease caused by abnormal working insulin, insulin secretion or both so that the body tends to have high glucose levels. Type 2 diabetes mellitus can cause elevated levels of LDL and cholesterol. Risks obtained by fetuses with type 2 diabetes can be in the form of macrosomia due to hyperglycemia and hyperinsulin in the body of the fetus. Insulin is the first choice pharmacological therapy for type 2 DM that can be given during pregnancy. Non-pharmacological therapy as recommended by the World Health Organization (WHO) on a healthy diet by increasing consumption of fruits and vegetables. Good fruit consumed for pregnant women with diabetes mellitus (DM) type 2 is tomatoes (Solanum lycopersicum L). The purpose of this study was to determine the administration of tomato extract (Solanum lycopersicum L) and insulin can affect glucose levels, LDL levels, cholesterol levels and birth weight of white wistar strain (Rattus norvegicus) pregnant women with type 2 diabetes mellitus models. experimental design using the pre post test only control group design and post test only control group design. Termination was done on the 17th day of pregnancy and then followed by measurements of LDL levels, cholesterol and birth weight. Data analysis using the One Way Anova test and Kruskal Wallis then continued with the Post Hoc test using. The results showed that there were significant differences between glucose levels, LDL levels, cholesterol levels and BW born in the insulin treatment group and the tomato juice treatment (p value = 0.00 <α = 0.05). The conclusion of giving insulin and tomato juice affects a decrease in glucose levels, LDL levels, cholesterol levels and birth weight.
Hubungan Kadar Soluble FMS-Like Tyrosine Kinase 1 (sFlt-1) Ibu Preeklampsia Dengan Berat Badan Lahir Bayi Sabrin, Gusriani; Sunardi, Wahida; Noviyanti, Nur Indah
-
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2020.004.02.5

Abstract

Soluble Fms like tyrosine kinase 1 (sFlt-1) is one of the markers that play a role in the pathogenesis of pregnancy induced hypertension. The aims of the research were to determine the relationship beteween sFlt-1 level and birth weight. The samples were preeclampsia inpartu consisting of 22 peopole,, and normal pregnancy women consisting of 18 people. Analytic observational study with cross sectional was conducted. The level of sFlt-1 was examined using ELISA. Statistic analysis used Kruskal Wallis test, One way Anova test and Pearson correlation test.The result indicate that the characteristics of research subject in preeclampsia group and control group do not have a significant difference (p>0.05).The negative linear relationship occured between sFlt-1 level with birth weight in preeclampsia (p=0,015). While, in the group of normal pregnancy was not available of the relationship either sFlt-1 level with birth weight (p>0.05).
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Biji Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Jumlah Folikel Preantral, Antral dan Berat Ovarium Tikus Putih Betina (Rattus norvegicus) Galur Wistar Diah Ayuningtyas; Kenty Wantri Anita; Yahya Irwanto
Journal of Issues in Midwifery Vol. 6 No. 2 (2022): Vol. 6 No. 2
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2022.006.02.1

Abstract

Biji Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu bagian tanaman pepaya yang digunakan sebagai obat tradisional. Bahan aktif yang terdapat pada biji pepaya ini dapat mempengaruhi hormon yang dibutuhkan dalam perkembangan folikel ovarium sehingga berpengaruh pada berat ovarium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol biji terhadap jumlah folikel dan berat ovarium tikus putih betina galur wistar. Studi eksperimental menggunakan randomised post test only control group design dilakukan terhadap hewan coba tikus putih betina (Rattus norvegicus) galur Wistar. Pembagian kelompok meliputi kontrol (K) (0 mg/g BB), perlakuan 1 (P1) (0,1 mg/g BB), perlakuan 2 (P2) (0,2 mg/g BB), dan perlakuan 3 (P3) (0,3 mg/g BB). Parameter dalam penelitian ini meliputi jumlah folikel (folikel preantral dan antral) dan berat ovarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan jumlah dosis ekstrak etanol biji pepaya yang diberikan tidak berbeda secara signifikan pada penurunan jumlah folikel preantral (p-value=0,974), namun berpengaruh secara signifikan pada penurunan jumlah folikel antral (p-value=0,044). Terbukti adanya perbedaan rerata berat ovarium yang signifikan pada kenaikan dosis ekstrak etanol biji pepaya yang diberikan kepada tikus putih betina (p-value=0,003). Hasil uji korelasi Rank Spearman yang bermakna hanya ditunjukkan dari hubungan dosis perlakuan dan jumlah folikel antral (p-value=0,016). Kesimpulan: pemberian ekstrak etanol biji pepaya terbukti dapat mempengaruhi penurunan jumlah folikel antral, namun tidak terbukti menurunkan jumlah folikel preantral dan berat ovarium tikus putih betina galur wistar. Dosis ekstrak etanol biji pepaya yang memiliki pengaruh paling besar terhadap jumlah folikel antral tikus putih betina pada dosis 0,3 mg/g BB.
Literature Review: Efektivitas Aromaterapi Lavender (Lavandula angustifolia) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Menstruasi Helsa Salsabila; Lilik Indahwati; Dian Kusumaningtyas
Journal of Issues in Midwifery Vol. 6 No. 2 (2022): Vol. 6 No. 2
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2022.006.02.2

Abstract

ABSTRACT Menstruation is the process of removing blood and mucosal tissue from the inner lining of the uterus through the vagina regularly. Women sometimes feel pain when menstruating. Menstrual pain that interfere with daily activities can be treated pharmacologically and non pharmacologically. Lavender aromatherapy is a non pharmacological treatment method that can provide a relaxing effect and reduce the pain. In addition, lavender aromatherapy is cheap, safe, and easy to obtain. The purpose of this study was to analyze the literature on the effectiveness of using lavender aromatherapy to reduce the intensity of menstrual pain. This reserach is a literature review by analizing 12 literature obtained through the Google Scholar database, PubMed, Sinta and Garuda Dikti Portal. Four literatures describe the use of lavender aromatherapy with massage techniques, while 8 other literatures use inhalation techniques. The results of research from all of the literature state that lavender aromatherapy can reduce the intensity of menstrual pain effectively and recommend the use of lavender aromatherapy as safe alternative treatment to reduce menstrual pain because there are no side effects reported and it is easy to use. The use of lavender aromatherapy with massage techniques is more effective than inhalation. This is because the effect that will be received by users is more, namely the massage mechanism which makes blood flow smoother and lavender aromatherapy oil which provides a relaxing effect. Key words: Menstrual pain, Lavender aromatherapy, Non pharmacological treatment. ABSTRAK Menstruasi merupakan proses pengeluaran darah dan mukosa jaringan dari lapisan dalam uterus melalui vagina secara teratur. Perempuan terkadang merasa nyeri ketika sedang mengalami menstruasi. Nyeri menstruasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari dapat diobati secara farmakologis maupun non farmakologis. Aromaterapi lavender merupakan salah satu metode pengobatan non farmakologis yang dapat memberikan efek relaksasi dan menurunkan nyeri yang dirasakan. Selain itu, aromaterapi lavender tergolong murah, aman, dan mudah didapat. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis literatur mengenai efektivitas penggunaan aromaterapi lavender terhadap penurunan intensitas nyeri menstruasi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (literature review) dengan menganalisis 12 literatur yang diperoleh melalui database Google Scholar, PubMed, Sinta dan Portal Garuda Dikti. Empat literatur menjelaskan penggunaan aromaterapi lavender dengan teknik masase, sedangkan 8 literatur lainnya dengan teknik inhalasi. Hasil penelitian dari seluruh literatur tersebut menyatakan bahwa aromaterapi lavender dapat menurunkan intensitas nyeri menstruasi secara efektif dan menganjurkan penggunaan aromaterapi lavender sebagai pengobatan alternatif yang aman untuk mengurangi nyeri menstruasi karena tidak ada efek samping yang dilaporkan dan mudah digunakan. Penggunaan aromaterapi lavender dengan teknik masase lebih efektif dibandingkan inhalasi. Hal ini disebabkan karena efek yang akan diterima oleh pengguna lebih banyak, yaitu dari mekanisme masase yang membuat aliran darah menjadi lebih lancar dan minyak aromaterapi lavender yang memberikan efek menenangkan.   Kata kunci: Nyeri menstruasi, Aromaterapi lavender, Pengobatan non farmakologis.
Literature Review: Pengaruh Relaktasi Suplementer Dikombinasikan Dengan Metode “SPEOS” (Stimulasi Pijat Endorfin, Oksitosin, Dan Sugestif) Terhadap Durasi Relaktasi Pada Ibu Menyusui Lidya Drajat Pramesti; Mustika Dewi; Mergy Gayatri
Journal of Issues in Midwifery Vol. 6 No. 2 (2022): Vol. 6 No. 2
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2022.006.02.3

Abstract

Background: Breast milk is the main source of nutrition for infants, especially for those aged 6 months because complementary feeding is not recommended at this stage. Breast milk contains a combination of fat, protein, vitamins, carbohydrates, minerals, and antibodies which have benefits for both mother and baby. There are various methods of relactation including the Stimulation of Endorphin Massage, Oxytocin, and Suggestive method (SPEOS). The SPEOS method is a combination of endorphin massage stimulation, oxytocin massage, and suggestive. Massage stimulation stimulates the release of endorphins and oxytocin as well as giving suggestive effect from the SPEOS method, it will cause a feeling of calm and strong confidence among mother so that it will affect the let down reflex. Let down reflex in breasfeeding is important because it can affect milk production and thus affect the duration of relactation itself. Objective: To determine the effect of supplementary relactation combined with the SPEOS method on the duration of relactation. Methods: 10 journal articles regarding relactation and SPEOS method published between 2010-2020 were included in the study. Results: The 10 articles suggested that the duration of supplementary relactation is 7-14 days to 5 weeks with a span of 3 to 4 days of breastfeeding after the intervention. Giving the SPEOS method which is carried out for 30 minutes every day for 3 to 10 days can help speed up the duration of breastfeeding by increasing the average number of women who experience breastfeeding 24 hours after the intervention. Conclusion: The SPEOS method can affect the duration of relactation by speeding up the time of expulsion of breast milk.Latar Belakang: Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber utama pemenuhan nutrisi pada bayi, terutama pada bayi berumur ≤ 6 bulan dimana penggunaan asupan komplementer tidak direkomendasikan pada usia tersebut. Kandungan ASI terdiri dari kombinasi lemak, protein, vitamin, karbohidrat, mineral, dan zat antibodi yang memiliki manfaat baik untuk ibu dan bayinya. Metode relaktasi yang dapat digunakan salah satunya yaitu metode SPEOS (Stimulasi Pijat Endorfin, Oksitosin, dan Sugestif). Metode SPEOS adalah penggabungan dari stimulasi pijat endhorpin, pijat oksitosin, dan sugestif. Stimulasi pijatan yang merangsang pengeluaran endorfin dan oksitosin serta pemberian afirmasi positif dari metode SPEOS akan menimbulkan perasaan tenang dan keyakinan yang kuat pada ibu sehingga akan mempengaruhi refleks let down. Refleks let down pada proses menyusui berperan penting dikarenakan dapat mempengaruhi pengeluaran ASI sehingga mempengaruhi durasi dari relaktasi itu sendiri. Tujuan: Agar mengetahui pengaruh relaktasi suplementer yang dikombinasikan dengan metode SPEOS terhadap durasi relaktasi. Metode: 10 artikel jurnal yang menjelaskan tentang relaktasi dan metode SPEOS yang diterbitkan tahun 2010-2020 digunakan dalam penelitian. Hasil: 10 artikel jurnal menjelaskan bahwa durasi pemberian relaktasi suplementer dilakukan selama 7-14 hari hingga 5 minggu dengan rentang waktu pengeluaran ASI 3 hingga 4 hari pasca intervensi. Pemberian metode SPEOS yang dilakukan selama 30 menit setiap harinya selama 3 hingga 10 hari dapat membantu mempercepat durasi pengeluaran ASI dengan cara meningkatkan rata-rata wanita yang mengalami pengeluaran ASI 24 jam pasca intervensi Kesimpulan: Metode SPEOS dapat mempengaruhi durasi relaktasi dengan cara mempercepat waktu pengeluaran ASI.

Page 7 of 12 | Total Record : 117