cover
Contact Name
Suniya Dewi
Contact Email
suniyadewi0285@gmail.com
Phone
+6281804125177
Journal Mail Official
info@balimedikajurnal.com
Editorial Address
Jl Kecak No. 9A Gatot Subroto Timur, Denpasar, Bali, Indonesia 80239
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Bali Medika Jurnal
ISSN : 26157047     EISSN : 26146517     DOI : https://doi.org/10.36376/bmj
Core Subject : Health,
BMJ bertujuan memprakarsai dan merangsang penelitian berdampak tinggi dan inovatif yang relevan bagi akademisi dan praktisi di industri kesehatan. Audiensi publikasi ini utamanya terdiri dari akademisi, mahasiswa pascasarjana, praktisi dan semua yang tertarik pada bidang penelitian kesehatan. Jurnal ini menerima artikel dari para praktisi dan akademisi serta penelitian kualitatif dan kuantitatif. Setiap makalah akan dinilai berdasarkan standar nasional, orisinalitas / inovasi kertas, kontribusi terhadap pengetahuan, relevansinya dengan subjek dan kualitas penyajiannya. Makalah-makalah tersebut akan direview oleh mitra bestari yang kredibel dan dapat dipercaya.
Articles 225 Documents
Pengaruh Edukasi dan Simulasi Menghentikan Perdarahan pada Remaja Sekolah Anas, Fauriza Hayatul; Suandika, Made; Dewi, Feti kumala
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.408

Abstract

Perdarahan adalah suatu kondisi dimana darah berlebih keluar dari pembuluh darah akibat kerusakan pembuluh darah. Kabupaten Banyumas dikenal sebagai daerah dengan frekuensi kejadian cedera tertinggi, tercatat sebanyak 4.058 kejadian. Pengabdian masyarakat ini dirancang untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan perdarahan. Program ini melibatkan 30 peserta dari PMR MAN 1 Banyumas. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi penilaian pengetahuan pre-test dan post-test dan demonstrasi menggunakan lembar ceklis. Metode edukasi yaitu penyuluhan dan ceramah dan metode keterampilan yaitu dilakukan dengan cara mendemosrtrasikan, sedangkan media yang digunakan power point,video dan leaflet. Hasil analisis data dengan distribusi frekuensi SPSS menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Sebelum edukasi, terdapat 17 peserta (57%) dengan tingkat pengetahuan cukup, dan setelah edukasi, meningkat menjadi 27 peserta (90%) dengan kategori pengetahuan baik, dengan kenaikan pengetahuan sebesar 21,33%. Keterampilan siswa juga menunjukkan hasil yang cukup signifikan hal ini di tandai dengan ketegori tarampil 73,3%. Kegiatan PkM pertolongan pertama tatalaksana menghentikan perdarahan secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan peserta, dengan mayoritas peserta mencapai tingkat yang baik setelahan penyuluhan. Namun untuk keterampilan (skills) mayoritas peserta, yaitu lebih dari dua pertiga, memiliki keterampilan yang memadai atau baik. Hanya sekitar seperempat dari total peserta yang dianggap kurang terampil. Menunjukkan peningkatan berdasarkan hasil dari presentase pre-test, post-test dan keterampilan yang telah dilakukan.   Hemorrhage is a condition where excess blood comes out of the blood vessels due to damage to the blood vessels. Banyumas Regency is known as the area with the highest frequency of injuries, recorded at 4,058 incidents. This community service is designed to expand knowledge and skills in providing first aid to stop bleeding. This program involved 30 participants from PMR MAN 1 Banyumas. The methods used in this community service include pre-test and post-test knowledge assessment and demonstration using a checklist sheet. The educational method is counseling and lectures and the skill method is done by demonstrating, while the media used are power point, video and leaflet. The results of data analysis with SPSS frequency distribution showed an increase in participants' knowledge. Before education, there were 17 participants (57%) with a moderate level of knowledge, and after education, it increased to 27 participants (90%) with a good knowledge category, with an increase in knowledge of 21.33%. Students' skills also showed significant results, marked by 73.3% skilled category. PkM activities for first aid management to stop bleeding significantly increased the knowledge of participants, with the majority of participants reaching a good level after counseling. However, for skills, the majority of participants, more than two-thirds, had adequate or good skills. Only about a quarter of the total participants were considered less skilled. Showing improvement based on the results of the pre-test, post-test and skills percentages that have been conducted.
Hubungan IMT dan Usia Terhadap Waktu Pulih Sadar Menggunakan Laryngeal Mask Airway Hasanah, Sintiya; Yudono, Danang Tri; Suandika, Made
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.409

Abstract

Pemulihan kesadaran pasca general anestesi merupakan indikator penting dalam penilaian efektivitas anestesi dan keselamatan pasien. Faktor-faktor seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) dan usia pasien diduga mempengaruhi waktu pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan kesadaran setelah general anestesi menggunakan Laryngeal Mask Airway (LMA) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Studi ini bersifat deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 127 pasien yang menjalani general anestesi dengan LMA selama periode November 2023 hingga Oktober 2023. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan observasi langsung di Unit Perawatan Pasca Anestesi (PACU). Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan. Sebagian besar responden (52,8%) memiliki berat badan normal, dan 23,6% berada pada kategori usia lansia akhir (56-65 tahun). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan signifikan antara IMT dan waktu pemulihan (r = 0,497, p < 0,001), serta antara usia dan waktu pemulihan (r = 0,389, p < 0,001). Analisis regresi multivariat mengonfirmasi bahwa IMT dan usia merupakan prediktor signifikan waktu pemulihan kesadaran. Terdapat hubungan signifikan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan kesadaran pasca general anestesi menggunakan LMA. Temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan profil IMT dan usia dalam pengelolaan dosis anestesi dan perencanaan pemulihan pasien.   Recovery of consciousness after general anesthesia is an important indicator in assessing the effectiveness of anesthesia and patient safety. Factors such as Body Mass Index (BMI) and patient age are thought to affect recovery time. This study aims to explore the relationship between BMI and age with recovery time after general anesthesia using Laryngeal Mask Airway (LMA) at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. This study is descriptive correlational with a quantitative approach and cross-sectional design. The sample consisted of 127 patients who underwent general anesthesia with LMA during the period from November 2023 to October 2023. Data were collected through medical records and direct observation in the Post Anesthesia Care Unit (PACU). Statistical analysis used the Spearman correlation test to examine the relationship between BMI and age with recovery time. Most respondents (52.8%) had normal body weight, and 23.6% were in the late elderly age category (56-65 years). The results of the correlation test showed a significant relationship between BMI and recovery time (r = 0.497, p < 0.001), and between age and recovery time (r = 0.389, p < 0.001). Multivariate regression analysis confirmed that BMI and age were significant predictors of recovery time. There was a significant relationship between BMI and age with recovery time after general anesthesia using LMA. These findings highlight the importance of considering BMI and age profiles in managing anesthetic doses and patient recovery planning.
Efektivitas Program Pendidikan Berkelanjutan: Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan bagi Perawat Hardiansah, Yayan; Sismulyanto; Fanani, Akhmad
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.433

Abstract

Pendidikan berkelanjutan bagi perawat merupakan elemen krusial dalam menjaga dan meningkatkan kompetensi profesional mereka, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pendidikan berkelanjutan yang mengintegrasikan metode e-learning dan pelatihan konvensional dalam meningkatkan kompetensi perawat serta kepuasan perawat dan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan seluruh populasi perawat di lokasi penelitian sebanyak 48 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah divalidasi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,85. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Chi-Square untuk menguji signifikansi temuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan perawat setelah mengikuti program pendidikan berkelanjutan, dengan skor rata-rata meningkat dari 65,2 pada pretest menjadi 84,5 pada posttest (p < 0,05). Selain itu, kepuasan perawat terhadap program pendidikan meningkat hingga 96%, dan kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan meningkat menjadi 55% (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi e-learning dan metode pendidikan tradisional efektif dalam meningkatkan kompetensi perawat serta meningkatkan kepuasan perawat dan pasien. Penelitian ini merekomendasikan penerapan e-learning sebagai bagian integral dari program pendidikan berkelanjutan dan menyarankan pengembangan kebijakan yang mendukung akses universal terhadap pendidikan ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara nasional.   Continuing education for nurses is a critical element in maintaining and enhancing their professional competencies, which in turn impacts the quality of healthcare services. This study aims to evaluate the effectiveness of a continuing education program that integrates e-learning and conventional training methods in improving nurses' competencies, as well as nurse and patient satisfaction. The research employed an analytical survey with a cross-sectional approach, involving the entire population of nurses at the study site, totaling 48 respondents. The research instrument consisted of a validated questionnaire with a Cronbach’s Alpha value of 0.85. Data analysis was conducted using Paired Sample T-Test and Chi-Square tests to assess the significance of the findings. The results indicated a significant increase in nurses' knowledge post-intervention, with mean scores rising from 65.2 in the pretest to 84.5 in the posttest (p < 0.05). Additionally, nurse satisfaction with the education program increased to 96%, and patient satisfaction with the quality of nursing care rose to 55% (p < 0.05). These findings suggest that the integration of e-learning and traditional education methods is effective in enhancing nurses' competencies and increasing satisfaction among both nurses and patients. The study recommends the implementation of e-learning as an integral component of continuing education programs and advocates for the development of policies that support universal access to such education to improve the overall quality of national healthcare services.
Self-Efficacy dan Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Keperawatan Dewi, Putu Indah Kristina; Istiarini, Ch Hatri; Haryanti, Priyani; Sari, Ignasia Yunita
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.443

Abstract

Quarter life crisis adalah periode transisi kritis yang sering dialami oleh mahasiswa, ditandai oleh kekhawatiran, kegelisahan, dan kurangnya kepercayaan diri. self-efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan mereka dalam mengatasi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara self-efficacy dan quarter life crisis pada mahasiswa tingkat IV Program Studi Sarjana Keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif-korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 75 mahasiswa tingkat IV yang dipilih melalui total sampling. Data dikumpukan menggunakan kuesioner tertutup yang terdiri dari General Self-Efficacy Scale (GSES) dan Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Analisis data dilakukan menggunakan uji spearmanrank.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48.0% responden memiliki tingkat self-efficacy tinggi, sementara 45.3% mengalami quarter life crisis pada tingkat sedang. Analisis spearmanrank mengindikasikan adanya hubungan negatif yang kuat antara self-efficacy dan quarter life crisis (p < 0,000;koefisian korelasi = -0,666). Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan self-efficacy dalam membantu mahasiswa mengatasi quarter life crisis. Intervensi berbasis peningkatan self-efficacy seperti program bimbingan konseling, dapat menjadi strategi efektif untuk kesejahteraan psikologis mahasiswa.   Quarter life crisis is a critical transition period often experienced by college students, characterized by worry, anxiety, and lack of self-confidence. Self-efficacy is an individual's belief in their ability to overcome challenges. This study aims to investigate the relationship between self-efficacy and quarter life crisis in fourth-year students of the Bachelor of Nursing Study Program. This study used a quantitative-correlation design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 75 fourth-year students selected through total sampling. Data were collected using a closed questionnaire consisting of the General Self-Efficacy Scale (GSES) and the Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Data analysis was performed using the Spearman Rank test. The results showed that 48.0% of respondents had a high level of self-efficacy, while 45.3% experienced a moderate level of quarter life crisis. Spearman Rank analysis indicated a strong negative relationship between self-efficacy and quarter life crisis (p <0.000; correlation coefficient = -0.666). These findings underscore the importance of developing self-efficacy in helping students cope with quarter-life crisis. Self-efficacy-based interventions, such as counseling programs, can be an effective strategy for students' psychological well-being.
Efektifitas Video Edukasi Dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang TRIAD KRR Andani, Ni Komang Septi; Dewi, I Gusti Agung Ayu Novya; Wirata, I Nyoman
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.452

Abstract

Masalah kesehatan remaja di Indonesia seringkali disebabkan oleh perilaku berisiko seperti perkelahian, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, seksualitas pranikah, dan peningkatan kasus kehamilan tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan melalui media video terhadap peningkatan pengetahuan remaja mengenai Tiga Risiko Ancaman Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR). Studi ini menggunakan desain quasi-eksperimental pretest-posttest dengan kelompok kontrol, melibatkan 36 siswa kelas IX SMP Negeri 4 Negara yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dan dianalisis menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test untuk data berdistribusi normal serta uji Wilcoxon dan Mann-Whitney untuk data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan setelah intervensi pada kedua kelompok, dengan peningkatan yang lebih besar pada kelompok eksperimen yang menerima pendidikan berbasis video (nilai p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan melalui media video efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai TRIAD KRR, serta merekomendasikan penggunaan media audiovisual sebagai metode edukasi yang lebih menarik dan efektif di lingkungan sekolah.   Health problems of adolescents in Indonesia are often caused by risky behaviors such as fighting, alcohol consumption, drug use, premarital sexuality, and increasing cases of unwanted pregnancies. This study aims to evaluate the effect of health education through video media on increasing adolescent knowledge about the Three Basic Reproductive Health Risks This study used a quasi-experimental pretest-posttest design with a control group, involving 36 grade IX students of SMP Negeri 4 Negara who were selected randomly. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using the Paired T-Test and Independent T-Test for normally distributed data and the Wilcoxon and Mann-Whitney tests for non-normally distributed data. The results showed a significant increase in knowledge scores after the intervention in both groups, with a greater increase in the experimental group that received video-based education (p value <0.05). The conclusion of this study shows that health education through video media is effective in increasing adolescent knowledge about Three Basic Reproductive Health Risks, and recommends the use of audiovisual media as a more interesting and effective educational method in the school environment.
Picky Eating: Faktor Risiko Stunting pada Anak Prasekolah Sambo, Mery; Madu, Yunita Gabriela; Kamumu, Frederika; Rakay, Indah Winaria
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.457

Abstract

Picky eating merupakan perilaku makan selektif yang menjadi perhatian global karena hubungannya dengan malnutrisi dan stunting, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara picky eating dan stunting pada anak usia prasekolah di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif dengan total sampling sebanyak 166 anak usia 3-5 tahun. Perilaku makan diukur menggunakan kuesioner Child Eating Behavior Questionaire (CEBQ) dan status gizi dinilai berdasarkan standar WHO menggunakan microtoise. Data dianalisis dengan uji chi-square dan odds ratio (OR) dengan CI 95%. Anak dengan picky eating memiliki risiko stunting 43 kali lipat lebih tinggi (OR = 43; CI 95%). Sebanyak 65,06% anak menunjukkan perilaku picky eating, dan 47,59% mengalami stunting. Faktor lain yang memengaruhi adalah berat badan lahir rendah dan pendapatan orang tua di bawah UMR. Picky eating berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah. Hasil ini memfokuskan pentingnya edukasi orang tua tentang pola makan sehat dan perlunya intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi angka stunting.   Picky eating is a selective eating behavior that has become a global concern due to its association with malnutrition and stunting, especially in developing countries such as Indonesia. This study aims to identify the association between picky eating and stunting in preschool children in Lau District, Maros Regency. The study used a retrospective cohort design with a total sampling of 166 children aged 3-5 years. Eating behavior was measured using the Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) and nutritional status was assessed based on WHO standards using a microtoise. Data were analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) with 95% CI. Children with picky eating have a 43-fold higher risk of stunting (OR = 43; 95% CI). A total of 65.06% of children showed picky eating behavior, and 47.59% experienced stunting. Other influencing factors are low birth weight and parental income below the minimum wage. Picky eating is significantly associated with the incidence of stunting in preschool children. These results focus on the importance of educating parents about healthy eating patterns and the need for community-based interventions to reduce stunting rates.
Analisis Prevalensi Skoliosis Idiopatik pada Remaja Pasca Pendidikan Jarak Jauh Purwokusumo, R Haryo Nugroho; Hidayat, Anas Rahmad; Yulida, Rina
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.461

Abstract

Transformasi metode pembelajaran akibat pandemi COVID-19 telah mengubah pola aktifitas remaja secara signifikan dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, kondisi ini berpotensi memicu gangguan postur seperti skoliosis idiopatik, akibat postur yang kurang ideal saat belajar secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi dan faktor risiko skoliosis idiopatik pada 200 siswa SMP (usia 13-15 tahun) yang menjalani pembelajaran jarak jauh di lima sekolah. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kuantitaif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran sudut skoliosis menggunakan scoliometer dan pengukuran tinggi badan menggunakan stature meter. Selain itu, data responden juga diklasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Hasil menunjukkan bahwa 97% responden memiliki sudut Coob <5 derajat, yang menunjukkan skoliosis ringan. Hanya 1% responden yang memiliki sudut Coob ≥10 derajat, menunjukkan prevalensi skoliosis yang lebih tinggi tetapi jarang terjadi. Distribusi usia dan tinggi badan menunjukkan dominasi pada usia 13 tahun dan tinggi antara 150-154 cm. Temuan ini menggarisbawahi urgensi pengembangan protokol pembelajaran daring yang memperhatikan aspek ergonomis, serta pentingnya program skrining dan edukasi postur berbasis sekolah untuk mencegah progresivitas skoliosis pada remaja.   The transformation of learning methods due to the COVID-19 pandemic has significantly changed youth activity patterns from face-to-face to distance learning, this condition has the potential to trigger posture disorders such as idiopathic scoliosis, due to less than ideal posture when studying online. This study aims to analyze the prevalence and risk factors of idiopathic scoliosis in 200 junior high school students (aged 13-15 years) undergoing distance learning in five schools. This research uses a descriptive quantitative observational method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out by measuring the scoliosis angle using a scoliometer and measuring body height using a stature meter. Apart from that, respondent data was also classified based on age, gender and height. Results showed that 97% of respondents had a Coob angle of <5 degrees, indicating mild scoliosis. Only 1% of respondents had a Coob angle ≥10 degrees, indicating a higher but rare prevalence of scoliosis. The distribution of age and height shows a predominance at the age of 13 years and height between 150-154 cm. These findings underscore the urgency of developing online learning protocols that pay attention to ergonomic aspects, as well as the importance of school-based posture screening and education programs to prevent the progression of scoliosis in adolescents.
Efektifitas Media Visual Berbasis Video dalam Meningkatkan Breast Self-Examination Skills Pada Remaja Putri Suryandani, Ni Putu Vika; Astiti, Ni Komang Erny; Armini, Ni Wayan
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 2 Desember 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i2.465

Abstract

Kanker payudara adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Salah satu bentuk pencegahannya dengan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan keterampilan SADARI remaja putri sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan video di SMP Negeri 3 Negara. Metode penelitian yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pre-test dan post-test satu kelompok dan melibatkan 54 responden yang terpilih melalui proportionate cluster random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan melakukan uji wilcoxon dengan nilai signifikansi kurang p < 0,05. Uji regresi linear tidak dilakukan dalam penelitian ini karena hasil uji normalitas menunjukkan p = 0,000 (< 0,05) sehingga data tidak berdistribusi dengan normal dan tidak memenuhi persyaratan uji regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan pada keterampilan SADARI setelah intervensi, dengan hasil median yang menunjukkan perubahan dari 0 menjadi 10 (p = 0,000) dan efek ukuran Cohen’s d sebesar -0,90 yang menunjukkan efek besar. Penelitian ini mendukung efektivitas penggunaan media visual berbasis video dalam pendidikan kesehatan SADARI, yang dapat diimplementasikan dalam program UKS sehingga dapat meningkatkan kesadaran diri remaja putri dalam melakukan deteksi dini kanker payudara. Implikasi praktisnya adalah meningkatkan kesadaran juga keterampilan SADARI yang dapat memininalisisr angka kematian akibat kanker payudara di masa yang akan datang.   Breast cancer is a leading cause of death worldwide. One form of prevention is by conducting early detection through breast self-examination (BSE). This study aims to evaluate the differences in BSE skills of adolescent girls before and after being given health education using videos at SMP Negeri 3 Negara. The research method used was a pre-experimental design with a pre-test and post-test in one group and involving 54 respondents selected through proportionate cluster random sampling. Data analysis was carried out univariately and bivariately by conducting the Wilcoxon test with a significance value of less than p <0.05. Linear regression tests were not carried out in this study because the results of the normality test showed p = 0.000 (<0.05) so that the data were not normally distributed and did not meet the requirements of the linear regression test. The results showed a significant increase in BSE skills after the intervention, with median results showing a change from 0 to 10 (p = 0.000) and a Cohen's d effect size of -0.90 indicating a large effect. This study supports the effectiveness of using video-based visual media in BSE health education, which can be implemented in the UKS program so that it can increase self-awareness of young women in conducting early detection of breast cancer. The practical implication is to increase awareness and BSE skills that can minimize the number of deaths due to breast cancer in the future.
PROMOTING BEHAVIOR PREVENTION OF SCABIES BASED ON MADURESE LANGUAGE : Local language approach: encouraging scabies prevention behavior through madurese language Husna, Anis Rosyiatul; Riadi, Muhammad; Mukarromah, Nur; Marini, Gita
Bali Medika Jurnal Vol 9 No 3 (2022): Bali Medika Jurnal Vol 9 No 3 Desember 2022
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v9i3.315

Abstract

ABSTRAK Skabies merupakan penyakit kulit yang sering terjadi pada populasi padat dan disertai dengan kebersihan diri yang buruk. Pesantren merupakan tempat yang memiliki jumlah populasi yang besar. Santri yang tinggal di pesantren berisiko menderita penyakit ini. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan santri dalam pencegahan penularan skabies dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di pondok pesantren. Menggunakan sabun mandi, baju, dan handuk secara bersama-sama serta tidak menjemur tempat tidur setiap hari menyebabkan penularan penyakit ini sangat cepat di pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap santri dalam pencegahan skabies dengan pendidikan kesehatan berbasis pendekatan bahasa Madura. Desain dalam penelitian ini adalah pre-post-test. Jumlah sampel sebesar 51 responden yang diseleksi dengan menggunakan stratified random sampling. Variabel penelitian adalah edukasi dengan bahasa Madura dan perilaku pencegahan penularan skabies. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon signed rank test dengan tingkat kemaknaan p<0.05 SPPS 23. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah pendidikan dengan nilai p= 0,011 dan nilai p= 0,001. Penyuluhan kesehatan tentang pencegahan penularan skabies dapat dilakukan di pondok pesantren dengan pendekatan budaya dengan bahasa daerah. Pendekatan budaya seperti bahasa Madura memudahkan orang untuk memahami informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan. Kata kunci: pengetahuan, sikap, pencegahan penularan, skabies, santri, bahasa madura
Intubasi Endotrakeal dan Sakit Tenggorokan Pasca Operasi: Analisis Cross-Sectional Faktor Risiko pada Anestesi Umum Dewi, Anggi Gusti; Suandika, Made; Dewi, Feti Kumala
Bali Medika Jurnal Vol 12 No 1 (2025): Bali Medika Jurnal Vol 12 No 1 Juli 2025
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v12i1.412

Abstract

Nyeri tenggorokan pascaoperasi (POST) merupakan komplikasi umum pada 18-65% pasien pasca-intubasi endotrakeal tube (ETT), dengan faktor risiko kritis berupa ukuran ETT, durasi intubasi, dan jenis kelamin perempuan. Studi cross-sectional ini (n=70) di RSUD Kardinah Tegal (Maret-Mei 2024) bertujuan menganalisis hubungan ETT-POST dan mengidentifikasi prediktor dominan melalui consecutive sampling, pengukuran skala Visual Analog Scale (VAS), dan analisis regresi logistik ordinal. Hasil menunjukkan hubungan signifikan ETT-POST (p=0,003; λ=0,400), dengan 64,3% pasien ETT mengalami POST vs. 0% pada kelompok laryngeal mask airway (LMA). Pasien perempuan dengan ETT ≥7,0mm berisiko 7,2 kali lebih tinggi mengalami POST berat (OR 7,2; 95% CI 2,1-24,3), sementara durasi intubasi <60 menit meningkatkan risiko POST 3,8 kali (OR 3,8; 95% CI 1,5-9,6). Disimpulkan bahwa reduksi ukuran ETT menjadi ≤6,5mm untuk pasien perempuan dan optimalisasi teknik intubasi merupakan strategi pencegahan prioritas di RSUD Kardinah Tegal.   Postoperative sore throat (POST) is a common complication in 18-65% of patients after endotracheal tube (ETT) intubation, with critical risk factors being ETT size, intubation duration, and female gender. This cross-sectional study (n=70) at Kardinah Hospital, Tegal (March-May 2024) aimed to analyze the relationship between ETT and POST and identify dominant predictors through consecutive sampling, Visual Analog Scale (VAS) measurements, and ordinal logistic regression analysis. The results showed a significant association between ETT and POST (p=0.003; λ=0.400), with 64.3% of ETT patients experiencing POST compared to 0% in the laryngeal mask airway (LMA) group. Female patients with an ETT ≥7.0 mm had a 7.2-fold higher risk of severe POST (OR 7.2; 95% CI 2.1-24.3), while intubation duration <60 minutes increased the risk of POST 3.8-fold (OR 3.8; 95% CI 1.5-9.6). It was concluded that reducing the ETT size to ≤6.5 mm for female patients and optimizing intubation technique are priority prevention strategies in regional hospitals.